Cerpen #379 Pesan Dari Masa Depan

Ting…

Aku membiarkan benda pipih berwarna hijau itu terus berbunyi. Aku selebgram pendatang baru, pesan-pesan yang terus masuk itu kutebak berasal dari para penggemarku.

Aku duduk di depan meja belajarku sembari memutar mutar bolpoin. Mataku tertuju pada jendela yang menampilkan jalanan yang dibelakangnya terdapat hutan, memperhatikan beberapa orang yang sibuk dengan kegiatan mereka. Meski baru beberapa bulan menjadi selebgram, aku sudah memiliiki ribuan penggemar di umurku yang masih 15 tahun.

Ting…

Aku tersentak, ponseku tiba-tiba hening. aku menunggu beberapa menit dengan kebingungan dihatiku. 30 menit lamanya ponsel itu tetap tidak mengeluarkan suara lagi, dengan penasaran aku membuka ponselku.

Anatasya Milliana Sarva

send a message

Mataku terfokus pada sebuah pesan yang berada paling atas, pesan terakhir yang dikirimkan tepat 30 menit sebelum ponselku hening. Cepat-cepat aku memencet roomchatnya, takut pesan itu tenggelam seperti pesan lainnya.

Ada sesuatu yang membuatu tertarik, nick name pengirim pesan. Anastasya milli orang-orang mengenalku dengan nama itu, tanpa tahu namaku lebih dari. Dan pengirim pesan tersebut, anatasya mlliana sarva, namanya peris dengan nama asliku. Sulit rasanya jika dia merupakan salah satu penggemar yang meniru namaku.

Ting…ting…ting…

Aku kembali tersentak, tiba tiba saja ponselku berbunyi kembali tepat setelah aku memencet roomchat dengan pengirm yang memiliki nama yang sama denganku.

Aku mengedikkan bahu, berfikir mungkin hanya sebuah kebetulan. Aku mulai membaca pesan yang lumayan panjang itu.

Hai nenek, ah pasti panggilanku ini tidak cocok, nenek pasti sangat muda di zaman itu juga cantik hihi soalnya aku juga cantik. nenek aku ingin memberitahu kondisi dunia di zamanku sekarang. sebelum nenek Alsha meninggal dia bercerita padaku kondisi dunia dahulu, katanya dahulu dia dapat berjalan berkilometer karena dahulu panas tidak semenyengat sekarang. Dan sekarang bahkan aku tidak dapat berjalan lebih dari 500 meter. Nenek tahu, bahkan kutub utara sekarang telah mencair. Nenek Alsha  juga menceritakan betapa lucunya anjing hutan, tapi sayang binatang itu punah tepat setelah aku lahir, sekarang juga orang-orang akan berfoto bersama pohon, bisa nenek bayangkan betapa langkanya itu, tapi nenek Alsha justru mengatakan dahulu rumah nenek dekat hutan yang memiliki banyak pohon. Aku jadi membayangkan betapa menyenangkan nya hidup dahulu. Bukan maksudku menyalahkan kalian tapi memang benar, semua yang terjadi sekarang adalah perbuatan kalian dahulu yang terlalu menyepelekan kondisi dunia. Kumohon nenek, aku tidak tahu ini berhasil atau tidak tapi kumohon tolong ubah dunia.

Aku mengernyit bingung, pesan ini aneh, sangat aneh. Aku bahkan tidak mengenal Alsha yang dia katakan juga tidak mungkin dia berasal dari masa depan. Fikiranku kalut, aku kembali menatap jendela, memperhatikan beberapa orang yang menebangi pohon. Samping rumahku memang hutan, dan kudengar hutan tersebut akan digunduli dan dijadikan gedung perkantoran.

gukkgukkk…

Atensiku beralih pada anjing-anjing yang berada dibalik kandang. Aku mengernyit, anjing itu adalah anjing hutan, jika dipelihara di dalam ruangan, bisakah mereka tetap hidup normal.

Brrrr…

Sebuah mobil lewat dengan asap yang mengepul. Aku tersadar, cepat-cepat aku menutup jendelaku. Namun mataku justru tertuju pada asap mengepul itu. Asap itu perlahan naik dan berbaur dengan udara. Tiba-tiba saja fikiranku kembali memikirkan pean tadi, jika asap terus naik ke langit bukankah dapat menyebabkan suhu naik? jika begini rasanya mungkin saja kutub utara akan mencair 100 tahun lagi, pohon terus ditebangi bukan tidak mungkin suatu saat akan menjadi langka. Juga  jika anjing hutan terus ditangkap, tempat hidup mereka terus di musnahkan, bukan tidak mungkin juga anjing itu akan punah 100 tahun kemudian?

Hal-hal yang tidak pernah kufikirkan bahkan terlintas dibenakku. Selama ini aku berfikir hal tersebut adalah normal. Namun berkat pesan aneh itu raanya aku berfikir hal-hal itu mulai tidak normal.

***

Pagi ini matahari bersinar cerah, namun aku merasa sangat lesu dan tidak bersemangat. Aku berdecak melihat penampilanku dikaca, kantung hitam di mataku sedikit terlihat.

“Hah mil, aku malas sekali petugas kebersihan itu akan berceramah setelah ini.”

Aku menatap sahabatku bingung, “petugas kebersihan siapa maksudmu?”

“Orang orang dari organisasi peduli lingkungan”

Tepat saat itu 3 orang dengan rompi hijau memasuki kelas kami dengan beberapa peralatan di tangan mereka.

“Hai adik-adik perkenalkan kami dari organisasi peduli lingkungan.”

Kulihat teman temanku menjawab dengan wajah malas. Setelahnya tiga orang itu mulai berbicara panjang lebar mengenai lingkungan. Namun kulihat hampir semua teman-teman ku sama sekali tidak mendengarkan. Mereka sibuk dengan kegiatannya sendiri.

“Jika begini anak cucu kita 100 tahun lagi bisa bisa berfoto dengan pohon.”

Aku tersentak, otakku kembali memikirkan pesan aneh itu. Mengapa kalimatnya sama persis. Aku kembali melamun seperti yang kulakukan hampir semalaman tadi.

Aku tersadar ketika 3 orang itu mulai meninggalkan kelas. Cepat-cepat aku berjalan keluar kelas menghiraukan pertanyaan teman-temanku.

“Kak tunggu!”

Panggilanku menghentikan 3 orang tersebut. Aku berjalan cepat menghampiri mereka.

“Ya adik ada apa?”

“Sebenarnya ada yang ingin saya tanya kan” ucapku ragu-ragu.

“Oh boleh silahkan” Jawab mereka ramah.

Aku menarik nafas, “Mungkinkah 100 tahun lagi kutub utara mencair, anjing hutan punah, juga pohon menjadi langka?”

Mereka berfikir sebentar sebelum menjawab, “Dari pendapat kami itu mungkin saja terjadi jika ketidak perdulian masyarakat seperti saat ini terus berlanjut. Jika orang-orang terus menganggap asap dari mobil, penggundulan hutan, atau penangkapan anjing hutan yang seharusnya hidup di hutan liar, adalah hal normal bisa saja semua itu terjadi. Dunia dapat mengalami krisis iklim 100 tahun mendatang. ”

Jawaban mereka membuatku termenung.

“Tapi tenang saja, semuanya belum terlambat jika kita masih ingin berubah, dunia dapat terselamatkan, yang kita butuhkan kepedulian masyarakat, sekarang ini sebagian besar masyarakat tidak perduli, contohnya saja anak-anak tadi sama sekali tidak memperhatikan penjelasan kami, ”

Aku meringis malu, “Lalu bagaiman cara mengatasinya?”

Mereka menghela nafas “Seperti yang kami jelaskan sebelumnya, hal-hal tersebut dapat dihindari dengan berbagai cara seperti melakukan penghijauan, menggunakan kendaraan umum atau berjalan kaki maupun bersepeda, itu contoh hal-hal kecil yang dapat dilakukan semua orang, jika semua manusia melakukan hal tersebut bumi kita dapat selamat dan jauh lebih sehat, krisis iklim pun tidak akan terjadi,”

Aku mengangguk-angguk, fikiranku sekarang terbuka hanya kita yang dapat menjaga bumi kita dari krisis iklim, mumpung semuanya belum terlambat.

***

Cantik banget kak tanamannya

Kak millie gak cuma cantik tapi perduli lingkungan

Idaman banget

Bilang halo dong kak

“Jadi gitu teman-teman, kalian dapat praktekkan dirumah ya, gampang banget kan. Tapi hal ini dapat berdampak besar buat lingkungan loh, segini aja live kali ini see you”

Aku menyeka keringat di dahiku, tanganku bergerak membersihkan peralatan-peralatan yang kugunakan pada live kali ini. Aku memutuskan membuat konten-konten tentang perduli lingkungan berharap penggemarku mengikuti yang kulakukan.

“Ana”

Aku refleks menoleh mendengar namaku dipanggil. Ibuku berdiri dengan senyuman khasnya. “Udah selesai livenya?” aku mengangguk sembari menerbitkan sebuah senyuman.

“Nanti selesai bersih-bersih kamu kemas baju ya, kita mau ke bandung, kakak kamu baru lahiran tadi,”

Aku membulatkan mata terkejut, “cewek atau cowok ma” tanyaku antusias. Aku sungguh senang mengetahui keponakan yang kutunggu-tunggu telah lahir.

“cewek, namanya alsha vanisya,”

Deg…

Aku tersentak, detak jantungku tak beraturan saking terkejutnya.

Nama itu, nama yang tercantum pada pesan aneh itu. Mungkinkah pesan itu…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *