Cerpen #378 Sinar Matahari, Bunga Matahari, dan Bayangan

“Kakak….” Rintihan lemah itu mungkin kata-kata terakhir yang dapat Alina dengar dari Himawari. Kini setelah dua hari, Himawari tak kunjung sadarkan diri meskipun dia masih bernafas. Entah apa yang terjadi dengan Himawari, memakan jamur beracunkah atau meminum air tercemarkah atau apa. Yang pasti dia baik-baik saja sebelum suhu tubuhnya meningkat drastis dan ia tak sadarkan diri.

“Sudah dua hari, Alina. Kita tidak bisa hanya diam dan membiarkan dia terus seperti itu.” Suara pemuda dari pojok ruangan itu memecah konsentrasi Alina yang sedang mengubrak-abrik buku catatan ayahnya yang selama ini tersimpan rapi.

“Suplai oksigen bersihnya akan habis dalam tiga hari. Atau dia akan menghirup oksigen luar dan terus melemah.” Lanjutnya.

Oxygen 30 % Est. 68 Hours. Tulisan itu terpampang dalam layar kecil tabung oksigen yang berada di samping tempat tidur dimana tubuh Himawari terbaring lemah. Tabung itu tersambung dengan masker full face. Begitu juga dengan Alina, ia juga sama menggunakan tabung itu beserta maskernya.

“Lakukan sesuatu Alina!”

“Diam! Kondisi Himawari pasti ada hubungannya dengan tumbuhan-tumbuhan ini. Mungkin ia tak sengaja memakan salah satu tumbuhan ini.” Tangan Alina berhenti pada bab tumbuhan terkontaminasi dan berbahaya. Terdapat berbagai penjelasan tentang zat-zat yang Alina sama sekali tidak paham beserta gambar-gambar tumbuhan di sampingnya.

“Kau tidak akan paham! Lakukan sesuatu untuk adikmu!” Kini pemuda itu sedikit membentak.

“Diamlah Arthur, kau juga sama tidak membantunya.”

“Oh Alina yang malang, kau tidak perlu mencari penyebab bagaimana adikmu bisa menjadi seperti ini, cari solusinya!”

“Aku mencari penyebabnya agar aku dapat mencari solusinya. Bahkan hal sesederhana ini kau tak paham Arthur, jadi tutup mulutmu dan jangan coba-coba menggangguku.”

Kini Arthur memikirkan ulang perkataannya, mungkin Alina ada benarnya tapi kenapa ia tidak berpikir seperti itu sebelumnya. “Entahlah.” Ucapnya dalam hati. “Sekarang berbicara dengan Alina akan memperburuk keadaan.” Namun tetap saja Alina harus bertindak selain mencari satu persatu dalam buku catatan ayahnya yang jumlahnya puluhan dan menghabiskan waktu berjam-jam sementara Himawari tidak bisa menunggu selamanya.

Ayah Alina dan Himawari seperti mendedikasikan hidupnya mempelajari tumbuhan, hewan, dan alam di sekitar kabin kecil mereka tinggal agar keluarga kecilnya dapat bertahan hidup setelah ia tiada. Puluhan buku tebal berisi tentang pengamatannya tertumpuk berdebu dalam kamarnya yang sama sekali tak pernah terbuka sejak kematiannya enam bulan lalu. Catatan-catannya berjajar dengan banyaknya buku masa kecilnya. Buku pelajaran sains, sejarah, sosial, bahkan novel dan kumpulan puisi tersusun rapi dan berdebu memenuhi kamar kecilnya. Sekarang mau tidak mau Alina harus membaca satu persatu catatan menyebalkan itu demi adiknya.

Tapi setelah berjam-jam Alina mencari, ia tetap tak menemukannya. Tidak ada catatan tentang efek samping dari ratusan deskripsi tanaman ini yang cocok dengan keadaan Himawari. “Kau benar Arthur, sekarang yang bisa kita lakukan adalah mengisi ulang suplai oksigennya.”

Setelah berjam-jam Arthur berdiri dan diam, kini ia membuka mulut. “Benar. Isi ulang suplai oksigennya dan kita akan mencari seseorang yang dapat menyembuhkannya. Mungkin di kota kita dapat menemukan dokter baik yang bersedia merawat Himawari tanpa kita membayarnya.”

“Mungkin.” Alina membelai wajah Himawari yang cantik namun begitu layu. Seperti bunga matahari yang kehilangan mataharinya. Ia dapat merasakan bagaimana suhu tubuh Himawari kecil terus meningkat. Sudah dua hari sejak ia sama sekali tak mendengar suaranya atau canda tawanya. Meski di luar sana keadaan begitu rusak, Himawari masih bisa tetap tersenyum dan bergurau seakan masa depan akan baik-baik saja. Masa depan tidak akan baik-baik saja, begitu juga dengan mereka. Tapi Himawari sangat suci, sama sekali tidak berdosa, dan sama sekali tidak mengetahui apa yang terjadi di luar sana.

Sekarang Alina bergelut dengan batinnya bagaimana bisa ia begitu ceroboh dalam pengawasannya. Tiga hari lalu adalah ulang tahun Himawari yang kedua belas. Mereka merayakannya dengan memasak dan makan-makan. Tidak lupa berdoa di ujung acara agar kehidupan bisa berjalan seperti berpuluh-puluh tahun sebelumnya. Berdoa kepada siapapun yang akan mendengar mereka.

“Sekarang aku sudah besar, kau tidak perlu mengkhawatirkanku kak. Sekarang aku bisa bebas dan kau tidak dapat mengatur-aturku lagi.”

“Besok, sekarang kau masih saja adik kecilku yang harus kuawasi 24 jam.” Senyum Alina melebar, diikuti oleh Himawari di seberang meja. “Baiklah, besok. Jangan atur aku mulai besok!” Himawari sepakat.

“Aku sekarang juga bisa ikut denganmu mengisi ulang oksigenkan? Sepertinya itu terdengar menyenangkan.”

“Baiklah, kau juga boleh ikut denganku. Aku memang berencana pergi minggu depan. Tapi kau harus segera belajar menggunakan senjata. Kalau kau merepotkanku, akan kutinggal di perjalanan.” Alina mencoba menakut-nakuti Himawari, namun Himawari malah tertawa. Itulah malam dimana semua berjalan dengan normal. Jika saja Alina tidak semudah itu melepas pengawasannya, malam ini mereka bertiga dapat menikmati makan malam di dalam kabin kecil mereka di tengah hutan yang hangat dengan gurau dan canda tawa.

Keesokan harinya Himawari berpamitan akan berkeliling ke hutan. Alina mengizinkan saja, toh sekarang memang adiknya sudah besar dan tidak dapat terus dimanja. Yang terpenting Himawari sudah menggunakan masker oksigen beserta tabung oksigennya dan menggunakan pakaian tertutup agar terhindar dari sinar matari yang sekarang sangat berbahaya. Namun itulah kesalahan Alina, seharusnya ia melepaskan Himawari perlahan.

“Kau siap Arthur?” Tanya Alina sembari memeriksa kembali perlengkapannya sebelum keluar dari kabin. Dia membawa tas ransel berisi makanan, minuman, obat, dan alat-alat seperti sekop, palu, dan lainnya. Kemudian dia memeriksa dua pisau di samping pinggangnya, sebuah pistol dan beberapa butir peluru, dan pisau kecil yang tersembunyi di dalam sepatu boots-nya.

Alina mengenakan baju berlapis-lapis lalu menggunakan jaket tebal dan kepalanya tertutup penutup kepala jaketnya. Dia juga menggunakan sarung tangan untuk memastikan semua bagian tubuhnya tertutup. Karena kalau tidak, sinar matahari akan membuat kulitnya terkena kanker yang sangat ganas. Dengan tipisnya lapisan ozon sekarang sinar ultraviolet matahari akan merusak kulit dan menumbuhkan kanker. Kanker ini begitu ganas dan akan menyebar menjadi kanker-kanker organ tubuh yang lainnya. Ayah meninggal karena kanker yang menggerogoti tubuhnya, berawal dari kanker kulit kemudian menyebar.

Tapi tidak dengan Arthur, dia hanya menggunakan jaket biasa dan celana panjang. Tidak ada tabung oksigen tidak ada masker oksigen. Arthur benar-benar memiliki kekuatan dewa. Kulitnya tidak terkena kanker meski terkena sinar matahari, meskipun beberapa kali kulitnya melepuh, namun itu adalah sebuah keajaiban besar. Alina juga tidak ingin repot-repot memikirkannya.

“Tentu saja. Petualangan akan terasa begitu mengasyikkan.” Ucapnya diikuti tawa kecil.

“Ini bukan petualangan, bodoh. Kau lebih tua setahun dariku tapi tetap saja bodoh.”

“Kau benar, tapi aku juga benar. Kita sudah lama tidak keluar kabin dan jalan-jalan bersama. Kau tahu, masa-masa dimana kita bisa menghabiskan waktu bersama. Kau dan aku berdua.” Arthur terus meracau sementara Alina sibuk memeriksa perlengkapan Himawari.

“Aku tidak percaya sekarang kita akan melakukannya lagi, tapi sekarang Himawari ikut dengan kita. Namun dengan kondisi Himawari yang seperti ini, dia tidak dihitung.”

Pandangan Alina seketika beralih ke Arthur. Matanya melotot dan ia sudah siap mengeluarkan umpatan ke Arthur yang tidak bisa menjaga ucapannya. Tangannya juga sudah mengepal siap menghajar wajah Arthur kapan saja. Dalam keadaan darurat seperti ini, dengan kondisi Himawari yang seperti ini, bisa-bisanya Arthur hanya memikirkan bahwa mereka akan berpetualang sembari mengingat masa lalu mereka yang sering berduaan.

“Baik-baik, betapa bodohnya aku. Yang terpenting adalah Himawari. Himawari yang pertama. Tapi tetap saja ini petualangan.”

Himawari dimasukkan ke dalam tabung khusus yang dilengkapi dengan roda dan tempat tabung oksigen di samping kanan kirinya. Tabung itu akan ditarik oleh Alina sepanjang perjalanan ke benteng militer dekat kota dimana mereka bisa mengisi ulang oksigen. Perjalanan ke benteng akan memakan waktu sehari, namun dengan membawa Himawari yang tak sadarkan diri, mungkin mereka akan sampai dalam satu setengah hari. Kemudian membawa Himawari ke kota untuk mengobatinya.

Semua sudah siap. Perlengkapan sudah, tabung oksigen dan masker oksigen sudah, perlengkapan Himawari sudah, kacamata dan earphone kecil pemberian ayah juga sudah. Kacamata dan earphone itu diberikan ayah kepada mereka bertiga kira-kira enam tahun yang lalu. Kacamata canggih untuk melindungi dari sinar matahari dan earphone yang menghubungkan mereka bertiga. Ayah sendiri yang membuatnya dan menghadiahkan kepada Alina saat ulang tahunnya yang keempat belas. Dua barang pemberian ayah itu yang terus mengingatkan betapa ayah sangat menyayangi mereka dan sebagai pemberi harapan setelah enam bulan yang lalu ayah sudah tiada. Mereka bertiga selalu menggunakannya meski di dalam kabin, karena pemberian ayah itu adalah hal yang paling berharga.

Kegugupan dan kekhawatiran tidak dapat Alina bendung begitu saja. Ia dapat merasakannya seiring jantungnya berdetak semakin cepat dan nafasnya memburu. Langkah terakhir adalah keluar dari kabin, keluar dari hutan dan memulai perjalanan. Kali ini perjalanan ke benteng tidak seperti biasanya, kini ia harus memberikan perhatian ekstra kepada adiknya. Mungkin mereka akan terhambat sedikit namun tidak ada yang perlu ditakutkan. Namun tetap saja kegugupan menjalar ke seluruh tubuh Alina.

Ditatapnya Arthur di hadapannya. Ia juga dapat merasakan bagaimana Arthur merasa gugup meski sebelumnya dia antusias. Ketakutan dan kegugupan juga menjalari Arthur, namun ia bisa menenangkan dirinya dengan menatap mata Alina dalam-dalam. Seperti berbisik, kita pasti bisa melewati masa sulit ini bersama.

“Baiklah, ayo berangkat.”

Mereka tidak menemukan banyak kesulitan dalam perjalanan. Semua berjalan dengan lancar sama seperti biasanya ketika mereka mengisi ulang persediaan oksigen biasanya. Beberapa kali mereka kesulitan menggerakkan tabung Himawari ketika medannya berbatu namun itu bukan hambatan besar. Alina dan Arthur berjalan tanpa istirahat. Dan sama seperti biasanya, Arthur terus saja meracau.

“Kau terlihat cantik, Alina. Semakin bertambah umurmu, kau terlihat semakin cantik. Kau terlihat dewasa dan anggun.”

“Cuaca hari ini bagus. Sayang sekali keadaannya tidak sebagus cuaca hari ini.”

“Meski aku terlihat tidak terlalu peduli dengan Himawari, tapi percayalah aku sangat kasihan kepadanya. Dia baru saja ulang tahun tapi semua ini harus terjadi padanya.”

“Aku sangat menikmati perjalanan ini. Benar-benar terasa seperti masa lalu dimana kita menghabiskan waktu berdua.”

“Coba lihat ke atas, ke kanopi hutan pinus ini. Cabang-cabang pohon tidak ada yang saling bersentuhan. Itu namanya crown shyness.”

Kali ini Alina menanggapi Arthur. “Diam. Aku sudah tahu.”

Tapi tetap saja Arthur melanjutkan ucapannya. “Pohon-pohon itu saling melindungi agar tidak menghalangi proses fotosintesis pohon lain. Juga agar tidak menularkan penyakit. Dan agar cabang-cabang mereka tidak saling bertubrukan. Entahlah tapi itu terlihat menakjubkan.”

Mereka keluar dari hutan beberapa jam sebelum matahari tenggelam. Mereka akan melewati lembah berbukit-bukit lalu melewati padang rumput yang begitu luas baru sampai ke benteng yang berada di kaki gunung. Kota berada di balik kaki gunung itu, hanya berjalan tiga jam dari benteng dan mereka akan sampai ke kota. Tapi sekarang saatnya istirahat. Meskipun langit senja terlihat indah, tidak ada waktu untuk mengaguminya. Mereka harus mencari tempat istirahat yang aman.

Malam hari adalah waktu yang paling berbahaya. Para outcast akan berkeliaran mencari pelancong dari tempat yang sangat jauh untuk merampok persediaan oksigen mereka. Api dan di tengah-tengah gelapnya malam akan mempermudah para outcast ini. Suatu keberuntungan jika para outcast membunuh korban mereka. Menghirup udara tanpa tabung oksigen akan terasa sangat menyakitkan. Udara tercemar yang terlampau berbahaya akan mencekik paru-paru perlahan sampai mati. Dibutuhkan kira-kira sepuluh menit sampai benar-benar mati. Para outcast menyebut aksi pembunuhan mereka sebagai “pertolongan” karena alam jauh lebih kejam. Tapi tetap saja mereka tidak lebih kejam dari alam.

Mereka, outcast, adalah orang-orang buangan dari kota. Dengan terbatasnya persediaan makanan, air, dan oksigen, pemerintah menetapkan batas populasi dalam kota. Mereka yang tidak berguna akan dibuang dari kota dan hidup sebagai outcast. Kini mereka berkeliaran merampok para musafir yang tidak beruntung. Mereka hidup berkelompok, masing-masing kelompok menguasai wilayah tertentu dan mereka saling berperang. Yang paling kejam adalah Skadi, kelompok yang bahkan berani menyerang benteng dan merebut kendaraan militer. Mereka menandakan wilayahnya dengan menyalib terbalik korban mereka. Bertemu outcast adalah mimpi buruk, tetapi bertemu Skadi adalah neraka.

Setelah beberapa menit mencari, mereka menemukan tempat istirahat yang aman di balik bukit berbatu. Tempat mereka terhalang oleh bebatuan besar dan semak-semak meski semak-semak itu tidak begitu menyembunyikan keberadaan mereka. Namun tempat ini aman dan nyaman. Mereka masih bisa menyaksikan bagaimana Bima Sakti merobek langit malam dengan bintang-bintang.

“Lihatlah bintang-bintang itu, Alina. Orang-orang yang berkuasa dan kaya pergi dengan roket mereka dan tinggal di bintang-bintang itu. Meninggalkan kita tersiksa di bumi ini.”

“Aku tahu.”

“Aku penasaran apakah mereka akan kembali lagi dan mengangkut lebih banyak orang.”

“Tidak mungkin.”

“Pembangunan demi kemanusiaan, itu slogan orang-orang berkuasa kata ayah. Ayah selalu bilang semua kerusakan bumi ini terjadi karena pembangunan.” Ucap Alina. “Pembangunan yang menjadi alasan kita berada di masa sesulit ini. Demi kemanusiaan apanya.”

Jujur saja, Arthur benar-benar tidak paham dengan Alina yang berubah sedingin angin malam. Keadaan Himawari mungkin terlihat memprihatinkan, tapi penyakit seperti ini banyak dijumpainya di kota. Sebentar lagi mereka akan sampai di kota dan mencari dokter untuk menyembuhkan Himawari. Meski ia juga sama gusarnya, tapi ia yakin mereka dapat melewati semua ini. Jadi tidak ada yang perlu ditakutkan.

Lama mereka berdua terdiam memandangi bintang-bintang. Alina terus saja bergelut dengan batinnya dan memutar skenario terburuk yang bisa saja terjadi. Sementara Arthur terus saja mengagumi langit malam.

“Kau tahu Arthur, aku takut.”

“Aku juga.”

“Bohong. Kau tidak takut sama sekali dan aku benar-benar paham dirimu.”

“Itu tidak benar. Tidak, mungkin saja kau benar. Tapi aku bisa merasakan ketakutanmu juga.”

“Sekarang hanya kau dan Himawari yang aku punya. Jadi jangan pergi meninggalkanku.”

“Tidak mungkin aku meninggalkanmu. Aku tidak bisa. Aku layaknya bayanganmu. Satu-satunya hal yang bisa kubantu adalah terus bersamamu sampai kapanpun.”

“Himawari terlihat seperti bunga matahari yang kehilangan mataharinya. Padahal aku berada di sampingnya.”

Kali ini Alina yang banyak berbicara sementara Arthur mendengarkan. “Himawari adalah bahasa Jepang, artinya bunga matahari. Kau tahu Jepang?”

“Tidak.”

“Sebuah pulau dan negara yang terletak jauh di seberang samudera. Orang-orangnya disiplin dan pintar. Kebudayaan mereka juga sangat indah. Entah apakah masih ada orang yang tinggal di pulau itu tapi pemerintah Jepang termasuk beberapa negara yang memulai evakuasi ke luar angkasa pertama kali.”

“Aku sendiri yang memberikan nama Himawari, bukan karena aku suka dengan Jepang atau bunga matahari. Tapi akulah matahari.”

“Maksudnya?”

“Ayah pernah menceritakan dongeng di salah satu novelnya, tentang Alina sang sinar matahari. Suatu hari di negeri benama Ravka, muncul kegelapan misterius yang begitu kuat. Kegelapan ini merobek Ravka menjadi dua sama seperti bintang-bintang Bima Sakti itu merobek angkasa. Kegelapan itu bukan kiasan, kegelapan itu merupakan sebuah tempat yang nyata. Ada monster yang hidup di dalamnya. Kemudian muncul ramalan di Ravka bahwa seseorang akan merobek balik kegelapan itu dengan cahaya. Dia pasti akan datang, tapi setelah seratus tahun dia tidak juga muncul dan sekarang Ravka diambang perpecahan. Kau tahu, ibu kota di barat tidak bisa terus menstabilkan wilayah barat dan timur. Akhirnya di timur muncul pemberontakan. Tapi suatu hari dia muncul, seorang perempuan bernama Alina yang memiliki kekuatan mengeluarkan sinar seterang matahari. Dia merobek kegelapan itu dan mengalahkan monster-monster jahat. Ayahku sangat suka novel itu, jadinya aku dinamai Alina. Dan karena aku adalah sinar matahari, adikku kunamai bunga matahari, Himawari. Matahari akan selalu menjaga bunga matahari agar selalu terlihat indah. Atau kebalik ya, bunga matahari yang butuh matahari. Tapi intinya adalah aku akan selalu menjaga Himawari selamanya.”

“Sekarang meskipun matahari berada di samping bunga matahari, bunga matahari itu layu.”

“Tenang Alina. Kita akan melewati semuanya dan keadaan akan kembali seperti semula. Percayalah padaku.”

“Kau benar. Aku juga minta maaf karena perubahan sikapku, aku terlalu khawatir kepada Himawari sampai aku seperti ini kepadamu. Aku tetap mencintaimu Arthur, hanya kalian yang kumiliki.”

“Aku jadi teringat pertama kali aku bertemu denganmu.” Ucap Alina sembari mengalihkan pandangannya dan tersenyum ke Arthur.

“Sehari setelah ulang tahunku yang keempat belas, saat hujan kau tiba-tiba berteriak di depan pintu. Tolong! Tolong! Begitukan?” katanya sambil tertawa terbahak-bahak.

“Tolong, kulitku terkena hujan, kulitku hampir melepuh, tolong!”

“Itu bukan sesuatu yang bisa ditertawakan. Kulitku benar-benar melepuh terkena hujan saat itu.”

“Andai saja kau dapat melihat ekspresi dirimu sendiri begitu aku membukakan pintu.” Kini Alina memperagakan ekspresi panik Arthur waktu itu. “Kau hampir menangis waktu itu.”

“Aku tidak mengangis.”

“Aku bilang hampir.”

“Kemudian ayah menolongmu dan menganggap dirimu sama seperti anak-anaknya. Tapi kau bukan anaknya. Jangan tersinggung.”

“Aku tidak tersinggung, lebih baik aku bukan menjadi anaknya karena aku tidak akan jatuh cinta dengan saudariku sendiri. Meski itu saudari angkat. Menjijikkan.”

“Hari-hari itu benar-benar indah. Kalau bisa aku ingin memimpikan momen itu setiap malam. Dengan kehadiran Himawari dan dirimu yang selalu memelukku.”

Kemudian malam terus bergulir dan mereka tertidur di bawah bintang-bintang yang tidak terlalu megah karena sekarang manusia tinggal disana dan di bawah harapan bahwa Himawari akan sembuh dan semua akan baik-baik saja sama seperti dulu.

Sebelum terlelap, Arthur sempat menatap Alina dalam-dalam. Merasakan bagaimana ia bisa sangat jatuh cinta dengan Alina meski, meski itu terdengar tidak mungkin dan rumit. Mata itu sangat meneduhkan. Memberikannya kekuatan untuk melindungi Alina dan Himawari.

Mereka bangun pagi-pagi sekali dan langsung melanjutkan perjalanan tanpa basa-basi. Sebelumnya Arthur membantu Alina menyuntikkan cairan berisi kandungan gizi makanan dan suntikan kedua untuk memenuhi cairan tubuhnya. Meskipun Alina begitu lapar dan kerongkongannya kering, dua suntikkan itu akan membantunya melanjutkan perjalanan. Alina tetap menarik tabung Himawari dari awal sampai tiba nanti.

“Aku adalah sinarnya, aku yang akan menyelamatkannya.” Gumam Alina.

Dan sama seperti biasa, Arthur terus saja meracau. Tapi kali ini Alina membalasnya sesekali. Alina merasa begitu terganggu dengan sifar cerewet Arthur tapi apa daya, Arthur tidak akan berhenti berbicara meski mulutnya berbusa-busa. Cuaca hari ini yang bagus dan memuji betapa cantiknya Alina menjadi hal wajib yang Arthur katakan setiap pagi. Ucapan Arthur benar, dia adalah bayangan Alina yang terus mengikutinya kemana saja meski dalam keadaan bahaya seperti sekarang. Sebuah bayangan tidak mungkin berpisah dan lari.

Mereka bertiga sudah melawati lembah berbukit, kini hamparan padang rumput yang luas menyambut mereka. Sebuah gunung juga terlihat berdiri kokoh di ujung padang rumput itu. Mereka bisa melihat benteng asap-asap yang keluar dari dalamnya. Mereka sudah dekat dan kini harapan itu seterang matahari.

Rumput itu tidak begitu tinggi, hanya sebatas mata kaki. Alina terus tersenyum dan sekali-kali memandangi Arthur. Apa yang bisa Arthur lakukan selain salah tingkah dan tersipu malu. Kemudian sama seperti biasanya, Arthur terus bercerita dan sekarang Alina juga tidak kalah cerewetnya dengan Arthur. Alina benar-benar bahagia dan memikirkan bagaimana sebuah harapan bisa begitu terang, seterang dirinya.

Tapi tiba-tiba langkah Arthur terhenti. “Alina, diam!”

Alina menghiraukannya dan terus saja berjalan. “Alina!”

“Apa?”

“Kau tidak mendengar suara itu?”

“Suara apa?” Alina tidak mendengar apa-apa. Kemudian dia berbalik dan melanjutkan langkahnya.

“Alina!”

“Apa?” Kini mereka terdiam. Alina sangat heran dengan tingkah Arthur. Tidak ada apa-apa, dia tidak mendengar suara apa-apa.”

“Itu suara mesin, mesin kendaraan.”

Begitu Arthur berkata seperti itu, kini Alina diam dan mendengarkan baik-baik. Benar saja, dari kejauhan terdengar suara motor yang menghampiri mereka perlahan. Detik demi detik suara itu terdengar semakin jelas.

Alina berbalik menatap Arthur dengan penuh ketakutan sementara Arthur berputar ke seluruh penjuru mencari dari mana suara itu berasal. Semakin mereka dekat semakin jelas suara mesin itu. “Outcast!”

“Itu mereka! Dari barat!” Tiga motor mendekati mereka dengan begitu cepat.

“Lari!”

Tanpa pikir panjang mereka berdua berlari secepatnya. Arthur lari terlalu cepat, tapi dia menyeimbangkan langkahnya di samping Alina. Sementara Alina berlari sekuat tenaga sambil menarik tabung Himawari. Nafasnya memburu begitu berat. Suplai oksigen ini akan berkurang dengan sangat cepat jika mereka harus menghindari mereka dan akan habis jika harus berlari sampai benteng. Tapi apa yang bisa Alina lakukan selain berlari.

Secepat apapun mereka berlari, mereka tidak akan dapat kabur. Di tengah padang yang begitu luas ini tidak ada tempat persembunyian. Mereka tertangkap.

Tiga motor dan empat orang outcast. Langkah mereka terhenti dan motor-motor itu berputar mengelilingi mereka. Sebuah sasaran empuk.

“Apa yang kau lakukan disini gadis kecil?” Ucap salah satu outcast itu sementara teman-temannya tertawa.

“Kau tersesat? Aku bisa memberikanmu tumpangan, ke neraka!”

Setelah berpuas-puas menakuti-nakuti Alina, mereka menghentikan motor mereka dan turun mengepung Alina. Sementara Alina akan mengamati baik-baik siapa yang akan dibunuhnya duluan dan siap setiap saat menarik pelatuk pistolnya yang sekarang masih tersimpan di belakang pinggangnya. Satu tangan bersiap dengan cepat untuk merah pistol, satu tangan dengan cepat untuk meraih pisau. Kini genggamannya pada tabung Himawari terlepas dan dia terus terpojok terpisah dengan Himawari.

Tapi jika dilihat-lihat, Alina tidak mengenali outcast ini. Setiap kelompok outcast memiliki ciri sendiri namun mereka tidak memiliki ciri khas darimana mereka berasal.

Tidak seperti Skadi yang memiliki sayatan di mata kiri mereka atau Hellhound yang memodifikasi motor mereka menjadi terlihat aneh dan garang bersamaan atau Izilla yang menato sekujur tubuh mereka dengan tato warna biru. Mereka hanya menggunakan baju rongsokan biasa dengan tabung oksigen dan masker oksigen tentunya. Tapi selebihnya, tidak ada apa-apa dari mereka yang dapat Alina gunakan untuk mengidentifikasi mereka ini dari kelompok apa. Atau mereka bukan outcast. Entahlah, yang terpenting adalah bagaimana Alina bisa membunuh mereka dan melanjutkan perjalanan.

Keempat orang itu mendekati Alina perlahan dengan terus menakut-nakutinya dengan senjata mereka. Mereka hanya bersenjatakan senjata tajam, tidak ada senjata api. Sekarang Alina tahu apa yang harus ia lakukan. Berpura-pura tak berdaya, memohon, kemudian menarik pelatuk pistolnya yang masih tersimpan.

“Aku mohon! Jangan bunuh kami. Jangan ambil oksigen kami.”

“Lihatlah adikku yang sakit ini! Aku harus segera mengobatinya.”

“Adik apanya, orang gila. Kau atau adikmu, kami tetap akan mengambil oksigenmu!”

Salah seorang dari mereka menginjak tabung Himawari. “Lihat! Kau menyia-nyiakan oksigen sebanyak ini.”

“Oh Alina yang malang, maaf aku tidak bisa membantu.” Ucap Arthur.

“Jika kau melawan, kematianmu akan terasa sangat menyakitkan. Jika kau menyerah, kami akan dengan baik hati membiarkan kau melanjutkan perjalananmu dan mengambil tabung ini saja.”

“Kumohon! Tidak bisakah kalian melihat adikku benar-benar butuh pertolongan!”

“Benar orang gila.” Umpat mereka.

“Aku tahu apa yang bisa kau lakukan Alina. Lari!”

“Tidak Arthur, aku tidak bisa meninggalkan Alina disini.”

“Kita berdua lari, biarkan Himawari disini. Kita akan lari jauh dan memulai kehidupan bersama.”

“Diam Arthur!”

“Arthur?”

“Lukai mereka, ambil satu sepeda motor dan lari. Jangan ke benteng, nanti militer akan menangkapmu.” Ucap Arthur yang berdiri di antara dua outcast.

“Diam kau cerewet!”

“Siapa Arthur?”

“Adikku dalam masa kritis! Suplai oksigennya hampir habis! Kumohon!”

“Lari Alina! Jangan pedulikan adikmu! Nyawamu yang terpenting!”

“Menyerah saja! Atau kugorok lehermu!”

“Lari Alina! Lari!”

“Alina lari!”

“Lari Alina! Adikmu tidak nyata!”

“Diamlah! Kau juga tidak nyata!” Arthur diam mematung tidak percaya. Ia dapat merasakan betapa kata-kata Alina dapat membuat hatinya berdarah-darah. “Alina?”

Tapi apa yang dapat diharapakan dari sebuah hologram. Apa yang dapat diharapkan dari sebuah program. Sebuah program yang ayah Alina ciptakan agar ia tidak kesepian. Seorang adik yang selalu ia dambakan sejak kepergian ibu dan seorang teman sekaliagus kekasih. Dua orang imajiner agar Alina bisa merasakan betapa emosi dapat merubah hidup seseorang. Untuk mewarnai hidupnya yang abu-abu dan datar.

Arthur tersentak, tidak percaya program berisikan angka dan huruf rumit dalam tubuhnya itu dapat merasakan betapa menyakitkannya memiliki emosi. Emosi palsu. Emosi itu terlihat jelas namun tidak nyata.

“Alina!?” Kini suaranya tersendat masih tidak percaya.

“Kalian tidak nyata! Kalian tidak nyata.”

“Dan kau orang gila, gadis cilik. Lihatlah! Tabung itu kosong dan kau berbicara sendiri dari tadi.”

“Sekarang jangan melawan dan berikan tabung oksigen adik khayalanmu itu atau kami akan membunuhmu.”

Alina meraih pisau dengan tangan kirinya dan menerjang salah satu dari mereka. “Kubunuh kalian semua!”

Dooor!

Suara letupan peluru menggelegar menggema ke seluruh padang rumput. Alina terhenti. Suasana menjadi hening, hanya suara tarian angin dan rumput. Sehening setiap malamnya sejak ayahnya meninggal. Bagi Alina sekarang waktu terasa begitu lambat. Himawari, Arthur, ayah. Hanya itu yang dapat Alina pikirkan. Dia tidak bisa menjaga Himawari, dia mengecewakan Arthur, dan dia gagal melaksanakan pesan ayah untuk menjaga Himawari. Ia dapat merasakan betapa dadanya bisa terasa begitu hangat. Perlahan kakinya tak kuat menompang tubuhnya, kemudian bayangan hitam perlahan merambat dari sisi penglihatannya. Tergeletaklah tubuh Alina di atas rerumputan yang memerah seiring darahnya mengalir. Dengan sebuah tabung kosong di belakangnya dan harapan palsu digenggamannya.

“Dasar orang gila. Kita ambil tabung oksigennya dan pergi dari sini”

Arthur hanya berdiri disana, sama seperti sebelum-sebelumnya. Sama seperti setiap Alina memerlukan bantuannya atau berhadapan dengan bahaya. “Oh Alina yang malang.” Kata itu yang pasti akan didengar oleh Alina pertama kali sebelum ia harus memutar otak untuk menyelesaikan apapun masalah di hadapannya. Memang apa yang bisa Arthur lakukan selain meracau tiada henti.

Sekarang dia hanya bisa diam, tidak ada “Oh Alina yang malang.” Diam menatap bagaimana kawannya selama ini meregang nyawa tepat dihadapannya. Sama tidak percayanya dengan apa yang baru saja Alina katakan. Namun tetap saja, emosi itu palsu. Sepalsu dirinya.

Kacamata pemberian ayah Alina, yang selama ini mewarnai hidupnya, jatuh dan tergeletak di hadapannya. Kenangan tentang bagaimana semua dimulai enam tahun lalu. Kacamata dan earphone sebagai hadiah ulang tahun, Himawari muncul dan menjadi adik kesayangannya, kemudian hari berikutnya Arthur muncul sebagai pemuda yang meminta pertolongan di hutan. Semua kenangan itu akan menjadi kenangan terakhir yang berputar dalam kepalanya. Genangan darah semakin melebar, tak elaknya kacamata itu memerah dalam gengangan darah.

“A-ayah, maafkan aku.” Kata Alina pelan, tangannya lemah berusaha menggapai satu-satunya alasan bagaimana semua harapan palsu terasa begitu nyata. Salah satu outcast itu melihatnya kemudian datang dan menginjak kacamata itu menjadi serpihan. Bersamaan dengan rusaknya kacamata itu, Arthur dan Himawari menghilang.

Disinilah akhir cerita Alina. Kini ia tergeletak di genangan darahnya sendiri dengan tabung kosong yang selama ini dia tarik. Harapan palsu mendorongnya menjadi gila dan melakukan hal tak masuk akal. Harapannya sepalsu Himawari dan Arthur. Harapan palsu yang sama seperti dengan harapan yang merebut nyawa milyaran orang bertahun-tahun sebelumnya.

Pembangunan demi kemanusiaan, namun menghancurkan manusia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *