Cerpen #377 Masa Depan yang Terbelakang

Hal yang tidak pernah terbayangkan dalam benak Nareswara, anak lelaki usia lima belas dengan rambut ikal dan kulit sawo matang, ialah harinya yang harus diawali dengan deru mesin penebang pohon dan alat-alat berat yang datang berkunjung ke desanya selama hampir satu bulan ini. Biasanya, kicauan burung disertai hembus angin subuh pedesaan merupakan sarapan pertama ketika dwi maniknya terbuka selepas tidur. Namun, sejak isu pembangunan yang digemborkan penduduk desa terdengar hingga telinganya, hari-hari Nareswara tidak jauh dari berisik dan panas.

Hari ini adalah kesekian kalinya Nareswara bersandar pada tiang kayu teras rumahnya sembari kebingungan, menatap lalu lalang pekerja dengan pelindung kepalanya yang tengah sibuk mengangkut batang-batang pohon, menurunkan bahan-bahan material, ataupun kesibukkan lain yang tidak diketahui anak seusianya. Satu pria paruh baya, terlihat seperti memiliki jabatan lebih tinggi dibanding yang lain, sedang berdiskusi dengan kepala desa. Merentangkan selembar kertas agak besar, lalu telunjuknya aktif bergerak sambil menjelaskan rancangan yang tidak Nareswara paham sedikitpun. Hanya terdengar beberapa kata, seperti menebang, gedung, dan penambahan akses jalan.

Mendengar penjelasan Bapak beberapa hari kemarin, secara sederhana, Nareswara menangkap informasi bahwa pemerintah kota akan melakukan pembangunan besar dengan mulai mendirikan beberapa infrastruktur serta penambahan dan perbaikan jalan yang nantinya bisa mempermudah aksesibilitas kendaraan di desa kelahirannya, hingga terhubungnya daerah satu dengan yang lain melalui jalan tersebut. Apapun itu, ia tidak terlalu peduli. Sesuatu yang mengganjal dalam benaknya sedari kemarin ialah pertanyaan mengenai, kenapa hutan asri tempatnya mencari kayu bakar dan udara segar ditebang begitu tidak tahu aturan?

“Tidak jadi ke hutan, Res?” Suara Ibu menginterupsi pemikirannya yang berkelana. Menggaruk pelan pelipisnya yang tidak gatal, kemudian ikut duduk di dipan kayu tempat Ibunya mengupas singkong hasil kebun kemarin.

“Mungkin agak siang, Bu.” Nareswara menjawab singkat, sebelum membalas dengan pertanyaan lain. “Apa Ayah sudah berangkat ke sawah? Tadinya aku ingin ikut, tapi tidak jadi saat ingat sudah lama aku tidak mengunjungi hutan, hehe.” Ia meringis sebentar dan Ibu ikut tertawa kecil menanggapinya.

“Sebelum sawah hilang nanti, Ayahmu harus lebih rajin menggarapnya.”

Nareswara mengerutkan dahi, “Hilang kemana, Bu?”

Helaan napas terdengar berat dibuang sebelum Ibu menjawab lesu, “Sawah-sawah milik penduduk mulai dibeli oleh mereka, katanya supaya memperlancar pembangunan yang sedang berlangsung. Ayahmu sudah menolak, tapi kalau warga lain sudah setuju, bisa apa? Tidak mungkin Ayahmu kuat melawan, sebab ditolak dengan seribu cara, maka akan dibalas dengan jumlah yang sama agar keinginan mereka diterima.”

Nareswara belum tahu perihal jual-beli sawah yang dilakukan antara penduduk desa dengan orang-orang kota itu. Tidak habis pikir juga kenapa warga dengan mudah memberikan warisan turun temurun hanya dengan iming-iming uang belasan juta. Iya, sawah di desa ini sudah ada dari generasi ke generasi. Kepemilikkannya hanya berpindah saat yang lebih tua mewariskannya jika sudah tiada, begitu seterusnya. Jadi, sedikit mengecewakan ketika mendengar sawah-sawah yang begitu hijau saat masa pertumbuhan dan menguning begitu cantik apabila masa panen tiba akan punah tergantikan tembok-tembok tinggi yang menyesakkan. Dalam logika Nareswara, uang bisa habis dalam sekali pakai, tetapi lahan persawahan kan masih dapat digunakan berkali-kali. Dengan kesimpulan lain, penduduk desa akan kebingungan untuk mencari mata pencaharian jika uang hasil menjual sawah habis nanti. Anggap saja itu kemungkinan kasar yang bisa Nareswara prediksikan.

Maka ketika terik matahari semakin naik, kedua tungkainya ia bawa bergegas menuju salah satu lahan hutan yang masih belum tersentuh tangan-tangan kotor manusia. Rindangnya pepohonan tinggi dan didominasi tumbuhan-tumbuhan paku menghiasi sepanjang langkah Nareswara menyusuri jalan. Baginya, hutan tidak semenakutkan itu untuk dilalui oleh bocah sepertinya, karena sedari kecil hutan sudah menjadi tempat yang merangkulnya untuk bermain dan menjelajah isi keanekaragamannya. Melihat Ayah setiap hari pergi kesana, membuat Nareswara kecil penasaran mengapa hutan terlihat begitu menyenangkan untuk didatangi oleh pria itu. Lantas, jawaban sederhana yang ia dapat adalah, “Alam itu seperti teman, Res. Teman harus saling menjaga, saling menghormati. Alam menjaga dan menghormati manusia dengan cara memberikan apa yang kita butuhkan, sedangkan manusia harus melakukan hal yang sama dengan tidak merusak dan tidak mengabaikan.”

Sehari setelah Ayah berkata demikian, Nareswara rajin menemani beliau ke hutan untuk mengambil kayu bakar dan beberapa bahan makanan yang bisa dikonsumsi. Tidak lupa, tiap harinya mereka membawa masing-masing satu bibit pohon dari pekarangan rumah untuk ditanam di lahan-lahan hutan kosong sebagai timbal balik. Jangan menjadi manusia yang tidak tahu terima kasih, kata Ayah waktu itu. Nareswara tidak tahu tepatnya dimana ia menanam pohon-pohon itu, namun seiring tahun-tahun berlalu bibit pohon yang ia tanam dahulu mungkin sudah tumbuh besar sekarang, pikirnya.

Hutan yang saat ini Nareswara lalui memang sudah biasa sepi, hanya ada suara hewan-hewan kecil yang mampir ke gendang telinganya, serta satu dua penduduk desa yang ditemui di perjalanan. Ia berhenti sejenak, meraba daun Athyrium sp. yang cukup banyak tumbuh subur disini. Kawasan hutan di desa tempatnya tinggal berdiri di tanah gunung api purba yang berumur tersier sekitar 60 juta tahun yang lalu, sehingga faktor abiotik inilah yang mendorong Athyrium sp., sejenis tumbuhan paku, tumbuh dengan baik karena kecocokkannya dengan tempatnya berkembang. Selain itu, di kawasan hutan ini juga bisa dijumpai flora dan fauna langka, seperti tanaman termas dan kera ekor panjang. Biasanya termas digunakan oleh masyarakat disini sebagai obat, hanya saja tidak bisa diambil secara asal-asalan.

Nareswara percaya bahwa hutan ini menjadi salah satu tempat munculnya suatu hal yang tidak bisa sembarang dijumpai di tempat lain, hanya saja kali ini benar-benar ada kelangkaan yang berbeda. Kini, tidak lebih dari sepuluh meter tempatnya berdiri, manik-manik penuh rasa penasaran Nareswara berpusat pada entitas tak diketahui, tengah menatapnya juga dengan rasa bingung yang sama. Bagaimana ia harus mendeskripsikannya?

“Aku percaya kamu manusia, tapi kenapa terlihat berbeda?” Keberanian untuk memecah keheningan adalah hal pertama yang ia lakukan, melihat tidak ada tanda-tanda bahwa makhluk di hadapannya akan bicara.

“Memang manusia, kamu pikir aku alien?” Makhluk itu berjalan mendekat, menekan tombol-tombol pada alat yang ia gunakan di telinganya, sebelum kemudian tampilan yang menyerupai layar pada wajahnya menghilang begitu saja. Wah, Nareswara seperti pernah melihat ini di film-film. “Hei, manusia purba. Namaku Edward, siapa namamu?”

“Nareswara.”

Edward mengangguk-anggukkan kepalanya, “Kuno sekali, tapi itu membuktikan kalau aku memang pergi ke zaman yang benar.”

Sekarang giliran Nareswara yang dibuat aneh, “Bicaramu seperti kamu datang dari masa depan saja.”

“Memang.”

Tidak ingin memercayai, namun dilihat dari penampilan Edward yang aneh dan tidak seperti manusia pada umumnya, tidak mengherankan juga. Walaupun Nareswara tidak tahu bagaimana bentuk manusia di masa depan nanti.

“Baiklah, Tuan Dari Masa Depan.” Katanya sedikit meledek, terbukti Edward sampai memutar kedua bola matanya kesal. “Mau apa kamu kesini— tidak, tidak. Maksudku, bagaimana bisa? Aku belajar sains di sekolah, dan mesin waktu hanyalah omong kosong.”

“Menjadi omong kosong karena teknologi pada masa kalian tidak semutakhir di masa depan. Aku seorang ilmuwan muda, tahu. Meski tidak menyangka mesin waktu yang kurakit ternyata bisa beroperasi dengan baik.” Edward memelan diakhir kalimat, lalu pandangnya berpendar menjelajah. Mengamati pepohonan tinggi menjulang di atasnya, udara sejuk yang melegakan rongga paru-paru, hingga bagaimana hewan-hewan yang dilihatnya bergerak dari satu tempat ke tempat yang lain. Semua hal ini menjadi terlihat semakin mustahil, mengingat di zaman ia hidup, tidak pernah ia jumpai keadaan yang begitu hidup.

“Tidak pernah melihat pohon atau apa? Aneh sekali, seperti baru menemukan harta karun.”

Edward tidak menanggapi banyak, hanya mencibir pelan sebelum bergerak ke salah satu pohon terdekat. Meraba kasarnya tekstur dari batang Akasia, ia dibuat takjub untuk kesekian kali. “Di masa depan, pohon menjadi begitu purba. Meski teknologi makin mutakhir, tapi alam yang sudah tidak berdaya menjadikannya tidak berarti apa-apa.”

“Betulan dari masa depan? Aku tidak sepenuhnya percaya, lho.” Nareswara menatap dua bola mata Edward yang biru, berbeda dengan miliknya yang hitam legam.

Edward hanya mengedikkan bahunya, “Tidak percaya juga tidak apa-apa. Toh, jika kelakuan manusia sekarang masih begitu-begitu saja, kehidupan umat manusia di zamanku tidak akan berubah. Tahu, tidak? Aku dan yang lain, anak cucu kalian, hidup dalam keadaan yang memprihatinkan. Kenaikan suhu akibat pemanasan global yang tidak terkendali membuat banyak aspek kehidupan kami hampir hancur sepenuhnya.”

“Kenapa bisa hancur?”

Hela napas Edward begitu berat terdengar, sampai sesaknya bisa Nareswara rasakan sampai dada. “Segalanya seperti efek domino. Kenaikan suhu bumi— kamu pasti tidak asing dengan istilah efek rumah kaca, berdampak begitu luas pada kehidupan di masa depan, Nareswara. Kualitas dan kuantitas air semakin memburuk, kelangkaan pangan akibat gagal diproduksi, baik karena lahan yang semakin kurang maupun tidak mampu tumbuh dalam kekeringan. Belum lagi maraknya kemunculan virus dan penyakit akibat cuaca ekstrim. Semua itu harus kami hadapi, mau tidak mau, sebagai akibat perbuatan manusia-manusia pada masa ini.”

Apa yang disampaikannya bukanlah sebuah kebohongan, beban berat yang diemban manusia di masa depan memang begitu adanya. Udara yang mereka hirup merupakan racun yang bisa merenggut nyawa kapan saja. Oleh karena itu, ketika menginjakkan kaki pertama kali di tanah subur nan rimbun pepohonan bagai surga yang Edward nantikan sekian lama. Bahkan, jika diijinkan ia ingin membawa teman-temannya kemari. Agar setidaknya dapat merasakan udara segar dan damainya suasana fotosintensis antara matahari dan tumbuhan hijau disini sekali sebelum mati.

Disisi lain, Nareswara dibuat bungkam. Tidak peduli kebenaran soal Edward yang datang dari masa depan, melainkan pilunya cerita yang disampaikan pemuda itu membuatnya terenyuh. Betapa beruntungnya ia sekarang, masih bisa menikmati hijaunya pepohonan dan udara segar secara cuma-cuma. Meski hal ini juga membuatnya berkaca diri, sudah sebaik apa ia menjaga anugerah Tuhan berupa limpahan nikmat yang diberikan oleh alam?

Nareswara mencoba mereka ulang sikap manusia yang terkadang semena-mena terhadap alam. Tak jarang ia menemukan beberapa penduduk desa tidak peduli dengan kebersihan lingkungan, sampah-sampah yang membuat volume air meluap ke daratan menjadi kasus terbaru yang terjadi beberapa waktu lalu. Ketidakpedulian warga membuat alam mengembalikkan apa yang mereka buang secara sembarangan. Ini hanya contoh kecil yang bisa Nareswara saksikan secara langsung.

Sedangkan mengenai pemanasan global yang Edward singgung tadi, banyak sekali penyebabnya. Materi yang Nareswara pelajari di sekolah, penggunaan plastik yang berlebihan ternyata juga menjadi penyumbang masalah pemanasan global. Seiring dengan perkembangan zaman, plastik sudah menjadi teman hidup warga desa. Dahulu, penggunaan alat-alat tradisional yang terbuat dari kayu atau bambu untuk melengkapi kegiatan sehari-hari masih menjadi pilihan utama. Akan tetapi, sekarang semakin tergeser oleh keberadaan benda yang hanya bisa terurai dalam jangka waktu mencapai puluhan hingga ratusan tahun. Penggunaan secara berlebihan tentu saja akan memperburuk keadaan, karena dalam satu proses penguraian, plastik akan mengeluarkan gas metana dan etilena ketika terkena sinar matahari langsung. Bayangkan jika dengan begitu banyaknya sampah plastik yang ada di bumi, harus melewati proses penguraian yang panjang sekaligus akibatnya yang tidak main-main, sebab gas metana yang dihasilkan membuat lapisan ozon mengalami kerusakkan.

Nareswara termenung, mengingat satu hal mengganjal yang akhir-akhir ini sering menghampiri benaknya sampai membuatnya gelisah. Pembangunan di desa.

“Melihat manusia-manusia itu menebang pohon tanpa aturan membuatku ingin menangis.” Edward tentu tidak buta, apalagi tuli. Meski bentuk tubuhnya sedikit berbeda dengan manusia seperti Nareswara, namun perasaannya sebagai makhluk hidup yang begitu menginginkan kehidupan damai bersama alam begitu teriris ketika melihat lahan-lahan hutan di seberang pandang semakin kosong dan kerontang. Itu merupakan lahan yang masuk ke dalam rancangan pembangunan, Nareswara sempat mencuri dengar. Dimana pohon-pohon disana ditebang paksa untuk membuka akses jalan dan memudahkan pembangunan. “Kenapa mereka begitu sampai hati? Mungkin jika alam bisa menangis sepertiku, tsunami dan banjir bandang akan mewakili tumpahan kesedihannya.”

Tidak hanya Edward saja, Nareswara pun merasakan hal yang sama. Hutan yang begitu asri kini berganti tak ada isi, selain tanah kering dan suhu yang semakin meninggi. Rumah bagi hewan-hewan itu kini sudah roboh, pondasinya diratakan paksa alat-alat berat. Deru mesin penebang pohon seakan menjadi melodi pengiring penuh ironi.

Ini mengingatkannya kembali pada nasihat Ayah saat kecil dulu; timbal balik. Jika mengambil, maka dibalas dengan memberi. Manusia seenaknya menebang pohon untuk kepentingan sendiri, tapi lupa bahwa perlu adanya reboisasi untuk menjaga keseimbangan alam. Lagi-lagi, akibatnya merugikan manusia kembali. Longsor dan banjir sekarang menjadi agenda wajib setiap musim penghujan datang, karena tidak ada lagi akar-akat kuat pepohonan untuk menopang. Udara panas yang akhir-akhir ini sering Nareswara rasakan kemungkinan juga berasal dari alasan yang sama, pepohonan yang tadinya bertugas mengikat karbon dioksida agar tidak terperangkap di atmosfer kini sudah tiada. Sumbangsih terhadap pemanasan global pun semakin bertambah.

Mulai sekarang Nareswara tidak perlu heran jika alam bertingkah laku aneh, sebab ia semata-mata melakukannya untuk menunjukkan bahwa ia bisa marah jika manusia tidak bisa menghargai dan menjaga.

“Kesedihan yang kita rasakan sama, Edward. Alam adalah teman, melihat temanku diperlakukan tidak beradab tentu saja menyakitkan. Tapi, apakah aku cukup kuat untuk membantu? Tanganku masih kecil dibanding para penguasa itu.”

Senyum Edward mengembang, tubuhnya yang lebih kecil berjalan menghampiri Nareswara. “Tanganmu masih kecil, namun tidak membuatnya tidak berarti. Kamu bisa melakukan perubahan-perubahan sesuai kapasitasmu.”

Hening mengisi setelahnya, sampai rengkuhan hangat Nareswara dapatkan bersamaan satu kalimat yang kembali mengudara dari teman barunya itu, “Aku ingin kamu mengingat hal ini, Res. Masa lalu memang tidak bisa diulang, tetapi masa depan masih bisa diperbaiki.”

Edward benar, masa depan masih bisa diperbaiki. Jika manusia tidak kunjung sadar, hal seburuk apalagi yang ingin diwariskan pada anak cucu nanti? Menjaga kelestarian alam dengan tidak membuang sampah sembarangan, mengurangi penggunaan plastik, dan penanaman hutan kembali adalah langkah besar yang bisa dimulai dari lini kecil untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik di masa depan. Memastikan generasi mendatang bisa menghirup udara segar, bukan racun dari emisi gas rumah kaca. Tercukupi kebutuhan pangannya, bukannya kelaparan karena lahan pertanian yang berganti menjadi ladang pembangunan. Alam mencukupkan kebutuhan, kemudian kita melakukan timbal balik dengan menjaga dan tidak mengabaikan.

Terlepas Edward datang dari masa depan atau bukan, hadirnya cukup membuat Nareswara semakin sadar bahwa ketidakpedulian kita pada alam saat ini, bisa berdampak fatal bagi kehidupan di masa nanti. “Terima kasih, Edward.”

Keduanya kembali tersenyum setelah melepas pelukan. Hingga tiba-tiba Edward melepaskan kalung dengan bandul batu zamrud berwarna hijau pekat, kemudian menaruh benda tersebut di telapak tangan Nareswara. “Waktuku disini akan segera habis. Sebagai salam perpisahan, aku memberikan kalung ini sebagai simbol pertemanan. Jaga baik-baik, ini adalah warisan turun temurun dari leluhurku.” kata Edward halus.

Nareswara masih dibuat kagum dengan kedua sudut bibir yang tertarik begitu sumringah, “Indah sekali! Aku janji akan menjaganya dengan segenap jiwa dan raga. Terima kasih lagi, Edward!”

Mungkin pilihan yang tepat untuk memberikan benda berharga miliknya pada Nareswara, meski baru mengenal beberapa saat lalu, ia yakin anak lelaki itu baik dan bisa dipercaya.

Sebuah suara memekakkan telinga muncul ketika Nareswara mencoba memasangkan kalung itu melilit lehernya, sampai sebuah cahaya menyilaukan mata dengan letupan-letupan mirip kembang api kecil hadir mengelilingi sebuah lubang gelap tak berujung di belakang Edward berdiri.

“Salah satu kecanggihan teknologi di seratus tahun mendatang.” Tangan Edward teracung, memamerkan benda canggih mirip jam tangan, hanya saja dengan fitur yang lebih kompleks. “Tapi sepertinya masih perlu diperbaiki karena kerjanya masih belum sempurna. Itu berarti aku tidak bisa kembali kesini lagi, atau mungkin bisa jika aku sudah jadi ilmuwan yang semakin hebat, entahlah. Untuk terakhir kalinya, terima kasih, Nareswara. Kamu bisa menjadi penjaga alam yang luar biasa di masa depan, aku yakin! Jadi, jangan pernah menyerah untuk menciptakan masa depan yang lebih baik lagi.”

Sebelum Edward menekan satu tombol pada alat di pergelangan tangan, ia menoleh kecil seraya tersenyum, lantas ucapan selanjutnya membuat Nareswara mematung bingung, “Sepertinya salah satu leluhurku memiliki nama yang sama denganmu.” Katanya diiringi tawa menggelikan. “Selamat tinggal, Kakek!” Kemudian hilang ditelan lubang yang lama-kelamaan pudar.

Wus!

Waktu seperti terhenti tepat ketika entitas Edward lenyap tanpa bekas. Lagi-lagi hening merajai kondisi, gerakkan tangan Nareswara yang tadi melambai aktif mengantarkan kepergian pemuda dari masa depan itu tertahan di udara.

Tunggu… Edward benar-benar dari masa depan?

Nareswara ingin mengasumsikan apa yang ia alami hari ini sebagai halusinasi belaka. Sebutlah ia bertemu dengan dedemit penunggu hutan, tapi tidak. Ini terlalu nyata. Suara Edward masih setia menggema di memoar, hangatnya pelukkan pemuda itu juga masih belum sepenuhnya kabur, dan kalung dengan batu zamrud hijau sebagai bandul pun masih setia melingkari lehernya.

Orang-orang akan menganggapnya gila jika tahu cerita ini. Terlalu tidak masuk akal, tidak ada bukti kuat. Jadi, Nareswara berniat menyimpan hal ini sendirian. Sebab yang paling penting dari kejadian luar biasa hari ini bukan kehadiran Edward, meski ia senang bisa mendapat teman baru dari masa depan, namun pesan yang disampaikan Edward.

Tentang menjaga teman; alam.

Nareswara bersumpah, bahwa mulai saat ini ia akan lebih menjaga dan menghargai alam. Karena kepedulian tidak lahir dari orang lain, melainkan dimulai dari kemauan diri sendiri. Biarlah tangan kecilnya membawa dampak besar bagi kehidupan manusia. Nareswara tidak ingin melahirkan masa depan yang terbelakang hanya karena mewariskan keadaan alam yang sudah tidak layak untuk generasi mendatang.

Tapi… mengapa tadi Edward memanggilnya kakek?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *