Cerpen #376 Lembah Kematian

Sebuah mobil sedan melesat cepat di antara kepul debu dan sunyi. Hanya sedikit kendaraan dan orang yang melewati jalan tersebut. Wajar saja, wilayah itu adalah kawasan industri—pabrik-pabrik dengan asap mengepul.

Tiba di sebuah kelokan sempit, mobil itu berbelok menyusurinya. Jarang—atau bahkan tidak ada—ingin melewati jalan sempit tersebut. Semua orang sudah tahu ke mana arah tujuan jalan itu dan sudah tidak ada yang asing lagi mendengarnya. Lembah Kematian.

Tempat itu memang disebut begitu, namun sebenarnya tempat itu sama sekali bukan lembah, melainkan sebuah taman. Bekas taman, lebih tepatnya. Pepohonan kering yang tinggi-tinggi, semak belukar yang tak bersisa daunnya, juga tanah yang kering dan retak.

Mengapa disebut Lembah Kematian? Ada banyak alasan dan rumor yang sudah menjadi kabar burung dimana-mana. Pembunuhan massal, tempat penyihir-penyihir digantung, sampai kawasan kerjaan iblis tak kasat mata berada. Diantara alasan-alasan tersebut, hanya satu yang dapat diterima akal. Tempat tersebut sangatlah panas, yang mana menyebabkan seluruh tumbuhan disana menjadi kering dan mati. Tidak ada pengunjung dan hewan-hewan membuat taman tersebut menjadi senyap, seperti kematian.

Mobil itu memasuki taman, melewati jejeran pepohonan kering. Kemudian, berhenti di pinggir jalan. Masih ada susunan batu bata sebagai trotoar yang satu-dua sudah copot. Seorang lelaki keluar dari mobil tersebut sambil mengembangkan payung lebarnya. Hari sudah menjelang sore, tapi udara di taman itu masih sangat panas—melebihi suhu manusia yang terkena demam tinggi, dan sinar matahari masih membakar.

Lelaki itu melihat-lihat sekelilingnya sambil berjalan perlahan. Ia tak dapat menahan perasaan heran, terkejut, dan sedihnya. Tak ada alasan khusus, semua itu hanya terasa baru baginya. Tidak ada orang lain disana, ia berjalan seorang diri di tengah taman itu.

Jem—nama aslinya, Jeremy—adalah seorang jurnalis dari perusahaan media informasi yang lumayan terkenal, UKnow. Mereka merilis majalah bulanan dan menulis artikel, berita, atau apa saja yang menurut mereka menarik untuk dibaca. Selama lima tahun bekerja di sana, tak dapat diragukan lagi bahwa kinerja Jem sangatlah bagus dan pantas untuk mendapatkan apresiasi dari kepala perusahaan. Jem pun merasa senang mengerjakan pekerjaannya, dan tidak pernah menolak perintah atasannya.

Seperti tiga minggu yang lalu. Setelah kepala redaksi sebelumnya keluar dari perusahaan dengan alasan yang kurang jelas, Jem ditunjuk untuk menggantikannya. Ia ditugaskan untuk mengisi topik utama majalah yang akan mereka keluarkan pada awal bulan. Mereka telah sepakat untuk mengangkat tema“Bumi sedang sakit” sebagai topik utamanya.

Jem dengan antusias menerimanya dan dalam tiga minggu telah mendapatkan data-data valid terkait dengan tema tersebut, dengan narasumber yang dapat dipecaya. Buku catatan jurnalisnya telah penuh oleh tulisan-tulisannya.

Mulai dari peristiwa hujan yang mengguyuri puncak es Greenland pada ketinggian 10.551 kaki. Hal ini dianggap bahaya oleh ahli karena, pada suhu puncak es yang sangat dingin, seharusnya mustahil untuk turun hujan di sana.

Kemudian salah satu jalur perdagangan penting, Sungai Panama, mengering. Para pecinta alam dan pakar dibuatnya bingung oleh hal ini. Ribuan kapal yang hendak melintas pun terpaksa untuk berhenti sementara dalam waktu yang belum bisa ditentukan.

Terakhir, pertemuannya dengan IPCC. Mereka malporakan bahwa suhu bumi akan meningkat 1,5 derajat celcius dalam waktu 20 tahun kedepan.

Jem tahu persis apa yang dituliskannya. Krisis iklim, perubahan alam, dan semacam itu. Tapi ia lebih setuju dengan meminjam tema topik utama majalah perusahaannya, “Bumi sedang sakit”. Menurutnya itu kata yang tepat. “Bumi sedang kritis”? Tidak. Tidak. Ia yakin bumi dapat kembali sehat, entah bagaiaman caranya.

Dengan catatan-catatannya yang dipenuhi oleh data-data tersebut, sebenarnya ia sudah menggenapkan tugasnya dan dapat menikmati liburan sampai waktu terbitnya majalah tesebut. Namun ia memilih untuk menyempatkan diri berkunjung ke taman tersebut, Lembah Kematian.

Ia masih berjalan pelan di trotoar masih dengan pikiran-pikirannya. Ia sadar bahwa perubahan drastis yang terjadi di taman ini, pastilah berkaitan dengan hal-hal yang selama tiga minggu ini ia tulis. Intinya, suhu bumi kian memanas, dan berdampak pada banyak hal. Iklim, ekonomi, atau bahkan politik terdampak oleh perubahan nilai suhu bumi tersebut. Termasuk taman ini.

Pandangannya tidak tertuju pada apa pun, kosong. Tidak ada yang tersisa dari taman ini. Tidak ada lagi yang bisa dikenang. Semuanya terbakar—sekali lagi, oleh perubahan nilai kecil pada suhu bumi. Ia merasa aneh. Ia bisa berjalan dengan santainya ketika rumahnya, bumi, sedang terbakar.

Langkahnya masih mengikuti pola batu bata yang bersilang-silang. Sampai akhirnya langkahnya terhenti. Kini pandangannya tertuju, terpaku pada satu hal yang seharusnya—secara logika, tidak disana. Ia melihat pohon yang besar, tinggi, dan rimbun daunnya. Pohon itu tegak berdiri di tengah tanah lapang yang kering, diantara pepohonan yang sudah rapuh tak berdaun, sehingga sangat kontras ketika melihatnya. Jem tertegun manatapnya. Bukan karena hal itu tidak logis, bukan karena ada orang yang berteduh di bawahnya, tapi karena pohon itu adalah pohon cerry.

Dulu, ketika Jem masih berumur sepuluh tahun, ketika ia belum memutuskan untuk pergi dari kotanya. Dulu, ketika ia masih seorang anak yang pemalu. Dulu, ketika ia belum mengenal—maupun mendengar kata itu. Lembah Kematian.

Jem kecil pertama kali diajak ke taman ini oleh pamannya. Tidak seperti anak-anak lainnya yang jalan bersama orangtua mereka, Jem tidak memilikinya. Ia terlahir tanpa sempat melihat keduanya. Namun ia tidak merasa sedih, karena ia memiliki paman yang sangat baik.

Hari itu, ketika Jem tidak jadi diajak ke taman hiburan, ia menangis. Melemparkan amarah pada pamannya. Ia terus saja terisak sampai akhirnya pamannya itu menggandeng tangannya dan berjalan menuju taman tersebut.

Taman itu indah. Beraneka ragam tumbuhan terdapat di sana. Pinus-pinus yang menjulang, pohon beringin yang rindang, semak belukar yang terbentuk rapih. Jem telah berhenti menangis, ia hanya termenung menatap anak-anak bermain di rerumputan, saling mengejar.

Jem waktu itu adalah seorang yang pemalu. Ia hadir di taman itu, namun tidak ikut serta dalam permainan anak-anak. Pamannya menuntunnya ke sebuah pohon cerry yang besar, kemudian bersandar. Jem mengikutinya. Pamannya membuka buku dongeng, membacakannya. Ketika mulut pamannya mulai membacakannya dengan khidmat, ia akan terdiam. Ia senang mengkhayal. Pikirannya pun terhisap oleh dongeng itu.

Sejak itu, Jem selalu menyempatkan dirinya ke taman, bersandar pada pohon cerry itu. Kemudian ia akan membaca buku-buku dongeng yang dibelikan pamannya. Ia tak pernah menangis sejak itu. Bahkan ketika pamannya meninggal saat ia berumur dua belas tahun, ia tidak sedih. Dan ia tetap membaca buku-buku dongeng itu. Bukan hanya untuk dirinya, tapi untuk pohon cerry juga. Untuk seisi taman. Ia sangat senang berada di taman itu.

Sampai akhirnya Jem kembali merasakan sedih. Ketika ia menginjakkan kakinya di sekolah menengah, ia menemukan tiga perempat taman itu digusur, hanya menyisakan pohon cerry. Untuk membangun pabrik katanya. Ia kecewa, sedih, dan terguncang. Buku dongengnya terjatuh dan ia berbalik. Tanpa sadar, kedewasaan mengubahnya. Jem memutuskan untuk merantau di luar kota. Meninggalkan tamannya. Meninggalkan pohon cerry-nya.

Langkah Jem mendekat ke pohon cerry tersebut. Ia masih terpaku, sampai akhirnya ia tersadar. Ada orang yang sedang bersandar pada pohon cerry itu. Orang itu memakai topi lebar hitam dengan kain putih yang terurai mengelilingi wajahnya, sehingga wajahnya tidak terlihat. Jubah tipis panjang menyelimuti tubuhnya.

Seketika itu Jem menjadi gemetar. Ia seperti pernah melihatnya—tidak, mendengarnya. Ia paksa otaknya untuk mengingatnya dan ia menemukannya. Dari kepala redaksi sebelumnya. Ia ingat apa yang terakhir kali ia sampirkan untuk topik sampingan majalah mereka.

“Datanglah. Datang. Ketika kau merasa hilang tujuan. Ke tempat kenangan. Temui dia. Dia yang bertopi hitam tanpa wajah. Dia tidak hidup, maka berikanlah jiwamu padanya. Jiwa yang murni dirimu. Maka ketika dia sudah mengangkat wajah, tanyakanlah. Dia memberimu masa depan yang kau inginkan, sehingga terdengar seperti angan-angan. Jangan berpaling, terimalah dirimu yang polos dan murni itu. Dan kembalilah pada kenangan yang bukan kenyataan.”

Jem bergidik. Entah apa yang mendorongnya ia terduduk di depan orang itu. Kemudian dengan pelan ia bertanya,

“Seperti apa bumi ini pada hari esok?”

“…”

“Bagaimana taman ini hari esok?”

Orang itu mengangkat kepalanya.

“Indah, hijau, asri. Ketentraman yang dirindukan.”

“Bagaimana mungkin?”

“Pulih. Sehat.”

“Caranya?”

“Pandanglah dari rumahmu.”

“…”

“Bersihkan penyakit yang turun ke rumah ini, yang terbuang dari rumah suci. Penyakit mudah menyebar. Maka obatilah. Bunuh penyakit-penyakit itu.”

“…”

“Esok-esok, kau akan melihat keindahan dunia. Hijau. Musik berirama indah.”

Jem tersungkur.

Matanya membuka perlahan, mengerjap-ngerjap. Matanya memandang ke sekeliling. Berbagai macam tumbuhan menghiasi pandangan. Ia mengangkat tangannya. Buku dongeng. Bibirnya tersenyum. Mulutnya mulai membacakan dongeng itu. Bukan untuk dirinya. Tapi untuk semuanya. Untuk rumahnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *