Cerpen #375 Perjalanan

“Bapak Presiden berhalangan mengikuti Konferensi Lingkungan Dunia yang akan digelar tiga hari lagi,” asistenku berkata dua-tiga kalimat lagi sebelum menutup konferensi pers. Kenapa aku tidak bisa menghadirinya? Hei, aku bukan tidak bisa menghadirinya, aku tidak mau menghadirinya. Setelah itu kalian mungkin bertanya-tanya, kenapa tak mau?

Sepuluh tahun terakhir, Konferensi ini tidak menghasilkan sesuatu apapun yang akan berdampak secara luas dan menyeluruh bagi lingkungan dunia. Komitmen-komitmen yang disetujui para pemimpin dunia tidak menekankan setiap negara untuk benar-benar menjaga lingkungan dunia. Mencegah perubahan iklim. Komitmen-komitmen ini seringnya dengan santai dilanggar dan diacuhkan oleh beberapa negara.

Setahun terakhir, menurut media, terdapat banyak sekali indikator bahwa perubahan iklim sudah terjadi. Artinya, bumi kita perlahan akan rusak. Entahlah. Aku tidak pernah membaca berita-berita seperti itu. Itu tidak penting.

Masalahnya, menurut asistenku, masyarakat dunia mulai sadar dan tergerak dengan topik ini. Menggelar demonstrasi. Mengecam Pemerintah. Membuat para Presiden dari berbagai negara juga mulai tergerak untuk menjaga lingkungan dunia. Mencegah perubahan iklim.

Masyarakat dunia juga telah mengecam Konferensi Lingkungan Dunia yang berajalan alot dan tidak menghasilkan apa-apa. Mereka menuntut para presidennya untuk memmbuat komitmen yang nyata untuk seluruh negara peserta konferensi. Sehingga, sebagian besar negara menyatakan akan memperjuangkan komitmen nyata tersebut pada Konferensi yang akan diselenggarakan tiga hari lagi.

Hal yang bagus bukan? Para pemimpin dunia akan menyutujui komimen yang nyata itu. Mencegah lingkungan dunia. Mencegah perubahan iklim. Dunia tidak akan rusak. Lantas, mengapa aku tidak mau menghadirinya?

Hahaha! Lingkungan dunia lebih baik. Iklim tidak akan terganggu. Dunia lebih baik. Semua omong kosong itu. Hei, dunia akan lebih baik jika roda ekonomi terus berjalan. Produksi bertambah pesat. Pabrik-pabrik beroperasi dengan baik.

Negara ini, adalah negara adidaya perekonomian dunia. Negara ini mengekspor apapun. Menguasai perekonomian bahkan sampai negeri nun jauh di sana.

Banyaknya ekspor, berarti banyaknya produksi barang di negara ini. Banyaknya produksi, berarti banyaknya pabrik yang beroperasi. Banyaknya pabrik, berarti banyaknya pencemaran lingkungan di negara ini. Pencemaran air, tanah hingga udara. Pencemaran yang tidak bisa dibendung demi menjaga roda perekonomian ini.

Yang berarti, untuk menjaga roda perekonomian ini, menjaga dunia agar lebih baik, aku tidak akan menyetujui komitmen nyata omong kosong itu.

“Mari Pak Presiden, tamu bapak sudah menunggu di Ruang Pertemuan,” ucapan asistenku memecah lamunanku tentang segala omong kosong itu. Aku beranjak dari kursiku. Merapihkan Kemeja. Diiringi asistenku, aku berjalan menuju pintu keluar ruangan besar tempat kerjaku.

Ketika hampir sampai di pintu keluar, asistenku bergegas mendahuliku untuk membukakan pintu. Setelah itu, kami akan melewati lorong besar berkapet merah. Berjalan menuju Ruang Pertemuan.

Krek. Pintu dibuka.

Hei! Dimana lorong besar berkarpet merah itu? Di deopanku, Semuanya putih. Tak berujung. Ruangan serba putih tak berujung. “Silahkan, pak,” asistenku belum melihat semua keanehan itu. Setelah melihat wajah kebingunganku, ia lantas melihat ke luar ruangan dan melihat semuanya. Ruangan serba putih tak berujung.

Kami terhenyak. Ini semua benar-benar aneh. Seperti di film-film. Benar-benar runagan serba putih tak berujung. Penasaran, aku melangakah keluar dai ruanganku. Memasuki ruangan misterius itu. Asistenku ragu-ragu mengiringiku.

Aku berjalan lima langkah. Mengetuk lantai ruangan tersebut. Mencoba mencari tahu. Sampai aku tersadar, ruanganku telah lenyap. Tak bersisa. “Bagaimana ini pak? Kita ada dimana?” Suara asistenku terdengar amat panik. Apa yang terjadi dengan dunia ini, aku juga tidak tahu.

Perlahan semburat warna muncul dari kejauhan. Perlahan-lahan mengisi ruangan. Sepuluh menit kemudian, ruangan itu telah sepenuhnya terisi. Aku sudah di tempat lain. Pemandangan yang kulihat sangat mengejutkan.

Rumah-rumah ringsek. Kayu-kayu furnitur sudah tak berbentuk lagi. Atap-atap rumah bahkan sudah ada yang terseret arus air. Banjir besar. Itulah yang terjadi. Sangat mengenaskan. Aku bisa melihat lambaian tangan para warga dari jendela-jendela rumah. Meminta pertolongan. Mereka agak beruntung, rumah-rumah di sekelilingnya sudah hanyut terbawa derasnya arus air banjir. Sesaat setelahnya, mereka juga hanyut terbawa arus tersebut. Entah kemana mereka dibawa. Sangat memprihatinkan.

Aku melihat semua itu dari sebuah menara air. Terbuat dari besi, tiang-tiangnya masih kuat bertahan melawan arus air. Mungkin sebentar lagi akan ambruk juga, seperti bangunan bangunan lain.

Apa yang harus kita lakukan, pak?” Asistenku bertanya dengan suara lirih.

“Panggil pasukan penyelamat! Segera selamatkan para warga!” Kepanikanku hampir saja membuat memori tentang ruangan serba putih itu hilang. Aku tidak dimana ini. Rumah-rumah penduduk rasanya tidak setipe dengan yang ada di negaraku. Tapi, situasi seperti ini, hal yang paling tepat adalah memanggil pasukan peneylamat.

Kekhawatiranku benar. Tepat saat asistenku dengan cepat membuka polsennya, wajahnya menunjukan raut keterkejutan.

“Kita bukan di negara kita, Pak! Kita ada di Jerman!”

Bagaimana ini bisa terjadi. Setelah keanehan-keanehan sebelumnya, keanehan ini betul-betul mengejtkan. Aku telah berpindah tempat.

“Pak, di ponselku hari ini adalah hari Rabu, 21 Juli 2021! Ini lima bulan yang lalu!” Tidak hanya berpindah tempat, aku telah menjelajahi waktu. Apa yang harus aku lakukan?

Setelah semua kepanikan itu, helikopter pasukan penyelamat datang. Menurunkan tangga tali. Aku meraihnya, menaikinya cepat-cepat. Diikuti asistenku.

Bruk. Aku jatuh dari tangga itu. Badanku menubruk lantai menara air. Sial, tanganku terpeleset tadi. “Pak Presiden, cepat naik!” Asistenku terlihat sangat panik. Aku cepat-cepat menaiki tangga itu lagi.

Ku melihat ke bawah sejenak. Tangga air itu sudah hanyut di bawah sana. Tiang-tiangnya sudah tak kuat menahan arus air. Aku lebih terburu-buru menaiki tangga itu.

Hal yang terjadi berikutnya lebih buruk lagi. Tangga tali itu putus. Tak kuat menahan beban kami berdua. Tamat sudah riwayat kami. Kami akan hanyut terbawa arus banjir di bawah kami. Aku memejamkan mata. Pasrah.

Bruk! Hei! Kenapa suaranya seperti itu? Kenapa aku tidak hanyut? Aku membuka mata. Mengerjap. Asistenku kebingungan di sampingku. Kami kembali ke ruanagan serba putih tak berujung. Aku menghela napas. Kejadian tadi benar-benar menegangkan.

Dari kejauhan, semburat warna mulai muncul. Sekarang aku tahu, aku akan berpindah tempat lagi. Atau mungkin menjelajahi waktu lagi. Sepuluh menit kemudian, semua ruangan telah terisi. Kami seperti ada di sebuah kantor cuaca. Ruangan besar yang penuh dengan orang-orang sibuk. Di depan ruangan ada layar besar seperti di bioskop.

“Kita berada di Greenland pak, 14 Agustus 2021, 4 bulan yang lalu,” asistenku mendapat informasi itu setelah membuka ponselnya.

Anehnya, semua orang terlihat panik. Melihat layar besar yang ada di depan ruangan. Hujan. Itulah yang mereka lihat. Bukan hujan biasa. Ini Greenland. Seharusnya, tempat ini terlalu dingin untuk terjadi hujan air.

“ Ini pertama kalinya sejak lima puluh tahun lalu. Ada hujan air di sini. Ada lebih dari 7 ton air yang jatuh ke puncak Greenland berketinggian 3.216 meter di atas permukaan laut.” Lirih seseorang yang berada di depan layar.

“Ini sangat memprihatinkan. Dunia kita benar-benar telah berubah,” tambah orang itu.

Deg. Dunia ini memang benar-benar berubah. Aku pernah membaca berita ini. Hanya sekilas. Kukira hanya propaganda para aktivis lingkungan untuk meminta sumbangan.

Aku berpikir cepat. Apa yang harus kulakukan. Akun ingin keluar dari alur ini. Berpindah tempat secara sendirinya. Menjelajahi waktu. Ruangan serba putih itu. Alur yang aku pun tidak tahu siapa pembuatnya.

“Siapkan pesawat kenegaraan! Kita kembali ke negara kita!” Mungkin kembali ke negaraku akan membuat semuanya selesai. Mungkin. Lagi-lagi hanya sebuah kemungkinan. Saat itu, asistenku sedang menelpon beberapa orang untuk mempersiapkan perjalanan itu.

‘Semua sudah siap, pak. Pesawat akan tiba di bandara dekat sini sekitar 2 jam lagi.” Sebelum kalimat itu habis dibacakan asistenku, aku sudah bergegas menuju pintu keluar ruangan besar itu.

Suasananya masih menegangkan. Belum ada yang berkata apapun. Tidak kuat atas segala ketegangan ini, ada yang meneguk segelas air. Mungkin, air itu tak terasa segar bagi mereka. Mereka adalah para pecinta lingkungan pastinya. Mereka merasa bersalah. Mereka gagal menjaga bumi ini. Bahkan sudah ada yang menteka ujung mata. Menghapus air mata. Ini adalah bukti nyata dunia kita telah berubah.

Aku menelan ludah. Aku ikut merasakan ketegangan itu. Tapi aku harus bergegas. Mungkin sepuluh sampai sebelas langkah lagi aku akan sampai di pintu keluar. Sampai aku berpikir. Mungkin saja, saat aku keluar, yang kutemui adalah ruangan serba putih itu. Aku akan kembali mengikuti alur itu. Tapi mau bagaimana lagi? Aku memutuskan untuk tetap membuka pintu itu. Perlahan-lahan.

Krek. Pintu dibuka.

Kali ini kekhawatiranku salah. Ini bukan ruangan serba putih! Ini adalah lorong besar menuju pintu keluar gedung. Mirip sekali dengan yang ada di depan ruang kerjaku. Besar, berkarpet merah. Semua kenanganku terbayang lagi. Dimulai dari pagi tadi, hidupku berubah. Tiba-tiba, aku harus mengikuti alur ini.

Ah! Kekhawatiranku muncul lagi. Mungkin saja, setelah pintu keluar gedung ini, Aku kembali ke ruangan itu.

Aku duduk di kursi panjang yang diletakkan di sisi lorong. Isrtirahat sejenak setelah semua ini. Asistenku dengan cepat membaca situasi. Lalu ikut duduk di sampingku. Menghela napas panjang.

“Kita benar-benar salah, pak,” tiba-tiba saja ia berkata seperti itu.

“Kita adalah dua orang paling berkuasa di negeri kita. Kitalah yang memutuskan semua regulasi-regulasi itu. Regulasi yang malah membuat dunia kita rusak. Kita yang mengabaikan semua omongan para aktivis lingkungan. Tentang lingkungan. Tentang semua yang kita anggap omong kosong itu.”

“Bapak tahu? Banjir yang kita lihat tadi pagi, membuat sebuah bendunga besar jebol, menewaskan lebih dari seratus orang. Kerugian dari banjir itu tak terhitung. Kenapa bisa terjadi? Mereka tidak siap. Mereka mungkin tidak pernah terpikir akan ada banjir di rumah mereka. Bahkan walau hanya sedikit. Tapi yang terjadi adalah banjir bandang. Meruntuhkan rumah-rumah mereka. Bapak sendiri bahkan hampir saja mati”

“Ini semua pantas untuk kita, pak. Penyebab seluruh pencemaran lingkungan yang ada di negara kita. Entah siapa yang membuat alur ini, ia ingin menyadarkan kita.”

“ Mari kita sama-sama menyelesaikan semua ini. Jalani semua alur yang telah dibuat.”

“Mari, pak,” asistenku mengulurkan tangannya. Aku membalasnya. Bergegas berdiri. Berjalan menuju pintu keluar gedung. Aku membuka pintu itu. Kali ini tidak dengan rasa ragu. Tanpa rasa takut.

“Saat kita kembali, kita akan menghadiri Konferensi Lingkungan Dunia itu. Membuat komitmen nyata. Membuat dunia lebih baik,” ucapku kepada asistenku yang dibalas dengan anggukan mantap asistenku.

Krek. Pintu dibuka. Benar. Ruangan serba putih tak berujung. Aku melangkah masuk. Seketika gedung itu lenyap. Seperti yang terjadi dengan ruang kerjaku saat itu. Seperti yang kalian tahu, ruangan ini akan membawaku ke lain tempat. Bahkan boleh jadi lain waktu.

Ruangan itu membawaku ke sini. Lorong besar berkarpet merah. Lorong di depan ruang kerjaku. Aku berlari ke arah ruangan konferensi pers. Berseru kepada seluruh wartawan yang tersisa. “Aku akan memperjuangkan komitmen nyata itu!”

*     *     *

Aku berumur lima tahun saat aku melihat sungai di depan rumahku tercemar. Airnya berubah menjadi berwarna keputihan. Mengeluarkan bau tak sedap. Aku dan teman-temanku menatap sedih semua itu. Seharusnya, hari ini kami akan mandi di sungai itu. Bermain bola air. Saling melempari air. Tertawa bersama.

Hari itu adalah hari pertama pabrik beroperasi. Letaknya tepat di pinggir sungai itu, sebelum aliran sungai itu melewati desaku. Setelah hari tu, kami harus puas sering tidak mandi. Kami harus puas berjalan kaki ke arah hulu sungai untuk mencari air bersih.

Seluruh kehidupan desa terasa berubah. Penduduk harus rela sering bolak-balik ke arh hulu sungai setiap hari. Menggotong dirijen-dirijen air bersih untuk dipakai di rumah. Untuk air minum, mandi dan mencuci baju.

Dari ceritaku tadi, mungkin kalian merasakan begitu pasifnya para penduduk desaku. Seakan rela mengikuti takdir tanpa ada usaha untuk mengubahnya. Tidak. Hari kedua pabrik itu beroperasi, kami berkumpul di depan pagar tinggi pabrik itu. Demonstrasi.

Para bapak berteriak marah. Mengecam para pengelola pabrik. Menyuruh mereka untuk keluar dari pabrik. Kami, anak-anak berjinjit, melihat dari kejauhan. Tetua desa kami berdiri paling depan. Ia berdiri di atas sesuatu yang aku pun tidak tahu apa itu. Ia menyampaikan orasinya dengan suara lantang. Menggugah hati para penduduk.

Sepuluh menit kemudian, karena pihak pabrik tidak kunjung keluar. Para demonstran merangsek masuk. Menghancurkan pagar tinggi itu. Setelah pagar itu rubuh, barulah muncul pasukan keamanan pabrik. Terjadilah bentrokan dahsyat. Awalnya hanya dorong-dorong. Lalu saling pukul. Kami, anak-anak, bergidik ngeri melihat semua itu.

“Tetua desa!” teriak salah satu penduduk. Apa yang terjadi? Bentrokan seketika berhenti. Demonstran dan pasukan keamanan seperti melingkari sesuatu. Penasaran, kami merangsek masuk ke dalam barisan para demonstran. Melihat apa yang sedang mereka lingkari.

Tetua desa terbaring di tengah lingkaran. Badannya terbujur kaku berlumuran darah. Ia sudah meninggal. Di punggungnya masih tertancap pisau dapur yang tidak ada yang tahu siapa pemiliknya. Setelah itu, seperti yang kalian tahu. Semua penduduk pasrah. Kehilangan sosok pemimpin.

Lebih buruk lagi keluargaku. Juga kehilangan sosok pemimpin. Tetua desa itu adalah ayahku. Ibuku depresi saat itu. Sebulan kemudian, ia memutuskan untuk menusuk perutnya sendiri di depan pagar tinggi pabrik itu.

Oleh tetanggaku, aku dikirim ke pesantren. Aku belajar banyak tentang agama, takdir dan kehidupan. Aku belajar untuk tidak menyesali semua takdir itu. Takdir yang mungkin tidak bisa dijalani anak-anak seusiaku.

Sejak itu, aku juga belajar banyak tentang lingkungan, pencemaran dan perubahan iklim. Keluar dari pesantren, aku menjadi aktivis lingkungan. Aku dengan mudahnya mempengaruhi banyak orang. Bakat yang diwarisi oleh ayahku. Namaku lambat laun naik. Menjadi aktivis lingkungan terkemuka di negaraku. Namaku bukan hanya naik di negaraku. Negaraku adalah negara penguasa ekonomi dunia. Karena itu, mungkin saja beberapa orang di luar negeri pun mengenalku. Atau setidaknya, pernah melihatku di televisi mereka.

Hampir semua warga mencintaiku. Mendukung semua gerakanku. Warga. Bukan pemerintah. Saat umurku dua puluh, aku ditangkap dan diasingkan ke penjara di sebuah pulau terpencil. Aku dipaksa mengatakan pada masyarakat bahwa aku sedang berkuliah di luar negeri. Mereka takut aku akan mempengaruhi lebih banyak rakyat untuk bergerak melawan pemerintah. Padahal, ini semua demi kebaikan dunia.

Di penjara pulau terpencil itu, aku bertemu banyak orang hebat. Tentu saja, itu adalah penjara orang-orang yang dianggap dapat menggerakkan masyarakat untuk melawan pemerintah. Padahal, itu semua demi kebaikan. Dari sanalah aku menemukan orang-orang untuk menyempurnakan rencana terakhirku. Mengubah pola pikir seorang temanku.

Seorang teman kecilku. Saat hari pertama pabrik beroperasi, ia menutup hidung di sampingku. Saat itu ia menggerutu. Amat kesal. Wajar, ia yang paling pandai bermain bola air.

Dia pandai segalanya. Olahraga, Matematika, Sains, semuanya. Saat aku pesantren, aku mendengar dia melanjutkan sekolahnya di kota. Lima tahun berikutnya, aku mendengar kabar bahwa ia sudah kuliah ke luar negeri. Padahal, banyak sekali mahasiswa dari berbagai negara kecil yang ingin berkuliah di negara kami. Tapi pandangannya amat luas. Dia memang hebat.

Setelah ia kembali dari kuliahnya, namanya naik daun. Apalagi, ia datang di waktu yang sangat tepat. Saat aku sedang “Kuliah di Luar Negeri”. Ia dianggap sebagai pemuda impian baru. Tapi, mengapa dia tidak diasingkan sepertiku? Jawabannya, ia dipersiapkan menjadi presiden baru.

Sampai saat ini, apakah kalian masih berpikir bahwa akulah presiden di awal cerita? Hei, aku bukan dia. Temanku itulah Sang Presiden di awal cerita.

Inilah aku. Sang pembuat alur itu. Bersama teman-teman dari penjara pulau terpencil, aku membuatnya. Mesin waktu. Ruangan serba putih itu. Untuk mengubah pola pikir temanku, Sang Presiden. Pola pikir yang entah dari mana ia dapat. Padahal, ia sendiri adalah korban pencemaran itu.

Diluar sana, penduduk bersorak. Perjalanan presiden tadi, aku siarkan di seluruh saluran televisi. Aku meretas semuanya.

Negaraku akan lebih baik setelah ini. Dunia akan lebih baik setelah ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *