Cerpen #374 Terlambat

2121

Mencungkur janggut menjadi rutinitasku ditiap pagi. Sejak usia sepuluh tahun, kegiatan ini selalu kulakukan pada pukul tujuh lewat lima belas menit. Ayah yang mengajariku untuk membersihkan dagu dari rambut-rambut halus yang menjijikan. Sembari mengajariku saat itu, ia katakan kakek dari kakeknya yang memiliki kakek, ditumbuhi rambut halus pada dagu diumur 30 tahun. Aku tertawa mendengarnya, mana mungkin pikirku. Ayah selalu mengatakan bahwa hal itu bisa terjadi, karena makanan pada zaman ini memberi pengaruh buruk pada gen yang akan diwariskan pada generasi selanjutnya. Ah, entahlah.

Kunyalakan kran air, hingga air berwarna hitam itu mengalir dan membasahi wajahku. Lagi-lagi tentang ayah, meskipun ia sudah meninggal puluhan tahun lalu, ayah meninggalkan banyak cerita padaku. “Dulu waktu ayah masih kecil, air jernih mengalir dari kran. Bisa dipakai untuk minum juga,” kata dia.

Air hitam dengan bau pekat itu langsung kumatikan. Bicara tentang air yang diminum, air aliran itu tidak bisa dikonsumsi. Pernah Bu Bimala – tetanggaku – melakukan hal tersebut, esoknya ia meninggal dunia. Kata petugas yang selalu berkeliling, air ditempat kami sudah terkontaminasi banyak zat bahaya. Akibatnya, air di kamar mandi masa kini hanya bisa untuk membasahi wajah, mencuci pakaian, juga untuk mencuci kaki. Oh tidak, sebenarnya sangat berbahaya untuk wajah. Terakhir kali dokter pribadiku, Fiskala mengatakan aku harus mencuci wajah dengan air konsumsi. Dan aku tidak melakukannya sebab tarifnya yang sangat tinggi.

Sudah pukul depalan Pak Zikri. Mari ambil air konsumsimu sebelum kehabisan,” sapaan jam memanggilku. Segera kuambil tongkat, berjalan membungkuk dan mengambil ember 5 liter untuk memenuhi panggilan itu.

“Cepat jalan,” kataku pada kapal listrik otomatis itu. Sudah sejak lima belas tahun yang lalu, kendaraan motor roda dua dan empat tidak lagi digunakan. Tinggal beberapa pengguna saja, sisanya memilih menggunakan kapal karet atau kendaraan udara. Penyebabnya adalah sekitaran rumah kami dipenuhi dengan perairan. Kini, wilayah perairan bertambah lebar karena permukaan air laut yang semakin naik. Akibatnya wilayah daratan dan banyak pulau yang tenggelam. Saat ini, ada dua pulau yang tersisa di Indonesia sendiri. Dari arsip peta digital yang pernah kubaca, ribuan pulau Indonesia pada abad 21 tidak lagi berjejak. Sumatera dan Kalimantan, menjadi wilayah persemakmuran Indonesia masa kini.

“Belok kiri lalu berhenti,” perintahku. Di sana sudah banyak orang yang mengantre untuk mengambil air. Meskipun kami dikelilingi perairan, manusia masa kini sebenarnya adalah manusia yang paling miskin dari air. Kami dikelilingi oleh air limbah yang beracun, air laut yang hanya bisa dinikmati sebagai pemandangan yang menenggelamkan, dan air sungai dengan genangan jenazah-jenazah ikan. Pemandangan masa kini sudah terbiasa oleh kami dimasa kini.

Di depanku ada lima orang yang masih mengantre. Masing-masing sama sepertiku, membawa ember lima liter untuk menampung air konsumsi. Ini adalah air jatah dari pemerintah, pembagian pada rakyat yang telah diatur dalam undang-undang dalam bab Hak Kemanusiaan. Para mereka, pejabat berdasi yang jahil akan mengkorupsi air konsumsi ini. Mirisnya, digunakan untuk mandi dan membersihkan pantat berdaki milik mereka.

“Hujan, selamatkan pohon,” kata Misa, seorang perempuan yang ikut mengantre dinomor tiga. Dengan cepat, segera orang-orang di sana mengangkat pohon plastik. Benar, itu pohon plastik. Setelah penggusuran setengah dari hutan amazon untuk pembukaan perkotaan, terhitung beberapa pohon di bumi tertinggal. Amazon tersulap menjadi perumahan panggung dengan air cokelat yang menggenang. Terakhir dari berita kudengar, banyak manusia meninggal dikarenakan menjadi tawanan buaya dan hewan lainnya.

Pohon plastik yang diberi teknologi oksigen itu segera diteduhkan. Pak Ambas, salah satu orang yang dipandang di sini segera menyalakan payung raksasa – payung yang meneduhkan perumahan kami supaya air tidak semakin melimpah. Kekurangan dan kelebihan air menjadi permasalahan hidup kami yang juga tidak usai-usai.

Setelah mendapati air konsumsi, segera aku kembali ke rumah. Hujan sudah reda tiga belas menit lalu. Pohon-pohon plastik kembali dijajarkan di atas genangan air cokelat. Hidup seperti ini sebenarnya sangat merepotkan. Namun demi ketahanan dan keberlangsungan hidup semuanya harus segera dibiasakan.

Tiga hari berlalu, air jatah lima meter sudah habis. Tunggu dua hari lagi, jatah air baru dibagikan. Bibirku sudah mongering, pelembap bibir merek apapun sudah kuoleskan. Tiga menit berlangsung, bibir mongering lagi dan terkelupas memerihkan.

Kubuka pintu kulkas, memasukkan kepala ke sana untuk mendingin. Ini adalah langkah akhir untuk menghemat air konsumsi. Tenggerokan begitu kering, apalagi suhu hari ini hingga 39 derajat. Lapisan ozon kurasa tidak mampu lagi menahan pantulan sinar matahari, kami di bumi menjadi daging-daging yang siap matang karena panggangan. Sambil mendinginkan kepala, ku berpikir suatu hal. Apa jadinya bumi tanpa pembangunan yang tidak diperlukan? Kurasa, penjagaan hutan yang bisa dilakukan seratus silam, tidak akan membuat es di kutub. Pulau di Indonesia kupikir masih beribu-ribu. Penebangan hutan liar, menenggelamkan budaya dan keanekaragaman. Bukan lagi rumah-rumah rakyatnya.

Saat ini hanya ada tiga benua tersisa, Amerika, Afrika, dan Asia. Sisanya raib menghilang. Hutan yang dapat dikunjungi bisa terhitung jari, dan Kalimantan hanyalah taman-taman yang tengah diperjuangkan.

Aku mengeluarkan kepala dari kulkas, menampung air kran yang warnanya hitam pekat. Mengonsumsi air beracun bukan bunuh diri, ini bagian dari bentuk sayang pada tubuh. Harusnya, tubuh manusia diisi dengan air juga makanan. Kuteguk air dalam mangkok. Aku tidak merasakan apa-apa, selain rasa minyak dan besi yang menyangkut ditenggerokanku.

“Uhuk,” aku terbatuk dan rasanya napasku tersengal. Mangkok itu terjatuh, pecah di lantai. Pandanganku dihadapkan dengan langit-langit kamar mandi. Aku melihat, isi bumi yang diguyuri dengan pohon-pohon asli dengan air terjun mengalir. Mungkin ini surga.

8 thoughts on “Cerpen #374 Terlambat

  1. Ceritanya menarik, sekaligus menyadarkan kita semua kalau kita yang saat ini masih menyia-nyiakan air bersih, oksigen yang melimpah, dan udara yang begitu bersahabat untuk senantiasa mensyukuri dan menjaga apa yang ada sekarang. Karena kita tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi pada bumi tempat kita berpijak. Bagaimana kalau cerita di atas benar-benar nyata terjadi nantinya. Sebelum terlambat dan akhirnya menyesali apa yang dulu pernah kita sia-siakan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *