Cerpen #373 Kotak Simulasi

Salam Generasi Muda!

Semangat Penjaga Bumi!

Setelah kompak mengumandangkan jargon mereka, seisi ruangan bertepuk tangan bersama. Pratisara Bumi nama organisasi mereka, berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti pelindung atau penjaga bumi. Mereka berasal dari himpunan mahasiswa kehutanan Indonesia (HMKI) cabang Jakarta.

“Baik anak-anak terima kasih yang telah berkesempatan hadir hari ini. Ibu selain dosen juga sebagai pembimbing kalian dalam organisasi pecinta alam ini membuka pertemuan perdana kita di Hutan Wisata Albasia ini. Alasan berdirinya Pratisara Bumi ini karena melihat banyaknya kejadian alam disekitar kita. Selain bencana alam, faktor terbesarnya juga karena ulah manusia. Belum lagi prediksi para ahli tentang bumi kedepannya. Ibu harap dengan organisasi ini kita menyadari betapa pentingnya menjaga alam sekitar untuk kelangsungan hidup bersama,” tutur Amanda selaku pembimbing organisasi pecinta alam.

“Materi kita hari ini adalah membahas krisis iklim dan generasi masa depan. Sebelum itu kalian pasti sudah tidak asing dengan kata ‘iklim’. Ada yang bisa menjelaskan apa yang dimaksud dengan iklim?” tanya Amanda.

“Saya, bu!” timpal Siska sambil mengangkat tangannya.

“Iya Siska silahkan. Oh iya jangan lupa bahwa ada bingkisan setelah pertemuan bagi mahasiswa aktif.”

“Saya, bu!”

“Saya, bu!”

Beberapa anak serempak mengangkat tangannya antusias untuk menjawab.

“Tidak bisa dong! saya pertama yang mengangkat tangan. Iklim ada keadaan cuaca di suatu wilayah dalam periode waktu yang lama bu,” Siska menjawab dengan lugas.

“Iya benar! bagus sekali Siska, tolong catat namanya nanti di akhir dikasih bingkisan ya,” tutur Siska kepada Rani asistennya dalam organisasi ini. “Setelah tahu pengertian iklim, ada yang tau penyebab perubahan iklim?” Amanda kembali bertanya merangsang keaktifan mahasiswanya.

“Saya,” Dani spontan mengangkat tangannya. “Polusi udara, bu!”

“Ada lagi?” Amanda kembali bertanya sambil berjalan mengitari ruang pertemuan tersebut.

“Efek rumah kaca, bu!” timpal Dina kembaran Dani.

“Pemanasan Global, bu!” timpal Citra yang duduk di kursi belakang.

“Bagus anak-anak, semuanya benar! dampak perubahan iklim sangat besar, efeknya sudah kita rasakan sekarang seperti cuaca yang tidak menentu, kadang panas terus tiba-tiba hujan. Apabila krisis iklim ini tidak cepat ditangani, efek yang kita rasakan kedepannya kemungkinan sesuai dengan prediksi para ahli. Nah, sebagai generasi penerus masa depan, sudah menjadi tugas kalian untuk mencegah atau mencari solusi dari sebuah permasalahan seperti krisis iklim ini.”Amanda kembali berjalan memutari beberapa kursi kemudian duduk di kursi guru  sambil mengeluarkan sebuah kotak sarung hitamnya.

“Kalian semua pasti bertanya-tanya kotak apa yang saya bawa ini. Biasanya kotak ini disebut kotak simulasi. Simulasi apa saja yang ingin dilakukan tinggal masukkan sebuah kaset atau file didalamnya. Ibu akan melihatkan kalian seperti apa krisis iklim yang diprediksi para ahli. Baik sekarang siap semuanya?”

“Siap, bu!” para murid menjawab serempak.

Amanda pun membuka kotak tersebut yang tidak berisi apa-apa didalamnya. Para murid kebingungan terlihat jelas dari ekspresi wajah mereka. Lebih kebingungan lagi melihat Amanda yang memejamkan matanya. Tetapi lama kelamaan serempak para murid merasa ngantuk dan mulai menutup matanya.

“Ini dimana? tolong kita dimana? perasaan tadi kita semua masih di hutan sama bu Amanda,” Dani yang bangun pertama bertanya ke kembarannya, Dina.

“Aku juga gatau, Dani ini gimana? jalan pulangnya gimana kalau keadaan kacau begini?” Dina mulai berkeringat dingin dan matanya mulai berkaca-kaca.

“Ini simulasi ya? kemungkinan pas kotaknya dibuka bu Amanda langsung pejam mata supaya ga ikut masuk di simulasi. Walaupun kotaknya kosong tetapi kotaknya berfungsi makanya kita ngantuk serempak seakan-akan ada energi yang menarik kita untuk memasuki alam bawah sadar,” tutur Firman, salah satu mahasiswa kehutanan yang berprestasi.

“Hm. Benar kata Firman. Tetapi aku ga nyangka kalau krisis iklim parah banget gini,” timpal Dani membenarkan perkataan Firman.

Mereka sekarang seperti berada di sebuah lapangan yang sudah hangus terbakar dengan air yang tergenang setinggi mata kaki mereka.

“Ini kayaknya masih di hutan Albasia kan? tetapi bedanya ga ada meja dan kursi. Ibu nunjukin kita gimana lingkungan sekitar khususnya tempat simulasi kita hutan Albasia di masa depan apabila krisis iklim tidak diatasi segera,” Firman lagi-lagi berkata dengan cermat.

“Aku mau pulang Dani! gamau disini. Cuacanya panas, polusi udaranya buruk banget lagi. Kalau lama-lama disini bisa beneran sakit ga sih walaupun cuma simulasi?” Dina bertanya ke 20 orang disekitarnya.

“Kemungkinan bentar lagi kita sadar. Simulasinya kan ga lama,” Raya yang dari tadi diam sambil melihat-lihat sekitar berkata dengan tenang.

Tiba-tiba mereka semua merasa tertarik oleh sesuatu.

Ting!

Dua puluh murid tersebut sadar dengan nafas yang terengah-engah.

“Bagaimana anak-anak iklim di masa depan?” tanya Amanda.

“Buruk banget, bu!” koar seluruh murid.

“Ibu pikir kalian lebih mengerti mengapa pentingnya menjaga lingkungan sekarang. Ibu bisa melihat semuanya saat kalian simulasi. Bagus Firman, kamu tanggap atas pertanyaan temanmu.”

Amanda menekan sebuah tombol di atas meja dan seketika muncul layar power point  di tengah kain putih yang diikatkan diantara 2 pohon itu.

“Faktor besar yang dapat menyebabkan krisis iklim karena ulah manusia seperti yang telah kalian sebutkan sebelumnya. Ibu juga ingin menambahkan bahwa penggunaan CFC (Cloro Flour Carbon) yang tidak terkontrol juga faktor krisis iklim, seperti penggunaan AC (Air Conditioner). Selanjutnya emisi karbon contohnya seperti gas pembuangan bensin, elpiji dan lainnya juga penebangan hutan secara liar dan tidak ditanam kembali.”

“Indonesia sangat rentan terhadap krisis iklim ini karena sebagai negara kepulauan dengan pantai rendah dan terpanjang nomor 2 di dunia. Sehingga ketika bumi memanas akibat pemanasan global, emisi karbon mulai menjadi perhatian para ilmuwan di seluruh dunia. Masalahnya adalah bahwa pemanasan global telah terbukti menyebabkan perubahan iklim. banyak bencana, kekeringan dan dampak negatif. Dengan demikian, tidak kurang dari 195 negara di dunia, termasuk Indonesia, akhirnya menandatangani Perjanjian Paris 2015 untuk mengurangi emisi karbon guna mencegah kenaikan suhu rata-rata global di bawah 2 derajat Celcius.” Amanda berhenti berbicara sebentar mengambil nafas.

“Dalam rangka memenuhi komitmennya untuk mengurangi emisi karbon, Indonesia telah meratifikasi Paris Agreement 2015 dalam UU No. 16 Tahun 2016. Target nasional penurunan emisi pemerintah atau Nationally Determined Contributions (NDCs) di Indonesia adalah 29 melalui upaya sendiri dan 41 dengan bantuan internasional pada tahun 2030. Namun, upaya penurunan emisi karbon di Indonesia dinilai kurang optimal . Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) mengatakan, target Indonesia untuk pengurangan karbon sebesar 29% pada tahun 2030 tidak boleh tercapai karena masyarakat Indonesia masih suka menggunakan bahan bakar fosil, termasuk bahan bakar fosil, penjualan bahan bakar seperti Premium dan Diesel.”

Amanda duduk di tengah bagian depan kursi diapit kedua muridnya, melanjutkan “Tidak hanya peran pemerintah, peran semua lapisan masyarakat diperlukan dalam hal ini, khususnya mahasiswa.” Amanda berdiri dari duduknya kemudian menghadap ke semua muridnya. “Jadi apa pendapat sederhana kalian mengenai masalah ini, kita akan tampung semua aspirasinya.”

Firman mengangkat tangan pertama sambil menjawab “Untuk mencegah emisi karbon supaya tidak semakin buruk, mungkin dapat menggunakan kendaraan umum serta mengganti kendaraan dengan yang lebih ramah lingkungan seperti bersepeda.”

“Reboisasi, bu!” Dani menjawab sambil mengangkat tangan

“3R (Reuse, Reduce dan Recycle), bu!” timpal Dina.

“Mungkin buat video edukasi tentang pentingnya menjaga lingkungan kali, bu!” Raya menjawab lugas.

Amanda bertepuk tangan,” Bagus sekali anak-anak, sesuai yang ibu harapkan. Tujuan ibu hari ini memang membuat video edukasi untuk masyarakat, kita padukan dengan aspirasi kalian. Minggu depan kita laksanakan membuat video tersebut. Nanti ibu siapkan segala properti yang mendukung supaya lebih menghayati. Mungkin itu saja untuk pertemuan kali ini, ibu akhiri. Sampai jumpa pertemuan minggu depan anak-anak.”

“Sampai jumpa, bu!”

Amanda dan para muridnya bersama-sama berkemas meja dan kursi kemudian bersiap untuk pulang.

26 thoughts on “Cerpen #373 Kotak Simulasi

  1. Mashaa allah, cerpennya bagus pesannya tersampaikan ke pembaca dan ada pesan-pesan yang kita dapat kita ambil.
    Semangat berkaryaa…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *