Cerpen #372 Dari Manusia Untuk Manusia

Di depan puing-puing bangunan yang hancur dan sisa-sisa lumpur cokelat yang mengeras. Andi termenung sendiri, ia masih terbayang betapa mengerikannya kejadian yang terjadi satu minggu lalu. Saat ia sedang tertidur pulas di kamarnya tiba-tiba air dengan volume yang sangat besar datang lalu merendam setengah dari ketinggian rumahnya.

Perasaannya masih bercampur aduk. Antara sedih dan amarah, tetapi ia bingung harus ke siapa kemarahan tersebut dapat dilampiaskan. Ia ingat sekali saat kejadian yang sering terjadi dalam beberapa tahun itu, tetapi kali ini berbeda rasanya. Perasaan berat hati untuk menerima semua yang telah Tuhan takdirkan.

Ia tidak bisa menyalahkan Tuhan sepenuhnya, karena bukankah setiap bencana banjir yang sering terjadi akibat salah manusia juga? Akibat terlalu lalai dalam menjaga lingkungan dan kebiasaan buruk dalam membuang sampah sembarangan.

Tetapi, perasaan kecil hati itu masih ia simpan karena kondisi rumahnya yang jauh dari kata baik. Sebagian dinding ada yang roboh, properti dan beberapa furniture hancur takbisa diperbaiki lagi. Alat-alat elektronik seketika rusak semua akibat pertemuan antara air dan arus listrik yang masih menyala. Termasuk gawai satu-satunya yang saat ini ia pegang. Ingin dibenarkan tetapi tidak cukup uang untuk memperbaikinya, ia hanya bisa meratapi sembari mengengam benda tipis tersebut. Sekarang keluarganya hanya sedang menunggu uluran tangan dari relawan dan pemerintah yang bersedia membantu para korban bencana.

Beberapa bulan terahir bahkan tahun berlalu dalam lima tahun kebelakang memang sering terjadi bencana alam yang telah banyak merugikan manusia. Mulai dari banjir, longsor, kebakaran dan lain-lain. Ia mengira bahwa Tuhan tidak adil kepadanya akan tetapi saat melihat beberapa ulasan berita yang tayang beberapa bulan lalu ternyata banyak sudah kejadian bencana alam yang terjadi, tidak hanya di daerah tempat tinggalnya saja.

Cuaca ekstrem adalah salah satu penyebab terjadinya semua ini. Curah hujan yang turun terlalu lebat dan tentunya aktivitas manusia pula bisa menjadi salah satu penyebab terjadinya bencana tersebut.

Berita tentang cuaca ekstrem yang sering muncul dan menjadi perbincangan panas di berbagai media mulai dari televisi, koran dan media sosial beberapa pekan lalu terdengar sangat mengerikan.

Negara-negara besar di dunia sekalipun tidak dapat mengendalikan bencana-bencana yang terjadi, termasuk tentang kasus kebakaran yang meluas di Kutub Utara beberapa waktu lalu.

Banyak sudah bencana yang melanda mulai dari banjir mengerikan di Jerman dan Belgia pada Juli 2021, yang mana pada musibah itu telah menghanyutkan banyak bangunan dan kendaraan, serta lebih dari seribu jiwa belum berhasil ditemukan.

“Andi, cepat bersiap nanti telat.” Ucap sang ibu dari dalam rumah.

“Ah, biarlah bu aku ingin membantu ibu membersihkan rumah saja.” Kata Andi kepada ibunya.

Mendapat jawaban tersebut mata si ibu lalu terbelalak menatap tajam ke arah Andi. “Ibu bisa membereskan ini semua, kamu harus sekolah!.”

Andi tidak dapat menolak lagi ucapan ibunya. Ia hanya mengganguk dan bersiap untuk berangkat ke sekolah.

Andi adalah anak sulung dari dua bersaudara. Adiknya yang berumur 12 tahun sedang libur karena sekolah yang tidak jauh dari rumahnya itu ikut tersapu arus banjir dan mengalami kerusakan parah. Kemungkinan pembelajaran akan diliburkan dalam beberapa pekan kedepan sampai semua kondisi menjadi lebih baik. Sedangkan Andi bersekolah jauh dari rumah ia membutuhkan waktu sekitar 20 menit untuk sampai kesekolah. Dan beruntungnya sekolah tempat ia belajar berada di lokasi yang berada pada dataran tinggi jadi cukup aman dari banjir beberapa hari lalu.

Sembari mengendarai sepeda motor miliknya yang baru kemarin sore diperbaiki dibengkel tetangga akibat terendam. Andi melihat pemandangan yang menyedihkan sisa-sisa lumpur dan sampah berserakan di pinggiran jalan. Sampah-sampah tersebut kemungkinan berasal dari sungai dan selokan akibat orang-orang yang membuangnya sembarangan.

Sesampainya di sekolah. Andi langsung menuju kekelas, Ia sekarang adalah siswa kelas sepuluh Ipa 1. Tidak terlalu banyak orang di dalam kelas tersebut hanya 50% dari total keseluruhan,  hal tersebut dikarenakan ada sesi untuk setiap sekolah guna untuk mengurangi tingkat kerumunan. Karena masih dalam keadaan pandemi Covid-19.

“Asaalamualaikum warahmatullahiwabarakatuh.”

“Waalaikumsallam warahmatullahiwabarakatuh.”

Seorang guru laki-laki sudah berdiri di depan. Beliau adalah pak Agus sang guru kimia. “Alhamdullilah, sekarang kita masih diberi kesempatan untuk bisa bertemu lagi pada hari ini. Terlepas dari beberapa kejadian yang tengah kita rasakan, dunia yang bersedih karena pandemi dan bencana alam yang telah merenggut banyak hal dari saudara-saudara kita semua, kita beruntung karena masih bisa datang ke sekolah hari ini.”

Mukadimah yang menyentuh dari pak Agus, membuat siapa saja masih bisa bersyukur untuk hari ini. Karena sepelik apapun beban penderitaan yang sudah dialami kemarin tetaplah bersyukur karena Tuhan tidak pernah memberikan cobaan yang melebihi batas kemampuan manusia.

“Sedikit kita ulas mengenai bencana alam yang terjadi akhir-akhir ini. Menurut berita yang tayang di televisi. Ada sebuah perubahan yang menyebabkan semua kejadian ini dan perubahan tersebut merupakan akibat dari pemanasan rata-rata 1,1 derajat celcius di atas tingkat praindustri. Badan ilmu iklim terbesar di dunia mengemukakan bahwa yang kita alami saat ini belum ada apa-apanya jika tidak ada tindak lanjut maka akan berdampak buruk untuk generasi yang akan datang.” Kata pak Agus.

“Pak.” Seorang perempuan menggangkat tangan.

“Iya Dwi ada apa?”. Tanya pak Agus.

Perempuan itu bernama Dwi. “Mengenai perubahan tersebut, maksudnya perubahan seperti apa ya pak?”.

“Jadi begini, beberapa tahun terakhir bumi kita sedang mengalami pemanasan global yang di mana menurut laporan penilaian keenam dari kelompok kerja IPCC atau Intergovernmental Panel on Climate Change yakni Panel Antarpemerintah Tentang Perubahan Iklim tersebut menunjukkan bahwa bumi dapat mencapai atau melampaui pemanasan 1,5 derajat celcius dalam dua dekade. Dan dengan mengurangi pancaran secara ambisius, dunia akan dapat membatasi kenaikan suhu global di tingkat 1,5 derajat celcius. Batas yang telah ditetapkan para ilmuan untuk mencegah dampak iklim terburuk. Di bawah rancangan emisi tinggi, IPCC menemukan bahwa pemanasan dunia dapat mencapai 4,4 derajat celcius pada tahun 2100 yang akan datang.” Jelas pak Agus.

“Lantas jika demikian, bagaimana kondisi terkini dan terdepan untuk bumi kita Pak?” Tanya Andi.

“Dalam berbagai informasi yang dibahas pada studi IPCC, kemungkinan bahwa pada awal 2030-an kita akan mencapai atau melampaui batas 1,5 derajat celcius hingga tahun 2040. Mencapai tingkat tinggi bahkan lebih dari 50 persen. Di bawah rancangan emisi tinggi, ambang batas 1,5 derajat celcius ini akan dicapai dalam waktu yang lebih singkat lagi antara 2018 hingga 2037 mendatang.” Pak Agus menghela napas sejenak.

“Dan, jika dunia mengambil tindakan ambisius untuk membatasi emisi pada tahun 2020-an. Kita masih memiliki peluang untuk membatasi pemanasan hingga 1,5 derajat celcius. Rancangan ini mencakup potensi kelebihan (overshoot) ke tingkat 1,6 derajat celcius antara 2041 dan 2060. Setelah itu baru kemudian suhu akan turun di bawah 1,5 derajat celcius pada akhir abad ini.

“Pak, apa saja dampak dari pemanasan global yang terjadi di dunia saat ini?” Tanya Andre. Seorang lelaki yang duduk di barisan paling pinggir.

“Jika kita berbicara mengenai dampak dari pemanasan global tentu ada banyak jawabannya. Mulai dari iklim yang menjadi tidak stabil, dan berbagai bencana alam yang melanda.”

“Contohnya, Pak?”.

“Salah satu contoh dari dampaknya adalah kejadian-kejadian yang terjadi di sekitar kita akhir-akhir ini. Seperti kebakaran yang sering terjadi, meski bukan satu-satunya penyebab, kenaikan suhu bumi akibat pemanasan global disebut oleh banyak ahli sebagai faktor utama sebab terjadinya kebakaran baik itu hutan ataupun pemukiman dan dalam ruang lingkup yang sangat besar sehingga sulit untuk dikendalikan. Khususnya ketika terjadi di area gambut dan dengan wilayah bersuhu tinggi.”

“Apakah pemanasan global dan perubahan iklim saling berhubungan, Pak?” Tanya Dwi lagi.

“Ya, pemanasan global, bencana alam dan krisis iklim saling berhubungan. Kenapa demikian? Karena Pemanasan global atau global warming adalah meningkatnya suhu rata-rata atmosfer pada bumi dan lautan. Sedangkan perubahan iklim atau climate change merupakan perubahan yang signifikan pada iklim, seperti suhu udara atau curah hujan. Selama kurun waktu 30 tahun atau lebih. Perubahan iklim merupakan proyeksi kelanjutan dari pemanasan global.

“Apakah pemanasan global dan perubahan iklim memiliki dampak tersendiri untuk kehidupan manusia ?” Andi tak ingin kalah ia pun turut bertanya.

“Jelas, dampaknya akan sangat dirasakan oleh manusia dan lingkungan hidup. Diantaranya dampak-dampak tersebut adalah tidak stabilnya iklim, meningkatnya permukaan air laut, gangguan ekologis, rusaknya infrastruktur, dan masih banyak lagi. Masing-masing dampak tersebut pun masih akan mendatangkan berbagai dampak susulan lainnya baik dalam bidang ekonomi, ekologi, kesehatan, hingga sosial dan politik.” Jelas pak Agus.

“Lantas bagaimana dengan generasi yang akan datang, bila krisis iklim yang kita rasakan akibat pemanasan global saat ini akan menjadi lebih parah di masa depan?”

“Maka dari itu kita semua harus menanamkan sikap sadar diri untuk menjaga lingkungan. Karena semuanya tidak lepas dari kehidupan kita sehari-hari. Seperti halnya dalam membuang sampah, coba kalian bayangkan jika ada satu orang di suatu tempat membuang satu jenis sampah. Dan bayangkan jika ada sepuluh ribu tempat, sepuluh ribu orang dan sepuluh ribu jenis sampah. Bukankah itu adalah tindakan pencemaran lingkungan?. Ada sebuah quote dari Fiersa Besari yang berbunyi seperti ini. Kebaikan pada alam bisa dilakukan dengan hal yang paling sederhana, jangan buang sampah sembarangan, terlepas ada yang melihat atau pun tidak.”

Semua murid hanya mengganguk-angguk. Mendengar penjelasan pak Agus barusan Andi kembali teringat ketika dalam perjalanannya menuju ke sekolah. Sepanjang jalan yang ia lewati banyak sampah berserakan di mana-mana. Ia sadar bahwa sampah adalah bekas perbuatan manusia, dibuang oleh manusia dan menjadi masalah untuk manusia itu sendiri.

“Apakah ada cara agar bumi kita bisa bebas dari krisis iklim dan segala bencana alam yang terjadi pak?”

“Tentu saja ada. Pertama kita harus mengubah cara dalam menggunakan dan menghasilkan energi, membuat dan mengonsumsi barang dan jasa serta mengelola lahan yang kita miliki. Hal itu guna membatasi dampak berbahaya dari perubahan iklim, dunia sehingga mencapai emisi CO2 nol bersih dan mengurangi gas non-CO2 seperti metana secara besar-besaran.”

Setelah berhenti sejenak, Pak Agus pun melanjutkan penjelasanya. “Kedua penghapusan karbon dapat membantu mengompensasi emisi yang sulit dikurangi, termasuk melalui pendekatan alami seperti penanaman pohon atau menggunakan pendekatan teknologi seperti penangkapan dan penyimpanan udara langsung. Namun, IPCC menjelaskan bahwa sistem iklim tidak akan langsung berubah dengan adanya penghapusan karbon. Dampak-dampak seperti kenaikan permukaan laut tidak akan dapat dipulihkan secara instan, bahkan setelah penurunan emisi berhasil dilakukan.”

“Ketiga, menggunakan teknologi terbarukan. Keempat mendaur ulang limbah anorganik serta yang paling penting adalah menjaga lingkungan dengan melestarikan hutan dan pepohonan, serta masih banyak lagi cara agar bumi kita bebas dari krisis iklim dan berbagai bencana alam.”

“Jadi, mulai hari ini alangkah baiknya jika kita bersama-sama menjaga bumi. Agar generasi masa depan bisa hidup tenang tanpa adanya bencana ataupun polemik yang terjadi akibat ulah manusia seperti sekarang ini.”

Pak Agus pun mengakhiri kelasnya. Beliau keluar meninggalkan Andi dan teman-temannya. Suasana kelas tampak lengang, semua murid mulai merapihkan buku-bukunya dan memasukkan ke dalam tas.

Miris jika dibayangkan bila generasi masa depan akan menanggung resiko dari apa yang terjadi saat ini. Banjir yang terjadi di mana-mana, kebakaran hutan yang mengakibatkan gundulnya paru-paru dunia. Dan harus menanggung polusi udara yang diakibatkan oleh orang-orang masa sekarang yang tidak bertanggung jawab atas alam dan lingkungan. Padahal baik atau buruknya kehidupan di masa depan adalah buah hasil dari tindakan saat ini. Dari manusia hari ini untuk manusia di masa yang akan datang.

Seperti kata bijak dari seorang Aristoteles yang berbunyi. “Seorang dokter menyembuhkan, dan alam yang menciptakan kesehatan.” Dapat disimpulkan bahwa sebaik-baiknya kesehatan yang ada di dunia, alam adalah sumber utamanya. Maka dari itu dengan menanamkan sikap untuk menjaga alam adalah kebaikan untuk masa depan.

Selesai

2 thoughts on “Cerpen #372 Dari Manusia Untuk Manusia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *