Cerpen #371 Bumi Tak Dikenal

Keadaan siang hari seperti biasanya. Terik matahari yang sangat menyilaukan. Suara motor dan mobil berlalu-lalang. Asap kendaraan yang membuat polusi udara bertambah. Terkadang suara klakson kendaraan berbunyi. Tidak ada yang berbeda dari hari-hari sebelumnya. Orang-orang sibuk dengan pekerjaan kantornya. Tidak hanya pekerja kantoran yang sibuk. Seluruh orang yang bekerja sibuk. Ada juga seseorang yang sedang sibuk mencari ide baru untuk bukunya. Dia seorang penulis yang sudah berhari-hari memikirkan tema baru untuk bukunya di sebuah apartemennya yang berada di pusat kota.

Seperti biasanya pula ia menyalakan televisi, meneguk secangkir kopi di siang hari sambil mencari ide baru.

“Selamat siang Pemirsa. Kembali Bersama saya Citra Cyntia di acara Info Singkat, untuk mengabarkan berita-berita aktual dan terpercaya, yang kami rangkum dalam Info Singkat kali ini. Berita pertama datang dari Jawa Timur. Sejumlah daerah di Jawa Timur alami kemarau ekstrem. Hal tersebut menimbulkan dampak yang cukup besar bagi masyarakat di sana. Dilaporkan pada Senin pagi…” suara yang yang terdengar dari televisi.

“Krisis iklim. Lagi dan lagi,” keluh si penulis.

Dia memang sudah bosan dengan berita yang ia tonton setiap hari. Berita krisis iklim Indonesia bahkan dunia. Ia sama sekali tidak tertarik dengan topik krisis iklim. Di perkotaan yang ia tinggali sudah terbiasa dengan polusi udara di segala penjuru kota. Dia berpikir bahwa wajar saja krisis iklim terjadi. Dia merasa krisis iklim di masa depan sudah terbayangkan akan seperti apa.

“Bagaimana ini? Berhari-hari aku mencari ide, tapi sampai sekarang aku tidak bisa menemukan ide baru lagi. Aku tidak mungkin berhenti berkarya, kan?” ia merasa sudah putus asa. Beberapa lama kemudian ponsel yang berada di sebelah laptopnya bergetar. Kakak laki-lakinya menelepon.

“Halo Kak, ada apa?” tanya penulis di telepon itu.

“Oh begitu, baiklah aku besok akan pergi kesana,” sambungnya.

Dia terlihat tersenyum setelah menerima telepon tadi. “Okey, besok aku akan pergi ke desa, aku bisa mendapatkan ide baru di sana,” kata si penulis. Ia terlihat sangat gembira. Itu hal yang biasa terjadi padanya. Jika ia sudah kehabisan ide, dia suka berjalan-jalan untuk mencari ide baru. Dia lebih suka desa. Dia rasa udara di sana lebih sehat dibandingkan di kota yang ia tinggali.

Sejak kemarin, hujan tidak turun ke kota itu. Di hari ini pun langit tampak cerah dan suhu udara panas. Semua orang mengira hujan memang tidak akan turun lagi di bulan ini. Tetapi pada malam harinya, tiba-tiba kota itu dibasahi oleh air hujan. Ini mengejutkan sekali. Hujan benar-benar turun sekarang walaupun sedikit lambat. Hujan di kota itu semakin deras. Hujan yang turun itu seperti membersihkan asap-asap kendaraan di kota tersebut. Udara dingin akibat hujan terasa sangat segar. Tidak seperti hari-hari sebelumnya, udara hari ini setelah hujan sangat membuat penulis itu nyaman. Tanpa sadar, dia terlelap dalam tidurnya dengan keadaan malam di kota yang masih diguyur hujan. Hujan itu membuat dia tertidur lelap sampai keesokan harinya.

Dia terbangun dari tidurnya untuk menyiapkan barang untuk pergi ke desa. Di pagi hari itu udara sangat sejuk akibat hujan kemarin. Meskipun asap kendaraan di kota itu tidak bisa dihindari, tetapi hujan membuat udara di sana lebih segar. Pagi-pagi sekali, setelah menyiapkan barang-barang, ia bergegas ke desa menggunakan mobil pribadinya. Ia menikmati perjalanan dan udara sepanjang jalan. Ia sangat senang hujan benar-benar turun kemarin. Kita bisa menghirup udara sejuk sementara di perkotaan yang berpolusi ini. Hujan itu benar-benar berharga dan keberuntungan untuk semua orang setelah sepanjang lama, kemarau yang panjang itu cukup menyulitkan.

Di sepanjang jalan menuju desa matanya melihat pemandangan alam yang benar-benar menakjubkan. Pohon-pohon di sepanjang jalan menambah kesejukan udara di sana. Dia merasa perjalanan seperti ini memang yang terbaik. Sambil mendengarkan musik, ia bersantai menikmati pemandangan alam di sepanjang jalan menuju ke desa. Sedang bersantai menikmati perjalanan yang nyaman itu, tiba-tiba terdapat truk besar yang mendahului mobil penulis itu. Truk itu menimbulkan asap yang sangat mengganggu pemandangan. Asapnya benar-benar banyak. Beberapa saat, penulis itu tidak dapat melihat jalanan dan kondisi sekitarnya dengan baik. Tiba-tiba semuanya gelap dalam sekejap mata. Ia sangat ketakutan. Dalam waktu beberapa detik yang ia lihat hanya warna hitam. Lalu ia mencoba memejamkan mata dan membuka matanya kembali. Saat ia membuka mata, ia bisa melihat kembali cahaya matahari terik. Matanya bisa melihat kondisi sekitar lagi. Tetapi dia menyadari ada sesuatu yang berbeda. Pemandangan alam yang indah tadi seperti hilang entah kemana. Udara di sekitar menjadi sangat panas. Pohon-pohon hijau besar di sepanjang perjalanan benar-benar tidak ada. Keadaan di sekitar menjadi sangat gersang. Seketika semuanya benar-benar berubah. Penulis itu benar-benar kebingungan apa yang sebenarnya terjadi. Ia mempercepat laju mobilnya. Saat hampir sampai tujuan, ia mengeremkan mobilnya secara tiba-tiba setelah melihat jalanan yang akan ia lewati menjadi seperti retak seakan-akan nantinya akan terbelah. Karena merasa desa yang akan dituju tidak jauh dari tempat ia berhenti, ia memutuskan meninggalkan mobilnya. Untung saja jalanannya tidak sempit, mobil penulis itu masih bisa ditinggal di samping jalan. Ia segera membawa kopernya dan bergegas pergi menuju desa itu dengan berjalan kaki. Ia benar-benar ketakutan jalanan itu akan terbelah. Setidaknya apabila jalanan itu benar-benar terbelah, ia bisa secepat mungkin untuk lari. Setelah jauh dari jalanan itu, jalanan yang ia lewati sekarang sudah tampak lebih normal. Tidak ada retakan besar lagi.

Meneruskan perjalanan dengan berjalan kaki sangat melelahkan. Ia benar-benar merasakan udara yang tidak normal. Udaranya sangat panas. Benar-benar panas. Tetapi untungnya ia membawa botol besar berisi 1 liter air mineral. Ia sangat kehausan dan akhirnya ia meminum air itu terus-menerus. Tidak lama kemudian dia hampir sampai di desa. Berbeda dari jalanan sebelumnya, jalanan yang ia lewati sekarang telah ditutupi tanah berlumpur. Sampah berserakan dimana-mana. Ia mencoba terus berjalan sampai akhirnya ia tiba di depan gapura desa itu. Tetapi, gapura itu terlihat sangat kumuh. Catnya benar-benar sudah menghilang, hanya bersisa tulisan besar “Selamat Datang di De…” Tetapi sama saja. Di tulisannya ada huruf-huruf yang sudah menghilang. Ia benar-benar tidak mengerti ada apa ini sebenarnya. Mengapa semuanya terlihat tidak terawat.

Meskipun sedikit takut, ia memutuskan untuk masuk ke desa itu. Desanya benar-benar berubah. Ini masih pagi, tetapi orang-orang tidak ada yang beraktivitas di luar rumah. Ia berjalan perlahan-lahan sambil melihat sekitar. Desa itu tampak tidak ada kehidupan. Sepertinya telah terjadi banjir pula di desa itu. Jalanan desa itu sangat becek dan banyak tanah berlumpur. Ia berpikir bahwa mungkin kemarin desa ini juga diguyur hujan sampai akhirnya banjir. Tetapi yang penulis tersebut ketahui, desa yang begitu indah itu tidak pernah banjir. Ia merasa semuanya benar-benar aneh. Suhu udara di sana tinggi, bahkan angin yang bertiup pun tidak begitu menyejukkan. Penulis itu seakan-akan sedang ada di gurun pasir. Matahari pun sangat terik menyilaukan seperti di siang hari, padahal itu masih pagi.

Tempat favorit penulis di desa itu adalah sungai. Sungai di desa itu yang ia kenal adalah sungai yang airnya sangat jernih, sekeliling sungai itu tampak sangat bersih dengan tumbuhan-tumbuhan hijau di sekitarnya. Bahkan, penulis itu sering sekali berenang di sungai tersebut jika ia berlibur ke desa. Ia merasa berenang di sungai itu seakan-akan sedang berenang di kolam renang alam. Tapi yang bisa ia lihat sekarang hanyalah sungai yang airnya sangat keruh dan sampah-sampah berserakan di sekitar sungai tersebut, bahkan ada yang mengapung di permukaan air sungai itu. Di sekitarnya masih ada tumbuhan, tapi tidak banyak. Tanah-tanah di sekitar sungai itu basah dan berlumpur. Mungkin benar-benar sudah terjadi banjir di desa ini. Dia benar-benar bingung dengan kondisi di sana.

Ia memutuskan menelepon kakak laki-lakinya untuk memberitahu bahwa ia sudah di desa. Betapa terkejutnya dia saat melihat layar handphone-nya yang memperlihatkan angka tahunnya telah berubah. Tahun yang tertera di sana adalah 2043. Dia baru mengerti mengapa desa ini berubah. Dia berada di masa depan. Dia berpikir ini adalah mimpi yang akan berlangsung sangat panjang.

Ketika penulis itu sedang mengecek handphone-nya, tiba-tiba ada orang yang berteriak, “Wah, relawan akhirnya datang!” Penulis itu kaget dengan teriakan tiba-tiba tersebut. Orang yang berteriak tadi ternyata warga di sana. Ia mendekati penulis dan mengajaknya ke tempat pengungsian. Mereka menaiki motor yang dibawa warga tadi melalui jalanan becek berlumpur itu. Mereka menyusuri tanjakan yang belum pernah penulis itu lewati. Tanjakan yang lumayan curam. Mereka tidak bisa lagi berboncengan. Masih banyak lumpur di sana. Jalanan licin. Mereka memutuskan meneruskan perjalanan dengan berjalan kaki. Sekitar 15 menit kemudian mereka sampai di tempat pengungsian yang dimaksud warga tadi. Di sana terlihat tenda-tenda pengungsian, warga-warga desa, dan anak-anak kecil yang sedang bermain. Aktivitas berpindah ke tempat lebih tinggi.

“Warga semua, relawan akhirnya datang!” teriak warga tadi ke semua orang yang ada di tempat itu. Wajah mereka terlihat ada senyuman kecil ketika warga tadi memberitahukan seperti itu. Daerah mereka baru dikirim beberapa relawan dan tenaga medis tetapi jumlahnya masih sangat sedikit. Penulis itu bertanya apa yang sebenarnya terjadi pada desa ini pada salah satu relawan. Belum menjelaskan apapun, relawan itu memanggil warga yang tadi mengantar penulis ke tempat pengungsian. Ternyata relawan itu mengajak penulis melihat langsung kondisi desa tersebut bersama warga tadi.

Mereka berkeliling desa yang luas itu. Mereka melihat kondisi sawah di sana yang sangat memprihatinkan. Penulis itu melihat sawah yang rusak sehabis banjir. Relawan itu menjelaskan bahwa ia sering mengunjungi desa tersebut bahkan sebelum bencana banjir datang. Dia bilang bahwa kondisi sawahnya tidak baik. Padi di sana tidak tumbuh dengan baik.

“Sawah desa kami sangat berubah. Saya sudah 20 tahun tinggal di desa ini, itu sejak saya berumur 10 tahun. Dahulu tidak seperti ini, walaupun kondisi sawah pada masa itu tidak selalu baik tapi sekarang adalah yang terburuk. Padi-padi itu sulit panen,” kata warga yang ikut tadi. Petani-petani di sana jarang mendapatkan keuntungan dari bertaninya lagi, itu karena padi sudah jarang panen.

“Oh, kamu bisa lihat ke sana! Itu adalah kebun teh. Sekarang hancur akibat banjir,” warga itu memberi tahu. “Aku sangat menyukai teh dari perkebunan ini. Tapi sekarang aku tidak bisa menikmatinya lagi,” balas relawan.

Warga itu menjelaskan bahwa tanaman teh tidak bisa tumbuh dengan baik di desa itu. Suhu udaranya terlalu tinggi untuk pertumbuhan teh. Para orang tua di sana sangat merindukan bisa meminum teh dari daun teh asli yang tumbuh di desa itu.
“Di masa ini sangat menyenangkan memang dengan teknologi yang sangat maju. Para petani tidak perlu membajak sawah dengan kerbau lagi, segalanya lebih mudah. Bahkan di desa saja seakan-akan sedang berada di kota. Tapi lihat lagi, kita juga mendapatkan dampaknya seperti kondisi saat ini. Satu hal berubah maka beberapa hal lain juga akan ikut berubah. Semua ada risikonya,” kata warga itu dengan raut wajah yang terlihat sedih. Warga itu juga menjelaskan bahwa mungkin memang mereka tidak paham lebih awal mengenai krisis iklim yang terjadi. Tetapi, karena banyak hal yang berubah, seperti terjadinya kekeringan, kemarau panjang, iklim yang ektrem, mereka jadi tahu bahwa krisis iklim itu memang terjadi. “Kami merasa lelah. Beberapa tahun sebelumnya kami tidak pernah mengalami kondisi buruk ini. Tidak tahu kapan kondisi ini akan selesai,” warga itu menjelaskan bahwa warga di sini sudah putus asa. “Oh iya, maaf sepertinya saya tidak bisa menemani kalian lebih lama, saya harus mengurus pekerjaan yang lain, saya pergi dulu,” lanjut warga tadi berjalan kembali ke jalan yang telah mereka lewati.

Relawan dan penulis itu tetap berjalan mengelilingi desa. Tiba-tiba relawan tadi berkata, “Aku tahu kamu adalah orang dari tahun 2021, tapi sekarang kamu berada di tahun 2043. Itu bukan tanpa alasan. Kamu punya misi di sini. Kamu harus selesaikan misi itu.” Relawan itu juga menjelaskan bahwa penulis itu harus membantu para generasi masa itu untuk dapat menangani masalah perubahan iklim ini. Mungkin untuk mencegah akan sulit, tetapi yang bisa mereka lakukan adalah menghadapi. Orang-orang di sini sudah tidak tahu harus bagaimana menghadapi perubahan iklim yang terjadi. Penulis itu merasa penasaran, mengapa ia harus menyelesaikan misi itu.

Beberapa hari setelahnya, sebagian warga kembali ke rumah mereka masing-masing. Di hari sebelumnya sudah ada beberapa warga yang kembali ke rumah mereka lebih awal. Penulis membantu warga di sana. Rumah mereka masih sangat kotor karena banjir beberapa hari lalu. Tetapi, terlihat bahwa mereka sudah tidak memedulikan kondisi itu.

Setelah semuanya kembali ke rumah masing-masing, penulis itu kira bahwa mereka akan bersama-sama membersihkan rumah mereka, tetapi itu tidak terjadi. Mereka tidak membersihkan rumahnya. Mereka segera menutup rapat-rapat pintu rumah mereka dengan alasan cuaca di luar sangat panas. Memang, tidak seperti hari-hari sebelumnya hari ini suhu juga terasa lebih tinggi.  Tiba-tiba warga yang kemarin menemani penulis dan salah satu relawan berkeliling menjelaskan bahwa warga di sini mungkin tidak akan membereskan kekacauan di desa itu. Mereka mungkin mengabaikannya. Mereka merasa putus asa dan tidak tahu mengapa hal-hal buruk berturut-turut terjadi pada desa yang mereka tinggali. Relawan kemarin juga memberi tahu penulis bahwa inilah misi yang penulis itu harus selesaikan di sini. Penulis itu harus bisa membantu orang-orang di sini supaya bisa menerima kondisi yang pasti akan terus terjadi, bukan hanya menerima tetapi juga menghadapinya.

Penulis itu mengerti. Ia ingin segera kembali ke masanya. Ia segera melakukan apa yang menjadi misinya. Penulis itu mengetuk pintu-pintu warga dan mengajak mereka bergotong-royong membersihkan rumah dan jalanan di desa itu. Para warga sudah jarang bergotong royong. Ini benar-benar masa depan, bahkan di desa saja gotong royong sudah jarang dilakukan. Penulis itu mengajak dengan sungguh-sungguh warga di sana, sampai-sampai ia berkata bahwa kondisi seperti ini akan segera pulih apabila mereka mau bersama-sama membersihkan kekacauan di sana. Padahal, penulis itu bahkan semua orang tidak tahu apakah kondisi seperti kekeringan ataupun iklim ekstrem di kemudian hari tidak akan terjadi lagi. Mendengar penjelasan penulis, para warga terutama remaja dan anak-anak bersemangat untuk membersihkan desa mereka.

Bantuan-bantuan dari kota yang sudah sampai beberapa hari lalu ke desa itu, dari makanan, pakaian, bahkan ada alat kebutuhan sehari-hari. Para warga bersama-sama membersihkan jalan dan rumah mereka menggunakan alat-alat kebersihan yang sudah disediakan. Mereka mengumpulkan sampah-sampah yang berserakan. Lumpur-lumpur yang ada di lantai rumah mereka, segera mereka bersihkan. Semuanya benar-benar bergotong royong di cuaca yang panas itu.

Hari sudah sore, desa yang awalnya sangat kotor sudah kembali bersih. Meskipun belum seluruhnya kembali seperti semula, tetapi desa itu seperti bertahap pulih kembali. Setelah selesai, mereka memutuskan beristirahat untuk makan makanan yang telah disiapkan. Salah satu warga tiba-tiba bertanya, “Jika hari ini sudah selesai, apakah besok kita kembali bekerja seperti ini? Apakah bekerja terus seperti itu bisa membuat desa kita kondisinya benar-benar akan membaik?” Penulis itu bingung dengan pertanyaan itu. Penulis itu menjelaskan bahwa hal yang terjadi sekarang adalah dampak dari perubahan iklim. Krisis iklim sudah terjadi sangat lama. Tetapi, sekarang dampaknya lebih terasa oleh semua orang di seluruh tempat. Penulis itu menjelaskan bahwa mereka tidak bisa menghindari dampak perubahan iklim tersebut, tetapi kita harus berusaha untuk tetap menjaga desa itu, walaupun kondisinya belum bisa benar-benar pulih seperti tahun-tahun sebelumnya. “Bersabarlah. Kalian bisa menghadapinya,” kata penulis itu.

Entah kenapa penulis itu merasa sedih. Penulis itu melihat generasi di tahun ini seperti putus asa, mereka seperti tidak tahu harus melakukan apa. Tapi dalam diri mereka masih terdapat harapan tanah tempat tinggalnya bisa pulih kembali. Anak-anak remaja di sana selalu bertanya pada nenek-kakeknya bagaimana kehidupan di puluhan tahun sebelumnya.  Tapi penulis itu punya misi bahwa ia harus membangkitkan semangat orang-orang di sana.

Keesokan harinya, mereka membersihkan sampah-sampah di dekat sungai. Ada beberapa orang tua dari desa dekat desa yang didatangi penulis juga ikut membantu. “Kami senang bisa ikut membantu di sini. Kami jadi ingat kegiatan gotong-royong yang sering kami lakukan di masa dulu. Sekarang sudah berbeda, kami masih melakukannya tetapi jarang. Bagaimana bertahan di kondisi seperti sekarang ini, itu yang lebih kami perhatikan untuk sekarang,” tiba-tiba salah satu warga desa sebelah berkata seperti itu pada penulis. Penulis tidak bisa menjawab apa-apa.

Beberapa hari para warga menghabiskan waktu membersihkan desa mereka. Setelah hari-hari yang melelahkan itu, desa mereka kembali bersih. Mereka juga sudah menanam kembali padi, jagung, bahkan teh di desa mereka. Anak-anak kecil di sana bersama para kakaknya yang sudah beranjak remaja, mereka menanam tanaman kaktus di halaman rumah mereka masing-masing. Mereka bilang bahwa kekeringan mungkin akan berlangsung lama, daripada tidak ada tanaman sama sekali lebih baik mereka menanam kaktus yang bisa tahan di kondisi kering. Entah darimana mereka mendapatkan tanaman itu. Ide-ide kecil mereka sangat berdampak besar bagi lingkungan. Walaupun kondisi kesehatan mereka tidak sebaik anak-anak muda di zaman dahulu, tetapi terlihat bahwa mereka masih punya keinginan untuk merubah kondisi bumi yang sudah sangat buruk ini. Senyum mereka lebih lebar daripada sebelumnya. Salah satu anak remaja di sana tiba-tiba bertanya, “Apakah kondisi seperti kemarin akan kita rasakan lagi? Kekeringan, banjir, kemarau panjang, tumbuhan pangan yang tidak kunjung panen. Apakah itu akan kita rasakan dalam waktu yang sangat lama?” Penulis menjawab itu dengan hati-hati, “Kalian sudah sering menonton dan membaca berita. Kalian pasti sudah tahu, kondisi iklim ini tidak bisa kita hindari. Seperti sekarang, walaupun desa sudah kembali bersih, tetapi belum sepenuhnya pulih. Kondisi ini bisa saja membaik jika kita mau bersama-sama menghadapinya. Aku yakin kondisi ini tidak terjadi di tempat ini saja, seluruh dunia sedang merasakan kondisi yang sama.” “Berarti sebenarnya kita tidak tahu kapan kondisi ini akan berakhir, begitu?” tanya salah satu anak yang terlihat berusia 14 tahun. Penulis dan relawan lain hanya bisa diam. “Oh, dahulu saya pernah diceritakan seperti ini. Masa kecil orang tua saya sangat indah. Oh, sepertinya tidak terlalu. Dulu katanya tidak ada listrik. Lalu tidak ada handphone juga. Tapi mereka bisa bertahan, bahkan mereka katanya tetap bersenang-senang, sampai akhirnya teknologi maju,” kata penulis itu menceritakan apa yang pernah diceritakan oleh orang tuanya dulu. “Kalian bisa membayangkan tidak? Kondisi saat tidak ada listrik dan itu pasti sangat sulit. Tapi mereka terus bertahan dan hanya bisa mensyukuri hidup mereka walaupun semuanya sulit, bukan? Kalau begitu, itu hampir sama seperti kondisi kita saat ini. Kita juga bisa bertahan. Ini pasti akan kembali baik,” lanjut penulis tadi. Anak-anak kecil di sana tersenyum mendengar hal itu.

Beberapa hari sudah mereka lalui bersama-sama. Akhirnya waktunya tiba untuk para relawan harus kembali ke kota hari ini. Salah satu relawan yang menyampaikan misi kepada penulis berkata, “Kamu telah melakukan misi ini dengan baik. Mereka sudah tersenyum kembali dan mereka sudah tahu bahwa harus menghadapi ini. Terima kasih sudah menyelesaikan tugasmu ini. Sekarang, kamu bisa kembali ke tahun asalmu.” Penulis itu merasa senang sekaligus sedih, ia tidak menyangka hal seperti ini akan terjadi dalam hidupnya. Dia harus kembali sekarang.

“Para warga, saya juga harus kembali. Terima kasih. Saya harap kalian bisa tersenyum terus seperti ini. Saya ingin kalian tetap menjaga desa kalian ini, apapun yang terjadi,” kata penulis itu. “Terima kasih banyak. Jika ada waktu mampirlah kesini lagi. Kami ada di sini,” kata warga di sana.

Relawan yang memberitahu misi kepada penulis itu, menyuruh penulis untuk menutup matanya. Relawan itu bilang bahwa penulis itu akan kembali ke tahun asalnya. Penulis itu menutup matanya sambil tersenyum dan berkata, “Bukan hanya mimpi yang indah, tapi petualangan yang seru.” Beberapa detik kemudian, tiba-tiba ada yang memanggil penulis itu, “Andre! Kamu lama sekali sampainya. Kami sudah menunggu lama.” Penulis itu kaget mendengar suara kakak laki-lakinya. Ia membalikkan badannya dengan mata yang masih tertutup. Ia membuka matanya perlahan-lahan. Sinar matahari yang terik namun tidak sepanas yang ia rasakan pada saat di masa depan.

Ia sudah kembali ke masa sekarang. Senyumnya sangat lebar, dia memeluk kakak laki-lakinya itu sambil berkata, “Aku bersyukur bisa kembali, Kak!” Mendengar itu kakak laki-lakinya sangat senang pula, tanpa tahu apa-apa kakak laki-lakinya hanya berpikir bahwa adiknya senang bisa kembali ke kampung halamannya. “Apakah aku sangat lama sampai di sini, Kak?” tanya penulis itu sambil mengecek tanggal di layar handphonenya. “Iya, kamu sangat lama. Sudah Kakak tunggu sekitar 5 jam, kamu baru tiba sekarang,” jawab kakaknya sambil meledek adiknya itu. Begitu terkejutnya penulis itu melihat tanggal di layar handphone-nya masih sama dengan tanggal ia meninggalkan kota. Berbeda pada saat ia di masa depan, pada saat itu ia sudah melewati beberapa hari di sana. Benar, petualangan di desa itu mungkin memang mimpi, bermimpi di siang hari tanpa tidur. Itu aneh, pikirnya. “Benar, hanya beberapa jam. Tidak berhari-hari,” kata penulis itu. Dia tidak mau memikirkannya. Dia menganggap apa yang sudah ia lihat sebelumnya adalah pelajaran untuknya sebagai generasi masa sekarang. Dia juga berpikir bahwa topik krisis iklim itu adalah ide yang bagus untuk tulisan barunya.

“Oh, apa kamu sudah menulis cerita baru? Apa judulnya? Kakak penasaran,” kata kakak laki-lakinya sambil mengajak penulis itu masuk ke rumahnya. “Aku sudah melakukan petualangan Kak, itu menjadi sumber ide untuk menulis buku baruku sekarang,” jawab penulis sambil tersenyum kecil. “Krisis iklim, itu temanya,” lanjut penulis itu. “Wah, tumben banget kamu. Biasanya kamu menghindar dengan tema-tema seperti itu. Ribet katanya,” kata kakak laki-lakinya sambil menggeleng-gelengkan kepala. “Itu dulu Kak…,” jawab penulis itu sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. “Oh, tumben juga Kakak ngajak aku ke desa,” kata penulis itu tidak mau kalah. “Dua hari lalu kan kamu ulang tahun. Jangan sombong dong cuman mau ngerayain di kota. Ayo, kita rayain juga di desa bareng keluarga kecil Kakak. Mereka juga udah nunggu kamu lho,” jawab kakak laki-laki penulis.

Penulis itu merasa bersyukur, selain bersyukur karena dia bisa kembali ke masa sekarang dan bertemu keluarganya, tapi ia juga bersyukur bisa merasakan kehidupan di masa depan yang sangat memberikan banyak pelajaran untuknya di masa sekarang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *