Cerpen #370 Dunia Euan

“Suhu udara yang makin panas, musim hujan dan kemarau yang tidak lagi menentu, serta cuaca ekstrem seperti hujan badai yang belum pernah terjadi sebelumnya sudah melanda Indonesia.”

Suara siaran berita sudah mulai memenuhi seluruh isi ruangan, Daniel yang sedari tadi duduk menyaksikan keluarganya yang tampak sangat serius menanggapi siaran tersebut menampakkan wajah acuh tak acuh.

“Gak usah didengerin ah, Buk. Nakut-nakutin aja.” Ucap Daniel tidak ingin mengambil pusing keadaan yang terjadi.

“Kamu ini, anak muda tapi gak kritis. Nanti kamu tinggal dimana kalau seluruh tempat gak aman? Gak mungkin pindah ke Mars.” Sambung Ibu Daniel yang geram mendengar ucapan Daniel.

Daniel tidak menanggapi ucapan Ibunya dan memilih masuk ke kamarnya, entah bagaimana ceritanya siang itu Daniel merasa mengantuk sekali. Ia memutuskan untuk merebahkan tubuhnya di kasur dan lamban laun Daniel tertidur dengan lelap. Namun, ada yang aneh dengan keadaan siang itu. Seluruh langit menggelap dan angin mulai menerpa kencang. Sesekali suara huru-hara teriakan mengganggu tidur Daniel. Padahal ia baru saja memasuki gerbang alam mimpi.

Suara-suara orang berlarian berteriak “Gempa!” membangunkan tidur Daniel. Ia  bergerak menuju pintu kamarnya. Melihat sekeliling rumahnya tapi tidak ada seorang pun yang berada di rumahnya. Mungkin orang rumah sudah pergi mencari tempat aman. Dengan segera ia berlari keluar rumah mencari tempat aman – mungkin. Anehnya, seluruh komplek rumahnya kosong tidak ada seorangpun, hanya terdengar suara angin dan rasa panas yang sangat menyengat.

“Bukankah tadi hujan badai dan gempa ya? Kemana semua orang? Haloooo?! Aaaaaa!” Darel berteriak memastikan keadaan sekelilingnya.

Yang terdengar hanya suaranya saja yang mengawang terbawa oleh angin. Ini benar-benar aneh, tidak ada seorangpun yang berada di tempatnya kini dan matahari seakan semakin dekat dengan kepalanya. Kakinya yang menggunakan sandal mampu merasakan panas yang menembus hingga ke kulitnya. Daniel memutuskan untuk kembali ke rumahnya, mungkin dia dapat memperoleh informasi mengenai apa yang terjadi melalui siaran berita di televisi atau mungkin mencari tahu melalui ponsel pintar miliknya.

Ketika Daniel menyalakan televisinya yang tampak hanya menampilkan warna hitam, kosong tidak ada suara ataupun gambar. ‘Apa mungkin sedang hilang sinyal?’ gumam Daniel dalam hati. Ia melanjutkan tekadnya untuk berselancar informasi di ponsel pintar miliknya. Syukurlah ponsel pintar tersebut masih menunjukkan tanda-tanda kehidupan.

Eh, kok aplikasi? Aplikasi apa ini?” Daniel terkejut melihat sebuah aplikasi muncul di ponselnya. Sebuah aplikasi berwarna hijau pekat dengan tulisan berwarna merah darah dengan tegas menyambut  Daniel.

‘Selamat datang di Dunia Euan Tuan Muda Daniel Esward, anda merupakan satu dari banyaknya tuan muda di dunia yang terpilih untuk bergabung dan masuk ke dunia Euan. Kami menyambut anda dengan senang hati serta peluk hangat sehangat matahari. Tuan anda merupakan peserta ke dua ratus dua puluh tiga sepanjang dunia ini ada. Semoga anda dapat bertahan dan menjadi salah seorang yang mampu memecahkan segala kerumitan situsasi. Cinta kasih dari kami, Euan.’

“Hahaha, ngelawak nih orang. Gila kali, balikin HP kesemula gimana sih? Siapa hacker-nya, kenapa ini?!” Daniel tertawa dengan terus mencoba untuk masuk ke laman lain. Namun, usahanya selalu gagal. Aplikasi itu kembali mengeluarkan suara.

‘Sebuah nama yang menjadi mungkin adalah sebuah nama, sebuah cerita menjadi cerita adalah kamu. Bertahan menciptakan cerita itulah tugasmu sekarang. Ada yang menunggumu membuat sebuah cerita, Tuan.’

Daniel berpikir keras untuk maksud kalimat yang diberikan oleh aplikasi tersebut, kalimat yang tidak mudah untuk dipahami maknanya. Apakah maksud dari namanya ‘Raja Keadilan’ arti nama Daniel adalah raja keadilan lalu apa hubungannya dengan cerita dan seseorang yang menunggu?

“Ah terserahlah, aku mau tidur. Ini pasti mimpi.”

Daniel berusaha untuk tertidur namun tubuh dan otaknya tidak sependapat dengan kemauannya. Tubuhnya hanya terbolak-baik seperti ikan pepes yang sedang di panggang dia tas pemanggang, grasak-grusuk tidak tenang. Akhirnya pun Daniel mulai memikirkan jawaban dari kalimat yang disuguhkan aplikasi tersebut.

“Apa maksudnya aku diminta meminpin? Tapi memimpin apa?”

Suara aplikasi itu menggema lagi mengisyaratkan ada sebuah pesan dari aplikasi tersebut.

‘Tepat Tuan, anda pintar. Sekarang seseorang menunggu anda di depan.’

“Aplikasi aneh, dunia Euan? Gila kali!!” Daniel menuju pintu depan untuk memastikan kenyataanya.

Benar saja ada seorang wanita dengan baju lusuh dan tubuh ringkih terlihat seperti seseorang yang mengalami dehisdrasi. Miris, kata itu melintasi pemikiran Daniel.

“Terima kasih telah membantu saya, akhirnya ada yang bisa membantu.” Wanita paruh baya itu menitihkan sedikit demi sedikit air matanya.

“Apa yang sebenarnya terjadi disini, Bu?” Ucap Daniel menelisik mencari tahu keadaan sebenarnya.

“Dunia Euan, bagian dari dunia kita. Dunia ini bagian anugrah sekaligus hukuman. Apa salahmu hingga sampai ke dunia ini?” Ucap wanita tersebut melihat ekpresi kaget dan bingung Daniel.

“Saya juga tidak tahu, Bu. Ada berapa orang disini?”

“Mungkin banyak, mungkin juga tidak. Setiap orang harus menyelamatkan yang lainnya. kamu harus menyelesaikan tugasmu. Aku gagal ditugas terakhirku dan semua orang yang ku selamatkan pun menghilang. Kamu bayangkan jika satu orang membantu satu saja dan seterusnya begitu, dunia ini akan baik-baik saja.”

Daniel berusaha mencerna maksud kalimat Ibu tersebut. Ketika mereka sedang bercengkrama mengenai dunia Euan suara pemberitahuan dari aplikasi tersebut terdengar kembali.

‘Kami memintamu menghidupkan satu nyawa dengan berganti dengan satu nyawa. Sesuatu yang berwarna pekat itu memberikan setidaknya sedikit oksigen untukmu. Harusnya kamu tahu. Lakukan perintahku, dan selamatkan keluargamu.’

“Apakah ada hukuman jika aku tidak menyelamatkan oranglain?”

“Bencana, kematian.”

Mendengar itu tanpa pikir panjang ia mencari jawaban dari perintah tersebut. Pekat dan oksigen? Apa mungkin pohon?

“Pohon, menanam pohon?”

Seperti biasa pemberitahuan kembali muncul dan di sebrang rumah Daniel ada lima pot dengan pohon yang harus ditanamnya, masalah muncul karena tanah yang akan digunakan adalah tanah tandus dan kering. Tidak mungkin tanah sekering itu bisa ditanami pohon.

Daniel ingat diujung gang perumahan desanya ada kandang sapi dan kambing, kemungkinan disana masih ada kotoran hewan. Ketika berjalan dan sampai disana Daniel segera mengambil kotoran tersebut dan dimasukan ke dalam ember, ternyata pemilik hewan ternak itu juga kerap membakar tanah dengan dedaunan kering hingga menjadi tanah humus. Semua itu dijadikannya bahan untuk menanam pohon tersebut.

Tidak memakan waktu lama, pohon-pohon itu tubuh dengan cepat dan telah menjadi pohon yang besar dan kokoh. Ini bagian dari dunia ajaib, seperti bunga tidur di tengah realita yang sesungguhnya sedang terjadi di antara manusia. Muncul Ayah, Ibu, Kakek, Nenek dan Adik Daniel di balik masing-masing pohon tersebut.

“Ibuuuu, Daniel ketakutan.”

“Kamu hebat, Nak.” Ibu memeluk tubuh Daniel erat. Baru kali ini semua terasa hangat bagi Daniel. Berbeda ketika ia membantah Ibunya.

Suara pemberitahuan muncul dan itu ucapan selamat, beberapa perintah muncul dengan bayaran orang sekitar mulai bermunculan yang sama hingga pada tugas ke dua ratus dua puluh tiga muncul dengan pertanyaan cukup mencekat.

‘Selamat Tuan, anda sudah sampai dipenghujung tugas anda di dunia Euan. Sebuah ladang tidak akan menjadi ladang di tangan seorang nelayan. Dan ikan-ikan yang berekor tidak mungkin terbang di udara dengan sayap burung yang mengambang di atas lautan. Aliran dan bunyi yang mengganggumu itu menggangguku juga, panas yang menyengatmu itu juga menyengatku. Pecahan itu harus kau hubungkan. Tuan.’

Daniel berpikir dengan dua ratus dua puluh dua orang termasuk dirinya untuk memecahkan perintah tersebut, walau tetap saja setiap orang yang diselmatkan satu persatu menyelamatkan oranglain dengan perintah dari aplikasi itu. Keluar dari rumah seluruh tempat terasa panas, sungut matahari seakan mencambuk-cambuk sekujur tubuh Daniel. Tanah-tanah menjadi kering kerontang. Daniel berpikir keras untuk jawaban apakah yang tepat untuk semua ini.

“Hujan, kita butuh air yang melimpah dari langit.”

“Bagaimana caranya?”

“Ayo kita pikirkan baik-baik, tapi sebentar lagi sepertinya akan hujan. Lihat langit sudah sangat mendung.” Ucap salah seorang dengan sangat bersemangat.

Langit menampakkan rona abu-abu yang menghembus bersama angin yang semakin lama semakin kencang, tidak ada satu daun pun yang jatuh ke tanah berhasil mengelak. Semua terangkat dan terbang semrautan. Orang-orang mulai lengah karena mata mereka tertutupi debu yang menghalangi pandangan.

“Tunggu JANGAN LENGAH! Lihat yang gelap hanya disekitar kita sedang yang disana masih terang. Kemungkinan hujannya tidak lama. Ayo ambil semua baskom atau apapun yang bisa menadang air.”  Ucap Daniel menunjuk ke arah langit.

“Kita gali tanah saja, lalu biarkan air itu tergenang di situ. Bagaimana? Aduh jangan kelamaan mikir, kita bisa lenyap semua dalam sesaat.”Sambung Daniel memberikan komando.

“Seberapa banyak hingga bisa membasahi tanah?” Ucap salah seorang yang sebaya dengan Daniel.

Loh, pas hujan turunkan tanah juga ikutan basah, kita bisa andalkan itu untuk sementara. Tapi, setidaknya kita butuh air bersih untuk menyambung hidup. Air segalanya untuk kita, untuk kehidupan kita. Bagaimana pun caranya kita harus punya air bersih.” Ucap Daniel berapi-api.

“Ayo kerjakan!!!” Sambungya lagi.

Mereka berbondong-bondong menggali tanah yang kering kerontang itu dan membentuk sebuah genangan yang cukup besar. Hujan yang turun cukup deras dan air-air yang tergenang mulai terkumpul banyak. Misi terakhirnya berhasil dan semua orang terselamatkan tidak ada yang harus terkurung dan tersiksa lagi. Daniel dengan susah payah menyelesaikan semuanya, keluarganya nampak sangat bangga padanya. Ketika Daniel dalam pelukkan ibunya. Suara menggelegar petir mengagetkannya.

Loh, apa aku mulai dari misi pertama lagi? Kenapa di kamar lagi?”

Danil meraba mengambil ponselnya, jaringan dan seluruh aplikasinya seperti biasa. Suara orangtuanya di ruang makan yang berteriak memintanya keluar kamar untuk makan malam sudah terdengar.

“Ibukkkk!” Teriak Daniel memeluk ibunya dengan mata yang sudah berair.

Sejak hari itu, Daniel memulai hidup dengan 4R (reduce, reuse, recyle, replace), menggunakan listrik seperlunya, tidak membuang-buang kertas sesuka hati, berusaha mengurangi penggunaan pendingin ruangan, mengganti penggunaan plastik sekali pakai dan yang paling mencengangkan adalah Daniel menjadi relawan untuk kegiatan berupa penumbuhan rasa empati pemuda akan  krisis iklim yang terjadi. Semua misi yang ia tuntaskan selama terjebak di Dunia Euan diamplikasikannya di dunia nyata, ia percaya ini adalah kenyataan untuk mendidiknya.

‘Apakah dunia itu benar adanya atau tidak, terserahlah. Yang benar terjadi hari ini bahwa ternyata bumiku tidak baik-baik saja. Aku butuh kamu, kita bisa saling bantu untuk merangkul bumi kita. Satu tangan untuk sejuta nyawa. Aku yakin kita semua pasti bisa.’ Tutur Daniel dalam sebuah siaran yang memintanya menjadi seorang narasumber.

Setiap dari kita pasti percaya bahwa tidak ada yang tidak mungkin jika kita bertekad. Pepatah mengatakan berat sama dijinjing, ringan sama dipikul. Begitulah kiranya, jika kita ingin menyelaraskan langkah dan menyatukan tekad untuk membangun masa depan dengan menyediakan tempat yang aman untuk hidup.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *