Cerpen #369 Separuh Desaku Asap

Keringat terus saja bercucuran di dahi dan rasa gerah begitu terasa sehingga kertas pun ku jadikan layaknya sebuah kipas , hanya itu yang bisa ku lakukan di tengah musim panas yang sudah berlangsung selama sebulan ini. Lonceng sekolah berbunyi dan jarum jam tepat di pukul 12.00 yang menandakan waktu pelajaran di sekolah ku telah selesai , saatnya kami semua kembali ke rumah . Di depan gerbang sekolah terdengar teriakan Nisa memanggil nama ku “Adis sebentar sore aku ke rumah mu ya” , aku hanya berbalik dan mengangkat jari jempol memberi isyarat “Oke” .

Berjalan kaki menuju rumah dengan melewati persawahan di desa ku dan berbagai pohon rindang yang berjejeran menghiasi sepanjang perjalanan . Ketika ingin menarik nafas sambil menghirup udara segar tiba-tiba saja tercium bau asap kendaraan yang berasal dari motor Pak Kades dan juga beberapa orang yang tidak ku kenali . Rasanya aku ingin sekali menutup lubang kanalpot motor mereka semua . Tapi kurasa dengan mempercepat langkah kaki menuju rumah dapat mengurangi rasa kesal dan juga menunda tindakan konyol ku itu .

Setelah berjalan kaki beberapa menit akhirnya sampai juga dirumah . Saat sedang melepaskan sepatu terdengar suara teriakan tetangga sebelah yang sedang mengomel. Ternyata itu suara Nek Diah, entah siapa yang bernasib buruk harus diomelin Nek Diah. Yang ku dengar sekilas Nek Diah mengatakan “Kamu pikir saya akan setuju dengan proyek sampah mu itu?” . Akupun tidak mengerti proyek apa yang  dimaksud Nek Diah . Beberapa menit setelah itu suara Nek Diah mulai tidak terdengar , hanya terdengar suara motor yang sedang dinyalakan. Sepertinya pemilik motor tersebut adalah orang yang baru saja dimarahi Nek Diah .

Ayah muncul dari dapur sambil membawa makanan ke meja makan dan aku langsung bertanya kepada Ayah  “Yah, itu tadi kok Nek Diah teriak-teriak ya?”,

“Oh itu tadi Nek Diah menolak persetujuan untuk pembukaan lahan. Tadi mereka juga datang ke rumah tetapi respon Ayah tentu sama seperti Nek Diah. Katanya mereka ingin membuat perkebunan, perumahan dan juga ruko.” , jawab Ayah

“Mengapa menolak yah ? bukankah desa kita nanti akan terlihat semakin maju dan keren ?”,tanya ku lagi

“Memang betul ! Tetapi proyek tersebut juga akan merusak alam desa kita. Namun nyatanya hampir semua warga di desa menyetujui proyek ini seakan tak peduli dampak nya nanti” ,jawab Ayah . Aku hanya terdiam setelah mendengar perkataan Ayah.

Tepat jam 3 sore Nisa datang ke rumah ku untuk mengerjakan tugas prakarya . “Adis tadi siang Pak Kades dengan beberapa orang dari kota datang ke rumah ku,  mereka meminta persetujuan untuk pembukaan lahan di Desa kita” , kata nisa.

“Lalu bagaimana apakah orang tua mu setuju?”, tanya ku

“Orang tua ku setuju saja, apakah tadi mereka mendatangi rumah mu juga?” ,tanya Nisa.

“Iya Nisa . Tetapi Ayah ku menolak dengan alasan proyek tersebut dapat merusak alam di desa kita” , jawab ku.

Setelah itu kami melanjutkan untuk mengerjakan tugas.

Beberapa minggu kemudian proyek dijalankan dan mereka mulai dengan menebang pohon di hutan. Seakan tak puas merusak alam dengan menebang pohon, mereka juga membakar hutan untuk mempercepat pekerjaan mereka . Berbagai satwa liar keluar dari hutan akibat rumah mereka dirusak.  Desa ku yang awal nya saat pagi separuhnya dipenuhi embun dan udara segar sekarang separuh desa ku adalah asap . Saking banyaknya asap bahkan untuk melihat dari jarak satu meter pun kami kesulitan. Musim kemarau berkepanjangan yang terus menghampiri desa ku seakan membuat kami warga desa mustahil bisa mendapatkan udara segar lagi.

Sudah tiga hari aku dan beberapa warga di desa ku hanya bisa beraktivitas di dalam rumah. Sekolah diliburkan akibat asap yang semakin menebal. Sebagai kepala keluarga yang bertugas mencari nafkah menuntut Ayah ku dan warga lainnya harus tetap bekerja. Pekerjaan Ayah ku adalah petani . Ayah ku sangat kesulitan untuk panen di tengah musim kemarau berkepanjangan ini. Akibatnya hampir seluruh petani di desa ku harus menerima kenyataan bahwa mereka gagal panen .

“Gagal panen lagi nih” , kata Ayah

“Yang sabar yah, semua pasti akan membaik lagi saat musim kemarau berakhir” , kata ku

“Semoga saja. Tapi ini akan berlangsung sangat lama dikarenakan hutan desa sudah gundul akibat dibakar” , kata Ayah

“Itu sangat berpengaruh yah Ayah?”, tanya ku

“Tentu saja . Jika hutan gundul maka tidak ada transpirasi yang terjadi”, jawab Ayah

“Transpirasi itu seperti apa yah?”, tanya ku lagi

“Transpirasi berarti proses hilangnya uap air dari permukaan tumbuhan , jika tidak ada proses transpirasi maka curah hujan akan berkurang”, jawab Ayah.

Tidak terasa sudah sebulan akan tetapi desa ku masih saja di penuhi dengan asap . Semua sekolah di desa ku terpaksa mulai aktif lagi sejak empat hari lalu dikarenakan ulangan semester yang sudah hampir dekat. Asap yang masih saja memenuhi desa ku membuat beberapa teman-teman ku mengalami sakit mata bahkan ada juga yang harus mengalami sesak nafas. Bangku-bangku di kelas sangat banyak yang kosong, guru-guru memaklumi semua ini karena asap yang tidak kunjung hilang . Selama sekolah diaktifkan kembali Nisa tidak pernah hadir . Sepulang sekolah aku pergi ke rumah Nisa untuk menanyakan kabarnya. Sesampainya di rumah Nisa , aku mengetuk pintu rumah nya dan Ibu nya yang membukakan pintu.

“Selamat siang bu, Nisa nya ada?” , tanya ku

“Siang nak, Nisa nya lagi sakit dan di rawat di rumah sakit”, kata Ibu Nisa

“Nisa sakit apa ya bu”, tanya ku lagi

“Nisa terkena Infeksi Saluran Pernafasan karena sering beraktifitas diluar dan dia menghirup banyak sekali asap yang ada di desa kita ini”,jawab Ibu nya Nisa .

Akupun langsung berpamitan dan menuju rumah sakit tempat dirawatnya Nisa.

Saat tiba di rumah sakit kujumpai beberapa teman-teman sekolah ku yang sedang berobat . Terdengar suara tangisan seorang balita yang sedang kesakitan karena mata nya iritasi terkena asap. Aku sangat terpukul melihat anak sekecil itu harus merasakan kesakitan. Berjalan menyusuri lorong rumah sakit dan berhenti sebentar di meja resepsionis untuk menanyakan ruangan Nisa. Saat aku sampai di depan ruangannya terlihat selang oksigen dipasangkan di hidungnya, sambil menarik nafas dan menghembuskan, Nisa terlihat sangat kesakitan dan kesulitan bernafas. Aku hanya bisa berdiri dan melihat dari jendela karena tidak diijinkan masuk oleh petugas. Mata Nisa menatap ku dan mengeluarkan air mata,  mata ku juga langsung ikut berkaca-kaca. Aku cuma berharap agar Nisa dan pasien lainnya bisa segera pulih kembali.

Desa ku sedang tidak baik-baik saja. Krisis iklim terjadi di desa ku yang mengancam kesehatan warga desa dan juga  kami anak muda sebagai generasi masa depan . Untuk pergi ke sekolah pun kami sangat kesulitan melihat jalan dikarenakan tebalnya asap . Banyak teman-teman ku yang tidak mengikuti ulangan akibat asap yang mempengaruhi kesehatan mereka . Ini sungguh nyata dampak negatif dari krisis iklim dan juga pemanasan global yang terjadi akibat ulah manusia. Pak Kades sudah berusaha berbicara kepada para pekerja proyek agar menghentikan semua ini, akan tetapi keterikatan perjanjian di atas kertas yang membuat semua ini tidak semudah membalikkan telapak tangan.

Karena sudah muak dengan semua proyek ini, Ayah ku dan beberapa warga desa pergi ke kota dan melaporkan semua kejadian  ini kepada pihak berwajib untuk mendapatkan pertolongan. Akhirnya laporan ini direspon cepat oleh pihak berwajib dan segera membubarkan semua proyek ini jika tidak kasus ini akan di bawa segera ke jalur hukum karena telah melakukan pembukaan lahan dengan cara membakar. Kata petugas kepolisian tindakan tersebut sudah melanggar UU Pasal 56 ayat 1 Nomor 39 tahun 2014 tentang perkebunan . Proyek pun dengan terpaksa segera dihentikan. Seperti mendapatkan kehidupan baru, aku dan seluruh warga desa akhirnya punya kesempatan menghirup udara segar lagi. Kami pun mulai menanam berbagai pohon dan tumbuhan lainnya di desa berharap semua kembali seperti semula meski hanya 60% nya saja. Tiga minggu kemudian hujan mulai turun dan asap pun mulai menghilang, betapa gembira nya seluruh warga desa menyaksikan turunnya hujan.

Nisa dan teman-teman yang lain sudah bersekolah kembali , walau terkadang Nisa masih sedikit merasakan sesak saat dia bernafas . Dari kejadian waktu itu menjadi pelajaran bahwa ketika kita menjaga alam dengan baik maka alam pun akan memberi sesuatu yang baik untuk kita . Udara adalah sesuatu yang tidak terlihat namun ketika udara tidak ada kita pun akan tidak ada . Pohon di hutan sangat banyak dan di mata manusia itu hal biasa namun ketika pohon ditebang itulah awalnya bencana luar biasa . Sesuatu yang kita lakukan sekarang tentu yang merasakannya bukan hanya kita saja namun generasi selanjutnya juga yaitu generasi masa depan seperti anak-anak . Jagalah bumi agar generasi masa depan bisa tetap hidup sehat dan menikmati keindahannya !

7 thoughts on “Cerpen #369 Separuh Desaku Asap

  1. Ceritanya sangat menarik dan memiliki pesan-pesan disetiap alur ceritanya seperti jangan menebang pohon sembarangan dan membuka lahan dengan menggunakan cara dibakar hutannya. Alur ceritanyanya juga saling berhubungan dimana penulis juga menuliskan sebab akibat dari tindakan yang dilakukan manusia kepada alam yang kembali merugikan manusia sendiri. Mulai dari penebangan pohon sampai bakar hutan untuk mempermudah pembukaan lahan, situasi yang dihasilkan, masyarakat desa mendapatkan dampak negatif dari hal tersebut dan ada gerakan yang dilakukan untuk menghentikan perusakan alam. Setiap tindakan yang kita lakukan pasti ada timbal baliknya bisa secara negatif dan positif terhadap diri kita. Berbicara mengenai alam sebenarnya kita juga dapat melindungi dan menjaganya dengan memulai dari hal-hal kecil seperti tidak menggunakan plastik, membawa botol air minum dan lain-lainnya.

  2. Sy SDH membaca beberapa cerpen dan ini jadi salah satu cerpen yg sya sukai , judul yg menarik dan juga alur cerita yg bagus serta bnyk pesan menarik di paragraf akhir

  3. Sangat suka dengan kalimat “Pohon di hutan sangat banyak dan di mata manusia itu hal biasa namun ketika pohon ditebang itulah awalnya bencana luar biasa” 🔥🔥🔥

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *