Cerpen #368 Perlahan-lahan Sungai Hitam Itu Membunuh Kami

Radit tidak punya pilihan lain selain pulang ke kampung halamannya di daerah pantura Jawa. Selepas diwisuda dua bulan lalu, perusahaan yang dilamar Radit tidak kunjung membuahkan hasil. Radit hanya bisa melewati pintu seleksi berkas saja, selebihnya banyak perusahaan yang menolaknya berkali-kali bahkan beberapa perusahaan tidak memberinya kabar sama sekali. Kuku-kuku Radit terkelupas setelah tergigit akibat terlalu banyak memikirkan masa depan suram di keningnya. Ijazahnya teronggok di lemari, seolah menghardik Radit yang kurang beruntung dalam hidupnya.

Andai saja ayahnya masih hidup, Radit tentu ingin lebih lama lagi di tanah rantau. Radit punya jurus meyakinkan ayahnya bahwa dia bisa mendapatkan pekerjaan layak tak lebih dari setahun. Namun apa daya, penyakit komplikasi menggerogoti usia ayahnya dan ayahnya dipanggil Tuhan tepat dua minggu sebelum Radit diwisuda.

Sementara ibunya di kampung sudah terlalu renta untuk dimintai uang bulanan selama dirinya terus mengirim lamaran pekerjaan di kota. Radit tidak mungkin mengandalkan adik-adiknya yang bekerja di industri konveksi rumahan sebagai penjahit. Seharusnya Radit tidak membiarkan adik-adiknya hanya sampai di bangku SMA saja. Sederet penyesalan dan kekesalan menari-nari sepanjang perjalanan kereta. Ada beban seberat Candi Borobudur menimpa bahunya. Ibunya terlalu berharap, Radit bisa bekerja di gedung pencakar langit dengan penyejuk udara seharian, bukan menjahit seperti adik-adiknya.

Sesampainya di rumah, Radit disambut aroma sungai menguar sampai menerobos rongga hidungnya. Rumah Radit berada di bantaran sungai Sragi, sudah biasa bagi Radit mencium bau bangkai bercampur sampah plastik dan limbah pabrik. Radit ingat dulu sewaktu kecil dia berenang bebas di sungai yang belum tercemar parah seperti sekarang. Kebanyakan anak-anak seusianya dulu mahir berenang. Berenang adalah hal wajib bagi anak-anak kampung bantaran sungai namun sekarang mana ada anak-anak mau berenang di sungai hitam pekat seperti itu bahkan bebek-bebek kampung juga ogah menyentuhnya. Anak-anak lebih memilih menabung uang jajannya semingguan supaya bisa berenang di kolam renang bening di hari libur. Radit yakin, anak-anak di kampung halamannya akan kalah jika diadu lomba renang dengan anak-anak zaman dulu. Yah, selama mesin waktu di laci Nobita ada di dunia nyata, Radit bisa membuktikannya.

“Bu, kenapa pabrik gula di ujung sana masih suka buang limbah ke sungai sih! Apa tidak ada polisi yang memidanakan mereka. Tiap tahun di musim kemarau, sungai itu pasti bau menyengat,” gerutu Radit di ruang tengah. Radit tidak tahan berada di kamarnya yang menghadap langsung ke sungai, semakin ruangan dekat ke sungai semakin menyengat aroma tidak sedap tercium di hidung peseknya.

“Seharusnya ibu yang tanya ini kepadamu. Kamu ini sarjana Hukum, tahu hukum, harusnya kamu pergi ke kantor polisi sana, tuntut itu perusahaan yang sudah merenggut nyawa ayahmu,” balas ibunya saat sedang menonton TV sambil menutup hidungnya dengan kerudung biru.

Radit terdiam mendengar jawaban ibunya. Radit teringat ayahnya dulu. Baginya, ayahnya merupakan pahlawan lingkungan tanpa tanda jasa di kampung halamannya. Ayahnya sering mendemo pabrik gula nakal itu. Ayahnya tak kuasa melawan pria-pria berdasi dari kota. Ayahnya tak bisa berbuat banyak selain mundur teratur. Tak berselang lama, ayahnya menderita penyakit komplikasi. Menurut dokter, ayahnya sering menghirup udara tak sehat, apa lagi kalau bukan dari sungai hitam pekat di belakang rumahnya itu.

Radit juga sebenarnya tahu betul, pasal berapa saja yang bisa menjerat tangan-tangan biadab pembuang limbah kimiawi ke sungai itu tapi Radit punya apa. Bahkan ijazahnya masih terus mentertawakan dirinya yang tidak becus mencari pekerjaan di kota. Idealisme Radit kalah jauh dengan ayahnya. Idealisme di mata Radit hanya bekerja keras di kantor dan mengubah kondisi perekonomian Indonesia.

Untuk mewujudkan idealismenya, Radit punya keinginan bekerja di kota, mendapatkan uang banyak dan punya rumah sendiri yang letaknya jauh dari sungai. Radit ingin sesegera mungkin pergi meninggalkan semua kenangan di rumahnya. Radit kapok tinggal di bantaran sungai, mana kalau musim hujan air sungai meluap dan parahnya kalau musim kemarau aroma sungai bikin pengap. Radit tidak ingin senasib dengan ayahnya, menghabiskan sisa usianya di ranjang pesakitan selama berbulan-bulan.

“Ibu, hari ini menu makan malamnya apa? Kalau bisa soto taoco dengan irisan ayam suwir-suwir,” tanya Radit mengalihkan topik pembicaraan. Ibunya menodongkan tangan.

“Mana uangnya? Warisan dari ayahmu tidak seberapa, seharusnya kamu yang baru pulang dari tanah rantau bawa uang banyak.” Lagi-lagi soal uang.

Radit menggaruk kepala rambutnya yang tidak gatal. Radit berlalu, menuju ke kamarnya. Radit tahu, ibunya akan secepat mungkin memberikan nasihat jitu. Sebelum itu terjadi, Radit harus menyalakan musik kencang-kencang dan seharian mengurung diri di kamar meski dengan aroma busuk dari sungai, setidaknya pikirannya tidak membusuk mendengar ibunya membanding-bandingkan dirinya dengan anak tetangga sebelah.

Sebulan kemudian, Radit mendapatkan surel balasan soal pekerjaan yang dia lamar. Alamat kantornya tidak begitu jauh dari rumahnya. Tak apa aku bisa menghemat pengeluaran jadinya, pikir Radit.

Di hari pertama kerja, ibunya sangat bersemangat. Ibunya menyiapkan soto taoco dengan isian daging ayam paling lezat. Radit mengendarai motor peninggalan ayahnya. Radit melaju dengan pongah, ingin menunjukkan ke tetangga bahwa dia juga bisa bekerja. Beginikah rasanya mendapatkan pekerjaan setelah sekian lama kuping panas karena menganggur, pikir Radit.

Ibunya tidak tahu di perusahaan apa Radit bekerja. Jika ibunya tahu, entah gunung purba sebesar apa yang akan meledak. Radit bekerja di pabrik gula. Benar, pabrik gula yang keseringan membuang limbah kimiawinya ke sungai-sungai dengan dalih penghematan pengeluaran. Tugas Radit hanya sederhana, memastikan hukum tidak tajam ke atas. Bagi Radit itu sangat mudah. Radit tinggal bersikap berlawanan arah dengan ayahnya. Dulu ayahnya sangat anti terhadap suap sementara para tetangga dengan senang hati menerima uang panas tutup mulut dan hidung. Mereka tidak bakal protes atau menuntut ke pengadilan selama ada aliran rupiah mengalir ke kantong-kantong mereka.

Selama ini, hanya ayahnya saja yang menolak uang panas itu. Ayahnya sungguh naif, begitu pikir Radit. Ayahnya memilih hidup dalam kungkungan kemiskinan. Kata ayahnya, harga dirinya lebih mahal ketimbang sekadar selembar uang yang tidak ada artinya di akhirat kelak. Radit menafikan hal tersebut. Radit percaya, dengan selembar uang, harga diri seseorang akan naik pesat. Dunia sudah berubah dan jika kita tidak mengikuti arus yang ada, kita akan tenggelam, begitu gaya berpikir Radit, mirip para pengusaha licik di seberang sana.

Dua bulan berlalu, tidak ada rintangan berarti bagi Radit di tempat kerjanya. Dapur ibunya tetap bisa mengepul dan kantong Radit semakin gendut. Beberapa langkah lagi, Radit sudah bisa membeli rumah kecil di pinggiran kota, jauh dari sungai tentunya.

Bulan kelima petaka justru datang, ibunya mengalami gejala parah mirip seperti ayahnya dulu. Sang ibu dilarikan ke rumah sakit dalam kondisi tidak sadarkan diri setelah sebelumnya napasnya terasa berat.

“Terlalu banyak udara racun yang ibumu hirup. Ginjal dan paru-paru ibumu rusak,” jelas dokter.

Petir menyambar di siang bolong. Hatinya runtuh seketika. Radit tidak ingin kehilangan dua sosok terkasihnya sekaligus. Radit ingin sang ibu turut menjadi saksi di pernikahannya nanti. Sejurus kemudian Radit malah teringat beberapa dokumen di kantor harus dia urus jika dia ingin ibunya terus dirawat semaksimal mungkin di rumah sakit besar. Radit tidak sadar, dia sedang membangun istana pasir di pantai. Air laut akan meruntuhkan usahanya selama ini, sia-sia belaka. Radit harusnya tahu itu tapi pikirannya membocah. Radit takut kehilangan pekerjaan dan menjadi pengangguran terdidik lagi. Radit tidak ingin terus melamun tanpa melakukan apapun setiap harinya. Lantas apa Radit harus membayar harga dirinya untuk sebuah pabrik yang sudah merenggut nyawa orang terkasihnya?

“Andai saja aku punya uang banyak, aku ingin buka usaha mandiri saja. Aku tidak perlu bekerja di perusahaan itu lagi, tapi sambil menunggu pekerjaan lain, apa salahnya menggadaikan harga diriku di perusahaan itu,” lagi-lagi Radit termakan oleh bujuk rayu kesenangan semu. Pada akhirnya Radit masih bertahan di perusahaan itu karena terlanjur nyaman dengan gajinya dan ibunya memang sembuh tapi siapa bisa menjamin ibunya akan terus-terusan sehat jika tetap tinggal di bantaran sungai dengan aroma limbah pabrik yang busuk. Belum lagi soal cuaca pantura yang semakin hari semakin panas akibat ganasnya perubahan iklim, lengkap sudah penderitaan yang dialami oleh ibunya sementara Radit memilih pindah rumah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *