Cerpen #367 Bentala Para Angkara

“Sebaiknya terima saja tawaran mereka, Pak. Toh kota kita sedang mengalami masa paceklik. Ekonomi masyarakat menjadi turun drastis akhir-akhir ini. Kita bisa menjual lahan itu dengan harga yang tinggi.”

Sudah satu jam lamanya sejak kami berdiri di sini, namun lelaki itu tak kunjung menyudahi desaknya. Satu jam pula kami beradu pro kontra tanpa simpulan akhir yang jelas. Semua keputusan berada di tangan Walikota. Tugasku di sini hanyalah melindungi Bumiku dari tangan kotor manusia-manusia serakah. Ya, dia contohnya. Lelaki berjas hitam di depan ku.

“Apa bapak lupa, hanya lahan itulah satu-satunya tanah kosong yang kita punya, Pak. Dimana lagi kita akan menemukan tanah kosong di Negara ini?”, belaku. Seperti yang ku bilang di awal, tugasku adalah menjaga bumi, bukan?

Aku mendekatkan tubuhku ke permukaan. Mengulurkan tanganku ke arah bawah. Mengetuk-ngetuk permukaan beton, seraya berkata. “Lihatlah apa yang telah kalian perbuat dengan bumi ini. Di mana rasa cinta kalian dengan alam? Dimana tanah yang dulunya lebat ditanami oleh tumbuhan?”

Ruangan rapat dipenuhi oleh bisikan-bisikan dari para peserta setelah kalimat terakhir, kuucapkan. Beberapa dari mereka setuju dengan pendapatku. Namun sebagian besarnya lebih memilih untuk menyetujui kontrak pembangunan dengan investor asing itu. Hari ini adalah hari terakhir sebelum pemilihan suara dilaksanakan. Kesepakatan akan diambil dari hasil pemilihan suara terbanyak.

****

Rapat telah berakhir beberapa menit yang lalu. Saat ini aku sedang berada di salah satu gerbong kereta layang. Pemandangan kota terlihat elok dari atas sini. Hanya saja, semakin hari suhu di kota semakin panas. Pagar-pagar besi pun bisa melepuh di siang hari. Suara keramaian kota tertutup oleh kerasnya musik yang kuputar lewat earphone butut milik Nenek.

“Berita terkini. Bencana alam kembali menimpa beberapa pulau di Negara Indonesia. Dua belas gunung berapi meletus di saat yang bersamaan. Penduduk setempat akan dievakuasi ke Kalimantan.” Suara penyiar berita itu menggema di setiap sudut gerbong yang aku naiki. Suara bisik-bisik para penumpang terdengar setelahnya.

“Berita selanjutnya datang dari Pulau Jawa. Tepat pukul satu silam, hutan terbesar di daerah Jawa hangus terbakar. Beberapa hewan langka berhasil dievakuasikan ke tempat penangkaran hewan langka Indonesia.” Jari telunjukku menekan gusar layar hologram di depan. Mengabaikan si penyiar berita yang sibuk menyampaikan berita. Kereta layang mulai melambatkan lajunya. Aku telah sampai di stasiun pemberhentian terakhir.

Dua jam yang lalu, pemungutan suara selesai dilaksanakan. Pengumuman hasil akhir akan disampaikan oleh Pak Gubernur, tepat pukul tiga sore. Artinya, lima menit lagi keputusan akan disahkan. Saat ini, di sebuah ruangan bernuansa putih, aku menyeka keringat yang menetes di dahiku. Jam kerjaku selesai. Hari ini aku tidak akan pulang menggunakan kereta layang ataupun mobil hologram. Cukup menggunakan flyboard.

Suhu semakin panas sepanjang perjalanan pulang. Suara gemuruh terdengar dari sudut-sudut kota. Suara gemuruh itu terdengar lebih kuat ketika bangunan-bangunan di sekitarku bergoyang. Terasa guncangan hebat dari dasar bumi. Gedung-gedung berjatuhan kesana-kemari. Bertabrakan satu sama lain. Guncangan itu semakin kuat.

Dua gunung berapi dari arah barat meletus bersamaan. Semua penduduk sibuk menyelamatkan harta mereka agar tak tertimbun oleh bangunan-bangunan yang roboh. Dadaku sesak melihatnya. Aku berlari memasuki sebuah bangunan besi yang sekiranya aman untukku berlindung. Suara-suara gemuruh itu masih saja bersahutan. Aku menutup telingaku sekuat mungkin agar suara gemuruh itu tak lagi terdengar. Guncangan itu masih terus berlanjut hingga dua puluh menit ke depan.

Tanganku bergerak membuka pintu ruangan besi. Dengan langkah gemetar, aku memutuskan melihat apa yang terjadi di luar. Api membakar seluruh sudut kota. Gempa yang dahsyat telah menghancurkan gedung-gedung tinggi. Menyisakan aku di sini, dengan peluh air mata kesedihan. Penduduk yang selamat dievakuasikan ke kota tetangga. Termasuk diriku.

Lima tahun setelah bencana tak terlupakan itu, kota kembali  membaik. Semuanya berjalan seperti sedia kala. Hanya saja, suhu kota yang semakin naik tak kunjung usai. Perjanjian pembangunan lahan sisa oleh investor asing lima tahun silam dibatalkan. Penduduk memutuskan untuk fokus kepada pembangunan ulang kota.

Kabar baiknya lagi, penduduk juga setuju atas usulanku dalam membangun taman paru-paru kota. “Benar kata Bu Walikota,  taman kota seharusnya menjadi poin penting dalam perencanaan sebuah kota. Karena selain berfungsi untuk menjaga kualitas lingkungan perkotaan yang padat aktivitas, taman kota bisa menumbuhkan rasa sosial yang tinggi di dalam lingkungan perkotaan yang kini mengarah pada sikap individual”, ujar salah seorang penduduk.

Saat ini, aku tengah menggantikan posisi Pak Ben sebagai Walikota. Beliau meninggal dalam tragedi bencana alam dua tahun silam. Ini adalah peluang besarku dalam menghijaukan kembali bumiku, menjaga bentala ini dari tangan manusia-manusia yang serakah.

Beberapa waktu setelahnya, kota menjadi hijau dan asri. Suhu udara yang panaspun itu, kini mulai menurun sedikit demi sedikit. Sejauh mata memandang, pepohonan akan terlihat indah. Para pendudukpun percaya bahwa pohon-pohon besar di negeri ini memakan manusia yang berani menyentuhnya, maksudnya ialah jika ada seseorang yang sampai berani menebang satu pohon saja, maka ia akan tenggelam ke dasar bumi. Bahkan mereka tak berani untuk memetik satu daun dari pohon-pohon tersebut. Suatu hari, dilakukan reboisasi, para pemotong pohon membaca berbagai doa serta melakukan berbagai ritual. “Saya tidak ingin tenggelam ke dasar bumi, Bu Walikota” kata sebagian dari mereka.

Satu tahun berjalan, dan kondisi kota semakin berkembang dengan baik. Musim hujan kembali membasahi jalanan kota. Lampu-lampu kota terlihat indah di bawah derasnya air. Rembulan samar-samar terlihat, tertutup oleh awan hitam. Secangkir kopi akan menemaniku malam ini, menandatangani dokumen-dokumen penting.

Ring… ring.. 

Bunyi ponsel berbentuk arloji itu menghentikan sejenak aktivitasku. “Selamat malam Bu Wali Kota. Gawat Bu, investor asing itu datang lagi. Mereka ingin mengambil alih lahan kosong”, ujar Pina, Sang Sekretaris Daerah. Aku menghembuskan nafas dengan sesak. “Baiklah besok kita rundingkan lagi. Jika perlu, kita akan menemui langsung investor itu.”

****

Aku terlambat. Hutan yang selama ini dirawat oleh penduduk telah habis ditebang oleh para investor asing itu. Tanpa perizinan dari kami, mereka akan membuatnya menjadi sebuah resort.

“Hei Ibu Walikota, kami itu membeli lahan kalian dengan harga yang tinggi. Kami juga akan memajukan kota kalian dengan resort yang akan kami bangun ini. Apakah itu tidak cukup, heh?”, ujar bapak bersabuk hitam itu.

“Kami sudah memiliki beberapa perusahaan yang biasa membangun resort di kota ini, dan kami pikir itu sudah cukup. Lagi pula, lahan itu akan kami gunakan untuk pembangunan cagar alam”, ucapku dengan tegas.

“AH SUDAHLAH! Lahan ini sudah menjadi milikku sekarang. Lihat saja nanti, hei Bu Walikota. Perusahaanku akan menjadi perusahaan tersukses di Kota ini.”

Penduduk masih sangat amat percaya dengan mitos siapa saja yang menebang pohon, maka dia akan tenggelam ke dasar bumi. Tak henti-hentinya mereka membicarakan ‘Bagaimana jika investor asing bersama para pegawainya yang terus memaksa hendak membeli lahan mereka itu tenggelam ke dasar bumi?’. Menurutku itu lebih baik daripada mereka akan terus-menerus merusak bumi.

Sekitar setengah tahun lebih pembangunan resort itu selesai. Mitos yang selama ini diperbincangkan oleh para penduduk tidak benar-benar terjadi pada mereka. Dan sekarang terbukti, perusahaan mereka sepi. Tak banyak pengunjung yang datang. Hari demi hari berlalu tanpa kemajuan pada perusahaan. Mereka mengalami banyak sekali kerugian.

Hingga suatu hari, bencana menimpa manusia-manusia serakah itu. Hujan badai terjadi di kawasan resort. Tapi anehnya, badai tersebut hanya terjadi di kawasan resort. Pemukiman penduduk, pusat kota, maupun taman paru-paru kota, tidak mengalami hujan badai. Air menghancurkan resort yang baru berdiri setengah tahun itu. Beberapa pegawai meninggal dunia akibat kencangnya arus. Ternyata mitos yang diperbincangkan di kalangan penduduk itu benar. Ya… walaupun tak sepenuhnya benar.

Dengan kecanggihan teknologi tahun 3122, penduduk kota memanfaatkan tumbuhan untuk mengatasi masalah iklim di dunia. Jika kesejahteraan tumbuhan tidak terjamin, maka iklim akan rusak, imbasnya keberlangsungan kehidupan manusia pun terancam.

Hai, aku Nara, si Walikota. Orang-orang menyebutku sebagai ‘Si Pegiat Alam’. Saat ini usiaku sudah tidak muda lagi. Oleh karena itu, aku ingin mewariskan julukan ‘Si Pegiat Alam’ itu kepada kalian para Pemuda Indonesia. Aku berjanji akan menjaga bumiku. Karena ketika kita senantiasa menjaga bumi, sejatinya kita sedang menjaga diri sendiri.

 

-Selesai-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *