Cerpen #366 Kisah Jurnalis yang Belum Menyadari Krisis dan Mulai Kritis

Gemuruh langit menjadi pertanda hujan akan datang, pria itu dengan sigap memakai mantel hujannya. Tak lama kemudian hujan turun membanjiri setiap yang dilewatinya. Dari muda hingga tua mereka berbondong-bondong mencari perlindungan sedang pria itu melaju pelan mengendarai motornya sambil sesekali mendokumentasikan kejadian tersebut. Ditengah keasikannya meliput tiba-tiba suara sirene mengejutkannya dari belakang hingga membuatnya kelabakan menepi disisi jalan.Ketika hendak melaju pria itu tersadar bahwa ketinggian air sudah mencapai mata kakinya. “Wah, bakalan ada banjir nih! Kalau terus begini motorku bisa rusak nantinya!” gumam pria itu secepatnya pergi menuju tempat kantornya.

Sesampainya dikantor seseorang melambai tangan sambil berseru, “Bayu!”. Yah, nama pria itu adalah Bayu Adilaksana, seorang jurnalis pemula yang berstatus karyawan magang. Bayu merupakan mahasiswa fakultas ekonomi yang gemar menulis berita, tapi bukan berita yang selalu huru hara di semua tv maupun reporter yang melaporkan tempat perkara.

“Ia bang Jay, ada apa?” Ucap Bayu

“Gini, team aku mau meliput banjir di Kelurahan Pasar Sore tapi kami kekurangan orang nih Bayu, soalnya bang Raka lagi izin ngurus istrinya yang lagi hamil. Kamu mau ga, gantiin?”  tanya bang Jay.

“Hmm, oke bang. Boleh atuh!” ujar Bayu diiring sontak kemenangan dari bang Jay yang kegirangan.

“Sip deh Bay, yuk kita langsung capcus,” ajak bang Jay menuju ruang pertemuan.

Sekitar 15 menit setelah arahan dan proses persiapan yang dipimpin oleh bang Jay, Bayu beserta rekan teamnya menuju lokasi kejadian. Tampak basarnas dan pihak kepolisian sudah mengevakuasi sebagian warga, dengan cekatan mereka langsung berburu informasi sesuai bagian yang ditugaskan.

“Mohon maaf pak, boleh minta waktunya sebentar?” tanya Bayu ketika hendak mewawancarai warga yang telah dievakuasi.

“Boleh nak!” Jawab bapak itu cepat. Mendengar hal itu Bayu menulis semua pernyataan si bapak lalu beralih ke pihak kepolisian dan basarnas untuk dimintai keterangan.

Hari semakin gelap hujan melimpah berjatuhan, Bayu dan teamnya pun kembali ke kantor. Setelah semua dokumen diarsipkan, Bayu dan Bang Jay keluar dari ruang pertemuan mengisi perut mereka sambil berbincang, bang Jay bercerita bertanya.

“Bay, kamu ga ada cita-cita gitu tampil di TV?” tanya Bang Jay

“Ndaklah bang, lagian Bayu masing menikmatin magang aja dulu, belajar dan berproses gitulah!” tungkas Bayu

“Wah, padahal rame loh yang minta kamu jadi reporter bahkan mau dijadiin karyawan tetap sama si Aji,” ungkap Bang Jay sesekali menyeruput mienya.

“Gimana ya bang, masih ndak kepikiran kesitu,” jawab Bayu sambil menambah bubuk cabek ke mienya.

“Hmm, iya sih Bay, pertimbangkan aja dulu. Omong-omong banjir di Medan udah makin sering aja. Udah kayak Jakarta yah!”

“Iya kan bang, aku juga mikirnya gitu. Hujan makin hari makin lalu lalang aja,” ucap Bayu membenarkan. Sehabis itu Bayu dan Bang Jay kembali dan mengurus beberapa keperluan mereka masing-masing hingga kembali ke kantor untuk keesokan harinya.

Pagi yang berkabut dengan awan mendung membuat Bayu dan Agus temannya merasakan kantuk yang hebat. Namun, suhu di dalam ruang tersebut sangat panas walau sudah di nyalakan AC.

“Gus, woe gus…” teriak Rina di balik jendela kelas, sontak membuat Agus yang saat itu terlelap terbangun.

“Apaan sih Rin!” seru Agus tak bersemangat.

“Masih pagi loh Gus, semangat dong.” Pinta Rina setelah memasuki kelas.

“Iyap, masih muda tulang masih kuat!” Sahut Lisa dari belakang.

“Kalian berdua asik buli Agus mulu, kasian Agus loh!” Canda Bayu kemudian.

“Itu ndak buli Bay, itu namanya ngingatin tahu,” jawab Lisa sambil duduk di kursi di depan Bayu dan Agus.

“Bener tuh Bay!” Lanjut Rina.

Percakapan mereka pun terhenti sejenak ketika dosen sudah mulai mengajar. Lisa, Agus, dan Rina merupakan teman dekat Bayu semasa kuliah. Mereka sering berdiskusi bersama dan nongkrong ditempat yang sama. Setelah perkuliahan selesai, mereka berempat jalan ke tempat biasa mereka nongkrong dan diskusi. Mereka memesan makanan terlebih dahulu lalu menyantapnya.

“Kamu udah selesai ya Rin?” tanya Lisa setelah semua makan.

“Ia Lis, aku udah ga kuat lagi makannya,” balas Rina merasa malu.

“Lain kali kalau tahu ga kuat kamu boleh banget ngurangin porsinya Rin, biar ga mubazir tahu. Belum lagi kamu mesannya buanyak gini, kan sayang banget,” saran Lisa.

“Iya deh Lis, maap. Tahu sendiri aku orangnya kalau pingin pasti langsung beli, cuman hari ini ndak tahu, perut cepat banget kenyangnya,” sanggah Rina.

“Okey, kali ini aja. Karena food waste gini bisa jadi penyebab pemanasan global loh.” Pungkas Lisa.

“Eh, emang iyakah? Baru tahu ni Lis,” sahut Agus sambil meminum coffe lattenya.

“Sama nih Gus!” ucap Rina.

“Nih aku kasih tahu ya, limbah makanan ini tuh berpotensi banget menghasilkan zat metane dalam jumlah yang besar. Zat ini pula lebih berdampak pada pemanasan global dibandingkan dengan CO2 tahu!” jelas Lisa

“Iya ya Lis, aku juga baru tahu nih,” ucap Bayu kemudian.

“Makanya, Bay, Gus, dan Rin. Aku kadang gedek dan miris aja liat orang yang suka buang-buang makanan. Padahal jumlah makanan yang terbuang itu bisa aja loh memberi makan orang lain,” Ucap Lisa dengan raut yang kesal bercampur sedih.

“Hmm, makanya Rin kayak aku, makan sampe piringnya bersih. Hehehe” ejek Agus pada Rina.

“Ya kali sampe piring bersih Gus, itu makan apa nyuci piring?” ucap Rina tak mau kalah.

“Eh, kalian berdua pada ngapain sih, berantam mulu!” Ucap Bayu menengahi.

“Udahlah Bay, sesekali biarin mereka. Barangkali jodoh ye kan…” Ujar Lisa menyindir keduannya.

“Ya kali deh Lis, aku tidur bareng Toa yang ada gendang telingaku ndak berfungsi lagi. Ntar Bayu nulis di koran dengan headline “Seorang suami tiba-tiba menjadi tuli setelah  tidur bareng sang istri.” Kalian mau gitu apa?” tungkas Agus yang mulai panas.

“Heh! Sorry to say ya, Aku juga ogah kali! Masa aku disanding-sandingkan ama beruang kutub sih” ucap Rina seketika membuat Bayu dan Lisa tertawa puas setelah menggoda keduanya.

“Adoh, Rin, Gus! Kalian sensitive banget sih. Padahal tadi itu cuman bercanda loh,” Ujar Lisa yang sudah tak tahan lagi pun melerai keduanya.

“Yah habisnya kalian dua tuh, ahk ga tau deh!” ucap Rina.

“Sorry deh Rin, Gus, kalian tuh lucu kalau lagi berantam,” jelas Bayu.

Keempat sahabat itupun melanjutkan perbincangan mereka dengan sedikit rumor yang ada disela-sela diskusi hingga akhirnya mereka kembali ketempat masing-masing. Adapun tinggal Lisa dan Bayu di tempat itu, sedang Agus dan Rina telah pulang terlebih dulu.

“Oh iya nih, Bay. Gimana dengan permintaan aku kemaren? Kamu bisa ga?” Tanya Lisa pada Bayu yang hendak mengirim file kerjanya.

“Hmm, aku sepertinya ga bisa Lis,” ucap Bayu sungkan.

Mendengar hal itu, Lisa langsung tertegun sebentar dan langsung mengangguk tanda mengerti. Lisa merupakan mahasiswa ekonomi yang tertarik isu-isu sosial terutama pemanasan global. Ia bahkan sebulan yang lalu mengikuti kegiatan aksi peduli bumi peduli generasi. Lisa sangat ingin mengajak Bayu dalam kampanye dan kehiatan volunteer yang akan diadakan beberapa minggu kedepan, namun sayangnya Bayu lebih tertarik dengan proyek magangnya.

“Bay, ada hal menarik yang bisa ditulis selain berita-berita tentang kebudayaan dan sejarah yang kamu post itu! Ini tentang generasi kita, tentang keberlanjutan kehidupan di masa mendatang,” ucap Lisa sebelum hendak pulang. Dalam kepalanya Lisa tampak jengkel dengan Bayu yang terus menolaknya untuk terlibat kegiatan yang ia rencanakan.

Bayu walaupun suka menulis, ia tak pernah ingin menulis tentang isu-isu politik, selebriti, maupun kriminalisitas yang menjelekkan pribadi seseorang. Ia lebih tertarik pada berita yang membahas seputar kebudayaan dan sejarah. Untuk kasus Lisa, ia sedikit berhati-hati, karena hal yang ditulis juga mengkritik. Mengingat dulu ia pernah menulis tentang kasus pembuangan limbah didaerahnya, bukannya membuat pelaku jerah malah membuatnya berurusan dengan hukum. Untung saja kasus itu bisa diselesaikan, kalau tidak sudah bagaimana nasibnya sekarang.

Keesokan harinya hari tampak cerah dengan panas yang menyengat, belum 5 menit gerimis turun namun anehnya itu tidak berlangsung lama lalu berhenti. Entah sudah berapa kali hal ini ia alami, mungkin yang kelima kalinya. “Cuaca makin sulit diprediksi”, batinnya.

Sesampainya di tempat parkiran, bayu dikejutkan oleh Lisa yang menatapnya dengan penuh permohonan, “Bay, aku udah mikirin ini dan ga ada yang bisa meliput kegiatan ini selain kamu. Ayo dong! Please?”

“Lis, aku kan udah bilang, aku ga bisa.” Sambil menunjukan gadgetnya Lisa memperlihatkan suatu gambar, “Bay, kamu masih ingin lihat keindahan budaya dan stus-situs sejarahkan?”, kemudian dibalas anggukan dari Bayu.

“Terus kamu kira tahun depan, depan, depan, depannya lagi masih bisa?”

“Masihlah”

“Oke, berarti kamu egois Bay!”

“Heh, kok jadi egois sih Lis?” tanya bayu yang masih bingung.

“Ia, kamu egois cuman mikirin diri kamu sendiri. Kamu ga bisa bayangin 1000 tahun kedepan kehidupan di bumi udah gimana, apakah generasi kita masih bisa merasakan apa yang kita nikmati ini. Walaupun terbilang sekarang pun kita sedang menghadapi krisis.”

“Huff! Oke deh Lis, yaudah aku ikut!” ucap Bayu pasrah.

“Aku ga mau nerima kalau kamu terpaksa, ntar yang ada hasinya jelek!” ucap Lisa yang langsung pergi meninggalkan Bayu saat itu juga. Bayu yang makin bingung dengan sikap temannya itu hanya bisa bergumam, “Lis, mau kamu apa sih, hadehh!”

Hari keberangkatan pun tiba, Lisa didampingin Bayu akhirnya jadi berangkat untuk meliput kegiatan volunteer beserta rombongan organisasi lainnya. Mereka berangkat ke Riau, rencananya melakukan kegiatan penghijauan di sana.

“Bay, kamu tahu ga kalau budaya dan sejarah yang kamu gemari itu bakal hilang beratus bahkan puluhan ribu lagi kalau kita belum sigap menangani krisis alam?” ucap Lisa sesampai mereka dilahan tandus nan gersang akibat kebakaran tahun lalu.

“Aku tidak tahu, tapi mungkin itu bisa aja terjadi.”

“Bukan mungkin. tapi akan terjadi Bay, isak tangis akan kelaparan akan lebih sering terdengar dan tanah tak dapat lagi menghidupi. Semuanya lahan tanpa hasil. Sama halnya seperti lahan ini. Kita harus menunggu puluhan tahun hingga bisa digunakan.” Bayu yang berdiri itu hanya bisa mendengar tanpa memberi tanggapan. Ia perlahan mulai menyimak serta mengambil beberapa dokumentasi.Dari kegiatan ini Bayu mulai sadar bahwa alam membutuhkan kita untuk hidup dan kita juga butuh alam untuk tetap hidup.

“Apakah kamu sependapat dengan Bayu? Kenapa sekarang masih diam saja? Bila aksi dan kata tidak membuatmu tertarik dan sadar. Apakah harus alam yang harus angkat suara? Apakah menunggung bencana seperti banjir, longsor, dan badai yang membuatmu getar sehingga mulai bergerak? Ayolah kawan! Bumi butuh kita.” Tulis Bayu dilaman blognya.

-Selesai

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *