Cerpen #365 Yang Pulang Bersama Kabut

Bumi seakan sudah tak merestui, manusia sudah lama takut, memilih bersembunyi. Hanya mereka para hewan menampakkan diri dengan kegilaannya. Bagaimana dengan para robot? ah, sudahlah mereka sudah lama mati, gelombang elektromagnetik membuat mereka menjadi rongsokan tak bernilai. Ini cerita tentang Sang Mahakuasa yang semakin murka akan dunia. Ini tentang para penjaga langit yang sudah pergi tak peduli. Tak ada lagi senjata, tak ada lagi pistol apalagi nuklir yang begitu dahsyatnya, yang ada hanya bambu runcing, dan keberanian diri. Biarkan langit berdiam tak menangis. Biarkan matahari terus abadi menyinari. Dan biarkan mereka semua menatap jeri, dunia mereka menjadi pecahan piring tak bernilai.

Gong…..

Gong…..

Suara itu terus datang memekakkan telinga. Seakan pertanda bahwa alam sudah lelah. Ini 10 tahun setelah bencana itu datang. 10 tahun yang kelam. Mungkin akan sulit membuat kalian paham akan hal ini. Mari izinkan aku menceritakan tentang sebuah kisah. Kita kembali ke masa di mana dunia penuh dengan para robot yang berlalu lalang. Bahkan manusia masih santai menampakkan diri di permukaan. Tak ada yang bersembunyi dalam gua. Gedung pencakar langit masih kokoh berdiri. Ini adalah kisahnya, Marram anak emak.

“Marram kan anak emak.” seruan Marram tampak samar-samar terdengar di antara hingar bingar penduduk. Ini sudah pukul 8 pagi, seluruh dunia sudah mulai bangun menyibukkan diri. Bahkan dia, Marram si anak emak. Pagi-pagi setelah salat subuh sibuk berbicara itu.

“Marram kan anak emak.”

Emaknya yang mendengar hanya tersenyum mengangguk, entah apa pasal putri bungsunya itu berbicara begitu. Dia terlalu sibuk menyiapkan berbagai hal. Ini pagi yang spesial bagi keluarga mereka. Mereka akhirnya bisa membeli robot keluaran terbaru. Robot pertama dan terakhir yang akan mereka beli. Tidak seperti keluarga lain yang perlu beribu-ribu robot, mereka cukup perlu satu Itulah yang menjadi alasan Marram berbicara itu.

“Kan ada Marram anaknya emak, kita kan gak perlu robot lagi. Marram kan bisa bantu bantu emak, emak gak perlu robot, ya kan?” Marram sekali lagi merengek. Hanya dia yang tidak suka kabar bahagia ini. Dia merasa posisinya akan tergeser jika ada robot di rumah mereka. Emaknya hanya mengusap rambut ikalnya yang begitu lembut.

“Kan memang Marram anaknya emak, siapa yang bilang Marram bukan anaknya emak?” Emak dengan sabar meladeni rengekan Marram. Marram sekali lagi merengek. Membuat sesosok monster terbangun dari tidurnya. Wajah monster itu bak siap menerkam Marram dari belakang. Berhitung.

“Heh Bocil, ganggu banget deh.” Monster itu melotot, mata merah khas bangun tidurnya tampak mengerikan. Tapi lihatlah si kecil Marram, bukannya takut, malah tampak bahagia. Riang berlari-lari, lupa bahwa tadi sempat merengek-rengek pada emak.

“Lari… ada monster. Emak ada Kak Ranti.” Kak Ranti yang awalnya hanya diam melotot kini semangat mengejar Marram. Dan terjadilah permainan itu. Lari dari monster. Emak yang masih sibuk dengan urusan dapur hanya dapat menggeleng-geleng, setidaknya kini Marram, tak lagi merengek. Bilang bahwa dia anaknya emak.

Tapi sayang kebahagian itu tidak bertahan lama, lebih tepatnya memang tidak ditakdirkan untuk bertahan lama. Ketika dunia tengah sibuk dengan urusannya. Ketika para robot tengah sibuk berlalu lalang mengantar tuannya. Badai itu dengan cepat menghancurkan semuanya. Kejadian itu terjadi begitu cepat. Tak ada yang tahu menahu asalnya. Semua lampu padam. Seluruh dunia dalam kegelapan. Ingin mencari penerangan? terlambat, semua barang elektronik kini terogak bisu. Bahkan ketika tuan mereka membanting mereka berkali-kali memaksa untuk menyala. Tidak, tetap bergeming. semua sempurna raib, menyisakan gelap gulita.

Bagaimana dengan Sang Surya? bukankah dia senantiasa bersinar. Tapi tak ada lagi Sang Surya di atas sana, digantikan oleh kabut tebal yang mulai menyelimuti seluruh dunia. Seruan panik kini berada dimana – mana. Seluruh dunia kacau balau. Tak ada yang menduga pagi yang cerah kini telah menjadi mencekam.

Lihatlah, jalanan kota yang awalnya padat merayap dengan seruan panik orang-orang kini menyisakan lengang. Mereka semua ikut membisu, tak lagi bergeming. Mayat-mayat menghiasi jalan, pasar, bahkan lautan luas. Semua ini karena badai itu , Dukhan badai yang menjadi janji Tuhan dalam kitab sucinya.

Ketika badai itu dengan ganas membinasakan seluruh manusia, lihatlah sekali lagi Marram, anak kecil itu dengan mandiri menutup seluruh pintu, Mana emaknya? Mana Kak Ranti? mereka sudah syahid. Badai itu berlangsung bagai racun mematikan, menghirup sedikit udaranya sudah membuat mata kepanasan, menyiksa kerongkongan. Emak dan Kak Ranti tak sengaja menghirupnya. Ketika kejadian itu mereka masih sibuk bermain kejar-kejaran. Lampu padam, bahkan kompor otomatis yang sedang digunakan Emak juga padam. Teriakan dimana-mana.

***

“Ranti cobalah kau cek di luar ada apa, sudah 80 tahun yang lalu lampu tak pernah padam, ini sungguh mengejutkan.” Emak berkata dengan wajah cemas, ditambah ini baru jam delapan pagi. Tapi lihatlah, langit tak sedikit pun menunjukkan sinarnya.

Kak Ranti mengangguk, dia bersiap mengambil kacamata hologramnya. Itu benda canggih, tak hanya berguna untuk melihat sesuatu yang rabun oleh mata, kacamata itu juga bisa mendeteksi, memindai, bahkan mengirim sinyal. Tapi lagi lagi sungguh mengherankan. Kacamata itu raib, diketuk ketuk berkali-kali tidak bergeming. Kak Ranti melapor pada Emak, wajah tua Emak yang sudah menginjak setengah abad tampak tertegun. Panik. Bertanya apakah tak ada benda lain yang bisa dipakai ? Menggeleng. Semua sempurna Raib.

Marram awalnya takut, tak sedikitpun dia melepaskan genggamannya pada Emak. Menangis. Suaranya sudah habis, dari tadi dia sibuk berteriak, melafalkan asmaul husna. Teringat nasehat Pak Kyai kemarin.

Inilah yang spesial dari keluarga itu. Mereka adalah segelintir orang yang masih berburu ilmu agama. Cobalah kau lihat sendiri, bahkan masjid pun tak pernah memiliki makmum lebih dari sepuluh orang. Teknologi sudah canggih, tak perlu lagi mereka belajar sesuatu yang ghaib. Semuanya sudah ada di dunia, kenapa pula kau susah-susah mencari surga. Begitu kata tetangga tempo hari, ketika Emak dengan bangganya bilang ingin menyekolahkan Marram di pondok Pak Kyai. Tapi Emak tak pernah peduli, baginya teknologi, kekayaan, bahkan jabatan tak ada artinya jika kau lupa akan Yang Mahakuasa. Begitu nasehat Emak setiap habis salat subuh. Emak juga tak bosan-bosannya menceritakan kisah para sahabat nabi. “Untuk bekal kalian nanti saat Emak dan Bapak sudah tiada.” Kata Emak.

“Yasudahlah Mak biar Ranti cek langsung di luar.” Kak Ranti dengan berbekal keberanian memutuskan melangkah keluar. Sepuluh menit ditunggu tak ada kabar akan kembali, tiga puluh menit lewat. Emak mulai gelisah. Sedangkan Marram, masih betah mengenakan mukena pinknya hadiah dari Bapak. Tadi sembari menunggu Kak Ranti, Emak mengajak salat. Meminta pertolongan pada Tuhan.

“Kak Ranti belum balik ya Mak?” Tanya Marram lirih, teriakan-teriakan yang dari tadi menghiasi sudah lama hilang. Menyisakan lengang. Emak menggeleng. Kini tangan emak meraba-raba sibuk mencari sesuatu.

“Marram, Marram anaknya emakkan?” Yang ditanya mengangguk, meskipun gelap dia seakan masih bisa menatap wajah teduh Emaknya. Tersenyum. Mengusap pucuk kepalanya.

“Marram dengarkan Emak ya, baca terus surah-surah yang sudah Marram hafalkan dengan Pak kyai. Jangan pernah bukakan pintu, jendela, bahkan lubang sedikitpun jangan pernah. Tetap di sini ya, jangan kemana-mana. Nanti Bapak pulang kesini jemput Marram. kalau Marram lapar, Marram pasti sudah lebih tau di mana tempatnya. Jika ingin tidur Marram juga jelas lebih lihai. Tapi jika Marram takut, kedinginan, Marram peluk ini, jangan pernah dilepas.” Emak sekali lagi tersenyum menatap wajah putri bungsunya, meskipun gelap Emak juga seakan bisa “menatap” wajah itu. Emak menyerahkan sebuah Al-Quran, didekaplah Al Qur’an itu oleh Marram.

Marram tahu Emaknya akan pergi, Marram jelas lebih tahu akan hal itu. Emak tak perlu menunggu lagi sudah bangkit. Dia harus mencari putri sulungnya bagaimanapun keadaannya saat ini. Terakhir sebelum melangkah keluar Emak mencium kening Marram, lama sekali. Saat itulah ketika hati Emak sudah ikhlas, ketika Marram sudah tidak takut lagi, seribu malaikat bertasbih, sungguh elok tiada tara. Menghiasi angkasa.

Emak akhirnya pergi meninggalkan Marram sendiri. Marram memang baru delapan tahun baru mengaji dengan Pak Kyai satu minggu yang lalu. Tapi Marram lebih dewasa daripada itu. Marram memang suka merajuk, menangis, menjahili kakaknya. Tapi dia jelas lebih lihai akan hal itu. Kesendirian. Karena dia tau, Emak akan selalu ada di sana, bahkan walau tak terlihat oleh mata.

****

Ini sudah hari kesepuluh Marram tak keluar rumah. Badai itu masih sibuk berkeliaran mencari mangsa. Marram seperti perintah Emak masih senantiasa duduk bersimpuh di situ, masih mengenakan mukena pinknya. Belum mandi sejak sepuluh hari lalu. Jujur Marram takut, juga bingung. Air tak menyala, kamar mandi elektroniknya pun tak nyala, padam. Bagaimana mau mandi? Bahkan selama sepuluh hari Marram hanya memakan dua potong apel. Tak berselera makan. Lebih banyak menghabiskan mengaji surah, sesuai kata Emak. Setelah lelah mengaji, beranjak tidur, tetap tidak berpindah tempat. Begitu terus kegiatannya, tapi mau bagaimana lagi, dia tak bisa keluar.

Tepat di hari ke empat puluh, hari yang dijanjikan. Badai itu raib seketika. Udara segar kembali berdatangan. Matahari kembali terik menyinari bumi. Dan saat itulah, Marram keluar rumah. Wajah mungilnya tampak elok disinari sang surya. Rambut ikalnya mengombak-ombak tertiup angin. Tapi senyum tak sedikitpun terukir dari wajahnya. Dia seketika berlari. Sial. Tersandung bongkahan robot. Wajahnya meringis menahan sakit, Dahinya juga lecet, tadi dia jatuh kuat sekali. Tapi dia tidak peduli terus berlari. Tubuh mungilnya seakan tau apa yang harus dicarinya. Kak Ranti. Kak Ranti ada di depan sana.

“Kak….Kak Ranti, Marram takut kak.” Gadis itu akhirnya menangis, memeluk tubuh dingin kakaknya. Lihatlah, betapa mengerikan tubuh itu. Panas. Kulit Kak Ranti mengelupas tak ada sisa. Matanya bahkan tak terpejam, sempurna terlihat putihnya. Marram takut sekali. Dia memutuskan kembali melangkah. Masih ada dua orang yang harus dia cari. Sebelum itu, sebelum dia beranjak pergi. Dia mengecup kening kakaknya, lama sekali. Dan kejadian itu terulang kembali, saat Marram sudah ikhlas, saat wajah kakaknya sudah sempurna ia tutup dengan kain seadanya. Ketika ia sempurna menengadahkan kedua tangannya, memohon. Malaikat ikut bertasbih, mengamini segala doa yang ia panjatkan. Sungguh elok.

Marram beranjak pergi, sekarang hatinya lebih tenang. Hari telah petang dia tak kunjung menemukan Emak, apalagi Bapak. Dia terlanjur letih, memutuskan istirahat sebentar di depan sebuah taman. Itu adalah taman yang indah, tapi menjadi mengerikan karena banyak mayat teman nya yang membusuk disana. Andaikata badai itu tak datang, taman ini sangat mengagumkan, dipenuhi alat-alat futuristik yang maha megah. Tak terbilang cahaya kerlap-kerlip yang menjalar di setiap sudutnya. Tapi apa daya hal itu kini tak ada nilainya, semua teronggok bisu. Lengang. Seakan tak ada lagi yang tersisa selain dia. Bingung harus melakukan apa, Marram bergegas pergi. Menuju tempat yang setiap hari ia datangi, surau.

Marram mengambil air wudlu, tidak tahu sebenarnya ini pukul berapa. Melangkah mantap menuju surau, jika keadaan normal biasanya Marram dan lima anak lainnya tengah mendengar kisah dari Pak Kyai. Sesekali mereka berceloteh, tertawa, berceloteh lagi.

“Permisi nak, boleh kulo ikut salat.” Seorang nenek paruh baya tiba-tiba muncul dari balik pilar masjid. Namanya Mbah Yo, terkenal sering sakit keras. Mbah Yo tampak kesulitan dengan selang selang infus elektroniknya. Tentu saja selang itu sudah tak berguna, sudah mati. Tapi Mbah Yo tetap merasa membutuhkannya. Mbah Yo mendekat dengan susah payah, jika biasanya dia bisa bergerak cepat dengan kursi roda terbangnya, kini ia harus sukarela bergerak dengan manual. Marram yang lega karena masih ada orang lain yang hidup selain dia memutuskan membantu Mbah Yo berjalan. Salat berjamaah pun dimulai, Siapa yang menjadi Imam? tentu Mbah Yo, sepintar-pintarnya Marram mengaji tetap dia sering lupa gerakan salat, maklum masih muda katanya.

“Mbah Yo kok masih hidup?” Marram sehabis berdoa selepas salat, langsung menceloteh panjang lebar. Dia rindu berbicara dengan orang, itu tabiatnya. Mendengar pertanyaan spontan dari Marram, Mbah Yo terkekeh.

“ Ya Alah cah ayu, Mbah Yo gini-gini ya kuat. Mau gak hidup gimana, orang selama badai Mbah Yo gak pernah keluar.” Mbah Yo mecubit gemas pipi Marram, membuat pipi itu terlihat merah. Marram mengaduh sakit tahu batinnya. Sebelum sempat Marram bertanya lebih lanjut, petir menyambar, menggelegar memekakkan telinga. Terperanjat sudah dua manusia itu. Trauma akan badai, Mbah Yo dan Marram tergopoh-gopoh segera masuk ke dalam surau. Tapi tenang sudah hati mereka, ternyata itu hanya hujan badai biasa.

“Alhamdulillah, ku kira bakal muncul lagi badai sialan itu.” Mbah Yo mengusap dadanya, masih ada rasa terkejut yang menyeruak di dadanya. Sedangkan Marram terpesona sudah dia melihat hujan. Jarang sekali dia melihat hujan, bukan, bukan karena tak pernah turun hujan. Tapi ada lapisan elektromagnetik yang menampung air hujan di atsmosfer, membuat bumi tak terkena hujan itu.

“Semoga hujan ini membuat rahmat.” Ucap Mbah Yo sambil tersenyum simpul. Tidak, Hujan itu jauh dari pertanda baik.

***

Hujan itu sedikit memberkahi bumi, setidaknya hujan bisa menghilangkan rasa panas yang tersisa dari Badai itu. Tapi tidak setelahnya. Kekeringan menjalar ke seluruh dunia, Mbah Yo dan Marram sudah lama pindah. Sempat menetap di surau selama sebulan. Tapi tentu hal itu tak bertahan lama, mereka harus mencari sumber kehidupan. Mencoba tinggal di pusat kota, ide buruk. Kini para hewan sudah menguasai setiap jengkal kota, singa-singa santai berlenggak-lenggok di taman kota. Para tupai tak lagi takut menampakkan diri. Bahkan jerapah pun ikut andil dalam kekuasaan, menetap di rumah walikota yang cukup menampung leher panjangnya. Mbah Yo menghela napas menggeleng, para hewan tentu akan mengamuk melihat anggota baru di pemerintahan mereka. Sebaiknya mereka pergi, pasti ada tempat yang lebih aman.

Kini mereka sampai di pemberhentian selanjutnya. Gurun Sahara. Itu ide yang lebih buruk lagi. Kini Marram yang menggeleng, tidak, mereka tak kan bertahan hidup bahkan satu hari pun di tempat ini.

Hingga akhirnya mereka menemukan sesuatu yang menakjubkan. Jika mereka berpikir mereka adalah satu-satunya yang selamat, tentu itu salah besar. Goa. Itulah pertemuan awal mereka dengan Kelompok bertahan hidup. Setidaknya ada setitik harapan yang mereka dapatkan.

“Saya mohon sekali pak, kami bisa memberikan apapun. Uang? Bapak butuh uang, saya bisa jual tubuh saya pak. Makanan? Bapak butuh makanan, saya siap dijadikan bahannya.” Mbah Yo tampak sudah pasrah, dia sudah memohon berkali-kali, jawabannya tetap sama. Tidak. Bos Bahar ( Begitu mereka menyebutnya ) bilang bahwa persediaan mereka tidak memadai untuk tambahan anggota.

“Pak tolong ya…” Kini Marram akhirnya tergerak, tangan mungilnya menggenggam erat lengan Bos Bahar. Bos Bahar mengusap wajahnya, menoleh kebelakang, sesosok wanita mengangguk tersenyum bantulah mereka. Bos Bahar akhirnya mengangguk, baiklah mereka boleh tinggal disini.

Marram senang sekali tinggal disitu, maupun harus ikut berburu, ikut mencari makanan, mengangkut air yang tersisa, itu bukan masalah besar. Marram belajar banyak di situ. Termasuk kalimat “Krisis Iklim” yang selalu ia dengar dari mulut orang orang.

“Itu Mbah kata Pak Janu kita lagi kena itu apa namanya, krisis iklim. Iya krisis iklim. Hujan soalnya gak turun-turun Mbah.” Celotehan itu terus keluar dari mulut Marram, sehabis sholat berjamaah, mengaji bersama Mbah Yo, Marram berceloteh panjang lebar. Mbah Yo hanya mengangguk-angguk terlanjur ngantuk berat mendengarnya, lantas jatuh tertidur. Memang benar hujan sudah satu setengah tahun tidak turun, tahun kemarin masih lumayan ada gerimis sedikit demi sedikit. Tapi menginjak tahun kedua tak ada sama sekali hujan akan turun. Membuat dampak besar pada seluruh dunia.

Bahkan hewan-hewan yang awalnya merasa menang telah menguasai kota, kini juga ikut kewalahan. Air menipis. Bos Bahar yang sudah tak kuasa mulai melakukan hal-hal aneh. Seperti memberikan sesajen, merapalkan mantra pemanggil hujan, bahkan sampai “berkencan” dengan awan.

“Ini sudah kelewat akal Bos, sudah hampir tiga tahun tidak ada hujan? Gila. kurasa aku akan menyusul istriku mati saja.” Pak Janu (salah satu mantan ilmuwan) meremas rambutnya, frustasi. Istri dan kedua anaknya berhasil selamat dari badai tapi tidak dengan krisis iklim kali ini. Meninggal dua hari yang lalu. Tak hanya istrinya, hampir seluruh orang yang selamat bergantian pergi. Tersisa Marram, Pak Janu, dan Bos Bahar. Mbah Yo masih hidup sebenarnya, tapi sudah tak kuasa melihat bahkan mendengar, hanya bisa mengerang. Marram dengan telaten merawatnya. Kini Marram sudah tumbuh dewasa, tingginya bertambah beberapa senti, sudah pandai mengarang cerita.

“Ngenggg…. ngenggg.” Mbah Yo lagi-lagi mengerang. Marram dengan sigap mendekap, mengambil air putih. Tapi Mbah Yo kali ini tidak mau minum. Tidak juga makan. Dia hanya mau bertemu Marram. Mbah Yo menggerak gerakkan tangannya di telapak tangan Marram, selama ini itu cara mereka berkomunikasi. Bahasa Isyarat.

“Marram, anak manis. Yang suka berceloteh setelah selesai shalat subuh, membuat mengantuk saja. Hei, bukannya berdoa malah cerita saja. Bagaimana Pak kyai mu mengajarimu Heh? tapi bagaimanapun Mbah bangga padamu Marram. Andaikata Mbah bisa berbuat lebih, Mbah ingin ikut membantu Marram, mencari Emak. Tapi sudah tua begini malah bikin beban saja nanti. Yaudahlah ya Mbah mau pamit pergi. Mbah yakin Marram kuat. Kau lebih lihai akan hal itu.” Pesan itu selesai. Mbah Yo tersenyum. Sudah cukup semuanya, sudah cukup semua tugasnya. Dan kejadian itu akhirnya setelah sekian lama terulang lagi. Ketika tubuh Mbah Yo sudah sempurna dingin, ketika akhirnya Marram kembali menengadahkan tangannya. Seribu malaikat bertasbih, mengamini doanya. Sungguh elok, bagai purnama yang tak terhingga cahayanya.

***

Setelah kepergian Mbah Yo, Marram memilih pergi. Merantau. Di setiap langkahnya hanya ada tanah merah merekah, tak ada tumbuhan hijau, tak tampak singa-singa tempo hari yang berlenggak-lenggok riang. Hanya ada lengang, sesekali burung pemakan bangkai lewat melintas. Mereka bertahan hidup dengan sangat baik. Malah sepertinya mereka yang sekarang menguasai bumi.

Marram tak pernah menyalahkan keadaan, tak pernah menyalahkan Tuhan. Kenapa? Karena Marram tau persis semua ini terjadi bisa jadi karena ulah manusia. Atau bisa jadi ini sudah menjadi janji Tuhan. Atau mungkin bumi sudah lelah, sudah waktunya beristirahat. Lebih baik Marram menyari Emak.

Marram jatuh tersungkur, kakinya kelelahan. Sudah hampir 12 jam dia tak henti berjalan tanpa arah, terus ke barat. Tapi kakinya sudah tak sanggup, tubuh mungil itu jatuh. Menyisakan helaan nafas lelah tuannya.

“Ya Allah, Marram cuma mau bertemu Emak sekali saja.” Dan sekali lagi Malaikat mengamini setiap perkatannya menunjukkan pada Marram seberkas cahaya indah di pelupuk matanya. Itu Emak. Emak sedang naik ayunan, menunggu Marram.

“Emak…. maaf ya Marram tak pernah lihai soal itu. Kesepian. Marram hanya ingin Emak tersenyum, menatap bangga. Marram tak pernah pandai mengaji, sering bolos, membuat Pak Kyai naik darah berkali-kali. Marram cuma mau liat senyum Emak. Karena Marram anaknya Emakkan?” Persis kalimat ini sudah ada di ujungnya. Ketika itu pula Marram sudah lelap tertidur, kembali pulang ke dekapan emaknya. Selang beberapa saat, Marram sudah tiba di tempat terakhir. Surga. Seribu malaikat itu kini pergi, tugasnya sudah usai, pulang bersama kabut sisa hembusan bumi yang paling terakhir.

16 thoughts on “Cerpen #365 Yang Pulang Bersama Kabut

  1. Ini cerpen yang sangat indah dan bagus, bagaimana kisah seorang anak yang bernama Marram dan Ranti yaitu kisah anak yang taat ibadah dan patuh kepada ibunya pada masa hudupnya pada akhir hayatnya insha Allah sahid meninggal karena bencana yaitu Ranti dan ibunya pada akhirnya setelah mencari ibunya tidak ketemu Marram kesepian dan rindu ingin bertemu emaknya Allah mengabulkan do’a Marram dan malaikat selesai sudah melaksanakan tugasnya mempertemukan Marram dan ibunya di surganya Allah Subhanahu Wata’ala. Hebat semoga bisa menginspirasi kepada penulis dan pembacanya untuk terus berkarya..

  2. bagus dan menarik ceritanya,,,
    ada pesan yang begitu dalam… “teknologi, kekayaan, bahkan jabatan tak ada artinya jika kau lupa akan Yang Mahakuasa”..

    Semoga kita selalu diberi hidayah untuk selalu ingat kepada Allah SWT.
    amin.

  3. Alur ceritanya cukup bagus…
    Memberikan banyak pelajaran hidup, untuk selalu bersyukur dan bersabar menghadapi berbagai ujian dan cobaan selama di dunia.

  4. rangkaian paduan kata membawa kita untuk terus terbawa cerita. ada hikmah tersembunyi dibalik cerita penulis tentang esensi rasa syukur kepada Tuhan yang harus tetap kita jaga sampai akhir hayat kita.

    sukses buat penulis.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *