Cerpen #362; “Hilangnya Keasrian Bumi”

 “Sekian materi dari ibu, ada yang mau ditanyakan anak-anak?,” tanya bu Risya kepada kami. Seketika kelas hening, seperti tidak ada orang sama sekali. “Baiklah, ibu cukupkan sampai disini, sekarang kalian boleh istirahat,” jelas bu Risya. Dengan sekejap, kelas pun kosong. “Hey Lania, bengong saja”.

 Sontak aku pun kaget karena ada yang menepuk pundakku. “Ya, aku sedang berfikir tentang tugas yang diberikan bu Risya,” jelasku kepada sahabatku, Riana. Mulut Riana pun membentuk huruf o, seketika terlihat bahwa dia paham apa yang aku maksud. “Ya jangan pusing-pusing gitu Lan, kan kita hanya disuruh untuk meneliti alam, lagipula kamu suka IPA kan??” terang Riana.

 Aku pun menganggukkan kepala, kemudian aku melanjutkan makanku yang tadi sempat tertunda. Setelah istirahat selama 20 menit, aku dan seluruh teman-temanku pun masuk ke dalam kelas untuk kembali belajar. “Hey, sebelum kita masuk kelas, lihat mading dulu mau? Tadi, kata bu Risya kan disana ada nama-nama kelompoknya,” ajak Riana. Aku pun mengiyakan ajakan Riana.

 Setelah melihat mading, aku pun bergegas ke kelas untuk memberitahu semua teman sekelasku. “Perhatian teman-teman, maaf mengganggu waktu kalian, disini saya selaku ketua kelas ingin menyampaikan nama-nama kelompok tugas IPA, tolong perhatikan sebentar ya!!!” ucapku sambil berteriak di depan kelas, kemudian, aku membaca satu persatu nama yang telah aku foto tadi. “Dan, kelompok terakhir terdiri atas, Vino, Riana, aku/Lania, Vika, Esti, dan Toni”.

 Setelah memberi tahu nama-nama kelompok, aku pun duduk di bangku untuk menunggu guru mata pelajaran selanjutnya. Sudah 45 menit kami menunggu, ternyata guru-guru mata pelajaran ingin rapat, jadi kami diperbolehkan pulang lebih awal. “Kenapa harus hujan sih? Aduh, gimana aku mau pulang? Telepon pak Vito lagi saja deh,” gerutu ku dengan nada agak tinggi karena saat ingin pulang ke rumah, turun hujan yang sangat deras. Tin Tin, terdengar suara klakson mobil, aku pun menengok kearah luar sekolah, ternyata pak Vito sudah sampai di depan gerbang.

 “Maaf, non Lania, tadi di depan rumah banjir, 1 kompleks banjir semua, makanya mobil tidak bisa keluar rumah,” jelas pak Vito. Aku pun bingung bukan main, aku berfikir mengapa kompleks yang begitu bersih bisa banjir? Ini pertama kalinya kompleks yang aku tinggali terkena banjir. Saat sampai di depan rumah, sontak aku kaget karena halaman rumahku sudah tergenang air. Aku pun berjalan perlahan masuk ke dalam rumah. “Assalamualaikum, ma,” salamku pada mama sesampainya didalam rumah.

 “Waalaikumsalam, eh Lania sudah pulang? Bagaimana sekolahnya?” sambut mama. “Baik kok ma, ma ini halaman rumah kok bisa banjir? Untung sebelum pintu rumah ada tangga, kalau enggak udah masuk air nya,” tanya ku tergesa-gesa. “Kalau Lania mau tau, ganti baju dulu, nanti mama kasih tahu,” jawab mama, aku pun segera ganti baju kemudian dengan segera menemui mama lagi.

 “Jadi gini Lan, ada satu rumah di blok G yang suka membuang sampah sembarangan, jadi kan di blok G itu ada sungai kecil yang mengalir ke danau, nah keluarga yang tinggal disitu suka banget membuang sampah ke situ, sedangkan di tengah-tengah sungai ada penyaring sampah agar aliran airnya tetap bersih, nah dulu sebelum kita pindah kesini, pernah terjadi banjir besar yang membuat lebih dari 10 rumah hancur, penyebabnya adalah sumbatan di sungai itu, saat di cek oleh petugas, ternyata ada banyak sampah yang tersumbat, sampah itu diduga berasal dari salah satu rumah di blok G itu, nah keluarga yang tinggal dirumah penyebab banjir tersebut dipindahkan ke blok lain yang tidak berdekatan dengan sungai agar tidak membuang sampah sembarangan lagi, tapi di tahun 2012 saat kita pindah, keluarga itu memaksa untuk pindah ke rumah lama mereka, dan akhirnya mereka tinggal di rumah lama mereka,” cerita mama panjang lebar.

 “Berarti, sekarang penyebab banjir nya apa ma?”, tanyaku penasaran. “Belum tahu, karena petugas yang bertugas mengecek aliran sungai belum datang,” jawab mama. Aku yang telah puas mendengar semua cerita pun langsung pergi ke kamarku. Kringg, bunyi nada dering telepon terdengar dari ruang tamu, aku yang sedang menonton televisi pun bergegas menuju kamar. Setelah sampai, aku pun langsung mengangkat telepon yang entah dari siapa.

 “Lania, aku sudah menelepon mu berkali-kali tapi kamu tidak mengangkatnya,” terdengar  sebuah suara yang ternyata suara Esti. “Ya, maaf Esti, aku sedang menonton televisi, kenapa telepon aku??” jawabku dengan singkat. Esti pun menjelaskan maksud dan tujuannya untuk menelefon. “Eumm, ya kalau masalah kerja kelompok IPA bisa dirumahku, kamu tanya yang lain saja ya,” ucapku sembari menutup telefon.

 Setelah selesai berbicara dengan Esti, aku pun turun ke bawah menuju meja makan untuk makan malam bersama, yap, aku menonton televisi itu jam 7 malam. “Ma, besok teman-temanku akan datang untuk kerja kelompok, aku sudah tahu mama akan perbolehkan, tapi masalahnya aku bingung dengan pertanyaan yang diberikan,” ucapku mengadu kepada mama. “Memangnya soalnya seperti apa?,” tanya mama.

 “Tentang gambaran bumi 100 tahun ke depan, seperti apa ya?? Makin canggih atau malah jadi terpuruk atau jadi makin buruk?” jawabku singkat, mama pun menarik nafas dalam-dalam dan mulai menjelaskan padaku. “Bumi 100 tahun ke depan bisa menjadi 2 faktor, bahkan bisa menjadi kedua-duanya loh! Intinya bumi itu kalau dijaga terus menerus bisa semakin canggih loh, tetapi ada faktor buruknya juga, zaman-zaman sekarang ini, banyak sekali yang mencemari bumi, orang banyak yang membuang sampah sembarangan, sehingga menyebabkan banjir, ada juga yang sering membakar sampah, itu juga berakibat fatal pada bumi loh!,” jawab mama panjang lebar.

 “Kalau membakar sampah itu selain bisa mengakibatkan udara menjadi kotor bisa menyebabkan apalagi ya ma?” tanyaku pada mama. Mama pun hanya mengangkat bahunya, terlihat seperti aku harus mencari tahu akibatnya sendiri. Aku pun bergegas menghabiskan makanan ku, kemudian aku bergegas mengerjakan tugas-tugasku yang tertunda sejak tadi siang. Malam semakin larut, aku pun tak tahan lagi menahan kantuk ini, akhirnya aku pun memutuskan untuk tidur dan meninggalkan tugas-tugasku, untung saja tugas tersebut masih lama dikumpulkannya.

“ Laniaa…..Laniaa,” terdengar sayup-sayup suara mama memanggil namaku. Aku pun membuka mata, mama pun menyuruhku untuk segera sholat shubuh dan mandi. “Uhh, seger banget deh mandi jam setengah 6, hmmmm, aku mau keluar rumah deh, mau menghirup udara segar,” ucapku setelah selesai mandi. Aku pun segera pergi ke luar rumah lalu menghirup udara segar, baru saja 10 menit menghirup udara segar, tiba-tiba tercium bau asap.

 “Ihh, pagi-pagi sudah ada asap, ada yang membakar sampah kah?” tanyaku dalam batin. Aku pun segera masuk ke rumah karena takut badanku menjadi bau asap. Aku pun segera sarapan dan langsung pergi ke sekolah. Sesampainya di sekolah, aku menepuk bahu sahabatku, “Pagi Rin, eh kan kita hari ini mau kerkom (kerja kelompok), nah aku punya ide bagus nih tentang isi tugas kita!!” kataku berseru kepada Riana. Riana memberikan kode tanda tanya padaku, aku pun hanya mengangkat bahu seperti merahasiakan hal itu.

  “Selamat datang dirumah Lania teman-teman!!!!,” seru Riana sesampainya dirumahku setelah pulang sekolah. “Ekhem, yang punya rumah siapa ya?? Ya sudah, langsung ke kamar ku yuk teman-teman!!!,” seruku pada semua teman-teman yang datang kecuali Riana. “Ayooo!!!!,” seru mereka semua. Citttt, bunyi pintu terdengar sangat jelas, aku pun mengajak semua teman-temanku masuk ke dalam kamarku. “Duh, hari ini panas banget ya, lapisan ozon mulai menipis kah?,” ucap Vino.

 “Ozon?,” ujar kami serentak, kecuali Vino. Vito pun mengangguk-anggukkan kepala. Seketika seisi ruangan hening, karena masih bingung dengan apa itu ozon. “Nanti kasih tahu kami deh apa itu ozon, kita mulai saja yuk! Tapi aku nyalain AC dulu ya panas banget,” ucapku memecah keheningan. Mereka pun mengangguk setuju.

 Kami pun memulai penelitian di dalam rumah. Kami pun menulis satu persatu hasil penelitian yang kami dapatkan. “Nah, jadi kan tadi pagi ada pembakaran sampah di dekat rumahku, dampaknya selain mengotori polusi apa lagi ya?,” tanyaku kepada semua teman sekelompokku. “Menipisnya lapisan ozon di bumi,” jawab Vino. “Hah? Ozon apaan sih?”.

“Kalian ini ya, sudah kelas 7 masih saja tidak tahu apa itu lapisan ozon, lapisan ozon itu adalah lapisan pelindung bumi dari radiasi ultraviolet yang berasal dari matahari, kalau ozon menipis, bisa bahaya loh buat kita para manusia,” jelas Vino. “Salah satu penyebab menipisnya lapisan ozon adalah asap pembakaran sampah,” tambah Toni. “Hah? Oh ternyata ini yang mama sembunyiin dari aku,” batinku. “Yasudah, karena kita sudah tahu apa itu ozon, kita tulis saja, nanti kan ketahuan kondisi bumi 100 tahun kedepan,” ucap Vika.

 “Nah, tadi kan aku bilang aku punya ide bagus Ran, nah idenya itu tentang pembakaran sampah, nah apakah harus kita tulis ke materi tugas kita?” tukas ku. “Udah gak marah nih? Daritadi aku di diemin aja?” ucap Riana ketus. Aku hanya tertawa melihat kelakuan Riana. Seketika hening, semua sedang fokus menulis. “Nah, sudah selesai nih materinya, tinggal kita pikirin aja, 100 tahun kedepan bumi jadi kayak gimana,” ucap Toni memecah keheningan.

 “Hmmm, jadi kata mamaku di 100 tahun ke depan, bumi itu bisa semakin canggih, bisa juga semakin buruk, menurutku sih semakin buruk, karena sekarang sudah banyak pencemaran, berbagai macam bencana alam sering terjadi,” kataku. Yang lain hanya mengangguk-angguk setuju. “Bagaimana, kalau kita makan dulu? Aku lapar banget nih, aku deh yang traktir!!” ajak Riana. Kami semua pun menyetujuinya, setelah bersiap-siap, kami pun langsung menuju ke salah satu mall terdekat untuk makan bersama.

 “Sudah lama gak ke mall, kangen suasananya, eh bagaimana kalau kalian ke restorannya duluan? Aku mau ke indomaret sebentar,” tukas Esti. Kemudian, kami semua langsung menuju resto, kecuali Esti.Sesampainya di restoran. “Permisi, mbak saya mau pesan, boleh minta daftar menunya?,” tanya Vino kepada mbak pelayan. Setelah, memesan makanan, kami pun menunggu makanan datang. “Hai, semua!! Maaf kalau terlalu lama, antre soalnya”.

 “Nah, datang juga kamu Ti,” ucap Riana. “Eh, tau tidak? Ternyata kamu benar Lan! Bumi semakin kotor, tadi aku melihat sekitaran 4 orang dewasa membuang sampah sembarangan, mereka membuang sampah ke aliran air yang menuju ke danau,” cerita Esti. Kami pun bertanya, sampah apa yang mereka buang. Kemudian, Esti menjawab,”Yang dibuang itu sampah-sampah plastik”.

 “Yasudah, nanti lagi ceritanya, aku sama Vika capek tahu menata makanan, sedari tadi makanannya sudah sampai,” protes Toni. Kami pun segera melahap makanan kemudian membayarnya dikasir. “Totalnya, 1.750.000 dik,” ucap mbak kasir. Riana pun mengeluarkan 12 lembar uang seratus ribuan, 6 lembar uang lima puluh ribuan, dan 25 lembar uang sepuluh ribuan.

  “Terimakasih, Rin!!,” ujar kami serempak, kecuali Riana. Riana hanya tersenyum kecil. Sesampainya di tempat parkir, aku melihat struk/daftar harga makanan yang tadi kami pesan, makanannya tidak terlalu mahal, tetapi kami membeli dalam jumlah yang banyak. “Eh, gak ada tempat sampah ya? Bagaimana mau membuang struk?” tukasku. Karena tidak juga menemukan tempat sampah, aku pun membuangnya sembarangan. “Eh, kok kamu membuang sampah sembarangan sih?” tegur Vika.

 “Sekali-kali Vik, lagipula ini terpaksa,” jawabku sekenanya. “Sekali-kali nanti jadi kebiasaan lagi,” ujar Vito. Aku hanya terdiam. Sesampainya di mobil, aku langsung melanjutkan menonton film karena tadi tertunda. Sesampainya di rumahku, kami langsung melanjutkan tugas kami. “Alhamdulillah, selesai juga, eh jam berapa sekarang?” tanya Riana.

 “Eh, sudah jam 7 malam, aku izinnya hanya sampai jam 5 sore,” ucap Toni. Setelah mengetahui bahwa sudah jam 7 malam, semua teman-temanku pun pamit untuk pulang, mamaku memberi sedikit camilan untuk dibawa pulang. Sekarang, rumah sudah sepi karena teman-temanku sudah kembali ke rumah masing-masing. “Huft, hari ini seru sekali ya,” ucapku sambil membaringkan tubuh di kasur dan siap untuk tidur. Tok tok, ada yang mengetuk pintu kamarku, ternyata itu bi Cenah, pembantuku. Beliau kesini hanya ingin memberi kabar bahwa mamaku harus berangkat sangat pagi esok, aku pun hanya mengiyakan bi Cenah. Tak lama setelah bi Cenah keluar kamar, aku pun sudah terlelap ke dalam mimpi.

 “Huh..huh..huh, astagfirullah, untung cuma mimpi,” ucapku yang terbangun akibat mimpi buruk. “Eh, baru jam setengah 5 toh, hari ini kan libur, bangun pagi seru nih,” kataku lagi, tetapi kali ini lebih bersemangat. Setelah aku sholat shubuh, aku pun langsung menemui mamaku untuk menanyakan suatu hal. Ayahku kemana? Ayahku sedang keluar kota karena ada proyek besar. “Pagi, ma!! Mama, kata bi Cenah mama mau berangkat pagi sekali, kenapa?”.

 “Pagi juga, Lan! Tumben sudah bangun, mama harus berangkat pagi-pagi sekali karena semalam mama mendengar ada longsor di daerah sekitar kita, longsor itu memakan banyak korban, mama harus menanganinya sekarang,” jelas mama. Yap, mamaku adalah seorang dokter, rumahku itu berada dikota, tetapi rumahku juga dekat sekali dengan desa. “Eumm, okey ma, Lania izin keluar rumah ya, mau bersepeda saja,” izinku pada mama. “Ajak kakakmu ya,” jawab mama, aku hanya mengangguk-angguk kecil.

 “Kak Leeka, mau ikut bersepeda gak?”, tanyaku saat berada dikamar kak Leeka. Kakakku hanya menggelengkan kepala tanda tidak mau bersepeda. Karena kak Leeka tidak mau ikut, aku pun berangkat bersepeda sendiri. “Wah, ada bapak-bapak yang sedang mengangkut sampah tuh, bantuin kali ya?” ucapku saat melihat ada bapak-bapak yang sedang mengangkut sampah. Aku pun memutuskan untuk membantu bapak-bapak tersebut.

Tak lama setelah membantu orang tersebut, tiba-tiba ada bau bakaran dari arah depanku. “Loh, kok dibakar pak sampahnya? Kan dapat mencemari lingkungan,” tegurku kepada bapak-bapak tersebut. “Gak apa-apa kok dik, kan sekarang itu sedang banyak angin, ingin memasuki musim hujan, asap nya bisa tertiup kok, kemudian jadi bersih lagi deh udaranya,” tukas si bapak. Aku yang tidak menyadari apa yang telah bapak tersebut lakukan, malah turut ikut membakar sampah tersebut. Abu sampah yang dihasilkan pun akan dibuang ke sungai oleh bapak tersebut. Keesokan harinya, aku melihat bapak itu lagi melakukan hal yang sama, dan tanpa aku sadari, aku mempunyai sebuah niatan untuk membantunya lagi.

 Keesokan harinya, saat di sekolah. “Wah, tak sangka kalau hasil kerkom kita yang paling bagus,” ucap Vino seusai presentasi tugas kerkom 3 hari lalu. Kami semua pun mengangguk menyetujui. Saat istirahat, aku bercerita tentang kejadian membakar sampah kemarin. “Hah? Beneran Lan? Kok kamu jadi ikut-ikut sih?” ujar Riana. Aku hanya terdiam. Bel tanda istirahat usai pun berbunyi, aku segera kembali ke kelas.

 Tanpa disadari, hari ini sudah hari Sabtu lagi, aku kembali menemui tempat dimana aku dan bapak tukang bakar dan angkut sampah bertemu. Aku pun kembali membantu bapak tersebut. Tak terasa, sudah 3 bulan aku membantu bapak itu setiap di hari Sabtu dan Minggu. Semua keluargaku tak menyadari apa yang aku lakukan, yang mereka sadari hanya bau asap setiap hari Sabtu dan Minggu. Dalam 3 bulan itu juga, aku selalu membuang sampah sembarangan, walaupun sudah dinasehati Riana, Vika, Esti, Vino, dan Toni berkali-kali.

 Suatu malam, saat aku sedang makan malam, mama menceritakan tentang kondisi korban longsor 3 bulan lalu, mama bilang ada 30 korban, 27 orang selamat, tetapi 3 orang yang lain belum ditemukan. Aku pun tak memerdulikan apa yang mama katakan, setelah makan malam, aku pun bergegas tidur, karena besok harus bersekolah. Tetapi, tidurku kali ini seperti sangatlah nyenyak, aku pun mensyukuri hal itu.

 “Lania, ayuk bangun,” terdengar suara kak Leeka di gendang telingaku. Aku pun terbangun, tetapi aku heran, kenapa disekitarku sangat ramai dan udara sangat panas? Yang lebih parah lagi, aku tidur di lantai. “Kak, ada apa ini?” tanyaku pada kakak. Kakak hanya terdiam kemudian menangis. “Ada apa ini? Aku berada dimana? Dimana mama?” batinku. Tak lama kemudian, mama datang dan langsung memelukku.

 Mama pun langsung berkata, “Lania, akhirnya kamu sadar, rumah kita terkena banjir Lan, ayah tidak bisa pulang, ini kita sedang di pengungsian di desa sebelah”. Aku pun kaget bukan main, aku tak percaya apa yang aku dengar, aku pun bertanya-tanya, sekarang aku berada di tahun berapa? Aku pun pergi ke luar pengungsian untuk menenangkan diri sembari mama menenangkan kesedihan kakak, udara diluar tidak segar dan bau sampah menyebar dimana-mana, uadara pun sangatlah panas. Saat aku berada diluar, aku melihat danau kecil di sebelah pengungsian, saat aku menghampiri danau tersebut, ternyata didalamnya hanya terdapat sedikit air, dan sisanya adalah sampah yang menggunung.

 “Ma, sekarang tahun berapa?” tanyaku pada mama sesampainya di dalam pengungsian. “Tahun 2121, nak,” jawab mama. Aku hanya melongo tak percaya apa yang mama katakan. Tiba-tiba, kak Leeka mengejutkanku, “Hey, melamun saja, apa yang kamu pikirkan sih?” tanya kak Leeka. “Enggak, cuman aku bingung aja, soalnya seingat aku kita masih di tahun 2021,” kataku. Mama dan kak Leeka hanya bingung mendengar perkataanku.

 “Kamu bercanda ya? Bahkan di tahun 2021 mama belum lahir loh, di tahun 2021 keadaannya belum seburuk ini, waktu itu tingkat kepanasan udara hanya sampai kurang lebih 30 derajat, sedangkan sekarang mencapai 45 derajat,” ucap mama serius. “Enggak ma, Lania berkata jujur kok, tapi sebenarnya di tahun 2021 itu Lania sempat suka membuang sampah dan membakar sampah ma,” tukasku. Mama yang masih bingung langsung menyuruhku untuk sarapan, dengan terpaksa aku pun melaksanakan apa yang dikatakan mama.

 Malam pun tiba, bahkan sudah malam pun udaranya masih sangat panas, kata mama ini disebabkan oleh asap-asap hasil pembakaran sampah sehingga ozon-ozon bumi menipis. Setelah kantuk menyerang, aku pun langsung tertidur. Tidur ku tidak begitu nyenyak dikarenakan udara yang pengap dan panas. “PERHATIAN!! PERHATIAN!! DESA KITA TERKENA BANJIR LAGI!! HARAP BERKEMAS-KEMAS DAN NAIK KE BIS!!”.

 Tiba-tiba, terdengar suara teriakan seseorang dari arah luar. Seseorang tersebut memerintahkan semua orang di pengungsian termasuk aku, mama, dan kak Leea naik ke bis, padahal ini baru jam 1 dini hari. Aku yang dipaksa bangun pun berjalan dengan lemas menuju bis, sedangkan kakak dan mama sibuk mengangkut barang. Setelah semua orang sudah masuk bis, bis pun mulai berjalan menuju pengungsian cadangan. Di tengah jalan, bis terhenti akibat mesin mati, mesin tersebut mati dikarenakan air sudah mencapai jendela bis dan sudah masuk ke bagian mesin.

 Tak lama setelah mesin mati, air pun mulai masuk ke bagian dalam bis dan kami semua pun mulai tenggelam. “To..long..aku ti..dak..bi..sa..bere..nang,” ucapku sambil sedikit menjerit. Lama kelamaan nafas dan tenagaku habis dan aku pun mulai tenggelam. Tak lama setelah tenggelam, aku pun tersadar. “Hey, aku ada berada dimana?” tanyaku. Aku melihat ke sekeliling ruangan dan ternyata aku menyadari bahwa aku sedang berada di kamarku. “Apakah ini hanya mimpi? Astagfirullah, hanya mimpi ternyata,” ucapku sambil menghela nafas.

 Aku pun melihat jam, dan ternyata sekarang jam 5 pagi. Aku langsung beranjak dari kasurku dan langsung sholat shubuh. “Alhamdulillah, sudah selesai sholat, sepertinya mimpi yang ku alami itu peringatan dari bumi deh,” renungku. Setelah merenung beberapa saat, aku pun bergegas pergi keluar rumah untuk menghirup udara segar. “Hey, bau ini tak asing deh, eh ini kan bau asap?”.

 Aku pun mengikuti asal bau itu sambil membawa seember air. Setelah sedikit berputar, akhirnya aku menemukan asal bau itu, lantas aku pun langsung menyiramnya dengan air. “M-maaf bu, tapi pagi-pagi seperti ini tak bagus untuk membakar sampah, bukan hanya saat pagi, saat semua waktu bu,” nasihat ku baik-baik. “Oh iya nak, maafkan ibu, ibu tak sadar kalau membakar sampah tidak bagus,” jawab ibu itu. Aku pun hanya membalasnya dengan senyuman.

 Setelah itu, aku pun langsung pulang kerumah untuk bersiap ke sekolah. Sesampainya di sekolah, “Hai, semuanya!!,” sapaku pada teman sekelasku. “Hai, Lan, uwah tumben banget nih bawa-bawa papperbag, buat apa?” tukas Riana. “Hehe, aku sudah kapok membuang sampah sembarangan dan membakar sampah, Rin,” jawabku. Riana hanya memberikan dua ibu jarinya dan sebuah senyuman kepadaku. Tak sangka, waktu cepat berlalu, sekarang sudah jam 3 sore, waktu aku dan teman-temanku pulang ke rumah masing-masing.

 “Assalamualaikum, mamaku yang baik,” salamku pada mama saat sampai dirumah. “Waalaikumsalam, wah sudah pulang,” jawab mama. Kemudian, aku duduk disebelah mama, kemudian aku memberitahu tujuaanku duduk disebelah mama. “Ma, Lania mau cerita, sejak 3 bulan lalu, Lania suka banget membuang sampah sembarangan dan membantu orang membakar sampah, tapi kemarin, Lania bermimpi Lania ada di tahun 2121, disana udaranya panas banget, terus sering kebanjiran, banyak sampah dimana-mana, nah ternyata itu hanya mimpi. Saat, mimpi itu datang, Lania udah kapok ngelakuin hal yang mencemari bumi,” curhatku pada mama.

 “Lania, sekarang kamu sudah sadar kan? Mama memang tidak mengetahuinya, tapi mama lega saat kamu bilang kamu kapok, jangan diulangi lagi ya, karena bisa mencemari bumi seperti apa yang kamu bilang,” nasehat mama. Aku pun mengangguk, kemudian aku langsung mengganti bajuku. Nah, semenjak ada mimpi itu, aku pun mulai hidup bersih lagi, tidak membuang sampah sembarangan lagi, dan membakar sampah lagi. Bahkan, bapak yang suka membakar sampah sudah tertangkap oleh satpam dan diberi hukuman.

 Jadi, kalian harus tetap menjaga lingkungan ya!! Karena iklim itu sangat penting bagi bumi. Kalau tidak dijaga, bumi ini bisa hancur, dan kehidupan tidak lancar seperti kejadian yang dialami oleh aku, Lania!! Bumi sudah mulai kotor dan rusak, jadi, tetap menjaga kebersihan lingkungan dan kesehatan bumi ya, kapan-kapan kita akan berjumpa lagi!! Dadahh!!

73 thoughts on “Cerpen #362; “Hilangnya Keasrian Bumi”

  1. Cerpennya keren bgtt , nambah ilmu jugaa, banyak pelajaran yang bisa diambil, bagus dehhh kerennn Affla mahh , kira-kira di tahun 2121 kita jd apa yah hehe lucuu ^_^

  2. Bagus dan mengedukasi untuk kita semua…ajak teman temannya ya kaka yang belum tahu bagaimana menjaga lingkungan hidup di sekitar kita dulu..Mantapp kaka, lanjutkan

  3. Semangat trus untuk selalu memperjuangkan kelestarian lingkungan, trus tingkatkan mutu kualitas dalam penghijauan. semoga sukses…salam penghijauan #2598 🙏

  4. Cerita yang sangat menarik Kak Aflaa… Yg Semangat ya 💪💪 kami semua keluarga CALSIC Mendukungmu 🤏🤏🤏

    #CALSIC Memang Asik GASS POLL OJO KENDOR 🤏💪

  5. …mantap ini Cerpen,.semangat terus untuk berkarya yaa dede Afla..semoga jadi Penulis Cerpen yang terkenal dan sukses..keluarga besar Calsic Indonesia mendukungmu de

  6. Semoga kaka haffla bisa lebih mengembangkan bakat menulis, kelak menjadi Penulis Yang berbakat, membanggakan kedua orang tua

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *