Cerpen #361; “Ruangan Tersembunyi di Balik Istana Presiden”

“Sedalam apapun kalian gali, kalian tidak akan menemukan segumpal tanah maupun setetes air.” Pepatah itu cocok untuk mendeskripsikan dunia di tahun 2121.

Dunia sudah hancur, tidak ada lagi yang namanya tumbuhan ataupun tanah, tumbuhan sekarang diganti oleh bangunan-bangunan pencakar langit, tanah diganti oleh aspal yang tebal, semuanya sudah tak seperti dulu, bahkan lautan pun tidak lagi dapat ditemukan, yah walau sekarang ada teknologi yang bisa membuat air buatan yang fungsinya sama dengan air dulu, tetap saja berbeda, sekarang kita sama sekali tidak bisa melihat luasnya lautan, karena pantai-pantai telah dibatasi oleh tombak yang tidak terkira tingginya, rasanya seperti dipenjara oleh negara.

“Sesekali aku ingin melihat lautan luas yang sering diceritakan kakek.” keluhku sambil mengaduk-aduk makanan di mangkokku yang tinggal sedikit.

“Sudahlah Arief, kamu tau kan? Yang namanya lautan itu hanya omong kosong yang beredar di kalangan golongan tua.” Jawab ibu.

“Tapi kata kakek…“

“Cukup Arief! Habiskan makananmu dan kembali ke kamarmu!” sela ayah dengan nada keras,

Akupun langsung meninggalkan tempat dudukku dan berjalan menuju kamarku, kalian sudah dengar dari percakapan tadi kan? Benar, namaku Arief, dan duniaku telah hancur.

Aku menutup pintu kamarku dengan keras, menguncinya, dan langsung berbaring di kasur. Sesekali kucoba untuk tertidur, tapi lagi-lagi cerita kakek terngiang di pikiranku, kakek sangat senang bercerita tentang masa kecilnya, katanya ada yang namanya lautan, dan lautan itu luas sekali, warnanya biru dan sangat indah, katanya di sana ada yang namanya ikan, dan kita bisa berenang di sana.

Lalu kakek juga pernah cerita tentang gunung, katanya ada yang tinggi, dan ada yang lebih tinggi lagi, kata kakek, semakin tinggi kita berada, semakin dingin, tapi kalau sudah di puncak, saat melihat ke bawah pasti akan menjumpai pemandangan yang patut dikenang sepanjang masa, tapi kakek bilang juga harus hati-hati, karena gunung bisa meletus, dan jalur pendakiannya ada yang berbahaya.

Ada juga yang namanya sungai, rawa, danau, lembah, bukit, dan lain lain, tapi… kata ayah, ibu, atau semua orang, yang kakek ceritakan hanyalah imajinasi orang berumur lanjut yang suka berhalusinasi, tapi aku tau, kalau kakek tidak salah, dan yang namanya lautan ataupun  gunung itu asli!

Tapi.. di mana aku bisa menjumpainya? Dan dari pemikiran itu aku berasumsi jika duniaku sudah hancur.

Tanpa kusadari, hari sudah malam, tepatnya pukul 23.00, aku diam-diam mengambil jaketku, dan pergi keluar, suasananya sepi, hanya ada bangunan-bangunan perusak pemandangan. Aku melihat sekitar, tidak ada yang namanya pohon atau tanah seperti yang kakek ceritakan, akupun hanya bisa menghela nafas. Aku mengeluarkan motor dari garasi, menyalakan mesin dan mengendarainya, di jam segini biasanya aku pergi ke suatu tempat yang spesifik, yaitu tempat di mana patung ikon kotaku itu ada Kota Semarang, Taman Pandanaran.

Sesampainya di sana, aku langsung duduk bersender di pijakan Sang Warak Ngendog, sambil menatap pemandangan yang sama sekali tidak ‘asri’ atau apalah, kosakata ‘asri’ hanya pernah kudengar terucapkan dari mulut kakek, toh aku tidak tau apa arti kata asri itu, dicari di internet pun tidak ada.

“Hahh… aku ingin melihat lautan yang dimaksud kakek!” keluhku,

“Aku juga ingin melihat gunung-gunung dan pemandangan asri penuh tumbuhan hijau yang dimaksud kakek.” keluhku lagi,

Beberapa kali aku mengeluh, ingin melihat hal-hal yang sekarang dianggap bualan, mitos, atau dongeng para lansia, tapi kepada siapa aku mengeluh? Sang Warak Ngendog? Lucu sekali.. mau mengeluh beberapa kali pun tidak akan mewujudkan apa-apa.

“Aku ini memang aneh ya, curhat sama Warak Ngendog, sambil ngomongin hal yang tidak ada…” ucapku pada diriku sendiri.

“Tidak aneh kok…” seketika aku berdiri karena terkejut, tiba-tiba ada suara aneh, padahal tidak ada siapa-siapa, di sini hanya ada aku dan..

“Aku ada dibelakangmu, wahai pemuda…”

Aku menengok dengan perlahan, di belakangku ada hewan besar yang bersinar, wujudnya tak asing bagiku, tapi sangat menakutkan. Hewan atau makhluk apapun itu berjalan mendekatiku, aku refleks mengambil beberapa langkah mundur, dan tidak sengaja tersandung batu yang membuatku terjatuh.

“T-tolong jangan makan aku!” mohonku dengan ketakutan, kepalaku tertunduk takut membuat kontak mata, badanku bergemeteran, bulu kudukku berdiri, aku bisa merasakan keberadaan makhluk itu mendekat,

“Jangan takut wahai pemuda, aku adalah roh Warak Ngendog, aku memunculkan diri atas rasa kasian akan keluhanmu,”

Aku hanya bisa melongo kebingungan, roh Warak Ngendog? Apaan tuh? Warak Ngendogkan mahkluk fiksi yang diciptakan untuk ikon Semarang, mana mungkin jadi beneran! Aku memukul pipiku beberapa kali, sakit, ah… ini kenyataan… aku merasa ingin pingsan sementara.

“Hey jangan pingsan dulu, aku tau ini sulit dipercaya, tapi aku memang roh Warak Ngendog! Karena banyak orang memakaiku sebagai maskot, lama kelamaan terciptalah aku sebagai roh Warak Ngendog”

Aku hanya bisa menatap makhluk itu dengan wajah pasrah dilanda kebingungan.

“Ah sudahlah, percaya atau tidak, aku ini memang roh Warak Ngendog, dan dari tadi aku mendengarmu mengeluh ingin melihat lautan, dan kau datang di waktu yang tepat, aku bisa menawarkanmu tunggangan gratis untuk melihat lautan yang kau cari!”

“Gratis? Lautan? Lautan itu asli?” tanyaku

“Dari tadi kamu ngeluh pengen liat lautan tapi tidak tau lautan asli apa tidak?”

“Kata ibu lautan itu fiksi, aku cuma penasaran soalnya kakekku menceritakan lautan dengan antusias”

“Yah… dunia memang benar-benar sudah hancur, pemuda sekarang tidak lagi tau apa itu lautan, malangnya nasib dunia ini”

“Eh tunggu dulu! Berarti lautan itu asli? Aku ingin lihat! Aku ingin lihat!”

“Kamu terlihat remaja tapi sifatmu masih bocah.. Baiklah naik ke punggungku akan kubawa kemana lautan ada!”

Aku bersorak kegirangan, tanpa basa basi aku naik ke punggungnya dengan hati-hati, melupakan ketakutanku yang tadi menguasai pikiranku, aku pun memposisikan diriku senyaman mungkin, rasanya agak aneh menunggangi roh, tapi yang penting aku bisa melihat lautan!

“Pegangan yang erat karena ini pasti pengalaman baru untukmu”

Tiba-tiba tubuh roh Warak Ngendog melayang dan terbang dengan cepat, hampir saja aku kehilangan keseimbangan tapi aku langsung memegang pundak Warak Ngendog sebagai pegangan, aku melihat ke bawah, pemandangan yang keren, tapi rasanya tetap aneh dan tidak begitu mengagumkan.

“Hey nak, coba lihatlah, ini lautan yang kamu cari”

Aku melihat ke bawah dan yang terlihat adalah tempat luas yang penuh dengan air, tapi… warnanya kotor, banyak sampah sampah, harusnyakan biru dan indah.

“Dulunya ini lautan biru, tapi sekarang digunakan untuk tempat pembuangan akhir, makanya sekarang ada teknologi air buatan kan?”

Aku tidak percaya dengan apa yang kulihat, semuanya tidak seperti ekspektasiku, aku mengharapkan keindahan tapi yang kudapat adalah kejelekan yang merusak pemandangan, juga baunya tidak enak.

“Bukan ini yang kucari… aku ingin melihat lautan biru…”

“Sayang sekali nak kamu telat 100 tahun!” terdengar suara yang keluar dari selain mulutku dan warak ngendog, suaranya juga identik dengan suara perempuan, aku menengok ke sumber suara, dan yang kudapati adalah wanita cantik yang berpenampilan sebagaimana seorang warga kerajaan di masa lampau berpenampilan,

“Siapa anda?”

“Aku roh ratu penjaga laut utara, Dewi Lanjar, jaman sekarang mana tau siapa diriku, huh!”

“Eh? Ada lebih dari satu roh?”

“Ish! Kamu kira cuma Warak Ngendog yang ada? Menyebalkan! Pemuda sekarang tidak tau belajar mitologi!”

“Indonesia punya mitologi juga? Aku kira cuma Yunani..”

“Ahhh menyebalkan!!” teriak Dewi Lanjar Kesal

“Sudahlah, kamu tau kan keadaan dunia sekarang?” tegur Warak Ngendog.

Roh Dewi Lanjar hanya terdiam dengan kesal, aku yang tidak tau apa-apa hanya bisa ikut diam, dan seketika suasana jadi hening dan canggung.

“Hoi bocah ingusan, kamu mau liat laut yang dulu pernah ada?” tawar Dewi Lanjar tiba-tiba,

“Eh? Mau mau!!” jawabku langsung,

Dewi Lanjar menepuk tangannya, dan seketika lautan sampah menjijikan itu berubah menjadi berwarna biru, cantik, luas, dan didalamnya ada ikan! Eh ikan bukan sih? Entahlah aku cuma pernah liat ikan di museum, tapi keren!!

“Hebat! Apakah ini asli?”

“Tidak, ini hanya ilusi, tapi dulu laut itu begini wujudnya,” jelas Dewi Lanjar,

Semangat langsung pudar begitu mengetahui ketidakaslian pandanganku, lalu tiba-tiba muncul pertanyaan yang bagiku wajar ditanyakan,

“Anu.. kalau begitu bagaimana caranya mengembalikan lautan yang dulu? Juga gunung gunung?”

Warak Ngendog dan Dewi Lanjar hanya terdiam, mereka saling bertatap tatapan, Warak Ngendog menganggukkan kepala seolah memberi izin Dewi Lanjar akan sesuatu, Dewi Lanjar hanya menghela nafasnya,

“Jadi gini nak, kamu tau Kanjeng Nyi Roro Kidul?

“Tidak..”

“Oh iya lupa, ah pokoknya, dia adalah penjaga laut selatan, dan terkuat di antara tiga ratu penjaga lautan, dia hilang entah ke mana semenjak 100 tahun yang lalu, tapi dia meninggalkan sebuah perangkat ajaib yang jika dijatuhkan ke laut, lautan akan kembali seperti semula.”

“Lalu kenapa tidak ada yang mengembalikan lautan seperti semula selama ini? Seharusnya mudah kan?”

“Menjatuhkan perangkatnya mudah, mendapatkan perangkatnya susah!”

“Memang dimana perangkat itu diletakkan?”

“Perangkat itu disimpan di ruang tersembunyi yang berada di istana presiden”

“Eh?? Presiden kita yang menyembunyikannya?!”

“Tidak juga, tapi enam presiden sebelum presiden sekarang, presiden itu tidak ingin lautan kembali seperti semula, karena jika lautan kembali, usaha teknologi air buatannya akan bangkrut!”

“Jahat sekali, semua ini terjadi karena keegoisan atas harta tahta? Yang benar saja!”

“Ruangan yang menjadi tempat penyimpanan perangkat ajaib itu dijaga sangat ketat, jadi silahkan jika ingin mengambilnya, aku hanya bisa menonton sambil makan popcorn!”

“Jangan begitu Dewi Lanjar, pemuda ini sepertinya benar-benar punya niat mengembalikan lautan, harusnya kamu senang dan menyemangatinya, bukannya malah meremehkan niatnya!” tegur Warak Ngendog yang diabaikan oleh Dewi Lanjar,

“Itu benar, aku akan mengembalikan lautan yang dulu, pasti! Dan jika aku mengurungkan niat itu, pastilah aku adalah orang yang pantas diejek seluruh makhluk dan seluruh alam!” ucapku tegas, Dewi Lanjar hanya bisa terdiam tidak dapat berkata kata karena sumpahku itu, dan Warak Ngendog terlihat puas,

“Karena kamu sudah berjanji, maka akan ku bantu sedikit dengan mengantarkanmu ke istana presiden itu,” tawar Warak Ngendog, aku langsung menerimanya dan Warak Ngendog pun langsung melesat terbang dengan sangat cepat, meninggalkan Dewi Lanjar yang hanya bisa menonton. Sesampainya di sana, aku turun dari punggung Warak Ngendog dengan hati-hati agar tidak menarik perhatian, posisiku sekarang ada di belakang gedung utama, aku melihat sekitar dan sama sekali tidak ada kemungkinan aku tidak ketahuan, aku berpikir keras untuk menghasilkan sebuah strategi.

“Lho hujan ya?”

“Lho, tumben hujan,”

“Iya hujan, duh makin deras, cari jas hujan dulu!”

Aku mendengar suara obrolan salah satu penjaga, dan benar kata mereka, hujan deras, untung aku sedang berteduh.

“Aku hanya bisa melakukan hal ini, gunakanlah kesempatan ini sebaik baiknya!”

Aku menengok ke sumber suara, dan berdirilah sosok Dewi Lanjar di tengah hujan, Dewi Lanjar mengangkat tangannya ke atas, lalu memetik jarinya, dan seketika petir yang sanagt keras menyambar lambangan, lampu langsung mati semua,

“Mati lampu?!”

“Tiba-tiba banget!”

“Jangan malah diam, cari senter! Kita masih harus jaga!”

Terdengar teriakan para penjaga, Dewi Lanjar membuat hujan deras agar bisa memunculkan petir tanpa ada kejanggalan, dan membuat listrik padam, dengan ini kau bisa sedikit lebih mudah menyusup, tapi aku juga tidak bisa melihat apa-apa.

“Dan ini bantuan kecil dariku” ujar Warak Ngendog, Warak Ngendog melakukan sesuatu kepada diriku, dan tiba tiba aku bisa melihat semuanya dengan jelas seolah lampu lampu tidak pernah mati,

“Ku-anugerahi kamu penglihatan yang jelas tanpa harus dibantu penerangan untuk sementara waktu, gunakan kesempatan ini untuk mengembalikan apa yang memang pernah ada!”

Aku menganggukkan kepala, karena bantuan Dewi Lanjar dan warak Ngendog dengan mudah aku bisa menyusup ke dalam istana lalu bersembunyi di tempat aman agar tidak ketahuan. Eh tunggu, ruangan itu ada di mana ya?

“Di ruang bawah tanah, dari posisimu belok ke kanan, sampai menemukan pintu warna merah yang di dalamnya ada tangga menuju ke bawah,” terdengar suara yang entah dari mana, aku menengok kanan kiri tapi tidak ada wujudnya,

“Jangan panik ini, aku Dewi Lanjar, tapi aku berbicara lewat pikiranmu, jadi aku tidak muncul langsung di hadapanmu, jadi jangan buang buang waktu! Cepat!” perintah Dewi Lanjar,

Perintah Dewi Lanjar seolah tidak bisa kutolak, karena setelah Dewi Lanjar memerintahkan tubuhku terasa seperti bergerak sendiri, aku berlari secepat mungkin, suara hentakan kakiku yang keras tersamarkan oleh hujan deras di luar. Setelah itu aku menemukan pintu merah itu, walau samar samar tapi kelihatan warna merah, langsung ku buka pintu itu dan berlari kebawah, sebuah keajaiban karena aku tidak terpeleset dari tangga.

Sesampainya di bawah, Dewi Lanjar memerintahkan untuk jalan terus lalu belok kiri, cari pintu ke empat, dan di sana perangkat itu disimpan, aku berlari mengikuti arah lurus lalu belok kiri, benar saja ada banyak deretan pintu di setiap penjuru ruangan, awalnya aku agak kebingungan mencari pintu keempat, tapi aku sadar jika di setiap pintu ditempelkan stiker angka, aku berlari menuju pintu yang mempunyai stiker angka empat, lalu membukanya dengan paksa.

Di sanalah aku melihat, perangkat yang dapat mengembalikan dunia, benda itu berbentuk lingkaran yang bercahaya warna biru dengan ukiran aneh, aku langsung mengambilnya, keluar dari ruangan itu, tapi semenjak kakiku keluar dari ruangan, alarm berbunyi.

“Ada penyusup!”

“Target di ruang bawah tanah!”

“Sial! Karena lampu mati peluang penyusup itu besar!”

“Cepat jangan sampai penyusup itu kabur!”

Terdengar teriakan teriakan penjaga, aku langsung panik, karena jalan keluarku akan dilalui oleh para penjaga dan pastinya akan membuatku tertangkap basah,

“Ada jalan keluar alternatif, dari sini cari pintu ke sebelas, di dalamnya ada ventilasi udara, ventilasi itu mengarah ke luar, tadi aku sudah memastikan di sekitar jalan keluarmu aman,” ucap Dewi Lanjar memberiku petunjuk, aku langsung berlari mencari pintu ke sebelas, setelah ketemu aku langsung masuk, tidak lupa menutupnya agar para penjaga tidak tau aku ada disini, lalu langsung masuk ke ventilasi udara yang dimaksud Dewi Lanjar. Perjalanan agak lama tapi setelah beberapa seling waktu aku berhasil keluar, setelah keluar aku langsung berlari ke arah jalan keluar dari area istana presiden,

“Jangan lewat jalan utama, panjat pagar saja,” perintah Dewi Lanjar,

Aku mematuhinya dan langsung mencari pagar terdekat dan mulai memanjatnya.

“Diam di sana dan jangan bergerak!” teriak seseorang, aku yang tengah memanjat langsung menengok ke sumber,

Ada seorang lelaki, dari penampilannya mungkin yang berkuasa atas penjaga disini,

“Kamu ditangkap atas pencurian barang kepemilikan istana, jangan memberontak atau kita terpaksa memakai kekerasaan!” teriak nya lagi,

“Huh! Coba saja! Dewi Lanjar! Bantu aku sekali lagi!” tantangku, tiba-tiba petir menyambar memisahkan aku dan mereka, aku langsung melompat keluar melewati pagar, aku berlari ke jalan, di sana ada mobil angkot yang terparkir, tanpa basa basi aku langsung masuk ke kursi pengemudi, untung di dalam ada kunci angkot itu, langsung dengan cepat aku menancapkan gas dengan laju tercepat yang bisa aku kendalikan. Tadi aku berada istana presiden, berarti aku ada di Jakarta, dan di Jakarta ada satu tempat yang katanya pantai tapi hanya ada tembok tinggi yang membatasi penglihatan orang, yaitu Pantai Ancol! Sekitar 30 menitan dari sini atau kurang jika aku bisa memaksimalkan kecepatan angkot ini, ah cukup! Langsung saja!

Aku mengemudi dengan kecepatan yang berbahaya, salah sedikit maka tamatlah riwayatku, situasi ini adalah hidup atau mati, tanpa disadari aku sudah mendekati Pantai Ancol, terlihat tembok tinggi yang menutupi lautan, masalahnya hanya ada satu, bagaimana cara agar aku bisa melemparkannya ke laut?

Aku memutuskan untuk memikirkannya itu nanti, samar-samar aku mulai mendengar sirine polisi, tapi jaraknya agak jauh, aku menancapkan rem, lalu bergegas keluar dan berlari menuju tembok tinggi itu.

“Dewi Lanjar! Warak Ngendog tolong bant-”

“Cukup sampai situ!”

Aku menengok, lelaki itu berhasil mengejarku, dan aku dikepung oleh ribuan pasukannya,

“Kembalikan barang curianmu dan tidak ada yang terluka!”

“Tidak akan! Aku akan mengembalikan lautan!”

“Hentikan basa-basimu, lautan adalah fiksi para lansia, jangan berharap aku akan mempercayaimu!”

“Tidak! Aku akan membuktikan jika lautan itu ada! Dan aku akan mengembalikan apa yang memang pernah ada!”

Lelaki itu terlihat kehilangan kesabaran, lelaki itu memerintah pasukannya untuk menembakan gas air mata dan bius, bius itu mengenaiku dan aku tidak bisa bertahan lama dari gas air mata itu. Aku terjatuh lemas karena efek bius itu,

“Tidak.. Aku harus..”

“Jangan putus asa dulu nak..”

Kejadian setelah kata kata itu terucapkan adalah, tembok tinggi itu tiba-tiba hancur, memperlihatkan lautan kotor dan menjijikan itu, semua orang selain aku terkejut, sepertinya tidak ada yang tau apa kebenaran di balik tembok ini, aku menguatkan diri untuk menyeret tubuhku dengan tanganku, dan menjatuhkan perangkat ajaib itu ke air, dan setelah itu kesadaranku perlahan hilang.

                                          ***

Sedikit demi sedikit aku membuka mataku, aku menanti suasana penjara, tapi yang ku lihat adalah langit langit rumah sakit, aku bangun dari posisi tidur,

“A-Arief?! Dokter! Dokter! Anak saya bangun!!” terdengar teriakan ibu, tanpa menunggu lama aku dikerumuni oleh banyak dokter, mereka menanyakan banyak hal, aku tidak bisa menangkap perkataan mereka.

“Lautan… apakah lautannya biru?” pertanyaan itu adalah salah satu ucapan yang bisa keluar dari mulutku, semua dokter tidak menjawab, lalu ibu mendekatiku dan mengelus kepalaku,

“Arief anakku, cobalah lihat keluar, lihatlah apa yang telah kau perbuat,” ucap ibu, aku langsung menengok keluar jendela, dan yang kulihat adalah sesuatu yang hampir tidak dapat kupercayai.

Di luar, semuanya hijau, banyak pohon pohon yang sering diceritakan kakek, dan juga gunung, dan dari jauh, aku melihat lautan biru yang dijanjikan. Apakah aku berhasil?

“Nak.. kamu telah menyelamatkan dunia, ibu tidak tau bagaimana kamu melakukannya, tapi kamu telah membongkar kebenaran yang disembunyikan presiden ke enam sebelum presiden sekarang, dan mengembalikan semua yang diceritakan kakekmu, kamu berjasa nak..”

Aku tidak bisa menahan air mata yang keluar dari mataku, aku berhasil, aku benar-benar berhasil! Dewi Lanjar, warak Ngendog, dan kakek.. Aku telah memenuhi janjiku, aku telah mengembalikan apa yang selama ini ada.

Dalam khayalanku semalaman suntuk di taman dekat patung Warak Ngendog saat aku pergi dari rumah karena jengkel kepada ibu sebab tak mempercayaiku bahwa lautan itu pernah ada seperti kata kakek.

-tamat-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *