Cerpen #360; “BUPATI INGIN MEMBUAT LAUT”

Hutan Adem di belakang rumah, dulu selalu menjadi tempat yang konon disebut sebagai tempat pribadi diriku dan Abel. Waktu itu kami masih umur sepuluh tahun.  Kami sepasang sahabat yang tak suka melaut seperti bapak dan kawan lain. Meski pantai terhampar luas tepat di depan rumah, toh kami tak pernah tertarik melautinya. Kami selalu tertarik pada hutan yang sunyi itu.

Pertama kali masuk udaranya sudah berbeda. Di luar panas, selangkah masuk sudah dingin, makanya namanya Hutan Adem. Sedangkan, dari dulu jalan masuk ke hutan telah dipafing sehingga tidak becek. Namun, hanya sampai danau kecil saja, seterusnya jalanan tetap tanah setapak. Di kiri kanannya juga dipagari bambu. Tapi kami tak suka hanya sampai danau. Pasti di dalam sana beberapa hal yang tak pernah terlihat bisa ditemui. Tetapi bapak selalu melarang pergi jauh.  Paling jauh katanya hanya boleh sampai bambu payung –bambu yang melengkung disebut seperti payung. Tapi sekali lagi, kami tak suka hanya sampai situ.

Abel selalu membawa buku dan pensil di sakunya. Layaknya akan berkemah, dalam tas harus lengkap barang-barang yang barangkali nanti dibutuhkan. Tetapi yang selalu tidak boleh ketinggalan adalah buku dan pensil. Segala perlengkapan aku yang membawa sedangkan Abel memimpin di depan. Ia membuat daftar jalur terlebih dahulu di buku kecilnya, serupa targate harian. Dan apapun yang ditemui harus dicatat, difoto, dan divideo. Bagi kami itu penting, terlebih Abel. Dia suatu hari ingin membuat pajangan tentang seisi hutan, agar orang tidak hanya kenal dengan laut.

Suatu hari, kami telah memilih jalur baru. Yaitu pergi ke kanan dari jalan bambu payung, karena sebelumnya kami hanya kekiri saja. Selama di jalur kiri, kami menemukan sekelompok monyet yang mengikuti kami terus tapi tidak pernah mengganggu. Beberapa berjalan di tanah belakang kami, beberapa bergelantungan di atas, sedangkan yang lain menunggu di depan. Apa maksud mereka, kami tidak tahu. Kami juga menemukan burung-burung aneh, jejak cakaran di tanah, sampai peluru yang tertancap di pohon, bahkan desingan pelurunya sesekali juga terdengar.

Perjalanan ke kanan baru kami mulai. Abel di depan, menyibak dahan. Dari belakang kutepuk pundaknya.

“Menurutmu di depan sana ada apa?”

“Diamlah”

“Mengapa?”

Abel mematahkan salah satu dahan pohon pendek ke kanan. “Potret dahan ini, Ren”

“Mengapa?”

“Kita akan belok ke kanan”

Dia tidak pernah menggunakan cara ini sebelumnya untuk menandai belokan. Dia juga tidak pernah setegang ini. Bahkan badannya agak menunduk, langkah kakinya sangat hati-hati, dan matanya ke sana kemari, barangkali lebih dari seribu kali lehernya ikut menoleh. Aku hanya mengikuti.

“Kamu belum menjawab pertanyaanku tadi, menurutmu di depan sana ada apa?”

“Sudah kubilang Ren, diamlah sebentar, nanti aku akan cerita”

Aku diam dan berjalan mengikutinya. Beberapa kali melihat jam, memotret ini itu, melihat jam lagi, pukul sembilan pagi. Di depan sana tampak semak makin tinggi, beberapa bahkan terlihat berduri meski bunga cantik menghiasi pucuk-pucuknya. Abel mengeluarkan pisau agak panjang. Setiap kali pisau itu dikeluarkan, aku selalu takut pada Bapak. Ia tak memperbolehkanku menyentuhnya, tapi malah kuambil diam-diam.

Abel membabat semak-semak berduri itu. Kami melewatinya. Semut-semut kecil berlarian dan aku tidak tahu selain semut ada apa lagi. Kasihan teman-teman yang lain. Mereka hanya melihat air melulu, ombak melulu, karang, ikan, bahkan barangkali mereka bisa melihat angin. Setiap hari mereka ikut bapak mereka melaut pada malam hari, kalau siangnya mereka melaut sendiri. Meski larangannya sama sepertiku: tidak boleh jauh-jauh. Mereka yang lebih susah karena selalu terlihat dari bibir pantai, aku yakin mereka tidak bisa kabur. Sedangkan diriku, pertama masuk hutan sudah tidak terlihat hidungku. Aman.

Ini sudah sekitar setengah jam, Abel belum cerita dan terus mengendap-endap. Menyuruh motret ini itu dengan jarinya sebagai penunjuk.

“Kapan kamu akan cerita?”

“Di depan sana ada dinding batu, aku akan cerita di sana”

Kami terus jalan, semak-semak sudah tidak terlalu pekat. Beberapa kali bahkan aku menemukan buah yang bisa dimakan dan rasanya manis. Aku tidak akan menawari Abel, karena pasti jawabannya “Diamlah”

Sampai di samping dinding batu, kami duduk.

“Akan kuceritakan mengapa kita harus menunduk, mengendap-endap, dan diam…”

“He em”

“…bisa kan?”

“bisa”

“Kamu ingat, kemarin kita ke jalur kiri dan menemukan beberapa peluru menancap di pohon. Peluru itu selalu ada di sebelah timur…” ia sambil mengilustrasikan di buku “pantai ada di selatan, kita masuk ke hutan artinya ke arah utara. Lalu kita mengambil jalur kiri atau arah barat. Dan peluru itu ada di timur pohon. Aku berpikir bahwa penembak ada di sisi timur hutan. Makanya aku mengajakmu ke jalur kanan atau ke timur. Di jalur kanan aku menyuruhmu diam, mengendap-endap, dan membungkuk. Bisa saja penembak itu berada di sekitar kita dan dengan mudah melihat kita. Bisa saja ia seorang pemburu. Iya kalau pemburu baik yang tidak menyerang manusia, bagaimana jika sebaliknya.

Bahkan waktu itu kita juga mendengar desingan bedil. Aku tidak tahu kita akan mendengar apa habis ini. Tetapi tadi aku sempat mendengar suara ngeeeengg… berkali-kali. Tapi sepertinya sangat jauh”

“Ah masak? Aku tidak mendengar apa-apa”

Tiba-tiba terdengar suara sesuatu yang barangkali besar kemudian jatuh. Semacam pohon yang tumbang. “Apakah ada yang menebang pohon?”

***

Kini, kisah itu tiada lagi. Masa kecilku menjelajah hutan dengan Abel tidak bisa terulang lagi. Aku sudah memiliki istri dari seberang kabupaten. Bahkan aku juga sudah memiliki anak, masih dua tahun. Aku tetap menetap di kampung ini. Setiap hari pemandangannya adalah laut dan wisatawan-wisatawan yang lalu lalang. Semakin lama semakin indah saja.

Lulus SD, Abel pindah ke kampung lain, dekat perbatasan kota, ikut kakeknya. Ia juga menikah di sana. Dan tahun ini, dia akan nyaleg bupati. Poster mukanya bahkan sudah melebar di atas jalan masuk kampung. Di rumah orang tuanya, barangkali bertumpuk-tumpuk gambar mukanya. Aku bangga, sahabat hutanku itu jadi orang besar sekarang. Aku tertawa sendiri ketika mengingat bagaimana ia memimpinku ketika penjelajahan hutan. Cerita-cerita itu sudah ia wujudkan jadi pajangan di salah satu sudut pantai. Tentu saja karena itu, nama Abel dan Ren jadi terkenal, aku pun sekarang diangkat jadi wakil pengelola wisata. Padahal aku tak pernah benar-benar suka pantai dan laut.

Ada beberapa hal yang sebenarnya terjadi setelah Abel pindah. Mungkin umurku waktu itu duapuluh lima tahun. Terjadi banjir rob dan angin kencang melanda kampung. Padahal sebelumnya belum pernah terjadi. Di tahun berikutnya terjadi lagi hal yang sama, bahkan disertai hujan badai. Di tahun-tahun berikutnya lebih parah lagi. Penduduk kampung menganggap banjir rob ini akan datang setiap tahun, melihat yang kemarin-kemarin.

Berbagai gerakan dari kota datang ke sini. Melakukan sosialisasi dan memberi bantuan. Setelah banyak terdengar katanya muka air laut semakin tinggi, orang-orang itu menyuruh kami secepatnya pindah. Karena bisa tenggelam. Beberapa warga protes karena sawah mereka yang tak jauh dari pantai dan permukaan hutan bakal rusak, belum lagi jika jumlah wisatawan menurun penjualan hasil laut akan menurun juga.

***

“Pak Abel jadi bupati…”

“PAK ABEL MENANG!!!”

“Kita bangga”

Pemilihan umum dilaksanakan dan Abel menang. Sahabatku itu menang menduduki jabatan bupati. Orang tuanya menggelar pesta metri untuk Abel. Mengundang tetangga untuk hajatan dan berdoa bersama. Tetapi sayang ketika acara itu, lagi-lagi rob datang tanpa aba-aba. Membuyarkan pesta. Air mulai masuk. Kasur digulung, buku-buku ditinggikan, beberapa warga mengumpat entah pada siapa.

Esoknya Abel datang, ketika warga sibuk mengepel lantai. Aku menemuinya di rumah orang tuanya.

“Makin tinggi aja” ia sumringah dan memelukku “masih ingatkan sama Ren?”

“Ingat lah Ren. Tapi aku kecewa, kamu tidak menjaga pajangan cerita Hutan Adem”

“Banjir baru saja datang, semua tergerus oleh banjir yang makin ganas. Karena itu, bahkan sawah-sawah yang baru tanam rusak, aku bingung kenapa cuaca datang tidak menentu seperti ini”

“Berarti mereka akan menanam terlambat Ren”

“Pasti, panen juga akan menurun mungkin. Para nelayan ragu membentangkan layar karena cuaca yang tidak pasti. Mereka juga tidak punya pekerjaan jika terus begini”

“Waduh, aku kan Bupati sekarang, tenang saja Ren. Aku akan menangani semua itu. Katakan saja pada mereka, pekerjaan baru akan segera kuberikan”

***

Abel kembali datang lima hari kemudian. Bersama jajarannya membawa orang-orang sebanyak dua truk.

“Kamu mau melakukan apa, Abel?”

“Mereka akan menebang pohon di beberapaa hektar hutan di belakang rumah-rumah itu. Aku ingin menjadikannya pabrik. Warga bisa bekerja di sana.”

“Tapi, itu hutan penuh kenangan kita. Kamu mau menebangnya begitu saja?”

“Bukan begitu Ren, wilayah kenangan kita lebih jauh dari satu hektar. Aku tahu di sana banyak satwa dan tumbuhan-tumbuhan unik. Aku tidak akan menebang sampai sana.”

“Bukankah itu malah akan memperburuk banjir?”

“Diamlah, kamu kelola saja wisata ini, aku mengelola hutan itu”

Aku memilih diam, dan menyaksikan satu persatu pohon ditebang. Kata Abel akan dijadikan pabrik kertas. Aku tidak tahu maksudnya apa. Padahal sering terjadi banjir, malah dibangun pabrik kertas. Bukankah kertas mudah hancur kena air. Belum lagi jika hutan ditebang malah akan memperparah iklim.

Satu bulan sejak pabrik dibangun, warga sudah mulai banyak yang memilih bekerja di sana. Meskipun sawahnya sudah kembali, tapi mereka berpikir, toh nanti akan rusak lagi kalau banjir.

***

Setahun kemudian, muka air laut itu sudah naik empat meter. Sudah dua kali banjir rob. Sawah-sawah kembali rusak. Dan pabrik kertas Abel tetap aman. Entahlah. Bahkan warga yang memilih bekerja di sana bersyukur sekali, merasa keputusannya tepat. Karena sawah mereka memang rusak kembali dan pabrik kertas itu aman-aman saja.

Kertas-kertas yang sudah jadi buku itu juga sudah diekspor ke Singapura. Kata para pekerja di negara ini belum ada perusahaan yang mau menerima suplier dari pabriknya Abel. Malahan di luar negeri pesanan terus meningkat.

“Kami, akan terus mengembangkan pabrik ini untuk kesejahteraan masyarakat pesisir dan sekitar Hutan Adem. Jika ekspor ini lancar, kami akan bangun lagi, agar yang tidak memiliki pekerjaan bisa bekerja dan menghidupi keluarganya” kata Abel di media sosialnya.

Aku merasa warga telah melupakan banjir yang makin marak. Muka air laut yang terus naik. Bahkan imbauanku tidak digubris samasekali. Dalam suatu rapat aku pernah mengatakan bahwa, jika tidak ada penanganan maka kampung bisa tenggelam. Pabrik itu juga nanti bakal bangkrut, karena terendam air. Dan minggu depan aku merencanakan untuk pergi ke kota –ke kantor bupati untuk menyampaikan perihal masalah tersebut.

Ketika aku mendatangi kantor itu, aku tidak bisa langsung menemui Abel. Bahkan tidak boleh. Katanya hanya bisa sampai sekretaris saja. Sudah aku Wa juga si Abel, tapi belum dibaca atau sengaja tidak dibaca. Jadinya kusampaikan saja pada orang yang mengaku sekretaris itu. Ia akan menyampaikannya ke Abel, secepatnya.

Sepekan berlalu, tak ada jawaban apa-apa. Baik tertulis seperti surat, Wa, atau kerja nyata. Abel diam-diam juga telah menebang lima hektar pohon di hutan yang ada “kenangan” kami sewaktu kecil. Sekali lagi aku mencoba menyampaikan masalah yang sama ke bupati itu, tapi yang kudapatkan  juga sama –hampa. Aku dituduh iri pada Abel karena lebih sukses, tidak ada yang percaya padaku sekarang. Di hadapan Pak Ali –ketua pengelola wisata aku diancam akan dipecat jika menentang bupati.

“Dik, aku akan mengundurkan diri saja dari wakil pengelola”

“Kenapa Mas?” terkejut, istriku menatap mataku.

“Aku sudah tidak nyaman, tidak ada yang mendengarkanku sekarang”

“Tapi, kamu akan dapat penghasilan darimana? Mau kerja di perusahaan bupati itu juga?”

Atas alasan ekonomi, akhirnya kutunda dulu untuk mengundurkan diri. Ada anak dan istri yang menjadi tanggungjawabku. Beberapa hari setelah itu, kuajukan diri untuk menanam mangrove di beberapa titik pantai. Berbagai alasan kulontarkan hingga Pak Ali menyetujuinya. Mulailah aku menggandeng komunitas-komunitas lingkungan untuk bersama-sama menanam mangrove. Setidaknya sekarang, ada banyak anak muda yang mau mendengarkanku. Mereka juga sadar akan bencana iklim yang semakin parah ini.

***

Kampungku telah benar-benar jadi laut sekarang, sejak pemerintahan Abel dua tahun berselang. Hutan seluas sepuluh hektar telah habis dibabatnya. Dibuat pabrik yang lebih megah dan canggih. Namun semua itu kosong melompong. Hanya jadi bangunan bisu yang perlahan-lahan roboh. Beramai-ramai sejak terendam, di mana ada tiga anak warga yang tertelan dan hilang, mereka semua demo di depan kantor bupati. Minta hutan dikembalikan lagi. Sedangkan aku dan komunitas terus menanam mangrove. Beberapa orang yang sadar, juga ikut menanam sekarang.

Demo besar-besaran itu membuat Abel mungkin bergeming. Sembunyi di balik meja. Mereka menuntut untuk merelokasi warga ke tempat yang baru. Semuanya harus punya pekerjaan dan bisa makan. Hutan mangrove harus diperbanyak. Tetapi, mereka yang ramai-ramai begitu masih tidak didengar olehnya. Malahan Abel berencana membangun tol di atas perkampungan yang tenggelam itu, bisa digunakan sebagai spot foto dari ketinggian, itu akan menambah nilai ekonomi katanya.

Sebelum itu, salah satu tututan warga sudah dipenuhi yaitu merelokasi kepindahan. Tetapi aku, sahabatnya ini, akan tetap ada di kampung ini. Menanam dan menanam. Aku ingin kampungku penuh dengan mangrove. Agar ketika laut makin naik, gelombangnya tidak sampai kota, tidak sampai merobohkan kursi Abel. Anakku yang kini sudah semakin besar, tidak boleh diwarisi pabrik yang rusak dan hutan gundul tapi pohon-pohon hijau dan sejuk. Biarlah jika Abel ingin membuat laut, barangkali karena semasa kecil hutan saja tempat kakiknya memijak, kini ia ingin laut jadi proyek petualangannya.

Malang, 6 November 2021

13 thoughts on “Cerpen #360; “BUPATI INGIN MEMBUAT LAUT”

  1. Pengen nangis baca ceritanya, cerpen yang diilhami oleh kondisi alam kita sekarang. Penulis yang bisa memperkaya kita dengan wawasan.

  2. keren…membaca cerpen ini menjadi pengingat supaya kita selalu menjaga kelestarian alam.. semangat dan sukses untuk candra…

  3. Cerpen realistis, keren semoga menginspirasi dan menang.

    Kisah mengharukan. Truslah berkarya Dwi Candra
    💛💛💛💛💛💛💛💛💛💛💛💛💛💛💛💛

  4. Kisah
    Kisah yang mengisnpirasi. Kisah tentang krisis iklim yang tengah terjadi. Semakin banyak yang punah oleh keserakahan manusia.
    Semoga sukses ya candra menyuarakan kepedulian pada lingkungan 😍😍

  5. Kisah persabatan yang mengharu biru dari penulis yang aku yakin penyuka hutan. Ketika kenangan berbenturan dengan ambisi. Ketika manfaat sesaat lebih diutamakan dari akibat berkepanjangan, maka anak hutan sejati harus membuat pilihan. Cerita yang apik tentang dilema persahabatan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *