Cerpen #358; “Aku, Kamu, Kita, dan Bumi”

Bumi, telah bertahan jutaan tahun lamanya. Manusia, hewan, tumbuhan, benda mati, makhluk selain manusia, semuanya hidup di atas Bumi. Bagaimana seharusnya Bumi diperlakukan? Bagaimana caranya berterima kasih pada Bumi yang telah memberikan banyak hal bagi kehidupan ini?

Bumi, 100 tahun yang lalu, sebuah virus mematikan membuat semua orang takut dan hanya dapat bersembunyi. Semua negara ketakutan. Semuanya menjaga jarak dan membatasi pergaulan. Tiba-tiba, Bumi menjadi kosong tanpa penghuni. Saat itu, Bumi beristirahat sejenak untuk menenangkan pikirannya.

Namun, 100 tahun kemudian, ketika semuanya telah kembali normal. Tidak, bahkan tidak senormal yang dipikirkan. Virus telah benar-benar hilang, tapi sesuatu telah datang sebagai penggantinya. Badai, banjir, kekeringan, kebakaran, kerusakan ekosistem laut, dan banyak hal sebagai penggantinya. Kapan Bumi bisa menyembuhkan dirinya secara total?

Zlatica, seorang gadis kecil berambut panjang itu hanya dapat menggigil kedinginan. Rumahnya tenggelam karena banjir rob yang menghantam pesisir pantai tempatnya tinggal. Zlatica sangat menyukai laut. Namun, kini ia hanya dapat menatap rumahnya yang ditenggelamkan oleh apa yang selalu ia sukai.

Tak ada yang tersisa. Zlatica, hanya ia yang selamat dari musibah itu. Wajah kecilnya merah. Ia ingin sekali menangis. Namun, jika ia menangis, maka tak akan ada yang menghapus air matanya. Rasa sakit tersimpan dalam hatinya. Ia berpikir bahwa mungkin Bumi telah marah dan merenggut orang-orang yang dicintainya.

Bumi telah murka. Iklim berubah-ubah tak menentu. Rumah Zlatica tenggelam karena banjir rob. Di kota lain, badai menyerang pemukiman dan menewaskan banyak orang. Kebakaran hujan juga terus terjadi dan menewaskan warga sekitar. Sebenarnya, apa yang terjadi dengan Bumi ini? Bencana terus terjadi tanpa henti.

Tak ada yang berubah. Dulu atau sekarang, 100 tahun lalu atau sekarang, semuanya sama. Bencana terus menerus terjadi tanpa pikir panjang. Saat Bumi mulai murka, apa yang bisa dilakukan manusia untuk memperbaikinya? Saat ini, apakah Bumi mencapai batas kesabarannya?

“Apa tidak ada orang yang ingin menolongku dan mereka semua yang telah tenggelam?” tanyanya dalam hati.

Air matanya mengalir. Ia mengharapkan kedatangan seorang pahlawan yang akan menyelamatkannya. Namun, ia telah menunggu lebih dari 3 jam dan penantiannya sia-sia.

Zlatica berjalan meninggalkan rumahnya yang telah tenggelam dilahap air. Dengan air mata yang mengalir deras, ia terpaksa harus meninggalkan rumah beserta keluarga yang ia sayangi. Ia juga kehilangan teman-temannya. Hanya ia yang tersisa.

Zlatica belum pernah meninggalkan area tempat tinggalnya. Ia belum pernah sekali pun pergi ke kota besar. Sejak kecil, ia selalu penasaran dengan pemandangan di kota besar. Ia pun pergi menuju jalan besar. Di sana, ia menunggu sebuah kendaraan agar ia dapat meminta tolong.

Kemudian, sebuah mobil melintas dan Zlatica langsung berlari untuk menghentikan mobil tersebut. Tindakan Zlatica itu membuat mobil tersebut oleng dan hampir menabrak sebuah pohon di sisi jalan. Pengendara mobil itu pun keluar dan berniat memarahi Zlatica. Pengendara mobil tersebut merupakan seorang laki-laki berusia sekitar 20-an tahun. Wajahnya terlihat sangat kesal.

“Apa kamu ingin mati? Jika iya, jangan menggunakan mobilku sebagai perantaramu untuk bertemu dengan Tuhan,” teriak laki-laki itu dengan marah.

Seorang gadis muda keluar dari mobil yang sama dengan mobil yang dikendarai laki-laki itu. Wajahnya terlihat lembut dan ia langsung menarik tangan laki-laki yang memarahi Zlatica tadi.

“Wyclef, jangan marah padanya. Dia hanya anak kecil,” ucap gadis itu pada laki-laki bernama Wyclef itu.

Wyclef terlihat tak terima. “Jangan salahkan aku, Cyril! Karena gadis itu, kita hampir mati,” ucap Wyclef pada gadis bernama Cyril itu.

Cyril mendekati Zlatica. Zlatica terlihat ketakutan melihat Cyril karena trauma dimarahi oleh Wyclef. Air matanya masih mengalir. Cyril pun berusaha mengusap air mata Zlatica dengan sangat lembut.

“Jangan menangis! Namaku Cyril. Kamu bisa memanggilku Kak Cyril. Siapa namamu dan berapa usiamu?” tanya Cyril.

“Zlatica. Usiaku 9 tahun. Kak Cyril, bisa bantu aku?” tanya Zlatica dengan mata merah.

“Ya, apa yang perlu Kak Cyril bantu?”

Mendengar itu, Zlatica tersenyum kecil. Ia memiliki sedikit harapan. Ia pun langsung menarik tangan Cyril dan mengajaknya ke tempat dimana rumahnya telah tenggelam. Wyclef terkejut melihat Zlatica membawa Cyril dan ia pun mengikuti mereka.

Betapa terkejutnya Cyril dan Wyclef saat melihat pemandangan mengenaskan di hadapan mereka. Tubuh Cyril bergetar melihat rumah-rumah yang tenggelam dan mayat yang mengapung mengenaskan. Seketika itu juga, ia ingin muntah.

Cyril melihat Zlatica yang saat ini hanya menatap pemandangan itu dengan datar.

“Berapa lama kamu menatap pemandangan ini?” tanya Cyril pada Zlatica.

“Sekitar 3 jam,” ucap Zlatica.

Seorang anak usia 9 tahun harus menatap pemandangan mengenaskan yang menewaskan keluarga dan teman-temannya serta memusnahkan rumahnya selama 3 jam.

Cyril menutup mata Zlatica dan menggendongnya. Ia membawa Zlatica kembali ke mobil. Wyclef pun sudah berinisiatif meminta bantuan para rekannya yang bekerja untuk membantu korban bencana alam. Wyclef pun mengikuti langkah Cyril. Mereka bertiga menaiki mobil dan berkendara ke kota.

Di tengah perjalanan, Zlatica hanya diam. Cyril pun mengajaknya berbicara tentang banyak hal, tapi hanya ditanggapi secara singkat oleh Zlatica. Wyclef sedikit merasa kasihan pada anak berusia 9 tahun itu.

Zlatica tertidur. Ia merasa sangat lelah. Ia tak memiliki apa-apa dan siapa-siapa lagi. Tak pernah terbayang olehnya akan nasib yang menimpanya. Cyril dan Wyclef merasa kasihan dengan nasib anak malang tersebut. Mereka pun memutuskan untuk membawa Zlatica ke tempat tinggal mereka yang berada di kota.

Perjalanan memakan waktu sampai 5 jam. Zlatica yang telah menghilangkan sedikit rasa lelahnya mulai terbangun dan melihat sekitar. Ia terkejut melihat kota yang terlihat begitu buruk. Bangunan tinggi menjulang, sungai yang airnya kotor dan tercemar, asap pabrik mengepul di langit, sampah yang dibiarkan menumpuk di pinggir jalan, serta kendaraan yang memadati jalanan. Pemandangan itu terlihat sangat berbeda dari pemandangan yang biasanya dilihat oleh Zlatica.

Zlatica hanya menelan ludah. Ia benar-benar terkejut dengan pemandangan itu. Dalam pikirannya, kota adalah tempat yang indah, nyaman, dan sangat bersih. Namun, kenyataannya sangat berbeda.

Mobil mereka berhenti di depan sebuah rumah yang tak terlalu besar, tapi juga tak terlalu kecil. Zlatica keluar dari mobil dan mulai terbatuk-batuk. Udara di kota sangat menyesakkan dada. Ia tak bisa bernapas dengan baik. Zlatica pun menutup hidungnya rapat-rapat. Matanya merah karena banyak sekali asap yang mengepul di sekitar mereka.

“Ah, kamu tidak terbiasa dengan udara di kota, ya? Kalau begitu, ayo cepat kita masuk!” ajak Cyril pada Zlatica.

Zlatica mengangguk dengan cepat. Mereka pun memasuki rumah tersebut. Cyril mengajak Zlatica untuk mandi dan mengganti bajunya. Zlatica menuruti perkataan Cyril karena ia tak memiliki siapa-siapa lagi untuk dipatuhi perintahnya. Zlatica pun mandi. Ia merasa segar kembali. Dalam air yang mengaliri wajah Zlatica, terdapat tetesan air mata yang tak dapat lagi ditahan oleh Zlatica. Air matanya mengalir. Ia menangis dalam diam.

Setelah selesai mandi dan mengganti bajunya, Zlatica disuguhi teh hangat oleh Cyril. Cyril terlihat begitu perhatian pada Zlatica. Wyclef hanya berdiri di sudut ruangan dengan wajah sedikit kesal.

“Hey, sebenarnya apa yang terjadi dengan rumahmu itu?” tanya Wyclef dengan nada kesalnya.

Mendengar hal itu, Cyril langsung menghampiri Wyclef dan menutup mulutnya. “Tolong sedikit lembutlah pada anak kecil. Zlatica baru saja kehilangan rumah dan keluarganya. Tolong pikirkan perasaannya,” ucap Cyril.

Wyclef menepis tangan Cyril dan kemudian pergi keluar rumah. Cyril meminta maaf pada Zlatica atas perkataan Wyclef. Zlatica hanya tersenyum. Baginya, itu tidaklah menyakiti hatinya. Kekesalan hati Wyclef atas kehadiran Zlatica tidak sebanding dengan kebaikan hati Cyril yang sedikit membuat perasaan Zlatica lega.

“Apa kalian sepasang kekasih?” tanya Zlatica pada Cyril.

Saat itu juga, wajah Cyril menjadi merah. Ia kemudian menggaruk kepalanya yang sebenarnya tak gatal dan tertawa kecil.

“Mmm …. Sebenarnya Wyclef dan aku itu pasangan suami-istri. Yah, meskipun kami baru menikah 3 bulan lalu,” ucap Cyril dengan wajah malu-malunya.

Melihat Cyril yang salah tingkah, Zlatica tertawa kecil. Entah kenapa, rasanya sebuah beban telah lenyap. Ia merasa sedikit lega dan senang. Rasanya, ia seperti memiliki anggota keluarga baru. Namun, mengingat kembali keluarganya yang telah meninggal membuat hatinya kembali sakit.

Wyclef kembali dan langsung berdiri di depan Zlatica. Ia memperlihatkan ponselnya pada Zlatica. “Para korban telah ditemukan. Ada banyak yang tewas, tapi masih ada yang selamat meskipun keadaannya kritis. Kemungkinan ada kerabatmu yang selamat. Kamu ingin kembali ke sana untuk memastikannya? Jika iya, aku akan mengantarmu ke sana,” ucap Wyclef.

Zlatica terdiam dan menunduk. Wyclef dan Cyril menunggu keputusan Zlatica. Zlatica akhirnya mengangguk. Untuk terakhir kalinya, ia ingin melihat keluarganya dan mengantar kepergian mereka dengan ketegaran hati.

Keesokan harinya, mereka kembali ke tempat tinggal Zlatica. Mereka mengendarai mobil dan kali ini Zlatica tak tertidur. Zlatica melihat asap yang mengepul di langit dan ia pikir jika ia menghirupnya secara langsung, mungkin ia akan batuk-batuk sampai beberapa menit ke depan.

“Kota ini terlihat sangat buruk,” ucap Zlatica.

Cyril mengangguk. “Ya, kupikir Bumi menjadi sangat buruk dari waktu ke waktu. Dulu, 100 tahun yang lalu, katanya Bumi pernah mengalami masa pembersihan. Polusi hilang untuk beberapa waktu dan bahkan katanya langit terlihat sangat biru. Namun, sebagai imbalan atas pembersihan Bumi, manusia diteror oleh virus yang mematikan. Aku sedikit penasaran dengan masa itu. Di masa ini, dimana 100 tahun telah berlalu, virus tersebut telah hilang dan keadaan manusia kembali normal, tapi Bumi tak kunjung membaik. Semua semakin parah. Beberapa pabrik terlihat acuh dan membuang limbahnya ke sungai. Banyak orang yang terkena penyakit karena menggunakan air sungai yang tercemar limbah. Banyak banjir terjadi karena manusia di zaman ini sangat tidak peduli dengan kebersihan lingkungan,” ucap Cyril dengan wajah serius.

“Pemanasan global juga menjadi isu yang hangat di kota ini, tapi tak ada tindakan untuk memperbaikinya. Zlatica, mungkin banjir rob yang menenggelamkan rumahmu adalah akibat dari perbuatan manusia, bukan murkanya Bumi tanpa sebab. Dunia ini terdiri atas hukum sebab dan akibat,” ucap Wyclef.

Zlatica terdiam. Ulah manusia? Hukum sebab dan akibat? Ia yang masih berusia 9 tahun belum tahu apa-apa tentang pemanasan global atau pun ulah manusia yang mengakibatkan marahnya Bumi. Ia hanya sedikit korban dari keegoisan beberapa manusia yang tamak.

Setelah melalui perjalanan yang cukup panjang, mereka akhirnya sampai. Di sana, Zlatica melihat wajah ayah dan ibunya yang telah kaku. Wajah mereka begitu pucat. Zlatica menangis sesenggukan. Cyril dan Wyclef hanya berdiri di belakangnya. Wyclef terlihat datar saja, sedangkan Cyril terlihat berkaca-kaca matanya.

Zlatica terus menangis saat jasad kedua orang tuanya dibawa pergi. Ia kehilangan harapan untuk terus hidup. Cyril memeluk Zlatica dengan erat agar anak kecil berusia 9 tahun itu dapat merasakan kehangatan setelah kehilangan harapan hidupnya. Harapan Cyril adalah Zlatica kembali menemukan semangat hidupnya dan kembali ceria seperti anak-anak lain.

“Aku kehilangan kedua orang tuaku. Bagaimana caranya agar aku bisa bertahan hidup?” tanya Zlatica dengan suara serak.

Cyril kemudian mengusap air mata Zlatica dan berkata, “Aku dan Wyclef akan mengangkatmu sebagai anak kami, Zlatica. Kamu bisa memanggilku ‘Mama’ dan memanggil Kak Wyclef ‘Papa’. Kami akan menjadi orang tuamu.”

Malam telah datang. Langit mendung di atas sana terlihat sangat gelap, segelap hati Zlatica. Mereka akhirnya kembali ke rumah mereka yang berada di kota. Waktu sudah sangat larut. Zlatica kehilangan orang tua kandungnya, tapi sekarang ia memiliki orang tua baru.

Kehidupan baru Zlatica pun dimulai. Wyclef dan Cyril yang menjadi orang tua baru bagi Zlatica selalu mengajaknya jalan-jalan keliling kota. Meski begitu, Zlatica sangat tidak nyaman dengan suasana kota. Hiruk-pikuk kota membuatnya selalu gelisah. Semuanya bercampur. Asap pabrik, asap kendaraan, sampah, semuanya bercampur menjadi satu dan membuat indera pernapasan Zlatica menjadi sakit.

Zlatica juga tak bisa memandang langit dengan baik. Ia tak pernah melihat awan yang melayang indah di langit biru. Yang ia lihat adalah awan kelabu dan bahkan awan hitam yang mengepul di langit yang merupakan asap pabrik. Ia tak pernah menemukan satu pohon pun di kota itu. Semakin hari, keadaan Zlatica semakin parah karena hal-hal tersebut. Namun, ia dapat menyembunyikan semuanya dengan baik.

Suatu hari, Cyril mendapat tugas dari pekerjaannya dan mengharuskannya untuk keluar dari kota tersebut. Ia harus bekerja di kota lain dan hal itu membuat Wyclef khawatir.

“Aku ingin menemanimu, Cyril,” ucap Wyclef khawatir.

Cyril tersenyum kecil. “Sayang, aku bisa sendiri. Aku akan hati-hati di sana dan aku tidak akan tertarik pada laki-laki lain. Jangan khawatir seperti itu!”

Wajah Wyclef memerah. “Aku bukannya takut jika kamu tertarik pada laki-laki lain, tapi aku hanya ingin menjagamu karena aku ini suamimu. Lagipula, aku tidak bisa mengurus Zlatica seorang diri,” ucap Wyclef dengan nada sedikit keras.

Cyril menggeleng. “Zlatica tidak akan merepotkanmu. Dia adalah anak yang penurut dan mandiri. Kamu pasti bisa mengurusnya dengan baik.”

Pada akhirnya, perdebatan itu dimenangkan oleh sang istri, yaitu Cyril. Wyclef dan Zlatica mengantar Cyril sampai bandara. Di sana, Wyclef berharap Cyril dapat melakukan pekerjaannya dengan baik dan ia bisa pulang untuk kembali padanya. Zlatica pun berharap seperti yang diharapkan oleh Wyclef.

“Semoga Mama dapat kembali. Jika tidak, Papa akan kesepian,” ucap Zlatica pada Wyclef.

“Ya,” jawab Wyclef.

Mereka kembali. Namun, di tengah langkah kecilnya, Zlatica terjatuh dan wajahnya begitu pucat. Wyclef panik dan langsung menggendongnya dan membawanya ke rumah sakit. Di sana, dokter mengatakan bahwa Zlatica memiliki penyakit asma. Wyclef sangat terkejut dengan keadaan Zlatica yang sebenarnya.

“Asma? Bagaimana mungkin kamu bisa menyembunyikan penyakit itu dari Papa dan Mama?”

Wyclef terlihat marah. Zlatica hanya terdiam dan menunduk. Ia merasa bersalah karena ia menyembunyikan keadaannya pada Papa dan Mamanya. Namun, ia juga tak ingin kedua orang tua barunya itu merasa khawatir dan terganggu pekerjaannya. Melihat Zlatica hanya terdiam membuat emosi Wyclef semakin memuncak dan menggebrak meja. Zlatica terkejut dan meminta maaf pada Wyclef. Wyclef menghela napas.

“Lain kali jangan sembunyikan apa pun dari aku atau Mama! Jangan pernah berpikir kalau kamu itu beban! Kamu itu anak kami,” ucap Wyclef pada Zlatica dengan suara yang cukup lembut. Zlatica mengangguk pelan.

“Apa penyakit asmamu bawaan dari orang tua kandungmu?” tanya Wyclef.

Zlatica menggeleng. “Aku selalu sehat sebelum datang ke kota ini,” ucap Zlatica.

Wyclef menunduk. Ia dan Cyril mengangkat Zlatica sebagai anaknya agar Zlatica memiliki alasan untuk hidup dan menemukan harapannya kembali. Namun, kenyataannya mereka hanya memperburuk kondisi Zlatica dan bahkan memberinya penyakit karena membawa anak usia 9 tahun itu ke kota yang sangat buruk.

Hari demi hari berlalu. Wyclef selalu menunggu Cyril kembali. Cyril tak pernah mengabarinya dan hal itu membuat Wyclef merasa khawatir. Kemudian, tujuh hari setelah Cyril pergi ke kota lain untuk menjalankan pekerjaannya, Wyclef mendapat sebuah telepon dari nomor tak dikenal.

“Apa ini Tuan Wyclef?” tanya seorang laki-laki yang menelpon Wyclef.

“Ya, saya adalah Wyclef. Maaf, tapi Anda siapa, ya?”

“Aku rekan kerja istrimu, Cyril. Maaf jika aku mengabarkan sesuatu yang membuatmu sedih, tapi aku harus menyampaikannya,” ucap laki-laki di telepon itu dengan nada suara sedih.

Deg! Jantung Wyclef berdetak begitu cepat. Pikirannya melayang jauh memikirkan kemungkinan-kemungkinan buruk yang menimpa istrinya. “Ada apa dengan Cyril?” tanya Wyclef dengan suara bergetar.

“Terjadi kebakaran hutan di dekat tempat kami bekerja. Kebakaran itu merambat ke pemukiman penduduk yang merupakan tempat tinggal sementara kami. Istrimu, Cyril, dia ikut tewas bersama beberapa penduduk akibat kebakaran ini. Beberapa rekanku yang selamat telah membawa jasad istrimu pulang. Mungkin beberapa saat lagi, mereka akan sampai di rumahmu,” ucap laki-laki itu dengan nada sedh.

Wyclef menutup telpon itu. Matanya berkaca-kaca. Tak ada yang bisa ia lakukan. Tubuhnya lemas dan ia terjatuh. Ia menangis sesenggukan. Ia berusaha menahan air matanya, tapi tak sanggup. Zlatica yang mendengar suara tangisan Wyclef menghampirinya.

“Papa, kenapa menangis?” tanya Zlatica.

Wyclef tetap menangis dan tak menjawab pertanyaan Zlatica. Perasaannya hancur seolah ia telah kehilangan sebagian dari dirinya dan rasanya sangat sakit. Tak dapat dipungkiri lagi bahwa rasanya begitu menyesakkan. Zlatica tak tahu apa-apa tentang keadaan Wyclef saat ini karena Wyclef tak menjawab pertanyaannya.

Kemudian, pintu diketuk. Zlatica berlari menghampiri pintu dan membukanya. Di sana, ia melihat beberapa orang dan mereka juga membawa sebuah peti. Zlatica terlihat bingung dengan peti yang mereka bawa.

“Apa kamu yang bernama Zlatica?” tanya seorang gadis muda seumuran Cyril yang matanya merah.

Zlatica mengangguk. Gadis itu kemudian memeluk Zlatica dan mengusap lembut kepalanya. Zlatica terlihat kebingungan. “Cyril selalu membicarakanmu saat kami bekerja bersama. Tak kusangka dia pergi secepat ini,” ucap gadis itu pada Zlatica.

Zlatica masih kebingungan. Pergi? Ia tak mengerti maksud perkataan gadis itu. Kemudian, Wyclef datang dengan wajah yang masih merah dan mempersilakan semuanya masuk. Di sana, peti mati itu diletakkan dengan sangat hati-hati.

“Kenapa istriku bisa meninggal?” tanya Wyclef.

Zlatica terkejut. Meninggal? Air matanya ikut mengalir. Sekali lagi, ia harus merasakan sakit akibat ditinggalkan orang tersayangnya.

“Ada beberapa oknum yang membakar hutan demi kepentingan mereka sendiri. Awalnya api tidak begitu besar, tapi angin yang bertiup tiba-tiba menjadi sangat kencang dan kobaran api pun meluas sampai pemukiman penduduk. Kebetulan juga, tempat tinggal Cyril sangat dekat dengan hutan. Maafkan kami karena tidak bisa menyelamatkan istrimu.”

Wyclef kemudian meminta rekan-rekan Cyril untuk meninggalkannya. Tinggal mereka bertiga. Tinggal Wyclef, Zlatica, dan tubuh Cyril yang telah mati. Wyclef membuka peti mati itu dan melihat tubuh Cyril yang terbakar. Ia mencoba menahan tangisnya dengan menutup wajahnya. Namun, tak dapat ia lakukan dengan baik. Air matanya mengalir dari sela-sela jarinya.

Zlatica melihat tubuh terbakar di hadapannya. “Mama, kenapa meninggalkanku dan Papa? Apa karena kehadiranku membuat Mama pergi?”

Zlatica menangis. Wyclef yang mendengar pernyataan menyakitkan itu langsung menggebrak peti mati itu dan membuat Zlatica terkejut. “Jangan berkata apa pun!” ucapnya dengan wajah marah.

Zlatica menunduk. “Ucapanku benar, bukan? Karena aku hadir dalam hidup kalian, Mama pergi untuk selamanya. Jika saja aku tidak pernah tinggal bersama kalian, mungkin semuanya akan baik-baik saja. Ayah dan ibuku juga meninggal karena diriku dan sekarang Mama yang meninggal,” ucap Zlatica sedih.

Wyclef melihat wajah istrinya. Ia tak bisa lagi melihat senyum manis istrinya tiap pagi. Tak bisa lagi menyantap makanan buatan istrinya yang lezat. Semuanya telah hilang.

“Ini bukan salahmu. Ini salah manusia tak bertanggung jawab yang membakar hutan itu. Mereka begitu egois dan bahkan merusak kehidupan seseorang.”

Zlatica memeluk Wyclef dan Wyclef hanya dapat menangis dalam pelukan Zlatica. Jika diperhatikan lagi, wajah Cyril yang terbakar terlihat menyunggingkan sebuah senyum kecil yang tak disadari oleh Wyclef dan Zlatica. Tanpa mereka berdua sadari, Cyril pergi dengan kebahagiaan yang luar biasa karena selama hidupnya ia memiliki suami dan anak yang sangat baik dan menyayanginya.

Pemakaman Cyril diwarnai isak tangis rekan-rekan dan keluarganya, termasuk Wyclef dan Zlatica. Zlatica melihat pemakaman Cyril sampai akhir. Di saat seseorang telah mati, orang tersebut tak akan menyadari bahwa kehidupan telah berakhir. Diam-diam, Zlatica takut dengan kematian. Ia takut saat kehidupannya berhenti, tapi ia tak menyadarinya. Yah, semua manusia yang mati memang tidak pernah sadar bahwa mereka sudah mati.

Wyclef terus menggandeng tangan kecil Zlatica. Ia berusaha kuat. Air matanya tak lagi mengalir saat pemakaman Cyril. Ia telah kehabisan air mata. Meski begitu, wajahnya terlihat sangat merah.

“Papa, apa Mama telah diambil oleh Bumi? Mama terkubur di dalam sana. Apa tidak menyesakkan di dalam sana? Apa Bumi puas setelah mengambil Mama dari kita?”

Bencana demi bencana datang silih berganti. Manusia telah merenggut nyawa manusia lain. Bumi terus bekerja tanpa kenal lelah. Bumi terus mengalami banyak kerusakan dari tahun ke tahun.

Waktu demi waktu berlalu. Wyclef menjalani hidupnya sebagai orang tua tunggal dari Zlatica. Ia berusaha sekuat mungkin menjadi Papa yang baik untuk Zlatica. Suatu hari, Wyclef mengajak Zlatica untuk mengunjungi sebuah tempat dan Zlatica setuju.

Mereka pergi tanpa mobil. Zlatica memakai masker untuk menghalangi debu dan asap yang berusaha memasuki indera pernapasannya. Wyclef menggandeng tangan Zlatica erat-erat. Baginya, Zlatica adalah peninggalan Cyril yang sangat berharga. Maka dari itu, ia harus menjaga Zlatica dengan baik.

Mereka pergi ke sebuah tempat dimana bangunan-bangunan tinggi menjulang sampai langit. Zlatica bingung kenapa Papanya mengajaknya ke tempat tersebut.

“Ini tempat yang mempertemukan Papa dan Mama. Di sini kami bertemu, bertengkar, saling membenci, dan pada akhirnya saling menyatakan perasaan masing-masing. Ini tempat yang memberiku kenangan yang indah tentang Mamamu,” ucap Wyclef.

Zlatica tersenyum. “Bangunannya tinggi-tinggi sekali,” ucap Zlatica dengan wajah terpukau.

Udara begitu panas. Angin membawa udara panas dan kering. Wyclef beberapa kali mengusap keringat yang mengalir dari keningnya. Wyclef juga mengusap keringat yang mengalir dari kening Zlatica dengan sapu tangan yang ia bawa.

“Biasanya udaranya tidak sepanas ini'” ucap Wyclef.

Mereka masih diam di tempat. Mereka belum menyadari bencana yang datang dan membawa mereka pada kesedihan. Tiba-tiba, orang-orang berlari dari arah yang berlawanan dengan Wyclef dan Zlatica. Wyclef dan Zlatica terlihat kebingungan.

Wyclef pun menghentikan salah seorang laki-laki yang berlari. “Hey, ada apa? Kenapa kalian berlari-lari seperti itu?” tanya Wyclef.

“Badai. Ada badai angin topan di sana,” ucap laki-laki itu dan ia kembali berlari.

Dengan cepat, Wyclef menarik tangan Zlatica dan mereka berlari dengan cepat. Wyclef menyesal karena ia mengajak Zlatica ke tempat itu dan tidak membawa mobil.

“Ah, lagi-lagi bencana. Apa ini disebabkan oleh manusia lagi? Atau Bumi yang marah karena selama 100 tahun ini manusia terus merusak?”

Pikiran itu terus melayang dalam kepala Wyclef. Wyclef menggandeng tangan Zlatica dan mereka terus berlari. Langkah lebar Wyclef membuat Zlatica tersandung dan terjatuh akibat langkahnya yang kecil dan tak bisa mengikuti kecepatan lari Wyclef. Zlatica pun terluka dan napasnya juga sesak. Wyclef pun menggendong Zlatica. Kini, mereka berada di barisan paling belakang dari orang-orang yang juga berlari menghindari angin topan itu. Wyclef menoleh ke belakang dan melihat betapa ganasnya angin topan itu memakan bangunan-bangunan yang tinggi.

Terlambat sedikit saja dalam berlari, mungkin Wyclef dan Zlatica akan terlahap juga oleh keganasan angin itu. Dengan susah payah, Wyclef berlari sambil menggendong Zlatica. Semua orang yang berlari di depannya telah aman karena mereka semua telah menaiki sebuah truk terbuka yang mulai berjalan.

“Tunggu!” teriak Wyclef.

Supir truk itu menunggu Wyclef yang masih berlari. Ia melihat ngeri pemandangan yang ada di belakangnya. Wyclef dan Zlatica terlihat seperti membawa angin topan di belakang mereka.

“Cepat!” teriak salah seorang dari truk itu.

Namun, Wyclef sudah terlalu lelah dan terjatuh. Meski begitu, ia tetap berdiri dan mencoba berlari lagi. Kali ini, langkahnya mulai kecil karena ia kelelahan dan juga kakinya sakit akibat terjatuh. Maka, ia pun berhenti berlari.

“Zlatica, kumohon bertahan hiduplah demiku dan Cyril. Aku dan Cyril selalu menyanyangimu dan berharap kamu bisa melanjutkan hidupmu,” ucap Wyclef sambil mengecup kening Zlatica.

Wyclef mengangkat Zlatica tinggi-tinggi. Ia memusatkan semua tenaganya pada kedua tangannya. Sejurus kemudian, Wyclef melempar tubuh kecil Zlatica dengan sangat kuat ke arah truk tersebut.

Zlatica terkejut. Ia terbang seperti burung. Lemparan Wyclef ternyata tidak terlalu kuat dan kini Zlatica akan mendarat di jalanan beraspal yang keras. Zlatica menutup matanya karena rasa takutnya. Ia akan jatuh di jalanan dan mati. Namun, ternyata seorang laki-laki yang usianya mungkin sama seperti Wyclef menangkap tubuh kecilnya. Laki-laki itu kemudian berlari dan menaiki truk sambil menggendong Zlatica.

“Tolong jaga anakku,” teriak Wyclef.

Truk berjalan meninggalkan Wyclef. Zlatica melihat angin besar itu melahap Wyclef. Kemudian, ia tak bisa lagi melihat Wyclef. Angin itu terus mengejar truk itu. Supir truk menginjak gas dan mereka semua meluncur meninggalkan angin yang ganas itu.

Zlatica menutup wajahnya dan menangis.

“Lagi-lagi Bumi memakan orang tersayangku. Kapan Bumi bisa berdamai dengan manusia? Aku lelah harus melihat semua kematian ini.”

Bumi, selama 100 tahun ini mendapatkan perlakuan yang buruk dari manusia. Dulu, 100 tahun yang lalu, Bumi kehilangan banyak sekali manusia karena virus mematikan. Kini, 100 tahun setelah virus itu melanda, Bumi kembali kehilangan banyak manusia. Pemanasan global menjadi isu yang ramai diperbincangkan. Ulah kecil manusia dapat menimbulkan dampak yang besar bagi manusia lain dan juga Bumi tempat tinggal manusia. Kebakaran hutan, mencairnya gletser, naiknya permukaan air laut, banjir, rusaknya ekosistem, polusi udara, semuanya terjadi selama 1 abad ini. Apa yang harus dilakukan manusia untuk memperbaiki Bumi ini? Bumi ini terlalu lelah untuk terus menopang kehidupan manusia egois di dalamnya.

Jika manusia terus seperti itu, berapa lamakah Bumi dapat bertahan? 100 tahun? 1000 tahun? Satu juta tahun? Apakah besok manusia masih dapat tinggal di Bumi?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *