Cerpen #356; “Hanya Mimpi atau Peringatan”

  “Tring” bunyi ponsel membuyarkan lamunanku yang sedang duduk di pinggir lapangan sepak bola sekolah, rencananya aku mau berlatih sepak bola sendirian karena sedang tidak ada kegiatan. Aku adalah salah satu pemain inti tim sepak bola di sekolahku tidak heran jika hobiku adalah bermain bola. Biasanya setiap pulang sekolah aku selalu nongkrong di cafe dekat sekolah atau bahkan berkeliling kota tanpa alasan tetapi tidak untuk hari ini dikarenakan teman-temanku sedang ada kegiatan Aldi ada acara dengan keluarganya, Kribo keluar kota mengunjungi neneknya dan Damar sedang mewakili sekolah mengikuti olimpiade matematika. Untuk berkeliling kota naik motor sendirian pun aku tidak bisa karena di kotaku sedang mengalami kelangkaan bbm. Dari kemarin sore aku mau beli bbm sampai tadi pagi sebelum berangkat sekolah aku tidak mendapatkannya.

             Kuambil ponselku di tas dan kubuka ternyata ada pesan dari Kak Vina. “Andre jangan lupa sampah yang katanya ingin kamu dan temanmu daur ulang semoga sudah selesai ya hari ini kakak pulang ke rumah” seperti itu bunyi pesan dari Kak Vina. Aku langsung teringat janjiku dengan Kak Vina dan Ibu untuk mendaur ulang sampah dalam waktu 1 minggu dari bekas bungkus makanan dan minuman yang dihasilkan aku dan teman-temanku. Kedua orang tuaku bekerja di luar kota dan kakakku Kak Vina juga sedang kuliah ke luar kota. Mereka berada di Semarang sedangkan aku di Magelang. Ayah dan Ibu pindah ke Semarang 5 bulan yang lalu saat Ayah ditugaskan mengurus kantor yang ada di Semarang oleh bosnya. Ibu mengikuti Ayah dan bekerja satu kantor, sedangkan Kak Vina sudah mulai tinggal di Semarang karena kuliah di sana sejak satu tahun yang lalu sebenarnya aku mau ikut tetapi nanggung karena saat itu aku sudah kelas 11 semester 2 dan sekarang aku sudah kelas 12 semester 1 di suatu SMA swasta di Kota Magelang setelah aku lulus sekolah rencananya aku juga akan pindah ke Semarang. Karena itu rumahku menjadi tempat nongkrong teman-temanku tak heran jika di rumahku banyak sampah bungkus makanan ataupun minuman setiap hari dan ada saja temanku yang nongkrong di sana serta menghasilkan sampah yang tidak sedikit.

              Kak Vina sering menyuruhku mendaur ulang semua sampah itu, karena tugas sekolah yang banyak dan menumpuk aku tak sempat melakukannya jadi biasa aku bakar sampah-sampah tersebut. Bukan aku yang membakar tapi lebih tepatnya aku kasih ke tetanggaku yang sering membakar sampah di belakang rumahnya yaitu Pak Yono bukan hanya aku yang sering menyuruh Pak Yono untuk membakarkan sampah tetapi hampir semua warga di kampungku. Minggu ini aku melupakan untuk membersihkan sampah di rumah dan akhirnya sampahnya bukan semakin sedikit tapi malah semakin banyak.

                   Biasanya orang tua dan kakakku pulang dari Semarang satu bulan sekali dalam waktu yang bersamaan tetapi karena kampus Kak Vina sedang libur semester dia hanya berangkat 1 minggu lalu pulang ke rumah dia ingin liburan semester di Magelang. Aku melupakan itu ku kira Kak Vina akan tinggal di Semarang 1 bulan. Jika sampahnya tidak dibersihkan pasti Kak Vina akan melaporkanku ke Ayah ataupun Ibu jika sampah di rumah masih banyak dan pasti motorku akan disita karena aku telah berjanji untuk membersihkannya.

Satu minggu yang  lalu saat Ibu dan Kak Vina ke Magelang

                   “Loh Andre sampah kamu banyak banget apa dua minggu nggak dibersihkan?”

                  “Sudah Andre bersihkan kok Bu, itu sampah tadi malam teman-teman Andre kerja kelompok di sini mereka menginap bawa makanan dan minuman banyak rencananya mau aku bersihkan sepulang sekolah.” Ucapku berbohong pada ibuku karena memang itu sampah dua minggu yang belum aku bersihkan.

         Biasanya aku membersihkannya satu bulan sekali dengan membakar semua sampah-sampah itu sebelum orang tuaku dan Kak Vina pulang ke Magelang. Karena baru dua minggu orang tua dan kakakku berangkat ke Semarang jadi belum aku bersihkan. Tetapi ternyata ada berkas yang tertinggal Ibu mengambilnya di rumah ditemani Kak Vina yang katanya mau jalan-jalan saja.

                   “Kalau dari tadi malam kenapa sebanyak ini?” Kak Vina mengikuti pembicaraan.

                 “Biasanya empat anak tetapi tadi malam ada 10 anak sama Andre yang disini dan mereka bawa makanan semua karena tugasnya banyak dan sulit jadi biar tidak ngantuk kami begadang mengerjakan tugas.” Aku berbohong mencari alasan.

                  “Ternyata kamu sering begadang? pantesan Ibu sering mendapat surat dari sekolah karena kamu sering terlambat datang biasanya alasannya karena macet kalau sampai ada surat teguran lagi motor kamu Ibu bilangin ke Ayah untuk menyitanya.”

          “Tapi begadangnya karena tugas kok Bu ya jangan dong hehe.” Ucapku sambil tersenyum ke ibu dan kakakku.

         “Ya makanya kalau ada tugas langsung dikerjakan jangan menunggu malam.” Ibu menasehatiku

               “Iya Bu Andre coba karena biasanya tugas sulit banget jadi harus dikerjakan sampai malam.”

                  “Jangan kebanyakan alasan!”

                  “Hm, by the way Ibu sama Kak Vina datang kesini kapan?”

                “Baru saja ada berkas yang ketinggalan mau diambil menunggu 2 minggu lagi tapi berkas itu penting buat besok, Ibu sama Kak Vina nggak nginap hari ini.” Jelasnya Ibu.

               “Kak Vina satu minggu lagi kesini liburan semester kampus tinggal disini, dan kamu Andre sebisa mungkin sampah-sampah semua ini harus bersih jangan dibakar semua lebih baik didaur ulang.” Ucap Kak Vina kepadaku.

                “Kalo sampai satu minggu semua sampah belum didaur ulang motor kamu Ibu sama Ayah sita dan juga kalo semua sampah ini dalam satu minggu kamu bersihkan Ayah sama Ibu akan memberikan kamu motor baru seperti yang kamu mau.” Ibu memberitahu.

“siap komandan, paling juga tiga hari selesai hehehe.” ucapku sambil hormat ke Ibu dan Kak Vina.

                    “Sebanyak ini yakin tiga hari bisa selesai?” Kak Vina bertanya.

                    “Yakinlah sambil begadang ajak teman-teman sekalian.” Kataku dengan bangga.

                    “Begadang lagi nggak dapat motor baru.” Peringat Ibu.

                 “Nggak kok maksudnya setelah pulang sekolah kita mulai mendaur ulang sampah bareng teman-teman daripada tidak ada kerjaan, janji deh sampah ini bisa didaur ulang dalam satu minggu kalau nggak ya aku terima konsekuensinya.” Menurutku mendaur ulang sampah adalah hal yang mudah padahal aku belum pernah melakukannya.

                “Tadi malam banyak banget 10 anak yang diajak menginap siapa aja? Jangan bilang kamu juga ajak anak cewek untuk menginap ya?

                  “Beneran cowok semua, Aldi, Kribo, Damar, Udin, Ucup, Iqbal, Vero, Reno, Ilham sepuluh anak sama Andre aku nggak bohong .” Terpaksa aku berbohong sebenarnya tidak ada yang menginap.

               Mengingat hal tersebut bergegas aku langsung ke parkiran untuk mengambil motorku dan pulang ke rumah untuk membersihkan semua sampah-sampah. Masalah mendaur ulang aku hanya berfikir akan merapikan dan membersihkan rumah lalu sampahnya aku kasih ke tetangga yang biasanya membakar sampah yaitu Pak Yono. Di belakang rumah Pak Yono ada tempat pembakaran sampah yaitu di lahan kosong terbuka yang digunakan sehari-hari untuk membakar sampah. Setiap hari pasti ada saja sampah yang dibakar disana karena warga selalu mengandalkan Pak Yono untuk membakarkan sampah mereka.

Intinya sampah di rumah harus bersih jika nanti Kak Vina bertanya dimana hasil karya daur ulangnya. Nanti aku bisa berbohong kalau hasilnya di rumah Damar karena kami membuatnya di rumah Damar, selalu saja aku berbohong.

              Entah apa penyebabnya suhu saat ini sangat panas, bensin motorku juga hampir habis dikarenakan dari kemarin sore aku mau membeli tapi tidak ada persediaan. Padahal kemarin siang setelah pulang sekolah aku membeli bensin full di pom bensin dekat sekolah tapi motorku sangat boros sekali, kemarin setelah mengisi bensin aku langsung ke rumah dan tidak keluar menggunakan motor. Aku menyalakan motorku dan langsung pulang ke rumah tidak lupa aku mampir di pom bensin.

                   Sampailah aku di pom bensin.

                “Maaf persediaan bensin disini habis mas.” Pelayan di pom bensin memberitahuku lagi lagi seperti itu.

                  “Kira-kira persediaan ada lagi jam berapa apakah masih lama?”

                  “Ini baru saja habis, jadi kemungkinan masih lama.”

               “Mbak apakah nggak ada sedikitpun untuk saya? Ini darurat mbak setetes pun gak papa daripada nanti saya harus mendorong motor agar sampai di rumah.”

                  “Mohon maaf tapi ini benar-benar tidak ada persediaan.”

                Karena banyak pengendara motor membuat persediaan bahan bakar di pom bensin habis karena mobil pengangkut bahan bakar yang mengantar belum juga datang, aku tidak kebagian persediaan bensin tersebut.

          Dengan bensin sedikit nekat ku berjalan walaupun akhirnya aku tau aku akan kehabisan bensin ditengah jalan. Tapi bagaimanapun aku harus cepat sampai ke rumah dan membersihkan sampah-sampah itu agar motorku tidak disita. Sudah kuduga pasti aku akan mendorong motor untuk sampai ke rumah. Jarak ke rumah masih jauh ditambah teriknya matahari di siang hari membuatku ingin makan es krim, ralat maksudnya membuatku ingin naik kendaraan umum saja. Tapi tidak tega meninggalkan motorku sendirian disini, pasti juga kalau Kak Vina tau akan melapor ke Ayah atau Ibu dan akhirnya juga motorku pasti di sita. Mau minta bantuan tapi bagaimana bisa ponselku saja mati gara-gara semalam listrik padam sampai sekarangpun masih belum menyala. Untungnya tadi saat Kak Vina menghubungiku baterai ponselku belum habis jadi aku bisa bergegas ke rumah. Semakin lama terasa semakin panas teriknya matahari mungkin wajar karena ini jam 1 siang.

              Hampir sepanjang perjalanan tidak ada pom bensin ataupun penjual bensin eceran. Selangka itukah bahan bakar padahal biasanya aku selalu keliling kota tiap hari menghabiskan puluhan liter pun tidak apa dan tidak ada pom bensin yang kehabisan. Disaat seperti ini rasa bersalahku muncul karena sering menghambur-hamburkan bensin. Beratnya mendorong motor, panasnya matahari, pikiranku yang memikirkan motorku akan disita dan juga rasa bersalah karena boros bensin membuat perasaanku sedih dan gelisah dalam satu waktu.

                 Mungkin suhu yang terlalu panas juga disebabkan oleh asap kendaraan yang setiap hari aku ataupun orang lain pakai. Ingin sekali mengulang waktu untuk menjadi lebih baik. Kenapa juga jarak antara satu pohon ke pohon lain sangat jauh. Jika ada banyak pohon di pinggir jalan pasti aku tidak akan merasa kepanasan seperti ini. Akhirnya aku sampai di rumah untungnya Kak Vina belum datang. Aku bisa membersihkan rumah terlebih dahulu. Tetapi karena mendorong motor sekitar 20 km jangan dikira aku tidak haus dan lelah. Aku sangat haus, lelah dan kepanasan ingin rasanya membuat minuman es di rumah sambil bersantai di ruangan yang berpenyejuk udara. Tapi semua itu tidak bisa ternyata listrik belum juga menyala entah sampai kapan bahkan es yang ada di kulkas sudah mencair semua Ac di rumah pun tidak menyala.

              Aku minum apa adanya yang ada di rumah tanpa es setelah itu tanpa ganti baju ataupun makan aku segera membersihkan semua sampah-sampah ini. Ternyata memang sangat banyak ada dua karung lebih pantas saja aku selalu diberi ancaman kalau tidak membersihkan sampah-sampah ini. Setelah selesai membersihkan rumah aku ke rumah Pak Yono untuk membakar sampah-sampah ini.

             “Selamat sore Pak Yono, ini saya ada 2 setengah karung sampah bolehkah untuk dibakar semua?”

               “Wah sangat boleh mas ini ada 15 karung sampah dari warga belum saya bakar nanti sekalian kalau biasanya ada sekitar 20 karung sampah.”

                  “Bolehkah saya melihat pembakaran sampahnya pak?”

                  “Ayo silahkan ke belakang rumah.”

               Belakang rumah Pak Yono terdapat lahan kosong yang tidak terlalu besar disana banyak sekali sampah-sampah yang dibakar bahkan asapnya sangat tebal dan tinggi. Tidak bisa dibayangkan bagaimana Pak Yono bisa tahan membakar sampah yang banyak dengan asap yang tebal. Karena sangat tebal membuatku. Kuamati sekitar dan kurasa suhu disini semakin panas padahal sudah jam 4 sore, biasanya pada jam segini suhu sudah tidak terlalu panas aneh pikirku. Panas tapi semakin gelap apakah ini efek dari suhu api dan asap pembakaran sampah? Apakah ini wajar.

                 Aku menjadi teringat sesuatu dari saat aku kejadian kehabisan bensin, suhu di bumi yang semakin panas, pohon yang semakin langka karena ditebang dan juga sampai saat membakar semua sampah ini membuatku tersadar akan isu krisis iklim, pertanyaan yang ada dibenakku apakah sekarang mulai krisis iklim kenapa suhu dibumi semakin panas.

                   Tidak, bukan hanya itu aku juga khawatir dengan kesehatan Pak Yono dari dulu beliau selalu melakukan pembakaran sampah seperti ini. Semakin lama asapnya semakin tebal akupun sampai terbatuk.

             “Saya mau bertanya pak mohon maaf kalau lancang apakah Pak Yono sudah biasa dengan asap seperti ini?”

          “Ini kalau bagi saya tidak apa-apa karena memang sudah biasa. Intinya mau mengurangi sampah yang dibuang di sungai, dulu sampah yang Bapak bakar tidak sebanyak ini tetapi semakin lama banyak warga yang mengandalkan Bapak untuk membakar sampah Bapak tidak tahu dampak yang dihasilkan dari pembakaran yang seperti ini.” Pak Yono menjawab pertanyaanku

                  “Andre!” suara Kak Vina mengagetkanku saat sedang berbicara dengan Pak Yono.

                Ternyata Kak Vina sudah sampai di Magelang. Ia mencariku sampai ke rumahnya Pak Yono.

            Karena rumahnya terkunci kunci cadangan yang Kak Vina bawa ketinggalan di Semarang. Kak Vina melihat motorku di halaman rumah Pak Yono dan melewati samping rumah Pak Yono untuk sampai ke belakang. Pasti dia tahu apa yang aku lakukan disini. Kalau motorku disita aku nggak apa-apa ini juga kesalahanku aku sadar lebih baik naik kendaraan umum untuk mengurangi pemanasan global.

                   “Kak Vina sudah sampai dari kapan?” Tanyaku.

               “Sekitar 30 menit, rumahnya terkunci kakak belum bisa masuk kinci yang kakak bawa tertinggal di Semarang.”

                   “Uhuk,,, uhuk,,, uhuk,,,” Kak Vina terbatuk karena tebalnya asap.

                   “Kok Kak Vina tahu aku ada di sini.”

                  Kak Vina terbatuk lagi “uhuk,,, uhuk,,, uhuk,,, di depan ada motor kamu jadi kakak cari lewat samping.”

                   “Oh yaudah ayo kita ke rumah.” Ajakku ke Kak Vina

                   “Uhuk,,, uhuk,,, uhuk,,,” lagi-lagi Kak Vina terbatuk.

                Entah kenapa aku merasakan asapnya semakin tebal dan tinggi sampai membuat lingkungan sekitar rumah Pak Yono gelap padahal ini masih sore. Sepertinya bukan hanya sekitar rumah Pak Yono yang gelap tapi memang asapnya telah menyebar.

                   “Ini sangat gelap pak apakah setiap hari seperti ini?”

             “Uhuk,,,uhuk,,,uhuk,,, biasanya tidak seperti ini entah apa penyebabnya mungkin apinya lebih besar dari biasanya.” Pak Yono juga terbatuk.

                Api pembakaran sampah semakin besar aku tidak tahu ini sudah biasa atau hanya sekarang karena biasanya aku hanya memberi sampah ke Pak Yono dan tidak melihat saat Pak Yono membakar sampah. Pak Yono dari tadi batuk dan Kak Vina juga sama. Tubuh Kak Vina tiba-tiba terjatuh tidak tersadarkan. Aku langsung menggendong tubuh Kak Vina. Tetapi belum sampai aku menggendong Kak Vina, Pak Yono juga tiba-tiba pingsan tidak tersadarkan diri aku bingung harus menyelamatkan siapa dulu karena api pembakaran sampah semakin besar dan hampir menuju tubuh Pak Yono dan Kak Vina yang pingsan. Tak hanya itu api juga semakin besar menuju rumah Pak Yono. Belum lagi udara panas dan asap yang semakin tebal membuatku gelisah harus bagimana.

                  “Tolong, tolong, kebakaran.” aku berteriak.

                  “Tolong!”

                  “Kak Vina, Pak Yono ayo bangun!”

              “Tolongggg!” Sepertinya tidak ada seseorang yang mendengar ini. Berkali-kali ku teriak tidak satupun orang yang kesini.

                 Mungkin tetangga-tetangga yang lain sedang tidak ada di rumah

                 “Argh.”

                 “Tolooooonggg!”

                 “Andre kenapa kamu menjerit saat saya mengajar di kelas?”

                 “Ada kebakaran bu di rumah Pak Yono.” ucapku panik.

           “Jangan ngigo kamu, itu sebabnya kalau saya sedang menerangkan jangan tidur.    Jadinya mimpi buruk kan kamu, memangnya sudah bisa sedang diterangkan malah tidur? Coba sebutkan apa saja penyebab pemanasan global dan krisis iklim?” Bu Siti guru geografi di kelasku memarahiku dan bertanya.

                Ternyata aku tertidur saat pelajaran geografi sedang berlangsung dan itu tadi adalah mimpi. Lega rasanya semua itu hanya mimpi, tetapi kenapa terasa nyata apakah itu sebuah peringatan bumi mulai krisis iklim. Aku jadi teringat janjiku satu minggu yang lalu untuk mendaur ulang sampah belum aku kerjakan. Mungkin motorku kalau nanti disita tidak apa-apa. Memang aku salah tidak membersihkan sampah selama dua minggu lebih bahkan setiap hari banyak sekali sampah yang dihasilkan karena ulahku dan teman-temanku yang selalu nongkrong dan membawa makanan/minuman dengan kemasan plastik di rumahku tanpa mempedulikan mau dibawa kemana sampah-sampah itu. “tring” langsung ku buka ponselku, benar saja Kak Vina yang mengirimkan pesan. “Ayah dan Ibu ikut ke Magelang kalau sampah-sampah itu sudah kamu daur ulang motor baru menantimu.” Sekarang aku tidak lagi peduli dengan motor baru, mau motorku disita juga tak apa. Karena aku memang bersalah. Jika motorku disita aku bisa ke sekolah dengan menaiki kendaraan umum itu termasuk perbuatan sepele mengurangi krisis iklim.

            Pikiranku sekarang bukan untuk motor baru tetapi bagaimana caranya aku bisa mendaur ulang semua sampah-sampah itu, bagaimana aku bisa menghemat listrik, bagaimana aku bisa hemat bbm dan bagaimana aku bisa mengajak orang lain untuk melakukan sesuatu yang dapat mengurangi krisis iklim dan iya pohon mungkin bisa menurunkan suhu panas di bumi.

               “Andre dimana sopan santun kamu? disuruh menjawab pertanyaan malah buka hp sambil melamun. Silahkan keluar!”

                  Suara Bu Siti yang marah menyadarkan lamunanku.

One thought on “Cerpen #356; “Hanya Mimpi atau Peringatan”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *