Cerpen #354; “Kelabu di Kepala Tora”

Nino, putra dari Damhuri admin group we-a Alumni Fakultas Pertanian meninggal dunia. Tora membaca isi we-a itu saat sedang sarapan hendak berangkat ke kantor. Sebenarnya jadwal Tora sangat padat. Ada rapat. Pertemuan. Berkunjung ke sekolah yang telah mengundangnya jauh-jauh hari. Tidak datang melayat rasanya tidak mungkin. Damhuri selain admin group we-a mereka adalah teman paling akrab dengan Tora. Mau tidak mau Tora mengosongkan waktunya setengah hari untuk melayat. Berkunjung ke sekolah ia minta diundurkan. Tora segera menghubungi Wiwit bawahannya untuk mengatur semua itu.

Tora tiba di rumah duka, putra Damhuri sudah selesai di makamkan. Rumah Damhuri masih ramai pelayat. Satu hal yang membuat Tora terkejut adalah, sebagaian besar teman-teman sesama alumni datang melayat. Tora dengan berat hati membatalkan segala rencananya. Tora tidak ingin dicap sombong langsung pulang begitu bertemu Damhuri dan istri. Belum lagi kehadirannya disambut banyak orang yang saling bersahut-sahutan. Tora tidak ingin meninggalkan kesan jelek di pikiran mereka. Mau tidak mau Tora ikut bergabung di meja yang sudah berubah menjadi bentuk melingkar. Tora tidak menyangka group we-a alumni memiliki sikap perduli teman yang begitu tinggi. Tora masih ingat jelas dengan orang-orang yang berkumpul bersamanya.

Mereka sebagian besar dulu Aktivis. Parto membuka cerita itu setelah usai saling berbasa-basi. Tora kurang begitu nyaman pertemuan di tengah suasana duka. Tora tidak punya cara memberi kode pada Parto. Beruntung Dwi duduk di samping Tora. Jarak mereka cukup dekat. Tora membisikkan sangat pelan pada Dwi agar mereka tetap menjaga sikap. Tora lega Dwi tanggap dengan isi kepalanya. Dwi mengalihkan arah obrolan menuju Damhuri. Sejenak Parto tidak mengerti sampai ia sadar akan tindakan Dwi termasuk teman-teman lainnya.

“Nino sakit apa, Dam?” tanya Dwi melihat Damhuri.

“Sesak napas. Sejak kecil Nino memiliki bawaan asma. Nino sejak lahir tidak lepas dari pertolongan dokter. Waktu tinggal di desa bersama mertua Nino justru tampak sehat. Aku dan istri ikut lega. Kami membiarkan Nino tinggal di desa bersama kakek dan neneknya. Sampai usia sekolah mau tidak mau kami harus membawanya ke sini. Tanpa kami sadari dengan membawa Nino kembali, justru membuka celah bagi Nino untuk kembali pada penyakit lamanya. Kami kurang cepat menyadari akan hal itu. Kami merasa bersalah!” Suara Damhuri sedikit bergetar. Semua orang larut mendengar penjelasan dari Damhuri.

Hening sejenak. Tora menyimak penuturan Damhuri ikut merasa sesak. Tora teringat Kiano putra sulungnya. Unda-undi usianya dengan Nino. Tora sangat jarang mengecek perkembangan Kiano akibat kesibukan kerjanya. Tora berencana malam nanti ia akan menemui Kiano lalu mengajaknya bicara-bicara.

“Apa karena udara di sini, Dam?” Munsi membuka suara. Suara Munsi cukup datar. Herannya Tora ikut melirik pada Munsi. Semua orang pasti tidak menemukan indikasi apa pun dari suara Munsi.

“Aku juga kurang tahu, Mun! Sekitar tempat tinggalku ada beberapa keluarga mengalami hal yang sama seperti Nino. Mereka batuk-batuk. Mungkin karena fisik mereka kuat, berobat ke puskesmas, minum obat sembuh. Bahkan info dari dokter di puskesmas, masyarakat yang batuk-batuk di wilayah sini lonjakannya cukup drastis. Aku belum tahu pasti karena belum memiliki sumber data. Kami sendiri masih berduka.” Damhuri menghela napas dalam. Tora merasa dadanya sesak sampai bernapas pun ia sulit.

“Kami ikut berduka ya, Dam. Apa pun itu, kita doakan saja semoga anak Nino menemukan kelapangan di alam kuburnya. Kamu yang sabar ya, Damhuri?” ujar Tuti menengahi suasana yang berubah kelabu.

“Terima kasih, Tuti. Terima juga untuk kedatangan teman-teman semua. Aku sangat terhibur dengan kedatangan kalian. Sekali lagi terima kasih?” jawab Damhuri pelan.

“Sama-sama, Dam. Sama-sama, Damhuri.” Sahut semua teman-teman saling bergantian. Tora ikut mengucapkan kata yang sama walau tanpa suara. Bibirnya sekedar ikut bergetar saja.

“Apa perlu kita membuat gebrakan?” Suara Parto membelah keheningan sesaaat. Tora cepat menoleh pada Parto. Semangat Parto belum berubah. Parto adalah sosok yang idealis dalam meluruskan kebengkokan. Tora tahu siapa Parto sewaktu mereka muda dulu.

“Gebrakan apa maksudmu, Parto?” tanya Gugun. Beberapa orang ikut melirik pada Gugun. Bila Gugun sudah bersuara itu pertanda gong bakal di bunyikan. Tora menyimak dalam diam. Gugun belum berubah masih gondrong. Bedanya badannya jauh lebih gempal sekarang.

“Kita semua orang-orang pintar, bukan? Gampang saja mencari tahu kondisi yang terjadi belakangan ini. Kita semua sudah sudah menjabat, tho?” gumam Gugun santai.

“Nah! Saya setuju usul Gugun. Apa perlu kita turun gunung? Percuma saja kita semua pada masa dulu paling gagah berada di garis terdepan memprotes kepungan asap yang seakan tak mengenal kata selesai di kota kita akibat pembakaran lahan kelapa sawit? Apa kalian lupa berbulan-bulan kita seperti hidup di planet lain? Kejadian lima belas tahun lalu kita membuat gerakan memprotes pemerintah, apa kalian lupa? Sekarang kita menghadapi sendiri akibatnya anak-anak kita atau mungkin generasi muda lain menanggung akibatnya. Apa perlu kita mewujukan usul Gugun?” ujar Parto berapi-api.

Semua orang yang berkumpul terasa kesulitan menghirup udara. Damhuri termenung di kursinya. Tuti masih sempat melirik kiri dan kanan. Dwi menatap kosong ke depan. Gugun duduk santai di kursinya. Parto paling semangat menuntut tanggapan teman-teman lain yang memilih membisu. Parto melihat ke arah Tora. Sengaja Tora tidak menanggapi. Tora sangat mengenal Parto. Bila sudah kemaunnya Parto tidak akan kenal kata berhenti! Perilaku Parto ternyata belum berubah sejak zaman kuliah.

“Bagaimana Tora? Sejak tadi Bapak pejabat ini diam saja. Tora mungkin ada usul lebih dasyat?” Parto senyum meringis. Tora tetap menjaga sikapnya. Tora tidak ingin salah bertindak. Tora tidak ingin terlihat konyol dalam pertemuan tidak terduga ini. Tora pura-pura mengubah posisi duduknya.

“Aku belum ada usul apa-apa. Menurut aku, mungkin kita dapat membahas masalah ini di waktu dan tempat lain. Kalian tahu, sekarang waktu yang kurang tepat. Kita sama-sama tahu, suasana masih berduka. Kita semua ngobrol terlalu serius malah menjadi perhatian orang lain. Kita di sini untuk memberi dukungan moral pada Damburi. Aku rasa seperti itu, To.” jawab Tora setenang mungkin.

“Wah, diplomatis sekali. Memang berbeda kalau Bapak Pejabat memberi jawaban, ya?” Parto terkekeh. Tora ikut tersenyum. Tora sudah belajar menahan kata hati di depan banyak orang. Tora tahu, Parto sengaja menyindir dirinya.

“Aku setuju usul Tora. Sangat bajiknya kalau kita lebih menjaga ketenangan keluarga yang berduka saat ini. Kita bisa berkumpul di waktu yang lain.” Tuti kembali menengahi.

Tuti sejak dulu seakan memiliki magnet. Tuti memiliki bakat mengubah suasana tegang menjadi tenang kembali. Sebagian berguman tak jelas sembari melontarkan celotehan-celotehan tak jelas. Gugun masih duduk dengan gayanya yang cuek. Parto senyum-senyum tak puas. Tora berusaha mengacuhkan sikap beberapa temannya. Tora berusaha santai.

Tora kembali tenang setelah berada di dalam mobil. Panas terasa sangat menyegat. Udara sama sekali tidak terasa. Udara terasa sangat kering. Sejak berada di rumah Damhuri, Tora sudah merasa kepanasan. Bukan dia saja. Semua teman-temannya merasakan hal yang sama. Tangan-tangan mereka tidak henti-hentinya bergerak berusaha meraup angin dari sekitar. Padahal Damhuri sudah menyediakan beberapa kipas angin besar tetapi tidak mampu meredakan barang sedikit saja sengatan panas yang sangat luar biasa.

Mobil Tora meluncur pelan. Ada pesan masuk dari Wiwit bawahannya. Ternyata pertemuan di sekolah diundur Minggu depan. Berita dari Wiwit membuat Tora tercengang. Ternyata kepala sekolah yang hendak ia kunjungi tak lain istri Damhuri. Tora memang tidak pernah menghiraukan siapa atau dengan siapa ia akan bertemu. Tora bergetar sejenak begitu menyadari bahwa kepala sekolah yang hendak ia kunjungi adalah istri Damhuri. Ibu Siti Ainun Maharani. Minggu depan ia tetap berkunjung ke sekolah itu untuk menggaungkan pentingnya menjaga bumi. Tora ingat tema itu yang diangkat anak-anak SMU waktu mengajukan proposal untuk mengundang dirinya. Tora merasa jantungnya teriris.

Mobil perlahan berhenti sebelum garis putih pembatas marka jalan. Lampu sedang menyala merah. Beberapa orang yang awalnya berdiri di pinggir trotoar merengsek ke tengah jalan melakukan tugas mereka untuk mendapatkan uang sekedarnya. Keadaan mereka beragam. Ada Ibu menggendong seorang bayi. Anak remaja laki dan perempuan. Bahkan ada anak yang masih di bawah umur. Mereka bertindak begitu cepat tentu menyesuaikan detik lampu berganti warna. Tora mengamati mereka dengan sikap terenyuh. Bumi boleh bertambah tua, ternyata corak kehidupan masih saja ada yang seperti ini. Sorang anak muncul dari arah belakang. Kehadiran yang tiba-tiba sejenak membuat Tora terkejut. Tangannya menadah ke arah Tora. Sigap supir Tora membuka kaca di sampingnya mengalihkan perhatian anak itu. Selembar uang diselipkan supir Tora. Anak itu terlihat begitu senang. Usianya paling sepantaran dengan Kiano. Tora menyandarkan bahu begitu mobil bergerak di jalan yang lumayan sepi.

Tora dikejutkan oleh ponselnya bergetar. Cepat Tora membuka ponsel setelah menempelkan sidik jari. Email masuk dari atasan. Tora seketika merasa tidak enak. Sebab email itu belum ada seminggu ia kirimkan kini sudah menerima balasan. Agak terburu Tora menyentuh tanda amplop di layar ponselnya. Proposal yang ia ajukan ditolak. Bukan sekedar ditolak tetapi ditambahi beberapa catatan peringatan. Tora membaca email itu dengan pikiran kalut. Sebagai pimpinan di daerah Tora merasa catatan itu sangat mengganggu dirinya!

Menikmati bangku kuliah di awal-awal Bapak tidak pernah mengekang apapun kegiatan putranya Tora. Memasuki tingkat dua, Tora bersama teman-teman kampusnya turun unjuk rasa di depan kantor gubernur. Mereka menentang pembakaran hutan, lahan sawit, dan tambang! Waktu itu Bapak masih sangat sehat. Bapak tidak banyak komentar hanya mengamati saja. Bapak seakan mendukung dalam diam. Gabungan Mahasiswa dari satu propinsi ikut turun mendesak pemerintah agar serius menangani masalah asap yang kini sudah menyelimuti seluruh propinsi secara merata. Bahkan asap itu pergi berkelana menaungi wilayah-wilayah terdekat. Orang-orang mulai berteriak. Media massa mulai berperan. Dampaknya bahkan mulai terlihat di tengah masyarakat. Manula, perempuan, dan anak berjatuhan menjadi korban. Infeksi saluran pernapasan akut merajalela di mana-mana.

Tora begitu gagah menggugat sikap pemerintah. Damhuri, Gugun, Panca, serta ribuan mahasiswa lain tak gentar melakukan orasi. Mereka berorasi di depan kantor gubernur. Mengutarakan pendapat beserta bukti-bukti yang telah mereka pegang. Mereka bukan mahasiswa siluman. Mereka adalah generasi muda yang benar-benar sekolah dengan baik. Kota mereka berubah seperti kota asing. Seluruh langit di selimuti asap. Jarak pandang nihil! Mata perih oleh asap yang mengandung CO2 yang begitu pekat. Mereka menuntut perhatian serius pemerintah untuk permasalahan yang seakan sengaja dibiarkan.

Pesan Bapak hanya satu. Hindari Anarki. Demonstrasi sah di mata hukum selama dilakukan sesuai peraturan yang ada. Bapak memang tidak menunjukkan sikap secara terang-terangan. Bapak hanya berpesan agar putranya tetap menomor satukan masa depannya.

“Kalian generasi muda. Tentu berbeda dengan generasi Bapak. Kalau bukan kalian yang bertindak demi kebaikan bumi tempat kita tinggal ini, lalu siapa?” pesan Bapak mendukung putranya.

“Tora bersama teman-teman tidak akan berhenti berjuang, Pak!” jawab Tora gagah.

Bapak mengangguk-angguk pelan. Tersirat rasa bangga pada putranya. Seharusnya ia melakukan tindakan-tindakan serupa ini. Ia tahu banyak hal yang tidak sesuai prosedur yang terjadi dalam lingkaran pekerjaan di kantor. Tekanan teratas, menekan lebih bawah, lalu menekan lagi bawahan di bawahnya. Piramida seperti itu terjadi bertahun-tahun tentu dengan banyak akibat. Bapak tidak secara terbuka bercerita pada Tora. Tetapi Bapak selalu berpesan agar suatu hari nanti dengan kemampuan yang dimiliki putranya, Tora mampu mengubah kebijakan-kebijakan yang ia tidak mampu lakukan. Bapak menumpu harapan pada Tora.

Sayangnya Tora tidak pernah terketuk untuk mengetahui kenapa Bapak mendukung apa yang ia perjuangkan. Bapak memang tidak bicara secara terbuka. Bapak acap kali meminta ia untuk mengubah sesuatu yang lebih baik dari yang tidak bisa Bapak lakukan. Apa yang mereka perjuangkan di depan kantor gubernur tidak serta merta memberi hasil yang nyata. Asap tetap saja mengambang di langit. Orang-orang mengenakan penutup mulut juga kaca mata. Berbagai penyakit muncul di mana-mana. Batuk, iritasi mata, dan sesak napas menjadi pandangan biasa. Tora dan gerakannya tidak berhasil menuntut apa yang mereka inginkan dalam bentuk nyata. Prosesnya berbelit, panjang, juga melelahkan. Konyol!

Mobil Tora melambat di tengah jalan raya utama. Macet melanda. Tidak pernah terjadi jam siang seperti ini jalan raya utama macet. Tora memajukan bahunya untuk mengamati keadaan. Ternyata ada unjuk rasa! Supir Tora mengeluh gusar. Tora mencoba menenangkan supirnya.

“Konsentrasi saja Pak Man. Kita tidak bisa apa-apa, kita terjebak di dalam macet. Biarkan saja mereka menyampaikan apa yang ada di dalam pikiran mereka. Pak Man tetap konsentrasi saja.” pesan Tora santai.

“Siap, Pak.” jawab Pak Man lega.

Jumlah pendemo sangat banyak. Sepertinya ini demo gabungan dari beberapa lembaga juga mahasiswa. Mereka membawa berbagai atribut, spanduk, juga papan kecil. Tora membaca sekenanya. Beragam tuntutan mereka tuliskan di sana. Beragam gambar mereka jadikan pendukung demi melancarkan aspirasi. Bukan itu saja, para demonstran juga melukisi wajah mereka dengan cat minyak aneka warna. Mereka bergerak secara rapat.

Masa-masa silam dulu, Tora melakukan tindakan yang sama. Mereka memperjuangkan kepincangan yang terjadi di masyarakat. Pemerintah sekedar bicara saja di depan khalayak ramai demi mengendalaikan keributan lebih parah. Mereka diperlakukan seperti anak kecil yang membutuhkan permen. Pemerintah dengan santai mengatakan paham apa yang menjadi keinginan  mereka. Mereka sekedar dijanji-janji dan meminta para demonstrans untuk pulang setelah penyambutan ini. Selesai!

Besoknya harian terbesar di kota menurunkan tulisan yang berbeda. Pemerintah sudah melakukan tindakan yang nyata. Menindak oknum-oknum yang mengeruk keuntungan pribadi dengan melakukan pembakaran diam-diam. Oknum sudah ditangkap. Aman. Nyatanya asap berbulan-bulan kemudian belum juga enyah dari wajah langit!

Kemunculan Tora di kantor di sambut kepala-kepala bagian lain. Mereka menerima email serupa dari proposal yang diajukan oleh dirinya.  Tora tidak merasa aneh dengan sikap para kepala bagian. Tora sudah bisa menebak sebagian besar menyanyangkan tindakan dirinya melakukan tindakan yang cukup berani. Mereka mengikuti Tora memasuki ruangannya.

“Kita semua kena tegur Pak Tora! Seharusnya Pak Tora mendengar usulan kami bahwa proposal itu berbahaya. Pak Tora tahu sendiri akibatnya untuk Pak Tora juga kantor kita. Saya tidak mau iku campur Pak Tora!” sembur Pak Suroto begitu mereka berada dalam ruangan Tora. Ingin sekali Tora menyindirnya. Tora masih ingat catatan yang di lampirkan oleh kantor pusat. Katakan saja kamu mau aman sendiri? Dumal Tora dalam hati.

“Apalagi saya Pak. Membaca proposal Pak Tora mustahil rasanya kantor bersedia menggelontor dana sekian banyak untuk hal yang kurang penting! Pak Tora tahu sendiri, untuk mewujudkan sesuai proposal Bapak butuh waktu berapa lama? Kita semua diganti saya tidak yakin wujud dari isi proposal itu bisa selesai! Saya berulang kali mengirim revisi pada Pak Tora. Saya heran kenapa Pak Tora nekat mengirim proposal itu ke kantor pusat! Menurut saya Pak Tora terlalu berani!” sambung Pak Kaspin menahan dongkol.

Tiga kepala bagian lain serupa tidak ada yang berada di pihaknya. Tora sengaja tidak ingin berdebat. Tora membiarkan mereka melontarkan keberatan-keberatan yang memenuhi kepala. Tora justru serius memperhatikan tv yang menyala di sudut ruangannya. Demonstrasi yang ia lewati tadi sudah diberitakan secara nasional. Sepertinya demo ini sangat serius. Reporter dari berbagai tv ikut turun menyampaikan laporan mereka. Tora meringis menyimak para reporter itu menyapaikan satu kejadian peristiwa. Mereka benar-benar sangat mentah!

“Menurut saya email yang kita terima mengenai proposal Pak Tora tidak terlalu genting!” Pak Wita membuka suara. Semua orang menoleh Pak Wito termasuk Tora.

“Maksud Pak Wito?” tanya Pak Kaspin tidak mengerti.

“Lembaga gabungan mengatas namakan Penyelamatan Bumi menyerang perusahaan secara terbuka. Bahkan mereka sudah mengirim surat untuk Presiden. Mereka bersuara melalui media sosial. Mereka bicara dan mendapat respon dari banyak masyarakat pengguna internet. Saya ditegur oleh Pak Muhklis tadi siang. Beliau minta Pak Tora untuk meredam mereka agar tidak semakin melebar. Saya pikir masalah ini lebih penting!” urai Pak Wita.

“Betulkah?” Para Kepala Bagian merespon serempak.

Lambat laun Tora mulai mengerti. Bapak begitu ringan tangan memberi uang pada siapa pun yang datang ke rumah. Ibu sudah cemberut saja di dalam kamar. Ibu adalah orang yang sangat pintar berhemat. Ibu jarang membelanjakan uang apabila tidak terdesak. Ibu rajin memanfaatkan pekarangan rumah yang cukup luas. Ibu menanam sayur, cabe, dan rempah-rempah sederhana. Setelah urusan rumah selesai, Ibu lebih banyak berada di halaman untuk merawat kebun miliknya. Dalam waktu dua bulan Ibu sudah mendapat hasilnya. Kebun Ibu tumbuh dengan baik. Siap dipanen kapan saja. Ibu tidak pernah belanja kebutuhan sayur mayur. Sekarang di depan Ibu, para tetangga dengan begitu gampangnya datang ke rumah minta uang. Mereka pikir suamiku koperasi simpan pinjam? Gerutu Ibu tak selesai.

“Mereka sedang butuh. Suaminya lagi sakit sesak. Tidak mungkin menarik becak dalam kondisi seperti itu. Sudah biar saja, Bu.” ujar Bapak membela diri.

“Mereka jadi terus-terusan datang ke sini minta uang. Apa Bapak kira uang kita cukup banyak untu dibagi-bagi orang sekampung! Bapak kok berpikirnya begitu?” sentak Ibu.

“Sudah, sudah, Bu? Bapak memberi sekedarnya saja, kok. Selagi kita memberi Bapak percaya kita tidak akan kekurangan. Sudah ya, Ibu jangan ngambek. Bapak takut.” Bapak berusaha bercanda.

Perkiraan Ibu benar. Sakit itu seperti menular di setiap keluarga di sekitar tempat tinggal. Bermula dari Mamang Dul, penarik becak yang di kenal Bapak. Dua hari kemudian datang lagi orang yang tidak begitu di kenal. Mau tidak mau Bapak terpaksa keluar uang. Ibu benar-benar marah setelahnya. Bapak bermaksud baik, ketentraman keluarga menjadi taruhan. Tora mengamati situasi itu dengan bingung. Apa yang membuat Bapak bertindak seperti itu?

“Kelak kalau kau sudah dewasa, kau akan mengerti akan tindakan Bapak. Kota kita ini kota yang khusus. Bumi dimanfaatkan oleh orang-orang yang memiliki uang banyak. Mereka mengeruk bumi sampai ke kerak-keraknya. Tanah digali. Hutan dibakar. Bukit-bukit dirambah hingga merusak keseimbangan ekosistim. Banyak hal yang nanti bisa kamu pelajari dan mengerti sendiri, Nak!” jawab Bapak tenang. Tora bergeming.

Bapak banyak memberi perumpamaan pada Tora. Sesuai umurnya Tora belum mengerti maksud dari perkataan Bapak. Tora berharap ada penjelasan lebih gamblang dari Bapak supaya ia tidak menduga-duga. Sayangnya semua itu tidak terlaksana karena keburu Bapak kalah melawan penyakit paru-paru yang sengaja Bapak sembunyikan dari keluarga.

Ibu tidak mampu menjelaskan banyak hal yang Tora butuhkan. Ibu hanya memintanya untuk mencari pekerjaan demi menyambut hidup mereka. Berkat doa Ibu, Tora berhasil mendapatkan jabatan lebih tinggi dari Bapak. Satu hal yang membuat Tora bangga, Bapak pasti tersenyum bahagia di tempatnya yang jauh!

Apakah benar Bapak sedang tersenyum sekarang?

Tora memilih pulang ke rumah. Ia tidak ingin memikirkan tambahan catatan dalam balasan emailnya. Termasuk diskusi bersama seluruh kepala bagian begitu ia muncul di kantor. Termasuk masalah yang sangat menganggu dari Pak Wito. Tora tidak ingin menguras tenaga untuk permasalahan yang pelik. Tora berharap dengan pulang ia mendapat sedikit ketenangan. Bukankah rumah adalah untuk tempat pulang? Tora tergugah, terbayang wajah istri yang dari awal sangat ia cintai. Istri setelah ia nikahi ternyata memiliki bakat tersembunyi sebagai penuntut di balik kelembutan-kelembutannya.

Tora tinggal di satu perumahan elit. Tadinya Tora ingin membeli rumah di samping rumah Ibunya. Penuh pertimbangan Tora ingin membeli rumah yang dilabeli dijual itu. Istrinya tidak setuju. Istrinya memasang wajah cemberut. Ibu menengahi agar Tora mengikuti saran istrinya. Dari rumah satu unit istrinya minta dua sekaligus. Sempit alasannya. Tanpa banyak bicara Tora membeli dua unit dijadikan satu. Rumah yang sangat luas dengan gaya bangunan yang mewah. Sepasang angsa juga kalkun menjadi penghuni halaman rumah yang ditata oleh tenaga profesional. Rumah mereka begitu nyaman terlihat. Dari pintu masuk hingga seluruh sudut rumah benar-benar teratur.

Tora menemui istrinya rebahan di ruang tamu yang sangat luas. Udara di ruang tamu begitu sejuk. Istrinya mengenakan kain kaftan yang begitu mewah. Tora masuk tanpa sambutan. Istrinya asyik menonton tv berbayar. Tora berdiri mengamati istrinya. Istirnya adalah ratu di rumah mereka. Misa pembantu utama muncul dengan seragam kerja. Menyambut Tora dengan sopan. Danis pembantu khusus di dapur sibuk menyiapkan makan malam untuk dirinya. Istrinya sama sekali tidak ambil bagian. Sejak kapan aku membiarkan kebiasaan buruk seperti ini? Tora berjalan gontai mencari Kiano.

Tora membuka pintu kamar Kiano. Kiano asyik dengan game onlinenya. Seperangkat game online terbaru ia belikan setelah didesak istrinya. Kedua telinga Kiano tertutup headphone ukuran besar. Kiano bahkan tidak memperdulikan kehadiran Tora. Kiano fokus ke layar komputer. Tora menarik napas dalam. Kiano benar-benar produk anak internet. Ia dan istri selalu bertikai perihal mendidik dan mengarahkan Kiano. Tora benar-benar sedih!

Demonstrasi meledak lagi dari sejak pagi. Unjuk rasa kali ini benar-benar luar biasa. Seluruh gabungan kampus di propinsi ini sama-sama turun ke jalan. Bukan hanya mahasiswa, lembaga-lembaga penyelamat bumi juga sama-sama turun ke jalan menuntut tanggungjawab pemerintah dan perusahaan-perusahaan terkait. Unjuk rasa kali ini benar-benar berbeda. TV menyiarkan secara langsung. Diselingi diskusi-diskusi tentang kesehatan yang sangat terpuruk di kota ini. Emisi, karbon, iklim ekstrim, termasuk hal-hal yang diperdebatkan. Semua stasiun tv melakukan perihal yang sama. Tora mengikuti segala perkembangan dari ruang kantornya. Tora geram sebab banyak hal yang sangat dilebih-lebihkan!

“Kalau saja proposal yang saya kirimkan itu mereka pelajari dengan kepala dingin, saya yakin unjuk rasa ini tidak akan terjadi. Membakar lahan tanpa mempertimbangkan matang-matang sama saja dengan bunuh diri. Sekarang api seakan-akan tidak mau padam. Api itu ibarat dosa-dosa kita pada masyarakat umum. Kondisi sekarang sangat tidak karu-karuan!” sungut Tora di depan Wiwit bawahannya.

“Mereka berhasil mendapat data otentik dari lab Pak Tora. Kondisi udara karena pembakaran hutan itu benar-benar mengancam generasi muda. Anak-anak, remaja, juga dewasa menjadi korban. Mereka penghuni seluruh rumah sakit di kota ini. Lembaga itu bahkan berniat membawa masalah ini ke ranah hukum Pak. Dari surat tembuan Menteri Lingkungan Hidup, tertera yang bertanggungjawab menentang kasus ini adalah Bapak Parto Rajiman. Bahkan beliau rencana akan memimpin gerakan secara nasional.” jawab Wiwit.

“Parto Rajiman? Tolong kirimkan saya emailnya, Wit?” pinta Tora tergesa.

“Siap, Pak!” Wiwit cekatan melakukan perintah.

Parto Rajiman! Siapa lagi kalau bukan Parto teman kuliahnya dulu. Tora menyandarkan bahunya lemas. Penyebab kekacauan ini lambat-laun akan terungkap dengan jelas. Cepat atau lambat, apabila Parto berhasil membawa kasus ini ke ranah hukum maka panah itu akan menunjuk tepat di depan dadanya. Kutuk itu akhirnya menghampiri dirinya.

“Pak Tora, telpon dari kantor pusat, line 2!” ujar Prita operator telpon tegas.

“Pak Tora! Anda kenal Parto Rajiman? Menurut data yang berhasil kami cek di lapangan Parto teman kuliah Anda! Saya mau Anda mengurus Parto ini dengan baik. Secepatnya!” Klik! Hubungan telpon terputus. Tora tergagap tidak percaya!

Tora duduk hening. Masihkan Bapak akan tetap tersenyum di alam baka?

7 thoughts on “Cerpen #354; “Kelabu di Kepala Tora”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *