Cerpen #353; “The end of the F***ing World”

99 tahun yang lalu,terjadi perubahan besar pada bumi dan seisinya akibat mencairnya es di kutub dan rusaknya lapisan ozon. Pohon yang sudah jarang ditemukan membuat panas dan terik matahari lebih terasa mengenai  kulit kepala. Langit biru sudah enggan menampakkan dirinya. Terlalu marah karena selalu terselimuti  kabut asap yang cukup berbahaya,Polusi. Tidak ada hujan selama 80 tahun berturut-turut.

45 tahun setelah krisis iklim itu berlangsung dan menyantap tidak sedikit umat manusia akibat pola hidup tidak sehat,  Dr. Akito Bushimaru seorang profesor berkebangsaan Jepang-Indonesia menemukan sebuah tempat untuk umat manusia berlindung ‘Greenhouse’ .

Greenhouse merupakan bangunan yang terbuat dari plastik atau kaca yang tebal dan menutupi semua sisi bangunannya dari atap sampai ke dindingnya.

Dr. Akito adalah kakekku. Dia mengembangkan penemuannya hingga dapat memuat 10.000 manusia setelah ibu meninggal. Aku taktau pasti sebab ibu meninggal. Itu adalah tepat setelah 3 bulan aku dilahirkan. Tak sempat tahu bagaimana wajah ibu, akupun tidak tahu siapa ayahku. Yang aku tahu,kakek sangat memebencinya dan marah setiap kali ku bertanya tentangnya.

Kini, tahun 2185 ketika usia ku genap 12 tahun , kakek sedang mengembangkan penemuan barunya , pohon buatan. Entahlah aku begitu asing. Bagian atas benda itu jika dilihat dari kejauhan terlihat seperti rambut.  Dengan tubuh besar berwarna kecoklatan bernama batang. Sebelumnya , aku tidak pernah melihat pohon yang asli bagaimana namun aku yakin penemuan kakek tidaklah jauh berbeda dengan aslinya. Pohon ini memiliki fungsi  untuk menghasilkan Oksigen dan Mengurangi karbondioksida. Berada dibawahnya sangatlah menyejukan.

“Jika pohon buatan semejukkan ini , apakah pohon asli lebih menyejukan?” Tanyaku kepada kakek. Beliau duduk disampingku lalu mengelus puncak kepalaku.

“Benar” Jawabnya.

Aku termenung , ada yang mengganjal. “Lantas mengapa dapat punah? Bukannya pohon itu sangat bermanfaat untuk manusia ya kek?”

“Hoshi, manusia itu menyeramkan”

Jawaban kakek membuat ku termenung lantas aku bertanya kembali.

“Menyeramkan yang seperti apa yang kakek maksudkan ?”

Kakek tidak menjawabku. Ia hanya meneguk cairan berarna hijau kecoklatan di cangkir yang sedari tadi berada di genggamannya. Ia berdiri , tersenyum ke arahku. “Sudah malam Hoshi,sebaiknya kau tidur” Ujarnya kemudian meninggalkanku.

Kakek selalu tersenyum kepada siapapun , sekalipun orang itu memaki kakek, beliau tetap tersenyum. Lantas sekarang kakek mengatakan kepdaku bahwa manusia itu menyeramkan.

Pemikiran Akito Bushimaru memang tak dapat dipahami oleh bocah 12 tahun sepertiku.

Hari ini aku bangun lebih awal. Hendak ingin pergi ke kamar mandi, aku sempat melihat ke arah ruang kerja kakek. Disana cukup ramai orang. Mereka sesekali tertawa dengan lantang dan keras. Entah apa yang mereka bicarakan. Namun mereka terlihat ramah dan akrab satu sama lain. Sekilas pembicaraanku dengan kakek kemarin teringat. Tentang betapa menyeramkannya manusia. Tapi entah apa maksudnya itu.

30 menit setelahnya kakek pamit kepadaku untuk berjalan-jalan sebentar. Namun ia datang kembali saat malam larut dengan keringat bercucuran di dahinya. Penampilannya berantakan. Sekilas aku mencium bau amis darah namun pakaian kakek tidaklah kotor sama sekali.

“Sudah malam Hoshi , sebaiknya kau tidur daripada menungguku pulang” Sama seperti biasanya. Ia tersenyum kepadaku sebelum beranjak meninggalkanku.  Kakek tetaplah kakek. Pernah suatu ketika aku bermain bola di dalam ruangan dan tidak sengaja mengenai material percobaan kakek hingga tumpah berserakan. Namun kakek hanya tersenyum dan menyuruhku tidur. Selalu seperti itu. Pedahal aku tahu kakek sangatlah marah.

Apa manusia memang seperti itu ya? Palsu.

Tidak seperti anak lainnya yang selalu kelaparan dan kekurangan makanan , aku justru mendapatkan cukup makanan dan tempat tidur yang nyaman. Mungkin karena pekerjaan kakek seorang profesor sekaligus penemu. Itulah pikirku. Sungguh bersyukur dan bangga dengan yang aku miliki dari kakek, namun …

Suatu ketika aku membututi kakek pergi. Seperti pasar swalayan namun ini terlihat menyeramkan.  Pasar ini berada di luar greenhouse. Kami akan baik-baik saja diluar greenhouse selama malam hari.

Terkejutnya aku ketika kakek mendapatkan begitu banyak uang. Entah apakah itu. Penemuannya? Jelas tidak mungkin. Kakek bukanlah orang yang suka menjual penemuannya.Beberapa saat kemudian aku menyadari. Bahwa tempat ini adalah tempat jual beli organ manusia. Benar. Aku telah mengamatinya.

Kaki ku melemas mengetahui fakta yang sebenarnya. Aku berjalan lunglai ke arah rumah. Tentu saja kakek telah tiba terlebih dahulu. Pakaiannya belum ia ganti namun bau amis darah masih tercium jelas di hidungku.

“Hoshi dari mana saja kamu? Sudah kubilang untuk tidak meninggalkan rumah” Kakek tidak terdengar membentak. Mata dia kemudian membulat lalu dengan ragu berkata “Kau tidak pergi ke luar greenhouse kan?”

“Apa yang kakek lakukan disana?”

“Dimana maksudmu? Kakek hanya mencari material untuk penemuan baru kakek”

“Dengan menjual organ manusia?”

Kakek kalah telak.

Cukup lama ia membisu hingga akhirnya “Sudah kubilang manusia itu menyeramkan”

Bahkan dengan bodohnya si tua bangka itu tetap tersenyum ke arahku.

“Manusia akan mencapai tujuannya dengan cara apapun”

Melihat wajahku yang merah padam dan amarahku yang meledak , kakek hanya tersenyum sambil sesekali meneguk cairan di cangkirnya.

‘Penyelamat manusia’katanya. Kebohongan manis dari kakek yang paling aku sukai.

“Kenapa Hoshi? Kau pikir kenapa kakek melakukan itu?” Kakek berujar lebih serius.

Aku yang tidak tahu hanya menggeleng.

“Manusia lah yang menyebabkan dunia seperti ini, Hoshi. Manusia lah yang menyebabkan gas-gas seperti karbon dioksida merusak selimut atmosfer bumi 99 tahun yang lalu”

Hah? Aku tidak mengerti apa yang kakek ucapkan.

“Kau pernah bertanya , kenapa pohon bisa punah? Manusia lah jawabannya”

Tungkai ku melemas. Rasanya tubuhku tidak dapat bergerak. Keringat dingin bercucuran di dahiku. Muka ku memucat ketakutan.

“Kakek hanya menyingkirkan orang-orang yang ingin menyalahgunakan penemuan pohon buatan kakek”

“Dengan menjual organ mereka?”

“Sudah kubilang kan, manusia akan melakukan apapun demi mencapai tujuannya”

Aku terdiam , begitu pula dengan kakek. Ia kemudian mengelus puncak kepalaku, lalu tersenyum seperti biasanya. Namun kali ini, senyuman yang sangat lebar. Seolah-olah mengatakan ia akan pergi bebas. Ia meneguk kembali cairan yang ada di cangkirnya. Tak lama setelah itu, Kakek tersungkur , sekujur tubuhnya mendingin. Hembusan nafasnya sudah tiada lagi. Cairan asal spanyol yang bernama muerto dari cangkir kakek adalah racun yang selama ini kakek konsumsi. Aku menyaksikan kematian kakek di dpan mata kepalaku sendiri. Wajahku semakin memucat. Namun semua perasaan dan emosi ini ikut mati bersama kakek. Aku hanya memandangi mayat kakek dengan tatapan kosong hingga fajar menyingsing dan hari berganti hari.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *