Cerpen #352; “Sophrosune Mala”

Hanya tersisa waktu 1 minggu lagi, Mala dan seluruh penduduk negeri tidak akan dapat menikmati cahaya matahari. Presiden telah menetapkan kembali program Living Underground, For Stay Alive.

Penduduk negeri akan dibagi ke dalam dua kelompok; menengah ke atas dan menengah ke bawah. Pengelompokkan tidak hanya berdasarkan tingkat ekonomi, melainkan juga terhadap standar mutu properti. Mereka yang sudah memiliki hunian dengan standar negara — dengan teknologi penyaring dan penghasil udara bersih — akan diizinkan untuk tetap tinggal di rumah atau apartemen. Namun, bagi mereka yang dinyatakan tidak memiliki hunian yang layak menurut negara, akan dipindahkan ke ruang bawah tanah — yang telah disiapkan pemerintah. Begitulah kebijakan ini untuk kedua kali terulang.

Mala tentu saja tidak senang dengan kebijakan ini. Tapi ia harus tetap bersyukur, karena ia masih dapat menetap di apartemen mewah bersama keluarganya. Ia masih bisa menikmati daging sapi asli hingga kini, bukan daging sapi buatan yang rasanya direkayasa teknologi. Ia dapat menikmati hijauanya sayuran yang ditanam di greenhouse di rooftop apartemen, tanpa pernah menyesap air yang dicampur kaldu sayur, tanpa ada sayur di dalamnya. Karena hal tersebut adalah upaya orang miskin untuk tetap dapat merasakan nikmatnya makanan di lidah, meski hanya berwujud dari rebusan air kaldu sayur atau kaldu dagaing, tanpa ada sayur dan daging asli yang di masak bersama air-air mentah itu.

Seperti yang pernah dilakukannya pertama kali, meskipun ia tetap hidup dengan nyaman, Mala tak merasa tenang dengan seluruh kebijakan ini. Ia ingin menulis tuntutan ke pengadilan — seperti yang dulu pernah dilakukan ibunya — agar keputusan presiden itu dibatalkan. Ia membuka kembali file di mobiT — perangkat berbasis teknologi hologram tiga dimensi, dan transparan) yang berisi catatan dosa para pendahulu. Amarahnya meninggi, tangannya gemetar, “aku harus menuntut pertanggungjawaban” gerutunya.

***

Televisi terus memberitakan rencana peminadahan dan berbagai persiapan yang telah disiapkan pemerintah. Menginformasikan kesempurnaan sebuah hunian yang dibangun pemerintah untuk rakyat; ruang bahwah tanah dengan robot-robot yang siap melayani manusia, cadangan makanan yang cukup, perpustakaan, dan segala keperluan apa saja yang dibutuhkan manusia, kecuali keindahan alam semesta. Semua berita itu berisi setiap hal yang sudah dilakukan pemerintah untuk rakyat. Tidak ada yang memberitakan aksi protes masyarakat.

Tepat pada 2080, empat puluh tahun sebelumnya, telah tercatat kegagalan terbesar umat manusia. Upaya pemindahan manusia ke planet Mars. Program yang baru terlaksana setelah delapan puluh tahun sejak  diteliti dan direncanakan pertama kali, yaitu tahun 2020. Tahun itu, bumi telah memperlihatkan tanda-tanda bahwa ia sedang sakit, ia butuh dirawat dengan benar, dan bersuara lirih agar eksploitasi terhadap dirinya dihentikan. Atau setidaknya, jamahlah ia dengan rasa sayang, sebab ia telah memberikan kehidupan. Tapi manusia telah begitu cerdas dalam mencipta teknologi yang mereka anggap solusi. Mereka tidak memperbaiki yang ada,mereka ingin lari ke dunia baru, yang dibangun oleh manusia itu sendiri dengan antek-antek teknologi. Angan yang telah diupayalan sedemikian rupa telah memakan banyak biaya dan nyawa. Kegagalan itu menghilangkan 10.000 nyawa yang dipindahkan dalam uji coba pertama dan ke dua, di susul 1.500 orang yang berangkat dalam periode ke tiga. Kemajuan peradaban manusia itu dihancurkan begitu saja oleh alam. Tidak satupun teknologi canggih yang disiapkan untuk menjaga keamanan dapat menyelamatkan barang satu nyawa, semua tewas begitu saja dalam kemurkaan semesta. Kini program tersebut hanya bagian dari sejarah yang mengenaskan, dan tidak pernah dihargai generasi masa kini sebagai pembaharuan bagi peradaban.

Di 2045, terjadi kekacauan besar di seluruh negeri. Produksi meningkat tajam, generasi masa ini sangat menggilai sektor ekonomi. Menggali tanpa ampun hingga ke perut bumi, setiap batang pohon telah berganti tembok beton. Kemajuan, teknologi, dan ekonomi adalah asas kehidup manusia saat itu. Gerakan HAM dan pelestarian alam dan lingkungan hanyalah upaya kelompok kecil warga negara yang dianggap kuno dan tidak realistis terhadap perkembangan zaman, mereka dianggap permainan kerja kelompok anak sekolah dasar — tidak didengar dan diabaikan begitu saja, upaya yang sia-sia. Alam kembali murka dengan terjadinya ledakan dua puluh lima gunung berapi secara serentak di beberapa belahan dunia. Ilmu pengetahuan yang maju tidak mampu mengantisipasi dan mengatasi kejadian ini. Datang begitu saja, seolah gunung-gunung tersebut telah sepakat untuk memberikan peringatan kepada manusia. Manusia di segala penjuru dunia terpaksa berdiam diri di rumah akibat abu vulkanik yang telah menguasai udara dan langit- langit dunia. Hingga lima belas tahun kemudian, peneliti dan segala kecakapan teknologi tidak mampu menjawab mengapa gunung tersebut dapat marah secara serentak. Akhirnya, peristiwa tersebut dianggap bencana alam tak terduga semata.

Di 2060, manusia perlahan menghentikan penggalian bumi. Karena sumber daya itu memang sudah habis. Umat manusia telah berhasil membangun setiap rekayasa terhadap apa saja yang hanya bisa diberikam oleh alam; rekayasa minyak, timah, daging hewan, hingga udara. Seluruh pemimpin negeri dalam forum internasional telah sepakat untuk menghadirkan kembali keindahan alam. Daratan kembali di hijaukan dan peraiaran kembali di sucikan. Seluruh manusia bersuka cita, penuh harap, dua puluh tahun kemudian bumi akan kembali sehat sebagai tempat yang layak huni. Namun, renca terswbut hanya tertulis di atas kertas. Sebaik manipulasi keuangan yang dilakukan setiap pejabat negara. Tidak satupun pohon yang menghijau dan  tidak satupun terumbu karang yang kembali ada. Seketika,pidato para pemimpin negara dari seluruh belahan dunia sama. “Bumi sudah tidak layak huni dan tidak bisa diperbaiki”. Oleh karena itu, seluruh biaya negara akan di fokuskan pada teknologi untuk kehidupan di planet baru. Demi keberlanggusangan peradaban.

Nyatanya, dua puluh tahun pasca kegagalan pemindaham umat manusia ke Mars, 2100, ditemukan catatan-catatan negara yang sama rusaknya dengan bumi. Rangkaian penggelapan dana oleh setiap pejabat, uang sama sekali tidak pernah dialirkan untuk perbaikan alam, semua masuk ke kantong pejabat yang berlomba-lomba berinvestasi di bidang teknologi dan properti.

Mala telah sampai pada bab terakhir bacaannya —catatan dosa pejabat negara — dari file yang dulu diselidiki, dipelajari, dan ditulis ibunya. Kini waktunya meminta pertanggungjawaban.

***

Bumi kini sangat jauh berbeda dengan seperti yang pernah dilahirkan alam secara alami. Pohon-pohon berhasil menghiasi kota, tapi telah disisipkan wifi disetiap batangnya. Agar pelestarian alam beriringan dengan teknologi —prinsip pembangunan setelah tahun 2100. Namun, burung-burung enggan hinggap di pohon. Kicauan burung hanya terdengar di penangkaran. Bahkan kupu-kupu tidak lagi datang ke taman bunga. Tidak ada lagi ikan-ikan cantik yang dipelihara di bak kaca, sebab asalnya saja sudah tiada, terumbu karamg masih diupayakan keberadaannya. Dulu setiap rumah dapat menanam bunga, setiap orang yang mau, dapat memelihara hewan di rumah. Sekarang, untuk memelihara kucing saja, hanya orang kaya yang bisa, dengan sertifikat izin dan denda untuk setiap kucing yang mati di dalam rumah mereka.

Di negara yang dulu empat musim, kini tidak lagi, negara tropis pun tidak dapat mengenali musim kemarau dan musim hujan. Jika dirasa sudah terlalu lama kemarau, akan di datangkan hujan buatan. Jika terlalu lama musim hujan, maka teknologi akan menghentikan. Semua irama alam yang indah hanya menjadi sejarah yang terekam lewat video-video di masa lalu yang lewat layar-layar teknologi masa kini yang sudah tiga dimensi. Setidaknya dapat dinikmati sebagai kenangan keindahan dan harapan perbaikan di masa kini.

Mala membaca tuntutan ibunya sepuluh tahun yang lalu terhadap program Living Underground, For Stay Alive. Program tersebut memakan korban jiwa. Banyak rakyat yang ditempatkan di bawah tanah yang kehilangan nyawa. Dan negara tidak ingin memberitahukan penyebab sebenarnya. Mereka mengatakan karena upaya pemberontakan, dan kesalahan masyarakat sendiri yang tidak mau berdiam, sehingga mereka terserang udara yang mematikan ini. Sepuluh tahun yang lalu seluruh negeri yang sedang berupaya memperbaiki alam, telah di hentikan oleh alam itu sendiri. Tiba-tiba saja udara bebas di semesta tidak bisa dihirup, ia tidak lagi memberikan napas kehidupan, sekali hirup ia menghadiahkan kematian.

Dan kini, malapetaka itu datang kembali. Menuntut agar populasi peradaban berkurang cepat dengan kematian kilat. Umat manusia sudah terlalu banyak yang tidak memberikan manfaat, manja dengan teknologi, dan terlambat sadar akan murka alam.

Hai alam, yang kuyakini kalian bukanlah jelmaan neraka jahanam. Lihatlah kamipun berupaya untuk memperbaiki di masa kini. Mengapa kami yang menanggung malapetaka kejammu akibat dari perbuatan leluhur dulu. Kami sedang berusaha, biarkan kami memperbaiki segalanya. Mengapa kau siksa kami dengan udara yang paling utama untuk kehidupan manusia bernyawa? Tidakkah kau liat segala daya upaya yang telah kami lakukan? Ataukah ini bukan cara yang benar? Mengapa kau terus memberi bencana? Generasi perusak telah terkubur dalam tanah yang kini sudah kami tanami tumbuhan, dan debu kremasi mereka telah melebur bersama laut yang kini sudah kami hadiahkan terumbu karang. Mengapa kami masih saja harus kehilangan nyawa dengaa cara yang sia-sia. Jawablah alam. Agar aku tahu, kepada siapa aku meminta pertanggungjawaban. 

Catatan itu diselipkan Mala di replika cagar alam yang ada di kamarnya. Ia begitu lirih setelah membaca catatan dosa dan tuntutan yang di tulis ibunya.

***

Pukul dua pagi, catatan itu bercahaya. Mala mendengar suara auman dari miniatur harimau yang berada di dalam replika cagar alam yang di kelilingi kaca. Mala mencari mobiT nya, untuk memindai jenis cahaya itu. Tiba-tiba saja, sebuah hologram tida dimensi menyeretnya masuk ke ruang yang terang benderang dengan kicauan indah burung-burung. Mala kemudian sampai di sebuah lapangan terbuka. Telah berkumpul semua orang yang menggunakan seragam jas berdasi dengan rambut klimis sambil menangis, telah berkumpul masyarakat biasa yang mengaku-ngaku salah, karena dahulu tidak peduli dan abai terhadap lingkungan sekitarnya. Mereka mengaku bahwa dulu keyakinan mereka adalah kesejahteraan ekonomi semata, yang harus mereka upayakan dengan segala usaha. Mereka menganggap bahwa alam akan memperbaiki tubuhnya sendiri, karena alam tidak akan pernah berhenti menghidupi, alam diciptakan untuk menjaga manusia, manusia ada untuk memanfaatkan alam, maka alam akan menjaga jantungnya sendiri. Mala tak hanis pikir dengan pengakuan masyarakat ini, bukankah mereka terdidik, bagaimana bisa alasan konyol ini mereka jadikan sebagai sarana pengampuanan.

Mala terus berjalan hingga ia mencapai bak penampungan yang sangat besar. Kotak besar itu berjumlah ribuan yang terletak tepat dihadapan orang-orang berdasi. Mereka juga memberi pengakuan dengan penuh air mata. Mengaku menyesal karena tidak amanah, mengaku salah karena memperkaya diri sendiri. Mala mencibir pengakuan itu, tidak ada sekikitpun terlihat kesungguhan dalam penyesalan mereka. “Bahkan dalam perjalanan menuju akhiratpun , kalian tidak sungguh-sungguh mengaku salah, masih berkilah, tabiat pejabat”.

Seorang laki-laki kemudian menghampiri Mala. Ia mengaku sebagai bekas pengais sampah yang terpaksa ia lakukan bukan karena kesungguhan menjaga alam. Karena hanya itu yang dapat ia lakukan untuk melanjutkan kehidupan. Mala terkejut bukan main. Manusia mana yang menyambung hidup dengan sampah. Begitu mengerikankah kehidupan di masa lalu? Tapi Mala tetap mendengarkan dengan saksama perkataan lelaki itu. “Bawalah bersamamu apa yang ada di dalam bak-bak itu. Itu semua adalah uang dan kepingan emas. Taburkanlah mereka disetiap inci bumi yang kau lewati. Bumi yang baik akan kembali lepada manusia yang baik pula. Sekarang lekas pergi, sebelum sebagian warga negara kembali memasuki ruang bawah tanah terkutuk itu. Lakukanlah Mala!” lekas saja Mala langsung memegang dua bak besar itu. Ia kembali memasuki ruang dengan cahaya terang benderang, kali ini ia melihat kawanan burung berada di belakangnya, membawa bak-bak besar itu. Ia juga melihat rombongan kupu-kupu yang menebarkan setiap isi dari dalam bak. “Kalian indah dan baik, terima kasih telah memberi kesempatan kepada kami generasi masa kini” seru mala dengan penuh senyuman kepada kupu-kupu yang hinggap di telunjuknya.

 Ketika manusia menunaikan kawajiban kepada alam, alam akan mencukupi hak-hak manusia.

5 thoughts on “Cerpen #352; “Sophrosune Mala”

  1. Dibuat dengan imajinasi yang luar biasa..
    Berasa membayangkan puluhan tahun kedepan..

    Pesan moralnya dapet..
    lanjutkan kakak.
    KEREN..

  2. Cerita fiksi dengan imajinasi untuk puluhan tahun yg akan datang..
    Pesan yg disampaikan penulis sampai ke mereka yg membaca.
    Semangat penulis,lanjutakan karya tulis nya

  3. Gw baca sambil ngebayangin semua kejadian itu sedang terjadi
    Imajinasinya tingkat tinggi dan pemilihan kata utk setiap kalimat sangat tepat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *