Cerpen #351; “TOUR PEKERJAAN PUTRI CUACA”

Pertengahan bulan Juli tahun ini adalah waktu tepat akhir semester, dimana siswa yang menyelaikan ujian, kenaikan kelas berawal, banyak murid baru, mahasiswa baru, dan untuk ku yang sebagai karyawan adalah tepatnya periode baru setelah libur hari raya. Mulainya program kerja baru berikutnya, juga beberapa target yang harus di lakukan disinilah waktu untuk memulainya.

Sebagai seorang karyawan yang bekerja di stasiun televisi yang bertugas dalam satu bidang yaitu mecari informasi tentang cuaca, bukan, bukan seorang reporter atau jurnalis, meskipun itu adalah cita-citaku, tapi sedikit mengenang bagaimana dulu aku mengambil jurusan kuliah yang salah, yaitu Studi Meteorolgi, nasib berkata lain jurusan yang aku impikan tidak ku dapatkan, tapi setidaknya aku mendapatkan pekerjaan di tempat kerja yang aku inginkan, yaitu bekerja di stasiun TV sebagai divisi penyiaran cuaca, orang-orang memanggilku putri cuaca, karena perkiraan cuaca menurutku selalu benar. Mencari informasi cuaca dalam negri dan luar negri, detail setiap daerah, kemudian hasilnya ku buat laporan, lalu tim redaksi dan jurnalis akan membuat berita untuk dibacakan oleh pembawa acara.

Ibarat kembang tumbuh manusia, alam semesta juga seperti itu, hanya saja itu kebalikannya, jika semakin tahun maka manusia akan berkembang tubuhnya, akalnya, perilakunya, maka berbeda dengan bumi kita, yag semakin tahun, organ bumi malah mulai berkurang bahkan hampir punah. Periode kali ini aku mendapat tantangan baru dari ketua tim deraksi “Terus berinovasi, itulan kata Ajaib yang membuat stasiun Tv kitab isa terus berkembang, jadi kita memilki rencana beberapa acara baru, untukmu Aery aku memiliki program baru” ucap pak Angga selaku ketua tim deraksi padaku, tentu saja ini adalah passion ku sendiri, mendapat tantangan baru agar tidak membuatku jenuh dalam menjalani pekerjaan.

Dan disinilah aku berada, dengan tujuan kantor BMKG Kota Jogjakarta, menjalani perjalanan  dari Jakarta menuju Jogjakarta untuk melakukan penelitian Bersama tim BMKG untuk meninjau cuaca di kota Jogja dan sekitarnya. Katakan saja ini seperti sebuah tour atau petualangan.

Inilah hasil dari rahasia tuhan, aku yang sedih salah mengambil jurusan dulu, tapi tuhan memberikan pekerjaan yang aku sukai, selalu mendapat tugas mengunjungi beberapa daerah di Indonesia untuk melakukan penelitian demi materi yang akan di sampaikan penyiar berita cuaca. Karena pekerjaan seperti ini tidak cukup hanya dengan inforamasi dari website hasil pencarian.

“Permisi, Mas saya ingin membeli satu minuman Isoplus dingin” hinggap di sebuah warung kecil di stasiun Maguwo Jogjakarta, tapi bukan nya di layani, Mas penjaga warung malah bertanya kepadaku, “Lho Mbak, mendung begini minum yang dingin? apa ndak sakit tenggorokannya, enaknya pake teh anget jahe toh Mba” sedikit terhenyak dengan pertanyaan yang dilontarkan, “Cuaca panas begini..” bibirku berhenti saat tepat mataku melihat langit diatas, tunggu sebentar, bukankah barusan langitnya cerah, saat aku turun dari kereta dan menunggu di kursi guna memesan go-car lalu beranjak dan menuju warung kecil ini dengan tubuh terasa panas, tapi sekarang langit mendadak mendung, cepat sekali berubahnya bukan?

“Tadi kan panas, tapi sekarang.”

“Langit bisa berubah sesuai warna yang diinginkan” ucap tiba-tiba seorang anak remaja yang tidak tahu kapan berada di dekatku. “Maksudnya dek?” tanyaku sebab dia berkata dengan wajah masam, semasam bau badanku mungkin.

“Saya sedang sedih mbak, sampai-sampai langit pun tahu dan ikut berubah warna, dari langit yang cerah terang ceria, tiba-tiba menjadi mendung sedih seperti ini, bukankah aneh di jam seperti ini langitnya mendung”

Astaga pintar sekali kata-kata anak remaja ini, memang anak remaja itu masa dimana membentuk kepribadian, tapi dia terlampau melankonis sekali. “Kalo boleh tahu Adek kelas berapa? Dan sedang apa di stasiun?” tanyaku pada anak remaja ini, “Saya kelas sebelas SMA, mau keluar kota, sedang menunggu kereta, dan ingin makan beberapa camilan di warung ini” balasnya kemudian beralih membuka kemasan makanan ringannya.

“Pergi dengan siapa dek?” tanyaku lagi karena anak remaja ini berada sendirian dengan satu koper dan satu bagpack di sampingnya “Sendiri saja Mba.”

“Apa, sendiri? Memangnya mau kemana dek?” benar kan, cita-cita ku ingin menjadi jurnalis, aku tipe orang yang banyak bertanya sih. “Mba tahu istilah ada sesuatu di Jogja, ya benar, saya bertemu teman baru yang baik, belanja barang dengan harga murah, banyak ke tempat hiburan, bertemu dengan lelaki baik dan tampan, tapi sialnya tubuh saya tidak cocok dengan cuaca disini, dan saya harus pulang ke tempat awal saya di Lombok.”

Pantas saja wajahnya memang sedikit wajah bagian Indonesia Timur, ternyata dia bukan orang asli sini. “Maaf saya bertanya lagi, Memangnya tidak cocok kenapa dek cucacanya?”

Kulihat anak remaja ini membuka sedikit resleting jaket nya, dan menunjukan sebuah luka yang cukup serius, itu terlihat seperti luka bakar.

“Cuaca panas Jogja tidak baik untuk kulit saya Mba, jadinya kulit saya terbakar di bagian tertentu, jika saya tetap tinggal disini mungkin beberapa tahun lagi saya mati karena ini, daripada hampir mati jadi harus pindah, jujur sebenarnya saya sangat ingin tinggal disini, tapi tidak tahu di masa depan Jogja sepanas apa.”

Ini seperti sebuah plot twist untukku, memulai penelitian tanpa anggota BMKG, sebab cerita anak remaja ini sudah seperti sesi wawancara penikmat cuaca di kota Jogja, poin terpenting adalah, langit bisa berubah dengan semau hati, dan cuaca panas nya mempengaruhi hidup seseorang.

Mendapati notifikasi bahwa mobil go-car yang aku pesan telah tiba, sesegera mungkin aku pergi setelah membayar untuk minuman yang tetap aku beli, lalu mengucapkan salam perpisahan pada anak remaja ini “Adek hati-hati di jalan, maaf saya tidak bisa menemani duduk disini, semoga selamat sampai tujuan dan lekas sembuh untuk lukanya” Kulihat dia tersenyum dan mengangguk menanggapi perpisahan ini.

Menghampiri mobil go-car yang sudah ku pesan tadi, langsung mendapati sambutan dari sang supir, “Atas nama Mba Aery?” tanya mas go-car nya, dan aku hanya membalas anggukan dengan segera masuk ke tempat penumpang. Langsung merasakan hawa sejuk dari AC mobil dengan harum wangi lavender stella. Saat aku merasakan mobil yang mulai berangkat perlahan menuju tempat mess yang akan ku tingali selama di Jogja, aku membuka handphone untuk membuka google guna mencari makanan Jogja yang enak dimakan saat sedang lapar setelah menjalani perjalanan panjang. “Emmm…What should I eat later?” tanya ku pada diri sendiri sembari melihat daftar makanan Jogja dengan gambar yang menggugah selera, masalahnya jadi membuatku malah lebih bingung.

“I help you recommend Beringharjo fried rice, very tasty and filling.” Tiba-tiba mas supir go-car bicara. Apa? Maksudnya dia bicara bahasa inggris? Apa karena dari tadi aku diam dan sekalinya bicara malah bahasa inggris, jadi dia jawab pakai bahasa inggris juga?

Aku hanya bisa memasang wajah tanda tanya dan sedikit terkejut, Tapi melihat tatapan mas nya di kaca mobil, seperti menandakan kalau dia bisa bahasa inggris, jadi aku jawab lagi saja dengan baha inggris “Really? Uh I hope I can buy beringharjo fried rice now” balasku dengan sedikit nada sedih. Tapi siapa sangka jawaban mas supir go-car nya tidak terduga.

“If you want, I want to help you to buy it” mendengar itu aku tersenyum bangga, Mas nya baik, mau menawarkan untuk mampir sebentar membeli nasi goreng beringharjo, tapi itu akan memakan waktu lama, dan bukankah akan merusak kualitas kerja nya di aplikasi? Jadi aku tolak bantuannya, biar nanti saja kalau sudah sampai di mess akan kupesan lewat fitur go-food.

“Tidak perlu mas, makasih udah ngasih saran dan mau anterin sekalian, biar nanti saya pesan saja lewat go-food, tapi mas ini hebat, fasih bicara bahasa inggris nya” aku lihat dia tersenyum dan mengangguk kecil dua kali. “Iya Mba, kebetulan waktu sekolah agak lelet belajar bahsa inggris, terus pas ngelamar kerja sering gagal karena tes interview nya pakai bahasa inggris terus. Saya juga dengar dari beberapa info, beberapa tahun ke depan, saingan kita bukan hanya orang Indonesia saja, kedepannya bisa saja tukang cilok juga orang Singapur, jadi di situ saya belajar bahasa inggris sedikit-sedikit, makanya suka seneng kalo ketemu penumpang turis atau orang pinter seperti Mba yang bicara sehari-harinya campur bahasa ingris”

Mendengar itu aku tertawa kecil, pemikiran Mas nya kritis juga ya, tapi bagus, semoga setiap orang bisa berfikir seperti ini juga. “Betul mas, saya bekerja dimana bahasa inggris diperukan juga, awalnya sih ya karena tuntutan pekerjaan, tapi makin kesini Saya makin nyaman dengan mengikuti perkembangan jaman”

Mas nya mengangguk lagi sembari melihat ke arah ponselnya yang menunjukkan arah google maps, “Berbicara dengan Bahasa global yang sama, itu adalah judul artikel yang memberikan Saya dorongan untuk belajar bahasa inggris, kalau di fikir-fikir semakin maju nya peradaban, kita akan bicara dengan bahasa global yang sama.” Mendengar itu aku langsung tertegun, benar 100 tahun mendatang di bumi ini, kita berbicara dengan Bahasa global yang sama.

“Yakin mba, nggak mau saya antar ke tempat nasi goreng beringharjo nya?” tanya mas go-car lagi, ternyata niat membantu nya bukan main-main.

“Iya, nggak usah Mas, makasih sudah menawarkan bantuan, jadi total ongkos nya berapa?” dan akhirnya aku mendapatkan poin baru lagi untuk pekerjaanku, tidak, tapi ini sebuah info yang sangat penting juga untuk kehidupan semua orang.

Berbicara dengan bahasa global yang sama. Poin penting juga selain perubahan cuaca yang mengikuti suasana hati, 100 tahun mendatang, bumi ini akan diisi dengan orang- orang yang Berbicara dengan bahasa global yang sama

.

Setelah menghabiskan malam yang cukup menenangkan di hari pertamaku di Jogja, dengan diisi porsi nasi goreng beringharjo yang enak sekali, kini akhirnya aku berada di ruang tamu kantor BMKG Jogjakarta.

Mereka pekerja disini mengecek surat tugas dari kantor stasiun TV tempat ku bekerja. “Mba Aery ini lulusan Meteorologi ya, tapi setidaknya bisa memprediksi cuaca juga kan?” tanya salah satu pekerja.

“Iya betul pak, fokus saya kepada penelitian udara, batu, tapi saya bisa memprediksi, kalau boleh tahu apa ada sesuatu pak?” aku lihat bapak ini malah memperhatikan pakaian yang aku gunakan, jadi aku ikuti juga arah mata dia, tepat dari atas sampai bawah, kulihat kemeja salur biru abu dan kulot navy yang kugunakan cukup bagus, sopan dan nyaman juga.

“Kamu bisa saja masuk angin dengan hanya berbalut kemeja itu, seharusnya kamu harus tahu saat mengecek suhu udara hari ini di widget Handphone kamu, pakai pakaian hangat” apa? Kenapa jadi bahas pakaianku, aku yang ingin menyanggah dengan aduh Pak tidak usah berlebihan, Saya bawa jaket di tas yang Saya gendong di bahu ini padahal. Tapi ya percuma, takut nanti di anggap tidak sopan. Maka dari itu Aku hanya bias mengangguk patuh. Tidak ingin membawa perkara kecil menjadi lebih besar.

Disinilah Aku berada di ruangan besar yang temboknya dikelilingi penuh layar lebar besar menampilkan gambar animasi cuaca. Banya ikon-ikon yang menunjukan awan dengan matahari, awan dengan hujan, awan dengan angin, malah ada yang tanpa awan, dan masihbanyak lagi. Benar di setiap peta daerah itu berbeda-beda. Lalu ada lagi layar lebar yang menampilkan data statistik cuaca, aku tahu ini, ini lah CPU utama untuk kita memperkirakan cuaca, beberapa tempat atau orang mungkin akan berbeda dalam pengerjaannya, tergantung bagaimana membuat mereka nyaman dan  mudah dalam menganalisis cuaca, terutama iklim masa depan.

“Mba Aery, di sini kami mengumpulkan hasil laporan para reporter, penjelajah, anggota penaggulangan bencana, satelit, dan yang lainnya, terutama di daerah Jogja. Lalu kami analisis dan mengambil beberapa kejadian lampau jika menemukan kejadian atau musim yang sama, maka dari itu kami bisa membantu dalam pemecahan masalah jika kejadian atau iklim yang mirip terjadi lagi di masa yang akan datang. Setiap orang setuju bahwa perubahan iklim itu masalah penting, tapi untuk mengatakan apa solusi terbaiknya itu tidak mudah, saya tahu ini dari j-hope BTS dalam pidatonya di PBB UNGA 2021. Kami memperkirakan awal tahun depan akan terjadi musim panas dengan suhu air laut yang tinggi. Jadi kami akan memberi tahu pihak pariwisata untuk mempersiapkan destinasi yang menjadi alih alternative selain pantai, terutama wisata di tempat pegunungan dan alam. Maka dari itu mulai sekarang lembaga-lembaga alam bisa segera gencar untuk melakukan reboisasi, ditakutkan pula akibat cuaca panas bisa menimbulkan kebakaran hutan apabila tidak segera kita lakukan reboisasi di alam sekitar. Semua ini juga tidak lain karena bantuan computer yang semakin canggih.”.

Mendengar seorang karyawan yang ku tahu bernama Adi info dari name tag nya ini, membuatku mengerti jelas apa yang dia katakana, metode ini benar-benar bisa sangat ampuh bagi penanggulangan cuaca untuk Negeri kita. “Terimakasih Mas sudah menjelaskan info penting, termasuk hasil penelitian kalian, sebenarnya Saya bisa membaca semua ini, jadi jika tidak mengerti saya akan tanyakan langsung kepada Mas… Adi” ku senang mas adi ini bisa mengerti, jadi aku hanya tinggal duduk di kursi dan segera mengerjakan laporan di meja kafetaria kantor BMKG ini setelah 4 jam berkeliling menganalisa.

Data-data yang aku kumpulkan mengenai hasil anailsa mereka sudah lengkap tinggal hanya perlu melihat kasus-kasus iklim yang terjadi selama beberapa tahun ke belakang untuk dijadikan bahan pembicaraan dan pertimbangan. Apalagi dengan computer yang canggih sudah terfasilitasi disini. Semoga 100 tahun mendatang semua orang bisa merasakan bagaimana teknolgi canggih di sekeliling mereka.

Kulihat seseorang datang menghampiri dan duduk di seberang meja yang ku tempati karena memang kebetulan dari tadi aku hanya duduk mengerjakan laporan, tidak sendiri juga, aku ditemani semangkuk sop buah besar yang segar.

Dia ini bapak yang tadi bertanya soal pakaian kepadaku tadi, namanya pak Usep, info dari name tag nya. “Bagaimana Mba Aery, sudah mendapatkan info yang dibutuhkan?” Tanya beliau setelah aku tahu presensinya.

“Sudah pak, saya yakin tiga hari cukup untuk menyelesaikan pekerjaan Saya disini, hanya perlu merapihkan nya lagi nanti.” Jawabku kembali, karena tentu yang bertanggung jawab mengenai bidang ini hanya aku, sisanya akan di awasi oleh direktur penyiaran, dan tim jurnalis akan menyusun naskah nya.

“Kalo boleh tahu, informasi sebanyak ini untuk apa saja Mba? Bukannya info harian cuaca dalam sehari juga cukup? Dan pembawa acara juga tidak banyak menyampaikan kata selain, di perkirakan cuaca hari ini di Jabodetabek akan diiringi hujan kecil namun dengan awan cerah, atau di waspadai untuk bagaiam Indonesia timur terhadap angin yang ditimbulkan arus pasang air Samudra.

Mendengar itu dari pak Usep aku sedikit tertawa kecil, benar dan betul sekali, itulah yang sering disampaikan pembawa acara setiap pagi, tapi disinilah tantangan bekerja di stasiun TV, kamu harus memiliki kreatifitas dimana gagasan acara baru untuk menaikkan rating.

“Sebenarnya ini untuk acara show, mendekati variety show tapi dalam konteks alam,bumi, cuaca, jadi peran para ilmuan alam sangat penting disini, acara nya di jadwalkan akan tayang awal tahun depan atau bisa jadi akhir tahun ini. Tidak tayang setiap hari, hanya tayang seminggu sekali saja Pak.” Itulah target ku tahun ini, mempersiapkan acara show, mulai dari materi, topik pembahasan, dengan info dan hasil yang akurat, sehingga para pemirsa umum dan termasuk target yang kami tujukan yaitu kepada para petinggi daerah, para pemilik usaha tani, teknologi maupun usaha lainnya bisa terbantu dengan adanya show mengenai alam ini.

Dimana dalam show itu kami akan mengundang beberapa tokoh dalam bidang sesuai, juga mungkin beberapa peramal dari tanah air yang bisa menjadi perbandingan dengan hasil BMKG. Membayangkan nya aku benar-benar sangat antusias, maka dari itu dengan persiapan beberapa bulan kedepan semoga acara ini akan terlaksana dengan baik.

Tidak terasa sudah 3 hari aku menginjakan kaki di Jogjakarta, dan ini adalah hari ke dua aku berada di kantor BMKG, lalu setelah mengirimkan laporan lewat e-mail kepada kepala direktur berharap semoga dengan cepat kepala direktur merevisi dan memberi arahan baru. Benar saja tidak lama menunggu, 10 menit kemudian aku mendapati pesan dari beliau

“Bagus Aery, lengkap dan jelas laporanmu, sepertinya sudah cukup, kau bisa berpamitan dengan pihak disana, jadwal mu di percepat, bukan 6 hari di jogja, tapi menjadi 5 hari saja, jadi besok aku beri waktu untukmu beristirahat atau ya enjoy for your days Aery, saya tunggu di kantor hari senin nanti” itulah isi pesan dari beliau, mari bersorak untuk pekerjaan yang sedikit menguras fikiran ini, dan aku benar tidak sabar menikmati hari besok untuk berjalan-jalan mengelilingi kota jogja ini. Tapi bukankah cuaca besok sedikit mendung dan gerimis, baiklah, menikmati waktu mengunjungi beberapa museum dan mall untuk berbelanja sepertinya bagus.

Segera aku mencari beberapa pegawai yang bersangkutan denganku, Mas Adi, Pak Usep dan yang lainnya juga. Dan benar saja tidak sulit mencari mereka, ku temukanm mas adi sedang berjalan, dan segera aku menghampirinya.

“Mas adi, tunggu!” dan untungnya dia mendengar lalu menoleh dengan raut tanda tanya. “Mas, maaf ganggu tapi saya mau bicara sebentar” berharap besar kalau Mas Adi mau mendengarkan pamitku.

“Boleh saja mba aery, ayo kita duduk” dan akhirnya kami berbincang setelah dia mengajak untuk duduk. “Apa ada yang ingin ditanyakan lagi soal penelitiannya?” sebenarnya ada rasa sedih karena aku akan pamit, bukan sesuai jadwal dimana disini seharunya aku sekitar 4-5 hari, tapi siapa sangka dalam 2 hari aku pekerjaanku sudah selesai.

“Jadi begini mas, saya mau pamit karena pekerjaan saya sudah selesai, dan ini pun memang arahan dari atasan saya”  dan kujelaskan semua sampai meminta izin untuk pulang dan berterimakasih atas semua bantuan tim BMKG yang mau memberikan ilmu dan informasinya kepadaku. Bisa dianggap aku ini sebagai reporter yang banyak bertanya juga selama disini.

“Wah selamat ya Mba Aery, bisa menyelesaikan pekerjaan dengan cepat sekali, apalagi ini mengenai informasi yang sedikit sensitive, kita tidak bisa hidup tanpa alam, jadi kita harus menjaganya dengan aqualive” lalu sebotol aqua disodorkan kepadaku.

“Makasih mas, tapi saya bawa bekal air juga, oh iya itu semboyan yang sedikit tidak asing di telinga saya.” Mas adi tersenyum dan mengangguk. “Ini semboyan iklan aqua mineral terbaru, Saya mengutipnya karena menurut saya bagus, anggap saja itu hadiah dari Saya karena rasa terimakasih Mba Aery mau menjadi penggagas baru lewat acara show TV nanti. Saya sangat suka dengan ide itu, jadi disini saya hanya ingin mengucapkan semoga lancer kedepannya dan segala nya” pada akirnya aku mendapat tanggapan baik dari mas adi. Kemudian mas adi mengajakku menemui Pak Usep untuk menyampaikan bahwa semua tugas ku selesai hari ini, kami masuk keruangan penerima tamu, karena katanya mereka sedang menunggu tamu.

“Saya bangga dengan Mba Aery, padahal kalau bisa besok saja hari terakhirnya, tapi jika itu memang arahan atasan, mau bagaimana lagi, hanya bisa bantu doakan semoga semua semua lancar dan Mba Aery bisa pulang selamat ke Jakarta ya” ujar Pak Usep dengan raut sedih.

“Maaf ya pak, jika selama disini Saya merepotkan, Saya juga tidak memberi kenang-kenangan yang berkenan disini, semoga para pegawai disini selalu dalam keadaan sehat dan sukses terus ya pak.”

Tepat saat aku berhenti bicara tiba-tiba pintu terbuka menampilkan seorang pria yang sepetinya seumuran denganku. Ternyata dia tamu Pak Usep dan Mas Adi, menanyakan bagaimana hasil cuaca besok yang dikabarkan akan sedikt mendung dengan hujan gerimis. Aku yang pindah ke kursi lain hanya mendengarkan karena memang Mas Adi menyarankan untuk tidak keluar ruangan.

“Maaf ya Pak, bagaimna dengan info sebelumnya, bukankah hari besok dikabarkan akan terang dan sejuk?” tanya pria itu pada Pak Usep yang kembali mengecek data cuaca untuk besok.

“Maaf Mas Deni, tapi hasil akhir yang lebih akurat, beberapa hari kebelakang sudah kita rasakan bahwa kota jogja sering diguyur hujan kecil dan udara dingin.”

Pria itu sedikit berfikir mengenai permasalah yang dia hadapi, setahuku dari pembicaraan mereka, bahwa  Mas Deni ini adalah pembina organisasi musik di salah satu universitas di Jogja, dia akan melaksanakan konser kecil perayaan organisasi, dia sudah menanyakan ramalan cuaca untuk besok dari beberapa minggu kebelakang, untuk memastikan acara yang akan dilaksanakan dalam keadaan bagus tanpa adanya halangan cuaca tentunya.

“Sekali lagi kami minta maaf Mas, kami tidak bisa bantu banyak lagi, selain kami menyarankan mengganti tempat konser nya dari outdoor menjadi indoor” bagus sekali, Pak Usep mau sedikit memberi saran.

“Sebenarnya sudah ada cadangan pak, tapi di atas Gedung salah satu perusahaan itu pun sponsor, Saya tidak keberatan, tapi itu anak anak mahasiswa, Saya sedikit takut dan khawatir terlalu beresiko konser di Gedung tinggi.” Curhat mas Deni pada Pak Usep.

“Lho Bagus toh Mas, pasti anak anak mahasiswa senang meraskan sensasi baru konser di gedung atas perusahaan. Lagipula mereka sudah pada dewasa, bisa menjaga diri dan serahkan tanggung jawab kepada pihak perusahaan itu untuk menjamin keselamatan semua orang.”

Kulihat Mas Deni mengangguk setuju. Tapi ekspresi dia berubah lagi seketika setelah menerima telfon dari seseorang. Mendengar dia mengucapkan kata innalilahi setelahnya kami juga ikut panik.

“Ada apa Mas? Siapa yang meninggal?” tanya Mas Adi. “Ayah dari MC yang bertugas besok, jadi dia harus pulang hari ini ke rumah nya di Surabaya, Saya sedih sekaligus bingung lalu besok siapa yang akan menggantikan pembawa acara, karena dari awal dia yang sudah bertugas.”

Ternyata berugas sebagai penaggung jawab ada beratnya juga, kami saling lirik dan Pak Usep memberi tatapan seduktif padaku. “Mba Aery saya yakin bisa bantu, melihat profil dia bercita-cita menjadi jurnalis, tapi portofolio nya berisi kegiatan dia sealu menjadi pembawa acara di berbagai event dan acara. Saya yakin jika menjadi pembawa acara di konser bukan masalah yang besar, hanya perlu menyapa penonton dan menyambut pengisi acara.”

Terkejut, sangat “Maaf pak, saya tidak berhak ikut campur, saya rasa tidak perlu, semoga mas nya menemukan pengganti yang lebih tepat” tapi kulihat tatapan Mas Deni yang sepertinya memang meminta bantuan.

“Mba Aery tadi bilang ingin memberi sesuatu pada kami, bolehkan kami meminta bantuan kecil untuk membantu klien kami ini Mba?”

Dan pada akirnya disinilah aku, menghadap jendela besar menghadap kota Jogjakarta yang luas dan indah, warna kotanya cantik karena dominan sentuhan budaya, berbeda dengan Jakarta yang dominan berwarna abu, jelas karena diisi dengan Gedung-gedung tinggi. Gedung pencakar lagi berderkatan, itu adalah yang tepat untuk menggambarkan Jakarta sekarang ini, pantas saja pemerintah berencana membagi dua ibu kota, rasanya semakin tahun memang sesak jika pembanunan Gedung tinggi tidak terkendali.

“Bagaimana gladinya sudah cukup Mba?” aku tersentak mendengar suara itu, ya suara yang dari semalam sampai detik ini terus berkomunikasi dengan ku, siapa lagi kalau bukan Mas Deni, menjelaskan semua hal-hal perihal menjadi pembawa acara pada konser kali ini. Lalu mengarahkan gladi bersama para pemain dan pengisi acara lainnya.

“Saya rasa cukup mas, tapi saya akan terus meminta maaf jika saya tidak bisa memberikan yang terbaik nanti.” Benar-benar pilihan sedikit berat menjadi pembawa acara dadakan ini. Padahal kan rencana hari ini mengelilingi jogja bersama rintik hujan. Tapi malah harus bersenang-senang bersama para mahasiswa disini.

“Justru saya yang minta maaf karena sudah merepotkan Mba Aery, padahal Mba harus istirhat karena besok akan kembali ke Jakarta.” Aku hanya bisa terkekeh dan mengambil sisi  positif dari semua ini, aku masukkan kedalam salah satu pengalaman yang paling berharga, menjadi pembawa acra konser dadakan, sangat menggelikan namun menyenangkan, melihat para mahasiswa yang menikmati konser dengan meriah, padahal di luar sana cuaca sedang mendung dan hujan.  Tapi menikmati waktu seperti ini ibarat sedang mengistirahatkan tubuhmu, ragamu, otakmu, mentalmu, dan psikis mu. Konser membantu ku terbebas dari rasa stress setelah menjalani hari-hari yang begitu penuh tuntutan pekerjaan.

“Benar, disaat orang lain sudah mulai memilih tanah di berbagai planet yang bisa ditinggali manusia, kenapa baru sekarang aku terfikirkan bahwa konser bisa berada di atas ruangan tinggi dari sebuah Gedung, dengan segala peralatan canggih pula” ya, kulihat sebuah benda seperti kamera berterbangan kesana kemari, setelah acara terselenggara dengan selesai, aku dan Mas deni berbincang istirihat.

“Jadi Mas Deni ada rencana pindah planet lain?” gurauku padanya, Karena itu termasuk hal yang mustahil, tidak tahu apakah ada planet lain yang sekoomplit bumi ini. “Tidak ada yang tahu kedepannya bagaimana mba, bisa saja aku juga akan memlih untuk pindah dari bumi, benarkan?” jadi begitu, 100 tahun mendatang bumi akan berkurang penghuninya, sebab sebagian orang memilih untuk pindah dari sini, lalu dengan alat dan mesin yang semakin canggih, melihat mereka berterbangan kesana kemari apa kita harus mulai terbiasa juga.

100 tahun mendatang bumi ini harus terbiasa dengan mesin-mesing yang berterbangan di udara selain pesawat. Maka dari itu aku  mengerti mengapa pohon-pohon mulai berkurang, ya mungkin demi memudahkan mesin-mesin canggih berterbangan di sekitar kita. Malah akhir-akhir ini aku baru saja menemukan sebuah video animasi yang menunjukkan gagasan kendaraan yang lebih canggih, dimana dijelaskan seperti berada di negeri china, mobil pemadam, bus sekolah, bus pariwisata hanya memiliki dua ban, depan dan belakang sja, sementara bentuk badan kendaraan itu seperti kapsul obat juga piring tipis, sehingga mampu menghadapi permasalahan kemacetan, sungguh bumi 100 tahun mendatang bisa saja sangat luar biasa.

Malam hari ini jogja begitu sejuk, jalanan sedikit becek dengan udara yang sejuk, mungkin ini akibat hujan yang mengguyur tadi siang. “Mas, maaf ini, tapi sepertinya kita itu seumuran ya”, tanyaku pada Mas Deni yang diboncengnya menggunakan motor. “Memangnya Mba Aery kelahiran tahun berapa?” tanya dia dengan sedikit kencang. “Aku tahun 1995, kalo Mas?” aku bisa mendengar dia tekekeh sedikit, dan benar saja kami ini seumuran, karena aku merasa kita itu seperi selaras saat bicara, bukan apa, tapi memang kesan saat berbicara dengan orang seumuran itu berbeda.

Sebagai ucapan terimakasih, selain amplop berisi lembarn uang, Mas Deni juga ternyata menawarkan bantuan berupa mengantarku mengelilingi Jogja menikmati hari terkahir, sebenarnya aku menolak karena ingin beristirahat, tapi jika difikir-fikir lagi sayang sekali kesempatan ini jika di tolak, karena aku tidak tahu kapan lagi aku bisa mengunjungi kota Jogja.

Sampailah kita di sebuah museum yang sangat mediteranian, penuh dengan isi karya berupa alam, sengaja aku mengunjungi ini demi mendambah wawasan tentunya. “Ruangan ini penuh dengan daun, bahan apa yang mereka gunakan sehingga bisa membuat daun-daun ini seperti hidup dan tetap bagus?” tanyaku pada salah saatu pembimbing tour museum ini.

“Para seniman percaya, kekayaan alam akan semakin menipis, termasuk daun pun, daun yang kita anggap hanya sebuah benda ringan yang jika sudah tidak memiliki serat pada tubuhnya akan mongering kemudian memisahkan diri dari pohon dan akhirnya terjatuh tidak berdaya, tapi para seniman percaya bahwa di masa depan Daun adalah benda antic.”

Semakin kesini, minat orang-orang terhadap pertanian sedikit, kebanyakan dari kita malah meminati pada hal-hal yang serba digital, benar 1000 tahun mendatang bumi ini bisa saja menganggap Daun adalah benda antic.

“Kuharap malam ini berkesan untukmu Aery, hati-hati selama perjalan ke Jakarta besok.” Tentu, siapa sangka aku akan menikmati akhir perjalanan ini dengan seorang pria yang baru saja aku kenal, kebetulan lagi dia seumuran sehingga tidak membuat kami terlalu canggung. “Kenapa kamu terlihat gugup, apa kamu tidak pernah mengajak orang lain berjalan-jalan?” dia sedikit menggeleng “aku hanya anak rantau, tidak sempat melakukan pendekatan dengan siapapun, fokus kuliah dan akhirnya fokus bekerja” aku sedikit terkejut, pantas saja dia tidak banyak bicara Bahasa Jawa, kukira memang karena menghargaiku.

“kalo boleh tahu kamu dari mana Den?” tanyaku padanya demi mengurangi rasa gugup dia “aku dari Tasikmalaya, sebenarnya ada perempuan yang menyukaiku, dia mengatakannya tepat saat aku berangkat ke jogja, jadi aku sedikit takut untuk kembali menetap di Tasik, jadi mungkin sekarang aku akan fokus disini dulu, maaf malah jadi curhat” dia baik sekali, semoga perempuan itu bisa bersabar menunggu kesiapan pria ini.

“Kalo begitu aku doakan juga semoga acara show mu berjalan lancar, aku akan menantikan kamu ada di televisi Aery” aku langsung tertawa mendengarnya, bukan aku yang akan tampil, tapi para artis dan pembawa acara tentunya. “Jika acara itu sukses dan mendapat rating tinggi maka kau tahu siapa dibalik sana, itu aku, semua kendali ada di tanganku.”

100 tahun mendatang semua sudah di perkirakan, kita yang awalnya tidak tahu sekarang bisa tahu secara perlahan dengan terus mengikuti perkembangan zaman namun tidak lupa serta untuk selalu menjaga apa yang kita miliki sekarang.

TAMAT

2 thoughts on “Cerpen #351; “TOUR PEKERJAAN PUTRI CUACA”

  1. Ceritanya bagus sekali, unik, banyak moment tidak terduga, pemikirannya sederhana tapi bisa dibenarkan, rekomended untuk dibaca

  2. Penggunaan bahasanya memng sedikit tabu, tapi ide ceritanya unik dan kreatif, setiap katanya bukan main memiliki artian baru, semangat berkarya ya dek

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *