Cerpen #350; “DANADHYAKSA BHUMI”

Perlahan ku buka kedua mataku, dengan gerak pelan kelopak mataku bergerak naik turun mulai memampakkan bulatan hitam dibaliknya. Silau sekali gumam ku dalam hati, siapa yang sudah membukai tirai jendela kamar ku sehingga cahaya matahari dengan leluasa mampu menembus dan menembak dengan terang tepat di kedua mata ku yang bahkan baru berjuang untuk bisa melihat kehidupan hari ini. Aku mulai terduduk, seperti orang bingung aku melihat sekelilingku. Ada sebuah lemari berbahan kayu jati, tampak gagah berdiri disamping kasur yang ku gunakan untuk merangkai mimipiku sedari malam tadi. Tidak ada kesan mewah, tidak berpelitur mengkilap hanya dihaluskan saja permukaannya dan yang unik masih terlihat serat kayu yang melingkar. Perlahan ku alihkan pandangan ku ke arah luar jendela. Bisa ku lihat dengan jelas apa yang ada di luar sana. Rimbunnya pepohonan, terasa tampak asing bagiku. Aku tau ini bukan ruangan yang biasa aku gunakan untuk beristirahat setelah seharian aku bergulat dengan kesibukan ku. Sungguh tak pernah terpikir sebelumnya bahkan sekedar lewat dalam imajinasi pun rasanya tidak pernah. Tinggal di sebuah pegunungan dengan banyaknya rerimbunan pohon, dengan udara dingin menjelang subuh yang selalu bisa memaksaku kembali merapatkan selimut dan yang pasti jauh dari hiruk pikuk ramainya klakson kendaraan dan gemerlapnya lampu kota. Aneh memang, setelah melewati serangkaian perdebatan, saling beradu argumen tentang dimana nanti aku akan memijakkan kaki dan melanjutkan fase kehidupan. Aku masih tidak percaya nyata nya saat ini aku berada di tempat ini. Mungkin saat ini aku masih menganggap ini hal aneh dan nekat, tapi bukan tidak mungkin suatu saat nanti aku akan sangat bersyukur dengan jalan yang Tuhan tetapkan untukku. Bersyukur karena aku pernah diizinkan untuk memiliki peran dalam membuat suatu perubahan untuk menjaga.

Perlahan terdengar suara pintu terbuka, dibalik pintu berdiri seorang laki-laki dengan perawakan sedang, tingginya sekitar 170 cm, rambutnya ikal memasuki kamar.

“Sudah bangun?” sapanya dengan senyuman hangat

Ya, ku mulai tersadar, dia adalah alasan ku berada di tempat ini. Dia yang membuat aku hijrah dari riuhnya suasana kota ke tempat sunyi yang dipenuhi irama semesta.

Danadhyaksa Bhumi, laki-laki yang beberapa bulan lalu dengan mantap mengucap ikrar akad, berjanji sepenuh hati sebagai penjaga ku. Aku, Lakshita Dahayu perempuan yang menerima Mas Bhumi suami sekaligus penjaga ku.

“Mas, maaf aku bangun kesiangan. Kenapa tadi mas tidak membangunkan aku?” protes ku pada suami ku ini.

“Tidak masalah, tadi aku lihat kamu tidur pulas sekali, rasanya tidak tega untuk membangunkan kamu lagi pula sesekali tak apalah, pasti berada di sini juga tak mudah untuk mu”

“Hayu, Aku tidak akan memaksa, tidak juga memberatkan mu yang akhirnya malah akan membuat mu menjadi tidak betah tinggal di sini. Kamu mau ikut aku tinggal di sini saja itu sudah sangat membuat ku bahagia” ungkapnya menjelaskan sembari tangannya mengusap rambut ku yang masih acak-acakan dan belum tertata rapi.

“Sudah, cepat mandi, terus ayo sarapan. Hari ini aku mau ajak kamu ke suatu tempat, kamu pasti suka” ajaknya penuh semangat.

Lekas aku beranjak menuju kamar mandi lalu selang 20 menit ku menuju meja makan. Sembari menyuapkan nasi dan sayur bayam ke dalam mulut pikiran ku mulai menebak, kemana suami ku ini akan mengajak ku pergi? Akan kah dia diam-diam merencanakan kejutan dan memberikan aku hadiah? Ahh…dasar aku manusia yang dipenuhi imajinasi romantisme ala drama korea.

Selesai kami sarapan aku bergegas membereskan peralatan di atas meja makan lalu membawa nya ke dapur.  Ku langkahkan kaki sampai tepat di teras rumah, Mas Bhumi sudah berdiri menunggu ku. Dengan memakai kaos putih bertuliskan ‘Cintai bumi, cintai generasi penerus’. Membaca tulisan itu dalam hati ku bergumam “Akan seperti kalimat itu juga aku, mencintai mu dan juga generasi penerus kita, Bhumiku”

Kami mulai berjalan selangkah demi selangkah menyusuri jalanan tanah yang mengering. Aku tahu ini akan menjadi hal yang tidak mudah bagiku, harus berjalan kaki ketika aku akan menuju suatu tempat, karena lingkungan tempat tinggal Mas Bhumi belum tersentuh pembangunan infrastruktur seperti jalan cor apalagi aspal. Masyarakat disini banyak yang berjalan kaki untuk melakukan aktifitas sehari-hari mereka, ada beberapa orang yang bersepeda motor tapi tentu saja kendaraan mereka tidak mampu menjangkau titik terdalam tempat ini. Hanya berhenti di tempat penitipan milik salah seorang warga yang rumahnya beruntung bisa ada di pinggir jalan jalan yang lumayan lebar. Selebihnya kami berjalan kaki.

Selang satu kilometer kami berjalan tiba-tiba mas Bhumi menoleh lalu tersenyum. Dia tersadar aku mulai tertinggal di belakang.

“Capek ya? Mau dibonceng pakai motor, atau naik pesawat? Hahaha….” Dia mulai meledek dengan guyonan recehnya

Aku menunjukkan ekspresi menyungut pada suami ku ini tapi dia malah terlihat tertawa melihat ku bernapas dengan terengah-engah. Apa dia tak tau kalau jantungku berdetak sangat kencang saat ini? Bukan karena tangan ku yang sekarang sedang digandeng oleh orang yang ku cintai tapi karena jalur yang kami lewati bukan berupa jalanan datar namun berupa tanjakan dan turunan. Topografi di daerah ini memang merupakan perbukitan dengan jalan naik turun yang tidak rata dan masih berupa tanah. Sekelilingnya dipenuhi tumbuhan yang hijau. Ada beberapa rumput yang terlihat berwarna cokelat, mulai mengering karena cuaca kali ini sudah mulai tidak menentu. Hampir setahun lamanya hujan enggan turun, aneh memang rasanya sudah tak mampu diprediksi bahkan dengan metode ‘titen’ turun temurun yang diwariskan oleh nenek moyang. Apa mungkin semesta mulai sudah mulai lelah dengan perilaku manusianya? Entahlah.

“Mana ada pesawat sampai sini, Mas. Belum landing sudah nyangkut di dahan pohon beringin

besar itu” kataku sambal menunjuk salah satu pohon beringin yang sangat besar, yang ku perkirakan usia nya sudah melebihi usia ku atau bahkan usia orang tua kami.

Bagiku yang terkadang suka dengan cerita horor pohon itu terlihat sangat magis dengan ukuran yang begitu besar dan lembaran kain putih yang melingkar menutupi batang pohon bagian bawah. Aku pun memandang pohon itu sambal menghela napas, merasakan degup jantungku yang sedari tadi masih saja terasa kencang. Tampaknya Mas Bhumi paham dengan rasa penasaran ku. Lalu dia menarik tangan ku dan kami berjalan ke arah pohon beringin yang sangat besar itu. Sampai tepat dimana pohon itu berada ada jalan setapak kecil yang masih berupa tanah. Jalan itu menurun menuju ke arah bawah pohon. Tepat di bawah pohon itu ternyata terdapat sumber mata air, jernih sekali. Mas Bhumi mulai bercerita, di sekeliling sumber mata air itu dibangun sebuah bangunan berbentuk persegi dengan bahan pasir, semen dan batu. Bangunan itu hasil swadaya masyarakat sekitar yang berusaha untuk menjaga kelestarian mata air agar tidak tertutup tanah ketika longsor. Mata air itu lah yang digunakan warga untuk memenuhi kebutuhan air bersih mereka. Menggunakan selang dengan diameter kecil tak lebih dari dua sentimeter air tersebut dialirkan menuju rumah-rumah warga dengan mengandalkan gaya gravitasi, masih sangat sederhana sekali. Saat musim kemarau seperti sekarang debit air menurun dibanding saat musim hujan, tapi Tuhan masih terlalu baik. Mata air itu tetap mengalir, tetap jernih dan tetap memberikan kehidupan bagi makhluk di sekitarnya.

Sejenak beristirahat, Langkah kaki kami mulai berayun kembali menyusuri jalanan setapak. Langkah ku sesaat terhenti Ketika kami tiba di sebuah tanah yang sebagian sudah ditanami bibit pohon jenis kayu keras seperti jati, sengon, dll. Sedangkan di sisi lainnya masih berupa tanah dengan tingkat kelerengan cukup curam. Rasanya tak mungkin bagiku untuk melewati jalan ini. Sebenarnya ini tidak terlalu tepat untuk dikatakan sebagai jalan karena memang kondisinya tidak berbentuk seperti jalan yang bisa dilewati manusia dengan berjalan secara normal.

Mas Bhumi perlahan mulai menapakkan kakinya pada sebuah batu kecil tepat di mulut lereng itu. Tangannya diarahkan kepadaku dengan posisi telapak tangan yang terbuka.

“Ayo, hati-hati ya. Jalannya lumayan curam dan licin kalau kamu injak daun kering ini” katanya sambal menunjuk daun akasia dan cengkih yang telah mengering.

“Mas, ini bukan lumayan lagi. Ngeri ah..mana bisa seperti ini dilewati, yang ada nanti malah jatuh sampai bawah. Aku takut, Mas” jawabku dengan wajah mulai menyungut dan ragu bahkan untuk sekedar menyambut dan meletakkan tangan ku di atas tangan Mas Bhumi.

“Dasar manusia kota. Siapa bilang tidak bisa?hampir setiap hari aku lewat jalan ini dan warga yang lain juga melewati jalan yang sama. Kalau orang lain saja bisa kenapa seorang Dahayu tidak bisa? Sudah ayo, yang penting hati-hati” ajak Mas Bhumi yang sedari tadi berusaha untuk meyakinkan ku.

Sejenak aku terdiam, berusaha meyakinkan diriku sendiri kalau aku mampu untuk melewati jalan ini. Perlahan ku raih tangan Mas Bhumi, ku genggam dengan erat agar pegangan kami tidak terlepas. Akhirnya dengan susah payah aku bisa sampai di ujung lereng. Ya, memang susah payah karena aku harus melewatinya dengan beberapa kali terpeleset dan hampir terjatuh. Belum lagi suara tawa dari Mas Bhumi yang terlihat malah menikmati momen ketika aku terpeleset. Sangat menyebalkan sekali, tapi di sisi lain aku mampu melihat Danadyaksa ku. Dia yang selalu menjagaku, tidak pernah membiarkan aku terjatuh Ketika aku harus melewati jalan tersulit.

Tepat di bawah lereng menurun itu terdapat sebuah sungai dengan aliran sungai yang tenang. Airnya jernih sehingga cahaya mampu menembus ke dasar dan menampakkan tanah, bebatuan serta hewan yang ada di dalam air. Di seberang sungai terlihat beberapa orang saling berbicara. Dua orang bapak-bapak dan tiga orang ibu-ibu. Terlihat akrab dan menarik sekali sepertinya hal yang mereka bahas. Senyum dari masing-masing mereka merekah sebagai penanda kebahagiaan yang terpancar. Mereka terlihat membawa selang yang dari ujungnya memancarkan air menyirami bibit-bibit tanaman berukuran kecil yang ditanam dalam polybag.

Berbagai bibit tanaman yang ada di tempat ini, tidak hanya bibit tanaman keras tapi juga jenis sayuran dan toga. Mas Bhumi mulai menyapa mereka dengan ramah. Menanyakan tentang kabar dan agenda kegiatan mereka hari ini. Sesekali Mas Bhumi menanyakan tentang kendala apa yang mereka hadapi dalam melakukan kegiatan pembibitan tanaman ini. Tak lupa terselip doa agar mereka selalu diberikan kesehatan untuk selalu berkarya demi kelestarian bumi. Aku yang sedari tadi memerhatikan Mas Bhumi mulai mengalihkan pandangan ku ke arah lingkungan sekitar. Pandangan ku tertuju pada gundukan yang tertutup terpal berwarna biru. Aku berjalan ke arah gundukan itu, rasanya penasaran apa yang ada di balik terpal biru itu.

Sepertinya Mas Bhumi sekali lagi paham dengan apa yang ada di dalam pikiran ku. Dia menghampiri ku lalu membuka terpal yang menutupi gundukan itu.

“Ini pupuk organik, diolah dari hasil kotoran hewan, rumput dan juga daun dari daerah di sekitar sini”

“Masyarakat di sini mengolah apa yang terlihat sudah tidak berguna menjadi barang konsumsi yang memiliki nilai guna, bahkan memiliki nilai jual. Selain mereka bisa mengelola lingkungan mereka juga bisa mendapatkan penghasilan dari hal itu”

“Lihat ini, hasil pupuk yang sudah dikemas. Selain digunakan untuk penggunaan pribadi dan kelompok masyarakat di sini, pupuk ini sudah mulai dipasarkan keluar desa ini. Ya, sedikit demi sedikit mereka bisa melaukan kegiatan wirausaha dari hasil pengelolaan lingkungan yang mereka lakukan”

Sejenak ku berpikir tentang bagaimana bahan baku tersebut dikumpulkan dari tiap-tiap kandang ternak di rumah warga, apakah akan efisien dari segi jarak dan waktu?

“Ayo ikut aku lagi..kita lanjutkan jalan-jalan kita ya?” Ajak Mas Bhumi seraya menggandeng tangan ku.

Tak jauh dari tempat pertama yang kami kunjungi sampailah kami di sebuah bangunan semi permanen. Bangunan yang terlihat seperti kandang ternak, lebih tepatnya kluster kandang ternak. Ya, ku tebak ini adalah kendang kelompok. Ada beberapa ekor sapi, tepatnya 14 ekor sapi dengan warna kulit yang berbeda, ada putih, cokelat, dan hitam.  Memang bangunannya masih sederhana, dengan menggunakan cor semen sebagai alas dan kayu sebagai tiang penyangga atapnya. Kata Mas Bhumi, kandang kelompok ini hasil dari swadaya masyarakat dan dibantu dengan dana desa. Mas Bhumi mengajakku berjalan menyusuri setiap lorong kandang ini, sampai di ujung bagian belakang Mas Bhumi mengarahkan jari telunjuknya pada suatu titik. Pandangan mataku terarah kemana jari itu menunjuk terlihat di atas tanah ada sebuah tutup yang terbuat dari cor semen dengan besi melengkung tertancap dibagian atas. Langkah kami mulai mendekati benda itu.

“Ini tangki biogas. Selain diolah menjadi pupuk organik, kotoran ternak di sini diolah dalam tangki biogas ini, nantinya gas yang dihasilkan akan disalurkan ke beberapa rumah warga di sekitar kandang melalui pipa-pipa untuk digunakan sebagai bahan bakar. Selain lebih hemat dari sisi ekonomi, penggunaan biogas juga merupakan salah satu upaya untuk konservasi energi” Jelas Mas Bhumi diakhiri dengan senyuman manisnya.

Aku pun mengangguk, mulai mencerna dan memahami apa yang disampaikan dan dilakukan oleh suamiku di tempat ini.

Matahari mulai berjalan lebih naik, hampir tepat lurus di atas kepala. Tak lama terdengar kumandang adzan menankan tiba waktu sholat dzuhur. Kami bergegas berjalan menuju masjid yang terletak tak jauh dari kandang kelompok, disana kami beribadah bersama dengan warga desa.

Selepas sholat dzuhur, aku dan Mas Bhumi duduk di serambi masjid sembari beristirahat sebelum kami berjalan kembali ke rumah. Di sela-sela kami beristirahat, kembali Mas Bhumi menceritakan tentang desa ini, tentang kecintaannya pada lingkungan, tentang rencana-rencananya untuk membuat bumi tetap indah, tetap lestari. Dia menyampaikan dengan bahasa yang menarik dan mudah untuk ku pahami. Tak salah memang, karena Mas Bhumi adalah seorang lulusan jenjang magister bidang pendidikan. Rasanya bisa dan mudah saja ketika dia ingin menjadi seorang pengajar di sebuah perguruan tinggi yang lokasinya di tengah kota. Tapi, nyatanya Mas Bhumi lebih memilih untuk mengabdi sebagai guru di sekolah yang letaknya di sebuah desa yang jauh dari ramainya aktifitas kota. Disela-sela pekerjaannya digunakan untuk memberikan edukasi pada masyarakat tentang apa yang sedang bumi alami saat ini, juga usaha-usaha yang dapat dilakukan untuk menjaga bumi tetap lestari melalui kegiatan pengelolaan lingkungan skala masyarakat desa. Melakukan usaha adaptasi dan mitigasi dengan sumber daya yang ada. Menyelipkan pengetahuan dan sikap peduli lingkungan dengan melakukan kegiatan konservasi air dan energi juga pengelolaan sampah berbasis masyarakat. Sebuah usaha kecil untuk membentuk karakter masyarakat yang sadar dan peduli lingkungan sebagai modal untuk menghadapi perubahan iklim agar tetap tangguh.

Kini aku mulai mengerti apa yang ada dalam diri suamiku. Seperti nama yang tersemat pada dirinya Danadyaksa Bhumi (Penjaga Bumi). Suatu bentuk doa dan harapan dari orang tua agar dia mampu menjadi penjaga untuk kelestarian bumi. Menjaga agar bumi kami tetap kuat bertahan ditengah hempasan perubahan zaman dan perkembangan pembangunan. Akhirnya, memang setiap dari manusia di zaman ini akan bertanggungjawab pada kondisi bumi di masa yang akan datang. Satu bibit pohon yang kita tanam hari ini untuk seratus tahun mendatang. Sebuah pilihan bagi kita, apakah kita akan mewariskan bumi yang tandus atau bumi yang hijau dan lestari bagi generasi masa depan.

Danadyaksa Bhumi, tetaplah menjadi seorang penjaga yang tangguh, yang tak pernah Lelah untuk selalu menjaga bumi untuk tetap lestari. Tugasku adalah mendampingimu dalam setiap Langkah dan usahamu.

12 thoughts on “Cerpen #350; “DANADHYAKSA BHUMI”

  1. Ceritanya bagus, sederhana tapi penulis bisa mendiskripsikannya sedemikian rupa sehingga pembaca dapat memahami alur cerita dan membayangkan keadaan yang terjadi dalam cerita tersebut. Sedikit koreksi ada beberapa typo mungkin kedepannya bisa lebih diperhatikan, selebihnya sudah bagus saya suka ceritanya 😃👍

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *