Cerpen #349; “100 Tahun Jelang Kiamat”

Di atas kursi taman, aku duduk sendiri menghadap pantai. Deburan ombak dan semilir angin menyanyikan musik alam. Orang-orang ramai berlalu lalang, sibuk dengan kehidupannya masing-masing. Seorang perempuan tua duduk bersahaja memberi makan burung-burung merpati di hadapannya dengan suwiran roti renyah. Beton-beton raksasa seukuran pria dewasa, mungkin ribuan jumlahnya, bertumpuk-tumpuk di depan sana menahan laju abrasi. Ada pengukur ketinggian permukaan air laut di dinding beton itu. Angka itu bertambah tinggi semenjak tahun kemarin. Dari berita aku ketahui bahwa permukaan air laut bertambah tinggi tiap tahunnya. Itu artinya orang-orang di sekitar sini harus bersiap-siap untuk tenggelam untuk beberapa puluh tahun ke depan. Setidaknya mereka sudah harus belajar berenang mulai sekarang. Hal itu mengingatkanku kembali dengan seminar pagi tadi. Seminar itu diisi oleh seorang profesor yang aktif sebagai pengamat lingkungan hidup, ia membawa data-data dan teori seorang ilmuwan hebat abad ini yaitu Stephen Hawking. Katanya “Dunia akan kiamat 100 tahun ke depan”. Gila, hal ngawur apa ini, pikirku awalnya. Tetapi bukan kiamat seperti dalam ilmu-ilmu agama yang diajarkan kepada kita sedari kecil. Hal ini lebih realistis dan nyata telah dimulai. Kiamat yang timbul akibat ulah manusia dan akan membasmi manusia itu sendiri. Hari ini “manusia adalah parasit untuk bumi”. Peradaban menambah cepat laju pertumbuhan parasit yang merusak bumi. Perubahan iklim yang cepat, sampah yang menumpuk, polusi udara, kerusakan hutan, melonjaknya populasi manusia, semua hal itu adalah faktor-faktor yang dibuat oleh tangan manusia yang turut mendukung kiamat 100 tahun ke depan.

Mataku tertuju pada segerombolan anak-anak sekolah dasar yang sedang melakukan bakti sosial memungut sampah di bibir pantai. Ada sekitar 15 anak dengan seragam kompak yang serba jingga begitu juga dengan topi mereka. Didampingi gurunya yang tampak seperti gadis muda dengan pakaian serupa, anak-anak itu mengikutinya dari belakang. Dengan muka lugunya, tangan-tangan kecil itu memasukkan sampah ke dalam karung. Mau dibersihkan setiap hari juga tidak akan ada habisnya, pikirku. Sepanjang bibir pantai sampah-sampah plastik berhamburan. Orang-orang yang mandi di sana tidak ambil pusing terhadap sampah-sampah itu. Justru mereka turut menambah jumlahnya. Hanya anak-anak itu saja yang mau di suruh gurunya memungut sampah yang bukan miliknya. Mungkin memang harus kiamat dulu baru orang-orang sadar bahwa sampah mereka membahayakan untuk mereka dan orang lain. Anehnya diriku, walau berpikir hal-hal semacam itu tetapi tidak ambil pusing juga untuk perkara sampah ini. Bukan sampahku juga, bisik dalam hati.

Matahari semakin meninggi. Panasnya bukan main. Dulu sewaktu kecil rasanya panas matahari tidak semenyengat ini. Aku kemudian teringat dengan tugas esaiku tentang seminar pagi tadi. Mudah sekali dosen menjalankan kewajibannya mengajar. Menyuruh mahasiswa ikut kuliah umum habis itu buatan esainya sebagai nilai tugas. Dasar. Lalu dimana kewajiban transfer ilmunya. Untuk mencari referensi, aku putuskan pergi ke perpustakaan kota mencari buku-buku tentang lingkungan atau mungkin juga kiamat. Tepat saat aku berdiri dan berpaling dari pantai seorang anak kecil dengan wajah polosnya telah berada dua langkah dari hadapanku. Gerombolan anak sekolah dasar itu rupanya. Ia lalu maju selangkah dan sodorkan selebaran kepadaku. “Maaf om, datanglah besok, kalau om ada waktu.” Aku pasang wajah dengan senyum semanis mungkin untuk membalas senyuman anak itu. Aku jongkok untuk sama tinggi dengannya, lalu aku usap kepala yang ditutupi topi jingga itu. “Terima kasih,” ucapku. Lalu ia hanya tersenyum dan kembali berjalan untuk kembali ke rombongannya. Ajakan untuk ikut bakti sosial rupanya isi selebaran itu. Aku pandangi selebaran dengan tulisan mencolok norak gaya anak-anak “Ayo Ikut Kami Selamatkan Bumi,”dengan tak acuh, aku lipat kecil selebarannya dan aku masukkan dalam saku celana. Mana bisa selamatkan bumi jika manusia itu sendiri belum sadar arti pentingnya lingkungan. Yang penting perut dan hasrat terpenuhi, maka beres sudah. Lebih baik pikirkan diri sendiri daripada orang lain yang tentu tidak memikirkan kita juga.

Terik panas mengiringi langkahku. Debu dan asap kendaraan membumbung di udara. Untung aku selalu sedia masker untuk situasi seperti ini. Orang-orang dengan kuda-kuda besi itu berseliweran tanpa peduli sekitar. Seolah-olah tidak ada lagi hari esok. Karbon dioksida lancang keluar tanpa aturan. Sayangnya pemerintah hanya membuat aturan pajak kendaraan untuk dikorupsi tanpa peduli yang benar-benar terdampak dari polusi ini yaitu lingkungan. Asal punya uang, orang bisa beli kendaraan bermotor beserta polusinya dan cukup dengan bayar pajak kendaraan semua beres. Tanpa ada sedikitpun sumbangsih untuk mengurangi polusi tersebut. Inilah bumi manusia. Seolah ia pemilik hak seutuhnya atas bumi. Makhluk lain hanya sebagai pendukung. Bahkan belum ada peraturan di bumi ini kalau beli kendaraan maka wajib menanam pohon sesuai polusi karbon yang ia keluarkan. Aku kemudian melewati jembatan. Jangan kau tanya rupa sungai di bawahnya. Aku pernah berpikir jangan-jangan sungai itu adalah sungai kopi susu karena warnanya yang coklat. Kalau benar itu kopi susu maka sangat banyak taburan toping di atasnya berupa sampah-sampah plastik. Entah ikan seperti apa yang sanggup hidup di dalamnya. Itu pun jika ada. Mustahil. Setelah belokan, tinggal beberapa gedung untuk sampai ke perpustakaan kota.

Akhirnya sampai juga di dalam perpustakaan. Selain deretan buku yang memanjakan mata dan aromanya yang membuatku rileks, yang terpenting di sini lebih adem daripada terik di luar sana. Setelah mengabsen namaku sebagai pengunjung perpustakaan, aku berjalan-jalan menyusuri lorong-lorong rak buku. Melihat-lihat buku ini sungguh menarik. Oh iya, aku hampir lupa buku yang harus aku cari untuk esai. Tubuh segera aku arahkan menuju bagian sosial lingkungan. Hmmm, banyak juga bukunya. Mana satu yang harus aku ambil. Aku mencomot acak buku-buku yang ada. Ekologi, ekosistem, flora, fauna, dan bla-bla-bla, tidak ada yang menarik dan sesuai untuk esaiku. Atau lebih tepatnya, aku belum tahu akan menulis apa. “Buk!” Aku berpaling ke belakang untuk melihat sumber bunyi, apa yang jatuh. Sebuah buku. Buku itu aku ambil dengan tangan kanan. Cukup tebal dan berat. Sebuh ensiklopedia mungkin, pikirku, karena buku itu jatuh di lorong buku sosial lingkungan. Sampul buku ini dari bahan kulit bak buku usang selaras dengan warna coklat pudarnya. Sampul bukunya polos tanpa judul. Cukup menarik. Aku duduk di sebuah pojok baca untuk tahu isinya. Aku membuka halaman pertama. Kosong. Halaman kedua. Kosong. Ketiga, keempat dan seterusnya. Tetap kosong. Kemudian seluruh halaman aku buka dengan cepat. Semuanya kosong. Ah, aku pikir buku apa ini. Hanya buku kosong rupanya. Buku itu aku biarkan di meja dan aku mencari buku lain lagi. Satu langkah dari meja. Belum lama dari waktu aku berpaling. Sebuah cahaya terang memancar. Sumber cahaya itu berasal dari dalam buku tadi. Aku termangu dengan mulut menganga melihat kenehan ini. Belum habis keanehan ini, tiba-tiba buku itu mulai bergetar, semakin cepat hingga melayang di udara tepat di hadapanku. Otakku seketika tidak bisa berpikir di depan kejadian aneh ini. Jangan tanya kakiku, pasti kaku dan mematung di tempat. Halaman buku itu kemudian terbuka cepat. Cahaya dari dalam buku itu semakin terang bersinar. Hingga rasanya tubuhku melayang dan terisap sesuatu. Sial, apa ini. Aku terisap ke dalam buku. Aku ingin berteriak tetapi lidahku kelu dan mulutku sempurna tertutup.

***

Saat aku tersadar yang tampak oleh mata hanya putih. Segalanya putih. Aku berada di sebuah ruangan, mungkin dimensi lain, yang hanya diisi warna putih kemana pun mata memandang. Lalu sesuatu menyentuhku dari belakang. Aku sontak terkejut, terjatuh dan mundur kebelakang tetap dalam posisi duduk. Sebuah makhluk mirip pohon bergerak mendekat. Tingginya hanya sampai lututku. Walau seperti pohon ia tampak memiliki fungsi tubuh seperti manusia. Sebuah tubuh dari batang pohon yang berwarna coklat, dua tangannya adalah cabang pohon dengan ranting-ranting sebagai jemarinya, kemudian dua kakinya dari akar. Yang paling unik adalah ia juga memiliki wajah dengan dua mata dari bintik hitam sebesar kelereng dan sebuah mulut. Ia berjalan mendekat sembari menjulurkan tangannya.

“Jangan takut, aku temanmu,” ucap makhluk itu.

“Hahhhhh! Kau, kau barusan bicara,” ucapku terbata-bata. Aku cubit kedua pipiku sekuat tenaga. “Aduh!” Ini bukan mimpi, rasa sakit ini nyata adanya.

“Halo, namaku Kibo,” ucapnya. “Kau siapa namanya?”

Aku masih termangu menghadapi situasi aneh ini. “Aku, aku, Laut, Biru Laut. Namaku Biru Laut.”

Ia masih mencoba mendekat sembari tangannya masih terjulur. Sungguh setengah mati aku ragu-ragu menyalami. Saat jariku dan ranting-ranting di tangan Kibo saling mencengkeram, sebuah ketenangan muncul dari dalam diriku. Rasanya seperti kau bernaung dari panas matahari di bawah pohon rindang dengan angin sepoi-sepoi. Rasa takutku hilang seketika. Karena Kibo hanya setinggi lutut, aku tetap dalam posisi duduk.

“Senang berkenalan denganmu Biru Laut,” ucap Kibo. Aku merasakan kesejukan dari bicaranya. Rasa itu sulit untuk dijelaskan dari mimik wajah pohonnya yang unik, tetapi begitu saja masuk ke dalam diriku.

“Hm,” aku mengangguk, “senang juga berkenalan denganmu Kibo,” ucapku santai,  “Apa sebenarnya terjadi? Aku dimana dan dirimu apa?” Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulutku.

“Akan susah menjelaskan detailnya padamu, tapi pada intinya aku akan mengajakmu berjalan melihat dunia 100 tahun ke depan.”

“Hah!” Aku tahu dia serius mengucapkan itu, tapi itu sungguh lucu karena menggelitik akalku.

“Aku tahu kau tidak akan percaya, maka kenapa kita tidak langsung saja,” ucap Kibo.

Lalu ia menggenggam tanganku dan saat itu juga aku merasakan sensasi terisap seperti sebelumnya. Ini sungguh. Aku mau mengucapkan “tunggu dulu,” tapi kalimat itu macet dalam kerongkongan.

***

Ketika tersadar aku tidak bisa menggerakkan apapun dari tubuhku. Rasanya seperti hawa dingin mengelilingi tubuh baik dari dalam atau luar. Tapi beruntungnya, aku masih bisa melihat sekitar. Aku berada di sebuah pulau kecil yang dikelilingi laut. Di sekitarku hanya ada bebatuan dan bongkahan es. Persis di depanku ada pula bongkahan es sebesar mobil. Aku perhatikan dengan teliti pantulan dari tubuh es itu, bak cermin, aku melihat tubuhku. Aku terkejut setengah mati dan berteriak. Tetapi tidak ada suara apapun yang keluar. Sungguh. Aku menjadi sebongkah es dengan ukuran setengah kali lebih kecil dari balok es di depanku. Sial apa yang terjadi, pikirku. Kemana Kibo? Apa yang dia perbuat padaku? Aku mencoba menarik nafas untuk menenangkan diri walaupun itu hanya naluriku saja karena tidak mungkin sebongkah es menarik nafas. Setelah lebih tenang aku kembali memikirkan apa yang terjadi. Buku, ruangan putih, Kibo, dan yang paling penting ucapannya “melihat dunia 100 tahun ke depan”. Apa ini yang ia maksudkan dengan dunia 100 tahun ke depan? Aku memperhatikan sekitar dengan lebih seksama. Dimana aku ini sekiranya?

“Hei bung!”

Ada sesuatu yang bersuara. Siapa, dimana. Tidak ada siapa-siapa di sekitarku.

“Hei bung! Kau, iya kau. Kenapa mukamu seperti orang bingung? Aku di depanmu.”

Alamak. Apa benar yang sedang terjadi ini. Aku merasa sebongkah es di depanku ini berbicara padaku. “Emmm, kau yang berbicara. Sebongkah es besar di depanku ini. Tidak mungkin. Tidak mungkin.”

“Kau sudah gila. Tidak mungkin gimana. Kau juga sebongkah es. Kau bahkan tadi berteriak keras. Apa yang terjadi padamu?”

Itu membuatku terdasar dengan beberapa keanehan yang terjadi padaku beberapa waktu ke belakang. Pohon saja berbicara denganku sebelumnya. Masa sebongkah es tidak bisa. “Maaf tuan kalau teriakanku mengganggumu. Aku tidak apa-apa. Hanya bermimpi buruk.”

“Oh. Baiklah kalau begitu.”

“Kita sedang ada dimana?” Tanyaku.

“Lucu sekali pertanyaanmu. Tapi nampaknya kau serius. Kau yakin tidak apa-apa?,” Tanyanya balik, “kita di kutub Selatan.”

“Serius, kita di kutub selatan.”

“Mungkin karena panas ini membuatmu berhalusinasi,” sebongkah es itu mulai bicara lagi. “Semenjak 100 tahun ke belakang dunia menjadi semakin panas. Kau mungkin tidak percaya. Aku dulu sebesar gunung Everest. Mungkin aku bongkah es paling besar di kutub selatan ini. Tapi lihat aku sekarang. Tidak lebih besar dari sebuah mobil. Air laut meningkat.  Sampah dimana-mana.”

Aku memperhatikan sekitar sekali lagi. Sepanjang aku memandang, sampah dimana-mana. Daratan ini dan laut dipenuhi sampah. Ombak yang terhempaspun menghempaskan sampah pula. Hanya ada beberapa bongkah es yang terlihat dan yang paling besar adalah bongkar es di depanku ini. Di lautan tidak ada es.

“Selamat bung,” kata bongkah es itu tiba-tiba, “mungkin kita es terakhir dimuka bumi ini. Dan mungkin ini hari terakhir kita menjadi bongkah es sebelum mencair.”

“Manusia itu benar-benar parasit untuk bumi ini….”

Saat ia berkata seperti itu, tiba-tiba sesuatu melompat dari dalam air. Mereka berjalan ke sini. Hanya tampak seperti siluet dari kejauhan ini. Manusiakah, pikirku. Dilihat lebih dekat baru nampak jelas rupanya. Tingginya mungkin hampir sama dengan manusia. Berjalannya aneh seperti orang mabuk, oleng ke kiri-kanan. Dua sayapnya terkadang dikepak-kepakan. Bulunya putih di perut dan hitam di belakang, ada warna kuning di sekitar lehernya. Paruh-paruh itu membawa ikan.

“Lihat para pinguin itu,” kata bongkah es di depanku, “mereka masih saja mencari makan di laut tercemar itu. 100 tahun ke belakang rupa mereka semakin aneh saja. Padahal dulunya mereka makhluk yang lucu.”

Benar apa yang dikatakan si bongkah es ini. Mereka kini bergerombol di sekitarku dan bongkah es lainnya. Dari jarak sedekat ini baru terlihat rupa aneh mereka. Para pinguin ini banyak yang cacat. Sebagian paruhnya penyok, sayapnya panjang sebelah, bahkan banyak yang kakinya berukuran tidak seimbang. “Apa yang terjadi pada pinguin ini?”

“Kau bertanya hal aneh lagi bung,” ketus bongkah es itu, “ya karena laut sudah tercemar. Ikan-ikan sebagai makanan mereka juga tercemar. Akhirnya para pinguin ikut tercemar. Setiap kali mereka tumbuh pasti ada saja yang cacat.”

Separah itukah pencemaran di bumi ini, bisikku dalam hati. Lalu anak-anak pinguin yang bersembunyi di sarang-sarang mulai keluar untuk menerima makanan dari induknya. Bentuk anak-anak pinguin ini tidak lebih aneh dari induknya. Ikan-ikan berlendir, busuk dan tampak sekali beracun itu masuk dalam paruh dan perut pinguin-pinguin kecil itu. Benar kata bongkah es di depanku ini.

“Hei bung waktu kita tampaknya tidak akan lama lagi,” ucap bongkah es itu lemah.

Aku kembali memperhatikannya. Tanpa aku sadari bongkah es yang seukuran mobil tadi kini hanya seukuran baskom dan sialnya aku lebih kecil lagi. Karena terlalu memperhatikan sekitar, aku bahkan tidak sadar telah mencair sebegitu cepatnya. Berapa panas matahari di dunia ini sekarang? Tanyaku dalam hati, itupun kalau sebuah bongkah es memiliki hati.

“Aku mengutuk manusia. Semoga mereka semua tenggelam dalam lautan. Dunia menjadi seperti ini karena ulah mereka,” sumpah bongkah es itu. “Kau bung! Bukan bermaksud menghina. Tapi memang ini takdirnya. Kau akan mencair lebih dulu daripada aku. Kau tidak ingin menyampaikan pesan terakhir sebelum leyap sabagai bongkah es terakhir dunia ini?”

Aku menjadi bingung atas pertanyaan itu. Apa yang akan terjadi padaku bila aku mencair seluruhnya? Apa aku kembali ke duniaku? “Hmm, kau betul juga wahai bongkah es terakhir sahabatku,” ucapku mencoba santai. “Aku harap dunia menjadi lebih baik nantinya.”

“Lucu sekali ucapanmu itu bung. Kau tidak ingin mengutuk mati manusia sepertiku,” jelasnya, “mungkin karena panas ini membuatmu sulit berpikir.”

Justru kau yang aneh, gumamku dalam hati. Memangnya sebongkah es bisa berpikir. Lalu bersama matahari yang semakin turun ke arah barat, kesadaranku makin meredup. Aku seperti mengantuk. Ukuran matarari itu tampak lebih besar dari yang pernah aku lihat terakhir di duniaku. Warna merah langit sangat mencolok karena polusi udara. Bersama dunia yang akan hancur. Akupun menghilang dengan lelehan terakhir dari bongkah es di dunia ini. Lalu sensasi terisap itu datang lagi. Kali ini aku berharap kembali ke duniaku. Jangan ke tempat aneh atau ruangan putih itu lagi.

***

Sial, kala aku tersadar aku tidak berada di duniaku ataupun ruangan putih itu lagi. Lagi-lagi aku bangun di tempat asing yang aku tak tahu sama sekali. Aku berada di tempat yang tinggi. Dengan sepasang kaki kecil dan ramping, erat mencengkeram kabel listrik. Tanganku ditumbuhi bulu-bulu unggas. Dari pantulan bayangan genangan air di bawahku, wujudku sekarang adalah seekor burung pipit kecil. Oh sial, desisku, aku dalam bentuk aneh lagi.

Dari daerah disekelilingku, dapat aku simpulkan aku berada di sebuah desa. Satu hal yang masih sama seperti dunia sebelumnya, panasnya matahari benar-benar membuatku gerah. Ditambah dengan bulu-bulu di sekujur tubuhku. Entah sudah berapa kali aku mengepakkan sayap untuk mencari sedikit angin. Aku belum berani untuk terbang. Walaupun seekor burung, aku tidak pernah paham bagaimana teknisnya burung mampu terbang. Apakah asal punya kantung udara, maka cukup mengepakkan sayap dan kau akan terbang. Dari kejauhan aku melihat sepasang pipit terbang di atas sana. Tampaknya mereka mengarah ke sini. Apa mereka juga mencari keteduhan di tempat aku berada yang kebetulan dinaungi pohon besar yang layu dan kering. Benar, sepasang burung itu makin mendekat dan hinggap di kanan dan kiriku.

“Hai bung, kami menumpang berteduh sebentar,” kata burung pipit di kananku.

“Iya bung, panasnya benar-benar akan membuatku meleleh,” sahut pipi di kiriku.

“Hmmm,” jawabku sambil mengangguk. Sial, kejadian aneh apa lagi ini. Sekarang aku berbicara dengan burung pipit. Yang benar saja. Eh, tunggu dulu. Ini tidak terlalu aneh. Bahkan sebelumnya aku berbicara dengan sebongkah es. Lalu aku mencoba untuk berbicara juga, “iya, silahkan saja.”

“Situasi benar-benar buruk bung,” pipit di kananku mulai berceloteh, “tampaknya para petani gagal lagi untuk menghasilkan padi. Semuanya mati mengering. Tidak ada makanan bahkan untuk burung pipit kecil seperti kita.”

Aku memperhatikan lebih seksama. Benar yang dibicarakan oleh pipit-pipit ini. Semuanya tampak gersang. Hamparan padi di depan sana, kuning mengering, gersang. Bahkan hutan-hutan di sekitar sini tidak kalah gerangnya. Pohon-pohon hanya meninggalkan beberapa helai daun saja yang masih bertahan. Kemudian burung-burung ini terus mengoceh tentang kerakusan manusia. Mengapa tidak menjaga lingkungan dengan benar. Bahkan sumpah serapah pun dapat keluar dari paruh burung pipit untuk manusia.

“Semoga manusia lekas punah, maka tidak ada lagi parasit di bumi ini,” sumpah pipit di kiriku.

“Benar bung, semoga manusia lekas punah. Tanpa manusia, maka bumi yang gersang ini akan kembali hijau,” sambung Pipit di kakanku.

Aku tidak ikut nimbrung pembicaraan mereka. Aku hanya memperhatikan sekitar dan seorang laki-laki tua yang berteduh di bawah pohon kering yang sama dengan kami. Mungkin seorang petani, pikirku, karena ia membawa cangkul. Wajahnya lemas dan lesu. Tubuhnya hanya dibalut daging yang sangat tipis, tirus pipinya membuat wajahnya tampak aneh. Bahkan dari mata burung pipit seperti diriku tahu bahwa orang itu busung lapar dari perutnya yang buncit. Apa dunia sudah separah ini? Bisik dalam benakku. Tangan kurusnya yang lemah mencoba mengambil air dari genangan di bawah sana dengan telapak tangan. Hei, apa yang ingin ia perbuat. Jangan katakan bahwa ia akan meminumnya. Dari genangan kotor yang tampak seperti lumpur itu mana layak diminum. Dugaanku tidak meleset. Ia benar-benar meminumnya.

“Dasar manusia,” pipit di sebelah kananku memulai lagi, “sekarang mungkin baru mereka tersadar pentingnya menjaga air.”

“Dulu seenaknya saja,” sambut pipit di kiriku, “sampah melimpah di buang ke sungai. Sekarang tidak ada lagi air. Siapa yang susah.”

Tidak jauh dari kami bertengger, sekitar dua ratus meter di dalam hutan, asap hitam mengepul di udara.

“Kebarakan,” teriak pipit di kiriku.

“Lari bung, kalau tidak mau jadi burung bakar,” sabung Pipit di kananku.

Mereka segera terbang terbang dan sayapnya menyenggolku jatuh. Sial, bagaimana caranya terbang, teriakku panik dalam batin. Reflek aku mengibas-ngibaskan sayapku sekuat tenaga. Sebelum terhempas ke tanah, tubuh burung pipit ini bertolak kembali ke udara. “Hahaha,” tawaku puas. Ternyata semudah itu untuk terbang. Seperti menganyuh sepeda. Lalu aku terbang tinggi kembali ke udara mengikuti sepasang pipit tadi. Dari atas sini api melahap hutan kering itu. Mungkin hanya tinggal beberapa menit untuk melahap padi-padi kering itu juga.

Aku masih terbawa suasana karena bisa terbang. Siapa sangka terbang sebagai burung itu menyenangkan. Angin berhembus, dari atas sini semua nampak kecil.

“Hal biasa bung,” ucap pipit yang tadi di kananku tapi sekarang di terbang di kiriku.

“Cuaca menggila,” sahut pipit yang terbang di kananku, “saking panasnya dapat membakar hutan.”

Mungkin satu jam sudah kami terbang. Sayang-sayapku mulai merasa kesemutan. Apa mungkin aku benar-benar telah menyatu dengan tubuh burung ini, pikirku. Dari atas sini, laut biru dan sebuah kota dipinggirnya mulai tampak. Tetapi ada yang aneh dari kota. Semakin mendekat, barulah terlihat jelas apa yang terjadi. Setengah kota itu, tepatnya yang berada di garis pantai telah terendam oleh air laut. “Oh apa yang terjadi, kok tenggelam, bukankah cuaca ini ekstrim panasnya, memang ada hujan?” Gumamku.

“Apa yang kau bicarakan bung?” rupanya gumamku terdengar oleh pipit di sebelahku, “kota ini sudah mulai tenggelam sejak 100 tahun terakhir. Aku rasa semua makhluk di bumi tahu.”

“Kau tampak aneh bung,” balas pipit ynag terbang di sebelah kananku, “mungkin panas membuatmu pusing,” ia berhenti sejenak berbica, “ayo kita menjauh dari kota itu, tidak ada makanan untuk kita di sana.”

Aku sangat penasaran, bagaimana situasi kota di sana. Aku tetap terbang lurus ke depan menuju kota itu.

“Hei bung, kau mau kemana?” tanya sepasang pipit yang terbang berbelok dari arah kota.

Aku tidak menjawab pertanyaannya, “pergi saja kalian dulu,” teriakku.

“Mungkin dia sudah gila,” sahut pipit di sebelahnya. Aku bisa mendengar itu, dasar pipit, tapi aku tetap tidak menggubris.

Sepasang pipit itu terbang menjauh dan aku kini sudah melayangkan di atas kota yang setengahnya terendam air laut. Jangan kau bayangkan indahnya laut. Laut yang menenggelamkan kota ini begitu kotor. Airnya coklat mengandung lumpur dan bahkan banyak sampah-sampah yang terapung. Sulit memastikan tingginya air laut itu, tetapi satu gedung pencakar langit telah tenggelam setengah tubuhnya. Nampak orang-orang menggunakan perahu mengelilingi kota.

Aku terbang pergi dari daerah yang tenggelam menuju kota yang lebih kering. Ini kali pertamanya aku menjadi burung, wajar kalau aku kelelahan. Aku memutuskan untuk berhenti di sebuah gang sempit dan bertengger antaranya, mencengkeram tali jemuran. Masih ada jemuran kutang merah muda basah di sisiku dan celana dalam wanita merah muda di sisi lainku. Aku berpikir akan mendapatkan pemandangan kota sebagaimana umumnya. Tetapi ini lebih mengerikan. Kota ini benar-benar padat. Orang-orang berjalan berdesakan. “Berapa banyak populasi manusia?” Desisku. Bahkan di gang sempit ini banyak orang-orang terkapar dan sialnya tidak ada manusia yang peduli. Mereka semua tampak sakit, lemah, lusuh, dan kotor. Suara batuk terdengar bersahutan. Dari atas sini nampak olehku sepasang kakak beradik yang berpelukan lemah.  Mungin umur bereka sekitar belasan tahun. Dari sorot mata itu tidak menandakan adanya hari esok. Lalu sang adik terbatuk-batuk parah hingga mengeluarkan darah. Aku hanya bisa termenung melihatnya. Apa yang bisa dilakukan burung pipit kecil sepertiku ini, gumamku.

“Hanya tinggal menunggu matinya saja,” tiba-tiba sebuah suara muncul di sebelahku. Tetapi dari mana, tidak ada makhluk apapun di sisiku. “Di sini bung,” sahutnya lagi, “dari dalam kutang ini bung, hei, hei.”

“Astaga,” degusku setengah panik. Seekor kecoa keluar dari kutang merah muda itu dan kini berbicara denganku. Hal aneh apalagi ini, bisikku dalam batin. Tetapi dengan semua kejadian aneh sebelumnya, perlahan aku mencoba memakluminya. Kalau batu es dan burung pipit bisa berbicara, kenapa kecoa tidak.

“Beruntung kita menjadi hewan,” ia mulai mengoceh lagi, “setidaknya kita bisa tahan dari epidemi ini, terutama aku, beruntung sekali lahir sebagai kecoa di dunia yang busuk ini,” ada nada bangga dari ucapannya. Apa kecoa kecil ini hanya ingin menyombongkan diri, pikirku. “Semenjak dunia semakin rusak sejak 100 tahun terakhir, penyakit berkembangnya pesat, virus-virus beradaptasi, epidemi terjadi dimana-mana, membunuh perlahan manusia, seperti sepasang kakak beradik itu bung,” aku belum menyahut ocehannya.

Dari awal perjalanan aneh, semuanya selalu mengatakan 100 tahun terakhir. Apa benar 100 tahun dari masaku hidup, hal ini akan benar-benar terjadi. Panas yang ekstrim, es terakhir di kutub mencair, tumbuhan sulit hidup, sumber makanan berkurang, permukaan air laut naik, dan epidemi. Apa semuanya benar-benar terjadi 100 tahun ke depan?

“Kau melamun bung,” aku tersadar dari pemikiranku kala kecoa itu mulai berbicara lagi, “kau tampak tidak sehat bung, kau baik-baik saja?”

“Iya,” kataku sembari mengangguk, “aku hanya memikirkan sesuatu.

“Hahahaha,” kecoa itu tertawa lepas. Apa yang lucu pikirku. “Kau lucu sekali bung, untuk apa burung pipit memimirkan sesuatu. Kita beruntung lahir sebagai hewan setidaknya kita lebih kuat dari manusia-manusia parasit di bawah sana. Mereka yang merusak bumi dan kini mereka juga merasakan dampakya. Tidak perlu kau pikirkan manusia-manusia itu. Mereka memang lebih baik mati. Jumlah meraka terlalu banyak. Bahkan bumi ini tidak sanggup menampung mereka. Wajar meraka juga dimusnahkan oleh bumi ini. Ini pertahanan diri bumi bung. Bumi punya caranya sendiri untuk tetap bertahan. Satunya cara agar bumi tetap selamat dari parasit yang bernama manusia ini adalah dengan memusnahkannya,” ketus kecoa itu bersemangat.

Aku tidak membalas ucapan kecoa itu, tetapi kalau dipikirkan ada banyak benar dari kata-katanya. Oh sial, aku seolah mendapat saran dari seekor kecoa. Kalau manusia menjadi parasit untuk bumi maka bumi juga akan beradaptasi untuk mengatasi parasit tersebut. Kalau manusia tidak ingin punah, maka jangan pernah menjadi parasit untuk bumi. Tanpa ada aba-aba, aku merasa kepalaku mulai bergoyang dan pandanganku mulai pudar. Yang terakhir terlihat adalah kecoa dalam kutang itu berteriak-teriak dan aku tidak bisa mendengar apapun. Seketika aku merasa sensasi terisap itu lagi. Akhirnya, bisikku, apa aku akan kembali ke duniaku.

***

Mataku terbuka, dan kini aku kembali ke ruangan putih itu lagi. Oh sial. Aku masih dalam posisi duduk seperti sebelumnya dan makhluk pohon yang bernama Kibo itu ada di depanku.

“Bagaimana perjalanannya, menyenangkan?” Ia langsung menyodorkan pertanyaan kepadaku.

Aku tidak tahu harus menjawab apa, “hmm,” ucapku. Kepalaku masih terasa aneh. “Apa itu sungguhan, apa bumi akan hancur 100 tahun ke depan?,” desakku.

Ia tidak segera segera menjawabnya, seolah berpikir mencari kata-kata yang tepat, “itu semua tergantung padamu Biru Laut. Kau ingin laut tetap biru dan indah seperti namamu atau sebaliknya. Semuanya berawal darimu. Pilihlah dengan bijak. Ambillah satu langkah kecil untuk menjaga bumi.” Makhluk pohon itu diam lagi sesaat sebelum meneruskan kata-katanya, “Di bumi memang banyak manusia yang tidak peduli dengan apa yang akan terjadi 100 tahun ke depan, tetapi aksi kecilmu untuk kebaikan bumi akan memberikan dampak besar. Yakinlah itu. Berawal dari satu orang dan terus menularkan kepedulian terhadap yang lainnya. Aku rasa bumi akan tetap baik-baik saja. Bukankah begitu, kau sepakat denganku?” Ucapnya sembari menjulurkan cabang pohon dan ranting-ranting biru sebagai tangannya.

Aku rasa sesuatu yang baru telah tumbuh di dalam tubuhku. Semangat untuk menjaga bumi. “Kau benar Kibo,” ucapku sembari menyambar tangan pohon itu, “terima kasih,” ucapku lagi.

Lalu pohon itu tersenyum. Sulit menjelaskan senyum sebuah pohon. Tapi aku sangat yakin pohon itu tersenyum. Tiba-tiba kepalaku mulai bergoyang lagi dan pandanganku menjadi buram. Oh sial, pikirku. Apa aku akan ke tempat aneh lagi?

***

Seseorang menggoyang-goyangkan punggungku. Penjaga perpustakaan rupanya. Aku masih dalam perpustakaan.

“Kau tertidur nak,” ucap penjaga itu, “kami sudah mau tutup,” ingatnya.

“Aduh, duh, duh,” aku mencengkram kepalaku. Rasanya pusing sekali.

“Wajar kau pusing. Kau tertidur duduk. Darahmu tidak lancar berjalan ke otak,” sahut penjaga itu, “pulas sekali kau tidur. Bahkan kau membuat sungai panjang di buku itu.”

Aku melihat bekas liur di buku Stephen Hawking yang berjudul “100 Tahun Menjelang Kiamat”. Oh sial, aku tertidur dan bermimpi aneh. Tapi rasanya benar-benar seperti nyata. Aku segera mengemas barangku dan meminjam buku itu di loket. Setelah kartu peminjaman itu di cap aku mengambilnya dan hal menarik terjadi. “Kibo,” desisku, nama itu tertulis di daftar peminjam buku sebelumnya. “Kau kenal orang yang bernama Kibo ini?” Tanyaku pada si penjaga. Ia hanya menjawab menggeleng.

Aku melangkah keluar dari perpustakaan. Saat menutup pintu, sebuah kertas penuh lipatan jatuh dari saku celanaku. Oh, selebaran dari anak sekolah dasar pagi tadi.  Aku sampai lupa ada ajakan untuk bakti sosial membersihkan pantai. Lalu mimpi-mimpi aneh tadi bekelebat di kepalaku. Mungkin ini langkah kecil untuk bumi dari diriku, bisikku dalam hati. Lagian besok adalah hari Minggu tanpa ada jadwal apapun. Selebaran itu aku aku rekatkan dengan lem di papan pengumuman tepat di depan perpustakaan. Siapa tahu ada yang membaca dan tertarik ikut. Setelah itu, aku melangkah untuk kembali ke rumah. Oh sial, desisku. Padahal sudah sore tetapi panasnya masih terasa.

***

Anak-anak sekolah dasar yang kemarin aku lihat sudah berkempul di tepi pantai. Beberapa anak tampaknya membawa orang tua mereka. Tampak juga beberapa sukarelawan seperti diriku hadir. Cuaca yang cerah untuk memulai sesuatu yang baik, gumamku. Sepanjang mata memandang, sampah masih berhamburan di bibir pantai. Dengan jumlah sekitar 30-an orang ini, mungkin perlu waktu 3 hari penuh untuk menumpas habis sampah-sampah ini. Itupun kalau pengunjung lain tidak mulai membuang sampah sembarangan lagi. Yang paling penting bukan membersihkan sampahnya, pikirku kembali, tetapi kesadaran untuk tidak membaung sampah itu sembarangan. Saat berbalik badan, seorang anak kecil dengan pakaian serba jingga sudah di belakangku.

“Om, datang ternyata,” ucap bocah itu, “terima kasih telah datang om.”

Aku jongkok untuk sama tinggi dengannya. Aku usap kepalanya yang dilindungi topi jingga. Benar, dari balik topi itu, ini adalah bocah yang kemarin memberiku selebaran. “Hmmm, sama-sama,” balasku, “om juga sedang senggang. Oh iya, siapa nammamu?”

“Namaku Kibo. Nama om siapa?” Tanyanya.

Aku masih melongo mendengar nama itu, mungkin ini hanya kebetulan pikirku. “Nama om Biru Laut.”

“Wah, nama yang bagus om.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *