Cerpen #348; “SI PENGGANGURAN BERSENJATA ECOBRICK”

Jingga di ufuk timur mulai terlukis indah,hiruk pikuk didesa maupun dikota mulai terasa banyak orang mulai berlalu lalang dengan tujuan, pekerjaan dan,sibuk dengan urusan masing-masing. Sama sepertiku yang sibuk menyapu daun yang berguguran jatuh sambil sesekali menbalas sapaan orang yang lewat menyapaku. Sedari tadi aku sudah menyapu halaman belakang rumah lalu berlanjut halaman depan. Selokan depan rumahku yang banyak sekali sampah dan bercampur sampah plastik. Kenapa orang suka sekali buang sampah sembarangan? Itulah adalah pertanyaan yang sudah menjadi makan sehari-hari dan jawabannya pasti sudah menjadi makanan sehari–hari juga gak ada tong sampah,tong sampahnya jauh,padahal jika ada tong sampah pasti membuangnya juga hanya didekat tong tersebut bukan dimasukkan.

Saat aku sibuk manyapu sampah diselokan lalu membuangnya ditong sampah,tiba-tiba ada sampah plastik yang dibuang begitu saja tak dimasukkan ke tong sampah. Kudongkan kepalaku untuk melihat siapa pelakunya ternyata,anak tetanggaku “Heh,jangan buang sampah sembarang!.”tegurku kepada seorang bocah berusia 10 tahun bernama Bintang itu  sebagai pelaku yang membuang sembarang bungkus plastik roti sisir ”Kenapa? Tetehkan lagi nyapu,nanti juga disapukan sama teteh.”jawabnya sambil memakan roti sisir ditangannya. “Kan bisa dimasukkin ke dalam tongnya gitu Bin.”jawabku dengan perasaan kesal.

“Nanti juga habis disapu sampah juga teteh bakar kaya itu.”telunjukknya ia arahkan kepada seorang Ibu-Ibu tetanggku yang sedang membakar sampahnya.”Ihh jawab aja jadi bocah,kalau makan itu sambil duduk bukan berdiri,jangan ngomong nanti keselak,pasti gak berdoa jugakan.”jawabku kesal lalu bocah tersebut lari pulang ke rumahnya. Aku lanjutkan perkerjaanku yang belum selesai. Tak lama kemudian,aku mendengar suara ribut tak jauh dariku yaitu Bude Siti “Ya ampun,Bu Rahmi kalau habis nyapu itu sampahnya mbok ya jangan dibakar tapi,dibuang ditempat sampah.”tegur Bude Siti kepada Bude Rahmi tetanggaku yang membakar sampah tadi. “Lha gak ada tempat sampah, ya dibakar biar gak semrawut lagi orang udah disapu bersih.”jawab Bude Rahmi.”Asapnya kemana-mana jemuran saya jadi bau asap semuakan.”tegur Bude Siti sambil menujukan jemuran baju yang dicucinya.”Ya salah sendiri nyapain jemur baju didekat saya bakar sampah.”jawab Bude Rahmi tak terima disalahkan . “Lha situ juga nyapain bakar sampah!” jawab Bude Siti yang tak mau kalah.

Kuabaikan dua orang yang sedang berdebat itu untuk melanjutkan perkerjaanku sambil mendengar cek-cok tersebut. Tak terasa pekerjaanku sudah selesai selokan kembali bersih. Tiga keranjang sampahku hampir terisi penuh semua tak hanya sampah daun namun,juga sampah plastik dan botol. Kubawah keranjang sampah itu didepan teras aku duduk disana istirahat sembari kupilih sampah botol plastik yang bisa kukumpulkan lalu aku jual.”Nika.”panggilan itu berasal dari gadis seusiaku sedang berjalan kepadaku, Ajeng Adriani tetangga sekaligus temanku dari bayi aku lebih tua satu bulan darinya.“ Iya ,kenapa?” jawabku sambil melihatnya yang berdiri didepanku.“Aku boleh minta tolong?”pintanya padaku “COD lagi.”tebakku padanya “Iya, sorry ya seharusnya hari ini aku libur tapi,aku gantiin temenku yang sakit.”jawabnya sambil nyengir,ia Ajeng memang sudah berkerja di salah satu supermaket beberapa bulan setelah lulus sekolah.“Aish.Emang berapa?”jawabku sambil mendengkus. “Ini Rp. 200.000 ini sekalian ongkirnya,paketnya sepatu,atas nama dan alamat rumahmu kok.jadi tenang aja.”jawab jelas “Terus ongkir buat aku mana?”tanyakku bercanda sambil menunjukkan kantong dasterku dengan dagu agar ia memasukkan uangnya disitu karena tanganku kotor “Doa,semoga kamu diberikan rezeki yang lancar dan barokah,sehat selalu terus cepet dapat kerja.”jawabnya sambil tersenyum kepadaku ia memang aku belum bekerja setelah lulus SMK.

“Ya udah,kalau gitu aku berangkat dulu ya. Assalamualaikum.”pamitnya padaku “Waalaikumsalam. Hati-hati.”balasku. Tak lama setelah itu aku masuk kedalam rumah untuk meletakkan botol plastik itu dalam karung,mencuci tangan lalu menyiapkan keperluaan ibukku,ya keperluaannya untuk mandi. Ibukku sakit strok saat aku kelas 2 SMK itulah yang membuatku tidak bisa bekerja karena harus mengurus ibukku dirumah,dulu aku pernah mengirimkan surat lamaran kerja tapi ayah,kakak dan keluargaku melarang memintaku untuk mengurus ibu dirumah. Saat aku menyuapi ibuku,ayah berpamit untuk berangkat kerja setelah selesai sarapan ibuku nanti, aku akan mencuci baju,memasak,menyapu lantai rumah sebagaimana perkerjaan ibu rumah tangga yang aku kerjakan setiap harinya.

Tepat jam 10 aku sudah menyelesaikan semua perkerjaanku,kini aku sedang menscorll instagram sambil menunggu tukang sayur yang lewat. Lalu ada sebuah video yang menarik perhatianku,video itu tentang pengolah sampah limbah rumah tangga dengan cara Ecobrick agar tidak menjadi polusi mikroplastik yang membahayakan lingkungan. Video yang diunggah dalam aplikasi tik tok itu lalu aku simpan siapa tau aku bisa mencontohnya agar mengurangi sampah plastik dirumahku. Bahan yang mudah ditemukan disetiap rumah dan cara yang mudah tidak terlalu ribet,membuatku tertarik untuk mencobanya,lalu aku mencari tau apa saja manfaat apa saja yang di dapatkan selain mengurangi limbah sampah plastik.

Esok harinya aku mulai mengumpulkan barang-barang tersebut untuk digunakan Ecobrick ternyata banyak sekali plastik limbah rumah tangga yang ada dirumahku mulai dari plastik detergen,plastik sabun cuci piring,plastik kresek yang selalu ku dapat dari tukang sayur seharusnya aku berahli mengunakan tote bag saja agar tidak banyak sampah plastik. Kemarin malam aku membaca manfaat dari Ecobrick selain mengurangi sampah palastik juga bisa menghasilkan uang yaitu dengan cara memfaatkan Ecobrick menjadi kursi,meja,tembok,atau pagar tanaman aku sudah membacanya yang terpenting botol plastik terisi dengan padat tidak adanya ruang udara didalamnya dan beratnya lebih dari 200gr.

Setelah,aku menyeselasikan pekerjaanku sehari-hari aku mulai menyiapkan bahan-bahan bekas yang dibutuhkan di teras depan,mulai mengumpulkan limbah plastik bekas botol minum,mengumpulkan plastik bekas limbah rumah tangga lalu dicuci bersih dan,dipotong beberapa bagian,lalu ku masukkan kedalam botol plastik hingga tidak adanya ruang udara. Aku belum punya timbangan jadi aku kira-kira hingga padat,saat aku sedang sibuk memasukkan plastik tiba-tiba ada dua orang anak kecil duduk didepanku.“Ngapain teh?”tanya Bintang masih ingat dia bocah yang suka buang sampah sembarangan.“Bikin Ecobrick.”jawabku sambil mendongakan kepala melihatnya sebentar lalu fokus dengan apa yang aku kerjakan.“Ecobrick apaan teh?”tanya bocah seusia Bintang Zacky namanya. “Ecobrick itu botol plastik yang diisi padat dengan limbah non biological untuk membuat tembok bangunan yang dapat digunakan kembali.”jelasku pada dua bocah ini sesuai apa yang aku baca di google kemarin.“Limbah non biogical apa aja? kayak plastik ini.”tanya Bintang yang lalu kuangguki “Iya,kayak plastik bekas jajan snack,sampo,detergen pokok limbah plastik.Mau coba bikin?”tawarku padanya. Lalu diangguki oleh mereka kuberikan mereka masing-masing satu botol dan kayu agar memudahkan plastik masuk.“Sebelum dimasukin kebotol limbah plastiknya dicuci dulu,terus digunting dimasukin kebotol didorong pake batang kayu ini sampai padat botolnya atau,kalau buat nimpuk orang sakit.”

Setengah hari itu,aku habiskan untuk meyeselaikan Ecobrick tersebut bersama dua bocah ini tidak banyak karena bahan yang sudah habis dan lagi,aku harus menyuapi ibuku makan siang.”Teh,nanti teteh bikin ini lagi?”tanya Zacky kepadaku.“Bikinnya tiap hari habis beli sesuatu terus plastik dicuci dimasukin kesini,biar gak berceceran.”lalu dianggukin oleh mereka berdua kemudian mereka pamit pergi bermain dengan teman lainnya.

Sore harinya aku pergi ke toko kelontong yang terletak diperempetan jalan rumah untuk membeli bubuk kopi dan barang kebutuhan lainya yang sudah habis. Saat aku sedang menunggu pesanan aku melihat tong sampah disamping warung kopi yang berisikan banyak bungkus kopi sachet yang dibuang.“Nika,ini belanjaannya.”panggil Bu Endang sambil menyerahkan kantong kresek berisi belanjaanku.“Oh iya Bu.Berapa semuanya?”jawabku lalu menerima kantong tersebut “Rp.25.000 semuanya.”jawabnya ramah lalu,aku mengambil uang disaku celanaku dan menyerahkannya “Ini Bu Endang uangnya.Makasih yang Bu.” lalu aku pamit pergi. “Assalammualaikum.”salamku kepada Pak Darman pemilik warung kopi disebrang toko kelontong. “Waalaikumsalam Nika.Mau beli kopi?”tawarnya ramah padaku. “Enggak Pak Darman.Yang minum kopikan Ayah bukan Nika,Nika gak suka kopi.”jawabku tak kalah ramah “Ooh kalau gitu mau beli gorengan?”tebaknya lagi “Bukan juga,tapi Nika mau minta izin.”jawabku sambil tersenyum sungkan “Izin apa?”tanyanya dengan raut wajah penasaran “Nika boleh minta izin,mau ambil bungkus kopi sachet yang dibuang di tong sampah samping warung itu.”izinku pada Pak Darman “Boleh aja.Emang mau dibuat apa?” tanyanya penasaran “Mau buat Ecobrick.Makasih Pak Darman udah dibolehin.”kuucapkan terimakasih padanya “Ecobrick apaan,daur ulang?”tanyanya padaku “Iya kayak gitu,nanti kalau udah jadi Nika tunjukin ke Pak Darman. Pak Darman boleh minta kresek buat tempat bungkusnya.”pintaku pada Pak Darman masak mau dijadiin satu sama belanjaanku. “Boleh ini kreseknya.”ia berikan kresek itu padaku “Makasih Pak.”ucapku padanya yang dianggukin lalu aku pamit pergi untuk memungut sampah itu.

Saat aku sedang sibuk menindahkan bungkus kopi itu kedalam kresek. “Nika kamu tuh ngapain?”tanya Bude Rahmi yang sudah berdiri disampingku. Pertanyaannya yang tiba-tiba membuatku kaget,dan langsung mendongak sambil mengelus dada “Mungutin bungkus kopi Bude.”jawabku santai “Kamu bukan cari kerja,emangnya gak ada yang nerima kamu kerja terus kamu mulung gitu.kamu contoh Ajeng baru lulus udah kerja gak nyusahi orang tua, atau anak Bude udah jadi PNS gajinya banyak,kamu jangan malas-malasan gitu.” tuduhnya padaku “Belum rezeki Bude.”jawabku singkat aku enggan bicara banyak padanya biar gak terlalu sakit hati sama orang yang suka ngomongi orang lain. “Dinasehati juga jawab aja,dengerin jangan masuk kuping kanan keluar kuping kiri.”ucapnya dengan nada kesal “Makasih nasehatnya Bude.”jawabku dengan memaksakan senyum “Kerja jangan nyusahi orang tua terus.jangan mungutin sampah.”ucapnya lagi “Yang namanya cari kerja itu ya gak langsung dapat Rahmi,harus sesuai syaratnya juga,lagian rezeki udah ada yang ngatur.mungkin gusti allah kasih jalan Nika kayak gini lagian Nika juga gak didiem aja rumah di tau kerjaan rumah,ngurusi Ibunya yang sakit itu kerjaan yang mulia hasilnya gak langsung terlihat nyata.lagian anakmu jadi PNS lewat orang dalam alias nyogok ”sahut Pak Darman membelaku. Memang benar anak Bude Rahmi yang seusaiku 20 tahun sudah jadi PNS karena uang pastinya,karena meras terpojok Bude Rahmi lalu pergi begitu saja berjalan kesebrang ke toko kelontong sebenarnya,yang dikatakan Bude Rahmi tidak sepenuhnya betul karena kini aku juga membuka online shop meski masih awal namun,aku bersyukur ada saja yang membeli daganganku yang kebanyakan kebutuhan rumah tangga,baju-baju daster,produk make up dan skincare setidaknya aku tidak pengganguran seperti yang dikatakan Bude Rahmi meski usaha kecil dan masih menjadi reseller dengan sistem dropship keuntungan juga lumayan.

 “Nika,gak usah dimasukin ke hati omongan orang kaya gitu biar aja capek sendiri.”nasehat Pak Darman membesarkan hatiku yang kuanggukin dengan senyum tulus “Ini didalam tadi masih ada udah tak masukkin kresek.”ucapnya sambil memberikan kresek hitam berisi bungkus kopi “Makasih Pak Darman.oh ya boleh gak nanti kalau ada dikumpulin dikresek aja Pak,gak usah dibuang di tong sampah kasih ke Nika aja boleh?”izinku padanya “Boleh nanti Bapak kumpulin,tapi nanti kalau udah jadi kasih liatnya si eko eko itu.”ungkapnya padaku yang membuatku tertawa karena sebutan yang salah “Ecobrick Pak Darman.”kataku membenarkan ucapannya yang salah. “Maaf Bapak gak bisa bahasa inggris.”sahutnya sambil tertawa “Makasih ya Pak,Nika pamit dulu.Assalammualiakum.” pamitku padanya. “Waalaikumsalam.”

“Kok banyak banget dek kreseknya,beli apa aja?”tanya Ayahku penasaran saat aku pulang dari toko kelontong Ayah dan Ibuku berada diteras rumah membawa tiga kantong kresek. “Iya,satu belanjaan yang dua sampah bungkus kopi.”jawabku menjelaskan pada Ayah “Buat apa sampah bungkus kopi,kok dibawa pulang.”tanyanya mengeryitkan dahinya bingung.“Buat Ecobrick,kalau Ayah penasaran liat aja,tapi aku mau naruh belanjaan dulu.”pamitku padanya lalu menaruh belanjaan dimeja dapur kemudian,mengambil botol bekas  membawanya ke teras depan lalu mencuci bungkus kopi itu dan diangin–anginkan agar kering “Buat apa sih dek ?”tanya Ayah masih penasaran. “Kayak ini lho Yah.” kutunjukkan video yang kusimpan dalam ponselku “Ini yang udah aku buat hasil mungut tadi pagi didapur.”kuulurkan Ecobrick yang kubuat tadi pagi. “Bagus.kalau udah banyak mau kamu jual?”tanyanya padaku “Enggak tau kalau boleh sih dijual tapi,aku gak tau jual kemana belum cari tau.Jadi mau aku jadiin pager tanaman aja biar tanaman didepan gak rusak karena ayam.”jelasku pada Ayah karena aku belum tau dimana bisa jual botol ecobricknya saja karena,jika dibuat kursi,meja dan lainnya butuh bahan-bahan yang lain yang harus dibeli sedangkan aku masih pemula untuk mengenal ecobrick.  

“Ayah mau bantu?”tawarku pada Ayah “Boleh.”jawabnya sambil menganggukan kepala. Sore itu aku habiskan dengan Ayah dan Ibukku yang duduk dikursi roda diteras rumah sambil menunggu Kakakku pulang kerja.

Hari-hariku selanjutnya masih sama seperti kemarin mengurus Ibukku,mengerjkan pekerjaan rumah,memilah sampah plastik dan membuat Ecobrick tapi,bedanya kini aku  dibantu oleh Bintang,Zacky dan Teman-temannya setelah membantu waktu itu mereka berdua kembali membantuku lagi. Saat itu Bintang bertanya padaku untuk apa jika Ecobrick ini sudah banyak,lalu ku jelaskan padanya jika sudah banyak akan aku gunakan untuk pagar tanaman depan rumahku dulu. Lalu esok harinya saat mereka pulang sekolah mereka memberikan aku sekantong kresek berisi bungkus plastik mie dan bungkus minuman sachet yang dijual dipedagang es didepan sekolah kala kutanya mereka mendapatkan darimana kedua bocah itu hanya menjawab “Bungkusnya aku minta dari Mbak Rina yang jualan es depan sekolah,bungkus mienya dari Mas Adi yang jualan mie terus mie dimasukkin gelas plastik itu lho,dulu pas Teteh sekolah ada jajanan kayak gitu gak?”jelasnya padaku. Tentu saja,aku pernah merasakan nikmatnya jajan didepan sekolah. Jajan seperti itu semakin berkembang kini,modal yang sedikit,keuntungannya yang lumanyan namun,juga menimbulkan masalah baru kesehatan,sampah dan lain-lain. Sampah yang dihasilkan dari penjualan yang banyak.

Sebenarnya masalah tentang sampah itu banyak sekali dikehidupan kita yang mungkin hanya terdengar tapi,penyelesainnya kurang. Akhir-akhir ini aku sering mencari tau apa saja akibat dari pengurangaanya penanggan sampah selain banjir,polusi mikroplastik,ternyata sampah plastik juga penyebab terjadi perubahan iklim karena,sejak proses produksi hingga tahap pembuangan dan pengelolaan sampah plastik mengemisikan banyak gas rumah kaca ke atmosfer sehingga terjadinya penipisan atmosfer. Lapisan penting untuk melindungi kita dari panasnya sinar matahari. Ternyata salah satu dari barang daganganku juga menjadi salah satu penyebabnya yaitu parfum,produk-produk kecantikan yang penggunanya disemprotkan karena mengadung bahan kimia CFC (Chloro flouro carbon). Dampak yang ditimbulkan dari penipisan ozon terus-menerus juga sangat berbahaya terhadap manusia dan alam aku berharap semoga kegiatan Ecobrick yang kulakukan dapat mengurangi akibat dari krisisnya iklam.

Saat aku,Bintang dan Teman-temannya sedang sibuk membuat Ecobrick. Tiba-tiba seseorang datang dengan raut wajah marah “Nika,kamu bener-bener ya! Masak anak saya pulang sekolah kamu suruh cari sampah. Baru pulang sekolah makan terus keluar cari sampah,waktu saya tanya katanya sampahnya buat kamu,gara-gara kamu anak saya gak pernah belajar seharusnya pulang sekolah,ganti baju,makan,terus ngerjain PR. Lha ini malah cari sampah! Emang sampahnya buat apa Nika? Cari kerja jangan cari sampah biar dapat uang bukannya,nyuruh anak orang nyari sampah terus kamu jual biar dapat uang!”amarah Ibu Yeni saat ia sudah sampai didepanku. Membuatku dan lainnya yang tadi sibuk membuat Ecobrick menatapnya diam begitu juga,dengan anaknya Dinda yang hanya diam dan ketakutan dimarahi Ibunya.

“Maaf bu yeni,ini ada apa?”tanya Ayahku baik-baik ternyata,suara Bu Yeni membuat Ayah dan Kakakku keluar rumah. “Pak Rahaja,tolong anaknya dikasih tau kalau mau punya uang itu kerja. Bukannya nyuruh anak orang buat cari sampah terus dijual biar punya uang”. adunya pada Ayahku “Maaf Bu Yeni sepertinya anda salah paham.”ucap Ayahku menenangkannya “Salah paham gimana? Orang jelas-jelas mereka semua cari sampah terus kesini katanya,Nika yang nyuruh anak saya sendiri yang bilang.”memotong ucapan Ayahku dengan cepat “Beneran Nika?”tanya Kakakku dengan menatapku tajam. “Enggak,Nika gak pernah nyuruh mereka kayak gitu. Tapi,mereka sendiri yang mau.”jawabku jujur dan tegas karena memang bukan akau meminta mereka tetapi, mereka sendirilah yang berinsiatif mengumpulkan  sampah plastik dan botol bekas setelah melihatku.

“Alah,gak usah alasan!”tuduhnya masih tak terima. “Maaf Bu Yeni,tapi saya memang tidak pernah menyuruh mereka mengumpulkan sampah plastik. Mereka yang berinsiatif sendiri. Waktu itu,saya Bintang dan Zacky sedang membuat pagar dari Ecobrick disana.”tunjukku pada pagar Ecobrick yang tak jauh dari kami “Terus mereka datang mau ajak main. Terus Dinda nanya mau buat apa? Saya jawab kalau mau buat pagar tanaman terus diikutan tanpa saya suruh.”jelasku padanya mereka semua yang melihat kearahku terutama Bu Yeni aku tidak ingin keributan ini berlanjut dan mengganggu jam istirahat Ibu,Ayah dan, Kakakku di hari libur.

“Beneran waktu itu Dinda yang ikut sendiri,dia juga tanya gimana bikin terus dikasih tau sama Teh Nika.”ucapan Bintang menjelaskan apa yang terjadi saat itu. “Iya Dinda ikut sendiri.”tambah Zacky “Tuh,dengerin anaknya sendiri yang mau bahkan,gak ada yang ngajak juga.”ucap Kakakku “Alah sama aja mulai sekarang jangan,ajak anak saya. Dinda ayo pulang.”katanya lalu,menyeret anaknya agar ikut dengannya karena ia sudah merasa terpojok belum lagi menjadi tontonan tetanggaku yang lainnya.“Nika udah dilanjut besok aja.”saran Ayahku “Iya Yah,Maaf udah ganggu istirahatnya.”ucapku pada Ayah yang dibalas senyum tulus menenangkan.

“Kita udahan ya bikin Ecobricknya sekarang,kalian pulang.”pintaku baik-baik pada mereka “Tapi besok boleh kesini bikin lagikan Teh?”tanya Bintang mewakili yang lainnya “Boleh tapi,izin dulu sama orang tua terus sudah makan,ganti baju,dan udah selesai tugas sekolahnya baru boleh kesini.”jelasku pada mereka agar kejadiaan seperti ini tidak terulang lagi.”Iya Teh.”jawab mereka serempak lalu membereskan kedalam karung dan kardus “Kita pulang dulu ya Teh.Assalamualaikum.”pamitnya padaku yang kuangguki dengan senyum “Walaikumsalam.”balas salamnya.

Setelah hari itu, mereka masih datang membuat Ecobrick bersamaku namun,aku selalu menanyakan kepada mereka sudah membuat PR atau belum .jika belum maka,aku suruh mereka pulang mengerjakannya terlebh dahulu atau membawanya kerumahku lalu aku akan membantu mereka mengerjakan tugasnya terlebih dahulu. Beberapa hari ini aku sibuk selain mengurus Ibuku,menyelesaikan tugas rumah,mengurus olshopku,aku juga sibuk membuat Ecobrick untuk pagar tanaman Pak Darman dirumahnya.Waktu itu,ia datang kerumah Pak RT untuk menghadiri rapat RT lalu,ia melihat pagar Ecobrick yang kubuat dan Pak Darman mengutarakan bahwa ia tertarik untuk membuatnya pagar tanaman dari Ecobrick kelihatan warna-warni.Pak Darman memintaku membuatkanya yang kemudian,aku sanggupi. Aku mengatakan padanya bahwa,aku akan membuat Ecobrick sesuai kebutuhan dan akan mengantarkannya jika sudah selesai.Ia juga memintaku untuk memasangkan sekalian dihalaman rumahnya, tak masalah aku bisa minta tolong Kakakku untuk membantu seperti waktu itu. Padahal waktu kutunjukkan seperti apa Ecobrick waktu itu dia tidak tertarik atau mungkin ia masih binggung digunakan untuk apa.

Beberapa hari lalu,saat aku dan kakakku sedang membuat pagar Ecobrick dirumah Pak Darman ternyata ada saudaranya yang berkunjung. Saat itu,kami berbincang banyak hal mengenai apa saja termasuk Ecobrick ia juga mengatakan bahwa dirumah juga terdapat banyak tanaman mulai dari bunga dan sayuran yang ia tanaman dengan cara hidroponik. Saat itu aku langsung tertarik dengan tanaman hidroponik. Lalu aku mulai bertanya apa saja alat dan bahan yang dibutuhkan,tanaman apa saja yang bisa ditanam dengan cara hidropinik dan bagaimana caranya. Setelah sampai rumah aku mulai mencari tahu tentang menanam dengan cara hidroponik itu.Terlihat mudah tapi juag membutuhkan modal yang banyak sebenarnya aku ada uang yang diberikan Pak Darman waktu itu sebagai upah membantunya tidak banyak namun lumayan.Saat aku akan membagi dua upah tersebut kakakku menolaknya katanya untukku saja karena,yang membuat aku sebenarnya bisa aku jadikan modal namun aku berencana untuk mentraktir Bintang dan lainya makan bakso sebagia upah mereka sudah membantuku aku berharap mereka senang nantinya.

Menaman secara hidroponik membuatku tertarik untuk mencobanya namun,karena tak adanya modal aku mencari tau apakah bisa menggunakan bahan yang lain ternyata bisa jika biasanya mengunakan paralon namun,ada juga yang menggunakan botol plastik dan sterofoam. Aku lebih memilih menggunakan botol plastik yang ada dirumah sejak,Ayah dan Kakakku tau aku membutuhkan botol plastik untuk Ecobrick mereka sering membawa pulang botol plastik yang mereka kumpulkan saat ada rapat dikantornya.

Aku memilih botol air mineral 1,5 liter pertama yang kulakukan adalah penyemaian benih tanaman aku menggunakan benih sawi,bayam,dan kakung. Bahan yang dibutuhkan yaitu rockwool atau media tanam,bisa diganti busa atau kapas. Aku menggunakan rockwool yang kubeli bersamaan dengan benih dengan uang hasil olshop,aku potong rockwool sesuia ukuran yang aku baca lalu,rockwool dibasahi mengunakan air jangan terlalu basah,membuat cekungan ditengah rockwool kuberi satu-satu benih kedalam cekungan tersebut. Rockwool yang sudah kuisi benih lalu,kusimpan diatas nampan bekas dan kututupi dengan plastik  hitam menunggu tumbuhnya benih. Setelah menunggu tiga hari benih sudah tumbuh daun yang kemudian aku pindahkan agar terkena sinar matahari,tak lupa aku siram dengan air setelah,bibit tumbuh daun sejati lalu kupindahkan kedalam botol yang sebelumnya sudah kubelah menjadi dua bagian.kulubangi tutup botol dan kumasukan kain flanel yang kuminta dari Mbak Susi tukang jahit sebagai sumbu air. Buat nutrisi yaitu campuran dari air dan nutrisi tanaman hidroponik seperti merk yang digunakan saudara Pak Darman aku sudah menanyakannya melalui WA yang kuminta pada Pak Darman. Lalu,menuangkan larutan air nutrisi ke potongan botol bagian bawah. Ambil bagian botol atas,yang sudah diberi sumbu air  dari kain flanel ditutup botol tersebut. Letakkan potongan botol bagian atas dengan posisi terbalik ke dalam botol berisi nutrisi lalu,letakan bibit hidroponik yang sudah semai diatas kain flanel dalam botol. Yang aku lakukan selanjutnya adalah mengganti dan mengisi persediaan larutan air di botol bagian bawah. Lalu kuletakkan tanaman hidroponik tersebut di samping rumah yang kugantung ditembok. Yang kutanam tidak banyak setidaknya biasa untuk kugunakan masak sendiri dirumah.

Ternyata hanya butuh waktu antara 20-30 hari sudah bisa panen hasil panen tersebut aku gunakan untuk masak sendiri. Lalu kutanam lagi benih yang masih ada aku belum berani untuk menjualnya karena mediaku yang belum memadai yang hasil yang belum banyak. Jika nanti dijual mungkin akan aku titipkan kepada saudara Pak Darman.

Tak terasa sudah mendekati awal bulan Agustus saja. Bulan Kemerdekaan Indonesia biasanya di bulan ini banyak sekali berbagai acara salah satunya lomba. Seperti yang dikatakan Pak RT beberapa hari lalu,memberi pengumuman tentang lomba kebersihan antar desa termasuk desaku. Pak RT memberi arahan kepada warga untuk membersihkan lingkungan sekitar rumah dan setidaknya masing-masing rumah ada tanaman didepannya agar terlihat hijau dan indah. Pak RT juga meminta warga agar membuat Ecobrick sepertiku untuk digunakan sebagai pagar tanaman depan rumah masing-masing sesuai hasil rapat RT.

Tak mudah untuk mengerahkan warga untuk berpartisipasi dalam lomba kebersihan ini. Ada saja dari mereka yang tidak mau membuat Ecobrick katanya mereka tidak punya waktu luang untuk membuatnya. Akhirnya aku menyarankan kepada Pak RT agar warga sebaiknya diminta untuk mengumpulkan saja jika,membuatnya bisa aku lakukan bersama Bintang dan temannya setelah mereka pulang sekolah,namun,jika ada yang mau membantu dan membuat sendiri juga tidak apa-apa. Banyak yang harus kita siapkan untuk memenangkan lomba ini namun,semua bisa diatasi dengan baik meski ada penolakan dari warga dan lain sebagainya.

Tiga hari sebelum penjurian pagar Ecobrick yang dipasang oleh Bapak-Bapak dihari minggu saat kerja bakti sudah selesai. Setiap rumah kini sudah ada pagar tanaman meski tidak semua pagar tanaman terbuat dari botol Ecobrick karena Ecobrick yang dibuat tidak banyak maka dari itu Bapak-Bapak menggantinya dengan batu bata bekas bangunan setidaknya semua tanaman warga terlihat rapi dan tertata. Tidak hanya itu,kini setiap rumah terdapat tong sampah didepannya yang setiap pagi atau malam hari akan diambil sampahnya oleh Petugas kebersihan. Hari ini adalah hari penjurian sedari pagi aku dan warga lainnya sudah sibuk menyapu halaman rumah bahkan sampai menyapu jalan,menyiram tanaman agar tampak lebih segar. Aku tidak tau ini akan menang atau tidak tapi,yang terpenting semua warga mau menjaga kebersihan lingkungan mereka dan aku berharap semoga ini dapat dipertahankan kedepannya. Proses untuk membuat semua orang mau menjaga lingkungan tidak semudah omongan namun juga harus dibekali cara,contoh yang baik,proses yang panjang. Setidaknya yang kulakukan ini dapat menjadi batu loncat dan contoh yang baik semua orang tidak harus dunia namun,warga dilingkunganku pun aku sudah merasa bangga.

Mungkin kamu tak bisa seperti yang lainnya bekerja keras menghasilkan banyak uang maka,kamu bisa menjadi yang berbeda bekerja keras mencoba menjaga bumi agar tetap lestari.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *