Cerpen #347; “Meramu Aksi; Bisakan Generasi Esok Menjaga Bumi?”

Cuaca yang cerah, terik tepatnya. kota Jambi di pukul 10 tampak begitu benderang dari segala sudut pandang yang ada. Mentari sedang asik tebar pesona, panas menerjang seluruh lapisan wilayah tanpa terkecuali meski dengan tanpa awan yang mengelilingi. Adapun pemandangan khas kota terlihat depan mata, jejeran ruko kotak carut warna warni, lalu lalang kendaran emulsi. Tak kalah juga teriakan abang angkot yang begitu mengharap manusia berjejalan diatas kendaran berpolusi. Ya, aku disini melihat semua, memanjat pohon mangga setinggi 6 meter samping rumah tetangga. Bertengger santai dengan bertumpu alas rangkaian dua tiga bilah papan tebal juga beratapkan terpal diatas sebagai payung jikalau hujan atau mentari tak main menghajar. Rumah pohon kusebutnya. Nyaman, ya meski nyali juga tertantang. Mau bagaimana lagi, ini sejuk yang paling kuharapkan dikota yang dipaginya saja sudah panas menyengat, ditambah sejak pengumuman akan ada pemadaman listrik untuk beberapa jam kedepan. Dulu bahkan hingga kinipun aku tak terbiasa, tanpa AC berderajat 20o Celicus diruangan tidur bagiku seperti masuk sabana penuh keringat. Secara tidak langsung aku masuk kejajaran manusia boros energi, kata Ayah begitu.

 Hari minggu pagiku seperti biasanya, setelah selsesai sarapan aku menenteng kamera handycam dan satu buku saku berisi list tugas sekolah. Kulihat Ayah keluar dari rumah dengan seragam dinasnya, tak biasanya dihari libur masuk kantor seperti ini. Mungkin ada tugas mendesak, entahlah, yang kutahu ayah akan pulang larut lagi dengan segala cerita petauhnya tentang permasalahan alam, kalau tidak tentang hutan pasti tentang satwa juga lingkungan. Ya begitu. Sejenak setelah melihat list tugas yang ada, satu list yang buat pusing kepala. “Video lingkungan” baru juga nyinggung ayah, eh ini malah harus masuk keranahnya.

Menengok sekeliling, emm…mengotak atik galeri handphone, emmm… ah tak ada yang menarik. 30 menit setelahnya “Abang turun bang, antar berkas ini ke ayah yo bang,..”. Dalam batinku, “Aduh ibu..orang lagi bingung cari ide malah disuruh-suruh, hem…”. Kulihat satu map cokelat ada ditangannya “Nurut aja deh” gumamku pelan tak berani membantah. Ah ya sudahlah, siapa tahu aku akan dapat view juga ide tepat untuk tugasku, sekalian refreshing kan. Bergegas masuk, aku merapikan tas berisi handicamp juga buku saku, serta tak lupa berkas ayah pastinya, siap. Tak komplit tanpa gawaiku tercinta, klik item aplikasi hijau putih dan ya, apalagi kalo tidak memesan gojek. Dikotaku kini, helm hijau berjalan menjadi tumpangan favorite yang ada. Selain banyak dan mudah dijumpai, kendaraan roda dua kan lebih cepat menyalip “set set set” sampai ketujuan dengan cepat.

Meskipun tidak sampai satu kilometer jaraknya tapi terasa berat untuk berjalan kaki dibawah panas menyengat. Itung-itung  memanfaatkan teknologi yang ada kan?. Tapi tak lewat, yang pastinya aku tahu juga, kalo ayah akan mendumel, ”Setidaknya jalan kaki bukan hanya untuk kepentingan pribadi, mau jadi apa bumi 100 tahun lagi, kalo generasi lebih memilih membakar banyak polusi ketimbang mengurangi emisi dan sehat berjalan kaki?”. Balasku spontan kala itu, “Loh yah, tapi kan 100 tahun lagi pastinya Daffa idak bisa rasakan lagi laa yah, jadi ya bebas dong sekarang daffa ngapain aja, Bumi juga nggak bakal hancur, Cuma motor ini kan?” rancauku pada Ayah satu waktu kala itu. Opiniku tentang bumi yang akan baik-baik saja belum kusadari. Bodo amat yang ada sebenarnya hanya kritis pikirku yang belum kutahu.

Sesampainya dilokasi, Ayah telah menungggu dari jauh, melambaikan tangan tampak terburu-buru disamping mobil pick up bersama sejawatnya. Ayah adalah pekerja di dinas kehutanan. Dari cerita, sedari kecil memang beliau sudah terbiasa menggeluti dunia perhutanan, begitu awas dengan rerimbunan juga segala pernik lingkungan. Dan inilah hasil visionernya terwujud.

“Ini yah…” sodorku satu berkas amplop kehadapan ayah.

Nak kemana yah? …”.  “Terimo kasih, Ayah mau kehutan nak… biasola, ada kebakaran lagi..inilah sebabnya ayah minta diantar berkas” berpikir sejenak,

 “Ke hutan yah?”.

 “Iya, kenapa? Nak ikut lah kan, ayolah…”.

Dalam hati kecilku ingin ikut tapi disisi lain pasti bosan hanya bersama bapak-bapak, apa yang akan kulakukan nanti.

 “Yuk dik, abang juga ikut kesana kok.. bisa belajar tentang permasalahan hutan, liat kondisi kritis lingkungan yang ada… yuk yuk” ujar Abang beralmamater universitas orange disampingku yang baru kusadari kehadirannya. “Lingkungan?” Benar juga ya, baiklah siapa tahu akan jadi pengalaman yang hebat  juga jadi view pemenuhan tugas mumetku hehe.

Iyolah yah, Daffa ikut..”.

“Nah itu..ayoklah, biar bujangku paham, ada peran anak muda yang perlu direalisasikan, bukan cuma mainn saja”.

 “Iya deh iya yah, lah kok ceramah”, batinku kesal tak terdengar.

Perjalanan kali ini akan kami tempuh dalam waktu kurang lebih satu setengah jam, mengarah ke timur wilayah dari lokasi kami berada kini. Menaiki moil pick up, meninggalkan sejenak polusi jalan ramai tengah kota, perlahan roda mendekati daerah hijau yang renggang pemandangan pohon. Kepulan hitam tampak terlihat dibeberapa titik. Hal yang kusadari juga, bekas kebakaran parah dilahan gambut kala itu masih belum pulih benar. Setelah tahun 2019 lalu lahan gambut dibakar kini malah tak ada hentinya kasus pembuka lahan liar yang menjarah lahan. Tak takut meski ada perundangan yang melarang.

Sesampainya disana, Ayah memulai tugas dengan rekan kerja, setelah menginstruksikan kami untuk menunggu sebentar. Berpencar mencari titik sumber api ditemani pemadam kebakaran yang tak kalah gesit mengulurkan selang besar  Sedangkan aku dengan abang yang kuyakini tengah menjalankan penleitian tugas akhir memotret landscape pemandangan hutan yang terluka. Tak lupa pula telah kusiapkan handycam, merekam segala peristiwa yang ada. Mendekat, abang itu mengulurkan masker yang kulupa pakai.

 “Bang, kenapa si bang tertarik sekali dengan permaslahan hutan ini” tanyaku kepo disela aktivitasnya mendokumentasikan. “Karena, ya tidak ada alasan berarti… ingin bisa pahan dan berkontribusi, dengan itu setidaknya kita bisa tidak terlalu jahat dengan alam”.

“Jahat gimana maksudnya bang,?”

“Dengan banyaknya kasus seperi ini bukankah termasuk menjahati bumi? hutan dibakar, pohon ditebang, tanahnya juga dihajar pupuk kimia dosis tinggi. Luka luar dalam ini mah dik”. Jedanya sesaat memutar shutter camer, membidik satu ekor burung ditanah yang tampak legam disekujur ekor juga sayap. Lanjutnya,

 “Bahkan dampaknya bukan hanya bumi yang merasa, satwa yang ada paling utama terkena imbas. Contohnya kebakaran hutan ini, banyak hewan yang terbakar, terusir dari habitat asli atau mati kelaparan tanpa ada pakannya dialam”.

“Selain itu kita tidakah manusia merasa juga?” ujarnya menengok ke hadapanku,

“Hemm?” balasku tak tahu dengan menggidikkan kepala.

“Yah, kita merasa. Iklim lambat laun semakin buruk tak terkendali, merasakan hawa panas yang begitu menynegat akhir-akhir ini kan. Bahkan tak ada awan yang bergumpal dilangit sana, itulah kerusakan yang ada.Tanpa sadar kita yang menyebabkan, kendaraan polusi tinggi, perusahan kimia yang amburadul dalam pengelolaan AMDAL kacau, atau bahkan kita yang paling sering cuek lingkungan, buang sampah sembarang sana sini”.

Kulihat ia membungkuk memungut plastik permen bekasku yang 2 menit lalu kubuang ketanah,”Ini contohnya, satu benda meskikecil dampaknya luar biasa buruk lho dik, ada kan kasus banjir bandang karena sampah atau bahkan desa tengge;am dengan ledakan sampah di TPA kan?, semua dari hal kecil”.

Tak enak hati diriku, penjelasannya memang nyata dan begitulah yang terjadi kini.

“Seharusnya dengan adanya pemuda yang katanya generasi super melek teknologi, permaslahan seperti ini bisa teratasi dengan berbagai teknologi yang ada, bukan malah terhanyut nyaman..eh lupa sama lingkungan sekitar, iya kan?”. Jedanya merogoh tas mengeluarkan tumbler air minumnya.

“Meski aksi kita lakukan sekarang belum banyakakan kita rasakan kini, tapi setidaknya kita masih peduli pada kehidupan generasi anak cucu yang ada. Ya masak iyaa, ada kasus manusia tidak kenal lagi dengan adanya hutan?”.

Wush iya juga, Epic sekali penjelasan sederhana abang tersebut. Ternyata dari apa yang disampaikan serta wejangan yang diberikannya diawal banyak kurangnya mampu masuk kesudut pikir panjang. Sedari tadi pemikiranku mulai menjurus “Lantas bagaimana bang aksi yang bisa kita lakukan untuk itu?”. Senyumnya yakin “Aksi nya? banyak dik, setidaknya dari diri sendiri kita dulu harus rancang aksi”. Ia menjelaskan lagi “ Pertama kita harus respect sama lingkungan, sampah yang paling concern kita hadapi.. setidaknya kita harus punya cara mengurangi, bisa dengan aksi lesswaste, aksi olah ulang sampah atau banyak lagi, itu baru sampah kan, lanjutnya nih untuk penghijauan bumi kita yang bakal jadi pemimpin dihari esok ini bisa ikut dalam organisasi penghijauan, ikut menggalakan langkah penghijauan atuapun menambung pohon dengan restorasi atau langkah yang utama nih, mengajak banyak orang untuk bisa sadar diri, respect sama lingkungan gitu lah dik”. Anggukku mencerna tiap-tips yang diberikan.

 “Bang pastinya susah itu bang, gimana ceritanya bang, untuk lesswaste Daffa beli minum boba pake dong tumbler bang”.

 “Apa salahnya, toh yaa.. kamu tahu satu plastik yang ada dibumi ini berapa tahun bisa didaur jadi organik, bayangin 100 tahunn broo,, lah itu baru bisa ilang. Semua itu dari niat dan aksi, bisa yaa..”.

 Angguku kemudian “Untuk kebakaran hutan seperti ini bang, tentu ranah Daffa bocah smp susah ikut serta didalamnya”.

 “Loh kata siapa? Bisa kok, banyak forum-forum edukasi juga komunitas yang kita bisa gabung didalamnya. Memberikan pemahaman luas kepada masyarakat juga bahkan orang tua kita mungkin, niatan membuka lahan untuk kepentingan domestik tanpa diimbangi penghijauan itu salah besar”.

Setelahnya, sembari menunggu ayah kembali, abang berikat rambut itu menyalakan laptop dan menunjukan sejumlah video aksi pemuda yang cinta lingkungan, mulai dari kegiatan menanam ribuan pohon, aksi membersihkan jalan dari sampah atau yang paling ekstrim kurasa, rela mogok sekolah dengan demo demi penghijauan hutan. Totalitas sekali kupikir, haa sampai saat ini kemana saja aku?. Paling banter yaa, buang sampah pada tempatnya, itupun cuma disekolah.  Ah ya juga ya, sedari dulu mungkin aku terlalu sibuk menggerutu dengan hal yang tidak aku tau ada masalah di bumi ini. Segala percakapan dan opini dari yang abang itu  berikan, membuatku banyak sadar bahwa bumi bisa saja lelah atas segala tingkah sewenang manusia tanpa balas budi melesatrikannya. Bumi bisa saja rapuh engan lagi diberi beban atas pundak kecongakan manusia yang ada.

Setelah hampir setengah jam asyik me-marinasi kata bermakna beliau, kini waktunya Ayah kembali dengan peluh. Dibelakangnya ada bapak-bapak yang tak kukenali. Rupanya beliau inilah yang membakar sejumlah lahan hutan yang ada, motifnya untuk perkebunan monokultur sawit yang kini tengah jadi investasi dengan harga tinggi. Tak lama keluar  banyak penjelasan tentang undang-undang pelanggaran, juga sanksi bahkan akibat dari apa yang dilakukan. Aku belajar banyak sekarang, berkah untuk tugas sekolah juga tepatnya hehe. Tidak juga, sekarang banyak rencana berkeliaran atas kepala, tentu ikut serta seperti apa yang bumi pinta.

Memikirkan itu, Ada tangan yang merangkul pundak “Ayok, kita belajar untuk bisa menyembuhan bumi..”. Ajak bang Fattah penuh keyakinan. Seulas senyum dan anggukan harap dari Ayah jadi amunisi dalam pikir ini, “generasi esok bisa jaga bumi? “Bisa dan harus Bisa, iya itu kita”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *