Cerpen #346; “Mimpi Tentang Negeri di Atas Awan”

“Aku rindu hujan,” ucap seorang wanita yang mengenakan semacam penyaring udara di wajahnya. Ia tengah memandang ke luar, memandang langit yang tampak berwarna oranye panas tanpa ada setitik awan kecil di sana.

Bumi, tahun 2121, seperti telah disinggung sebelumnya, langit tampak oranye sebab ozon memudar. Sinar surya memancar dengan bengisnya tanpa ada pelidung di lapisan atmosfer.

Dalam belasan tahun terakhir, suhu global berangsur-angsur naik drastis. Entah sudah berapa tahun, hujan tak lagi turun di planet yang kian kering itu. Level permukaan laut sempat meninggi, namun kini semakin turun sebab penguapan massal yang tidak diimbangi dengan jatuhnya air dari sang langit.

Tumbuhan pun banyak yang tumbang dan enggan bersemi kembali. Bumi terlalu kering dan panas bagi mereka untuk beregenerasi. Akibatnya, hewan-hewan pun banyak yang mati. Manusia yang tersisa hanya dapat mengandalkan makanan sintesis yang ditemukan beberapa tahun silam sebagai sebuah terobosan yang dianggap menakjubkan kala itu, kendati tentu tidak seenak makanan asli.

Manusia yang tersisa membangun bunker-bunker di dalam tanah agar tidak langsung terkena pancaran matahari yang dapat melelehkan karet ban truk raksasa di atas aspal panas dalam hitungan detik. Tentu, bunker dalam tanah pasti apek dan menysakkan. Oleh sebab itu, wanita yang muncul di awal cerita ini mengenakan semacam alat penyaring udara di wajahnya.

“Aku jadi kepikiran, apakah di Skyland ada hujan?” lanjut wanita berusia kepala tiga yang duduk memandang langit itu.

Wanita itu tidak sedang memperhatikan langit kosong. Ada sebuah objek yang terlihat begitu kecil di langit, walau sejatinya, ukuran benda itu tidak main-main. Skyland, atau dikenal sebagai Negeri di Atas Awan, adalah kapal antariksa raksasa yang menjadi tempat tinggal alternatif bagi manusia saat bumi sudah tak lagi dapat dikatakan layak huni. Memang, Negeri di Atas Awan tak lebih dari sekadar sebutan, sebab kini tak ada lagi awan yang mengembara di langit bumi.

Ya, para ilmuan telah memprediksi bahwa bumi akan menjadi planet yang tak layak dijadikan tempat tinggal. Mereka melakukan penelitian dan menciptakan inovasi agar manusia tidak punah saat bumi kian hancur. Diciptakanlah Skyland sebagai tempat tinggal baru manusia di luar bumi.

Skyland diluncurkan jauh-jauh hari sebelum bencana yang diprediksi itu benar-benar terjadi. Penduduk awalnya hanya sepuluh ribu jiwa. Namun, seiring bergantinya tahun, semakin banyak manusia dikirim menyusul ke sana.

Saat kau tak lagi menemukan tanaman atau binatang asli di bumi, kau dapat menjumpai mereka di Skyland. Kebun-kebun ditanam kembali. Peternakan pun menggembalakan sapi-sapi dan domba. Burung-burung menyanyi riang di taman kota yang rindang, persis seperti bumi sebelum ozon terluka sehebat ini.

Memang, Negeri di Atas Awan adalah tempat tinggal impian seluruh sisa umat manusia. Namun, untuk menjadi penduduk Skyland bukanlah suatu hal yang mudah. Pendaftar diharuskan membayar sejumlah uang yang tentu tidak sedikit. Belum lagi tahapan-tahapan panjang yang harus dijalani sebelum diterbangkan ke sana.

“Aku tahu kau sangat bermimpi untuk tinggal di sana, Sarah,” ucap seorang lelaki yang usianya berjarak empat tahun dari usia sang wanita. Pria mendekati perempuan ia panggil Sarah itu seraya menyentuh pundaknya dari belakang. “Dan aku yakin, kita pasti akan tinggal di sana suatu hari nanti.”

Sang wanita menggeleng pelan. “Kau tahu, aku tak lagi berharap banyak untuk tinggal di sana,” jawab wanita itu lembut. “Memang, kita telah mencatatkan mimpi untuk tinggal di Negeri di Atas Awan pada daftar cita-cita kehidupan rumah tangga kita. Namun, mengingat kondisi finansial kita, ditambah kondisi fisikku yang lemah, kurasa kita tidak punya pilihan lain selain menikmati sisa umur kita di bunker apek ini.”

Pria berkumis yang mengenakan seragam aparat dengan badge bertuliskan Bagas P.S. terpasang di dada kanannya itu tersenyum. Sorot matanya mengarah kepada Sarah yang masih asyik memandang langit.

“Lagipula, impian kita yang seharusnya lebih dulu terkabul masih belum juga terjadi,” sambung Sarah seraya memindahkan arah pandangan menuju perutnya yang kurus. Ya, selama hampir lima belas tahun pernikahannya, perut itu belum diizini untuk menyimpan sebuah janin.

Bagas meletakkan satu lututnya di lantai dan menyentuh pipi Sarah. Ia memandang mata istrinya. Sarah pun membalas tatapan kasih Bagas dengan tatapan yang sama. “Jangan berputus asa, Sayang. Tuhan pasti akan berikan jalan,” ucap Bagas dengan tenang, namun mengandung penekanan yang dalam.

Senyum terulas di wajah Sarah sementara kedua netranya mulai basah. “Terima kasih, suamiku. Aku tahu kau akan selalu menyemangatiku walau aku hanya menjadi beban bagimu.”

“Tidak, Sarah. Kau sama sekali tidak membebaniku. Aku sendiri yang memilihmu mendampingi langkah hidupku. Kau tidak boleh merasa seperti itu,” ucap si pria berkumis. “Justru, aku belajar banyak darimu tentang kasih sayang dan kesabaran. Kau adalah wanita yang telah mengubah hidupku, Sarah.”

Wanita itu tak kuat lagi menahan sesak dalam dada. Ia merangkul Bagas dan menangis di pundak suami yang sangat ia cintai itu. “Aku menyayangimu, Mas. Aku menyayangimu. Walau bumi hancur dan jasadku lenyap, aku tak mungkin cukup berterima kasih dengan kehadiranmu yang melengkapi hidupku. Terima kasih.”

Bagas melebarkan senyum seraya mengelus kepala istrinya itu, membiarkan wanita itu mencurahkan air mata bahagia. Pria itu pun tak mungkin mampu menggambarkan rasa bahagia saat Sarah hadir dan mengubah warna hari-harinya. Ia sangat menyayangi Sarah. Ia sangat menyayangi istrinya.

Setelah Sarah cukup tenang, pelukan mereka berpisah. “Baiklah, Sarah. Aku pamit dulu, ya,” ucap Bagas seraya mengecup kening istrinya.

Bagas mengenakan alat penyaring udara yang sama dengan yang dikenakan Sarah sebelum keluar dari ruangan bunker mereka. Bersamaan dengan keluarnya Bagas, Sarah kembali mengulaskan senyum di wajahnya. Ada kehangatan yang ia rasakan dalam hatinya, sebagaimana tiap kali Bagas berhasil menghibur kembali hatinya yang tengah bermasalah.

Sekali lagi, terima kasih, Mas.

~ (*) ~

Di sinilah kita, di ruang pos jaga bunker nomor 43-B. Di setiap komplek bunker yang berisi seratus orang penduduk, terdapat beberapa pos aparat yang memastikan keadaan bunker tetap baik, tanpa masalah apa pun.

“Bagaimana persiapanmu ke Skyland, Gas?” tanya Muklis, rekan Bagas yang asyik melihat layar ponselnya.

“Apanya yang mau dipersiapkan? Aku mana punya uang buat beli tiket?” balas Bagas menanyakan sesuatu yang tak perlu dijawab.

“Loh, kamu belum baca berita?” Muklis kembali bertanya, tetapi kini dengan nada yang lebih tinggi. Perhatian kedua matanya yang sedari tadi hanya berfokus pada layar di genggamannya kini beralih kepada Bagas.

Bagas hanya membalas pertanyaan itu dengan gelengan kepala. Memang, ia belum sempat membaca berita hari ini. Ia sibuk dengan layar komputer yang menampilkan visualisasi yang terekam CCTV di wilayah itu.

“Baca ini!” kata Muklis sembari menunjukkan layar ponselnya kepada Bagas. “Seluruh umat manusia yang masih tersisa di bumi akan diterbangkan ke Skyland Desember ini, gratis.”

Bagas membelalak tak percaya seraya menyahut ponsel Muklis dan membaca artikel berita yang diakses. Bola matanya bergerak dengan cepat menyusuri kata demi kata dalam artikel tersebut.

“Ini, benar?” Bagas bertanya seolah tak percaya.

“Lihat, tuh, Gas. Itu dari website berita terpercaya. Masak hoaks?” celetuk Muklis.

“Penduduk bumi tinggal sekitar sepuluh ribu orang. Semua nanti akan diangkut ke Skyland yang diekspansi tiap tahunnya. Kan selama dua puluh tahun terakhir, makin banyak yang dikirim ke Skyland, sampai penduduk bumi semakin sedikit. Nah, tahun ini, rencananya bumi akan dikosongkan dari manusia, biar memulai pemulihan alaminya. Yah, walaupun manusia di Skyland tidak melepaskan bumi seratus persen, sih,” jelas lelaki yang memiliki kumis lebih tebal dari Bagas itu.

Bagas tentu senang bukan kepalang. Mimpinya bersama Sarah untuk tinggal bersama di Negeri di Atas Awan sudah ada di gayuhan tangan. Bagas bersujud syukur di tempat itu juga, sambil masih mengenakan seragam aparatnya.

Muklis yang menyaksikan rekannya begitu gembira itu tersenyum. “Yah, semoga kehidupan kita di Skyland nanti lebih baik dari sekarang. Untuk bumi juga, semoga cepat pulih seperti sedia kala,” doa Muklis.

~ (*) ~

Bagas sudah tak sabar memberitahukan kabar gembira ini kepada istrinya. Ia tak bisa membayangkan ekspresi bahagia Sarah saat mendengar bahwa sesuatu yang bertahun-tahun mereka impikan akhirnya menjadi kenyataan.

Bagas juga membayangkan bagaimana ia dan Sarah akan tinggal di sebuah apartemen minimalis. Bagaimana ia dan sarah pergi jalan-jalan ke taman kota yang penuh rindangnya pepohonan pada hari Minggu, sambil menikmati kicauan burung yang tak lagi pernah mereka temui di permukaan bumi.

Bagas mengetuk pintu bunkernya dan mengucap salam, menunggu jawaban Sarah dari dalam. Beberapa detik tak kunjung mendapat respon, Bagas mengetuk pintu kedua kalinya, seraya mengucap salam dan memanggil nama Sarah.

Kali kedua tidak mendapat jawaban, Bagas mulai merasa aneh. Biasanya, Sarah akan langsung menjawab pada ketukan pertama. Tetapi kali ini, sampai panggilan kedua pun, ia masih belum menjawab. Mungkinkah ada yang terjadi? Sarah tidak biasanya keluar dari bunker bila tidak bersama Bagas. Seharusnya ia menjawab dari dalam.

Sekali lagi pintu bunker diketuk. “Sarah?” Bagas masuk ke dalam ruangan bunkernya setelah tiga kali ketukannya tak mendapat respon apa pun. Bagas khawatir, tetapi ia langsung lega saat mendapati istrinya masih duduk di kursi tempatnya memandang langit tadi pagi. Sepertinya ia sedang tidur.

Bagas tesenyum seraya berjalan ke arah Sarah. Ia berjongkok di depan Sarah, lalu menggoyang-goyangkan badan perempuan itu, berniat membangunkannya. “Sayang, bangun. Aku ada kabar gembira,” ucap Bagas lembut.

“Kita akan pergi ke Skyland Desember ini. Mimpi kita untuk tinggal di Negeri di Atas Awan akan menjadi kenyataan,” ujar Bagas sambil masih menggoyang-goyangkan badan Sarah.

“Sarah? Sarah!” Bagas terkejut saat menyadari sesuatu yang tak pernah ia sangka-sangka. Indikator napas dan detak jantung yang Sarah pakai pada alat penyaring udara tak menunjukkan frekuensi apa pun.

“Sarah, jangan bercanda, Sarah! Hei, Bangun!” Bagas mengangkat suaranya. Namun sia-sia. Yang dipanggil-panggil tak kunjung siuman. Badannya lemas seolah tidak ada lagi daya yang menopangnya.

“Sarah, kita akan pergi ke Skyland seperti yang kita mimpikan. Bangunlah!” Bagas memeluk kepala Sarah di dadanya. Tak terasa, setetes bening mulai keluar dari kedua mata Bagas yang basah. Isakan pun mulai muncul di antara napasnya. Dadanya sesak serasa dihimpit bumi yang telah retak ini.

Namun begitu, Sarah tetap diam. Tiada jawaban. Dingin. Wanita yang memimpikan angan untuk tinggal di langit itu telah naik ke langit yang lebih tinggi. Sayang seribu sayang, ia tak bersama suaminya yang harus melanjutkan perjalanan hidupnya di Negeri di Atas Awan, untuk memperjuangkan sendiri apa yang mereka cita-citakan.

Ya, setelah bertahun-tahun perempuan itu mengidap penyakit aneh yang terjadi selepas rusaknya lapisan ozon, ia berjuang mati-matian untuk tetap bertahan, untuk mendampingi suaminya menggapai seluruh apa yang mereka cita-citakan bersama. Nahas, takdir berkata lain. Takdir mengatakan sesuatu yang sama sekali tak pernah Bagas harapkan, dan itu begitu mengiris hati Bagas. Setelah sekian tahun merawat istrinya, pada akhirnya, bunga harus layu juga, pohon harus tumbang pula.

Foto pernikahan pasutri itu terasa masih baru. Di belakang foto tersebut, tertulis daftar cita-cita mereka bersama dalam kehidupan rumah tangga. Masih jelas, belum luntur maupun hancur, cita-cita nomor 8 adalah tinggal di Skyland. Kini, cita-cita mereka yang tersisa tak mungkin lagi mereka capai berdua, saat takdir yang bengis telah mengetukkan palu.

Tak terasa, hampir lima belas tahun Bagas dan Sarah hidup bersama di dalam bunker. Kini, saatnya Bagas harus menyampaikan selamat tinggal untuk terakhir kalinya kepada Sarah, sosok yang telah mengubah hidupnya, sosok yang berhasil menumbuhkan cinta di hati Bagas.

Pada akhirnya, Bagas memeluk erat tubuh Sarah yang tidak bernyawa. Lelaki itu menangis pilu, mencurahkan duka entah pada siapa. Yang bisa dilakukan hanya mengucap salam perpisahan untuk terakhir kalinya sebelum mereka bisa kembali berjumpa suatu hari nanti.

Selamat jalan, istriku.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *