Cerpen #345; “Kisah Sang Penjaga”

Suara kicauan burung saling bersahutan, menyambut sang fajar yang mulai memamerkan keelokannya. Angin berembus pelan, mengantarkan hawa sejuk menenangkan bagi seluruh penghuni hutan. Satu persatu hewan mulai bangun, memulai aktivitas hariannya masing-masing dengan penuh suka cita.

Sedangkan aku masih termenung, berusaha mengais sisa-sisa kesadaran yang tersisa. Otakku masih sibuk menerka dan mengingat penyebab mengapa aku bisa berada di sini. Kalau tidak salah ingat, kemarin aku masih bersama teman-temanku. Berjalan di belakang mereka sembari mencari-cari kayu bakar. Sebelum akhirnya aku melakukan sebuah kecerobohan.

Aku meringis begitu mengingatnya. Kecerobohan yang menyebabkanku jatuh terguling sehingga terpisah dari teman-teman. Sial, untuk yang kali ini kecorobohanku benar-benar muncul di saat yang tidak tepat.

Aku melirik jam tangan yang untungnya tidak rusak akibat aksi jatuhku semalam. Sekarang pukul enam pagi, itu berarti sudah sepuluh jam sejak aku mencari kayu bakar dan berakhir jatuh di bawah sini. Aku memeriksa kepalaku, lantas meringis setelah menemukan sebuah tonjolan yang lumayan besar. Ah, ini pasti penyebab kenapa aku bisa pingsan semalam. Untungnya tidak ada luka berdarah yang menganga lebar.

Setelahnya aku mencoba berdiri, tetapi rasa sakit yang berpusat pada pergelangan kaki membuatku terduduk kembali. Bagus sekali bukan nasibku? Sudah jatuh, kepala benjol, sekarang kakiku terkilir. Benar-benar miris.

“Siapa kamu?”

Suara itu membuatku berjengit kaget. Aku buru-buru menoleh dan menemukan seorang gadis berambut panjang tengah membawa wadah yang terbuat dari anyaman bambu. Aku menghela napas lega. Setidaknya ada orang yang bisa kumintai tolong. “Kamu bisa menolongku? Kakiku terkilir.”

Ia mendekat. Namun saat jarakku dengannya hanya tersisa beberapa meter, ia justru terkesiap. “Kamu manusia? Kenapa bisa sampai di sini?” Aku mengernyit heran. Aku tidak salah dengar, kan, kalau dia terkejut mengetahui aku seorang manusia?

“Hei, jawab aku! Kenapa kamu bisa sampai kemari?”

Baru saja aku ingin membalasnya, mataku terlebih dahulu menatap sesuatu yang aneh. Gadis ini mempunyai telinga yang runcing. Seketika kedua mataku membola. “Kamu! Kenapa telingamu runcing begitu?!”

Spontan ia memegang telinganya. “Jawab pertanyaanku dulu!”

Jawab dia bilang? Mana sempat! Otakku sudah lebih dulu menyusun spekulasi-spekulasi aneh yang berkesimpulan bahwa aku harus waspada saat ini. Oleh karena itu, aku buru-buru berdiri dan berjalan menjauh sembari mengaduh karena kakiku kembali terasa sakit.

Gadis itu menatap cara berjalanku yang aneh. Wajah terkesiapnya tadi kini digantikan dengan ekspresi meringis. “Kalau kamu terus memaksa berjalan, kakimu bisa semakin parah,” ucapnya sambil mendekat. “Biarkan aku mengobatinya dulu.”

Aku menggeleng. Bukannya yang lebih dulu bertingkah aneh tadi dirinya? Apalagi menanyakan identitasku yang sudah jelas-jelas manusia. Kenapa sekarang ia justru mendekat? “Aku hanya ingin membantu, tidak lebih. Kakimu bisa semakin parah apabila didiamkan saja.”

“Kenapa aku harus percaya denganmu?” Bukannya bermaksud menuduh, tapi aku memang harus waspada di saat-saat seperti ini. Sekali lagi kutekankan, kedua telinganya runcing. Bukannya itu tidak normal? Mana ada manusia bertelinga runcing?

Ia menghela napas. “Sebenarnya aku sudah melihatmu semenjak subuh. Aku hanya berpura-pura terkejut. Kalau aku ingin macam-macam, seharusnya badanmu sudah tidak utuh sedari tadi.”

Aku termenung selama beberapa saat sebelum akhirnya mendekat. Gadis itu pun sama. Begitu kami sudah duduk berhadapan, ia mulai memeriksa kakiku. “Lumayan parah. Aku izin memijatnya.” Aku hanya mengangguk sembari meringis kecil ketika tangannya mulai beraksi.

“Maafkan sikapku tadi. Aku hanya mencoba waspada.” Ia berdeham singkat dengan tetap berfokus pada kakiku. “Kamu tadi menanyakan identitasku, kan? Kamu—“

“Aku bukan manusia, melainkan roh penjaga hutan.” Ucapannya membuatku termenung. Aku tidak paham dengan kondisi yang kuhadapi saat ini. “Aku sudah mengawasi kalian semenjak kalian memasuki hutan untuk berkemah.”

“Kalian?” ulangku memastikan. “Ya, kalian. Kamu dan teman-temanmu. Tiga laki-laki dan dua perempuan. Kalian tiba kemarin sore, kan?” Mendengar penuturan itu membuatku tidak bisa untuk tidak percaya. Karena apa yang dikatakannya memang benar. Jadi gadis di hadapanku ini benar-benar sesosok roh penjaga?

“Elf?” Aku mungkin sudah gila karena mengatakan hal demikian. Tetapi setahuku makhluk yang dekat dengan alam adalah elf. Meskipun elf sendiri hanya makhluk mitologi.

Ia menggeleng. “Aku roh, bukan makhluk mitologi. Tapi aku juga memiliki kelompok. Tugas kami berbeda-beda. Menjaga hutan, menjaga laut, menjaga perbatasan. Singkatnya, kami juga makhluk, tapi berbeda dengan kalian para manusia.”

Aku hanya bisa menganggukkan kepala. Karena jujur, fakta ini terlalu mendadak. “Kakimu sudah lebih baik. Sekarang aku akan mengantarmu kembali ke teman-temanmu. Kalian terpisah lumayan jauh.”

Aku mencoba berdiri dan gadis itu membantu memapahku. “Terima kasih—“

“Fana. Kamu bisa memanggilku demikian.”

“Kalau begitu kamu bisa memanggilku Sena.”

Selanjutnya kami mulai berjalan menyusuri hutan. “Fana, coba ceritakan dirimu lebih banyak. Aku penasaran.” Awalnya aku memang takut. Tetapi setelah dilihat-lihat, Fana bukan orang yang perlu ditakuti. Selain bentuk telinganya yang runcing, bentuk badannya yang lain mirip seperti manusia pada umumnya. Hanya saja kulitnya lebih putih.

“Kami para roh terlahir dari alam. Sulit untuk dijelaskan, tetapi intinya begitu. Kami menjadi penyelaras dan penyeimbang. Menjaga dan melindungi semua yang berhubungan dengan alam. Fauna, flora, hutan, sungai, laut, dan masih banyak lagi.”

“Apa semua roh itu baik? Aku sering melihat berbagai film fantasi dan membaca berbagai novel. Biasanya jika ada roh baik, maka ada roh jahat, bukan? Satu paket.”

Fana tertawa sekilas sembari menggeleng-gelengkan kepala. “Kamu terlalu banyak menonton film dan membaca novel. Itu tidak benar. Kami para roh terlahir sebagai sosok yang suci. Kami lahir dari alam, Sena. Dan alam tidak pernah melahirkan sesuatu yang bernilai negatif.”

Aku terdiam sejenak. “Alam terkadang melahirkan sesuatu yang negatif juga, Fana. Bencana alam misalnya.”

Lagi, Fana mengeleng. “Kalau yang kamu maksud itu bencana alam, kamu keliru, Na. Alam mendatangkan bencana karena sudah siklusnya seperti itu. Bayangkan saja kalau alam justru tidak mendatangkan bencana secara berkala. Bisa kamu bayangkan jika gunung hanya meletus sekian abad sekali? Kira-kira berapa banyak korban yang akan jatuh?”

Aku terdiam. “Maka dari itu alam secara aktif memberikan bencana. Dengan frekuensi  berkala, muatan yang dikeluarkan juga berkala. Agar tidak memberikan kerusakan yang terlalu parah.”

“Ngomong-ngomong, mau kuberitahu siapa musuh jahat para roh sekaligus musuh alam, tidak?” Fana bertanya sembari menaik turunkan alisnya.

“Memangnya siapa?” tanyaku heran. Fana tersenyum miring lantas berbisik pelan. “Manusia.”

“Hah?”

“Kenapa kamu kaget? Kamu tidak sadar bahwa kaum manusia yang paling aktif dalam memberikan kerusakan di alam bumi?”

Entah mengapa aku merasa tertampar dengan ucapan Fana.

“Aku memang tidak punya orang tua, tetapi aku memiliki leluhur. Dan apa yang diwarsikan oleh leluhur kami berupa cerita-cerita anonim. Di zaman leluhur kami, alam dan manusia benar-benar besahabat. Alam memberikan berkahnya dan manusia menjaga alam sebagai bentuk timbal balik. Bahkan dulu manusia dan para roh hidup berdampingan. Tidak seperti kami yang saat ini memilih menutup diri.”

“Bukan tanpa alasan tentunya kami mengambil keputusan demikian. Semakin muda cerita-cerita anonim itu, semakin berubah pula isi ceritanya. Alam yang awalnya terjaga dan utuh, lama kelamaan berubah. Semakin kemari semakin sakit saja. Dulu bumi ini hangat, sejuk, terjaga. Sekarang berbanding terbalik. Semakin panas dan semakin rusak. Bahkan leluhur kami sudah mengkhawatirkan nasib generasi mendatang sedari dulu. Akan jadi apa generasi mendatang jika semua ini terus berlanjut? Kelangkaan sumber daya alam, perebutan sumber daya yang semakin sengit, atau apa?”

Fana menatap langit, wajahnya terdapat gurat kesedihan. “Apa kamu pernah mendengar langit menangis?”

Aku menggeleng. Entah itu menangis dalam artian kiasan ataupun dalam makna sebenarnya, aku sama-sama tidak pernah mendengarnya. “Tidak.”

“Dulu, leluhurku mengatakan dalam ceritanya bahwa langit menurunkan hujan dengan perasaan senang dan bahagia. Karena ia percaya apa yang ia turunkan merupakan sebuah keberkahan. Tapi sekarang sudah tidak lagi, Na. Saat ini apabila hujan turun, langit pasti tengah merasa risau dan sedih. Karena apa yang ia turunkan bisa menjadi petaka bagi alam.”

Kami masih berjalan dengan Fana yang meneruskan ceritanya. Kali ini kami tengah berada di bagian hutan yang lumayan tinggi. Aku melihat ke hamparan hutan di bawah sana. Tidak sunyi lagi seperti pagi tadi. Kini terdengar sayup-sayup suara alat-alat berat. Di bawah sana, kegiatan penebangan tengah dilakukan.

“Seperti itu contohnya. Pohon-pohon hutan terus dibabat habis. Kelihatannya sepele, tapi sebenarnya tidak. Pohon-pohon di sini menjadi penyangga hidup yang lain. Menjadi rumah dari banyak hewan dan tumbuhan, juga menjadi sumber pangan dan minum mereka. Tidak hanya bagi makhluk hidup, pohon-pohon di sini juga berperan menahan tanah. Belum lagi jumlah pohon yang berperan dalam megurangi pemanasan global akan berkurang. Kalau sore ini hujan turun, langit sudah pasti bersedih, Sena. Karena jika ia menurunkan hujan, apa yang ia turukan bisa menjadi bencana bagi alam maupun manusia.”

Fana menoleh guna menatapku. “Kamu mungkin tidak tahu, tapi kami para roh bisa mendengarnya. Sekarang saja aku bisa mendengar suara tangisan para pohon-pohon itu. Hatiku seperti diremas.”

Aku menelan saliva susah payah. Aku tahu semua dampak-dampak itu. Tapi mendengarnya sendiri dari Fana—sosok yang berperan langsung dalam menjaga alam—membuatku merasa benar-benar tertampar.

“Kemarin aku baru saja mendengar kabar dari Biru, teman rohku yang menjaga laut. Dia pulang ke kediaman kami sembari menangis, Na. Dia bilang harta bawah laut kembali rusak. Terumbu karang mengalami pemutihan dan jumlahnya tidak bisa dibilang sedikit. Ditambah Biru juga mendengar keluhan masyarakat bahwa garis pantai semakin maju. Iklim bumi ini benar-benar mengalami krisis.”

Fana menghela napas panjang. “Kapan manusia mau membuka matanya, Na? Apa harus alam memberi karma yang lebih parah baru kalian sadar? Atau kalian ingin generasi mendatang yang menuai? Kadang aku tidak mengerti. Kenapa manusia sebegitu tidak tahu terima kasih sampai-sampai mengabaikan alam yang sudah banyak membantu manusia? Alam dan manusia hidup berdampingan, namun kenapa seperti tidak ada timbal balik yang pantas?”

Aku tidak menemukan jawaban yang pas terkait pertanyaan Fana. Aku merasa malu berdiri di sampingnya. Aku memang yang memintanya bercerita, tetapi aku tidak tahu banyak cerita yang dipendamnya sebagai seorang roh penjaga.

“Kita sudah sampai. Itu teman-temanmu.”

Aku mendongak. Benar apa kata Fana, kami sudah sampai di tempat tujuan. Di depan sana, teman-temanku memasang wajah panik. Ada beberapa penjaga pos kemah yang berdiri di dekat mereka. Mungkin masih mencari cara guna menemukan keberadaanku.

“Sena, aku menceritakan semua tadi bukan tanpa alasan. Aku hanya tidak ingin suatu saat nanti  manusia menyesal. Aku memang penjaga, tapi bukan berarti aku bisa melakukan sesuatu yang di luar kendaliku. Yang berinteraksi dengan alam langsung itu adalah kaum manusia, jadi aku berharap kaum manusia mau bertanggung jawab. Aku tidak mengharuskan kamu melakukan hal-hal besar. Cukup dimulai dari diri kamu sendiri dan lingkungan di sekitarmu. Sosialisasikan apa yang sudah kamu dengar dari aku tadi. Setidaknya, pikirkan generasi yang akan datang. Apa yang akan diwariskan pada generasi masa depan apabila kondisi iklim saat ini saja sudah buruk?”

Aku mengangguk, paham dengan ucapannya. “Terima kasih banyak, Fana.”

Fana tersenyum kecil sebelum melambaikan tangan dan berbalik menjauh. Ia menghilang seperti asap, seolah menyatu dengan hutan ini.

Aku berjalan mendekat ke arah teman-temanku. Mereka langsung heboh, sibuk menanyaiku ini dan itu. Namun aku hanya menjawab sekadarnya. Pikiranku masih terlarut dengan apa yang Fana ceritakan tadi. Saat perjalanan pulang aku melamun. Di balik kaca mobil aku sibuk berpikir. Perkataan Fana mengambil sebagian besar ruang berpikir di kepalaku.

Tidak lama kemudian hujan turun. Aku menatap tetesan air yang jatuh di jendela mobil. Apa benar kata Fana saat ini langit tengah menangis?

Aku menegakkan posisi dudukku. Penjelasan dan semua cerita Fana tadi sudah cukup membuatku membuka mata. Benar apa kata Fana, aku tidak boleh berdiam diri sembari menutup mata seolah tidak mengetahui apa-apa. Padahal sebenarnya alam kini tengah menjerit meminta untuk dipedulikan. Setidaknya aku harus membuat perubahan untuk diri sendiri dan lingkungan di sekitarku. Ke depannya, manusia dan alam harus bisa kembali saling berdampingan.

“Teman-teman, bagaimana kalau bulan depan kita mencari daerah hutan gundul? Kita bisa melakukan reboisasi sembari berkemah, bukan?”

Jika Fana dan roh lain menjadi penjaga alam secara tidak langsung, maka kami akan menjadi penjaga langsung yang akan melangkah bersama para roh. Memang bukan hal besar, namun setidaknya kami tidak hanya diam berpangku tangan. Sudah cukup manusia menjadi pihak yang egois. Manusia harus berproses untuk berubah, lebih memikirkan masa depan generasi yang akan datang, dan mencoba mengembalikan kembali kepercayaan alam yang sudah hilang terkikis waktu.

TAMAT

One thought on “Cerpen #345; “Kisah Sang Penjaga”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *