Cerpen #344; “Tidak Ada Cerita Di Laut”

Kening Hayu mengernyit tipis. Oke, ingat Hayu: berakit-rakit terlebih dahulu, bersenang-senang kemudian. Berkali-kali, bahkan beratus-ratus kali, Hayu membisikkan peribahasa lawas yang pernah neneknya ajarkan dulu. Peribahasa lawas yang Hayu alunkan sepanjang lorong rumah kapalnya, menuju kamar gudang penuh barang usang dan debu, tempat yang paling Hayu jauhi sekapal ini.

Oh astaga. Rasanya percuma rasa gembiranya yang membuncah beberapa menit lalu saat ibunya mengatakan Hayu boleh memiliki kamarnya sendiri. Akhirnya, setelah enam belas tahun berbagi kamar dengan adiknya, Hayu akhirnya memiliki ruang privasinya sendiri di kapal ini. Sekarang tidak ada lagi yang mengganggunya saat menangisi idola kesukaannya tengah malam.

Hayu benar-benar senang.

Akan tetapi, saat ibunya mengatakan Hayu boleh memiliki kamarnya sendiri, perempuan berusia enam belas tahun itu mengira dia akan menempati kamar lamanya sedangkan adiknya, Widi, akan mendapatkan kamar gudang. Tapi kenyataan ternyata tidak sebaik itu pada Hayu. Karena pada kenyataannya, ialah yang menepati kamar gudang.

“Santai saja, Hayu. Jangan lupakan kamar gudang ini lebih besar dari kamar yang lama dan ada jendela besar di sini. Semua akan baik-baik saja.” Hayu bermonolog kemudian membuka pintu kamar gudang tersebut dan―“HACCHIII!”

Bersin.

Astaga, Hayu benci debu. Katakan saja Hayu penggila bersih-bersih yang tidak akan membiarkan segumpal debu bahkan sehelai rambut pun tergeletak di atas lantai kapal. Dia hanya seseorang yang awalnya alergi pada debu yang berakhir menjadi maniak kebersihan.

Mengusap ujung hidungnya yang gatal, Hayu segera mengeluarkan masker dari kantong celananya. Dengan seperangkat alat kebersihan di sisinya, ia yakin dapat menyapu bersih semua kotoran yang ada di kamar ini.

“Oke, kita mulai dari yang mudah dahulu. Mulai dari lemari kabinet.”

Menurunkan satu per satu barang-barang dari lemari kabinet sembari menyalakan menyalakan mesin penyedot debu, iris coklat terang Hayu menangkap kotak berwarna hijau pekat di rak teratas. Kotak itu tampak menarik. Meraih kotak tersebut, alis Hayu terangkat heran dengan beban ringan kotak tersebut.

Kalau dia tidak salah tebak, kotak ini pasti terbuat dari kertas karton. Bukan seperti kotak-kotak pada umumnya yang terbuat dari plastik atau alumunium. Rasa penasaran Hayu untuk membuka penutup kotak itu semakin membuncah. Namun sebelum itu, ia harus membuang barang-barang tidak terpakai dari kamarnya.

Memungut beberapa barang tidak terpakai di kamar masa depannya itu, Hayu meraih plastik sampah di ujung pintu, membuang barang-barang tidak terpakai itu di sana juga isi kotak penyimpanan alat penyedot debunya, lalu segera membawa plastik itu keluar kapal―kemudian membuangnya di laut.

Kelopak mata perempuan itu menyipit dengan iris matanya mengikuti kantong sampah itu yang perlahan tenggelam ditelan laut hitam. Ah, Hayu benar-benar tidak suka dengan pemandangan sampah di atas laut. Sangat menjijikan. Tapi mau bagaimana lagi? Membuang sampah di laut adalah satu-satunya sistem pembuangan di abad ini. Kalau tidak ingin ada sampah yang mengapung? Tinggal diberi pemberat.

Semuanya tampak aman-aman saja, bahkan di mata pemerintah sekalipun. Hingga entah mulai sejak kapan―lautan kini berubah warna menjadi hitam. Tidak hanya hitam tapi juga berminyak. Bahkan pada daerah-daerah tertentu, laut mengeluarkan bau tidak sedap. Padahal Hayu ingat betul laut berwarna biru pekat dahulunya. Mungkin saat ia masih berumur enam atau tujuh tahun? Entahlah. Dia sudah lupa. Tapi Hayu yakin, laut tempat ia lahir dan besar ini, sempat berwarna biru dulu.

Ah, waktunya kembali ke kamar.”

Jika boleh jujur, Hayu sangat penasaran dengan kotak―ah, tidak hanya kotak tapi kamar barunya itu. Karena selain gudang berdebu, Hayu ingat, tempat itu sempat menjadi kamar neneknya sebelum pergi. Bukan pergi dalam arti kata meninggal dunia, melainkan pergi dari rumah kapal dan kependudukan kapal untuk menjadi Naturalis; si penginjak tanah.

Di abad 121 ini, kependudukan dibagi menjadi tiga: penduduk Mars, penduduk lautan, dan Naturalis. Tinggal di planet lain selain bumi kini bukan lagi mimpi siang bolong. Penduduk bumi berangsur-angsur meninggalkan bumi dan pindah ke planet Mars untuk memulai kehidupan yang baru. Di Mars, meskipun harus membawa masker oksigen kemana saja, kehidupan di sana sudah sangat modern. Semua orang dimanjakan dengan fasilitas mewah, canggih, dan memadai. Orang penting, idola, cendekiawan, dan orang kaya raya tinggal di sana. Namun tentu saja, membutuhkan uang yang sangat banyak untuk bisa tinggal di Mars. Oleh karena itu, banyak orang mati-matian memburu donasi dan beasiswa untuk dapat tinggal di sana.

Kemudian ada penduduk lautan, mereka adalah orang-orang yang masih tinggal di bumi namun hidup atas kapal. Kapal yang mereka huni tidak bergerak, diam di tempat, dan hanya berlayar ketika terjadi urgensi seperti badai besar. Karena rumah kapal yang dihuni tidak bergerak, masyarakat akan menggunakan kapal kecil atau kapal motor untuk bertransportasi antar satu kapal ke kapal lainnya.

Terakhir Naturalis, kaum paling rendah di kasta kehidupan saat ini. Semenjak kenaikan volume air laut yang terjadi berpuluh-puluh tahun yang lalu, hampir semua orang beralih untuk tinggal di atas kapal dan meninggalkan daratan. Dan Kaum Naturalis adalah orang-orang yang enggan meninggalkan daratan meskipun jumlah daratan saat ini sudah sangat sedikit―nyaris tidak ada. Kaum Naturalis disebut kaum tidak ingin maju, kotor, dungu, dan tertinggal. Memiliki anggota keluarga yang meninggalkan kapal untuk menjadi Naturalis seperti aib; harus disembunyikan sebaik mungkin. Logikanya, ketika sudah banyak orang sudah berpikir untuk tinggal di Mars, untuk apa memijak daratan lagi?

Seingat Hayu, ia masih berumur lima tahun ketika neneknya memutuskan untuk menjadi Naturalis dan meninggalkan kapal. Tidak ada seorangpun yang berusaha menahannya. Hayu yang saat itu masih sangat belia tidak punya hak suara apapun untuk menahan neneknya. Dan setelah kepergian sang nenek, tidak ada lagi yang membicarakan neneknya bahkan kedua orangtuanya sekalipun.

Bergegas menuju ke kamarnya, Hayu segera membawa kotak tersebut ke ruang tengah rumah kapalnya dengan senyum yang mengembang di bibirnya kala ujung jarinya membuka tutup kotak. Agenda membersihkan kamarnya masih bisa ditunda terlebih dahulu. Tapi, agenda membuka kotak peninggalan neneknya tidak boleh ditunda!

Meski samar, Hayu ingat neneknya pernah mengatakan kalau beliau dahulunya adalah seorang ahli geologi dan hewan. Begitu juga kakek buyut Hayu. Hal tersebut menjadikan neneknya pernah menjelajahi dunia dan tinggal di banyak tempat. Jujur saja, Hayu tidak mengerti betul maksud dengan perucapan ‘tinggal di banyak tempat’.  Karena sejauh ini, bahkan hingga sekolah tempat ia menimba ilmu, Hayu tidak mengenal tempat untuk berpijak selain di atas kapal.

Bagai menemukan permata yang berkilauan, pupil Hayu membesar melihat isi dari kotak tersebut. Ada berbagai ukuran hewan berbahan dasar kayu dan sebuah buku yang telah menguning. Perempuan itu ingat betul nama-nama hewan dari ukiran ini; gajah, badak, jerapah, macan, dan beruang. Mereka semua adalah hewan-hewan darat yang pernah menginjakan kaki di bumi sebelum punah. Tentu terdapat di kapal besar memiliki kebun binatang di sana. Hanya saja, hewan yang dikembang biakan di sana hanya hewan-hewan berukuran kecil dan sedang seperti kelinci atau zebra, sedangkan hewan berukuran besar akan ditampilkan secara virtual. Selain karena kapal yang tidak dapat menampung terlalu banyak berat dan memiliki kapal pengangkut tersendiri, sebagian besar dari hewan berukuran besar sudah terlebih dahulu punah sebelum manusia beralih untuk tinggal di atas kapal.

“Wah..” senyum di bibir Hayu semakin mengambang merasakan ujung jarinya menyentuh permukaan buku yang kasar.

Di zaman ini, produksi buku dan kertas sudah dihentikan. Semua kebutuhan tulis menulis, foto, dan sastra, dilakukan di gawai berteknologi tinggi. Membudidayakan tumbuhan, apalagi pohon berbatang besar, sangat sulit dilakukan di atas kapal meskipun teknologi sudah semakin canggih. Oleh karena itu, penanaman tumbuhan kini sangat difokuskan untuk memasok oksigen di bumi. Bagaimanapun juga manusia tidak bisa hidup tanpa oksigen bukan?

Membuka buku tersebut, Hayu menyadari bahwa buku yang neneknya tinggal itu bukanlah buku biasa. Ini buku jurnal. Lebih tepatnya jurnal dokumentasi perjalanan neneknya sewaktu beliau masih belia dan dunia masih memiliki daratan yang luas, dengan tulisan dan cetakan foto yang sengaja di tempel di setiap lembarnya.

Nafas Hayu tertahan merasakan goresan tinta pulpen yang merangkai kata-kata yang ditulis neneknya untuk mendeskripsikan perasaan juga foto yang beliau lampirkan. “Gurun pasir, 5 Juni 2024. Daratan berbalut pasir di mana tidak akan ditemukan apapun di sana selain pasir.” mata Hayu berfokus pada foto usang yang menampakan sang nenek di umurnya yang tampak masih remaja bersama dengan hamparan pasir luas. Hanya pasir, namun hati Hayu berdesir melihatnya.

Beralih pada lembar selanjutnya, Hayu menangkap sebuah foto pemandangan hutan lebat yang gelap. “Hutan Hujan Tropis, 18 September 2024. Tanah gambut, pepohonan rindang, volume hujan tinggi, dingin, dan menyegarkan. Aku berkali-kali tergelincir dan digigit lintah. Pengalaman yang sangat menarik.”

“Kutub Utara, 24 Desember 2024. Daratan es dan salju. Sangat dingin tapi aku bertemu dengan gerombolan penguin dan anjing laut. Untuk pertama kalinya aku melihat Igloo sungguhan!” Manik Hayu beralih pada foto di bawahnya. “Oslo, 30 Desember 2024. Untuk pertama kalinya aku melihat Aurora! Langit tampak berwarna-warni. Sangat cantik. Beruntung ayah membawa kamera khusus untuk mengabadikan aurora.”

Nafas Hayu tercekat. Ia membaca tulisan yang mendeskripsikan foto di ujung halaman. “Bukit Bintang, 23 Februari 2025. Di luar ekspektasi, ada hujan lebat saat berkemah. Tapi aku dan sepupu-sepupuku malah main hujan-hujanan hingga basah kuyup. Setelah hujan selesai, kita membuat api unggun dan melihat bintang.”

“Bintang…”

Ada seonggok rasa iri di hati Hayu mengetahui neneknya pernah hidup di jaman di mana orang-orang tidak akan takut dengan hujan. Tidak hanya jauh dari kata takut, namun malah sangat menikmati keberadaan hujan. Hayu tidak pernah merasakan namanya mandi hujan sebelumnya. Hujan sangat menyeramkan. Karena setiap terjadi hujan, rasanya akan sama dengan kiamat kecil karena laut menciptakan ombak yang menggulung tinggi; menggoyangkan bahkan menenggelamkan kapal-kapal.

Dan bintang… rasanya benda antariksa itu hanya fiksi. Tidak ada bintang di langit, hanya ada satelit yang berkelap-kelip dan roket yang membawa manusia ke Mars.

Hayu… ingin melihat semuanya!

Oleh karena itu, dengan segera, Hayu memasukan buku jurnal tersebut ke dalam tas. Melangkah cepat ke ruang tengah untuk menyalakan laser pengaman kapal, telunjuk Hayu menekan cukup lama tombol pesan suara yang akan secara otomatis akan terkirim ke gawai orangtuanya lalu berseru, “aku ke rumah kapal Janaka ya!” ucap Hayu kemudian segera menuju deck kapal, menaiki kapal motornya, lalu menekan tombol pada mesin pengangkut untuk menurunkan motornya ke laut. Menyalakan mesin kapal motornya, Hayu segera menancap gas menuju rumah kapal kawannya itu.

Jarak rumah kapal mereka sangat dekat sehingga tidak sampai membutuhkan waktu lima menit, Hayu sudah berada di samping rumah kapal besar milik kawannya tersebut. Tidak seperti rumah kapalnya yang menggunakan mesin pengangkut untuk menaikan kapal motornya, Hayu cukup menekan telapak tangannya pada kotak kecil di badan rumah kapal tersebut untuk membukakan gerbang garasi rumah di badan kapal tersebut—lalu melajukan kapal motornya ke dalam garasi tanpa takut air akan masuk atau menenggelamkan kapal berkat sistem otomatis dari rumah kapal canggih kawannya itu.

Memarkirkan kapal motorya, Hayu berseru kencang, “Janaka! Ja! Na! Ka!”

“Hei, diamlah. Aku tahu kau datang.” keluh laki-laki berbalut kaos putih dan celana olahraga panjang berwarna abu-abu yang melangkah turun dari tangga garasi rumah kapal dengan satu tangannya yang masih memegang stick permainan.

Itu Janaka!

Laki-laki itu merenggut malas, “kapalku sudah mendeteksi kedatanganmu sedari 10 meter sebelum sampai ke sini.”

Yah, namanya juga kapal tipe SS.

Dalam dunia rumah perkapalan, kapal akan dibagi menjadi 8 tipe; Tipe SSS, SS, S, A, B, C,  dan Z. Kapal SSS  adalah kapal fasilitas publik di mana sekolah, universitas, tempat perbelanjaan, dan tempat hiburan berada. Kapal SS adalah kapal rumah yang biasa dihuni oleh pemerintah, orang penting, dan orang kaya—di mana kapal tersebut akan difasilitasi dengan teknologi-teknologi canggih dan berukuran sangat besar. Kapal S, sebagaimana kapal rumah yang dihuni Hayu dan keluarganya, adalah kapal berukuran besar yang merupakan salah satu jenis rumah kapal mayoritas yang dimiliki banyak orang. Kapal A, B, C, dan adalah rumah kapal berukuran besar akan semakin mengecil seiring hurufnya. Terakhir yaitu kapal tipe Z di mana perkantoran, hutan lindung, cagar alam, perusahaan negara, bandara roket, peternakan dan perkebunan, dan pabrik berada.

Orangtua Janaka sendiri diketahui merupakan bagian dari pemerintahan lautan ini. Sehingga sangat tidak heran Janaka tinggal di rumah kapal tipe SS dengan fasilitas luar biasa canggih.

Janaka meringis sembari menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. “Kenapa datang? Tidak biasanya kau datang dengan tiba-tiba tanpa menghubungiku terlebih dahulu.”

Melepas kekehan kecil, Hayu melangkah menaiki tangga sembari senyum lebar yang sudah sangat tidak asing di mata Janaka Yah, bagaimanapun juga mereka sudah berkawan dekat sejak sekolah menengah pertama. Perempuan itu bersuara, “ada sesuatu yang ingin aku tunjukan.”

“Sebaiknya kau menunjukkan hal luar biasa keren padaku, Hay.” ucap Janaka sembari melangkah masuk ke dalam—mempersilahkan Hayu untuk ikut masuk ke dalam rumah kapalnya. Ia membuang nafas berat. “Aku menghentikan permainanku, di hari bersantai ku, hanya untuk menjamu kau yang datang tanpa berkabar lebih dahulu.”

“Aku jamin 100% kau tidak akan menyesal aku tunjukkan ini!” sahut Hayu yakin.

Memasuki area ruang televisi, Janaka mengambil duduk di atas sofa merah ruang tersebut kemudian mematikan layar televisi yang menampilkan grafik permainan yang ia mainkan—sebelum Hayu datang. Jarinya menekan layar kecil di meja kopi di hadapannya untuk mengeluarkan dua gelas minuman karbonasi lalu menyodorkan salah satunya pada Hayu. Ia melipat kakinya di atas sofa sebelum bicara, “ada apa?”

Hayu ikut mengambil duduk di sofa kemudian menyeruput minumannya sebelum bicara. “Sebelum ke topik utama, bagaimana kabar Kak Samba? Apa dia baik-baik saja di Mars?” tanya Hayu sembari mengalihkan perhatiannya pada LED berukuran besar yang menampakkan gambar bergerak potret keluarga Janaka yang berada di ruang televisi.

“Terakhir dia menghubungiku, katanya sembelit karena terlalu banyak makan berserat.” manik kelam Janaka ikut tertuju pada LED potret bergerak keluarganya. Dia tidak bisa mengelak, keluarganya tampak sangat bahagia di sana. Kebahagiaan terakhir keluarganya sebelum kakak tertuanya, Jayadrata, meninggal dunia. “Jika saja masih ada Kak Jaya di sini, Kak Samba pasti habis di ceramahi. Bukan begitu, Hay?”

“Iya, kedua kakakmu itu sangat bertolak belakang. Kak Jayadrata yang dewasa, rapi, tenang, dan penuh perhitungan. Kak Samba yang urakan, bebas, dan semaunya. Mereka sangat berbeda.”

Janaka tersenyum miris. “Akan tetapi, Kak Jaya yang lebih dulu pergi meninggalkan kita semua. Bukan untuk mengabdikan diri pada pemerintah atau semacamnya, tapi untuk menjadi Naturalis. Aku sangat menghormati Kak Jaya dan ingin menjadi seperti Kak Jaya. Tapi keputusan Kak Jaya satu itu, adalah satu-satunya keputusan Kak Jaya yang tidak bisa aku terima. Dia memiliki banyak potensial dalam hidup tapi membuangnya begitu saja hanya untuk menginjakan kaki di daratan? Sama sekali tidak masuk akal.”

Ah, seharusnya Hayu tidak bertanya soal keadaan Kak Samba jika seperti ini akhirnya. Seharusnya, Hayu langsung saja memperlihatkan jurnal neneknya dan menceritakan kisah singkat neneknya yang dulu pernah menjadi ahli geologi dan hewan. Karena bagaimanapun juga, buku jurnal milik neneknya ini, adalah buku tentang daratan. Buku yang menarik neneknya untuk kembali ke daratan meski dengan keadaan yang renta, buku yang sepertinya membuka pikiran mendiang Jayadrata untuk mengarungi lautan untuk mencari daratan sebelum akhirnya kapal yang ia tunggangi digulung badai.

“Jadi apa yang ingin kau perlihatkan?”

Kumohon, jangan marah Janaka…

Hayu mengeluarkan jurnal kekuningan neneknya dari dalam tas dengan raut penuh keraguan, menciptakan lipatan tipis di antara alis milik Janaka. Hayu menelan liurnya berat sebelum berucap, “aku menemukan buku jurnal dokumenter nenekku semasa beliau masih muda di gudang.”

“Benarkah? Wow, aku tidak pernah melihat buku sebelumnya.” Janaka mendekatkan dirinya pada buku tersebut; tertarik dengan isinya. Ia mengangkat kepala nya lalu bertanya, “ini journal dokumenter tentang apa?”

Perempuan dengan kecoklatan itu kembali menelan liurnya berat sebelum berucap, “tentang perjalanan nenekku yang mengelilingi dunia dan mendatangi banyak jenis tempat—daratan.”

Janaka bergeming; tidak bergerak, bereaksi, maupun bersuara. Hingga pada beberapa detik setelahnya, Janaka kembali membuka mulut. “Kau…”

“AKU MINTA MAAF!”

“Hah?” Janaka mengernyit bingung. “Kenapa berteriak sih?”

Hayu seketika mengerjap cepat. Manik coklat terangnya itu memindai raut wajah Janaka itu—dan di luar ekspektasinya—ia tidak menemukan raut emosi di wajah kawan baiknya itu. Benar-benar di luar ekspektasi. Hayu mengira, Janaka akan marah besar karena menunjukkan buku perihal daratan padanya. Tapi di luar sangka, Janaka tampak baik-baik saja dengan keberadaan buku itu, malah tampak penasaran sampai-sampai membawa buku kuning itu ke pangkuannya kemudian membukanya.

“Ini… buku tentang daratan bukan? Buku yang membuat Kak Jaya ingin menjadi seorang Naturalis?” ucap Janaka seraya membuka lembaran pada buku. “Daratan es? Kutub Utara? Igloo?” laki-laki itu menggumamkan isi dari tulisan di buku tersebut dengan mata yang terpaku pada foto Igloo dan penguin di sana.

“Daratan es sudah tidak ada bukan? Tempat itu sudah mencair beberapa puluh tahun lalu karena pemanasan global, membuat volume air laut meningkat drastis dan bumi tenggelam?” Janaka mengingat-ingat kembali hasil pelajaran geografi di sekolah. Perlu sedikit ditekankan, Janaka adalah salah satu murid paling pintar di sekolah meski memiliki nama sebagai ‘anak anggota pemerintahan’.

Jari laki-laki itu membuka halaman setelahnya. Keningnya kembali berkerut. “Hujan? Bintang?” Janaka terdiam sejenak. “Aku tidak pernah melihat bintang sebelumnya. Kak Samba bilang, kita hanya bisa melihat bintang di Mars. Dan hujan… tampaknya jauh menyenangkan di daratan karena tempat mereka berpijak tidak akan bergoyang hebat, bukan?”

Hayu memajukan tubuhnya kemudian berbisik, “kau tidak marah?”

“Untuk apa marah? Kau kira aku akan marah hanya karena buku yang menunjukkan daratan ini, huh? Dibandingkan marah, aku lebih penasaran kenapa isi di buku ini jauh lebih lengkap ketimbang yang kita pelajari di sekolah.” melepas nafas berat, Janaka menyandarkan punggungnya di sofa dengan mata menatap langit-langit rumah kapal. Hingga pada detik selanjutnya, laki-laki itu kembali menegakkan punggungnya lalu berimbuh, “bagaimana jika kita mencari daratan?”

Hah?!

Belum sempat Hayu bersuara, Janaka sudah lebih dulu membuka mulut. “Aku punya kapal tipe A hadiah ulang tahunku yang ke enam belas kemarin. Aku juga punya banyak persediaan makanan dan perlengkapan bertahan hidup. Ayo kita cari daratan yang dielu-elukan oleh Naturalis itu!”

Tunggu sebentar. Kening Hayu mengerut tebal. Tujuan Hayu membawa buku ini ke rumah kapal Janaka hanya untuk menunjukkan buku jurnal peninggalan neneknya. Bukan mengajak laki-laki itu mencari daratan. Astaga, Hayu tidak segila itu sampai-sampai ingin meninggalkan kapal dan menjadi Naturalis!

“Ka, jangan katakan kau ingin menjadi Naturalis?” Hayu berucap hati-hati.

Janaka menekan bibirnya sesaat. “Dibanding ingin menjadi Naturalis, aku lebih ingin mencari tahu kebenaran dari yang ditulis nenekmu dan mencari tahu sendiri daya tarik daratan yang bisa sampai membuat Kak Jaya kehilangan akalnya.” laki-laki itu melompat dari sofa. “Kau ikut?”

“Apa?! Tentu saja tidak! Bagaimana bisa aku—” mata Hayu bergetar. “Aku tidak bisa meninggalkan keluargaku begitu saja, Ka.”

“Tapi memangnya kau tidak penasaran?

Hayu mengeratkan bibirnya. Kalau ditanya apakah ia tidak penasaran dengan keberadaan daratan, tentu saja Hayu sangat penasaran. Jantungnya bahkan berakselerasi ketika maniknya pertama kali jatuh pada lampiran foto di buku. Keberadaan sisi dunia yang tidak pernah Hayu lihat atau resapi sebelumnya, benar-benar membuat perempuan itu penasaran setengah mati. Belum lagi dengan kemungkinan kecil di mana ia akan bertemu dengan neneknya di daratan nanti. Hayu benar-benar menginginkannya, tapi ia tidak bisa.

Dia tidak bisa meninggalkan keluarganya begitu saja.

“Tentu saja kau punya nyali di tubuhmu, bukan? Kau bahkan mengendarai kapal motor setiap hari di atas laut yang kedalamannya saja tidak terhingga!”

Perempuan itu menggigit bibirnya ragu. “Memangnya tidak apa-apa? Maksudku, orang tuamu dan orang tuaku? Memangnya mereka tidak mencari kita?”

“Mereka pasti akan mencari kita. Lebih tepatnya orang tuamu pasti mencarimu, sedangkan orang tuaku pasti tidak mengetahui anak bungsunya kabur dari rumah. Mereka tidak pernah pulang ke rumah kapal sejak satu minggu yang lalu.” ujar Jenaka dengan kekehan tipis. Terdapat setitik kesedihan di mata Janakan mengingat fakta absennya keberadaan orang tuanya. “Tapi apa peduli mereka? Jika mereka tahu kita ingin mencari daratan, mereka pasti akan melupakan keberadaan kita. Itu bukan lagi masalah besar, apalagi untuk orang tuaku yang bahkan seperti lupa masih memiliki anak yang menjadi penduduk lautan.”

Mengulurkan tangan kanannya pada Hayu, Janaka melempar senyum lebar pada kawan baiknya itu. “Ayo kita mencari daratan!”

Pilihan berat. Sebuah pilihan yang sangat berat bagi Hayu. Masa depannya di Mars, prestasi dan wajah yang dia susah payah bangun di sekolah, kamar barunya—semuanya akan sia-sia jika ia memilih untuk meraih tangan Janaka. Tapi keinginan untuk mengeksplorasi bumi yang tidaklah hanya lautan sebagaimana yang ia ketahui, keinginannya untuk menikmati hujan tanpa rasa takut, dan kemungkinan bahwa Hayu akan menyesali keputusannya di hari tua nanti karena tidak sempat melihat langsung daratan dengan kedua matanya sendiri—ah, sepertinya Hayu sudah dapat menentukan pilihannya.

Berdiri dari duduknya, perempuan berkulit kecoklatan itu melipat tangannya di depan dada. “Siapkan kapal juga persediaan makananmu. Kita akan pergi mencari daratan sekarang juga.”

“Ohoy! Siap kapten!”

Hanya itu, hanya dengan itu, Hayu memutuskan untuk melepas masa depannya yang cerah untuk pergi bersama Janaka; mencari daratan yang menjadi tujuan utama mereka. Kapal tipe A yang dimiliki Janaka, persediaan makanan yang dikalkulasikan dapat menyokong kehidupan mereka hingga satu bulan kedepan, perlengkapan bertahan hidup, GPS berteknologi tinggi, dan jurnal milik neneknya; Hayu membulatkan penuh keputusannya untuk meninggalkan pesan suara ke orang tuanya dengan deretan kata yang tidak pernah Hayu bayangkankan seumur hidupnya.

Ibu, ayah, Widi, Aku pergi. Aku akan pergi mencari daratan.

Membutuhkan waktu hampir satu bulan perjalanan. Melewati badai yang hampir menenggelamkan kapal mereka, melewati daerah terik yang hampir membakar kulit mereka, melewati malam-malam penuh kebingungan saat mata mereka tidak menemukan arah yang jelas dari GPS, melewati hari-hari di mana kehilangan harapan dan keinginan untuk melanjutkan perjalanan mereka mencari daratan. Pada hari ke-29 perjalanan, kapal mereka berhasil menepi di sebuah daratan. Bukan kapal lain maupun gletser, tapi daratan berpasir.

Bibir Hayu menganga lebar, seakan membiarkan serangga masuk ke dalam mulutnya. Pupil perempuan itu melebar sebagaimana ia menangkap pepohonan yang tumbuh di atas tanah berpasir. Dan ketika ia turun dari kapal dan melepas sandal yang ia gunakan, untuk pertama kalinya Hayu berpijak di atas pasir dengan gelombang air tipis yang menggelitik kakinya. Sensasi yang tidak pernah Hayu rasakan sebelumnya.

“Rasanya aneh. Rasanya seperti ada kotoran di kakiku, lembut, dan menyenangkan.” Janaka bersuara sembari menatap kedua kaki telanjangnya yang sesekali tersapu ombak. Laki-laki itu kemudian menggoyangkan tubuhnya kuat-kuat, melompat, dan menenggelamkan kakinya di dalam pasir. Manik laki-laki itu menyala. “Tidak bergerak! Ini daratan sungguhan!”

Suara pekikan tidak tertahankan keluar dari mulut Hayu dan Janaka. Senyum mereka mengembang tinggi hingga membuat mata keduanya menyipit sabit indah. Layaknya dua anak kecil yang baru saja dibelikan mainan yang diidam-idamkan, mereka melompat-lompat di atas pasir tidak peduli dengan cipratan air yang akan membasahi pakaian mereka. Mereka benar-benar berhasil!

“Kita menemukan daratan, Janaka!” Hayu memekik girang.

“Kak Jaya! Jenaka menemukan daratan!” Jenaka berteriak pada langit, seakan ingin memberitahu mendiang kakaknya bahwa ia berhasil mencapai tujuan kakaknya tersebut.

Di tengah sayembara mereka, tiba-tiba saja seorang pria dengan jenggot tebal muncul dari balik pepohonan. Pria itu menaikkan topi yang ia kenakan kemudian menyipitkan mata ke arah dua remaja itu.

“Kalian penduduk lautan?” sahut pria itu itu yang segera menarik kesadaran Hayu dan Janaka ke tubuh mereka. Kedua remaja itu sontak melebarkan mata, terlebih lagi setelah melihat gunting besar di tangan kanan pria asing itu. Oh tidak. Namun seakan sadar dengan tatapan waspada kedua remaja di pinggir pantai itu, pria berjenggot tebal itu segera tertawa dan melambaikan tangannya. “Tidak perlu khawatir, anak muda! Ini gunting rumput. Aku dan penduduk lainnya sedang melakukan bersih-bersih pulau!”

Pria itu tersenyum lebar. “Namaku Narada. Aku penduduk asli sini.” Narada memperkenalkan dirinya sebelum berimbuh, “kalian pasti penduduk lautan yang tersesat bukan? Astaga, kalian masih sangat muda. Mari ikut ke rumahku, aku yakin istriku menyediakan makanan enak untuk kalian berdua.” ucapnya kemudian membalikkan badan, seakan menunjukkan jalan untuk Hayu dan Janaka.

Hayu dan Janaka… tidak pernah ada di posisi ini sebelumnya. Posisi di mana orang asing dengan begitu baik hatinya mengajak mereka untuk datang ke huniannya. Terlebih lagi mereka berdua masih ingat betul hal utama yang orangtua mereka ajarkan ketika menemui orang asing yang dengan sangat baik hati, ingin menjamu mereka.

Lari!

Rungu keduanya beriak meminta kedua remaja itu untuk lari sejauh-jauh mungkin. Namun apa yang dibisikan di rungu dan apa yang tungkai mereka lakukan berbanding terbalik. Hayu dan Janaka dengan senang hati mengekori Narada yang terkekeh geli menyadari kedua remaja itu yang menenteng sandal mereka; berjalan dengan kaki telajang.

“Kaki kalian bisa sakit kalau berjalan seperti itu. Ada banyak batu di tanah.” ucap Narada diiringi tawa. “Tapi kalian anak muda pasti suka sekali melakukan hal-hal yang menantang. Haaahh, aku sudah terlalu tua untuk melakukan hal seperti itu.”

Di tengah-tengah perjalanan menuju rumah—bukan kapal—Narada, Hayu menyadari bahwa daratan yang mereka pijaki akan berubah tekstur seiring masuk ke dalam daratan luas yang disebut oleh Narada sebagai pulau. Ketika di pinggir laut tadi, daratannya adalah pasir coklat terang. Seiring masuk ke dalam pulau, daratannya akan berubah semakin gelap dan lembab, bahkan subur akan rumput, hingga mengotori kaki perempuan itu. Tidak hanya itu, Hayu pun menyadari bahwa daratan tempat yang ia injak semakin menanjak dan udara di sekitarnya semakin dingin seiring langkah kakinya.

“Jadi anak bapak sudah sudah dewasa?” tanya Janaka pada Narada. Laki-laki itu memang mudah sekali membuka pembicaraan dan membuat ikatan pertemanan dengan sekitarnya.

Narada mengangguk cepat. “Aku punya tiga anak, dua laki-laki dan satu perempuan. Ketiganya meninggalkan aku dan istriku untuk tinggal di laut dan—uhh, tinggal di Mars?”

Ah, ternyata bukan hanya penduduk lautan yang berambisi untuk tinggal di Mars. Naturalis—tidak, penduduk daratan pun juga juga memiliki ambisi yang sama dengan penduduk lautan. Mereka sama-sama ingin pergi ke Mars.

“Nah, ini rumahku.” Narada menunjuk rumah kayu di tengah-tengah kebun yang diselimuti oleh kabut. Melangkah cepat menuju teras rumah tersebut, Narada terkekeh pelan sebelum membuka pintu. “Maaf jika di daerah sini cukup dingin. Banyak pepohonan, tempat yang tinggi, dan sedang musim penghujan membuat daerah ini semakin dingin. Apalagi saat malam.”

Mata Hayu dan Janaka menyala terang melihat isi rumah Narada yang kental akan ornamen kayu—dan terasa sangat berbeda dengan interior pada rumah kapal yang biasanya yang berputar pada minimalis atau klasik. Di luar sangka mereka, Narada memajang banyak sekali foto tua, piagam, lukisan, bahkan ukulele di dinding.

Mata Hayu tertarik pada piano kayu tua di ujung ruangan. “Pak Narada, itu piano milik bapak?”

“Tentu saja! Itu peninggalan ayahku dulu. Dia seorang musisi dahulunya. Darah musiknya turun padaku jadi sebelum pensiun pun aku sempat menjadi musisi dulu.”

Piano klasik. Piano yang terbuat dari kayu, bukannya layar digital apalagi plastik sebagaimana yang Hayu temukan selama ini. Di tempat ia berasal, produksi alat musik dari kayu dibatasi untuk mengurangi penebangan kayu. Tapi di daratan ini, semua orang bebas menggunakan kayu. Semua ini… benar-benar baru bagi Hayu.

“Wah, ada siapa ini?” sapa seorang wanita dengan rambut putih dengan panci di kedua tangannya. Menaruh panci tersebut di atas meja, wanita itu menegakkan tubuhnya sedikit. “Kau tidak menculik mereka ‘kan, Narada?”

Pria berjenggot tebal itu terbahak. “Mana mungkin, Sri. Meskipun aku sangat rindu keberadaan anak kecil di rumah kita, aku tidak akan sampai menculik orang.” jelas Narada. “Aku menemukannya di pesisir. Mereka berteriak kencang, jadi awalnya kupikir mereka sedang dalam masalah. Ternyata mereka penduduk lautan yang tersesat.”

Sri, istri Narada, menepuk tangannya tidak percaya. “Astaga! Kalian tersesat? Astaga, kalian bahkan tampak masih sangat muda di mataku. Berapa umur kalian?”

Hayu mengulum bibir. “Enam belas tahun.”

Sri mengerang takut. “Astaga, kalian pasti ketakutan dan kelaparan bukan? Sini sini. Duduk di kursi dan makan sup labu buatanku.” ajak Sri seraya menarik kursi-kursi di meja makan. “Kalian ingin teh? Aku baru saja panen pagi ini.”

Mengambil duduk dari kursi yang disediakan oleh Sri, Hayu dan Janaka bertukar pandangan canggung. Mereka pasti tidak salah lihat. Akan tetapi, mata mereka tidak bisa berbohong bahwa di dalam teko bening di atas meja itu, terdapat dedaunan yang direbus hingga mengeluarkan warna coklat pada air, yang disebut sebagai teh oleh Sri. Err, seumur hidup mereka, teh terbuat dari bubuk yang diseduh dengan air panas.

Tapi daun…

“Ayo, silahkan. Minum teh nya. Jangan sungkan. Apa perlu aku beri madu?” ucap Sri seraya menyodorkan dua cangkir teh pada Hayu dan Janaka.

“Tidak perlu. Biar langsung aku minum.” ucap Janaka kemudian menyeruput teh panasnya. Membuat Hayu seketika membulatkan matanya, tidak percaya dengan apa yang dia lihat sekarang, dan semakin membulat kala ia menemukan raut puas dari wajah kawannya itu. “Ini enak sekali! Teh paling nikmat yang pernah aku rasakan sebelumnya!”

Apa?

Ingin memastikan ucapan Janaka, Hayu segera menyeruput tehnya lalu mengerjap saat cairan panas yang menyirami tenggorokannya itu. Perempuan itu ikut berseru, “ini nikmat sekali!”

Senyum puas tergores di wajah Sri. “Benarkah? Kalau begitu coba sup buatanku. Aku yakin kalian akan menyukainya.”

Obrolan demi obrolan saling terlempar di antara mereka, begitu pula dengan gelak tawa diantara keempatnya. Suatu hal yang tidak pernah disangka baik oleh Hayu maupun Janaka, namun mereka menemukan kehangatan bagai keluarga di keluarga Narada beserta istrinya. Obrolan demi obrolan terjalani, Janaka dan Hayu mengaku bahwa mereka adalah penduduk lautan yang sengaja meninggalkan keluarga mereka demi menemukan daratan sebagaimana yang dituliskan di jurnal nenek Hayu juga cita-cita dari mendiang Jayadrata. Narada dan Sri pun ikut bercerita bahwa volume air yang semakin tinggi membuat daratan semakin sulit untuk dicari dan semua itu berakar dari pemanasan global yang menggila sejak beberapa puluh tahun terakhir.

Sri menjelaskan bahwa polusi udara berlebih, gas karbon monoksida berlebih, pembakaran hutan, dan sampah, adalah sebagian kecil dari penyebab dari panasnya suhu bumi saat ini yang berdampak dengan naiknya volume air di muka bumi ini. Daratan es yang dulu dielu-elukan, kini hanya menjadi cerita.

Di tengah obrolan mendalam mereka, tiba-tiba saja hujan turun begitu derasnya. Bukannya berlindung atau melihatnya dari balik jendela, Hayu dan Janaka segera berlari ke luar rumah—merasakan sendiri bagaimana rasanya hujan menghujami tubuh mereka. Tidak ada rasa takut air gelombang laut akan menenggelamkan tubuh mereka, tidak ada rasa pusing tempat mereka berpijak tidaklah bergoyang hebat. Hanya hujan, tetesan air yang jatuh dari langit yang membasahi tubuh mereka.

“Ini menyenangkan!” Hayu berseru, mendongakkan kepalanya ke langit, merasakan air hujan yang memijat wajahnya.

“Hay, dengarkan aku.” ujar Janaka dengan rambutnya yang sudah basah sempurna. “Ayo kita tinggal di daratan. Jangan pulang ke kapal.”

Lagi-lagi, suatu hal yang tidak pernah Hayu bayangkan sebelumnya. Janaka mengajaknya untuk tinggal di daratan. Dan tidak pernah Hayu bayangkan pula, ia akan mengangguk cepat menyetujui ajakan kawannya itu. Tinggal di daratan tidaklah menyeramkan  sebagaimana orang-orang ceritakan. Di sini, mereka merasa aman.

“Yah, sepertinya tidak ada cerita yang menarik di laut bukan begitu?” Hayu terkekeh geli. Kakinya melangkah mundur hingga tanpa sengaja, ia menginjak sebuah tunas pohon kecil. Perempuan itu seketika panik. “Bagaimana ini?! Aku membunuh pohonnya!”

“Hah?” Janaka memperhatikan tunas itu sejenak sebelum akhirnya berucap, “kau hanya menginjaknya. Tidak parah kok. Dulu aku pernah membaca jika terjadi seperti ini, kau hanya perlu menanamnya kembali.” telapak laki-laki itu kemudian memberdirikan kembali tunas pohon tersebut, lalu membelinya sedikit tanah di bawahnya agar dapat berdiri tegak sebagaimana mestinya.

 Janaka tersenyum bangga pada pohon tersebut kemudian berucap, “Kau benar, Hay. Tidak ada cerita di laut. Hanya ada cerita di daratan.”

-SELESAI-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *