Cerpen #343; “Dari Nolak Jadi Gila”

“Itu sih Nino ngeselin banget sih! Dibilang juga gak ngerti, ditegur marah balik sama aku. Dasar gak tahu diri!” gerutu Fia sambil menghentak-hentak kakinya bak anak kecil yang tidak dikasih permen. Mia yang merupakan kembaran nakal dan usilnya menatap sekejap lalu tertawa.

“Lah masalah cowok nih, gak bakal kelar nih. Kenapa si Nino? Bikin lu baper terus dia ngilang gitu?” tanya Mia sengaja yang membuat tangan Fia makin panas.

“Ciee…korban ghosting nih. Hahaha,” timpal Bintang yang membuat satu kelompok tertawa.

“Untung kalian teman, kalau gak udah aku sepak beneran,” balas Fia keras. Mereka semakin menguatkan gelak tawa dan Fia tidak menghiraukan itu. Dia hanya kesal dan makan makanan ringan di tangannya.

“Bagi dong, pelit amat sih. Padahal katanya teman tiba makan solo,” ledek Bintang yang membuat Fia semakin tidak peduli.

“Kenapa, Beb?” tanya Mia yang sekarang sudah serius dalam menanggapi permasalahan Fia.

“Noh si cowok kaya tapi pelit terus sok lagi, aku kasih tahu malah sok kasih tahu balik ke aku. Kayak iya banget aja dia,” balas Fia yang membuat Bintang geleng kepala.

“Kan kau tahu kalau si Nino memang gitu. Ngapain juga kau kasih tahu? Susah tahu ngasih tau ke dia. Dari dulu aku aja udah malas ngomong sama dia, gak mudah kalau ngubah pandangan dia. Kamu aja yang cari mati,” jawab Bintang yang disambut anggukan kepala oleh Mia.

“Kamu aja yang gimana, gak usah kasih tahu sama anak itu. Ngeyel tahu gak dia,” balas Mia.

“Terus kan aku volunteer gak mungkin aku diam. Di mana integritasku?” tanya Fia yang membuat temannya mati kata.

“Ya udah, coba aja. Lagian kamu ngapain marah? Yang penting kamu udah usaha,” ucap Bintang yang selalu lebih keren dalam menenangkan keadaan panas.

Fia memang punya banyak masalah dengan Nino, semenjak SMP. Fia selalu berusaha memaksa keadaan yang mencintai lingkungan kepada Nino. Nino sendiri justru menganggap itu adalah sebuah lelucon. Nino bukan hanya punya banyak uang sehingga tidak banyak yang berani sama dia. Selain itu, dia juga ketua OSIS yang membuatnya semakin berwibawa.

“Ada saran untuk event kita nanti?” tanya Nino memimpin rapat. Tidak ada yang menjawab, mereka hanya saling pandang lalu menganggap bahwa Nino adalah angin.

“Gak ada?” tanya Nino lagi dan keadaan masih mengheningkan cipta. Semuanya diam, bagaikan mulut yang diisolasi dan direkatkan dengan lem.

“Aku ada.” Semua mata kali ini berputar ke tengah dan tengah mendengarkan seseorang yang lantang berpendapat. Nino melihat lalu berkata, “Apa?”

“Kita angkat krisis iklim dan generasi masa depan sebagai tema di acara kita kali ini. Gimana? Setuju gak nih?” tanya perempuan yang mengikat rambutnya selalu seperti anak-anak. Nino yang sebenarnya ingin menolak malu melakukan itu karena hampir semua anggota dan pengurus mengangkat tangan mereka tanda setuju. Mau tidak mau, Nino harus menerima keputusan rapat dan melakukannya dengan penuh tanggung jawab.

Setiap hari berlalu dengan persiapan menuju ke acara yang akan diselenggarakan dalam waktu 3 hari lagi. Semua anggota OSIS saat ini meletakkan perhatian dan tenaga di acara bulanan ini. Nino yang sangat malas pada awalnya memang tidak mau, tapi demi kharisma dan wibawa dirinya, dia wajib melaksanakan tugas.

“Nino!” teriak sebuah suara yang mengagetkan. Teriakan itu hampir saja membuat siomay kesukaan Nino jatuh ke lantai. Nino tidak peduli, yang penting siomaynya tidak jatuh.

“Ya?” jawab singkat sambil menikmati kegurihan saus kacang di lidah. Wanita yang berjalan mendekati Nino tampaknya mulai mendengus kesal. Dia tidak tahu harus bagaimana lagi agar ketua yang disanjung di dalam sekolah itu bisa berubah. Padahal di luar sekolah sifatnya lebih parah dari anak SD bahkan TK atau PAUD.

“Ketua yang saya hormati, apakah Anda lupa dengan tugas Anda?” tanya wanita itu yang terkesan menyindir. Nino hanya tertawa lalu lanjut makan siomay.

“Anda tidak dengar?” tanya wanita itu lagi. Kali ini, dengan nada yang cukup tinggi, Nino menatap wanita yang suka mencampuri urusan orang lain.

“Iya?” tanya Nino polos mencoba menahan tawa. Dia tidak boleh marah karena itu akan menghilangkan wibawa dari suara dia. Nino melahap semua siomay, itu hanya alasan untuk menahan tawa.

“Kamu lupa ya sama tugasmu? Mencintai alam, alam, dan alam.”

“Nggak kok, aku cuma mau makan siomay aja. Memangnya salah?”

“Kalau mau makan boleh aja, tapi jangan pakai plastik. Pakai kotak makan kan bisa, gak harus plastik kan?”

“Gak bawa.”

“Udah ah, susah ngomong sama kamu. Aku laporin nanti, tengok aja.”

“Bentar, iya deh. Aku nurut. Dasar kepo!” Kalimat terakhir yang terucap sebelum Nino berjalan pergi dan menyisakan wanita cantik dan baik itu sendiri di sana. “Kalau gitu, dia ganteng juga,” kata wanita itu tidak sadar dan entah kenapa kalimat itu bisa keluar dari dalam mulutnya.

Tibalah hari pada acara puncak di mana banyak orang yang menyaksikan acara ini. Sebuah acara yang diharapkan mampu mengubah pandangan orang terkait masalah lingkungan. Ketua OSIS mengambil posisi untuk memberikan arahan dan tujuan dari acara ini.

“Yang kita ketahui saat ini adalah saat di mana krisis iklim menjalar di seluruh bumi. Kita harus mempertimbangkan ini semua dalam kehidupan kita. Anak cucu kita adalah taruhan jika kita terus mempertahankan keadaan krisis ini. Menurut para ahli, jika krisis iklim terus terjadi maka yang menjadi korban adalah ketika waktu menunjukkan tahun 2050. Di sana, kita semua akan melihat bagaimana panasnya dan hancurnya dunia. Selain itu, jika kita tidak mencegah krisis iklim, maka ke depannya akan sangat sulit. Krisis pangan, penyakit yang beredar, bahkan pandemi pun akan terjadi. Ini semua karena krisis iklim. Apakah Anda tega melihat anak atau cucu Anda menderita?” tanya Nino.

“Kok Nino ngomong kayak gitu?” tanya Bintang.

“Iya, kan skrip kemarin gak gitu. Ini aneh,” sambung Mia.

“Iya, aku juga gak nyangka. Salah minum obat kali atau kepalanya ketabrak pintu tadi,” timpal Fia sambil menatap teman-temannya.

“Mungkin,” jawab Mia. Mereka kembali fokus karena ada Pak Rian yang merupakan kepala sekolah sekaligus ketua yayasan sekolah.

“Saudara saudari yang saya kasihi, jika Anda menang sayang dengan anak atau cucu kalian, janganlah malas. Kita jaga bumi, jaga alam, jaga semuanya dari krisis yang memang hanya pada awalnya adalah krisis iklim. Namun, lambat laun akan menjadi krisis multidimensional. Jangan sampai anak dan cucu kita tidak dapat lagi merasakan apa itu udara segar, makanan yang sehat, tidak dapat lagi berwisata ke mana mana karena cuaca yang tidak menentu.”

“Masa depan generasi kita berada di tangan kita semua, kalau Anda ingin anak menderita silakan lakukan apapun yang Anda suka. Namun, itu cukup kepada keturunan Anda. Yang mau serius menyelamatkan bumn, maka kita angkat tangan kita saling membantu menjaga bumi dari kerusakan orang yang tidak berakal. Jadilah agen yang mengubah dunia, dengan hal yang kecil sekalipun. Janganlah jadi beban jika Anda tidak punya hal yang bisa memberikan jawaban untuk masa depan.” Acara berjalan dengan sangat baik dan berakhir dengan indah seperti yang ada dalam cerita rekayasa.

“Bro, lu keren banget. Perasaan kemarin gak ada kayak gitu latihan,” ungkap Vino sambil menepuk pundak Nino.

“Iya, soalnya gue baru hafal tadi lagi. Baru dapat ide,” kata Nino yang membuat Vino semakin salut sama kawan tunggalnya ini.

“Sebenarnya, gue itu salut ama Fia. Dia sederhana, tapi hatinya mulia. Gua yang bapak gua aja bos, gua gak kepikiran sampai situ.”

“Nino, bentar. Gak kepikiran apa?”

“Gini, pas itu gua lagi makan siomay. Terus dia datang negur gua. Gua diamin tapi dia masih aja ngoceh. Terus pas gau pergi, gua lihat ke belakang. Dia kutip sampah abis itu dia pilih satu satu. Dia gak peduli mah kotor apa gak, gua lihat dari jauh. Gua jadi malu, Bro, gua aja gak pernah segitunya serius. Gua lihat dia itu peduli banget, di situ gua baru mulai cinta sama alam.”

“Gak kayak biasanya seorang cewek bisa ngubah pandangan lo. Tumben si Fia bisa? Lo suka ya sama dia?”

“Mau bilang suka nggak sih, cuma salut aja sama dia. Tapi dia itu tipe wanita yang gua suka. Cantik, elegan, dan serius. Dia juga berani dan pintar, jadi kurang lebih bisa dipertimbangkan.”

“Terus lo mau ngejar dia?”

“Rencana gua.”

“Yakin?”

“Iya, tapi gua harus ubah sikap gua dulu. Kalau gua galak kayak gini dia bakal jauh. Gua harus cinta sama alam. Gua harus cinta lingkungan dan peduli sama orang sekitar supaya dia tahu kalau gua berubah demi dia.”

“Inilah hebatnya cinta. Bisa mengubah orang dengan cepat.”

“Gua sekarang percaya sama lo, Vino. Cinta memang luar biasa.”

“Semangat, Bro, lo gua dukung habis.”

“Siap.”

Sadar bahwa dia tidak sempurna, Nino mulai membudayakan hidup sehat di rumah dan perusahaan ayahnya. Dia mengubah nasi kotak menjadi makanan yang dimasak langsung. Dia juga tidak segan-segan menerapkan sistem hukuman bagi yang makan dengan plastik atau sesuatu yang dibenci alam. Dia juga mewajibkan pembantu dalam rumah untuk tidak membuang makanan. Bahkan di sekolah sekalipun, Nino tidak lagi jajan. Demi cinta dan pujaan hati, dia rela makan masakan rumah setiap hari dan membawa bekal.

“Tumben Nino gak pernah jajan,” ungkap Mia yang memang sengaja memilih tempat duduk di samping Nino. Hitung hitung namanya cuci mata.

“Iya, biasanya paling sering. Pakai bawa bekal lagi,” cerocos Fia.

“Ada yang gak beres nih,” jawab Mia sambil disertai anggukan Bintang.

“Apa maksudnya ya?” tanya Mia.

“Suka sama Fia kali,” balas Bintang yang membuat Fia tersendak.

“Apaan?” balas Fia.

“Bisa jadi,” ungkap Mia.

“Maksud kalian apa?” tanya Fia polos.

“Nggak ada,” jawab Mia.

“Kamu suka sama Nino?” tanya Bintang langsung.

“Apaan?” jawab Fia mencoba membersihkan bibirnya.

“Yakin?” Mia hanya menatap diam dan mendengarkan kedua sahabatnya. Tidak lupa matanya melirik Vino.

“Bener.”

“Kayaknya Nino berubah demi kamu dan kamu kayaknya juga suka lirik dia.”

“Mungkin dia udah sadar, terus kalau aku duduk sini kalau gak nengok sana mau tengok ke mana?”

“Bener juga tuh, Tang,” sambut Mia dengan anggukan kepala.

“Udah 4 minggu, Bro. Lo sanggup gak jajan?” tanya Vino kepada sahabatnya yang berjuang.

“Kalau Fia sanggup kenapa gua nggak?” tanya Nino yang kurang lebih menentang.

“Iya sih, eh, dari tadi mereka lihatin lo mulu,” ujar Vino yang membakar semangat Nino.

“Serius lo?”

“Iya.”

“Baguslah kalau gitu.”

“Semangat, Bro.”

Dengan rasa yang terus bergejolak, Nino mulai melaksanakan semua yang ada dalam pikirannya. Ini adalah enaknya orang kaya, kalau digunakan dengan maksimal maka akan sangat berguna bagi banyak orang. Nino yang tidak tahu apa-apa akhirnya meminta bantuan Fia dengan segera ketika dia punya rencana.

“Menurut lo gimana?” tanya Nino langsung.

“Bagus sih, tapi ada yang kurang,” jawab Fia.

“Apanya yang kurang?” tanya Nino penasaran sekaligus menambah ilmunya.

“Kalau krisis iklim itu kan mengancam masa depan anak muda, orang tua, dan paling parah adalah masa depan generasi yang akan datang. Jadi, kalau misalnya kamu mau membuat sesuatu itu harus mengajak anak muda demi masa depan mereka juga. Contoh, kamu mendapatkan banyak orang dari usaha kamu ini. Menurutku, belum milenial. Kamu harus jadi lebih milenial lagi supaya banyak yang suka. Kan itu konsepnya.”

“Gak paham.”

“Gini loh. Kamu itu harus ambil kesempatan milenial. Ingat kalau incaran kamu itu anak milenial karena mereka adalah agen penggerak. Kamu harus fokus sama tujuan mereka, jangan fokus ke yang lain. Jadikan anak muda sebagai ujung penggerak dan pengubah masa depan.”

“Contoh?”

“Gini loh. Susah ya ngomong sama kamu. Sekarang lagi banyak yang apa itu namanya semacam hoodie atau gaun. Nah sekarang style hoodie itu kamu gunakan untuk memasukkan unsur perlindungan krisis iklim. Terus sekarang kan gaun yang selutut kamu masukkin unsur krisis iklim seperti selamatkan bumi atau jaga bumi demi anak kita nanti. Ikuti tren lah. Gimana sih?”

“Maaf. Kalau gua ngerti, gua gak bakal nanya.”

“Iya, maaf. Aku gak maksud marahin kamu.”

“Makasih ya.”

“Iya. Tapi sekarang kok kamu peduli?”

“Karena gua lagi perjuangin seorang perempuan yang suka banget sama isu ini.”

“Cie…tumben?”

“Apanya?”

“Kalau gitu, cewek itu hoki banget.”

“Iya, memang hoki dia.”

“Siapa?”

“Kepo!”

“Ayolah!”

“Mau tahu?”

“Mau!”

“Nanti malam aku jemput kamu, biar aku tunjukkan.”

“Jalan kaki?”

“Pakai motor.”

“Nggak ah, aku maunya jalan kaki.”

“Jauh loh rumahku.”

“Pakai sepeda.”

“Capek.”

“Issh…ya udah deh.”

“Janji ya?”

“Iya. Yang penting kamu itu gak aneh aneh sama aku.”

“Tenang aja nanti tempatnya ramai kok.”

“Jaminannya apa?”

“Nyawa aku.”

“Ok kalau gitu.”

Malam berlalu dengan sangat lambat dan Fia pun mengikuti Nino ke suatu tempat yang memang ramai. Ternyata, Nino tidak berbohong. Dia membawa Fia ke tempat yang penuh dengan orang serta sampah plastik yang sangat banyak. Fia tidak tahu kenapa Nino membawanya ke sini, semacam tempat pengolahan limbah.

“Loh kok ke sini?”

“Napa?”

“Katanya mau lihat cewek kamu.”

“Bentarlah.”

“Ini tempat apa?”

“Mau tahu?”

“Mau.”

“Ini adalah tempat pengolahan limbah plastik jadi barang berharga dan bernilai. Tempat ini milik bokap gua.”

“Oh…jadi ini tempat pengolahan limbah. Baik banget ayahmu, gak kayak kamu.”

“Apa?”

“Ayahmu baik, kamu jahat.”

“Sotoy lo. Ini gua yang bangun.”

“Beneren?”

“Iya. Cuma pakai duit bokap gua.”

“Yakin?”

“Iya.”

“Kok kamu kebayang buat bangun kayak ginian?”

“Gua mikirnya karena banyak yang nganggur gua bangun gini supaya mereka kerja. Selain itu bisa kurangi sampah di alam. Kan lo bilang kalau kita harus ngincar yang milenial, lo lihat itu casing hp dari plastik. Canggih gak?”

“Memangnya bisa?”

“Bisalah.”

“Caranya?”

“Gua impor mesin dari luar terus gua buat pakai plastik. Lama sih jadinya tapi ya yang penting jadilah. Itu aja yang aku pikirin.”

“Tumben pintar?”

“Dari dulu.”

“Keren loh. Canggih gitu.”

“Indonesia yang gak nyadar potensi itu. Pemerintah itu terlalu fokus sama hal yang gak penting. Mereka lebih mengutamakan kepentingan pribadi daripada bersama. Kayak sampah, Indonesia kan banyak. Harusnya bisa diolah jadi uang. Untung aja UMKM sekarang dilindungi.”

“Iya sih, mereka harusnya fokus kepada alam. Karena kalau alam kita rusak berarti semuanya rusak dong ya kan?”

“Yoi.”

“Pemerintah terlalu fokus dengan pembangunan yang berkelanjutan tanpa menghiraukan alam. Mereka terlalu egois.”

“Tapi gak semuanya salah mereka. Masyarakat pun salah, harusnya mereka juga banyak ambil andil dong sama masalah ini.”

“Iya sih, pokoknya kalau gak ada kerja sama pasti gak ada hasil deh.”

“Setuju.”

“Cewek kamu mana? Gak kelihatan, jangan-janhan dia bos ya?”

“Udah siap buat temui dia?”

“Udah dong. Kan kamu yang gugup bukan aku.”

“Kamu lihat ini?” Nino menunjuk seisi ruangan yang sudah dihias dengan dekorasi cinta. Mata Fia langsung terpana, dia tidak pernah nyangka kalau Nino seromantis ini sama pacarnya. Fia hanya bisa berilusi untuk mendapatkan pacar sekatya sekaya ini.

“Bagus amat.”

“Aku buat untuk cewek aku dan semua dari plastik.”

“Serius? Ini lambang cinta dari plastik? Terus bunganya dari plastik? Potnya? Itu yang kamu gantung plastik juga?”

“Iya.” Tidak pernah ada dalam hidup Fia bisa bertemu dengan cowok yang begitu baik sama pasangannya. Semuanya dibuat dari plastik dan ini membuat Fia terpesona habis.

“Cewekmu mana?”

“Kamu.”

“Ha?”

“Kamu adalah cewek yang aku perjuangin.”

“Kamu belum punya pacar?”

“Belum. Aku sayang sama kamu dan selama ini aku berubah demi kamu.”

“Beneran?”

“Krisis iklim boleh datang, ancaman boleh melanda. Tapi cintaku ke kamu takkan goyah walau bumi terbelah. Fia, aku sayang sama kamu. Maukan jadi pacarku?” Fia menatap senyum, dia melihat Nino dan dia tidak menyangka kalau dia adalah wanita yang dimaksud. Fia mengangguk dan itu adalah semuanya bagi Nino. Usahanya tidak sia-sia, semuanya jaya dan udang indah pada waktunya.

“Krisis iklim dan cinta, keren ya.”

“Iya dong, Nino. Sama dengan alam, kalau kita pakai hati buat ngertiin mereka, pasti mereka berseri.”

“Sayang aku paling pintar.”

“Sayangku juga.”

“Udah ah, pulang yuk.”

“Yuk.”

“Makasih ya udah ajarin aku tentang alam.”

“Makasih udah ajarin aku cinta.”

“Sama-sama.”

“Sama-sama juga.” Mereka berdua tertawa dan menghabiskan malam hingga sampai ke rumah. Melihat pasangan ini membuat alam berseri. Harusnya semua pasangan seperti ini, cinta antara manusia tidak lupa cinta dengan alam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *