Cerpen #342; “Teror di Hari Bumi”

Sudah puluhan kasus kebakaran terjadi. Kejadian itu juga memakan banyak korban, juga merugikan banyak hal. Pasalnya kebakaran kebanyakan berasal dari pabrik-pabrik besar. Hal itu juga di susul oleh toko-toko besar yang menjual alat transportasi, seperti mobil dan motor.

Tak hanya itu, beberapa kali juga tempat seperti pom bensin mengalami beberapa kerugian. Caranya berbeda dengan yang sebelumnya, pelaku memilih menjebol tangki bensin agar bocor.

Banyak CCTV terpasang di setiap tempat kejadian. Namun pelaku terlalu pintar menyembunyikan jejaknya, tim penyidik sampai kewalahan karena hal ini. Entah sampai kapan hal ini dapat berhenti.

Teror, kejadian ini sudah seperti teror bagi pabrik, toko dan pom bensin yang ada.

Di samping itu, masalah bertambah di salah satu sebuah kantor polisi. Ristella, entah berapa jam wanita itu bertengkar dengan rekan timnya.

“Aku hanya ingin kau menjawab kau dari mana?!” Ristella membentak, sempat ia menggebrak meja yang ada di hadapannya.

Joy, lelaki berbadan kekar itu menghela nafas untuk ke sekian kalinya. “Aku sudah bilang, aku ada urusan pribadi. Perlukah kau mengetahui masalah pribadiku juga?”

“Masalahnya bukanlah itu! Ini sudah tiga hari semenjak kasus kebakaran dan pembobolan pom bensin terjadi, tapi kau tidak bertugas saat kasus itu terjadi. Hilang dan pergi entah kemana,” Ristella mencengkeram kertas yang ada di tangannya. “Tolong, jangan hanya mengurus urusanmu sendiri! Kasus ini jauh lebih penting daripada itu!” lanjut Ristella dengan suara yang lantang.

Brak!

“Terserah kau! Aku muak denganmu!” setelah menggebrak meja dan berteriak lantang, Joy meninggalkan ruangan itu dengan hentakkan kaki yang keras. Ia muak. Sudah tiga hari ia mendapat teguran yang sama dari Ristella, itu membuat kupingnya ingin pecah.

Ristella menghela nafas berat, ia mengambil jaket yang tergantung pada sandaran kursi. Itu membuat rekan-rekannya yang berada di dalam menoleh bingung.

Teo, pria ini juga salah satu rekan tim kerja Ristella. Pria bersurai coklat itu sempat mencegat Ristella di depan pintu. “Mau kemana? Kita–”

“Berisik, jika Joy tetap berperilaku seperti itu, aku tidak akan mau menjadi ketua tim lagi,” Ristella menepis tangan Teo dengan kasar, meninggalkan suara berisik pintu yang di tutup di sana. Ia pergi ke parkiran mobil dimana kendaraannya berada.

“Ristella! Kebetulan, baru saja aku ingin bertemu denganmu!” seseorang memanggil nama Ristella, membuat si empunya nama berbalik badan. Ada bunyi bel sepeda di sana.

Ristella menghela nafas, ia tersenyum tipis di sana. “Aldi, aku lihat kau sekarang selalu senggang, ya? Apa tak ada lomba lagi yang akan kau ikuti?” Ristella menghentikan aksinya yang ingin memasuki mobil, lalu mendekati lelaki yang bernama Aldi itu.

Aldi turun dari sepedanya. “Hanya libur beberapa hari, mungkin dua minggu lagi aku akan ikut lomba maraton lagi?” Aldi merogoh tas hitam yang ia bawa. “Aku baru saja beli roti, mau makan sama-sama? Di tempat biasanya, ” tawar Aldi mengeluarkan sebungkus roti pada Ristella.

Ristella tersenyum. Tanpa aba-aba, Ristella menaiki dudukan belakang sepeda Aldi. “Go! Go! Di tempat yang biasanya ‘kan?” tanya Ristella yang diangguki Aldi.

Aldi kembali memasukkan roti itu dalam tasnya, kemudian menaiki sepedanya. “Yup! Ayo, pergi!” Aldi berseru, diiringi dengan kayuhan sepeda yang pelan.

Mereka pergi, mulai meninggalkan kantor dimana Ristella bekerja. Melewati jalan beraspal dan sampai pada jalanan yang tertutup oleh tanah. Hutan, mereka memasuki hutan yang tak terlalu jauh dari kantor Ristella. Ristella jadi ingat saat ia sering mengunjungi hutan itu bersama Aldi.

Sejuk, damai dan tenteram. Ristella rindu dengan tempat ini, tempat yang selalu membuat lelahnya hilang. Maklum saja, teror kebakaran dan pembobolan pom bensin itu membuatnya lelah dan pusing akhir-akhir ini, setidaknya sekarang ia bisa melepas stresnya sejenak.

Begitu Aldi memberhentikan sepedanya di dekat pohon yang besar, Ristella langsung meloncat turun dari sana, itu sempat membuat Aldi terkejut dengan goyangan sepedanya. “Astaga, jangan turun seenaknya begitu,” omel Aldi ikut turun dari sepedanya.

Ristella menampilkan deretan giginya. “Maaf, habisnya,” Ristella menggantungkan kalimatnya. Menghirup udara segar yang ada di sekitarnya. “Aku rindu sekali dengan tempat ini!” seru Ristella melebarkan kedua tangannya.

Aldi tersenyum senang, ia sempat menggeleng-gelengkan kepalanya. “Dasar, seperti anak kecil saja,” ucap Aldi. Ia merogoh tasnya dan mengeluarkan sebuah roti di sana. Kemudian Aldi tersentak tanpa alasan di sana. “Tunggu, bukankah kau seharusnya masih bekerja? Ini masih terlalu awal untuk pulang ‘kan?” tanya Aldi sedikit panik. Bagaimana ‘pun Aldi takut jika rekan-rekan kantor Ristella marah karena membawa Ristella ke hutan seenaknya, apalagi di waktu mereka bekerja.

Ristella sempat terdiam sejenak. “Tenanglah, lagi pula aku memang berniat kabur sebentar dari kantor,” jawab Ristella yang kemudian mengambil langkah maju ke dalam hutan.

Aldi menggaruk kepalanya yang tak gatal. “Sungguh? Apa aku tidak akan di marahi? Kau tahu ‘kan kalau teman-temanmu itu pemarah semua?” Aldi kemudian ikut berjalan, menyeimbangi langkah kecil Ristella.

Ristella mengibaskan tangannya berkali-kali. “Sudah, jangan di pikirkan. Lagi pula aku adalah ketua tim penyidik, siapa yang berani menentangku?”

Aldi menatap datar Ristella. “Ya, tapi masih ada orang dengan pangkat tinggi daripada kau ‘kan? Itu artinya–”

“Berisik! Kemarikan rotinya!” potong Ristella merebut paksa salah satu roti yang di pegang oleh Aldi. Sembari membuka bungkusnya, Ristella berbicara. “Kita akan ke danau seperti biasa ‘kan?” tanya Ristella.

Aldi mengangguk sebagai jawaban. Ia menelan roti yang berada dalam mulutnya sebelum berbicara. “Ngomong-ngomong, kau masih saja suka tempat ini ya?” tanya Aldi.

Ristella mengangguk semangat. “Iya! Soalnya, hutan itu berbeda dengan kota,” Ristella menjeda, tangannya menepis dahan pohon yang menghalangi jalannya. “Di sini lebih damai, udaranya juga lebih segar, sejuk, makanya aku suka dengan tempat seperti ini,” lanjutnya.

Aldi mendengus pelan. “Ya, yang kau katakan memang benar. Kadang aku berpikir untuk tinggal di pedesaan saja,” ucap Aldi.

“Andai di kota juga seperti ini,” sahut Ristella berharap.

Aldi terkekeh. “Tidak mungkin hal itu terjadi,” balas Aldi sembari mendahului Ristella. “Di kota banyak kendaraan, jadi polusi menumpuk. Belum lagi di sana pohon-pohon di tebang untuk dijadikan lahan kerja dan perumahan,” lanjut Aldi.

Ristella terdiam sejenak. Kemudian ia tersenyum manis. “Ya! Tapi, setidaknya hutan masih ada ‘kan?” setalah itu, Ristella menyeimbangi jalan Aldi.

Aldi yang mendengar jawaban Ristella tertawa. “Haha! Memang benar hutan masih ada, tapi aku tak yakin ke depannya akan seperti apa,” tawa Aldi sembari menggeser beberapa dahan pohon yang menghalangi jalan mereka.

Ristella mengangkat sebelah alisnya. “Kenapa begitu?”

“Karena mereka pasti akan mencari lahan lagi ketika di dalam kota sudah tidak cukup lagi,” Aldi berhenti berjalan, mereka sampai di danau yang mereka maksud. “Dan mereka akan menggunakan hutan untuk hal itu, parahnya mereka pasti tidak akan menanam kembali pepohonan yang ada di sini,” Aldi melanjutkan, menoleh sekilas pada Ristella yang berada di belakangnya.

Ristella mendengus, perkataan Aldi memang benar, tapi itu juga membuatnya kesal. “Apa yang akan terjadi pada bumi ini nantinya?” Ristella bertanya sembari mengekori Aldi yang kembali berjalan.

Aldi berpikir sejenak. “Aku tidak tahu, yang pasti bumi ini akan rusak secara perlahan-lahan,” Aldi berucap sembari memungut sebuah sampah kantong plastik yang berada di pinggir danau. “Asap kendaraan, asap pabrik, pohon-pohon yang di tebang, pembakaran sampah, itu semua menyebabkan bumi ini tak seindah dulu lagi,” jelas Aldi dengan nada sendu, meremas kantong plastik yang berada dalam genggamannya.

Ristella terdiam, ia ikut sedih dengan apa yang di katakan oleh Aldi. Pasalnya yang di katakan Aldi benar dan sekarang juga terjadi hal-hal seperti itu, dari masa ke masa bumi menjadi tak seindah dulu.

“Oh iya, kudengar sekarang banyak kebakaran dan pembobol pom bensin. Apa kau menyelidiki hal itu juga?” tanya Aldi membuat lamunan Ristella buyar.

Ristella memasang wajah cemberut. “Ya, dan aku agak kesal dengan kasus itu,” gerutu Ristella duduk di tepi danau, ia lelah berdiri sedaritadi.

Aldi tersenyum, ia ikut duduk di dekat Ristella. “Kenapa kesal?”

“Soalnya salah satu rekanku itu tidak bisa di ajak kerja sama, dan lagi kasus ini sudah seperti sebuah teror di kalangan pabrik dan pom bensin,” ucap Ristella mencurahkan kekesalannya.

Aldi mengangguk-angguk. “Seperti teror ya?” Aldi beralih menatap air danau yang berwarna hijau. “Setidaknya ada beberapa jejak yang di tinggalkan oleh si pelaku ‘kan?” tanya Aldi.

Ristella menggaruk kepalanya dengan frustasi. “Tidak! Sudahlah, kita ini sedang jalan-jalan, tolong jangan ingatkan aku tentang kasus itu!” seru Ristella memperingatkan.

Aldi terkekeh, ia mengelus surai Ristella yang berwarna hitam. “Oke-oke, ayo kita bahas hal lain,” balas Aldi menuruti Ristella. “Tapi aku yakin, kau pasti akan menangkap pelakunya,” lanjut Aldi menyemangati, cukup membuat Ristella tersenyum di sana.

Begitulah pada akhirnya. Mereka dengan asyik mengobrol, memakan roti bersama-sama dan bercanda ria di tepi danau, membuat hutan itu tak sesunyi sebelumnya. Mengobrol dan terus mengobrol hingga malam hampir tiba.

Aldi dan Ristella tak langsung pulang ke rumah masing-masing, mereka sempat singgah di parkiran kantor Ristella dengan sepeda Aldi. Tentu saja di sana mereka akan berpisah dan memakai kendaraan masing-masing untuk sampai ke rumah.

Namun tidak dengan Ristella, ia menyempatkan diri memasuki kantornya dahulu. Ristella melupakan sesuatu di dalam sana.

“Eh, kurasa aku sudah mengunci laci mejaku,” heran Ristella begitu sampai di ruang pribadinya, laci yang sering ia kunci itu terbuka. Memang iya kalau kunci laci itu berada di atas meja, tapi siapa yang berani masuk ke ruangannya dan mengetahui kunci laci miliknya hingga membukanya.

Ristella buru-buru melempar jaketnya dan mendekati laci yang terbuat dari kayu itu, ada kunci yang tergantung di sana. Dengan panik Ristella membuka kasar laci itu, membuat barang-barang yang ada di dalamnya tergeser.

Manik coklat Ristella menangkap benda asing di dalam lacinya itu. “Kapan aku menyimpan ini?” tanya Ristella entah pada siapa. Dirinya mengambil secarik kertas berisikan sebuah gambar, gambar yang memperlihatkan beberapa foto lima tangan yang berjajar.

Ristella menaikkan sebelah alisnya. Ia bingung sekaligus tak paham apa yang di maksud dengan gambar itu. Ada lima tangan berjajar di sana, kemudian dua di antaranya memakai sebuah jam tangan dan mempunyai sebuah tato berbentuk merpati.

Ristella dengan iseng membalik gambar ini. Di saat itu juga ia tersentak dengan halaman belakang foto itu.

‘Aku beri satu petunjuk pada gambar itu. Apa yang tertera pada jarum jam pada salah satu foto tangan yang memakai jam tangan adalah waktu kebakaran pabrik selanjutnya, hari ini. Amati gambar untuk petunjuk selanjutnya, aku menunggumu di sana.’

Mata milik Ristella terbuka lebar tiap kali membaca kata-kata yang tertera itu. Ia segera membalik kembali foto bergambar tangan itu, memang ada salah satu tangan yang memakai jam tangan dengan arah jarum jamnya menunjuk angka tujuh.

Ristella menggebrak mejanya. “Sialan! Pelaku teror itu mempermainkanku?!” marah Ristella. Kemudian kepalanya tertoleh ke belakang dimana ada salah satu jam dinding terpampang di ruangannya, jam dinding yang menunjukkan waktu itu membuat jantungnya kembali berpacu cepat. Jam tujuh hampir tiba.

Ristella duduk dengan kasar di atas kursi kerjanya, ia menggaruk-garuk rambutnya itu dengan kasar. “Apa?! Apa yang dia ingin beritahu padaku dengan foto ini?!” Ristella berteriak frustasi, bahkan ia meremas foto itu. Kesal, padahal ia baru saja menenangkan pikirannya tadi.

“Tapi aku yakin, kau pasti bisa menangkap pelakunya.”

Ristella menghela nafas panjang. Entah kenapa mengingat kata-kata Aldi tadi membuatnya lebih tenang. Ya, dia pasti bisa memecahkan kasus ini ‘kan. Apalagi ia sudah ribuan kali memecahkan kasus sulit selama ini.

Ristella kembali mengamati kembali tulisan di balik foto itu. Ia mengamati tiap kata yang ada di sana. “’Aku menunggumu di sana’. Padahal dia tidak memberitahu dimana dia akan melakukan kebakarannya, apa foto ini memberi petunjuk untuk alamatnya juga?” Ristella menebak. Kemudian ia melihat kembali foto yang bergambar tangan bersejajar itu.

Ristella kemudian tersentak, ia seperti mendapat sebuah petunjuk dari foto itu. “Jalan Merpati? Apa tato di tangan itu adalah alamatnya? Tidak mungkin aja jalan bernama ‘tangan’ kan?” Ristella beralih pada sebuah komputer. Setahunya, ia pernah mendengar nama jalan bernama Jalan Merpati.

Begitu yang tertera di komputer mengatakan bahkan jalanan itu benar-benar ada, Ristella seketika bersorak senang. “Ada! Kali ini aku akan tahu siapa di balik teror semua ini!” tanpa aba-aba, Ristella keluar dari ruangannya dan memerintahkan semua rekan-rekannya untuk pergi ke Jalan Merpati. Sempat ia bingung dengan salah satu rekannya yang tak hadir, Joy.

Mobil bahkan motor polisi berbunyi di sana, membuat kebisingan di malam hari yang tadinya damai. Angin bertambah kencang dikala mobil dan motor itu melaju kencang, membunyikan sirine yang berbunyi nyaring itu.

Hingga semua itu berhenti di Jalan Merpati. Satu persatu turun dari kendaraan mereka, diiringi derapan kaki dari segala arah.

Ristella terdiam di sana. Ia melongo karena terkejut di sana. “Di sini … banyak pabrik?” itulah yang Ristella lihat di handphone dan tempat itu. Bangunan-bangunan besar terlihat di sana, membuat beberapa rekan Ristella bertanya padanya.

“Kau tahu yang mana yang akan di bakar?” Teo menepuk pundak Ristella. Pria itu sudah siap dengan borgol dan pistolnya.

Ristella terdiam, ia menggeram marah. “Cari di semua pabrik!” pintanya yang mulai mengambil langkah maju, diikuti rekan-rekannya yang ia bawa.

Ristella bingung, ia berlari tak tahu arah, layaknya orang tersesat. Ristella mencengkeram erat pistol yang ia pegang. “Sialan! Sebenarnya apa yang di inginkan dari ini semua–”

Duk!

Bruk!

Mungkin karena Ristella tak memperhatikan jalan, sebuah batu yang berada di jalannya membuatnya tersandung dan jatuh ke tanah. Ristella terdiam di sana, ia merasakan rasa sakit yang menjalar pada salah satu tubuhnya. Mungkin ia mendapat luka.

Ristella bangkit dari sana, memperbaiki posisinya yang terbaring itu. Helaan nafas panjang terdengar. Ristella berusaha tenang. “Baiklah, ayo kembali lihat foto itu,” ujar Ristella sembari merogoh sakunya.

Bingung. Ristella tetap saja bingung dengan foto itu, apalagi foto tangan yang berjajar itu, ia belum tahu sama sekali apa arti dari tangan itu. “Alamat, waktu, itu semua sudah ‘kan?” gumam Ristella.

“Coba kita lihat. Misalnya perumpamaan ‘Apa yang akan kau katakan jika seseorang ingin berkunjung ke rumahmu?’” Ristella mulai memutar otak. “Alamat, tentu saja waktu untuk berkunjung, dan warna ‘rumah’? Tapi apa hubungannya warna ‘rumah’ dengan tangan?” Ristella mulai menebak-nebak, sempat ia menggaruk kepalanya yang tak gatal.

Satu detik, dua detik, tiga detik. Ristella tersentak kecil, ia sepertinya mulai menyadari petunjuk yang berada dalam foto itu. “Nomor ‘rumah’?!” seru Ristella menatap foto tangan itu lagi. Memang benar jika jari setiap tangan itu berbeda, mengisyaratkan angka-angka di sana. “Dua, Tiga, Lima, Dua, Satu–Tunggu, memangnya ada nomor ‘rumah’ lebih dari dua angka?” tanya Ristella entah pada siapa.

“Baiklah, apa lagi yang berhubungan dengan angka tetapi bukan nomor ‘rumah’?” Ristella kembali menebak, sesekali dagunya di ketuk-ketuk dengan jari telunjuknya. Tak butuh waktu lima menit, Ristella kembali menyadari. “Bodoh! Memangnya pabrik ada nomornya?! Mereka hanya punya kode pos!” seru Ristella.

Hanya dengan tebakan yang meragukan itu, Ristella kembali mengambil langkah menuju salah satu pabrik, di bantu oleh handphonenya yang menunjukkan setiap kode pos di Jalan Merpati.

Ristella tak bisa menahan gembiranya ketika layar handphonenya menunjukkannya lokasi pabrik yang ia cari. “Ketemu!” seru Ristella begitu mendapatkan salah satu pabrik dengan kode pos yang sama. Di sana, tepat di hadapan Ristella pabrik itu berdiri kokoh.

Ristella sempat mengambil walkie talkie dan berbicara. “Temui aku di pabrik ujung kode pos dua tiga lima dua satu,” bahkan sebelum seseorang menjawab panggilannya, Ristella sudah lebih dulu memasuki pabrik itu secara paksa.

Brak!

Satu dobrakkan itu di sambut oleh kesunyian yang melanda di dalam pabrik itu. Sunyi dan kosong, hanya ada beberapa peralatan dan mesin aneh di sana. Namun itu membuat Ristella semakin waspada, ia bahkan sudah siap dengan pistol yang ia bawa.

Langkah-langkah yang dilakukan oleh Ristella menggema di ruang yang gelap itu. Tapi aneh, indra penciuman Ristella menangkap sesuatu yang bau. “Bau apa ini?” begitu langkah berikutnya dilakukan, Ristella menginjak sesuatu yang cair pada sepatunya.

Begitu Ristella mengamati dan mencium cairan itu, ia tersentak kaget. “Bensin?!”

Brak!

Blaarr!

Lagi-lagi Ristella terkejut dengan semua suara yang terdengar itu. Tidak, bukan hanya suara yang membuatnya terkejut, tetapi sebuah api yang mulai menyebar melalui bensin yang ternyata sudah tersebar luas itu. Mata Ristella membelalak, dengan cepat ia berlari dan melompat keluar dari pabrik itu.

Ristella bahkan sempat panik karena sepatu yang ia pakai terkena sedikit api. Mungkin sekarang ia khawatir akan pabrik yang mulai dilalap api itu, apalagi jika api itu mulai melahap mesin-mesin yang mudah meledak ada di dalam sana.

Tetapi bukan hal itu yang menarik perhatian Ristella sekarang, tetapi seseorang yang melenggang pergi ketika ia menyalakan api tersebut. Ristella memperlihatkan deretan giginya, kemudian bangkit dan mengambil pistol yang terjatuh di sampingnya. “Berhenti kau! Apa kau tidak berpikir berapa kerugian yang kau berikan untuk semua orang?!” tanpa aba-aba, Ristella mengejar orang yang lari tak jauh darinya.

Suara derapan kaki terus terdengar, bersamaan dengan jantung yang berdetak cepat. Lari, lari dan terus lari. Bahkan mereka sampai memasuki hutan yang tak jauh dari sana. Tak menunggu lama juga, Ristella mengarahkan pistolnya kali ini. “Aku sudah bilang untuk berhenti!”

Dor!

Bruk!

Satu tembakan itu di susul oleh jeritan kesakitan yang melengking, memenuhi dan menggema di dalam hutan itu. Tak membuang waktunya, Ristella berjalan perlahan ke arah orang yang sudah ia tembaki itu. Tapi Ristella tahu dia tak asal menembak, ia membidik kaki orang yang ia kejar.

Begitu ada di dekat orang itu, Ristella memiringkan kepalanya dengan mimik wajah yang bingung, pasalnya orang itu memakai sebuah jaket yang di lengkapi dengan tudung. Wajahnya yang tertutup itu membuat Ristella harus membuka tudung yang terpasang di wajahnya.

Ristella membelalakkan matanya. “Joy?!” seru Ristella menyebut nama salah satu rekannya itu. Tak lupa ia mengunci pergerakan pria itu.

Joy, pria yang sempat berkelahi dengan Ristella tadi pagi itu adalah pelakunya. Sempat Ristella tak percaya dengan siapa yang ada di hadapannya sekarang, tetapi ia yakin tak salah mengejar orang tadi, apalagi rekan-rekan Ristella yang lain tak sampai ke ujung jalan dan lagi Joy memang tak datang bersamanya kemari tadi.

Nafas Ristella tak beraturan, ia tak menyangka jika pelaku yang ia kejar selama ini adalah rekan kerjanya sendiri. Ristella beralih mengangkat Joy dengan mencengkeram kerah baju pria itu. “Jadi ini yang kau kerja saat kita semua menyelidiki kasus ini?! Kenapa kau berbohong kalau kau ada urusan pribadi?!” pertanyaan bertubi-tubi itu terlontar dari mulut Ristella.

Joy terdiam kaku di sana, badannya bahkan bergetar hebat di sana. Usai sudah perbuatannya, ia ketahuan oleh Ristella. “Kau … tidak akan paham,” Joy melirih, ia menundukkan kepalanya di sana.

Ristella menggeram, ia mengguncang pria itu. “Aku masih bisa menerima kau bolos kerja karena urusan pribadi, tapi nyatanya kau berbohong padaku. Jelaskan! Apa maksud dari semua ini?!” tanya Ristella dengan nada lantang.

Joy menggertak. “Aku hanya membayar hutangku–”

“Cukup,” seseorang memotong. Tetapi itu bukanlah suara Ristella, suara itu membuat Ristella bingung dan membuat wajah Joy menegang. Suara itu kembali muncul. “Kau ketahuan Joy, ini sama saja hutangmu padaku tak lunas,” suara itu terjeda sejenak. “Jadi? Kau tetap tak bisa membayarnya ya?”

Dor!

Lagi-lagi suara tembakan terdengar, membuat keheningan beberapa menit setelah itu. Ristella tak bergeming di sana, merasakan tubuh seseorang jatuh di hadapannya. Joy, pria itu mati di tempat dalam keadaan darah yang mengalir, tepat di hadapan Ristella.

Tubuh Ristella bergetar, baru kali ini dia melihat temannya mati di hadapannya, takut dan juga panik. “Joy?!” panggil Ristella ketika pria itu benar-benar sudah tak bernafas di sana, Joy mati dengan kepala yang tertembak di sana.

“Ristella, kamu tidak ada niatan untuk menatap dan menyapaku? Aku jadi sedih nih,” suara itu kembali terdengar, membuat Ristella semakin menegang di sana. Suara dari seseorang itu adalah orang yang telah membunuh Joy, menyebabkan kekacauan yang sangat besar ini, dan lagi dia tahu nama Ristella tanpa di beritahu.

Ristella mengumpulkan niatnya untuk menoleh, meski ia masih takut dengan orang yang berbicara dengannya sekarang. Dengan gerakan patah-patah, kepala Ristella tertoleh ke arah samping. Maniknya kian detik kian mengecil, tubuhnya semakin bergetar dan berkeringat dingin. Ristella mengenal orang itu meski tak ada cahaya di hutan itu. Orang yang sangat dekat dengan Ristella.

Air liurnya di teguk sebelum bicara. Dengan bibir yang berkedut-kedut di sana, Ristella membuka suara. “Kenapa kau melakukan ini … Aldi?” satu pertanyaan untuk lawan bicara Ristella, Aldi.

Aldi bersandar pada batang pohon besar, ia juga sempat meniup ujung pistolnya. Wajahnya tenang layaknya tak ada rasa bersalah. “Oh, aku belum bilang padamu ya? Sepertinya aku lupa karena kita keasyikan ngobrol tadi siang,” Aldi tersenyum ke arah Ristella. “Selamat Hari Bumi, Ristella,” lanjut Aldi.

Ristella masih tak percaya dengan orang yang ada di hadapannya sekarang. Benarkah dia Aldi yang ia kenal. Kenapa dia membunuh dan menyebabkan teror ini. Dan lagi kenapa dia sendiri mengarahkan Ristella untuk menemuinya, si pelaku yang selama ini tak memiliki jejak.

Keheningan sesaat di antara mereka. Mungkin Ristella sekarang mempunyai segudang pertanyaan untuk semua ini, namun di satu sisi ia juga kesal dengan perlakuan Aldi yang seperti ini. “Jangan membicarakan hal lain! Katakan kenapa kau melakukan semua ini?! Kau pelakunya ‘kan?! Kenapa?! Apa keuntungan yang kau dapatkan dari teror ini?!” emosi Ristella meledak, seperti sebuah gunung api yang meletus.

Aldi memasang wajah polos di sana. “Kau sungguh tidak ingin mengucapkan ‘Selamat Hari Bumi’ balik padaku? Ayolah, ini ‘kan Hari Bumi, ucapkan balik padaku, aku menunggu–”

“Hentikan! Aku bilang jangan alihkan pembicaraan!” potong Ristella dengan sebuah pistol yang ia todongkan ke arah Aldi.

Aldi melihat Ristella dan pistol itu secara bergantian. “Yakin kau mau menembakku? Setahuku kau ini orang baik, Ris,” Aldi perlahan mendekati Ristella. “Kau tidak mungkin menembak teman baikmu ‘kan?”  tanya Aldi begitu sampai di depan Ristella.

Agak kesusahan Ristella melihat wajah Aldi, apalagi dia dalam keadaan duduk dengan sebuah mayat yang tumbang dan menempel padanya. Ristella memang tidak bisa menembak Aldi begitu saja, apalagi mereka sudah berteman lama.

Dengan tangan yang gemetar, Ristella tetap mempertahankan posisinya memegang pistol. Ia sedikit mendongak. “Kenapa–”

“Apa yang biasanya orang-orang lakukan ketika Hari Bumi tiba?” satu pertanyaan itu terlontar dari mulut Aldi, sekaligus memotong pembicaraan Ristella.

“Kebiasaannya mereka akan memasang poster peringatan di berbagai tempat dan media sosial.”

“’Hindari perilaku yang dapat merusak bumi’, ‘Kurangi asap polusi’, ‘Penanaman pohon kembali’, semua itu adalah kata-kata murahan ketika Hari Bumi datang.”

“Tapi apakah mereka pernah melakukan apa yang mereka katakan melalui poster tersebut? Omong kosong! Karena itu hanya kalimat basi untuk memperingati Hari Bumi.”

Aldi berhenti berbicara. Membuat keheningan di antara mereka. Jujur saja Ristella masih tak terlalu paham dengan apa hubungan Aldi membuat teror ini dengan ceritanya tadi, seperti tak masuk akal.

Ristella memberanikan diri untuk bertanya. “Lalu? Apa arti dari semua ini? Dan apa hubunganmu dengan Joy?”

Pertanyaan tentang Joy itu membuat Aldi menoleh pada Joy yang terkapar itu. “Dia punya hutang uang denganku, karena tidak sanggup membayar aku menyuruhnya untuk bekerja di bawah perintahku,” sebuah seringai Aldi tampilkan. “Kerjanya sangat simpel. Aku hanya menyuruhnya untuk membuat teror ini, menyebabkan kebakaran dimana-mana dan membobol pom bensin. Sayang dia gagal dengan misi terakhirnya,” jelas Aldi dengan nada lirih di akhir kalimatnya.

Ristella tak sanggup menerima semua kenyataan ini, apalagi menyangkut jika pelaku yang ia cari selama ini adalah teman dekatnya. “Lalu … apa motif dari semua ini?” Ristella bertanya dengan nada bergetar. Ada rasa ingin menangis di sana.

Aldi tersenyum lebar. “Kau tahu Ristella? Untuk perayaan Hari Bumi, kita harus membuktikan bahwa kita benar-benar merayakan hal itu,” lagi-lagi Aldi menjeda. “Dan untuk memperlihatkan betapa pedulinya–tidak, betapa sayangnya aku padamu,” lanjut Aldi.

Ristella mengedip-ngedipkan matanya di sana. “A-apa–”

“Ya! Aku sayang pada bumi dan kau Ristella!” satu ungkapan itu semakin membuat Ristella tercengang di sana. Sayang, apakah perlakuan ini termasuk tanda sayang untuk Ristella.

“Rasa sayang?” Ristella mendengus kasar. “Apa yang kau lakukan dari perbuatanmu ini adalah bukti rasa sayang padaku dan bumi?!” Ristella berdiri untuk mencengkeram kerah baju pria itu. “Kau gila! Aku bahkan tidak mengi–”

“’Tidak menginginkan hal ini’? Aku tahu kau akan bicara begitu. Tapi, bukankah kau yang bilang padaku jika kau suka udara yang bersih, pepohonan yang rindang, tempat yang sejuk dan tempat yang damai?” Aldi memotong sembari mengelus pipi Ristella dengan salah satu tangannya.

Ristella mengerutkan keningnya, ia menepis kasar tangan Aldi. “Lalu apa hubungannya dengan semua kejadian ini?” tanya Ristella.

Aldi tersenyum simpul. “Kau tahu kenapa sekarang ada yang namanya ‘energi kotor’? Itu berasal dari asap polusi dari pabrik dan kendaraan ‘kan?”

Dalam dua pertanyaan itu, Ristella sudah mengetahui jelas tujuan Aldi. “Jadi kau membakar pabrik dan toko-toko itu … karena polusi yang mereka timbulkan?” semakin lama, cengkeraman Ristella semakin kuat. “Lalu apa alasanmu membobol pom bensin?”

“Tentu saja dengan alasan alat transportasi tidak akan mempunyai bahan bakar dan tidak akan bisa beroperasi lagi,” jelas Aldi singkat. “Intinya, semua ini menguntungkan bagi kita semua ‘kan? Lagi pula kenapa semua orang memakai mobil dan motor yang menyebabkan polusi sedangkan ada sepeda yang ramah lingkungan bisa dipakai?” jelas Aldi lagi.

Tak ada kata-kata yang terucap dari bibir mungil Ristella. Aldi memang benar, tetapi Ristella tetap saja menyalahkan apa yang Aldi perbuat selama ini, tindakannya di luar kendali dan tak masuk akal.

“Aldi–”

“Aku takut, Ris,” Aldi lagi-lagi memotong, tetapi kali ini dengan nada lirih. “Kau tahu apa yang akan terjadi jika bumi terus-terusan seperti ini?” Ristella tahu, tetapi ia tak bisa membenarkan perbuatan Aldi.

“Sekarang bumi rusak karena perbuatan kita semua, manusia. Polusi semakin meningkat, efek rumah kaca, suhu bumi juga semakin meningkat.”

“Al–”

“Kita harus mengubah itu semua, kita musnahkan semua pabrik dan mulai menanam pohon kembali. Sesederhana itu, Ris.”

“Aldi–”

“Ristella! Aku bisa tahu kalau kita sudah mulai harus bertindak sekarang! Bagaimana jika kita malah memperburuk bumi semakin dalam? Apa yang akan terjadi di kehidupan selanjutnya–”

“Tapi caramu salah, Aldi!” kali ini Ristella berhasil memotong perkataan Aldi dengan nada lantang. Ristella mengatur nafasnya sebelum berucap. “Aku tahu kalau bumi ini semakin rusak, aku juga tahu asal polusi itu dari mana, aku juga tahu kalau kita harus bertindak untuk mencegahnya bertambah parah,” Ristella menjeda sejenak. “Tapi tetap saja, apa yang kau lakukan itu salah Aldi.”

Mereka berdua terdiam lama setelah itu. Hening, tak ada yang membuka suara di antara mereka. Bahkan Aldi terlihat tak berniat membalas perkataan Ristella.

Setelah melihat reaksi Aldi yang terdiam, Ristella memutuskan untuk membuka suara, ia berharap Aldi bisa sadar dengan tindakannya selama ini. “Aldi–”

“Jadi aku salah ya?” Aldi memotong dan bertanya. Selang beberapa menit, Aldi tertawa. “Haha! Jadi kau tak suka tindakanku ‘kan? Itu artinya kau suka dengan bumi yang sudah rusak ini?” Aldi mundur beberapa langkah, ia menodongkan senjatanya ke arah Ristella.

Ristella terdiam kaku di sana. Ia terkejut dengan tindakan Aldi yang lagi-lagi menggila. Tidak hanya itu, senjata yang Aldi pakai adalah pistol milik Ristella.

“Kau bahkan tak menghargai apa yang aku lakukan untuk kita semua,” ketus Aldi dengan tatapan dingin.

Ristella gemetaran di sana, ia tak tahu harus menjawab apa pada Aldi. Dia tahu jika niat pria itu baik, tetapi cara yang ia gunakan salah dan merugikan banyak orang. Dengan nada yang gemetaran, Ristella berucap. “Aldi–”

“Tapi kau benar Ristella,” lagi dan lagi Aldi memotong perkataan Ristella. Namun kali ini kejutan di berikan lagi oleh Aldi, pria bersurai hitam itu membalik arah pistolnya. “Pada akhirnya, apa yang aku lakukan salah, ya?”

Dor!

Pelatuk itu di lepas begitu saja, membuat suara yang nyaring di dengar. Ristella membuka mulutnya dengan sempurna, seseorang lagi-lagi tumbang di hadapannya. Aldi, pria itu menembak dirinya sendiri tepat di bagian dadanya. Kenapa kejutan yang ia berikan selalu seperti ini.

“Aldi!” teriakan itu diiringi dengan derapan kaki yang cepat. Ristella menangkap tubuh pria yang tumbang itu, ia bisa merasakan darah mengalir di telapak tangannya. “Kau gila?! Kau memang salah, tapi bunuh diri bukan jalan yang tepat untuk minta maaf!” marah Ristella pada Aldi.

Kedua sudut bibirnya naik bersamaan. “Kalau aku hidup, aku pasti akan melakukan hal yang sama meski sudah di tegur, karena itu tujuan awalku. Aku hanya ingin energi kotor dan krisis iklim hilang,” lirih Aldi menatap Ristella. “Sebenarnya aku memancingmu kemari agar kau tahu yang kulakukan ini untuk kita semua, agar kau berterima kasih padaku juga. Tapi … aku salah tindak ya?”

Bodoh. Mungkin itulah yang Ristella umpat untuk Aldi, kata-kata yang kini tak bisa ia sampaikan melalui pita suaranya. Ristella menggigit bibir bawahnya, air mata keluar dari kelopak matanya. “Kau … kau keterlaluan … kenapa kau …” Ristella tak sanggup berbicara dikala tubuh Aldi semakin dingin.

“Ris, kau juga sayang pada bumi ini ‘kan?” Aldi bertanya di sela-sela nafasnya yang mulai tak beraturan. “Kau bisa menjadi penggantiku ‘kan? Lindungi bumi ini, tetapi dengan cara lain, cara yang benar dan tepat untuk mengatasi masalah bumi rusak. Aku hanya ingin kau melakukan hal sederhana,” ucap Aldi mengandalkan Ristella.

Ristella mengepalkan tangannya. “Kau yang harusnya seperti itu! Bayar perbuatanmu selama ini dengan cara itu! Bukan dengan bunuh diri!” gertak Ristella di tengah-tengah sesenggukannya.

Aldi tersenyum tipis. “Aku … tidak bisa,” kian lama, keadaan Aldi kian memburuk. “Seperti katamu … caraku salah … tetapi bumi ini juga harus mulai di perhatikan, “Makanya … aku mengandalkanmu. Bisa … ‘kan?” tanya Aldi melirih.

Bahkan bibir yang terbuka itu tak mengeluarkan suara, membuat kepala itu naik turun untuk menjawab. Tanpa mengatakan sepatah kata apa ‘pun, Aldi sudah senang dengan anggukan kepala Ristella. “Terima kasih … Ristella. Aku yakin … bumi ini akan lebih indah … ke depannya,” satu kalimat terakhir dari Aldi itu di susul oleh manik coklatnya yang tertutup.

Hening. Tak ada suara di antara mereka di sana. Dingin, tubuh Aldi sekarang sangat dingin di pangkuan Ristella. Ristella menangis dalam diam, menahan jeritannya keluar melalui bibirnya. “Bodoh …” umpat Ristella, perlahan memeluk tubuh dingin Aldi. “Kau pelakunya, huh?” Ristella berbicara di antara sesenggukannya.

DI antara isak tangis Ristella, para rekan-rekan kerja Ristella mulai memasuki hutan untuk mencari dirinya. Bisa dilihat dari cahaya senter yang mereka bawa kemari.

Ristella masih di sana. Tak merespon teriakan rekan-rekannya yang mulai mendekati dirinya. Masih dalam posisi yang sama, Ristella tersenyum menatap wajah Aldi. “’Teror di Hari Bumi’, aku akan ingat hari ini,” Ristella kembali memeluk tubuh dingin itu. “Terima kasih, aku akan melanjutkan apa yang kau perjuangkan, dengan cara yang berbeda. Aku janji.”

“Untukmu, dan untuk bumi.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *