Cerpen #341; “Madah Yang Tidak Lagi Biasa “

Dahulu aku merasa sangat bahagia. Tidak perlu cemas khawatir akan masa depan. Bahkan tidak perlu cemas khawatir akan kematian. Karena keadaan sangat baik-baik saja.

Tetapi sesuatu menjadi berbeda. Ini seperti penyakit. Walau tidak menyakitkan tetapi sangat menyiksa.

Aku biasa terbangun. Tetapi terbangun akibat mimpi buruk jauh lebih baik. Sementara aku biasa terbangun akibat terus mengingat kenyataan yang sangatlah buruk. Apa lagi yang lebih menyiksa daripada itu semua?

Aku setiap fajar merekah selalu menyapa para sahabatku dan melantunkan madah bagi mereka. Tetapi semua tinggal kerinduan. Aku tidak bisa lagi menyapa. Aku tidak bisa lagi melantunkan madah bagi mereka. Karena aku telah kehilangan itu semua.

Dahulu hutan belantara yang indah terhampar dengan pohon-pohon raksasanya yang menjulang. Air sungai mengalir bebas. Rumah bagi banyak makhluk dan para penghuninya berbagi rezeki.

Bukit, sungai, hutan, satwa, dan denyut kehidupannya adalah mahakarya Bapa di Langit dan Ibu di Bumi.

Tetapi denyut kehidupan ribuan tahun itu kemudian sekarat. Kisah tentang mereka lalu tinggal dalam kenangan setelah homo destructivus datang menjelajah dan menaklukan.

Mereka mengambil dan merampas demi keuntungan mereka yang makin berlimpah. Dengan teknologi canggih dan peralatan beratnya mereka merangsek masuk.

Homo destructivus menghancurkan demi menciptakan sesuatu yang baru menurut mereka. Sementara air mata dan darah mengalir.

Dahulu kebutuhan hidup disediakan hutan belantara ini. Tetapi hutan belantara ini tak bakal sanggup memenuhi kebutuhan tak terbatas homo destructivus, yakni kerakusan. Siapa yang dapat mengendalikan homo destructivus? Mereka mabuk atas nama kebutuhan.

Homo destructivus merdeka. Mereka terus beraksi tanpa ada yang menghalangi. Sementara pohon-pohon raksasa tidak lagi tegak perkasa. Tanah, air, dan udara tercemar. Makhluk-makhluk jika tak mampu bertahan maka berakhir menuju kepunahan.

Aku merasakan cikal dari krisis luar biasa tatkala mahakarya Bapa di Langit dan Ibu di Bumi sekarat. Keteduhan menipis. Pancaran panas menyengat menerpa, membakar alam ini.

Aku merasa berada di tengah kekacauan ini. Tak kuasa diombang-ambing dalam ketidakberdayaan.

Jiwaku hanya bisa menjerit, marah, dan meratap. Aku terkurung di dalam kebisuanku. Aku merasa tergusur dan malu.

Kalau tak sanggup menyesuaikan, aku akan berakhir seperti sahabatku. Aku hanya mencoba bertahan tetap hidup supaya tidak menuju kepunahan.

Sebelum kenyataan membunuhku atau planet ini menghitam, aku tenggelam dalam pembasuhanku. Setiap fajar merekah aku menghibur diri, melantunkan madah yang tidak lagi biasa. Yakni madah bagi mereka yang sudah tiada dan berharap demi masa depan akan datangnya keselamatan. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *