Cerpen #338; “Sepucuk Surat Untukmu di Seratus Tahun Lalu”

“Xena, ayo, kita harus melanjutkan perjalanan sekarang.”

Tepukan ringan di bahu sang anak lelaki bernama Xena itu menyadarkannya dari keseriusan membaca bacaan digital berjudul “Remembering Indonesia’s Beautiful Archipelago”  di ponselnya. Ia mengangguk dan segera berdiri untuk membopong ransel besar di punggungnya, mengikuti sosok orang yang memanggilnya tadi. Kedua anak itu mengenakan sebuah pakaian yang mirip dengan hazmat suit berwarna hitam yang dilengkapi dengan respirator.

Mereka berjalan melintasi sebuah jembatan kayu yang reyot. Di bawah jembatan tersebut adalah air berwarna hijau tua, entah dipengaruhi lumut ataupun kotornya puing bangunan yang terendam oleh air tersebut. Mereka dikelilingi oleh beberapa bangunan yang terlihat seperti bangunan pencakar langit bekas perkantoran yang digunakan orang-orang puluhan atau ratusan tahun lalu.

“Diana, apa kau tahu kalau tempat ini dulunya bagian dari negara kepulauan Indonesia juga? Lihat bangunan tinggi yang sudah tenggelam itu, tadinya itu adalah tempat bekerja orang-orang setiap harinya dalam perkantoran.” Xena tiba-tiba bersuara sambil berhati-hati melangkah di atas jembatan.

“Hmph, siapa yang peduli? Salah mereka sendiri sejak dulu, andai mereka bisa melihat akibatnya sekarang.” Si perempuan bernama Diana menanggapi dengan dingin. “Lihatlah di sekitar kita, Xena. Bahkan air yang ada di bawah jembatan ini saja kini menjadi berbahaya dan penuh racun karena sampah yang mereka ciptakan dan timbun selama puluhan dan ratusan tahun.”

Xena tertawa pelan, “Diana, kau selalu sangat kesal setiap aku membahas sejarah ini.”

Mereka telah sampai di ujung jembatan ketika Diana menjawab, “Kau terlalu banyak membaca ‘dongeng’ soal keindahan pulau-pulau ini. Orang-orang yang kau baca tadi adalah penyebab hancurnya keindahan itu.”

“Tapi tidak semuanya begitu.” Xena melanjutkan argumennya, kini mereka tengah melompat di atas sisa puing bangunan yang masih mengambang dengan cukup kokoh. “Diana, apa menurutmu kita bisa menemukan potongan daging atau makanan lezat di sana?” Sang pemuda bertanya dengan mata berbinar.

Namun, tanggapan dari sang lawan bicara nampaknya tidak begitu antusias, “Mustahil sekali. Sudahlah, mari berkonsentrasi mencari jalan ke tujuan kita.” Gumam Diana dengan acuh tak acuh seusai melompat ke seberang puing lainnya.

“Ya, hati-hati saat melompat, Diana. Air di sekeliling sini asam dan berbahaya.” Imbuh Xena, menunjukkan alat ukur pH miliknya yang bisa dimunculkan dari ponsel teknologi canggihnya. Meski keadaan bumi bertambah semakin parah dalam puluhan tahun belakangan, teknologi ciptaan manusia masih terus berkembang untuk memudahkan perjalanan mereka dalam kekacauan ini.

Dalam seratus tahun belakangan ini, sesuai dengan apa yang Xena baca dari berita dan liputan harian yang disebarkan ke seluruh dunia, keadaan bumi semakin parah. Eksploitasi terhadap lingkungan seperti penebangan pohon liar, rusaknya hutan karena hujan asam, kebakaran hutan, membuat tumbuhan nyaris mencapai titik “punah” di mana hijau-hijauan sudah begitu sulit dijumpai di manapun, tingginya suhu pada bumi menyebabkan cairnya seluruh es di kedua kutub, disertai dengan cuaca yang terus-menerus berubah secara ekstrem, menyebabkan seluruh dunia dilanda oleh kekacauan. Bukan hanya sekedar wabah ataupun pandemi, kini dunia berada dalam kondisi di mana bertahan hidup merupakan sebuah hal yang sulit. Air tidak lagi jernih, dan setiap harinya mereka minum dari air yang harus disterilkan terlebih dahulu atau meminum air daur ulang dari keringat dan urine mereka sendiri. Xena dan Diana tidak tahu rasa air segar pegunungan yang diminum oleh kakek dan nenek moyangnya dulu.

Xena dan Diana adalah anak dari pengembara; mereka yang bekerja pada bidang tersebut mengumpulkan sampel air yang bisa diambil untuk disteril nantinya dan mengumpulkan bahan baku dari apa yang tersisa demi kelangsungan hidup orang-orang. Bayaran para pengembara ini mahal, namun resiko yang harus mereka tanggung pada setiap perjalanan adalah nyawa mereka sendiri. Perjalanan mencari bahan baku sisa dari daratan bumi yang telah tenggelam bukanlah hal mudah; mereka harus berlatih sejak dini untuk membiasakan diri hidup di alam yang kini tidak lagi bersahabat dengan manusia. Mereka juga harus membiasakan perut mereka untuk menahan lapar dan kenyang hanya dengan sedikit bekal. Mereka harus tahan mengenakan hazmat suit dalam waktu lama di daerah-daerah yang banyak terekspos asam. Usia manusia pun semakin menipis; untuk bisa hidup sampai 50 tahun sudah merupakan hal yang luar biasa, dan rata-rata orang meninggal pada usia 30an, entah karena pengaruh alam yang semakin ganas, ataupun mati keracunan, terinfeksi wabah, ataupun mati kelaparan. Perubahan iklim yang drastis di dunia sejak beratus tahun lalu telah menyebabkan semakin menipisnya persediaan makanan karena tanaman (termasuk padi-padian dan umbi-umbian) yang sulit tumbuh dan berkembang dikarenakan meningkatnya jumlah hama dan serangga yang menyerang tanaman. Selain itu, daging pun telah menjadi makanan yang sangat langka, berhubung keragaman hewan pun sudah semakin minim dan jarang sekali ada hewan yang bisa bertahan hidup lama dalam suhu Bumi yang semakin tidak normal ini. Sejak kecil, Xena dan Diana belum pernah makan ikan, karena ketika mereka lahir di tahun 2106, air laut telah mengandung banyak kandungan asam dan habitat untuk para hewan laut telah lama hancur.

Kini mereka telah mencapai usia 15 tahun dan diperbolehkan untuk mengembara seperti kedua orangtuanya. Saat ini mereka tengah menjalankan misi harian mereka untuk mengumpulkan sampel air dan mencari bahan baku dari apapun yang tersisa di kepulauan tersebut demi kelangsungan hidup manusia di pusat kota sekarang.

Berkat latihan dari ayah dan ibu mereka sejak dini, mereka sudah terbiasa mengembara berdua, menyelesaikan misi demi misi untuk bertahan hidup dan membantu orang lain. Xena gemar mempelajari sejarah dan mencari tahu mengenai kehidupan pada zaman dahulu, sebelum bumi menjadi sekacau ini. Sementara itu, Diana lebih senang untuk berpetualang dibanding membaca hal-hal yang disebutnya “omong kosong” itu. Seringkali Diana mencemooh dan merutuki orang-orang yang hidup pada zaman dahulu; menurutnya, “Alam telah memberi mereka berpuluh dan beratus kesempatan untuk berbagi dan berhenti mengeksploitasi kekayaan alam dengan serakah, namun mereka bersikap masa bodoh dan lebih mementingkan urusan mereka sendiri.”

“Lihat, setelah melewati gedung-gedung ini, tujuan kita berada tepat di sebelah kanan.” Ujar Xena. Mereka melangkah menuju ke sebuah batu tinggi untuk melihat lebih jelas mengenai medan yang akan mereka lintasi.

“Air di seberang sana sangat asam.” Diana menyeletuk, “Kita harus berputar menghindari area itu.”

Ketika Xena menggunakan teropong canggihnya (yang lagi-lagi dimunculkan dari ponselnya), ia mengangguk setuju dengan ucapan Diana. Jika ini seratus tahun yang lalu, mungkin hujan asam masih dianggap hal sepele oleh manusia karena mereka tidak merasakan efeknya secara langsung ke fisik mereka. Namun di masa sekarang, manusia tidak bisa lagi menyepelekan hujan atau air asam yang ada di sekitar mereka karena dapat langsung melukai kulit dan sangat berbahaya.

Karena krisis iklim yang terus dibiarkan berlarut-larut sejak lama, tingkat polusi yang semakin meningkat, diikuti dengan pembakaran bahan bakar fosil tanpa henti oleh manusia, hujan asam semakin sering terjadi dan air yang turun terbukti semakin rendah tingkat pHnya; beberapa puluh tahun lalu, berbagai jenis ikan perlahan dinyatakan punah dan banyak hutan-hutan di dunia yang mulai rusak, hingga reboisasi semakin sulit dilakukan dan bumi berubah menjadi semakin panas, dan berakhir dengan mencairnya seluruh es di kutub.

“Aku pernah membaca bahwa air hujan dulunya hanya berkisar di pH 6 atau kurang sedikit. Apakah manusia dulunya bisa meminum air hujan?” Xena bertanya-tanya lagi.

“Mungkin.” Diana menjawab singkat.

“Hmm, pasti rasanya menyegarkan sekali, meminum air dari langit. Suatu hari nanti, aku ingin merasakan rasa air yang benar-benar segar seperti apa yang dideskripsikan di bacaan sejak dulu.”

“Berhentilah mengkhayal dan bantu aku menyeberang, Xena.” Ujar Diana, raut wajahnya tampak kesulitan melihat puing yang harus mereka lompati sekarang.

Xena menyadari bahwa jarak antara puing bangunan yang mereka pijaki sekarang dan puing yang harus mereka darati cukup jauh, sulit bagi Diana untuk melompatinya dengan tubuh kecilnya. Maka, Xena dengan tubuh yang lebih tinggi dan kuat harus membantu sahabatnya itu untuk menyeberang.

Berjalan mundur beberapa langkah, Xena melompat menuju ke puing di seberangnya dan mendarat dengan sempurna. Latihan dan pengalaman telah membuatnya terbiasa melakukan hal seperti ini. Kemudian, setelah ia memastikan puing yang dipijakinya aman, ia melebarkan kedua kakinya sebagai tumpuan untuk bersiap dan mengulurkan tangannya kepada Diana.

Sesungguhnya untuk melakukan kerjasama seperti ini membutuhkan rasa percaya yang tinggi terhadap kedua pihak yang terlibat; Xena harus percaya diri bahwa ia sanggup dan cukup kuat untuk menarik Diana, dan Diana harus percaya bahwa Xena sanggup menangkapnya dan menariknya ke tujuan tersebut. Beruntungnya, kedua anak ini telah membangun rasa percaya yang kuat terhadap kemampuan mereka sendiri dan satu sama lain, sehingga mereka tidak lagi ragu dan pikir panjang saat melompat.

Diana mengambil ancang-ancang, kemudian dalam hitungan “Satu, dua, tiga!”, ia langsung melompat ke arah Xena untuk mencapai uluran tangannya dan Xena berhasil menarik sang puan dengan cepat untuk berdiri di runtuhan puing yang sama dengannya.

“Huff,” Diana menghela nafas. “Aku benci dunia ini.”

“Sshh, alam ini bisa mendengarmu, Diana.” Celetuk Xena sambil tertawa. “Ayo kita lanjutkan perjalanan.”

Namun tampaknya, suara hitungan Diana tadi cukup keras sehingga menarik perhatian sosok lain yang berada di dekat sana bersuara, “To…long….!”

Teriakan tersebut parau dan terdengar begitu putus asa, berasal dari tempat yang cukup jauh dari mereka, namun suara tersebut bergema karena heningnya lingkungan sekitar mereka. Xena dan Diana bertukar pandang, kemudian mengangguk, setuju untuk menghampiri sumber suara tersebut. Beruntung, setelah harus melompati puing-puing dan melewati jembatan reyot, kini mereka bisa berjalan lebih santai di sebuah daratan besar yang kelihatannya adalah jalan tol pada seratus tahun yang lalu. Jalanan tersebut telah dipenuhi dengan lumut, serangga, dan banyak sisa sampah-sampah plastik dari ratusan tahun lalu yang bahkan belum terdaur ulang secara alami.

Sambil terus berjalan, Xena memungut salah satu plastik dengan tulisan “Sabun Colek” yang terpampang jelas di depannya dan tertawa. “Lihat, ini sabun pada zaman dahulu, Diana. Aku pernah membacanya di buku ‘100 Produk Plastik dari 100 Tahun Lalu yang Masih Bisa Ditemukan’, dulu manusia menggunakan plastik untuk membungkus sabun, membawa belanjaan, membungkus makanan, dan banyak lagi.” Xena berujar dengan bersemangat.

“Haha, gara-gara mereka hanya memedulikan kemudahan dan tidak berpikir panjang untuk generasi kita, mereka membuat dunia berubah jadi sekacau ini.” Lagi-lagi, Diana menyanggah penjelasan Xena dengan dingin. “Kau tahu, pembuatan plastik-plastik itu menyebabkan emisi karbon yang sangat tinggi dan membuat suhu bumi meningkat. Bayangkan jika setiap orang yang berbelanja di toko, meski hanya membeli sebotol minuman yang bisa mereka pegang dengan tangan mereka, mereka akan menggunakan sebuah kantung plastik. Bayangkan jika ada seratus orang yang melakukan hal seperti itu.”

Xena menggaruk kepalanya yang tidak gatal, sedikit takjub dengan ucapan Diana. “Yah, ternyata kau banyak tahu soal hal ini juga. Kukira kau akan langsung marah begitu mendengar apapun yang membahas manusia seabad lalu.” Ujarnya.

“Hmph, aku mempelajarinya untuk mencemooh kebodohan mereka.” Diana menjawab tanpa memandang Xena. “…Sudahlah, tidak ada gunanya membahas mereka. Semua yang terjadi sekarang tidak bisa kita perbaiki, mengingat kondisi kita sudah seperti ini.”

Percakapan mereka pun terhenti karena mereka sudah tiba di daerah sekitar sumber suara tadi. Mereka menengok sekelilingnya, namun tidak menemukan siapapun.

“…Apa mungkin itu suara hantu, Diana?” Xena memekik pelan, sedikit merinding dan ngeri.

“Jangan ngawur.” Diana hanya menjawab, membiarkan rekannya itu tenggelam dalam imajinasi horrornya sendiri dan terus mencari.

“TO…LONG!!”

Karena kerasnya teriakan tersebut, Xena betulan berteriak “WAH!!!” dengan kaget, namun Diana langsung sigap menghampiri sumber suara yang kini sudah bisa diketahui berkat teriakan tersebut.

Suara itu berasal dari sebuah gedung yang telah nyaris runtuh di pinggiran jalan. Mereka perlu melompati pembatas jalan untuk sampai di gedung itu dengan hati-hati, benar-benar merapatkan seluruh pakaian mereka karena bahayanya memasuki gedung yang telah terendam oleh air asam dalam waktu lama dan menemukan seorang pria, berusia sekitar 30 tahunan, dalam kondisi berbaring dan sesak, hazmat suit yang digunakannya telah robek dan respirator miliknya tergeletak begitu saja.

“Hah… Hah, a-anak muda—” Panggil pria itu dengan suara paraunya.

“Paman, apakah kau baik-baik saja?!” Seru Xena, buru-buru mengeluarkan ponsel canggihnya untuk melakukan scanning pada tubuh sang pria untuk mengetahui saturasi oksigennya dan memeriksa fisiknya.

PEMINDAIAN SELESAI DILAKUKAN; IDENTITAS: JOHNNY, USIA 35, BERADA DALAM PNEUMONIA AKUT KONDISI KRITIS.” Ponselnya bersuara, menunjukkan tanda [Warning!] berwarna merah, menandakan kondisi sang pria berada dalam bahaya.

Sang pria bernama Johnny itu nampaknya sudah tahu akan nasibnya. Menderita pneumonia sudah merupakan hal umum pada zaman ini, mengingat efek hujan asam yang seringkali turun di daerah ini. Tanpa memedulikan hasil analisa dari ponsel canggih Xena, ia menggerakkan tangannya, memberi gestur agar kedua anak itu bergerak menghampirinya.

“Sepertinya… Waktu saya, tidak… lama, lagi.” Ujarnya dengan susah payah. “Anak…saya… Mary… ada di.. .gedung, dua blok… dari sini.”

Dengan lemas dan perlahan, ia mengambil secarik surat dari mantelnya. “Saya… tidak ingin membuatnya… khawatir.” Si pria melanjutkan sambil menyerahkan surat itu ke tangan Diana. “Tolong… berikan ini… padanya. Tolong… Bawalah ia ke…tempat…aman…”

Ketika Diana mengambil surat itu, sang pria sudah semakin lemah, dan dalam hitungan beberapa detik selanjutnya, ia menghembuskan nafas terakhirnya. Xena dan Diana menunduk, mengucapkan doa dalam hati mereka kepada sang pria agar dapat beristirahat dengan tenang.

Kematian seseorang sudah merupakan hal biasa yang dilihat kedua anak ini. Sejak mereka kecil, mereka harus melihat kematian dan kehilangan orang-orang terdekat mereka, entah karena missing in action saat mencari bahan baku ataukah meninggal karena tubuh mereka tidak sanggup menghadapi keadaan alam yang kini begitu ganas dan tidak bersahabat. Maka, air mata tidak lagi menggenang di mata mereka saat menyaksikan hal tersebut, namun di dalam hati, mereka turut merasakan kepedihan yang dalam. Entah pedih karena kehilangan, ataukah pedih karena menyadari kejamnya kenyataan pada masa ini, di mana mereka tidak bisa lagi mempunyai harapan untuk “hidup tenang di masa tua”, karena masa tua itu tidak akan bisa datang lagi untuk mereka.

Diana mengambil sebuah kain dari ranselnya, dan menutupi jenazah sang pria dengan perlahan. “Semoga ia bisa beristirahat dengan tenang.”

Xena mengangguk, dan keduanya bangkit meninggalkan gedung tersebut dengan perasaan yang berat. Sesuai pesan terakhir sang pria, mereka akan menyampaikan surat tersebut kepada anaknya di gedung yang terletak dua blok dari sini.

Meski kini di sekeliling mereka digenangi air, masih ada beberapa gedung pencakar langit berbahan dasar batu bata yang masih cukup kokoh dan tidak hancur sepenuhnya. Bagi orang-orang yang ‘terdampar’ atau tidak bisa masuk ke pusat kota untuk mendapat hidup yang layak, mau tidak mau mereka harus mencari tempat tidur dan berteduh di dalam gedung-gedung seperti itu, setiap harinya bertaruh nyawa karena tidak tahu kapan gedung itu akan tiba-tiba runtuh setelah terendam air begitu lama. Bagi orang yang tinggal di luar sini, umur mereka sudah pasti akan jauh lebih pendek lagi karena pengaruh hujan asam yang memengaruhi kualitas kesehatan mereka, belum lagi sulitnya mencari bahan makanan membuat tubuh mereka menjadi sangat kurus dan mudah terserang bermacam penyakit.

Xena dan Diana akhirnya berhasil melewati berbagai rintangan untuk sampai ke gedung yang dimaksud sang pria. Gedung itu merupakan gedung perkantoran lainnya yang masih berhasil bertahan sampai saat ini, meski bau di dalamnya sudah sangat tidak enak, lembab bercampur dengan bau bangunan yang sudah terendam air bertahun-tahun lamanya, ada banyak serangga dan pastinya bakteri yang hinggap di setiap senti bangunan ini. Xena dan Diana melangkah masuk dengan hati-hati, harap-harap cemas jika bangunan ini tidak akan runtuh dalam waktu dekat. Lebih aman untuk berjalan di ruangan terbuka dibanding ruang tertutup seperti ini di mana mereka bisa tertindih puing bangunan dan terekspos dengan uap asam yang memenuhi gedung seperti ini.

“Halo, apakah ada orang di dalam?” Suara Diana terdengar menggema di dalam bangunan tersebut.

“Haloooo, adik keciiil?” Xena ikut berseru, mencari sang anak.

“Kau terdengar seperti maniak ketika berseru seperti itu.” Diana berkomentar.

“Heh, enak saja, aku adalah anak baik-baik.” Sanggah Xena dengan sebal.

Tidak lama kemudian,  salah satu pintu di dalam bangunan tersebut bergerak dan muncullah seorang anak kecil, memegangi sebuah boneka teddy bear usang di tangannya. Anak itu mengenakan sebuah hazmat suit untuk anak-anak yang kusam dan tampaknya sudah nyaris tidak layak pakai, terlihat sangat kurus dan wajahnya kusam, namun matanya tampak bersinar. Tampaknya, ia mengira bahwa ayahnya telah pulang.

“Siapa kalian? Di mana papaku?” Tanyanya dengan wajahnya yang polos. Ia berjalan mendekati Xena dan Diana. Ketika berjalan mendekat, langkahnya diiringi oleh batukan pelan dari mulutnya.

Xena dan Diana bertukar pandang lagi. Tanpa perlu berkata-kata, mereka memikirkan hal yang sama. Mereka merasa kasihan dan iba terhadap nasib anak malang ini yang harus kehilangan orangtuanya dan hidup dengan tidak layak seperti ini. Dengan buru-buru mereka membawa sang anak keluar gedung agar berada di ruangan terbuka demi menghindari uap asam di sekitar.

Dari batuk-batuk yang dialaminya, mungkin saja paru-paru anak ini sudah sempat terinfeksi bakteri dan penyakit lainnya karena harus tidur di lingkungan begini. Namun, Xena hanya tersenyum lembut, agaknya enggan mengucapkan apapun yang akan menghancurkan harapan yang terpancar di mata sang anak. Ia mengeluarkan sebotol air untuk diminum sang anak dan berujar, “Adik kecil, ayo ikut dengan kami, kami diminta ayahmu untuk membawamu ke tempat lain.”

Sang anak menerima air yang diberikan dan langsung menenggak air tersebut, nampaknya ia sudah sangat haus sejak tadi. Lalu ia menggeleng menanggapi ucapan Xena. “Tapi, papa menyuruhku untuk diam disini sampai ia kembali. Jika papa kembali dan Mary pergi, ke mana papa harus mencari Mary?”

Xena terdiam sejenak, namun Diana langsung menjawab, “Lihat, Mary, papamu memberikan kami sebuah surat untukmu. Papamu sedang… pergi, kemungkinan ia tidak akan kembali dalam waktu dekat.”

“Apakah papa pergi ke surga seperti mama?” Tanya Mary dengan polos.

Mendengar pertanyaan seperti itu, Xena dan Diana tercengang, tidak dapat menjawab langsung. Mary kemudian menambahkan,

“Dulu papa bilang, mama sedang ke surga. Orang yang pergi ke surga, tidak bisa Rena temui hingga Mary sudah besar nanti.” Ujarnya.

“….”

“Kalau benar begitu, Mary harus cepat tumbuh dewasa agar bisa bertemu dengan papa dan mama. Huuum, padahal Mary sedang menunggu papa sejak kemarin… Tapi papa malah meninggalkan Mary.”

Mary terdengar sedih dan menunduk, namun ia tidak menangis. Kepolosan sang anak membuat Xena dan Diana kehilangan kata-kata, namun Mary hanya termenung sesaat, kemudian ia membuka surat yang ditinggalkan sang ayah. Ia membaca isi surat tersebut, kemudian tersenyum.

“Lihat, papa bilang papa akan menemani mama sebentar di surga dan menunggu Mary di sana nanti. Namun untuk bisa pergi ke sana, Mary harus tumbuh menjadi anak yang baik dulu.” Mary mengangguk-angguk, disertai dengan batuk-batuk lagi, namun Mary tampaknya tidak menghiraukannya karena sudah terbiasa. “Papa sudah memberikan boneka teddy bear ini untuk menemani Mary disini. Papa bilang, mama bisa mendengar cerita Mary lewat boneka ini. Jadi, baiklah, Mary akan ikut dengan kakak-kakak semua!”

Xena dan Diana menghela nafas perlahan, hati mereka lagi-lagi tersayat oleh keadaan yang mereka hadapi. Akhirnya, Xena memecah keheningan,

“Aku Xena, dan kakak ini bernama Diana. Kami akan melindungimu sepanjang perjalanan ini sampai ke kota nanti di mana kamu bisa makan sesuatu yang lezat. Ayo kita berangkat, Mary!” Ia memaksakan sebuah senyum, lalu memutuskan untuk menggendong Mary di punggungnya sambil melanjutkan perjalanan mereka.

“Tujuan kita kebetulan di dekat sini. Ayo kesana untuk mencari bahan baku dan membawa pulang sampel air, lalu segera pulang.” Ujar Diana, diikuti dengan anggukan ringan dari Xena.

Dalam perjalanan menuju ke tempat tujuan, Mary tertidur pulas di gendongan Xena. Tampaknya sang anak sudah bertahan agar tidak tertidur lama demi menunggu sang ayah pulang, namun nyatanya ayahnya tidak akan pulang lagi.

“… Dunia ini sudah sangat kacau.” Xena berujar pelan agar tidak membangunkan anak malang di gendongannya itu.

“Sudah kubilang berapa kali.” Diana hanya menanggapi dengan singkat. Kini mereka telah sampai di tempat tujuan pengambilan sampel air menurut peta di ponsel canggih mereka. Ia mengeluarkan sebuah tabung labu kecil untuk mengambil sampel air di sekitar sana dan mengantunginya dengan hati-hati. “Oke. Kurasa sudah cukup. Selanjutnya kita perlu mencari bahan baku di gedung itu.”

Diana menunjuk ke salah satu bangunan di dekat sana yang sudah setengah terendam air. Mereka pun bergegas menuju ke tempat tersebut untuk mencari sesuatu yang berguna untuk dibawa pulang ke kota. Sebisa mungkin, mereka harus bergerak dengan cepat di dalam ruangan tertutup untuk menghindari bahaya.

Bekas-bekas barang perkantoran dan industri yang masih bisa didaur ulang dan dibongkar isinya sangat berguna di kota saat ini. Para ilmuwan dan teknisi membutuhkan banyak bahan baku untuk bisa menciptakan inovasi yang bisa menunjang kehidupan keras manusia sekarang ini agar mereka bisa bertahan hidup. Karena kini mereka hidup dengan bom waktu yang siap meledak kapan saja, para ilmuwan harus mencari cara seefektif mungkin untuk membuat seluruh inovasi mereka bersifat “ramah lingkungan” agar tidak memperparah kondisi dunia saat ini, salah satunya dengan menggunakan semua bahan baku sisa yang tersedia. Untuk itulah, para pengembara sangat dibutuhkan jasanya.

Xena dan Diana pun segera mengantongi beberapa barang yang penting dan segera meninggalkan bangunan itu untuk berjalan kembali ke kota. Dalam perjalanan pulang, Xena yang tadinya begitu ceria dengan celotehannya cenderung terdiam.

Tatapannya terarah pada langit mendung di atas mereka.

Langit yang tadinya disebut-sebut “berwarna biru dan cerah”, kini tidak pernah menunjukkan warna aslinya lagi kepada manusia.

Kini hanya ada awan gelap dan kesuraman yang mengisi hari-hari mereka.

Bahkan, beberapa orang sudah enggan menatap langit lagi karena rasa takut yang terus menyelimuti, memikirkan bagaimana cara mereka bertahan hidup di dunia yang telah hancur ini.

Dalam hatinya, Xena bertanya-tanya,

“Jika aku sudah terlahir seratus tahun lalu, apa yang bisa kulakukan untuk dunia ini agar tidak ada anak-anak malang seperti Mary yang menjadi korban dari kehancuran dunia ini?”

“Jika aku sudah terlahir seratus tahun lalu, apakah aku bisa menjadi seorang yang berperan untuk mencegah hancurnya iklim seperti sekarang ini?”

“Jika alam ini terjaga dan tidak hancur seperti sekarang ini, apakah artinya nyawa ratusan orang yang meninggal hari ini akan terselamatkan?”

“Jika aku berada di dunia ini seratus tahun lalu…”

… Apakah aku bisa mengubah alam ini menjadi lebih baik?

6 thoughts on “Cerpen #338; “Sepucuk Surat Untukmu di Seratus Tahun Lalu”

  1. Alur ceritanya seru karena terasa seperti adventure, dan menceritakan keadaan dengan detail namun terlihat mengalir.
    Dilihat dari genre, bisa juga dibuat untuk cerpen anak-anak karena bahasanya yang simple dan mudah dimengerti oleh orang awam.

    1. Ceritanya bagus, kata-katanya mudah dipahami dan bisa membuat pembaca seakan tersihir dengan kalimat yang ada. 😍💫

  2. Masyaallah sangat keren cerita ini😻 Membuat pembaca ingin lebih mengetahui jalan cerita berikutnya.. Semangat melanjutkan ceritanya kak dan membuat pembaca tercengang dan bertanya-tanya atas cerita yang kakak buat 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *