Cerpen #337; “Kembali Nol”

Menyelami bangkai hutan beton berkelir lumut setebal sepuluh senti, Amaranta dibuat sadar tentang betapa jauh dirinya melompati bilangan waktu penuh malapetaka, yang telah mengenyahkan sebuah peradaban terbesar dalam sejarah dunia. Jika ada yang tanya padanya soal di mana Amaranta berada, maka dia akan menjawab, “Tidak tahu.” Sebab baginya, semua terjadi begitu saja, laiknya mantra yang menyihir seluruh negeri tanpa aba-aba.

Ingatan Amaranta menggantung ke ratusan tahun ke belakang, pada seorang gadis kecil berambut keriting mengembang.

Bocah itu jumpalitan dekat kolam dangkal di saat matahari baru saja merangkak turun. Ia berdebam, jatuh dari satu-satunya pohon yang terpancang di antara reruntuhan desa, kemudian menghampiri sesuatu yang menarik perhatiannya begitu dalam.

“Hai, Amaranta! Baru sekarang aku melihat yang secantik dirimu. Oh iya, aku ini tukang kebun keliling. Aku sering berpikir manusia dan tumbuhan harus saling membantu agar bisa sama-sama hidup, makanya aku bergabung.”

Avni namanya. Anggota termuda organisasi Bakti Alam yang penyakitan dan berkulit hitam kemerahan.

Sebulan sekali di hari Minggu, rombongannya yang tidak seberapa itu akan singgah untuk menumpahkan keluh dan amarah—sebab aksi mereka tidak mendatangkan uang yang cukup untuk kehidupan selama sebulan ke depan. Avni selalu kabur ke tempat Amaranta ketika pemimpin mereka berkoar-koar, dan akan pulang ke karavan tua itu kala matahari redup.

“Hei, Amaranta,” panggil Avni bulan berikutnya, memakai nama yang sama—nama sembarang yang tidak sengaja terlintas di benaknya.

“Andai dunia ini baik-baik saja, mungkin aku tidak perlu keliling kota menampilkan kampanye berkebun, di depan orang-orang bodoh yang bahkan tidak menginginkan acara kami,” protes Avni sambil duduk menopang dagu di atas batu setinggi pinggangnya. “Siapa juga yang mau menonton jari-jemari dengan pupuk bau, pot-pot rusak, dan wajah cemong oleh tanah? Kenapa aku merasa dunia semakin payah ketimbang berkembang, ya?”

Memang usia Avni baru menginjak angka sebelas, tapi bisa dibilang otaknya jauh lebih pintar dari orang dewasa kebanyakan di tahun 2122 itu. Namun, bukan sebab pendidikan di bangku sekolah yang tercatat dalam surat-surat resmi, bukan pula pengaruh didikan ilmuwan ternama yang katanya membawa perkembangan fantastis dalam teknologi, apalagi ajaran orang tua yang harusnya menjadi madrasah pertama kali. Kecerdasan Avni—yang diakui Amaranta itu—lahir dari lingkungan yang menekannya untuk berpikir tentang, kenapa kemajuan malah membuat peradaban mengalami kemunduran?

Jutaan kaki di bawah bumantara, bintang-bintang hanyalah sebuah nama tanpa wujud yang nyata. Amaranta tahu betapa indahnya mereka sebelum lampu-lampu kota berjubel mengaburkan pandangan manusia. Avni pun percaya bahwa bintang pernah bertengger di atas sana, hanya … modal percaya saja tidak cukup untuk membuat mereka kembali tampak.

Dulu ketua mereka pernah berkata, “Kalau alam pulih, maka ia bisa menunjukkan sisi luar biasa yang bahkan lebih menakjubkan daripada kecanggihan teknologi. Salah satunya adalah gemintang.”

“Apakah laut juga tidak akan terasa seperti susu panas? Apa itu artinya kulitku tidak akan sehitam sekarang? Lihat! Dari ujung kepala sampai ujung kaki kulitku seperti arang kepanasan!” selorohnya melebih-lebihkan.

Pria paruh baya yang dipanggil Ketua oleh mereka itu terbahak, “Tentu saja. Malah terumbu karang di laut dangkal akan terlihat jelas dari atas.”

“Terumbu karang itu apa?”

Ketua tergelak lagi menghadapi pertanyaan Avni sepanjang perjalanan. Gemas, bingung, dan lucu. Ketiga perasaan itu berpadu menjadi sesuatu yang sulit diartikan, sehingga Ketua terkadang tidak menjawab pertanyaan bocah yang serba penasaran itu.

“Aku akan datang lagi bulan depan. Mimpi indah, Amaranta!”

Avni mengakhiri pertemuan keduanya seperti biasa, selepas mengenang dan melambungkan harapan pada langit yang suram. Dia masuk ke karavan tua tempat komunitas nomaden itu melakukan nyaris semua kegiatannya di dalam sana—jaraknya cuma sepelemparan batu dari Amaranta. Sebetulnya ada beberapa karavan lagi, tapi tidak mungkin Avni tidur di semua tempat bukan?

Sementara itu … Amaranta bertanya pada diri sendiri.

Mungkinkah bulan berikutnya kita masih bertahan?

Dia merupakan saksi bisu, jauh sebelum Avni lahir. Sejatinya dia paham bencana apa saja yang tengah terjadi di awal abad ke-22 itu, mengenai perubahan iklim dan emisi karbon yang mempengaruhi dunia sehingga membuat laut tidak lagi bersahabat. Kehidupan bahari lenyap dalam lima puluh tahun terakhir, terumbu karang mati, benar-benar tidak layak huni. Tidak sedikit kawan-kawan Amaranta yang tewas akibat perubahan iklim yang ekstrem itu. Namun, sepandai-pandainya dia, apalah yang bisa dilakukannya selain diam? Nihil.

Karena kemajuan, tak lain adalah langkah gaib menuju kemunduran yang nyata.

Amaranta bicara entah kepada siapa. Dia hanya ingat kalimat itu datang dari para leluhurnya, dan sekarang … ia mengerti.

Hari-hari memilukan merangkap jadi bulan penuh bencana. Bulan-bulan bergulir, berganti jadi tahun yang bising oleh ujaran kepedihan manusia, atas alam yang kian mencekik mereka.

Avni tidak kunjung datang, derak bebatuan yang terlindas roda karavan-karavan Bakti Alam tidak pernah terdengar lagi sejak pertemuan terakhir keduanya dekat kolam keruh di tengah reruntuhan desa. Amaranta tidak pula menunggu. Buat apa? Sedari awal dia tahu, tiada tempat baginya di abad itu.

“Mimpi indah, Amaranta!” Ucapan Avni di penghujung perjumpaan kala itu masih membekas, dan secara sporadis seolah memantul-mantul di puing-puing reruntuhan, membersamai Amaranta yang sudah mendekati ujung waktunya sendirian.

Ternyata bulan depan yang Avni maksud lebih panjang dari seharusnya.

Kabarnya Bakti Alam tinggal sebuah nama tanpa anggota, mereka bangkrut lalu berpencar setelahnya sebab tidak ada tumbuhan yang cukup dibawa keliling kota apalagi untuk dijual. Jika sedari dulu manusia tidak setamak itu, mungkin masih tersedia jutaan pohon lagi untuk generasi yang akan datang. Memang apa salah alam sampai mereka tega membabat habis? Apakah manusia benar-benar mengira alam hanya bergantung pada mereka untuk bertahan hidup?

Amaranta ragu tidak akan ada manusia yang mampu menjawabnya sekarang. Sebab bait-bait narasi itu tidak lebih dari serangkaian kenangan.

Cairan asam menghujani sisa-sisa keberadaan makhluk yang dulu pernah berjaya. Lelehan es kutub menenggelamkan beberapa negara, menjangkiti para manusia tersisa dengan virus yang mematikan. Pemanasan global memang berbahaya meski dulu hal itu dianggap candaan, atau sekadar slogan membosankan yang bertebaran di media massa. Namun, faktanya teknologi yang dulu diagung-agungkan tidak lebih hebat dari ciptaan Tuhan bukan?

Jika kalian penasaran soal apa yang terjadi pada mereka saat itu, jawabannya … alam telah menyingkirkan apa yang mereka rasa tidak seharusnya ada di sana.

***

Dulu … ratusan tahun lalu sebelum tiba di hari ini—hari ketika alam memulihkan dirinya sendiri—ada banyak anak kecil melambungkan harapan pada langit yang muram. Angan-angan mereka mencapai keinginan untuk bisa melihat bintang yang katanya pernah berpendar indah mengisi setiap senti langit malam. Impian anak-anak itu jatuh pada beriak air laut yang jernih dan bergelombang menggelitik kaki mungil mereka di pesisir, pada angin yang berdesir berbisik-bisik, pada sinar lembut dari si Raja Siang yang penuh belas kasih.

Amaranta mekar di tempat berbeda. Dulu yang terakhir dilihatnya cuma tanah rusak dan rintik penuh bahaya, disusul banjir bandang serta teriakan histeris dari arah pemukiman warga. Namun, begitu ia membuka mata usai tidur yang teramat panjang … segalanya berubah menjadi keindahan yang amat dirindukan—kemegahan alam sebelum para manusia tamak itu datang dan berbuat kerusakan.

“Hai, Amaranta!”

Hal pertama yang didengarnya adalah suara serak Avni si Bocah Jumpalitan.

Amaranta mengedarkan pandangan menyelami bangkai hutan beton yang dulu pernah diberi nama “Jakarta” itu. Banyak dataran yang mencelos membuat cerukan raksasa, sebagian digenangi air suci, sedangkan yang lain ditumbuhi rerumputan setinggi orang dewasa. Satu-dua binatang vegetarian berlarian di sela-sela laluan, mencari buah masak yang jatuh dari pohon-pohon tinggi menjulang, bergumul di bawah naungan payung-payung hijau yang meneduhkan.

Kawanan burung berkicau, salah satunya hinggap di sebelah Amaranta yang masih bertanya dalam hati.

“Sudah berapa lama aku tertidur?”

“Tidak ada yang tahu, makhluk manis. Kau pasti baru lahir. Aku pun dulu sama sepertimu. Saat membuka mata, yang kudapatkan hanya lahan hijau seolah tak berujung.”

“Di mana para manusia?”

“Manusia?” Burung betina itu memiringkan kepala. “Mereka sejenismu?”

Amaranta memilih tidak menjawab. Jelas sudah tanda tanya yang tadi membungkus perasaannya.

“Oh iya, hari ini aku akan mengajari anak-anakku terbang. Sampai jumpa lagi!” pungkas induk burung yang kemudian membelah angin, terbang rendah menyusuri jalan panjang yang dulu pernah dipakai jutaan kuda besi berlalu-lalang.

Amaranta menunduk, mencari-cari lokasi tempat dulu mereka pernah bersua, hingga akhirnya dia benar-benar bisa menerima kenyataan, bahwa di zaman ini … alam sudah kembali berkuasa, tanpa adanya sebatang hidung manusia.

Bangsa tumbuhan dan binatang hidup teratur sesuai habitat dan rantai makanannya. Mereka berada pada porsi yang adil, memiliki bagian masing-masing tanpa dibuahi protes dan pertikaian, tanpa ketamakan dan kerusakan. Sedari dulu memang alam sudah bertanya pada Tuhan, tentang kenapa Dia menciptakan manusia yang hanya bisa berbuat kerusakan di atas rezeki yang telah Ia berikan?

Bundaran jingga bergulir jatuh di balik horizon untuk mengetuk gerbang malam.

Amaranta mendongak. Dia menatap sekali lagi untuk hari ini, ke arah langit dengan kelap-kelip menakjubkan yang membentuk beragam rasi bintang. Pita galaksi membentang warna-warni, menggelapkan sedih yang sempat terbesit di benak Amaranta pagi tadi.

Pada akhirnya, perkataan Avni di awal perjumpaan mereka waktu itu berujung keliru. Alam tidak selalu perlu manusia untuk hidup, justru sebaliknya. Ada apa dengan pikiran manusia yang bersikeras menganggap keduanya adalah dua hal terikat yang selamanya harus saling membantu? Tidakkah semua makhluk melihat fakta memuakkan bahwa tangan merekalah yang justru pernah memusnahkan keelokan alam?

Maka apabila sekarang dia mengambil kembali apa yang dulu jadi miliknya, tidak salah bukan?

“Mimpi indah, Amaranta!”

Amaranta menguncup, menyudahi masa lampau untuk peradaban baru yang terbentang esok dan seterusnya.

-TAMAT-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *