Cerpen #336; “Iklim di Ujung Tanduk”

Bahwa saat ini sedang krisis iklim, semua media mengatakannya. Pak presiden juga mengatakan hal yang sama, membuatku semakin yakin kalau iklim sudah berada pada ujung tanduknya.

Dibelahan utara dan selatan Bumi, es-es mulai mencair. Menenggelamkan pulau-pulau kecil di tengah kepulauan. Sejauh mata memandang hanya ada lautan, yang biasanya terdapat gundukan tanah yang diberi nama pulau Merpati.

Di bagian barat kota. Banjir menenggelamkan satu kecamatan. Membuat rusak fasilitas umum, menyebarkan penyakit DBD, malaria, dan panu. Beberapa orang jatuh sakit, akhirnya meninggal. Aku turut berduka mendengarnya. Pada suatu malam aku terkejut menerima kabar kalau tetanggaku sudah mati. Dia mati bukan karena panu atau DBD, tetapi karena penyakit asma yang dideritanya semakin parah di tengah kabut asap. Dua minggu terakhir kabut asap menyelimuti kotaku, kabut yang merayap di sela-sela gedung membuatku bingung. Mungkin pemerintah merasakan hal yang sama. Hujan dibuat kesana-kemari, masyarakat tak boleh berpergian dengan kendaraan, dan tak boleh bakar sampah. Hampir tiga minggu pemerintah menyerah menghadapi kabut yang menjengkelkan ini. Orang paling pintar di kota mengatakan kalau kabut asap ini berasal dari hutan di bukit yang terbakar. Seluruh kota mengecam orang yang membakar hutan di bukit, tapi tak ada satupun  yang tau identitasnya.

Musim hujan tiba. Ini adalah berita yang baik bagi kotaku, karena hujan yang deras dapat menghilangkan kabut asap. Tapi musim hujan bukan berita yang baik bagi masyarakat di pinggir bukit. Hutan yang sudah dibakar sebelumnya membuat tanah longsor menimbun rumah-rumah dibawahnya. Tak ada akar yang menahan tanahnya. Dan dibagian barat kota, warga kembali menangis karena hujan membuat banjir kembali merendam kotanya.

***

Seseorang mengeluh padaku.

“Sekarang sudah musim hujan. Tapi kenapa masih panas sekali?”

“Ndak tau, padahal kemarin hujan deras.”

“Pohon harus ditanam disini.”

“Ya.”

“Sampah juga harus di bersihkan.”

“Ya.”

“Terutama sampah masyarakat.”

“Ya.”

“Biar besok ga ada banjir, kabut asap, tanah longsor, atau bencana apapun itu.”

“Ya.”

“Kau mau membantuku?”

“Mau.”

“Yuk!”

Kami berdua berjalan keliling kota menggandeng siapa saja yang mau ikut membantu. Aku percaya orang-orang terbaik akan mau digandeng. Selanjutnya pohon-pohon di tanam kembali, sampah-sampah dibersihkan. Membuat kotaku menjadi nyaman untuk ditinggali, tapi hanya untuk sementara dan dikotaku saja. Dibelahan bumi lain kebakaran hutan terjadi dimana-mana, banjir, kabut asap, tanah longsor, dan yang paling parah adalah ‘pemanasan global’.

Setiap hari emisi karbon terus bertambah membuat efek rumah kaca. Dalam hitungan menit, telur sudah matang diletakkan dijalan raya. Krisis iklim sudah sampai pada ujungnya. Serentak es-es kembali mencair, dehidrasi menjadi masalah yang sangat serius, sawah-sawah mengering gagal panen, sungai mengering, musim menjadi tak menentu, dan laut lagi-lagi memakan pulau kecil disekitarnya. Tapi itu semua ‘punya kita’.

Beberapa ilmuwan berubah menjadi peramal yang sangat akurat. Beberapa dari mereka mengatakan krisis iklim ini akan diwarisi kepada anak cucu kita. Membuat orang-orang menjadi panik, menangis, dan menjerit-jerit sekuatnya. Sampai energinya habis, digantikan generasi-generasi baru yang akan mewariskan krisis iklim ini. Aku takut mereka ikut menjerit. Tapi ketakutan itu seakan tidak pernah pudar, membuatku semakin gelisah. Memikirkan krisis iklim menjadi teman mereka sejak lahir, esok atau lusa. Tapi mau bagaimana lagi? Iklim sudah ada pada ujung tanduknya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *