Cerpen #334; “Sayonara Cinta”

Senja mulai turun perlahan, bayang-bayang pun bersujud seiring terbenamnya matahari. Di ujung sana, langit lembayung tersamar rimbun pohon bedaru-terlihat begitu gagahnya berdiri. Daun-daunnya seolah menari, tarian iba yang menjadi saksi kebisuanku. Kupandangi dalam-dalam tiap jengkal gerak tangkainya, yang mengayun sesaat tertiup angin, dan membawanya tak tentu arah. Sesekali kutarik napas panjang, angin berdesir membelai lembut kesedihanku. Entah kali keberapa kukunjungi tempat ini, tempat yang begitu memesona, bahkan sejak hari kepergianmu. Hamparan rumput hijau dan sinar matahari senja yang membias di permukaan riak sungai-menguap. Meletupkan kembali ingatan yang tersimpan rapi dalam kantong kenanganku, dari bibir mungilmu yang berucap, seakan mendaungkan nada tanya dalam setiap tarikan napas.

“Apa arti sebuah cinta, Lucas?”

“Apakah seperti air yang memadamkan api?”

“Atau seperti kantuk malam yang meninabobokan setiap insan yang merindukah?” Tanyanya kepadaku.

Kumenelisik kosakata yang ada pada memori ingatan, namun tak mampu kumenjabarkannya.

“Bisakah engkau memberiku waktu untuk menjawabnya, Hana?”

“Aku bertanya pada suara lirih hatimu, maka jawablah dengan hati yang berbalut kasih. Meskipun, harus kutunggu selama waktu yang kupunya.”

****

Kumemasuki lorong kilas balik kisah, di mana dimensi ingatan berpapasan. Halaman kota Para Seniman terasa begitu hidup, bahkan aku menjadikan tempat ini sebagai penawar dari segala kejenuhan. Kulihat perempuan bersandar di bebatuan, rambut hitamnya tergerai sampai bahu meliuk sesaat tertiup angin, nampak menyelami lukisan yang sedari tadi ditekuninya. Tidak jauh dari tempat itu, beberapa orang tampak khusuk memainkan penanya dalam lembaran kertas. Iringan dawai oleh seorang pemuda di sebrang bangku yang kududuki membuat orang yang berada di taman enggan cepat-cepat beranjak pergi. Sesaat kuterdiam, kutarik napas panjang, menikmati wangi rahmat-Nya lewat angin yang membelai lembut. Kuambil sehelai kertas lusuh dari kantong kemejaku, sebuah surat yang dituliskannya setelah hari pertemuan terakhirku dan Hana, tidak…lebih tepatnya semua akses kota tertutup setelah kejadian hari itu. Di atas sana, kulihat langit berteman awan tipis. Pagi ini begitu cerah. Menurut perkiraan cuaca yang kulihat lewat penampil hologram tangan semalam, cuaca pagi ini cerah bersuhu sekitar 320 C. Ini kali pertamanya aku bisa keluar dari rumah lindung setelah bencana gelombang tsunami kematian pasca lima tahun yang lalu. Masa ini, bisa kubilang kehidupan setelah bencana. Aktivitas manusia telah digantikan oleh mesin penggerak juga remot control, bahkan untuk semua elemen. Mulai dari akses perjalanan, kegiatan belajar-mengajar, penggerak ekonomi yang telah digantikan oleh mesin, bahkan untuk sekelas dokter pun telah diambil alih oleh para robot. Hampir setengah jiwa manusia dari populasi di dunia mengalami kepunahan, mayoritas dikarenakan kesepian akut, populasi udara yang tercemar, dan kekurangan angka kelahiran. Hal itu dikarenakan ruang lingkup sosial sudah terbatas atau mungkin hilang, para orang tua enggan berproduksi dengan anggapan semua fasilitas yang ada sudah mencukupi tingkat kesenangan dan kepuasan mereka, yang tidak lagi ingin kehadiran anak di kehidupan mereka dan menilai mengurus bayi akan sangat merepotkan di zaman semua serba praktis. Hiburan hanya sebatas visual yang dipamerkan melalui hologram-hologram serupa layar tembus pandang yang bisa ditampilkan di mana pun dan kapan pun, dan kerusakan udara yang tidak lagi bersih yang diperparah dengan begitu non-stopnya mesin dan kehidupan para robotik.

Semua kesibukan lalu lalang adalah mesin kendaraan melayang, tidak lagi ditemukan manusia mengobrol di teras rumah, pojok warung, swalayan, stasiun, atau bahkan sekadar membicarakan aib tetangga, dan tidak ada lagi yang mau untuk sekadar berjalan kaki dan meninggalkan mesin terbangnya. Terkesan memudahkan memang. Lambat laun, arus kehidupan yang demikian dan tanpa disadari menyebabkan banyak manusia yang merasa kesepian, sekalipun berbagai game canggih dan hiburan visual sudah merajalela. Tetapi peran kontak fisik umat manusia sebagai makhluk sosial tetaplah penting. Masa itu adalah masa terkelam, banyak manusia yang mengalami frustasi. Beberapa tenaga ahli psikolog dikerahkan ke Kota Pusat di mana kota ini adalah kota para robotika dan manusia yang menyukai kehidupan mesin. Namun hasilnya tetap nihil, kasus kematian dalam sehari terus melonjak tinggi.

Bisa dikatakan aku termasuk sekelompok manusia yang beruntung, kami berada pada kawasan kota Seniman, mereka adalah para penulis, pelukis, pemahat, pengrajin, perancang baju, dan semacamnya. Kota kami terhubung pada lingkaran rantai sosial, sehingga tak heran dinamakan kota Rantai Sosial, kota sebelah timur adalah kota Para Ahli atau bisa dikatakan para intelektual seperti pengkaji, guru, profesor, penemu, dokter, ahli psikolog, dan beberapa bangunan kampus juga sekolah masih berdiri dan kehidupan di dalamnya nampak aktif di sini. Sedang sebelah utaranya adalah kota Terluar, di sana adalah kota para petani, lahan yang dimiliki adalah surganya alam, perkebunan yang sangat luas, pepohonan yang rindang, sungai yang bening, perbukitan yang hijau, tempat para hewan meski beberapa telah punah, dan inti dari keseimbangan alam pada masa robotika. Namun, kota Terluar adalah kota zero untuk semua yang bermesin. Kestabilan alam seperti pada seratus tahun sebelum masa ini dan sekarang masih terjaga kelestariannya. Mereka adalah nenek moyang kota kami, yang terus dijaga oleh anak dan cucu-cucunya.

Profesiku adalah seorang psikolog yang merangkap sebagai penulis, jadi amatlah wajar jika aku memiliki akses kota Para Seniman dan Para Ahli. Jika pun ingin mengunjungi kota ini, haruslah mendapatkan izin dari wali kota yang bersangkutan, dan tentunya amatlah tidak mudah. Itu pun diizinkan masuk apabila bersangkutan dengan meneliti, mengkaji, atau kejadian bencana alam. Kota Rantai Sosial sangat menjaga keseimbangan kehidupan manusia. Penggunaan mesin dan robotika masih terbatas dan digunakan pada akses yang terpenting, bahkan sekelas transportasi kendaraan terbang pribadi dilarang di sini. Walaupun di masa ini bentuk fisik buku sudah jarang ditemukan, namun aku masih menggunakannya sebagai media menulis dan berkarya. Beberapa pembaca juga berasal dari kota Pusat, walau hanya sedikit yang ingin menikmati karyaku di sana. Tetapi aku mempunyai pembaca setia bernama Hana, yang selalu memesan karya tulisanku lewat ekspedisi kilat Kapsul Xyo, sebuah kereta ekspedisi khusus barang yang terhubung pada setiap akses rumah. Bentuknya mirip sebuah tabung kereta kuno pada foto di rumah nenekku di kota Terluar, namun hanya berukuran sebesar satu meter pada tiap sisinya.

Pekan esok adalah hari perayaan kota Rantai Sosial, acara ini adalah satu-satunya event yang memperbolehkan kota lain memasuki kawasan ini. Peringatan seratus tahun setelah era modern, yang selalu diceritakan nenek akan canggihnya sebuah kendaraan bermesin beroda empat, dua, kendaraan yang bisa melayang jia ingin mengunjungi tempat berbeda pulau, negara, bahkan benua. Mengirim surat yang tidak lagi lewat jasa pengiriman namun bisa melalui surat elektronik bernama email. Bahkan, nenek kerap mengolokku yang masih menggunakan perantara kertas dan pengirim jasa barang ekpedisi kilat Kapsul Xyo.

“Caramu berkomunikasi bahkan sekuno zaman ibukku. Itu artinya, setua mbah buyutmu hhaa.” Imbuhnya menggoda tatkala mengunjungi kediamanku di kota.

****

Semua elemen masyarakat berkumpul pada nuansa bahagia, di halaman Penghubung Manusia yang berada di kota Seniman sebagai pusat kegiatan festifal perayaan kota Rantai Sosial.

“Selamat datang semua elemen manusia pada acara tahunan festifal kota Rantai Sosial. Mari rayakan hari suka-cita setelah bencana kematian lima tahun yang lalu. Diharapkan kehidupan yang normal dan seimbang akan menyambut kita semua di sini. Sejenak kita mengenang dan berdoa atas setiap manusia yang menjemput takdir kematiannya, semoga bahagia di alam sana. Juga keluarga yang ditinggalkannya untuk tabah, menjalani hari-harinya dengan lebih baik lagi.” Seru pemimpin kota Rantai Sosial. Semua hadirin langsung terdiam dan menampakkan raut sedihnya setelah sorak ramai menyambut perayaan festifal yang setelah lima tahun tidak berlangsung akibat bencana kematian manusia.

“Baiklah, acara yang ditunggu-tunggu pun telah tiba. Penampil pertama adalah pentas musik. Mari sambut dengan tepuk tangan semua.” Riuh penonton menyambutnya.

Sayonara…

Salam perpisahan yang tidak bisaku katakan selamat tinggal

Terasa menyakitkan

Sayonara…

Sayonara…

Ucapmu perlahan

Bahkan sejak hari perpisahan kita rasaku akan tetap sama

Tentang rasa yang masih utuh, sayang

Melihatmu lagi terasa akan sama menyakitkannya dengan ditikam sampai tak bernyawa

Perpisahan yang tiada pernah kuinginkan

Pertemuan kemudian yang nampak asing

Sayonara…

Bibirku terucap pada sepotong hatimu

Suasana romantika tercipta di tengah kota Rantai Sosial. Suasana hatiku nampak kalut. Bagaimana tidak, sebuah lagu yang mengingatkanku pada Hana. Sejak hari perpisahan itu aku tidak lagi bertemu dengannya, Ia adalah seorang peneliti dan pengkaji atas roda kehidupan yang terjadi di negara ini. Setiap sebulan sekali mendapatkan jadwal mengunjungi kota Rantai Sosial, tentang bagaimana kehidupan di sana berjalan dengan seimbang, kehidupan terlihat tenang, bahkan kasus gelombang kematian pada musibah dunia tidak didapati di sini. Namun, kendati demikian hal inilah yang menyebabkan kota Pusat tidak menyukai kami. Ayah Hana adalah penemu dunia robotika, mesin kendaraan melayang sebagai kendaraan pribadi manusia. Perlu diketahui akses kendaraan melayang di kota Rantai Sosial dilarang, untuk memasuki kawasan ini haruslah ditempuh dengan berjalan kaki atau menggunakan sepeda kayuh yang nampak sangat kuno bagi warga kota Pusat, tak terkecuali ayah Hana. Sejak musibah itu, Hana dilarang memasuki kota Rantai Sosial karena kota ini tidak bisa menolong warga kota Pusat yang mengalami kasus kematian drastis. Baik tenaga ahli psikolog maupun dokter pun tidak bisa menangani peristiwa itu. Para peneliti menyimpulkan karena pola kehidupan yang tidak lagi berjalan normal sebagaimana keseimbangan alam dan ekosistem sudah terganggu. Namun, tetap saja peristiwa ini adalah hal terkelam di zaman robotik. Harapan pertemuanku dan Hana seakan menjadi ilusi saja, yang urung kujawab perihal sebuah tanya tentang definisi cinta.

“Suasana yang menjadi melow, penampil berikutnya adalah para sastrawan. Menjadi bumbu-bumbu kehidupan yang menjadi manis. Karyanya akan abadi dan tak akan tergantikan sekalipun pada masa robotik. Seperti karyanya yang dibawakan oleh sastrawan kita, Lucaaas.”

“Teruntuk terkasih, izinkan kumenjawab perihal tanyamu padaku tentang cinta yang selalu kau daungkan pada tiap tarikan napasku.” Kumembuka penampilan yang kubawakan dengan sapaan untuknya.

“Apa arti cinta? Tanyamu, pada Rahwana.

“Wahai Dewi, Cinta ialah saat engkau menyadari tentang sebuah rasa yang tampak berbeda dari biasanya. Kamu memahami bahwa terkadang waktu mempertemukan sepasang hati dan memisahkan sepotong hati yang lainnya. Tetapi sebuah memori dan riwayat terbawa pergi di antara perpisahan dan pertemuan itu, menyisakan siksaan kerinduan, yang tiada diinginkan untuk pergi. Bagaikan sakit yang tak ingin kunjung pulih. Pada ribuan detik yang terlewat, akhirnya kutemukan makna bahwa cinta tak sesederhana yang kukira. Perihal cinta dan mencintai yang tidak bisa dipaksakan. Baik penerimaan terhadap seseorang yang bersedia merubah pribadinya demi seseorang yang disukai attau pun merelakan seseorang karena hal yang tidak memungkinkan untuk disatukan. Mencintai adalah hal yang searah, keterikatan antara kedua hati untuk menerima ketidaksempurnaan dan kasih. Tidak ada paksaan dalam hal ini, karena sejatinya cinta adalah tentang hal yang indah.”

“Rasanya tak cukup untuk mendefinisikan lebih jauh lagi, tiada yang mampu menuliskannya sekalipun sederas aliran sungai mengisi tinta penaku. Kasih, kuinginkan cinta sederhana, layaknya pujangga yang menuliskannya. Aku inginkan cinta sederhana. Maka, buatkan hatiku menjadi sederhana. Maafkanlah aku, membiarkanmu menunggu jawabku hingga bertahun-tahun lamanya. Apakah engkau akan tetap menyukaiku, setelah kepergianku?”

Selepas kusampaikan sebuah pesan penghantar, nampak sorak penonton melepas hening.

“Wahai Dewinya Rahwana, akankah engkau terima sebuah pengakuannya?” Celetuk penonton yang membawa pengeras suara, dan lagi-lagi suasana nampak hening.

“Iya, kuterima semuanya. Tentang konsekuensi mencintainya, mencintai apa yang ada padanya. Aku kembali menemuimu, bahkan dengan meninggalkan semua kehidupan fasilitas kemudahan kota Pusat. Cintaku lebih tertanam pada kotamu, kota Rantai Sosial, Kota yang membesarkanmu akan kedamaian yang engkau torehkan, kota yang seakan hidup, yang selama ini kurindukan.” Suara Hana yang mendekat dari arah belakangku.

Kumenghela napas pelan, sejenak kumenyadari; jiwaku telah damai selepas pertemuan kedua insan. Tidak ada yang mampu menggetarkan dari apa pun, selain bertemunya kedua jiwa yang mencinta, bersatunya harap yang sempat terpisahkan.

Sayonara, cinta

Mari sudahi kisah ini

Berganti kisah akan pertemuan

Izinkan untuk terakhir kalinya mengucap kata sayonara

Kututup kisahku akan pertemuannya

Belakangan kuketahui, Hana berusaha menghidupkan kembali kota Pusat. Berjuang mengobati luka batin para penghuni kota itu. Ia menyebarkan dan menduplikat kehidupan kota Rantai Sosial di sana. Membuat kawasan interaksi sosial, taman bebas bermain, ruang lingkup ngobrol, ruang seni, dll. Karena sejatinya, peran antar manusia secara langsung sangat berpengaruh pada kondisi jiwa seseorang manusia. Dengannya kita bisa merasa dipedulikan, dihargai, merasa ada, dan bahagia.

Kebumen, 07 November 2021.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *