Cerpen #333; “Penantian Tak Berujung”

“Ibu … mengapa lautan itu tidak kunjung membeku. Aku sudah tidak sabar ingin berburu anjing laut bersamamu dan Ayah. Aku lapar Ibu ….” lirih si Putih seraya menatap sepasang bola mata Ibunya lamat-lamat.

Ibu melayangkan pandangannya pada lautan lepas benua Antartika. Bola mata Ibu menyisir pantai dari arah timur hingga ke barat. Sejauh mata memandang, tidak ada tanda-tanda musim dingin akan tiba. Ibu lantas mendekatkan moncongnya seraya mengelus-elus bulu  tipis si Putih.

Sejak tiga hari yang lalu seharusnya musim dingin telah tiba. Hujan salju patutnya mulai turun menyerbu benua Antartika. Dan lautan benua Antartika mulai membeku menjadi lautan es. Musim dingin merupakan hari yang paling didambakan hewan gempal berbulu putih tebal. Setelah enam bulan lamanya, hewan itu berpuasa di musim panas. Namun, yang ditunggu malah sebaliknya. Sinar matahari nan terik masih berseri di benua Antartika. Suhu benua Antartika pun tidak mengalami penurunan, bahkan malah meningkat tajam tiga derajat celsius dari suhu biasanya. Keadaan ini membuat kawanan beruang kutub harus lebih lama lagi menahan lapar. Walaupun perut mereka sudah memanggil-manggil untuk segera diisi.

Si Putih bersama Ibunya sedang berendam di pantai. Suhu benua Antartika yang menyengat, membuat mereka tidak tahan berlama-lama berlena di daratan. Agak jauh dari garis pantai, Ayah tengah sibuk berburu ikan. Nuraninya berharap, dengan ikan-ikan hasil buruannya dapat mencukupi kebutuhan sehari-hari keluarganya. Setidaknya, hingga musim dingin benar-benar tiba. Keadaan laut yang tidak membeku, turut menyulitkan Ayah dalam berburu. Alhasil ikan yang didapatkannya sangat sedikit.

“Satu, dua, tiga ….” Si Putih berhitung. “Hanya tiga Ayah?” tanya si Putih dengan wajahnya yang lugu.

Ayah mengangguk, memalingkan wajah sedihnya pada Ibu.

“Ketiga ikan itu untukmu, Nak … apakah cukup? Jika tidak, Ibu dan Ayah akan berburu kembali di lautan.”

“Jika ini semua untukku, lantas Ayah dan Ibu makan apa?”

“Kami sudah makan, Nak ….” sahut Ibu.

Bibir si Putih melengkung sempurna, seraya mengangguk perlahan. Ayah dan Ibu pun turut tersenyum, walau rela menahan lapar demi sang buah hati.

Beberapa jam kemudian, samar-samar tercium aroma daging anjing laut. Ayah dan Ibu mulai mengendus, melacak sumber aroma tersebut. Sebarang masa aroma itu menusuk ke lubang hidung Ayah dan Ibu, sesekali pula aroma itu menghilang disiut angin pantai. Sayup-sayup terdengar deru perahu motor yang bersanding dengan suara amuk ombak. Rupanya, dari kejauhan terlihat empat buah perahu motor yang melesat cepat. Salah satu perahu motor itu bergerak mendekat ke pesisir pantai yang dihuni oleh si Putih dan orang tuanya. Perahu motor itu ditumpangi oleh empat manusia berpakaian serba cokelat, dilengkapi dengan topi, teropong, dan alat pelindung diri. Mereka sedang duduk termenung pilu, kadang-kadang pula mereka mengamati sekitar dengan teropongnya. Hanya dengan hitungan menit, perahu motor itu sampai di pesisir pantai. Aroma daging anjing laut sudah sangat dekat.

“Segera turunkan, berikan pada tiga beruang ini!” perintah seorang pria berbadan tegap.

Tiga manusia berpakaian serba coklat dengan sigap bergotong royong menurunkan tiga kantong daging anjing laut. Perlahan dipikulnya tiga kantong daging anjing laut itu, seraya melangkah pelan mendekati si Putih dan orang tuanya. Daging anjing laut itu dituruhkan tepat di hadapan si Putih dan orang tuanya. Sontak semerbak wangi daging anjing laut menyeruak ke seluruh penjuru pantai selatan benua Antartika. Ayah dan Ibu tersenyum simpul, seraya menghirup wangi daging anjing laut itu dalam-dalam. Sementara si Putih yang sangat asing dengan manusia, hanya diam tersipu malu di belakang Ibu.

Sebelumnya, tiga manusia itu sempat melamun sejenak melihat keadaan si Putih dan orang tuanya. Termasuk kondisi benua Antartika saat ini. Di balik gagah kacamata hitam yang dikenakannya, tetes air mata berlinang menghias wajah mereka. Sukma mereka berkata, “Manusia wajib bertanggung jawab atas keadaan yang menimpa beruang kutub saat ini.”

“Terima kasih manusia berhati malaikat ….” ucap Ayah dan Ibu seraya membelai-belai kaki manusia itu dengan moncongnya.

“Andai mereka tahu keadaan ini diakibatkan oleh ulah manusia, boleh jadi kita akan pulang tinggal nama dari sini.” Seorang pria dan dua rekannya membalas mengelus-elus bulu tebal Ayah dan Ibu yang mulai rontok.

Manusia berperan besar atas perubahan iklim yang terjadi di bumi. Kian hari krisis iklim makin tidak dapat ditangani. Dampak serius akibat krisis iklim pun mulai menunjukkan eksistensinya. Seperti musim kemarau berkepanjangan, suhu bumi yang makin panas, menghilangnya habitat beberapa flora dan fauna, berkurangnya kuantitas air, dan lain sebagainya. Bahkan telah tersiar kabar jika musim dingin di benua Antartika tidak lagi dapat diprediksi, kapan akan datang. Sebuah kabar buruk untuk penghuni benua Antartika, khususnya bagi spesies beruang kutub.

“Dampaknya sudah kita alami, bahkan hewan dan tumbuhan yang tidak tahu menahu pun menanggung akibatnya. Namun, masih saja manusia di luar sana yang tutup mata akan hal ini. Mulai dari hutan-hutan di dunia banyak ditebang, pembakaran batu bara, minyak, dan gas dieksploitasi besar-besaran, meningkatnya penggunaan kendaraan bermotor, dan banyak lagi yang dilakukan manusia, dengan alasan untuk bertahan hidup,” ucap seorang pria seraya melipat tangannya di dada.

“Melihat kondisi beruang kutub yang seperti ini, saya pribadi pesimis mereka akan dapat hidup lebih lama lagi. Jika saja lautan ini membeku, tentu mereka akan sangat mudah berburu anjing laut. Mereka hanya perlu berjalan ke tengah lautan yang membeku, lantas dengan sabar menunggu anjing laut naik ke permukaan. Hap! Dapat satu makanan,” sahut rekannya sambil mengambil beberapa jepretan yang akan dia muat di media ternama. “Namun, kondisi seperti ini mengakibatkan beruang kutub hanya bisa mengandalkan ikan-ikan dari hasil buruannya untuk bertahan hidup.  Dan tentu ini tidak cukup untuk mencukupi kebutuhan mereka sehari-sehari. Keadaan ini memaksa mereka ada di ambang batas kehidupan. Tahun 2090 ini, mungkin menjadi kehidupan terakhir spesies beruang kutub. Mereka diujung tanduk kepunahan, kita tidak akan pernah melihatnya lagi.”

Sesaat setelah manusia berhati malaikat itu meninggalkan si Putih dan orang tuanya. Mereka lalu berbagi pekerjaan. Ibu bertugas mencabik-cabik daging anjing laut dengan cakarnya yang tajam. Ayah menggali tumpukkan es untuk membuat beberapa lubang. Sementara itu si Putih mondar-mandir membawa satu persatu potongan daging hasil cabikkan Ibunya, lalu dia masukkan pada lubang yang telah dibuat oleh Ayah.

“Aku sedikit menguping pembicaraan manusia berhati malaikat tadi. Mereka mengatakan jika kehadiran musim dingin tidak dapat di prediksi. Maka dengan menyimpan daging anjing laut ini di dalam lubang es, daging-daging ini dapat kita konsumsi lebih lama lagi. Hingga musim dingin benar-benar tiba,” ucap Ibu sembari terus mencabik-cabik daging anjing laut tersebut.

***

Daging anjing laut pemberian manusia berhati malaikat telah habis dalam kurun waktu dua minggu. Si Putih dan orang tuanya tidak punya pilihan lain. Kembali mengonsumsi ikan adalah jalan satu-satunya. Apakah ini akan cukup untuk mengusir rasa lapar yang hinggap di perutnya, harapnya?

Keadaan seperti ini terus berlanjut. Minggu demi minggu terus berlalu. Herannya, bongkahan es dan tumpukkan salju di pesisir pantai hunian mereka malah berangsur mencair. Bulu tebal yang melindungi tubuh si Putih dan orang tuanya terus mengalami kerontokan. Tubuh mereka yang dahulu gempal nan besar, kini berubah menjadi kurus kering. Mereka hampir tidak dikenali lagi sebagai beruang kutub.

“Ibu … apakah manusia berhati malaikat itu tidak datang kemari lagi? Kuharap mereka akan memberikan kita daging lagi,” lirih si Putih dengan tubuh terkulai lemas di atas bongkahan es yang mulai mencair.

“Hanya Tuhan yang tahu, Nak ….” Ibu mengela napas perlahan.

Sudah lebih dari empat hari si Putih hanya terbaring lemas di atas bongkahan es. Hanya sebatas berdiri saja dia tidak sanggup, keempat kakinya lemas tidak berdaya. Begitu pula dengan Ibu. Tulang-tulangnya terasa berat dan seakan lungkah. Bahkan hanya sekadar melangkahkan kaki pun menjadi hal yang sangat sulit untuk dilakukan. Hanya tiga sampai lima langkah saja, tubuhnya tumbang menghantam tumpukan salju. Ayah pun sesungguhnya merasakan hal yang sama, tetapi demi sang Istri dan buah hati dia tetap berjuang mencari makanan. Walau tahu yang dilakukannya hampir sia-sia. Karena setiap kali dia berburu ikan di laut, hasilnya jauh dari kata cukup. Hanya dapat tiga sampai lima ekor ikan.

Di satu waktu, hampir empat jam Ayah berjuang berburu ikan di lautan lepas. Namun, tidak ada satu pun ikan yang berhasil dia dapatkan. Rasa kecewa, kesal dan sedih seketika menyeruak dalam benak Ayah. Dadanya panas seperti kawah gunung merapi yang akan meletus. Dicabik-cabiknya bongkahan es di tepi pantai sekeras yang dia mampu. Hingga bongkahan es itu terbelah menjadi lima bagian. Ayah pulang dengan tangan hampa.

“Berapa ekor ikan yang kau dapatkan hari ini, Suamiku? Kuharap itu cukup untuk anak kita,” lirih Ibu sedikit terbata-bata dengan dengus napas yang sangat berat..

“Kau menjadi seorang Ibu sama tidak bergunanya dengan bongkahan es di pantai. Mengapa kau tega melihat anak kita yang lemas hampir mati menahan lapar? Hah! Paksakan sedikit tubuhmu untuk mencari makanan bersamaku!” bentak Ayah yang telah muak dengan keadaan yang menimpa keluarganya. Seluruh emosinya dilampiaskan pada Ibu yang juga sedang terkulai lemas hampir mati menahan lapar.

Ibu bergeming sejenak. Bulir tetes air mata sontak mengalir di wajah Ibu. Dia memaksa tubuhnya untuk berusaha bangkit lalu ikut berburu dengan Ayah. Sungguh nahas, jangankan untuk berdiri, menggerakkan jari-jemarinya saja dia tidak sanggup. Memandang kondisi Ibu yang memprihatinkan, amarah Ayah seketika teredam. Merasa bersalah. Perlahan Ayah mengangkat kakinya, lalu berlari menuju lautan lepas. Di sana dia berdialog dengan Tuhan.

“Jika kematian adalah jalan satu-satunya untuk menghilangkan segala siksaan ini, jemput aku, anak dan Istriku hari ini juga. Setidaknya aku telah berusaha dan menjalani kewajibanku sebagai seorang suami,” bisik batin Ayah. Membiarkan deburan ombak menyapu tubuhnya yang bertambah kurus.

97 thoughts on “Cerpen #333; “Penantian Tak Berujung”

  1. Pesan moral yang disampikan penulis dalem banget, berharap cerpen ini bisa membuka mata banyak orang untuk lebih peduli terhadap lingkungan dan melestarikan alam mengingat perubahan iklim yang begitu krisis. Good luck untuk penulis thank for reminder, sukses selalu🤩💖

  2. “jika kematian adalah jalan satu-satunya untuk menghilangkan segala siksaan ini. jemput aku! setidaknya aku telah berusaha menjalankan kewajibanku.”

    kutipan yg sekaligus curcol, wkwk.
    good job!

  3. Cerpen yang sangat menarik, semoga bisa menjadi juara dan jadi yg terbaik bagi para pembaca yang lainnya.
    Saya harapn cerpen ini bisa menjadi inspirasi untuk para pembaca.

  4. Mantappp keren sih ini cerpennya, banyak pelajaran bisa diambil dari cerpen ini, semangatt terus dan sukses selaluu

  5. Asli ini mah dahhhh emosinya dapet banget, emosi keterpurukan, kelaparan, amarah, lunglainya kayak adonan roti yang kalis, makin di gumpal² makin ngembang 🥺

  6. Wah ide ceritanya menarik, unik dan berbeda dari yang lain. Cara bercerita dari sudut pandang beruang kutub yang terancam punah karena krisis iklim, benar sangat mampu menyampaikan jika bumi sedang tidak baik2 saja.

  7. Keren siii, hampir semua cerpen di sini tentang manusia, tapi ini lain sendiri. Mengambil beruang kutub sebagai objeknya

  8. Cerpen yang memberikan banyak sekali pelajaran bagi umat manusia. Hal yang kita lakukan, berdampak besar pada spesies yang lain, salah satunya beruang kutub

  9. Entah mengapa, ini sangat relate dengan keadaan seperti sekarang. Mengambil beruang kutub sebagai sudut pandangnya sangatlah kreatif dan ide yang sangat bagus

  10. Gilaaa siiii, sarkase banget ni cerpen. Menyindir para manusia yang kerap kali menyepelekan krisis iklim

  11. Semoga terpilih deh ni cerpen. Authornya sangat kreatif, bisa kepikiran mengambil cerita dari kehidupan beruang kutub

  12. Ceritanya keren & menginspirasi bgt , rekomend bgt utk dibaca ,,, goodluck sama penulisnya dan terus berkarya yaaa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *