Cerpen #332; “Orang-Orang Yang Terus Berjuang”

Gimin melangkahkan kaki dengan pelan dan berusaha menyeimbangkan badan, melintasi jembatan bambu yang nyaris roboh. Di pundaknya tertumpuk seikat penuh jerami padi yang dibawanya pulang untuk pakan sapi kesayangan. Nyaris tujuh puluh kilogram beban yang dipikul Gimin, tetapi badannya tak terlalu berkeringat. Udara dingin dan kering mulai meliputi kampungnya, ini berarti tanda mangsa panen telah berakhir dan berganti dengan mangsa terang. Sembari memperbaiki ikatan jerami yang longgar, sesekali Gimin melihat ke bawah. Sungai yang tak begitu dalam, mengalir air yang jernih dan sangat segar. Kadang ia dan sahabat tiga serangkainya berenang sambil menangkap ikan gabus, ikan kesukaan mereka.

Gimin terus berjalan selepas berhasil melewati jembatan. Ia menapaki jalan setapak sempit membelah hutan jati yang rimbun. Udara di dalam hutan begitu sejuk, namun cenderung lembap. Suara kepakan sayap burung di atas pohon yang menjulang tinggi terdengar begitu jelas. Tiba-tiba kesunyian hutan terpecah dan terdengar suara teriakan dari kejauhan.

“Naanggg!!” teriak seorang pria yang ternyata adalah ayah Gimin.

“Ehh.. iya Pak? Bapak sedang apa disitu?” tanya Gimin penasaran sembari melangkah cepat menuju tempat ayahnya membawa kapak di tangan kiri.

“Ini… Bapak sedang mencari kayu untuk persediaan bahan bakar di rumah.” kata Bapak sambil tersengal-sengal. “Sebelum mangsa desta berakhir kita musti mengumpulkan kayu bakar. Saat itu biasanya kandungan air di batang pohon sedikit, maka kayu bisa tahan dari serangga perusak kayu.”

“Oh iya Nang, nanti kalau sudah sampai rumah, tolong kembali kesini lagi bantu Bapak angkut kayu-kayu ini ke rumah ya.”

“Oh njih Pak, Gimin lanjutkan perjalanan pulang ke rumah dulu ya Pak.”

Gimin kembali memikul jerami di pundaknya. Tak beberapa lama mengikuti satu-satunya jalan setapak, mulai tampak perkampungan dari balik hutan lebat itu. Jalanan kampung masih beralaskan tanah dan rumah kampung di kanan kiri jalan terbuat dari gedek. Rumah-rumah di kampung Gimin boleh saja terbuat dari anyaman bambu, namun si pemilik rumah kadang memiliki berhektar-hektar sawah dan ladang di sekitarnya.

***

“Prangggg……” suara kendhi pecah terdengar dari arah pawon.

Menghamburkan fokus Iyus saat mendengarkan cerita masa kecil kakeknya. Sekitar tujuh puluh empat tahun yang lalu. Masa kecil kakek Gimin penuh dengan keseharian sederhana, warga kampung yang sejahtera, dan setiap tanda kejadian alam tak luput dari pengamatan mereka. Pranata mangsa, sistem yang melatih kecermatan dalam niteni, kepekaan pancaindera untuk membaca alam. Tumbuhan, mata air, daun-daun gugur, desiran angin, pola perilaku burung, hingga musim kucing kawin, semua bisa menjadi gejala alam sebagai petunjuk siklus tahunan dalam bertani. Kala itu alam masih lestari, masyarakat masih dapat dengan mudah mengamati alam. Sangat jauh berbeda dengan kondisi sekarang, kodrat alam telah menyimpang, kearifan lokal perlahan mulai ditinggalkan.

Suara parau diliputi kemarahan semakin keras terdengar. Sontak Iyus mengangkat pantatnya yang sudah sangat nyaman menempel di balai-balai teras rumah. Ia berlari menuju arah suara keributan.

“Berapa hektar sawah lagi yang akan Bapak jual ke calo tanah itu, Pak?! Nanti keluarga kita mengandalkan hidup dari mana lagi Pak?” desak Ibu dengan muka masam.

“Sudahlah Bu, tak usah ikut campur dengan urusan ini! Bapak sudah capek dengan bujukan calo tanah itu. Kata mereka, mereka akan ganti untung tanah kita, Bu.”

“Pak! Mbok ya didiskusikan dulu sebelum mengambil keputusan! Satu-satunya lahan sawah kita yang tersisa hanya setengah hektar lagi. Jangan sampai Bapak kena jebakan setan calo tanah itu lagi Pak!”

“Ya Bu, Bapak tak berpikir panjang saat itu. Teman-teman Bapak pada akhirnya sudah banyak yang mau menjual sawahnya. Mereka tak sanggup menerima tekanan calo tanah itu. Bapak minta maaf, Bu” kata Bapak dengan nada yang mulai menurun, menyesali keputusannya.

***

Beberapa tahun terakhir ekspansi industri mulai menggempur kampung kami. Salah satunya PLTU yang hanya berjarak empat puluh meter dari rumah kami. Pembangkit Listrik Tenaga Uap berbahan bakar batubara nyaris memutarbalikan kondisi lingkungan tempat tinggal kami. Pembangunan power block PLTU 2 x 1000 MW itu mengambil lahan seluas 250 hektar. Belum lagi, di kampung kami beredar desas-desus akan ada pembangunan power block PLTU 2 x 660 MW. Sebagian besar warga mulai menyadari dan merasakan langsung dampak yang semakin hari kian meresahkan. Tetapi ada juga segelintir orang yang merasa diuntungkan dengan beroperasinya PLTU di kampungnya. Bisa jadi mereka ini tidak atau belum terkena dampaknya saja.

Setelah keributan di pawon mereda dan suasana rumah kembali memperlihatkan kelegaan, Bapak bergegas hendak menuju sawahnya sebelum lewat petang.

“Yuuss, ayo ikut Bapak menebar benih padi di sawah!” ajak Bapak sembari ia mengambil sekarung benih padi yang telah direndam dan diperam selama dua hari.

“Ya, Pak, ayo.” jawab Iyus sambil mengambil sandal jepit swallow hitam dari balik balai-balai teras.

Iyus mengikuti dengan langkah cepat, berusaha mengimbangi langkah lebar bapaknya. Sebelum sampai di petak sawah milik keluarganya, Iyus mendadak berhenti. Ia melihat sepasang blekok sawah yang sedang mencari mangsa di tanah yang berair. Pemandangan yang sangat jarang akhir-akhir ini.

Dahulu di sawah kampung kami banyak berterbangan blekok sawah dan kadang sebelum musim penghujan nampak sekawanan burung kuntul yang melakukan migrasi ke area persawahan. Kehadiran mereka seakan menjadi penanda sekaligus penyambut datangnya musim tanam padi. Blekok sawah akan mencari mangsa di lahan berair, saat itu pun para petani mulai membajak sawahnya. Mereka kerap memangsa kepiting, ikan kecil, dan serangga-serangga kecil yang muncul ke permukaan ketika sawah sedang dibajak.

“Pak, sudah jarang sekali kita melihat blekok sawah ya.” kata Iyus yang berjalan mengendap-endap mendekati si blekok sawah.

“Iya Yus. Dulu jaman Bapak masih muda banyak sekali berterbangan di sawah kita. Tapi semakin hari semakin sedikit jumlahnya yang singgah ke sini. Apalagi sejak mulai pembangunan PLTU di seberang sana. Sudah banyak yang pergi. Blekok sawah tak suka lingkungan yang berisik. Dengarkan saja suara getaran mesin dari kipas angin pendingin yang berkapasitas besar itu. Bising sekali bukan suaranya?” jelas Bapak sambil menebar benih padi di petak sawahnya.

“Oh, betul juga Pak. Suaranya banter sekali, sangat mengganggu. Beberapa kali Iyus terbangun dari tidur. Kaget, seperti mendengar suara gemuruh keras tak jelas asalnya dari mana” timpal Iyus.

Penebaran benih padi di bawah matahari sore dibayang-bayangi oleh sebuah menara yang kabarnya memiliki tinggi nyaris seratus enam puluh meter. Dari balik rimbun ilalang yang membatasi petak sawah mereka, terlihat cerobong raksasa mengeluarkan semburan asap hitam yang membumbung tinggi dan larut dalam udara. Bahkan entah terbang ke mana saja abu sisa pembakaran yang berhamburan keluar itu. Pastinya tersebar luas tergantung arah angin membawa. Dan sungguh sial apabila masuk ke perkampungan warga, tanpa bisa kami lihat dengan mata telanjang.

Tak jauh dari situ terdengar celotehan dari saung di pematang sawah batas petak keluarga Iyus. Ada empat pria yang tengah menyelonjorkan kaki sambil mengunyah pisang rebus, bekal dari istri di rumah. Suara celotehan yang tadinya diiringi dengan cekikikan, seketika berubah menjadi obrolan serius dan sambatan.

“Yuuss.. Sini ajak Bapakmu kemari! Ada yang harus kita obrolkan. Mumpung kita semua ada di sini.” teriak salah satu pria yang berada di saung.

“Ohh ya, Pak. Sebentar lagi kami ke sana, tinggal sedikit lagi benih yang harus disebar.”

Iyus dan Bapaknya kemudian meniti pematang sawah menuju saung tempat empat pria itu berkumpul. Saung yang awalnya terlihat lapang menjadi sumpek karena sekarang ada enam orang yang saling berjejal mengisi ruang kosong.

“Jadi gimana, Pak? Hasil panen raya kemarin bagaimana? Berapa ton kau dapat?” tanya Pak Amir yang adalah tetangga keluarga Iyus.

Mbuh, Pak. Setiap musim panen pasti menurun. Dulu kami bisa menghasilkan panen padi sampai enam ton. Tapi sekarang hanya dapat dua ton. Mumet, Pak. Tadi saya juga bertengkar dengan istri, karena sudah menjual sebagian sawah warisan keluarga.” imbuh Bapak teringat peristiwa siang tadi.

“Benar Pak! Sering gagal panen! Lha wong ditambah lagi luas sawah kita semakin sedikit. Bahkan saat kemarin saya kukuh untuk tak mau menjual sebagian sawah, setiap hari selalu datang pemaksaan dan intimidasi untuk segera menjual tanah saya. Setelah sawah terjual, mau beli lagi malah harga di sekitaran sini sudah melambung tinggi.”

“Musim sudah sangat sulit diprediksi. Sekarang kemarau berlangsung lebih lama dari biasanya dan cuaca lebih panas. Tanaman berubah menguning karena debu polutan. Tak ada angin tak ada ombak, tiba-tiba saja langit berubah gelap dan membawa hujan badai. Banjir lumpur melumpuhkan sawah kita. Ditambah dengan bau limbah yang entah apa saja kandungannya.” tambah seorang kawan Pak Amir diiringi dengan nada dongkol.

“Lantas bagaimana ini, Pak? Produktivitas sawah kita menurun. Sumur-sumur warga beberapa sudah tercemar bau tidak sedap. Selain itu, sudah berapa banyak anak-anak di kampung kita yang terjangkit penyakit pernapasan. Agaknya kita sudah hidup di dalam keadaan genting, semenjak pembangunan PLTU di seberang sana.” kata Bapak sambil mengangkat jari telunjuknya ke arah PLTU itu berdiri.

Warga terdampak bukan hanya warga kampung kami saja. Kampung nelayan di perbatasan sebelah utara juga tak luput. Pada pertemuan rutin bulanan, para nelayan menyampaikan segala keluh kesah mereka. Nelayan udang rebon sudah empat bulan berhenti mencari udang. Kualitas udang menurun akibat air laut tercemar limbah buangan PLTU. Bahkan tak jarang batubara tersangkut pada jaring-jaring mereka. Sampai-sampai beberapa nelayan nekat mengambil resiko berlayar ke perairan yang lebih dalam untuk mendapatkan ikan. Namun malang nasib, pernah seorang nelayan hilang terbawa arus karena ombak yang tinggi dan arus yang sangat deras.

Semilir angin sore yang panas memapar muka mereka yang masih tetap bertahan di saung. Hingga langit mendadak mulai gelap dan membawa awan gerimis. Rembuk mereka belum menemukan titik temu, namun hujan mulai berjatuhan membasahi tanah. Serentak mereka melompat keluar dari saung dan berlarian pulang ke rumah. Begitu melintasi ladang pisang, Iyus langsung menyambar daun pisang lebar untuk melindungi diri dari guyuran air hujan yang semakin deras.

***

Di luar hujan semakin deras dan belum memberikan tanda-tanda ia akan mereda. Ketika hujan lebat datang, warga kampung selalu dihantui dengan perasaan was-was. Pernah terjadi, sawah mereka terendam banjir. Akhirnya gagal panen.

“Yuus.. tolong antarkan racikan empon-empon dan madu ini ke rumah Bu Tinah. Tadi sore Ibu dengar anaknya sakit. Kasian. Sekarang mereka tinggal berdua saja di rumah. Suaminya sedang lembur di PLTU. Bagian buruh kasar katanya.” kata Ibu sambil memasukan termos ke dalam tas keranjang pasar.

“Ya, Bu. Dengar-dengar si Tini anak Bu Tinah itu sedang sering jatuh sakit ya, Bu? Padahal masih kelas 2 SD. Tapi jadi sering tidak masuk sekolah.” timpal Iyus.

“Iya Yus. Sudah-sudah. Nanti keburu dingin racikan empon-emponnya. Jangan lupa kamu bawa payung. Di luar masih hujan deras.” kata Ibu.

 Iyus menerjang hujan dengan bekal payung di tangan kanannya dan menggendong tas keranjang di depan dadanya untuk melindungi isinya dari air hujan. Rumah Bu Tinah tak terlalu jauh dari rumahnya. Rumah mungil di ujung jalan kampung, tepat di bawah pohon mangga yang sudah mulai berbuah. Sepanjang jalan lampu jalanan bercahaya temaram, akibat hujan mengguyur sangat lebat.

Setibanya di rumah Bu Tinah, Iyus langsung memberikan titipan ibunya. Terdengar suara sesak nafas dari balik pintu yang tidak tertutup. Sesungguhnya itu adalah suara si Tini. Sudah pasti ia kesesakan menahan nyeri yang tak diharapkannya itu. Beberapa bulan terakhir ia tak menampakan diri di jalan-jalan kampung. Biasanya hampir setiap hari ia terlihat berkeliling kampung menjajakan urap latoh, dagangan ibunya yang selalu laris manis.

Hujan tetap belum mereda. Badan Iyus mulai gemetar kedinginan. Ia berpamitan segera dengan Bu Tinah. Jalanan kampung sangat sepi. Mana ada warga yang berkeliaran di tengah hujan lebat ini. Suara tanah tergerus air deras dan langkah kaki yang beradu dengan genangan air, beriringan dengan bunyi katak yang bersahut-sahutan nyaring. Dari kejauhan terlihat samar-samar sosok ibunya yang menunggu di depan pintu rumah. Ia mencoba mempercepat langkahnya sambil berhati-hati agar tidak terpeleset.

“Yus gimana Tini? Sudah baikan?” tanya Ibu saat Iyus tiba di pekarangan depan rumah.

“Masih sesak nafas, Bu. Iyus hanya dengar dari luar.” jawab Iyus dengan bibir bergetar karena kedinginan.

“Yasudah. Kamu ganti baju dan bersihkan badanmu dulu. Ada teh hangat di meja dapur.” kata Ibu.

Sambil mengusir sepi, Iyus mengajak kakeknya duduk bercerita. Lagi-lagi cerita masa kecil kakek. Cerita yang masih mengundang rasa penasaran Iyus. Kali ini cerita tentang hujan berkat. Hujan yang selalu dinantikan oleh warga di kampung. Dengan bantuan hujan, kelangsungan pertanian kampung kami terjaga. Hutan jati yang membelakangi sawah mengirim air sampai ke jaringan irigasi. Tak perlu cemas akan air. Ia akan datang sesuai musimnya.

Belum habis mereka menyeduh teh hangat dan cerita yang belum sepenuhnya selesai, terdengar suara gemuruh disertai keributan dari arah luar.

“Banjiiirrr!! Banjir!!!!” teriak orang-orang dari luar rumah.

Suara histeris ditambah dengan kegaduhan suara kentongan, sontak mengagetkan orang-orang yang sedang beristirahat. Banjir tiba-tiba menerjang kampung. Tanpa peringatan dini. Banjir datang dengan membawa lumpur. Tak butuh waktu lama lumpur masuk menggenangi rumah. Tanpa ada persiapan apapun untuk menyelamatkan barang-barang. Iyus dan keluarganya panik. Mereka hanya sempat menyelamatkan barang-barang berharga untuk dipindah ke tempat yang lebih tinggi. Berharap hujan deras segera mereda.

Setengah jam kemudian, ketinggian air sudah naik menyentuh lutut orang dewasa. Kampung kami berubah mencekam. Aliran listrik sengaja dipadamkan untuk menghindari korsleting listrik. Warga lebih memilih bertahan di dalam rumah dahulu karena hujan deras tak kunjung reda.

Lewat tengah malam hujan berangsur mereda. Meninggalkan genangan lumpur dan bau tak sedap yang tercium di setiap sudut ruangan. Kondisi rumah sangat kacau. Perabotan rumah sudah bergeser dari tempatnya semula. Baru saja Bapak mulai membereskan kekacauan rumah, terdengar suara kepanikan dari luar rumah. Suasana di luar sungguh semrawut dan samar-samar terdengar isakan tangis dari ujung jalan kampung.

“Tolonggg!! Toloonggg!!!” terdengar suara warga dari kejauhan.

Warga setengah berlarian menerobos banjir yang masih menggenangi kampung mereka. Dengan langkah berat mereka menuju ke arah ujung jalan, arah rumah Bu Tinah. Serentak cahaya lampu senter menyoroti rumah itu.

“Pak! Tolong anak saya!! Si Tini sesak nafas dan kejang-kejang. Bagaimana ini, Pak? Banjir juga belum surut. Kita harus segera membawanya ke Puskesmas terdekat. Sekarang, Pak! Harus sekarang!!! teriak Bu Tinah sambil menangis terisak-isak.

“Ya, Bu Tinah. Sebentar ya, Bu. Sedang kami usahakan. Jalan di depan kampung kita terputus, dipenuhi lumpur tebal dan batang pohon yang tumbang akibat terjangan banjir lumpur. Warga sedang berusaha membersihkannya. Sabar dulu ya, Bu.” jelas Pak RT sambil menenangkan Bu Tinah yang berada di samping Tini.

“Berapa lama lagi kita harus menunggu, Pak? Tini sudah sangat kesakitan. Saya pun tak sanggup melihat anak saya seperti ini!” kata Bu Tinah.

Bu Tinah masih setia menemani di sebelah Tini yang terbaring lemas. Menunggu dengan pasrah, kapan jalanan kampung bisa dilewati. Suara nafas Tini mulai melemah. Matanya pun mengisyaratkan ketidaksanggupan lagi. Mendadak dari balik kegelapan terdengar jeritan tangis Bu Tinah.

“Inna lillahi.”

Berita kematian tersebar. Tini meninggal pada waktu subuh. Nyawanya tak sempat tertolong. Kepergian Tini sangat membuat warga terpukul. Apalagi orang tuanya.

***

Banjir yang menerjang kampung kami, kali ini adalah banjir terburuk sejak lima puluh tahun terakhir. Banjir yang meninggalkan jejak kehancuran. Ia datang merenggut nyawa seorang anak kecil. Diketahui penyebabnya adalah banjir yang membawa lumpur dari pembukaan lahan baru yang disiapkan untuk pembangunan power block PLTU. Diperparah pada bagian hulu, sudah tak ada lagi hutan atau tanaman yang mampu menahan air. Bagaimanapun bencana setidaknya dapat dicegah. Bencana memiliki tuannya. Tuan bisa mengatur segala pemicu krisis iklim. Sementara bagi warga kampung kami, dampak krisis iklim sudah masuk ke dalam setiap ruang rumah warga, menghantam dan menghancurkan. Para tuan pemicu krisis iklim, hidup di rumah nyamannya, udara bersih, bergelimpang tumpukan harta di atas tumpukan derita warga kampung.

Menjelang tengah hari, warga masih bergotong-royong membersihkan tumpukan material lumpur dan ranting pohon yang tumbang. Awan masih mendung, seakan menggambarkan wajah-wajah duka cita yang meliputi mereka. Mengira-ngira apakah bencana seperti ini akan datang lagi di kemudian hari? Kini yang pasti kami harus melanjutkan perjuangan untuk kampung kami, manusia-manusia, lain dan bumi. Perjuangan melawan krisis iklim dan para tuannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *