Cerpen #331; “CATASTROPHE”

 Seorang lelaki berseragam biru melangkahkan kakinya ke lambung satelit. Langkahnya tegap dengan pembawaan yang lugas dan garang. Tak kurang saban hari tugasnya ditinggal sebagai divisi mekanik yang mengatur stabilitas mesin  Megasatelit dengan kode etik 1254 itu. Ia mengetuk dinding, memeriksa mesin dari layar hologram yang muncul.  Alisnya bertaut,  memeriksa angka-angka yang tertera dengan seksama. Di bawah tapak kakinya pipa penghubung menjalar panjang.

 Pssh…. Lelaki itu menghentikan pekerjaannya. Ia mengedarkan pandangan, matanya menelisik mencari sumber suara. Hingga dia sadari bahwa gas menyembul dari pipa penghubung. Layar hologam berubah merah. Peringatan bahaya bermunculan diiringi sirene darurat. Dengan penuh kepanikan, lelaki itu berlari ke luar dari lambung satelit, memanggil rekan-rekannya.

***

Kendali gravitasi diaktifkan, membuat sosok berjas putih dengan mudahnya mengetuk-ngetuk lantai. Ia mendongak, menatap planet biru dari kaca Megasatelit yang sedang beroperasi di luar angkasa mengendalikan iklim bumi. Mengendalikan? Begitulah, pemanasan global yang terjadi kurang lebih 1 abad lalu membuat pemerintah mengeluarkan dekret baru. Proyek penelitian besar dengan mengirim orang-orang pintar digencarkan. Mereka membuat panel-panel raksasa membungkus bumi. Mengatur kestabilan iklim setiap 15 derajat. Dengan kendali penuh berada di atas Megasatelit. Termasuk dirinya sebagai pekerja yang dikirim ke sana. Terpisah ribuan kaki dari putri kecilnya,  Elva,  satu-satunya keluarga yang dimilikinya.

                 Tiba-tiba, terlihat ledakan dari salah satu panel. Membuat sosok itu menganga. Tak mungkin ada kesalahan teknis dari mesin satelit. Sirene tanda bahaya menyala. Diikuti derap langkah kaki kerumunan orang yang berseru-seru mencari tahu situasi. Menyusuri lorong penghubung, menuju ruang kendali. Sosok itu terlihat kebingungan untuk beberapa waktu,baru akhirnya ikut kerumunan orang menuju ruang kendali.

              Ruang kendali ramai dipenuhi manusia. Kecuali divisi mekanik dan yang berada di ruang kendali sendiri, semua orang meninggalkan tugas mereka. Menunjuk-nunjuk kaca. Membuat semua orang menghentikan pekerjaannya, terpaku. Lihatlah, ledakan dari satu panel raksasa tadi menjalar. Membuat ledakan beruntun ke panel-panel di sebelahnya. Kapten Megasatelit menekan layar hologram. Bekerja, menghitung kemungkinan terburuk. Dengan pemberitahuan titiik-titik merah di 632 wilayah sekaligus. Bahwa iklim telah bergejolak, tak terkendali. “Kirim perintah evakuasi!!”

         Deg. Sosok itu menggigit bibir. Dia berbalik arah, menyibak kerumunan, mencari seseorang.”John, John!!” tangannya menyuruh orang-orang menyingkir. Baru kemudian ditemukannya orang yang dia cari. Ditariklah kerah baju orang itu. Membuat orang yang dimaksud mengeluh tertahan. “Ada apa?” menoleh, John menatap sebal penariknya. “Apa yang kau pikirkan? Kita harus membawa Elva dan Chloe kemari, cepat!” sosok itu melangkah panjang diikuti John. Menuju tempat pendaratan kapsul-kapsul Rebell. Menaiki salah satunya. Mengaktifkan mesin beserta kendali otomatis. Menuju bumi.

[ Pantai Monterrey, Meksiko ]

Gadis berambut pirang sebahu kisaran umur 8 tahun itu menekuk kedua lututnya, menundukkan kepala. Raut wajahnya terlipat. Tak tertarik bermain dengan debur ombak, atau sekadar menonton penyelancar handal yang ramai ditonton banyak orang. Di sampingnya, teronggok bisu istana pasir yang separuh jadi. Semua orang pun asyik dengan aktivitasnya – berjemur, bermain air, bermain bola – mengacuhkan gadis kecil yang terus tenggelam dalam kesepian. Ah, hari ini adalah liburan musim panas, tak bisakah ayahnya meluangkan waktu bersamanya?

  “Elva? Kau tak ingin bermain?” tanya Chloe, tetangga sebelah Elva yang sudah dianggap seperti ibunya sendiri. Umurnya terbilang muda, dan sama seperti ayah Elva, suaminya juga ditugaskan di luar atmosfer bumi. Chloe menghela napas panjang, menatap Elva yang tak berminat menjawab petanyaannya. “Elva? Bagaimana dengan istana pasirmu? Kau tak melanjutkannya?” Chloe tersenyum, mengelus rambut Elva penuh kasih sayang. Sedang Elva hanya menggeleng pelan, menjawab lirih. “Aku takkan melanjutkannya tanpa ayah…” “Haa.. ayolah, jangan berbicara seperti itu. Aku juga tidak bersama John sekarang,” percakapan mereka terputus. Teralihkan ke depan, pada teriakan-teriakan panik dari dubir pantai.

           Sesaat Elva dan Chloe saling pandang, baru kemudian melongokkan kepala, mencari tahu. Orang-orang ramai berkerumun, menghalangi pandangan. Hingga seorang lelaki berbadan tambun menerobos kerumunan,  berteriak parau. “Lari! Semuanya lari, cepat!” pecahlah kericuhan di pantai itu. Dari sana, dari arah laut, lautan membeku. Terus, menjalar. Menyambar seorang penyelancar handal yang sedang melakukan manufer indah di atas ombak. Membeku seketika. Orang-orang berlarian menyelamatkan diri. Meninggalkan aktivitas, meski lebih banyak yang telah membeku sebelum benar-benar menyadari apa yang  terjadi. Mata Elva membulat.

“Elva, lari!!” beruntung, Chloe menarik tangannya. Membuyarkan sikap gagapnya, memaksa berlari. Bersamaan dengan orang-orang yang terus berusaha meninggalkan area pantai. Tidak. Pembekuan itu berlangsung lebih cepat. Semakin ke luar daerah pantai. Membekukan segala objek yang menyentuh tanah. Elva dan Chloe bergandengan tangan, sesekali melirik ngeri ke belakang. Banyak dari mereka yang kalah cepat. Mati membeku . Elva dan Chloe berlari ke kompleks perumahan terdekat. Lalu berhenti, dihalangi tembok pembatas. Jalan  buntu. Elva berbalik, wajahnya pucat pasi. Chloe pun terlihat pasrah, seolah menunggu kematian. Detik terakhir, keduanya menutup mata, menjerit tertahan. Hening. Tak terjadi apa-apa.

Takut-takut Elva membuka mata. Memandang sekitarnya yang telah membeku. Pembekuan itu telah berhenti. Tepat pada jarak sedikit ujung kuku saja. Ujung es yang panjang dan runcing terarah di bawah lehernya. Napas lega yang hendak dihela ditariknya. Nyaris.

***

Kapsul Rebell, adalah kapsul yang didesain khusus untuk menembus lapisan atmosfer bumi. Kapsul ini menggunakan pengisian energi yang tidak sedikit, tapi dijamin limarius jikalau kapsul ini tak bisa dibawa pulang pergi bumi-luar angkasa. Sejujurnya, sedikit menyeramkan ketika harus terjun menukik 700 km per jam. Tapi dengan kemudi otomatis yang akan terbang mendatar di ketinggian 500 kaki, memandang aktivitas kota adalah sesuatu yang menyenangkan. Berpapasan dengan trem penerbangan, kapsul lain yang juga berlalu-lalang, atau melihat iklan-iklan fashion dari hologram raksasa pada gedung pencakar langit. Fantastis, seandainya….

Tanda seru dengan alarm bahaya bermunculan di layar hologram kapsul. Dengan kebingungan, Gave – sosok berjas putih di awal cerita – mengetuk-ngetuk layar. Memunculkan gambar yang terjadi di luar kapsul yang mendeteksi ancaman bahaya. Hujan api, fenomena yang terjadi karena atmosfer bumi yang menipis akibat pemanasan global tak mampu menahan percikan api dari matahari “Gave, apa yang akan kau lakukan?” John yang duduk di sebelahnya bertanya dengan raut wajah panik. Hujan api turun dengan derasnya, tak menutup kemungkinan jika kapsul bisa jatuh terbakar. Gave mengatupkan rahang, menekan beberapa tombol, sebelum akhirnya memegang penuh kemudi. Menon-aktifkan kendali otomatis. “Gave, kau sudah gila!?” Gave tak menjawab, konsentrasi penuh. Layar hologram terus menayangkan gambar di luar kapsul.

Hujan api jatuh dari sebelah kiri, membuat Gave dengan sigap membanting kemudi ke kanan. Hujan api datang lagi dari sebelah kanan, Gave membanting kemudi ke kiri. Sepersekian detik cepatnya hingga membuat tubuhnya sedikit terpelanting. Membuat John mengaduh kesakitan. Belum seimbang ketinggian kapsul, hujan api jatuh, memotong perjalanan kapsul dari depan. Sedang Gave menukikkan kemudi ke bawah. Alarm berbahaya berbunyi semakin nyaring. Menawarkan pilihan terbaik dengan melakukan pelemparan.  Bukan pilihan yang bagus, gigi Gave bergemelutuk. Jaraknya semakin dekat dengan permukaan tanah. “Gave, angkat tuas kemudinya, cepat!” suruh John berteriak. Menyesal rasanya jika dia harus jadi rekan dekat Gave. Penduduk di bawah berteriak histeris, sudah ada hujan api, masih ditambah kapsul jatuh pula. Gave menekan layar, berdecak kesal, karena layar hologram terus menawarkan pelemparan. Menghalangi jarak pandang. Dan kemudi manual tak seutuhnya bisa dikendalikan.

“Gave, sekarang!” detik terakhir, tersisa sedikit meter saja, Gave berhasil menaikkan tuas. Mengembalikan kapsul pada ketinggian semula. Meski tak berlangsung lama. Hujan api datang menghujam kapsul. Kali ini, kapsul sempurna jatuh berputar ke bawah. Layar hologram berkedip, mesin-mesin mulai mati. Gave tak melepas kemudi, berusaha menyeimbangkan kapsul, meski mustahil. John mencoba menekan layar-layar hologram mencari jalan keluar. “Apa yang harus kita lakukan?” Gave menanggapinya dengan tersenyum tenang. “Jangan khawatir, John. Kita akan melakukan pendaratan sempurna”. John menaikkan alis, mempertanyakan ucapan Gave. Kapsul terus berputar ke bawah, bagian belakangnya menggores sebuah gedung. Menimbulkan percikan api di beberapa titik. Sedikit terpelanting, dan kapsul terus ke bawah, John menutup mulut, menahan mual. Selang 5 menit, gerakan kapsul terhenti. Dipenuhi bau mesin dan asap yang membumbung tinggi. “Berhenti? Tunggu, bagaiman mungkin terjadi?” John menatap Gave yang mengibaskan tangan, mengusir asap. Meminta jawaban. “Uhuk, bukankah sudah kukatakan? Kita akan melakukan pendaratan sempurna.” “Apa! Kau benar-benar sudah gila! Bagaimana bisa?” Gave menyengir santai. Membuka pintu kapsul. Menyuruh John menyusul langkahnya cepat. Itu bukan hal yang perlu dibicarakan sekarang. Namun, selayaknya hidup, waktu terus berputar, dan jam menghitung mundur kematiannya.

***

Elva, sejak kejadian di pantai, tak berkata barang satu patah pun. Mulutnya terkunci rapat, ia mendapat tekanan batin yang amat sangat. Chloe yang mengantarnya pulang tak berbicara banyak. Lebih sibuk menghubungi suaminya. Menyuruh Elva duduk di sofa elastis ruang tamu. Membelai rambut Elva, “Sayang, siapkan dulu barang-barangmu disini, aku akan ke rumahku dulu.” Elva tak menjawab, kembali ke rumahnya disebelah. Tempat tinggalnya di suatu kompleks perumahan besar dengan rumah-rumah berbentuk kubus. Bosan, Elva mengetuk dinding, menyalakan TV hologram. Mendengarkan siaran berita.

                 “Bencana tak terduga datang lebih ke 500 negara di dunia. Tapi yang lebih dikhawatirkan adalah glester-glester di kutub utara dan selatan. Yang diperkirakan dapat memakan korban jiwa sebanyak – “ tit. Elva mematikan TV hologram. Takut membayangkan jika itu benar-benar terjadi. Ia memilih mengambil bantal leher dikamarnya, menekan tombol di bagian telinga dan mengubahnya menjadi headseat. ia mengeluarkan kaca setipis kertas, memainkan fitur game di dalamnya. Tak lupa, ia menekan tombol di dada pakaiannya. Mengubah kaos singlet yang digunakannya menjadi kaos santai. Ia memutuskan bersikap acuh, walau dia tahu pintu rumah berdesing. Dan langkah kaki tergesa-gesa berderap masuk.

         “Elva!” Gave berjongkok di hadapan putrinya, membelai rambut pirangnya. Bertanya, “Kau baik-baik saja, kan?! Aku takut hal buruk terjadi padamu.” Dihembuskannya napas lega serta senyum lebar. Meski Elva justru berbalik arah, melanjutkan bermain game. “Bersiaplah, kita harus pergi,”

“Ke mana?’

“Pemerintah mengeluarkan dekret evakuasi 3 tempat dengan 3 kapal induk yang akan menyelamatkan kita,” terang Gave pada putrinya.

“Itu… aku mendengar beritanya tadi. Katanya glester di kutub mencair, apa ada kaitannya dengan maksud ayah?” Elva menoleh, menatap Gave yang mengangguk takzim.

 “Jadi… ayah pulang karena hal itu?” terdiam, Gave menelan ludah, berdiri, mengedarkan pandangan. “Apa kau sudah menyiapkan barang-barangmu?” dialihkannya topik, Gave menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Sudah.” Seakan tahu maksud Gave, Elva menjawab singkat.

      “Mmm… bagaimana dengan barang itu?” Tanya Gave dengan sedikit penekanan. Elva mengeluarkan benda yang dimaksud dari balik lehernya. Sengaja dia sembunyikan memang. “Ini?” ditunjukkan benda itu pada ayahnya. Sebuah liontin perak dengan logam bulat di bagian tengah yang bisa dibuka. Bergambar foto Sang Ibu yang meninggal beberapa tahun  silam.” Aku selalu menggunakan ini saat ayah semakin jarang pulang ke rumah…” sorot mata Elva berubah muram. Membuat Gave lagi-lagi meneguk ludah. Perasaan bersalah menghujam hatinya. Menusuk ke lubuk yang paling dalam.

         Gave dan Elva menoleh, mendengar pintu rumah berdesing terbuka. “Gave, Elva, kalian sudah siap? Kita berangkat sekarang.” Dengan John dan Chloe, mereka masuk ke kapsul perak, kapsul yang berbeda. Gave memasukkan titik koordinat. Melakukan lompatan jarak dekat. Karena semakin jauh lompatan yang dilakukan, semakin banyak energi yang terkuras. Dikhawatirkan tak mampu membawa mereka ke lokasi tujuan. Padahal perjalanan mereka masih jauh. Detik ini, perjalanan yang sesungguhnya baru saja dimulai.

***

CTARR!! 

               Lompatan terputus. Kapsul bergetar hebat. Tersambar petir, hilang-timbul di langit gelap yang penuh dengan kilat dan suara guntur. Gave sigap memegang penuh kemudi. Elva disampingnya berteriak takut. John dan Chloe di belakang menggigit bibir, menahan rasa mual yang datang menyergap dari kapsul yang jatuh ke bawah. Gave tak menyerah, menaikkan kembali tuas kemudi. Yang hanya ditanggapi dengan sirene bahaya. Malang bagi mereka, karena kapsul yang belum seimbang ketinggiannya kembali tersambar petir. Kapsul meluncur deras ke bawah. Elva menjertit keras. Jalan terakhir, Gave mengaktifkan tameng transparan. Setidaknya, agar kapsul tak remuk ketika sampai di permukaan tanah. Yang terjadi berikutnya hanyalah gelap.

***

                Elva mengerjapkan mata. Menemukan kondisinya dalam kapsul yang tak bisa dioperasikan lagi. Samar-samar, dia dapat merasakan Gave yang menggendongnya, melepas headseat yang masih bertengger di kepalanya. Membawanya keluar dari kapsul. Menuju bangunan berbentuk limas yang ramai dimasuki orang-orang pula, mungkin gereja. Suatu benda kecil jatuh ke atas kepalanya. Ia mendongak, menatap langit. Bertanya dalam hati, baru ia sadari, bahwa ini adalah fenomena hujan es.

Gave mempercepat langkahnya, disusul John dan Chloe di belakang. Jarak mereka dengan pintu masuk semakin dekat, ketika seorang lelaki berkemeja datang dari samping Gave. Hendak mengucap permisi, ketika balok es dalam ukuran besar menimpanya. Diiringi erang kesakitan dan cipratan darah. Elva menjerit histeris melihatnya, menutup mata. Ia meremas kerah baju Gave. Yang bingung menenangkan putri kecilnya. Masuk di dalam, Gave menurunkan Elva dari gendongannya. Menyeka air matanya yang keluar melihat kejadian mengerikan tadi. Gave menekan tombol di dada pakaian Elva, mengubah kaos santainya menjadi pakaian yang lebih tertutup. Tak lupa ia memastikan penghangat dalam pakaian menyala.

          Gave menyalakan gelang elektrik birunya. Mencoba menghubungi rekan lainnya yang masih beroperasi di Megasatelit. Dimintanya untuk memantau situasi. Gave mengotak-atik gelang elektrik, mencari tahu posisinya sekarang dan alat transportasi yang bisa ia gunakan. Sementara itu, pesan masuk dari rekannya. Pemberitahuan yang membuatnya mengelap keringat.

“Kapal induk di Chicago, 30 menit lagi,”

***

 “Hei, mengantri!!” sebuah suara menghardik kasar. Gave tak peduli, terus menyalip antrean trem penerbangan kota. Beberapa penduduk ikut berseru marah. Belalai rombot raksasa diaktifkan, siap menghukum siapa saja yang melanggar peraturan. Namun itu takkan berguna, Gave lebih dulu membarcode gelang elektrik  birunya. Membuat palang masuk yang tertutup kini terbuka lebar. Memudahkan mereka berempat menaikinya. Penduduk yang menyadari hal ini berdecak sebal. Menyadari protesan mereka berakhir percuma. Wajarlah Gave bisa masuk trem dengan mudahnya, karena gelang elektrik biru itu hanya bisa diakses lisensi kelas A saja. Tak untuk penduduk biasa pada umumnya. Selesai memilih tempat duduk, trem melakukan penerbangan ke halte yang disebutkan. Gave yang duduk di sebelah Elva menggenggam jari jemari putrinya. Elva mendongak, menatap wajah Gave yang tersenyum penuh makna.

“Bagaimana sekolahmu? Menyenangkan?” Elva mengangguk kaku. Aneh saja Gave bertanya sesuatu yang tidak pernah dipersoalkan sebelumnya.

“Bagus, bersekolahlah dan jadi gadis pintar seperti ibumu… apa semuanya berjalan lancar?”

“Begitulah, hanya saja sebelumnya seorang guru menghukumku.”

“Oh, ya? Kenapa?”

“Aku bermain game di jam pelajaran. Ia memberiku 100 soal dan akhirnya memutuskan untuk menghukumku karena semua jawabanku benar.” Gave tertawa, terlebih melihat wajah tanpa dosa Elva melakukan pelanggaran.

“Kau seharusnya tidak seperti itu…. Karena selama kesempatan merasakan sesuatu seperti itu masih ada, kau seharusnya memanfaatkan dengan sebaiknya dan menaati perintah gurumu,” Elva memayunkan bibirnya, menggerutu pelan. Menolak nasihat Gave, tak setuju. Kini, Gave memandangi putri kecilnya dengan senyuman ganjil. Cepat atau lambat, Elva akan tahu, bahwa senyum itu adalah senyuman terindah sebelum momento mori mengambil Gave dari sisinya.

Merasa aneh dengan atmosfer percakapan, Elva memutuskan membungkam mulut. Ia menundukkan kepala, menatap lama foto ibunya yang sangat dia rindukan. Kenangan indah kebersamaan berputar dalam benaknya. Membuatnya tersenyum sedih. Layar hologram dalam trem menyala, pemberitahuan banjir bandang di Rusia disiarkan. Selebihnya, tak ada percakapan berartiyang perlu diceritakan. Tiba-tiba, sirene berbunyi nyaring. Dibarengi getaran hebat yang menjalari trem.  Keseimbangan trem terganggu. Meliuk, berputar ke bawah. Penumpang menjerit kaget, mencengkram berbagai benda agar tak jatuh terpelanting.   Agak lama, getaran tadi berhenti. Sirene mati, dan pintu trem terbuka. Mengumumkan bahwa trem penerbangan telah tiba di halte tujuan.

Satu persatu, penumpang pergi meninggalkan trem. Termasuk mereka berempat yang    di sambut kecamuk angin  kencang. Kepala-kepala mendongak, mendapati angin topan menderu, memburu mereka.  Topan semakin dekat membuat trem penerbangan tertarik. Terbang bersama benda-benda lain di atas sana. Gave  berseru, menyuruh John dan Chloe mempercepat langkah. Lalu ia menggenggam  tangan Elva erat, menyuruh berlari. Topan bergerak semakin dekat, menarik benda-benda di sekitarnya. Orang-orang sibuk berlarian melarikan diri.  Namun, seakan percuma, topan itu menarik Gave. Membuat John dan Chloe yang berada di depan sigap berpegangan pada rambu-rambu. Gave menggigit bibir, mencoba bertahan pada posisinya. Tubuhnya menahan bobot tubuh Elva yang sedang diposisikan agar                                                                    Chloe mampu  meraihnya. Elva susah payah meraih tangan Chloe. Dan angin bergerak semakin kencang.

Dapat. Kini Gave , yang mulai kesulitan mempertahankan tubuhnya. Badannya bergerak naik ke atas bebarengan dengan orang-orang yang                          juga tertarik ke arah topan. Untung, sebelum Gave benar-benar tertarik karena angin kencang, John berhasil meraih tangannya. Meski tak lama hingga pegangan   tangan itu mengendor dengan sendirinya. Ibu jari Gave mulai lepas dari tangan John. Disusul jari telunjuknya, kemudian jari tengah. John menggigit bibir, memantapkan pegangan. Walau berarti John benar-benar harus menahan bobot tubuh Gave.

Tesisa  dua jari saja, dan angin semakin kencang. Gave kehilangan keseimbangan, terlepas dari tangan John. Namun John berhasil menahannya meki hanya 2 jari. John mengerang kesakitan, energinya terus melemah, tak kuat menahan tubuh Gave. Tangan itu. Gave mendongak, menatap Elva, pemilik tangan kecil yang ikut menggenggam tangannya. Matanya berkaca-kaca. “Ayah…” lirihnya sedih. Melihat ini, Gave mengatupkan rahang, benar-benar berupaya sekuat tenaga. Ekspresi sedih Elva seolah memberinya semangat. Bahwa ia akan bertahan hidup demi seorang gadis kecil yang selalu menunggunya. Bagaimanapun caranya.

Perlahan-lahan, angin topan mereda. Topan bergerak menjauh ke arah timur kota. Mereka berempat, mulai dapat kembali berpijak di atas tanah. Mereka saling pandang, tersenyum penuh kelegaan. Gave mengedarkan pandangan. Dari posisinya sekarang, ia dapat melihat kapal induk yang berada tepat di tengah kota. Gave tersenyum senang, menunjukkan kapal yang dimaksud. Jaraknya kurang lebih 300 meter dari tempat mereka. Begitu juga dengan Elva, Chloe, dan John, terpesona dengan ukuran kapal yang amat besar. Hingga kemudian Elva menghapus senyum yang diulas di bibirnya. Menoleh ke belakang, raut wajahnya berubah dalam sekejap. Sedang Gave mengetuk gelang  elektrik, melihat waktu yang tersisa: 125 detik.

“Ayah, itu apa?” Elva menarik baju Gave, membuatnya menoleh ke belakang. Terbelalak seketika. “Lari!” Gave menelan ludah. Segera menggendong Elva.  Disusul John dan Chloe yang memahami alasan perintah Gave. Mempercepat langkah kaki, berusaha menyamai kecepatan Gave di hadapannya. John dan Chloe   pun tahu, banjir bandang yang datang  dari belakang mereka bukan banjir bandang biasa. Justru mirip tsunami, karena ombaknya  menggulung gedung pencakar langit. Gave di depan semakin mempercepat langkah kaki, menyadari kapal induk di depannya mulai bergerak pergi. “Lebih cepat!” ia menoleh, memastikan Chloe dan John  tak tertinggal. Dan kembali berlari secepat mungkin. Kapal semakin dekat, banjir di belakang mereka pun juga begitu.

“Hei! Tunggu kami!” Seorang petugas yang, melongokkan kepalanya dari pintu sayap kanan  menatap Gave. Ia berseru pada rekannya, dan bergerak ke pinggir sayap yang belum di tutup. Tangannya terjulur pada Elva, menaikkan Elva ke atas. Rekan yang satunya mengangkat Chloe. Kapal bergerak semakin tinggi. Tangan petugas tadi terjulur panjang. Namun kian tak cukup meraih Gave ataupun John. Tangannya semakin terjulur ke bawah, tetap tak sampai pada mereka. Banjir bandang semakin dekat. Membuat Gave menggeleng pelan. Napasnya terengah-engah. Toh, percuma, tidak akan berhasil. Petugas itu memahami maksud Gave, bergerak masuk ke dalam. Pintu sayap mulai ditutup, Elva menangis sejadi-jadinya. Berontak. Hendak berlari ke pelukan ayahnya. Petugas tadi mau tak mau menyeretnya masuk. Membiarkan linangan air mata merembes membasahi pipi. Di detik terakhir itulah, dengan mata kepala sendiri, ia melihatnya. Banjir bandang itu menelan nyawa ayahnya.

Momento mori adalah kematian. Tak ada yang dapat kabur darinya. Semua orang pasti akan menemui ajalnya.

***

[18 jam kemudian]

“Liburan ini kau hendak pergi kemana, sayang?”

“Untuk apa ayah bertanya? Ayah tidak akan pulang, bukan?”

“Haa…   ayah benar-benar minta maaf”

“Ayah selalu seperi itu”

Elva menyandarkan tubuhnya pada dinding kapal. Ia menggenggam erat liontin  perak miliknya. Lamat-lamat ia menatap foto ibunya. Ah, andaikan dia punya foto ayahnya. Meski itu tak akan cukup…. Ia menyeka pelupuk matanya yang basah. Sedari tadi ia tak memedulikan Chloe, terus menangis dalam diam. Ia mendongak, menatap planet biru dari kaca kapal. Membuang napas panjang. Sejauh itu.

“Apakah kamu yang bernama Elva? Elva Smiliard?” seorang petugas berjas putih datang menghampiri Elva. Bertanya ragu. Namun dengan kebingungan, Elva hanya mengangguk pelan. “Ai, syukurlah kalau begitu. Ikutlah denganku sebentar.” Elva menurut, pamit kepada Chloe mengikuti petugas tadi. Petugas itu memberikan Elva kaca setipis kertas. “Terimalah ini,  ini milik ayahmu. Ada sesuatu yang ingin ayahmu sampaikan disana.” Elva mengangguk, mengucap terimakasih. Dipilihnya lorong penghubung  yang sepi dan menekan tombol disana. Sebuah gambar berjalan  menyala, menayangkan  Gave dengan jas laboratorium. Rambutnya acak-acakan dan menyiratkan lelah. “Selamat  pagi putriku! Apa kau tadi malam tidur dengan nyenyak?” Gave menjeda kalimatnya. Menghela napas panjang, mengarahkan percakapan topikyang dimaksud. “Ayah benar-benar minta maaf karena tak pulang di liburan musim panasmu. Ayah membelikanmu ini, bukankah ini game favoritmu? Fitur barunya saja tidak banyak di produksi.” Tersenyum lembut, berharap putrinya memaklumkan kesibukannya.

“Aduh, apalagi ini?” Ditayangkan dalam gambar, asap lorong mengepul dari ruangan di sebelah Gave. Dibarengi dengan sirene kebakaran di penjuru lorong. “Mungkin ada kecelakaan di ruanga laboratorium, kuharap kau mengerti. Terakhir, ayah ingin berterimakasih karena Elva sudah menjadi satu-satunya orang yang menanti ayah.  Menjadi sosok yang selalu membanggakan ayah dalam banyak hal… Ayah minta maaf. Seandainya ayah tahu bahwa kita akan mengerti seberapa berharganya seseorang ketika ia telah tiada, maka kau tidak akan pernah merasakan kesepian itu…” Gambar berjalan berhenti. Dibarengi isak tangis  dari Elva. Dadanya terasa sesak, menyadari gambar berjalan itu dibuat kemarin.

Semua ini belum berakhir. Selayaknya hidup, setiap insan tak dapat memilih akhir cerita yang dia ingini. Sampai maut menjemput, semuanya telah diatur Sang Pemilik Semesta. Sedang hidup terus berputar bagai roda.

Kisah ini baru permulaan saja. Akan menjadi data, bahwa setiap  genggam peradaban ada harganya. Untuk yang satu ini, dunia telah menentukan akhir ceritanya. Bahkan perkembangan peradaban manusia tak dapat menjangkaunya. Dan adalah akhir, dari segala nyata

Apokalips.

[Epilog]

“Semua ide ini sudah gila, Elva.” 10 tahun berlalu, Elva dan rekan yang menemaninya bertugas hari ini telah dewasa, menjadi gadis cantik dengan kode genetik terbaik. “Aku tahu bahwa kamu tidak menyetujuinya, Jane. Tapi hanya sedikit orang yang dapat bertahan hidup.” Elva berjalan di depan, menyiapkan peralatan. Lalu masuk ke salah satu kapsul Rebell. Jane menggerutu, masuk ke kapsul Rebell lain di sebelahnya, menekan layar. ”Lakukan saja tugasmu.” Ucap Elva dari jejaring komunikasi. Tersenyum mengamati. Ia kemudian memberi aba-aba untuk melakukan  peluncuran.  Kembali pada Pangaea, jutaan ribu tahun yang lalu.

Selama kesempatan itu masih ada.

Tamat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *