Cerpen #330; “PUTRI GADIS DUSUN PENCINTA HUJAN”

Sebelum semuanya benar-benar terjadi, dirimu kelak akan memimpikan menghabisi masa tua di dusun kecil itu. Berada pada sisi utara dari gunung, membuatnya menjadi dusun impian semua orang. Tertutup hutan dan jauh dari keramaian, nyatanya tak membuat ia tak dikenali banyak orang. Semua yang terjadi dan menjadi miliknya seolah-olah tak lekang oleh perubahan dan kemajuan.

Di kalangan orang banyak, dusun kecil itu mempunyai banyak nama. Ada yang menyebutnya dusun hujan, dusun pelangi, dan yang terakhir adalah dusun di atas awan. Ketika hujan turun, engkau dipastikan diam. Biji air hujan yang menebas daun-daun terlihat begitu seragam. Anak-anak kecil dilepaskan main hujan-hujanan. Katanya hujan itu berkah sehingga ritual anak-anak yang main hujan-hujanan dianggap wajar dan masuk akal saja. Barangkali ini adalah salah satu alasan menyebut dusun ini sebagai dusun hujan.

Sehabis hujan matamu akan dimanjakan pelangi yang naik dari sebelah barat dan turun tepat di mata air sebelah timur. Anak-anak yang tadi kau lihat main hujan-hujanan, pergi satu per satu menyusul ayahnya ke sawah. Tidak pandang laki-laki atau perempuan. Mereka berlari sekencang mungkin dan mendapati ayahnya. Lalu dengan antusias menceritakan bahwa mereka mampu bertahan dalam hujan. Ayah mereka tak banyak tanggap, selain memberikan senyum tulus sambil mengelus kepala anaknya dengan bangga. Mungkin kehangatan inilah yang membuat si pelangi meluangkan waktunya untuk sesekali muncul menghiasi kaki gunung.

Di antara anak-anak itu, kau akan menjumpai satu gadis ingusan. Bola matanya selalu memancarkan keceriaan sehingga tak sedikit orang yang jatuh dan terperangkap di situ. Namanya Putri. Ia begitu mencintai hujan. Sampai-sampai tak satu pun hari dilewatinya tanpa berdoa untuk hujan. Anak semata wayang tak menjadikannya sebagai anak yang suka mengurung diri. Ayah dan ibunya pun tidak banyak menghalangi ini dan itu. Putri dibiarkan merajut kisahnya sendiri. Mencari arti dan makna hidup yang ssesungguhnya. Dan yang lebih pentingnya lagi, katanya Putri ingin merawat dusunnya ini. Kenangan dan pengalaman masa kecil Putri semuanya ada di dusun ini. Main hujan-hujanan menjadi kenangan masa kecil yang tidak akan pernah terhapus dari ingatan Putri.

Malam setelah sorenya hujan, anak-anak di rumah akan mendapat pelajaran dan cerita dari kakek atau nenek mereka. Sementara Putri hanya akan ditemani Ayahnya. Cerita itu bukanlah cerita tentang kehebatan seseorang. Ataupun tentang pahlawan perang yang tak mati-mati setelah ditusuk panah dan tombak berkali-kali. Cerita-cerita itu hanya berkisar tentang hujan, pelangi, dan segala yang pernah terjadi di dusun itu. Hebatnya, di setiap malam cerita-cerita itu tidak pernah sama dengan cerita-cerita di malam sebelumnya. Para anak yang main hujan tadi, masing-masing meyakini diri bahwa mereka mampu menjaga dusun itu. Cerita-cerita malam rupanya berhasil menggantungkan cita-cita anak ini pada langit.

Untuk sore yang kesekian kalinya, dari depan teras rumah, Putri menunggu hujan turun. Angin yang bergerak perlahan membuat Putri diam di tempat duduknya. Sebentar lagi hujan bakalan turun. Anak-anak kecil berbaris rapi di depan rumah seolah menunggu tabuhan genderang perang. Mereka menunggu rintik-rintik hujan jatuh. Ketika rintik yang pertama berhasil mencumbui bumi, anak-anak itu akan melompat keluar sambil tersenyum bahagia.

“Put… Ini kopinya sudah ibu bikin”, kata ibu sambil meletakan kopi di depan Putri.

“Makasih banyak Bu”, jawab Putri dengan mata masih tertuju pada anak- anak kecil yang main hujan.

Melihat anak-anak kecil yang main hujan-hujannan membuat Putri mengingat masa-masa kecilnya dulu. Dimana Putri menjadi bocah yang tidak pernah mau kalah dengan teman-teman lainnya. Putri saja yang berani melawan anak laki-laki ketika mereka berbuat curang dalam permainan-permainan masa kecil. Meskipun sudah berantam berkali-kali, mereka tetap menjadi teman sepermainan yang baik. Tak satu pun dari mereka yang mendendam. Banyak anak lain yang menyukai Putri. Semua itu karena sifat baiknya. Ia tidak pernah memilih teman dalam bermain. Putri bermain dengan siapa saja. Dalam lingkungan seperti itulah Putri dibentuk menjadi anak yang kuat dan mandiri. Bapak dan ibu pun tidak banyak melarang Putri.

Putri bukan lagi gadis ingusan yang akan main hujan-hujanan. Dia telah tumbuh menjadi gadis yang dewasa. Berparas elok dan terdidik. Barangkali ini menjadi sore yang terakhir bagi Putri menyaksikan hujan di dusun ini. Kenangan-kenangan masa kecilnya larut bersama segelas kopi yang diminumnya pelan-pelan.

“Sudah…. Sudah… Kenangan-kenangan masa kecilmu, tak perlu diingat terus. Toh kau tidak bisa kembali lagi ke sana. Cukuplah mengingatnya karena itu hanya akan mengganggumu. Ingat Put, dusun kita saat ini sedang tidak baik-baik saja. Orang-orang semuanya berubah. Tidak seperti dulu lagi. Banyak orang mengklaim hutan sebagai miliknya. Tak banyak yang dapat dibuat. Apalagi kebanyakan orang memilih untuk selalu angkat parang. Tidakkah kau ingat cerita yang beredar akhir-akhir ini. Dusun tetangga kita banyak yang gagal panen. Sebelumya mereka dikenal sebagai lumbung padi di kecamatan kita. Tapi yang ada sekarang, mereka berjuang mati-matian untuk mendapatkan sesuap nasi. Tak satupun sawah yang ditanami bibit padi. Semuanya kering kerontang. Sungai tak dialiri air barang setetes pun. Hutan Mello yang menjadi kebanggan mereka dulunya, lenyap tanpa satu pun meninggalakn pohon. Udara yang segar dan bersih digantikan dengan angin yang bertiup dengan menggandengkan banyak debu. Banyak anak dan lansia dilarikan ke Puskesmas kecamatan lantaran asap yang tebal dari hutan. Masyarakat tidur tidak tenang. Hujan deras dilepaskan turun semaunya. Sementara tanah kehabisan daya untuk menahan. Masyarakat semuanya cemas. Kalau-kalau hutan Mello jatuh dan meluluhlantakan rumah-rumah mereka. Karena itu Put, berangkatlah besok. Janganlah memikirkan ayah dan ibu. Apalagi tentang dusun ini. Bukan tidak mungkin Put, hal serupa akan terjadi pula di dusun kita ini. Orang sama saja ketika ditawari banyak uang. Rela melakukan apa saja, asal ia sendiri puas. Karena itu Put carilah tempat yang paling aman untukmu sendiri. Setelah semuanya selesai kau bisa kembali kapan saja”.

Ibu mengakhiri pesannya dengan merangkul tubuh Putri. Perkataan ibu tadi benar-benar menyadarkannya. Suara tumbukan hujan di atas seng, seolah-olah tidak berarti apa-apa di bawah suara ibu. Putri mendengar semua pesan itu. Masa depannya ada di tangannya sendiri. Dusun ini terlampau berharga dan Putri tak ingin ia hancur hanya karena ulah beberapa orang.

Hujan sudah mulai reda. Anak-anak kecil itu masih keasikan dengan hujan. Pelangi menghiasi langit dengan kecantikannya. Dari dalam hutan terdengar kicauan burung-burung. Putri menikmati semuanya. Ia hanya bisa meyakinkan diri bahwa ia akan terus menyaksikan itu semasa hidupnya. Tapi untuk beberapa tahun ke depan, Putri terpaksa meninggalkan nuansa indah ini. Namun sudahlah tak apa-apa. Putri hanya pergi sebentar dan dusun ini menantikan kepulangannya.

Pada malam yang hanya ditemani bulan yang separuh, lantunan doa Putri menembus dinding-dinding rumahnya. Tak banyak yang dimintanya. Kekuatan untuk menjalani kehidupan sudah lebih dari cukup.

“Besok pagi berangkatlah. Tak perlu mencemaskan bapak dan ibu”. Kali ini ayah mencoba meyakini putri kesayangannya. Putri hanya mengangguk. Belum pergi saja, dadanya teras begitu sesak. Suara binatang malam menjadi iringan pengantar tidur Putri malam itu.

Sementara bapak belum tidur juga. Cerita yang beredar tentang dusun sebelah membuatnya tak bisa tidur. Takutnya, jika apa yang terjadi di dusun sebelah akan menyebar ke dusun Hujan. Pastinya sangat menyedihkan apabila hal seperti itu benar-benar terjadi. Apalagi tadi siang, ayah melihat banyak orang keluar masuk hutan. Masing-masing mereka membatasi daerah hutan dan menyebut itu sebagai miliknya. Padahal dalam tradisinya, orang-orang tertentu saja yang bisa masuk hutan. Tapi apa mau dikata, tak satu pun yang mampu melarang dan menentang. Ayah pun tidak dapat melakukan hal itu.

Sebelum mentari muncul dan satu dua ayam menunjukkan kebolehannya, ibu sudah bangun dan menyiapakan segalanya untuk keberangkatan Putri. Ayah yang ketiduran di kursi depan juga bangun. Kepergian Putri pagi ini pastinya terasa begitu berat bagi mereka. Namun mau bagaimana lagi, Putri harus mengejar masa depannya. Semua itu pun demi kebaikan Putri sendiri. Kerinduan terasa begitu berat ketika suara mobil yang membawa Putri memenuhi halaman rumah. Dan dengan sedikit berlari, Putri masuk ke mobil itu. Ibu yang sedari tadi berdiri di samping ayah, hanya diam dan beberapa tetesan air mata membasuh wajahnya. Putri pergi meninggalkan ayah dan ibu serta dusun Hujan. Yang terakhir dilihat Putri adalah lambaian lemah dari ayah dan ibu yang berusaha tegar melihat kepergian Putri.

Putri tiba di Kota hampir mau malam. Dengan langkah lemah karena perjalan yang begitu jauh, Putri berusaha mencari kakak Darman yang datang menjemputnya. Putri sesungguhnya tidak pernah melihat model wajah kakak Darman. Tapi berdasarkan cerita ibu bahwa kakak Darman itu orangnya baik. Ia memiliki badan besar dan jarang sekali tersenyum. Wajahnya selalu serius. Namun ia memiliki sifat yang baik. Apalagi dengan keluarga dan orang-orang yang sudah dikenal baik.

Tentang kakak Darman. Ibu pernah di suatu malam menceritakan bahwa kakak Darman sebenarnya adalah anak orang yang terkenal di dusun sebelah dulu. Bapaknya seorang kepala desa yang sangat bijaksana. Selama menjadi kepala desa bapaknya terkenal begitu keras dan cepat marah. Orang-orang yang tidak tertib langsung ditegurnya secara empat mata. Meskipun begitu, dusun sebelah begitu makmur dan maju di bawah kepemimpinannya. Orang-orang hidup damai dan aman. Tidak seorang pun yang kekurangan. Setiap tahunnya, panenan dari sawah-sawah mereka selalu bertambah. Hutan-hutannya begitu terawat dan asri. Orang-orang begitu kelimpahan air dan kayu.

Biasanya saat musim panen, orang-orang dusun begitu bahagia. Kerja keras dan perjuangan mereka akhirnya tidak sia-sia. Padi yang mereka hasilkan seringkali sebagiannya dijual ke daerah lain. Tidak lama setelah itu dusun mereka dikenal dengan sebutan lumbung padi. Bapak Darman kemudian begitu dihormati oleh orang-orang dusun. Buah-buahan yang dianggap paling baik biasanya diantar ke rumahnya. Orang-orang sedusun seolah-olah ingin menjadikannya  pemimpin atas kehidupan mereka. Karena itu para saingan Bapak Darman sangat cemburu dan iri hati. Mereka berusaha untuk menyingkirkannya.

Terkenalnya dusun itu sebagai lumbung padi membuat banyak orang datang kunjung. Apalagi ditambah dengan keasrian hutan. Dari daerah lain orang mulai berdatangan. Pebisnis-pebisnis kaya pun ikut. Dari sinilah semuanya berawal. Pebisnis besar itu tak mampu berbuat apa-apa di bawah kuasa Bapak Darman. Mereka terus berusaha menyogoknya dengan tawaran-tawaran yang begitu menggiurkan. Akan tetapi semuanya sia-sia. Bapak Darman bukanlah orang yang gampang digodai dengan hal-hal semacam itu. Ia lebih mementingkan orang banyak daripada dirinya sendiri. Tidak hanya pebisnis padi yang datang. Mereka yang juga tergiur dengan keasrian hutan pun datang. Seperti pebisnis padi, mereka juga menggodai Bapak Darman dengan tawaran yang tidak kurang menarik. Tetapi hasilnya sama saja. Bapak Darman tidak mau sedikit pun.

Pada akhirnya pebisnis-pebisnis itu mendapat peluang yang begitu besar. Saingan bapak Darman dijadikan orang dalam untuk memuluskan rencana. Sampai pada suatu malam, dusun mereka digemparkan dengan terbakarnya rumah bapak Darman. Semua orang berjuang keras memadamkan api. Orang banyak menangis sejadi-jadinya. Mereka kehilangan pemimpin yang begitu mereka cintai.

Sementara Darman waktu itu, ia lari dengan sekuat tenaga mencari pertolongan. Darman tahu kalau semunya sudah direncanakan. Darman sudah melihat beberapa orang tak dikenal menyiram bensin di sekeliling rumah. Ketika belum sempat mengasih tahu bapaknya, api sudah dengan cepat melahap seluruh isi rumah. Apalagi waktu itu, Darman tidur di kamar belakang. Tanpa berpikir panjang, Darman dengan cepat berlari keluar. Beberapa orang berusaha mengejarnya. Untungnya saja waktu itu, Darman bertemu dengan Bapak Putri.

Setelah bangun di pagi harinya, Darman menceritakan semuanya. Waktu itu Putri masih kecil. Bapak dan ibu begitu sedih mendengar apa yang diceritakan Darman. Beberapa hari itu, Darman tidak keluar rumah. Ia terus berada di kamar dan menangis sejadi-jadinya. Wajah kedua orang tuanya terus melingkar di otak kepalanya. Bapak dan ibu selalu berusaha menguatkan Darman. Lalu beberapa bulan setelahnya, Darman memutuskan ke kota. Katanya ia akan kembali untuk kedua orang tuanya. Setelah mendengar cerita itu, Putri yakin kalau kakak Darman orangnya baik.

Dari seberang jalan Putri melihat seseorang turun. Wajahnya sedikit seram. Bibirnya tak sedikitpun mengeluarkan senyum. Dengan levis hitam ia membaluti seluruh dirinya yang kelihatan sangat kekar itu. Pertama-pertamanya Putri sedikit takut dengannya.

“Selamat malam Putri” orang tersebut menyapa Putri dengan sangat lembut. Ternyata wajahnya yang serem tidak menjadikannya sebagai pribadi yang kasar. “ ohhh. Maaf. Perkenalkan aku Darman. Aku mendapat pesan dari ibumu kalau kau akan ke kota dan aku harus menjemputmu”. Melihat perlakuan kakak Darman, Putri pun yakin bahwa ia akan baik-baik saja.

“Tak usah takut tinggal di kota besar ini. Kalau ada perlu panggil saja aku.” Kata kakak Darman setelah mengantar Putri ke kontrakan yang telah dipesannya beberapa bulan lalu. Seperti bapaknya, kakak Darman mempunyai jiwa kepemimpinan yang tinggi. Pemilik kontrakan sangat mempercainya untuk menjaga semua kontrakan. Karena itu, semua yang tinggal di kontrakan selalu merasa aman.

“Baik kak, Putri akan lakuin semuanya”. Kakak Darman hanya tersenyum dan kemudian pamit pergi.

Beberapa bulan setelahnya, Putri sangat aman dan nyaman tinggal di kota. Setiap kali ada yang Putri butuhkan, kakak Darman selalu memenuhinya. Mungkin inilah bentuk balas jasa dari kakak Darman karena bapak dan ibu sudah membantunya waktu itu. Putri kemudian sadar bahwa orang yang mukanya serem itu, tidak selalu jahat dan kasar. Kadang-kadang ada yang sangat baik. Contohnya adalah kakak Darman.

“Janganlah kau pikirkan Putri terus- terus. Ia pasti baik-baik di sana”, ayah terus berusaha menenangkan ibu. Berita tentang mewabahnya penyakit kulit yang terjadi di kota seminggu terakhir membuat ibu begitu cemas memikirkan Putri. Apalagi waktu itu kakak Darman harus keluar kota sehingga Putri pastinya sendirian.

“Pa. Putri belum lama tinggal di kota. Ia belum mengenal semuanya. Apalagi tentang penyakit kulit itu. Pastinya Putri tidak tahu apa-apa”. Kali ini ibu membalas bapak dengan suara yang sedikit tinggi. Semua itu menandakan bahwa ibu benar-benar mencemaskan Putri.

“Sudahlah bu. Kita doakan saja agar Putri tetap sehat dan dijauhkan dari pengakit tersebut. Ingat bu, Putri tumbuh di dusun ini. Semua itu menjadikannya anak yang kuat. Kalau pun nanti ia kenapa-kenapa, pastinya ia akan cepat mengabari kita”. Bapak mengakhiri pembicaraannya dengan memeluk tubuh istrinya itu. Bapak sering melakukan itu ketika ibu sedang cemas dan takut.

“Penyakitnya itu bu katanya karena sinar matahari. Awalnya kulit kita gatal-gatal terus kalau digaruk akan memerah dan kemudian muncul biji-bijinya”. Salah seorang warga dusun bercerita dengan ibu di sungai kemarin sore. Malamnya ibu tak bisa tidur sama sekali. Ibu takut kalau Putri terkena penyakit kulit itu. Namun ayah terus menenangkan ibu dan selalu mengatakan bahwa Putri bukan anak kecil lagi. Pastinya ia sudah tahu bagaimana menjaga diri. Dengan itu ibu kelihatan sedikit tenang.

Putri menjalani kehidupan di kota sewajarnya saja. Wangi alami khas dusun Hujan digantikan bau debu dan polusi. Setiap kali hujan turun, tak satu pun anak-anak yang merayakannya. Mereka malah lari ke tempat tidur masing-masing. Kemudian menunggu sampai hujan benar-benar reda. Putri hanya diam menyaksikan semua itu. Lebih buruk lagi ketika sehabis hujan itu, semua sungai meluap. Orang dengan susah payah melewati genangan air yang tingginya bisa mencapai beberapa meter. Ketika hal ini terjadi, Putri tak akan keluar. Ia biasanya duduk sendirian di pojok kamar dan memandang bukit-bukit.” Aku rindu menyaksikan hujan di dusunku”. Inilah yang sering diucapkan Putri dalam kesendiriannya itu. Kadang-kadang, Putri harus menghabiskan waktu untuk menantikan hujan dan pelangi di kota. Pelajaran tentang musim hujan dan panas yang didapatkannya selama ini. tidak begitu sesuai dengan apa yang dialaminya di kota. Bulan yang seharusnya turun hujan malah harus mendapat sengatan panas matahari. Putri sangat bingung akan hal ini. Beberapa kali ia terpaksa harus membuang banyak waktu untuk mencari kebenaran yang sesungguhnya. Tapi semuanya sia-sia. Pengetahuan itu masih sama. Informasi yang terakhir didapatkannya adalah manusia bertanggung jawab atas semua yang tengah terjadi.

Semenjak kepergian Putri, ayah dan ibu menghabisi hari demi hari berduaan saja. Sesekali sepupu kecil Putri datang membawa ikan yang ditangkap dari danau kecil di pinggir jalan menuju hutan. Orang-orang yang hobi memancing biasanya menghabiskan akhir pekan di danau itu. Ikan hasil tangkapan hanya untuk dimakan sendiri. Kalau ada lebih diberikan ke tetangga-tetangga atau pu keluarga-keluarga dekat.

“Ayahmu jago memancing juga ya”? Kata ayah suatu kali. “Tidak paman, Cuma kebetulan saja. Apalagi sebulan terakhir air di danau kita perlahan surut paman sehingga ikan mudah saja ditangkap. Mereka yang bekerja di hutan tak memikirkan lauk lagi. Seandainya tak ada lauk, mereka akan mendapatkan ikan dengan mudah dari danau itu”. Anak kecil itu menceritakan semuanya. “Berarti banyaklah orang yang menebang kayu di hutan sekarang”? Ayah bertanya lagi. “Ia paman. Mereka tidak hanya dari dusun ini, tetapi juga sengaja didatangkan dari kota”. Kali ini ayah diam dan hanya mengangguk. “Kalau begitu aku pulang dulu. Jika ada waktu aku datang lagi. Titip salam buat bibi”. Dengan sedikit berlari anak kecil itu meninggalkan ayah dalam keadaan masih membayangkan apa yang akan terjadi setelah ini.

Kurang lebih beberapa bulan setelahnya, dusun Hujan banyak berubah. Kehidupan orang-orang di dalamnya tidak lagi hangat seperti sebelum-sebelumnya. Apa yang terjadi di dusun sebelah rupanya pelan-pelan masuk dan mengacaukan segalanya. Ayah terpaksa menghabiskan waktu tidur malamnya, hanya untuk memastikan bahwa air mengaliri seluruh petak sawah. Sementara ibu harus berjalan jauh untuk mendapat air yang layak untuk diminum.

“Kita mesti bagaImana bu. Air susah didapat sekarang. Jangankan untuk mandi dan mengairi sawah, untuk minum saja kita susah bu. Dulunya kita tak perlu repot-repot berjalan jauh untuk mendapat air. Tapi yang ada sekarang kita harus melakukannya. Semuanya benar-benar susah bu”. Beberapa ibu masing-masing menceritakan bagaimana sulitnya mendapat air di dusan Hujan sekarang. Ibu diam saja. Apa yang diceritakannya tentang dusun sebelah, sekarang harus ibu alami dan rasakan. “Mau bagaimana lagi bu. Semuanya salah kita juga. Hutan yang dulunya menjadi mata air, sekarang gundul dan tandus. Tak satu pun pohon yang dibiarkan tumbuh di hutan Orang-orang kita membabat habis semuanya. Mungkin setelah ini pun, dusun kita ini akan dinaungi asap-asap pabrik dan beberapa dari kita terpaksa harus dirawat di rumah sakit. Kasihan para orang tua dan anak-anak bu”. Suasana waktu itu begitu pilu dan sedih. Orang-orang tahu penyebabnya tapi tak satu pu yang berani menentang. Semuanya dilepaskan begitu saja.

“Jangan menceritakan semua ini pada Putri bu. Nantinya ia akan pulang karena mencemaskan kita. Lebih aman kalau ia tetap di kota. Lepas kita saja yang merasak semua ini. Putri jangan sedikit pun. Kata ayah di suatu sore kepada ibu. “Tapi pa, Putri perlu mengetahui semuanya. Tentang segala yang terjadi di dusun kita ini. “Ayolah bu. Untuk saat jangan dulu. Itu hanya akan mengganggu aktivitas belajarnya”. Ayah berusaha meyakinkan ibu. Meskipun begitu, sesungguhnya ibu ingin sekali menyampaikan semua ini kepada Putri.

Hujan yang mengguyur kota sepanjang hari itu, menambah beban kerinduan Putri akan dusun Hujan. Putri ingin melihat anak-anak yang bahagia ketika hujan itu turun. Tidak seperti di kota ini, yang masing-masing menyelimuti diri mencari kehangatan. Bapak dan ibu juga tidak sedikitpun memberi kabar. Beberapa kali Putri mencoba bertanya kepada teman-teman sedusunnya yang juga ada di kota. Namun tak satu pun yang memberi jawaban pasti. Kakak Darman waktu itu pun masih ada kesibukan di luar kota. Putri tidak mau mengganggunya. Sampai pada akhirnya, suatu berita masuk dan diketahui Putri. Terlihat jelas pada halaman depan surat kabar potret dusun Hujan yang tampak kering dibarengi dengan tulisan Dusun Hujan Dilanda Kekeringan Panjang. Isi berita membuat Putri tidak tenang. Pastinya bapak dan ibu terkena dampaknya juga. “Aku akan pulang. Rupanya bapak dan ibu sengaja tak memberitahuku.”

Pagi berikutnya, Putri berangkat ke kampung tanpa sepengetahuan bapak dan ibu. Putri pun tak memberi tahu kakak Darman. Putri takut kalau bapak marah dan menyuruhnya kembali. Karena itu Putri pergi saja. Perkara ayah marah atau tidak itu urusan belakangan. Dengan menumpangi satu truk kayu, Putri kembali ke desa. Dalam perjalanan doa Putri hanya berkisar tentang hujan. “Tuhan turunkanlah hujan barang sedikit. Aku membutuhkannya”.

Putri terus memikirkan bapak dan ibu. Wajahnya terlihat begitu cemas dan takut. Baru kali ini Putri takut sampai segitunya. Bagaimana mungkin dusun yang dulunya begitu asri dan indah, ttiba-tiba langsung berantakan. Putri kemudian mengingat semua yang pernah ibu ceritakan. Dan sekarang semuanya benar-benar terjadi. Dusun Hujan akan menjadi sama seperti dusun-dusun yang lainnya. Pada akhirnya doa Putri terjawab. Hujan deras turun begitu hebat. Putri tersenyum puas.

Malam gelap tanpa sedikit pun cahaya bulan, dusun Hujan digemparkan berita terseretnya truk kayu ke jurang. Menurut cerita, sang sopir berusaha menghindari tanah dan batu yang jatuh dari bukit samping jalan. Barangkali karena hujan dan sedikit gelap, sopir tak dapat melihat jurang di depannya. Sampai pada akhirnya truk kayu itu terperosok begitu dalam. Rupanya kali ini, cinta Putri tak mendapat balasan baik dari hujan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *