Cerpen #329; “Melindungi Bumi Mulai Dari Sekarang”

Pagi yang sibuk bagi seluruh pekerja di pelabuhan. Kegiatan bongkar muat sudah berlangsung sejak seberkas cahaya mulai menutupi gelap di ufuk timur. Melihat aktivitas tersebut dari atas kantor pelabuhan, menjadi sebuah daya tarik tersendiri bagi diriku yang sedang menunggu kedatangan kapal pesiar pribadiku. Setelah puas menikmati hiruk-pikuk yang terjadi di pelabuhan, aku memilih menunggu di ruang lobi pelabuhan sambil membaca koran yang menampilkan berita efek rumah kaca dan banjir di Ibukota pada halaman awal surat kabar tersebut. Sampai pada akhirnya seseorang datang menghampiriku.

“Hai, apakah kau Alim? seorang aktivis lingkungan yang telah populer belakangan ini.” Ujar seorang pria yang aku perkiraan umurnya lebih tua dari  ku. “Kau mengenalku?” jawabku penasaran. “Wah, jangan heran kawan. Kau sedang populer saat ini. Di majalah, papan reklame, media sosial, semua ada dirimu sobat. Mengepalkan tangan dengan disertai kalimat Melindungi Bumi Mulai Dari Sekarang. Bahkan aku tak percaya bisa melihatmu secara langsung saat ini.” Jawab pria yang masih berdiri di depanku saat ini. “Kau siapa?” tanya diriku kepada pria itu. “Perkenalkan aku adalah salah satu pimpinan redaksi di perusahaan surat kabar yang saat ini tengah kau baca Lim. Namaku Farhan.” Sambil mengulurkan tangannya. Aku balas menjabat tangan Farhan.

“Apa yang sedang kau lakukan Alim? Apakah akan mengoreksi kebersihan di pelabuhan ini? Atau kau akan turun tangan membersihkan sampah di lautan seperti yang biasa kau lakukan di kolong-kolong jembatan?.” Tanya Farhan yang sedang berusaha mencairkan suasana. “Aku sedang menunggu kapal pesiar pribadiku Farhan.” Jawabku dengan tawa kecil. “Kau mempunyai kapal pesiar pribadi? Kau luar biasa Lim. Bagaimana kau bisa mendapatkan uang sebanyak itu, hingga kau bisa membeli sebuah kapal pesiar. Atau kapalmu terbuat dari daur ulang.” Masih dengan basa-basi. “Aku mendapatkannya dari hasil tabunganku sendiri Farhan.” Jawabku sambil sedikit tertawa. “Tabungan? Berapa lama kau menabung hingga kau bisa membeli sebuah kapal pesiar. Aku yang menaruh uang di bank 15 tahun yang lalu, hingga saat ini bahkan tidak akan mungkin untuk membeli sebuah kapal pesiar.” Jawabnya serius sekaligus penasaran. “Aku mendapatkannya sebagai hadiah dari pamanku yang menjanjikan sebuah kapal pesiar jika Aku berhasil menjadi lulusan terbaik di kampusku saat itu.” Jawabku terus terang.

Setelah beberapa perbincangan singkat dengan Farhan, kapal pesiar pribadiku berlabuh cantik di pinggir dermaga pelabuhan. “Baiklah Farhan, aku senang berbincang denganmu namun, sepertinya kita harus berpisah. Aku berharap kita akan berjumpa kembali di waktu yang lebih luas lagi.” Aku menutup pembicaraan. “Oh ya, bolehkah Aku meminta kartu nama milikmu? Suatu saat aku pasti membutuhkan mu.” Ucapku seraya berdiri dari tempat duduk ku. Farhan memberikan selembar kartu nama dan kami berpisah menuju tujuan kami masing-masing.

***

Kapal pesiarku sudah menaikkan jangkarnya, mulai menjauhi dermaga. Perjalananku kali ini menuju Ibukota untuk  melakukan pertemuan dengan salah satu orang yang berpengaruh di negara ini untuk membahas tentang isu kerusakan iklim yang terjadi pada negara kita. “Ke mana tujuan kita kali ini capt?” terdengar dari seseorang  yang telah kupercayai menahkodai kapal pesiarku ini. “Ibukota Max, kita akan menemui orang penting di sana.” jawab ku singkat. “Apakah keperluan logistik di kapal ini masih cukup untuk perjalanan kali ini Max?” sambungku mencemaskan kondisi kapal kepada Max. “Keperluan logistik sangat cukup capt. Sebelum berangkat aku sudah memeriksanya.” Jawab Max dengan sigap. Jawaban yang sudah bisa aku tebak, Max memang bisa diandalkan dalam hal pelayaran. Oleh sebab itu, aku mempercayainya untuk menjadi nahkoda pribadiku sejak delapan tahun silam. Ia merupakan lulusan akademi pelayaran terbaik dari  salah satu sekolah pelayaran di singapura.

Perjalanan menuju Ibukota menempuh jarak 273 KM jika melalui jalur laut. Itu artinya 13 jam mendatang aku akan tiba di Ibukota. Masih banyak waktu bagi ku untuk beristirahat sejenak sebelum menghadiri pertemuan dengan Bapak Presiden. Sebelum aku menuju kamar untuk sekedar merebahkan badan, dari luar kapal aku melihat pemandangan yang tidak bisa kudapati di daratan. Namun, aku tersentak ketika melihat lebih dekat ke lautan. Terlihat benda putih mengapung lihai di laut. Aku berani memastikan itu bukanlah sebuah ikan ataupun buih-buih yang terbawa ombak. Seikat plastik sampah yang aku perkirakan sudah sangat lama terapung-apung di laut. ‘kurang ajar’ dalam hatiku. Andai saja tidak di atas kapal, sudah aku pungut sampah itu. Tak lama setelah aku melihat seikat plastik sampah, diriku semakin tersentak melihat sisa kemasan produk air mineral yang berasal dari luar negeri. Aku berani menjamin itu sampah dari salah satu kapal luar negeri yang melintasi lautan Indonesia. Terlihat dari label botol yang masih terpasang rapi. ‘Kalau saja aku tahu pelakunya, akan ku buat rumahnya dipenuhi sampah’ hatiku mengumpat kembali sebelum akhirnya aku memilih untuk meninggalkan deck kapal menuju kamar untuk beristirahat.

***

Pukul 22:00 terlihat dari kejauhan pemandangan pelabuhan Ibukota di malam hari yang menyambut kedatanganku sebelum akhirnya kapal pesiarku benar-benar berlabuh di pelabuhan. Aku menghubungi temanku yang akan menjemputku di pelabuhan, demi memastikan keberadaannya. “Halo Alim, apakah kau akan menanyakan keberadaanku saat ini?” suara itu keluar dari dalam ponselku. “Yaps, apakah kau sudah berada di pelabuhan Joe? Jawabku. “Tentu saja Lim, bahkan aku sangat bersemangat karena aku akan ikut menemui orang nomor satu di negara ini.” Sahutnya penuh semangat. Joe merupakan sahabatku, kami mempunyai profesi yang sama sebagai aktivis lingkungan. Hanya saja, wilayah tugas kami berbeda. Joe di Ibukota dan aku di Surabaya. “Baiklah, terima kasih telah mau menjemputku di Ibukota. Sampai jumpa Joe” Balasku. Pembicaraan kami berakhir setelah beberapa kalimat kemudian.

***

Aku sudah berada di dalam mobil buatan Jerman milik Joe sejak beberapa menit lalu. “Kau sudah mendapatkan tempat penginapan Lim?” tanya Joe sambil memegang kendali mobil. “Belum, Kau punya rekomendasi?” tanyaku yang baru tersadar bahwa aku lupa memesan tiket hotel.

“Kau bisa menginap di rumahku jika kau mau.”

“Kau tidak keberatan?”

“Tentu saja tidak Lim, kau sama kakunya dengan anak remaja yang baru berkenalan dengan teman barunya di masa MOS. Ayolah, kau sudah lama mengenal diriku Lim. Bahkan Aku berani bertaruh, kau masih menyimpan foto-foto lama ku dalam ponselmu. Kita bisa habiskan sepanjang malam dengan bertukar cerita pengalaman tentang kampanye-kampanye yang pernah kita lakukan.” Ajak Joe yang terus merayuku untuk menginap di rumahnya. “Baiklah Joe.” Aku menerima tawaran Joe.

Perjalanan berjalan 20 menit untuk tiba di rumah Joe. Aku sudah cukup lelah dan langsung meminta Joe menunjukkan kamar tidurku. “Baiklah Lim, sepertinya kita bisa bertukar cerita esok hari. Kau sepertinya memang butuh istirahat setelah perjalanan panjang. Mari Aku antar kau ke kamar tamu.” Ujar Joe sambil mengantarku ke kamar tamu di rumahnya. Memang perjalanan yang sungguh melelahkan hari ini. Aku harus menyiapkan tenaga yang cukup untuk pertemuan esok dengan Tuan Presiden. Setibanya di kamar, Aku bergegas berganti pakaian dan ranjang empuk layaknya hotel siap menyambut tindihan badanku yang hari ini sangat lelah.

***

Pukul 06:00 jam beker  yang berada di samping kanan ranjang, berbunyi cukup kencang dengan menggunakan musik rock untuk membuatku terbangun dari mimpi indah sejak semalam. Tanganku spontan mematikan alarm tersebut. Ponsel yang Aku letakkan bersebelahan dengan jam beker, ku sahut dengan nyawa yang masih belum sepenuhnya menyatu diraga. Tak lama kemudian, Joe datang dari balik pintu.

“Kau sudah bangun rupanya.”

“Irama lagu rock mu membuatku terbangun Joe.” Aku mendengus kesal.

“Ha ha ha … maafkan aku kawan. Sebaiknya kau segera bergegas, kau tahu orang yang akan kita temui bukan orang sembarangan.” Ujar Joe sambil meninggalkan Ku sendiri di dalam kamar. Aku menyiapkan materi yang akan ku persembahkan nantinya kepada Tuan Presiden.

Menyesuaikan tampilan adalah poin penting selanjutnya. First Impression itu yang dinilai oleh orang-orang penting seperti tuan Presiden. Memakai jas, celana hitam dan bersepatu layaknya para pejabat negeri. “Kau sudah siap kawan?” tanya ku kepada Joe. “Lebih dari siap Lim.” Jawab Joe dengan lugas. Mobil berangkat membelah jalanan ibukota yang tidak begitu padat pagi ini. Gedung-gedung bertingkat berdinding luar yang terbuat dari kaca menjadi pemandangan jalanan ibukota. Miris aku melihat pemandangan ini, hampir seluruh bangunan mempunyai konsep rumah kaca. “Kau lihat Joe, apa yang terbesit dalam pikiranmu melihat bangunan-bangunan yang ada di samping-samping kita ini Joe.” Tanyaku kepada Joe. “Tentu aku kurang setuju Lim, semua orang saat ini hanya mementingkan kepentingan pribadi dibanding peduli dengan ligkungan Lim.” Jawab Joe. “Percayalah hanya sedikit orang seperti kita ini Lim. Kita sepertinya memang ditakdirkan untuk melindungi bumi Lim.” Sambungnya.

 Aku berharap itu bisa menjadi titik singgung materi yang akan kami bahas dengan tuan Presiden. Butuh waktu 15 menit untuk tiba di rumah dinas Presiden. Pengamanan yang ketat harus kami lewati terlebih dahulu sebelum bisa bertatap muka dengan tuan Presiden.

“Selamat datang Alim, Joe. Terima kasih telah mau menghadiri undangan saya.” Sambut baik tuan Presiden atas kedatangan kami. “Dengan senang hati tuan Presiden, lagi pula siapa yang akan menolak undangan dari orang nomor satu di negara ini.” Jawab diriku untuk mencairkan suasana. “Baiklah mari kita mulai.” Ajak tuan Presiden.

Presiden membuka topik dengan membuka fakta bahwa Indonesia saat ini tengah mengalami krisis iklim yang membuat Indonesia terkena teguran dari pihak WNO, karena menganggap Indonesia sebagai negara yang kurang mampu menjaga kestabilan alam di wilayah perkotaan. “Kalau menurut pandangan saya tuan Presiden, daerah di perkotaan memang sangat memprihatinkan.” Ujar ku sopan. “Kami baru saja menyusuri jalan ibu kota beberapa menit yang lalu, ketika kami menuju kesini. Dan pemandangan yang kami lihat adalah gedung-gedung yang berdinding kan kaca-kaca tebal. Ini tentu berefek pada pemanasan global yang akhir-akhir ini menjadi perbincangan para aktivis lingkungan.” Sambungku untuk mengambil perhatian lebih tuan Presiden.

“Banyak fakta seputar krisis iklim yang perlu kita waspadai tuan Presiden. Apabila berlanjut maka akan fatal akibatnya. Bahkan saat ini di kutub utara dan selatan sedang mengalami pengikisan es yang membuat ruang lingkup hidup makhluk di daerah tersebut menyempit. Sebenarnya banyak pihak yang berkoar-koar tentang hal seperti ini. Namun, saat ini belum ada dari pihak pemerintah yang serius menanggulangi masalah ini. Kami tentu berharap besar kepada tuan Presiden untuk bisa ikut menyuarakan dukungan kepada aktivis-aktivis lingkungan seperti kita ini tuan Presiden.”  Tutup kalimatku. Tuan presiden mengangguk paham setelah mendengar sudut pandangku tentang permasalahannya. “Lantas, apa yang dapat saya lakukan untuk cita-cita mulia kalian?” Jawab Presiden. “Tentu saja kita bisa memulai dengan tuan Presiden membuat pernyataan di depan umum. Kemudian, banyak media massa yang meliput tentang isu ini. Dan akhirnya menarik simpatik masyarakat untuk peduli dengan kondisi negara kita saat ini.” Jawabku memberikan solusi.

“Bagaimana pandanganmu Joe?” tanya tuan Presiden kepada Joe. “baiklah, Saya harus jujur tuan Presiden. Sangat sulit mengubah pola pikir manusia-manusia modern yang hidup hanya untuk keuntungan pribadi mereka, tanpa memikirkan efek samping tindakan yang dia lakukan. Pencemaran lingkungan, krisis iklim, pemanasan global, merupakan pengaruh dari perbuatan oknum-oknum yang saat ini membuat negara kita terkena teguran dari pihak WNO.

“Kalau harapan saya kepada tuan Presiden adalah untuk membuat peraturan tersendiri untuk masalah serius ini. Semua pihak harus taat dengan aturan Presiden, harus ada sanksi tegas untuk permasalahan ini.” Terus terang Joe kepada tuan Presiden. “Karena kita akan  Melindungi Bumi Mulai dari Sekarang. Bukan begitu Lim?” Ujar Joe penuh semangat. Seraya menyenggol pundak ku. Tuan Presiden kali ini berpikir panjang untuk mengambil sebuah keputusan.

Ruangan hening sekejap menunggu keputusan dari tuan Presiden.

“Baiklah.” Suara presiden memecah keheningan. “Kita akan melibatkan banyak media massa untuk mempermudah misi kita.” Jawab tegas tuan Presiden. “Minggu depan Saya akan membuat kebijakan dan membuat konferensi pers di Istana negara. Mari kita bersulang  untuk Melindungi Bumi Mulai Dari Sekarang.” Ujar tuan Presiden dengan penuh ambisi. Itu adalah sebuah kabar baik bagi kita. Akhirnya, dari sekian banyaknya pemimpin di negeri ini, ada juga pemimpin di negeri ini yang peduli dengan lingkungan.

Tak lama setelah kami berbincang-bincang ringan di ruang tamu, Aku dan Joe pun diajak tuan Presiden mengikuti jamuan makan siang bersama.

Setelah makan siang, kami berpamitan dengan tuan Presiden. “Terima kasih atas segala bantuan kalian.” Tuan Presiden sambil menjabat tanganku. “Dengan senang hati Tuan Presiden.” Balasku. “Oh ya, jangan lupa kalian untuk hadir di konferensi pers nantinya. Kalian merupakan aktivis muda yang penuh potensi, kalian wajib terlibat dalam konferensi pers pekan depan.” Undang tuan Presiden. Kami pun beranjak dari kediaman tuan Presiden menuju kembali ke rumah Joe.

Di perjalanan, aku menemukan kartu nama Farhan di saku kemeja, yang kuminta ketika bertemu dengannya di pelabuhan. Seketika aku memiliki ide bagus untuk mengangkat berita ini ke media massa. Farhan bisa membantuku dalam menyebarkan berita ini. “Halo” suara itu keluar dari dalam ponselku. “Farhan…kau mengingat ku. Alim. ” Jawabku. “Alim,, bagaimana kabarmu?”

“Sangat baik Farhan. Tapi saat ini bukanlah waktu yang pas untuk menanyakan kabar baik atau buruk. Bolehkah aku meminta pertolongan mu Farhan?”

“Aku ingin kau terlibat dalam misi ku? Kau berminat?”

“Bantuan apa yang bisa lakukan?” tanya Farhan.

“Bisakah kau membuat berita seputar krisis iklim?” jawabku penuh harap. “Itu mudah Lim. Tapi aku ingin fakta menarik seputar hal ini. Kau punya?” Jawab Farhan. “Baiklah beri judul pada berita mu  Indonesia terkena teguran dari pihak WNO. Dan memang itulah faktanya.” Jawabku sederhana. “ Apakah kau serius ? Bagaimana bisa Indonesia terkena teguran dari pihak WNO?” Jawab Farhan yang terkejut dengan judul laporan berita yang ku usulkan.

 “Baiklah Farhan  Akanku ceritakan sedikit mengapa aku membutuhkan bantuanmu meliput berita ini.” jelasku. “Indonesia beberapa hari yang lalu terkena teguran dari pihak WNO. Yang kita ketahui bersama sebagai organisasi yang bergerak dalam bidang Lingkungan Hidup di seluruh dunia. Yang menjadi sorotan mereka kepada negara kita adalah karena sering terjadinya bencana alam dan juga pembangunan infrastruktur yang tidak ramah lingkungan. Itu semua memicu terjadinya krisis iklim di negara kita. Bahkan berdampak pada daerah negara-negara lain. Aku dan temanku yang juga sebagai aktivis lingkungan diutus menghadap tuan Presiden untuk membahas masalah serius ini. Dan keputusan yang telah kami sepakati akan diumumkan pada konfrensi pers di istana negara pekan depan , secara langsung oleh tuan Presiden sendiri. Dan mengangkat berita yang membahas seputar krisis iklim merupakan upaya pertama yang akan aku lakukan. Kau bisa mengangkat berita ini melalui surat kabar maupun saluran televisi yang kau miliki. Aku sangat berharap kau membantuku dalam misiku ini Han” Jawabku yang berharap Farhan akan mau membantuku mengangkat berita ini.

“Menarik, aku akan membantu Lim. Besok pagi hingga minggu depan akan ada halaman khusus dan juga segmen khusus yang akan membahas topik seputar misimu Lim.” Jawaban dari Farhan yang membuat jiwaku berkobar. “Karena aku akan Melindungi Bumi Mulai Dari Sekarang.” Lanjut Farhan yang mengingatkan ku kepada slogan yang ku buat. Perbincangan kami berakhir setelah beberapa kalimat. Penuh harap sekaligus bahagia menyelimuti perasaan hati setelah perbincangan singkat itu.

Setibanya di rumah Joe, aku memilih untuk menemani Joe berbincang-bincang setelah kami bisa bertemu langsung dengan tuan Presiden di rumah dinasnya. “Aku masih belum bisa percaya Lim, kita bisa bertemu langsung dengan Presiden bahkan kita akan diundang kembali ke Istana negara pekan depan.” Ujar Joe dengan perasaan bahagia. “Tenangkan dirimu Joe. Sudahlah mari kita fokus pada kampanye-kampanye yang akan kita lakukan setelah ini, kau tahukan kita perlu perhatian dari banyak pihak. Meskipun, banyak hanya sedikit orang yang akan peduli namun itu sudah cukup berarti bagi kita Joe.” Ujarku yang mengingatkan Joe untuk tidak terlalu larut dalam perasaannya saat ini. Setelah cukup lama kami berbincang, Aku memilih untuk beristirahat setelah aktivitas hari ini.

***

Teguran WNO Untuk Indonesia. Menjadi Headline News di beberapa surat kabar beberapa hari ini. Tidak hanya koran, namun di beberapa stasiun televisi  pun membahas topik ini. Menjadi Trending di beberapa media sosial dengan beberapa tagar seputar peduli lingkungan, berhasil mengalahkan gosip artis dalam negeri yang beredar di kalangan masyarakat. Puncaknya adalah berita Presiden yang membuat peraturan serta beberapa kebijakan tentang Lingkungan hidup. Televisi, radio, papan reklame digital yang biasa di buat promosi produk ponsel ternama di perkotaan turut menyiarkan konfrensi pers yang dilakukan Presiden di Istana negara secara langsung.

Sejak dibuatnya peraturan tersebut, kini banyak kebijakan dari pimpinan-pimpinan daerah yang melakukan kegiatan-kegiatan yang bersifat peduli lingkungan. Para aktivis lingkungan dan juga komunitas di berbagai daerah mulai bermunculan. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang membuat inovasi yang ramah lingkungan. Seperti di beberapa gedung-gedung pencakar langit yang mulai mengganti kaca dengan panel surya, pabrik-pabrik yang mulai mandiri mengolah limbahnya tanpa harus mencemari lingkungan, adanya takakura sebagai pengolahan sampah rumah tangga pun dimanfaatkan dengan  baik oleh beberapa orang yang kini sadar dengan lingkungannya.

Kini sudah saatnya. Menjaga bumi kita dari krisis iklim yang terjadi belakangan ini. Beribu-ribu pohon harus ditanam kembali, taman-aman di  perkotaan harus diperbanyak, efek rumah kaca? Ayolah kita bisa menggantinya dengan bahan yang lebih ramah lingkungan. Krisis iklim memang tengah terjadi saat ini. Upaya-upaya dari berbagai macam pihak yang terkait, sudah sangat sering dilakukan. Tinggal satu yang menjadi PR.

KESADARAN. Menyadarkan orang-orang untuk peduli dengan lingkungannya. Bumi sudah semakin tua. Kesadaran kita bisa membuat bumi semakin panjang usianya. Kita adalah penghuninya. Krisis iklim, bencana alam itu semua adalah dampak dari perbuatan kita. Sudah saatnya kita Melindungi Bumi Mulai Dari Sekarang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *