Cerpen #328; “Sadar Akan Indonesia Sekarang”

Cerita berawal dari keseharianku. Setelah mandi kumelihat jam yang menunjukkan pukul 06.10. setelah itu akupun keluar dari kamar yang memang sudah di rancang pribadi untukku. Namaku Denada lengkapnya Anisa Putri Denada. Umurku 16 tahun yang sekarang menginjak kelas XI dalam jurusan MIPA. Aku bersegera mengenakan seragam, sesuai dengan ketetapan di sekolahku pada hari Senin, tepatnya putih abu-abu.

“Den… ayo cepetan sarapan sini na…k, nanti ayahmu gak jadi nganterin kamu sekolah lho kalo terlambat!!” teriak ibuku.

“Iya… ibuku saying…” balasku.

Aku bersegera menuju ke ruang makan dengan langkah yang agak kupercepat. Ku duduk di tempat favoritku, di kursi yang lembut dan nyaman yang bertempat di sebelah ayahku dan di depan ibuku. Di depanku terdapat sebuah meja bundar yang di atasnya tertata rapi sebakul nasi dan beberapa lauk pauk yang memang lezat menurut pandanganku. Ku ambi seentong nasi dan sebagian lauk pauk, aku mulai menyantap makanan sambil mendengarkan percakapan ayah dan ibu.

“ saying… tadi sempat terbaca di link, web internet berita tentang Indonesia saat ini, bahwasannya sekarang… di bumi kita ini terasa sangat panas dibandingkan dengan yang lalu dan dikhawatirkan nanti kalau semakin panas lagi maka es di kutub-kutub sana akan mencair terus nanti bisa menjadi membanjiri bumi… kenaikan air laut bisa saja menenggelamkan bumi ini, terus Indonesia, apalagi di Pulau Jawa.” Khawatir ayah.

“Jadi gitu. Habis gara-gara apa ? emang sih akhir-akhir ini agak panas.” Saut ibu.

“iya saying. Disebabkan karena penipisan lapisan ozon di atmosfer akibat panas dari bumi.” Terang ayah.

“lah disebabkan apa lho yah ?”. pertanyaanpun keluar akibat rasa penasaran dari omongan ayah yang menggantung.

“disebabkan penggundulan hutan, efek rumah kaca, pendingin ruangan yang kayak AC-AC gituh… trus karena minimnya tanaman… tanamankan dapat merubah CO2 menjadi O2. Makanya krisis iklim ini sangat mengkhawatirkan, putriku yang cantik…” Jawaban centil ayah yang membuatku lupa akan selesainya makan.

“sudah-sudah nanti kalian terlambat” potong ibu.

“yadeh… yadeh…” Jawab serentak aku dan ayah. Ibu tersenyum mendengarnya.

Setelah singkatnay perbincangan di rumah, akupun berangkat menuju sekolahku yang terrr…cinta. Ditengah-tengah perjalanan, kutengok kanan-kiri, tiba-tiba terbesit rasa ingin sekali bisa membantu untuk mempertahakna kehijauan dan keasriannya dunia ini.

Setengah perjalanan yang lumayan jauh itu, sampailah di sekolah “SMAN 1 SEMARANG” tempatku berkreasi dan mengadu fikiran.

Kuturun dari mobil ayahku setelah berpamitan dengannya.

Perjalanan sedikit menuju kelas tempatku belajar, tepat disan bertemu dengan teman akrabku Emma, Ilmah, Norman, dan Ray yang memang telah dating untuk menepati tempat perjanjian.

“Denada tumben kamu dating telat” singgung Emma.

“Aduuh… panas nih belakangan ini, padahal juga masih pagi” potong Ilmah menyelah pembicaraan.

“idih Ilmah mah… ngese’in aja sih” terah Ray.

“Waduh… keren gitu!” keluh Norman dengan wajah datar yang tidak bisa di jelaskna.

“Untung ada Ray… tenang dikit jadinya. Ininih tak jelasin kenapa aku dating telat… soalnya tadi abis denger ceramah dari ayah tentang pemanasan bumi, kayak yang kamu rasain Ilmah, mangkanya yok kita asrikan bumi ini”. Panjang lebarku.

“Oooh gitu yah… dengerin tuh”. Sindir Emmah pada Ilmah.

“Ekhem-ekhem iyah… tahu!!!” desan Ilmah dengan memutar bola mata.

“Ya sudah, ayo masuk kelas, setelah ini bel masuk, untung kita sekelas, kelas XI MIPA-1, jadi bisa ngobrol lagi pas ketika istirahat sekolah” lanjut Norman.

“Ok lha booy…!!” sahut Ray yang ditertawai kecil oleh teman-teman.

Kami serentak menuju ke kelas sambil bercakap-cakap kecil dan menunggu bu Erma sang guru biologi.

Bersamaan dengan bel bunyi yang menandakan masuk, Bu Ermapun memasuki kelas kami. Pelajaran dimulai seperti biasa, perbincangan sekejap, absen-mengabsen, dan mulai menerangkan pelajaran yang disertai dengan ceramahan.

“Indonesia sekarang memerlukan generais yang berjiwa nasionalisme dan cinta alam agar Indonesia, Negara kita menjadi Negara yang subur dan makmur, dan tak lupa juga kita harus menanamkan moral kepada generasi di masa depan” panjang lebar Bu Erma menerangkan.

Kemudian terbesit dalam pikiranku untuk memberi pengetahuan kepada anak-anak calon generasi berikutnya, agar aku beri pembinaan dan pemahaman dengan mengajak teman terbakku agar bisa membantu.

Bagiku banyak putaran jam yang tergunakan, waktu istirahatpun berlangsung. Seperti yang tadi kurencanakan, ku bicara kepada mereka tentang pemikiranku dan kusuruh mereka tuk berkumpul di halaman rumahku.

Sewaktu pulang sekolah, aku pulang dengan angkutan umum bersama dengan sebagian teman yang memang sejalan denganku.

Waktu menunjukkan pukul 14.20, tepat ketika teman-teman dating ke rumah untuk menepati janji ajakan yang telah kurencanakan.

Untungnya aku telah menyiapkan camilan untuk teman-teman diskusi yang pasti dengan minuman juga. Untungnya aku tahu tentang itu, kemudian merekapun duduk dan ditemani oleh ayahku.

“Den langsung dmula”, ucap Norman.

“Oh ya…” sahutku. “Aku ada usulan nih gimana… kalau kita kumpulin mereka di rumahku, di halaman rumahku tepatnya, lalu kita kasih usulan-usulan kita… gimana semuanya…”

“Nach bagus tuh”, jawab Ilmah.

“Akan saya bantu kegiatan kalian kedepannya… ya!”. Tiba-tiba ayah melanjutkan.

“Makasih Pak Edi!!”, jawab serentak teman-teman.

Diskusi terselesaikan yang dilanjut dengan makan-makan. Acara dimula pada hari libur yakni hari Minggu.

Hari demi hari berlangsung. Minggupun dating kepada kami, dimana telah kami tetapkan acara pemahaman bagi anak-anak X MIPA-1 kelasku, satu-persatu teman dating dalam acara. Aku telah menyiapkan berbagai hal baik dari tenpat, makanan, minuman, dan fasilitas-fasilitas lannya.

Acara berjalan dengan lancer sekian lama menjelaskan tentang pentingnya generasi berikutnya yang cerdan dan bermoral. Merekapun mula meresapi pembicaraan dan mencari buku-buku tentang materi dan lain-lain, buku itu salah satu sumbangan dari ayahku.

Untungnya teman-teman setuju tentang apa yang kurencanakan dan teman-teman memberikan info-info tentang kegiatan besok yang akan berlangsung.

Ketika istirahat sekolah, kami melakukan kerja bakti, reboisasi agar asri dan indah kembali Negara kita ini. Tidak hanya di lingkungan sekolah namun juga d lingkungan desa dan kota. Kami membuat spanduk yang telah disetujui oleh pemerintah setempat.

Telah sekian lama program berjalan, semua mula terasa agak berbeda, mula dari halaman yang indah dan sedap di pandang, baik desa dan sebagian di perkotaan. Tidak hanya aku, bahkan seluruh teman-teman, warga, dan banyaknya keluargapun merasakan apa yang ku rasakan. Kami sangat bersyukur atas semua ini.

Ketika tim kami, aku, Norman, Ilmah, Emma, dan Ray berkumpul d café terdekat untuk merasakan nikmat syukur terhadap perubahan ini, aku berharap agar banyak yang menjalankan program ini di masa depan, dimasa yang akan datang agar keindahan dan kenyamanan ini tetap terjaga dan Indonesia menjad Negara yang hijau daratannya, subur dan makmur. Kami harap agar yang peduli terhadap perkara Sadar Akan Indonesia sekarang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *