Cerpen #326; “Dariku Untuk Bumi”

Mata dan telinga tak lagi berfungsi sebagaimana mestinya. Tak lagi kulihat pohon-pohon  tempat bersandar pengamen dan gadis peminta-minta itu. Anehnya, tak lagi terdengar visi dan misi para pecinta alam. Baju tebal tak lagi laku karena membeku oleh hawa panas yang memanggang tubuh ini. “apa yang harus kuwariskan untuk anakku”. Kreatifitas sudah tak ada sejak pohon berduri dan berbuah jingga itu menjanjikan  kestabilan keuangan. Sedikit yang kreatif akan tetapi kreatif keliru arah, ganja yang ditanamnya. “itukan salah satu penghijauan” jangan  mudah tertipu daya dalangnya masih sama, siapa lagi kalau bukan uang.

Kemauan jenis apalagi yang belum digapai oleh manusia. Mereka hanya memikirkan keuangan yang tak boleh segitu-gitu saja kalau boleh berlipat-lipat ganda. Padahal setahun yang lalu tayang di tv mewahnya bahwa gunung es sedang meleleh, Hewan-hewan meninggal, Hutan-hutan tinggal cerita. Mereka Cuma menumpang jadi penonton karena akan terbuang sia-sia uang hasil proyek rumah kaca seluas ratusan hektar itu. Di dalam ingatan Cuma ada pelajaran tentang pemanasan global. Jangankan tahu penyebab dan akibatnya, definisinya saja sudah dikalahkan oleh isi kantong yang jelas-jelas menghidupinya untuk hidup seribu tahun lagi.

Semua transparan mulai dari rumah sampai busana manusia. Penghuni bumi ini tidak lagi berlomba-lomba membeli pakaian, yang mereka perlukan oksigen dan sedikit angin yang takkan beranjak. Orang-orang mayoritas bermata empat tanpa itu sangatlah sulit. Manusia beranggapan sinar matahari terlalu monopoli dalam melaksanakan kewajibannya. Sampai lupa apa yang di perbuat oleh mereka sendiri. Saat itu terdengar penyembahan yang tiada putus terhadap Tuhannya untuk mengembalikan segalanya yang telah hilang. Aku berpikir, apakah Tuhan akan tiba-tiba datang menumbuhkan pepohonan yang telah di babat tanpa pengendalian yang tepat. Mereka terlalu salah karena Tuhan hanya akan memberikan dua hal yang harus dipilih, yaitu kesempatan dan pertobatan.

Aku dan anak-anakku seakan-akan merasa sangat bahagia satu hari penuh melihat langit biru. Hal itu dapat kami jalani dengan berbaring di lantai dan memandang ke atas melihat langit yang tak erat lagi dengan awan. Pagi yang seharusnya ada sentuhan embun kini terasa sangat panas. Manusia hanya mencintai dingin, sehingga tempat-tempat sauna bangkrut. Mungkinkah wisata di Hawai akan tutup ? aku dan sanak saudara serta para penghuni di sini tidak memikirkannya. Hal  yang tidak akan ditolak adalah adanya musim dingin yang sejuk akan tetapi, hal itu tidak mungkin.

Jalanan-jalanan dipenuhi dua jenis manusia. Ada yang memilih menggunakan busana tertutup seperti ninja agar tidak terkena panas dan ada juga yang dengan rasa percaya diri menggunakan pakaian lepas landas. Alasannya masih sama, kepanasan. Padahal sedang tak siang. Semua orang seperti film bollywood yang menari-nari ketika hujan datang. Tidak menjadi heran orang-orang demam dianggap prioritas biasa dimasa ini. Seperti biasa saat tak ada rutinitas apapun aku melihat foto-foto dan videoku dimasa lalu. Masih kudengar air sungai mengalir dan burung beterbangan. Betapa hati ini menginginkannya kembali, air mataku jatuh tapi kutahan, jangan sampai fluku bertambah. Aku tidak mau ini semakin parah karena aku harus bekerja untuk membayar tagihan. Hal itu hanyalah ketidakikhlasan sehingga berusaha menarik masa lalu.

Setiap hari orang-orang mengantri untuk  mendapatkan air bersih. Manusia berdompet tebal akan mendapatkan air yang paling banyak, itulah salah satu kebahagiaan mereka yang tersisa saat ini. Orang kaya itu berdiri tegak menginjak punggung orang kecil dan semakin menindih permukaan bumi.Krisis iklim yang begitu tak seimbangan dengan pertahanan manusia sangat mengusik kekuasaan manusia terhadap bumi. Suhu dan panorama yang terjadi menyajikan beribu lara bagi yang menyaksikannya. Dari sinilah muncullah berbagai prediksi dan kepercayaan yang tak dilandasi oleh apapun. “Tuhan! Apakah dunia ini akan kiamat, kami manusia belum sempat berusaha memperbaiki segalanya dan meminta maaf pada ciptaan lain!”. Ujaran yang demikian mungkin sudah mengotori catatan Tuhan karena manusia yang hanya beralasan, tapi tak mencari jalan penyelesaian. Jika seperti itu kasihan bumi yang dirusak ingin marah sambil berteriak tapi tak ada hak sehingga seperti  perang dingin, perlahan-lahan ia mengambil dan merusak keamanan dari figur-figur yang seharusnya menjadi petugas keamanan bagi mereka.

Setiap pribadi terlihat sangat ego, karena harus selalu memikirkan dirinya sendiri. Kebebasan hanya dimiliki oleh orang-orang yang tak punya logika. Bukan ajal yang menjemputnya melainkan dirinya sendiri. Semua dituntut menjadi orang yang perfectionist. Sedikit salah makan, salah tempat, dan berbagai kesalahan sekecil apapun bisa mengakibatkan jiwa terdiam raga melayang. Bukan lagi kemungkinan melainkan pasti! Tidak ada waktu untuk bercanda apalagi bersilaturahmi dengan sanak saudara yang ada di sebrang sana. Sapaan seperti suara mas karena langka orang yang mau bicara sebab tenggorokan sedang dibabat oleh rasa perih yang secara tiba-tiba melanda. Bicara tentang senyum yang manis itu juga takkan ada semuanya menutup mulut mereka. Jangankan ingin menyapa atau saling memberikan senyum. Keluar rumah saja satu kali dalam satu bulan itu pun karena penasaran dan memaksakan keadaan lama kembali.

Sesuatu yang indah bukan lagi tentang tiupan seruling animasi khrisna ataupun seruling dangdutan tetapi tiupan angin yang begitu langka. Tidak berharap banyak, aku  maupun orang lain hanya ingin berpura-pura normal. Tetapi bagaimana telingaku bisa normal setiap hari kudengar di TV banyak anak-anak kecil dan bayi-bayi meninggal karena tak mampu beradaptasi dengan lingkungan. Bagaimana penglihatanku bisa normal kulihat dari rumahku banyak orang pinggiran mati kelaparan karena tak ada lagi orang yang memberi. Peradaban macam apa ini!. Seharusnya aku tak layak mencela keadaan. Aku bukan orang baik maupun jahat, setiap hari aku hanya berhalusinasi menjadi Tuhan bagi mereka di sini, akan ku turun berkah bagi mereka.

Alam ini seperti tak terurus karena para petani, pejuang hutan dan penghuni lautan maupun daratan sedang kecewa saat ini. Yang ditanam tak tumbuh dan yang diberi kuasa tak bertanggung jawab. Kuasa akan mengelola bumi dimanipulasi oleh otak cerdas tapi tak bijaksana. Seharian penuh kumencari kesalahannya dimana dan apa yang bisa diubah. Sejujurnya aku tak lagi meminta ini dijawab oleh yang kuasa. “Langit bisakah engkau membuatku tetap terjaga, aku sedang dikecewakan dan merasa disengsarakan saat ini”. Satu per satu asaku pergi, entah akan datang lagi atau bahkan hilang karena enggan untuk kembali.

Biasanya aku dan keluarga serta penghuni resmi bumi ini berbahagia diakhir pekan dan penutupan tahun. Di tiga ratus enam puluh lima hari, aku hanya menghabiskan waktu untuk menulis di buku harian bahwa aku bahagia karena yang lain bahagia. Bukan terlalu keras pada diri sendiri, tetapi semua tak boleh begini. Nyanyian binatang mamaliatak lagi terdengar karena tak ada kesempatan melihat wajah anak mereka. Pohon harus menahan rindu untuk di terpa angin dan hujan yangahlinya dalam permainan ini. Sempat terpikirkan oleh para orang-orang jenius untuk mengubah dunia. Mengubah keputusan  alam agar sepanjang masa mengikuti minat dan bakat manusia yang seharusnya dipendam. Kebenaran disama-samakan dengan pembenaran.

Dalam ingatan tidak ada yang lain selain tentang ketentraman jiwa yang telah lama hilang. Sejak kecil aku ingin sekali pergi ke negeri nan jauh bersama dengan secercah harapan. Aku tak pernah melihat salju ataupun pemandangan area tragedi asal mula film titanik bisa tayang. Anak-anakku menganggap aku hebat bisa hidup diumurku yang tak lagi muda saat ini. Mereka hanya tak tahu tentang kebahagiaan ku sebelum zaman ini berulah. Cerita tentang alamnya bagaikan bumi dan langit dengan alamku dulu. Aku terkadang sedih ketika mereka mengatakan bahwa alam ini sungguh indah saat aku menunjukan album foto dan videoku kepada anak-anakku yang terkasih. “Apakah ayah juga membenci matahari sejak kecil ?”. pertanyaan itu selalu mereka lontarkan saat kularang mereka pergi ke luar. Tak ada gunanya aku membenci matahari apalagi mengusirnya untuk beranjak pergi. Dari dulu hingga sekarang tidak ada yang salah dan tidak ada yang harus diubah dari matahari.

Apakah mungkin matahari cemburu pada uang. Dulu matahari hadir sehingga uang juga turut hadir. Sekarang uang hadir namun membuat manusia jauh dari matahari bahkan ia dicaci maki. Apa yang sedang kupikirkan, sebenarnya tidak ada yang salah dengan matahari ataupun uang. Peristiwa ini hanyalah ganjaran untuk siapa pun hari ini. Akan tetapi bolehkah aku menuntut pada bumi bisakah keadilan ditegakkan. Siapa yang berbuat itu yang bertanggung jawab. Tidak bisa begini, menggunakan hukum pukul rata. Mereka yang merusak alam mengapa hamba dan seluruh keturunanku menanggung derita ini. “Bagi mereka yang menggunakan tangan kanan tanpa aturan karena diatur oleh keserakahan akan dihukum diakhir hidup mereka”. Ucapan ini selalu kudengarkan dimana-mana. Padahal ketika bedebah ini pergi bisa saja jutaan pasang mata juga akan menyusul karena bencana-bencana sudah melanda bahkan ada yang sedang menunggu gilirannya untuk meremukkan badan-badan yang secitra dengan penciptanya dan yang memutuskan takdir bencana itu.

Bencana-bencana yang terjadi tidak mengerti tentang hak asasi manusia. Hal itu sangat bisa diterima karena mereka tidak diberikan karunia-karunia istimewa seperti aku dan korban alam ini. Merasa paling istimewa manusia jadi lupa diri. Karunia pertama yang diberikan yakni akal budi, tapi hanya dipergunakan untuk memikirkan bagaimana tidak rugi dan terus berinvestasi. Karunia kedua hati nurani yang diberikan oleh Tuhannya, namun dikelola dengan cara mengisinya dengan kotornya visi misi memperkaya diri dengan sesuatu yang tak bisa dibawa mati. Karunia terakhir yang paling merusak wajah bumi yakni kebebasan. Kebebasan yang kebablasan itu membuat suasana tak lagi aman. Pagar terlalu banyak makan tanaman. Tugasnya hanyalah menjaga, sehingga tanah yang menopang mulai murka sehingga ia tak lagi ingin menopang pagar kecuali, pemiliknya turun tangan.

Aku mampu melepas semua yang aku miliki demi semuanya kembali tapi masih ada yang tersisa yaitu penyesalan yang berketurunan. “Bumi  akankah kau bisa memaafkanku dan sekelompok orang-orang yang tak merasa bersalah itu”. Aku paham manusia dan bumi sama-sama ciptaan Tuhan. Bisakah aku beropini bahwa bencana dan kondisi bumi saat ini terjadi atas izinnya Tuhan. Jika hal itu benar apakah tidak ada lagi cinta kasih di muka bumi ini. Ketika aku selalu berusaha berpikir positif  bahwa semua ini terjadi karena bumi semakin tua. Tapi bagaimana aku bisa tahu seberapa tuanya bumi. “kan yang aku dan pribumi tahu hanyalah kecerobohan manusia yang menjadi tersangka utama”.

“Kepada matahari, hutan, daratan, lautan terutama bencana-bencana yang sedang bermain peran. Aku dan semua keturunan adam dan hawa, di bawah atap lindungan yang sama ini,  meminta maaf. Apakah perlu perjanjian kami ini terhadap kalian ditulis melalui hitam di atas putih dan bermatrai yang tak berhingga ?”.  Aku dan semua orang akan mendapat dua kemungkinan, bertahan di bumi atau pindah ke planet lain. Jika memang ucapan dan permohonan ini terlambat, berilah kami izin untuk menyembuhkan bumi. Aku akan mengajak sanak saudara dari seluruh belahan dunia untuk bergerak dalam sistem pengembalian hak bumi. “Tuhan sekiranya kau berikan aku kesempatan untuk memulihkan keadaan hati dan alam sekitar demi masa depan keturunan kami.” Binatang-binatang tak perlu menangis begitu juga alam karena masih ada manusia yang baik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *