Cerpen #324; “Penjaga Mandala”

Suatu siang yang panas di bulan November, Arumi mendayung perahunya menuju Bukit Folta. Di atas bukit itu, telah menunggu sahabatnya sejak sekolah dasar, Mabel, yang mengunjunginya kembali setelah satu tahun pulang ke kampung halamannya di Manchester. Meskipun persahabatan mereka terlihat aneh di mata orang lain, sebab Mabel adalah anak dari Tuan dan Nyonya Oliver sedangkan keluarga Arumi cuma punya toko kelontong yang turun temurun sejak zaman buyutnya, nyatanya Mabel lebih sering nongkrong di depan toko kelontong keluarga Arumi ketimbang menemani Nyonya Oliver memilih gaun pesta setiap sebulan sekali. Dan pertemanan aneh ini berlangsung selama satu dekade. Lebih lama daripada usia anjing peliharaan keluarga Oliver.

Alasan lainnya adalah terumbu karang dan lumba-lumba. Arumi senang menghabiskan sorenya dengan berjalan menyusuri garis pantai Mandala, ia menyukai sensasi butiran pasir pantai menggesek telapak kakinya yang telanjang. Sedangkan Mabel akan menyelam ke dasar laut dan membawakan oleh-oleh untuk Arumi di daratan, terkadang hanya bulu babi, terkadang botol plastik dan kantong kresek. Oleh-oleh favoritnya adalah cerita tentang terumbu karang yang menari-nari di dalam air dan lumba-lumba yang kebetulan muncul saat Mabel menumpang kapal nelayan yang melaut di malam hari.

Ketika bagian depan perahunya telah menabrak sisi bukit, Arumi menautkan tali pada pasak yang dulunya adalah bekas pos permainan sebelum bukit itu tenggelam separuhnya akibat volume air laut yang naik setiap tahunnya. Dahulu, Bukit Folta selalu ramai dengan riuh bocah-bocah pra pubertas yang membuat kompetisi mendaki bukit. Bahkan meskipun terik matahari akan meninggalkan bekas gosong di kulit dan tidak seorang anak pun yang merelakan uang jajan mereka sebagai hadiah untuk pemenang, kompetisi ini tetap hidup dan akan tersiar sampai ke ufuk timur, tempat kompetitor dari desa tetangga sering bertandang.

“Berapa harga sewa perahunya?”

Arumi masih berusaha menstabilkan nafasnya saat pertanyaan itu datang. Tabiat Mabel adalah tidak berbasa-basi untuk menanyakan kabar. Selama orang itu bernapas, Mabel mengartikannya sebagai ‘kabar baik’ dan ‘masih cocok untuk tinggal di bumi’, tidak peduli seberapa lama mereka tidak bertemu.

“Sepuluh ribu dan ya, terima kasih sudah bertanya.”

Dari atas bukit, Arumi menyaksikan pemandangan yang sebelumnya hanya pernah ia imajinasikan ketika membaca novel dystopian yang dibelinya dari toko buku bekas. Dalam salah satu bukunya, masa depan bumi berada di bawah kendali seorang diktator yang narsistik dan sangat membenci salju sehingga ia selalu memerintahkan pengikutnya untuk menyalakan perapian dari kayu-kayu gelondongan yang ditebang dari hutan amazon. Lalu merambat ke hutan hujan Madagaskar, Peru, hingga Kalimantan. Maka ketika pohon menghilang, begitu pula dengan daratan. Sungguh tidak pernah terbesit bahwa kisah itu lambat laun menjadi kenyataan dan Arumi bertanya-tanya apakah buku itu ditulis oleh peramal yang membawa kabar dari suara-suara bumi dan antariksa.

Dusun Mandala dulunya adalah kampung nelayan yang menjadi pusat perekonomian warga yang menggantungkan hasil laut sebagai komoditas utama penghasil rupiah. Dusun kecil ini hidup berdampingan bersama laut selama ratusan tahun lamanya (setidaknya itu yang diceritakan Nenek ketika beliau masih hidup). Meskipun bukan berasal dari keluarga nelayan, Arumi mengetahui jadwal berlayar dan ciri khas setiap kapal yang berlayar karena toko kelontongnya terletak di tengah-tengah kampung dan menghadap ke laut lepas. Setiap pagi selalu ada saja nelayan yang datang untuk membeli beras dan telur. Terkadang Ibu menerima pembayaran dengan ikan tuna dan gurame, terkadang Ibu harus meminta rupiah sebab sekolah mendekati akhir semester dan Arumi masih tingkat dua SMA saat itu.

Tidak seorangpun menyangka bahwa satu windu kemudian, dusun ini harus direlokasi karena air laut merisak rumah-rumah warga.

“Seharusnya aku mengajari buku-bukumu cara menyelam, ya Rum?”

Pertanyaan itu membuat Arumi tersadar bahwa ia masih berdiri dan menatap kosong pemandangan di hadapannya. Ia kemudian duduk di samping sahabat yang dirindukannya, meskipun ia tidak akan mengucapkannya di hadapan Mabel.

“Tidak ada gunanya. Meskipun buku-buku itu  jago menyelam, mereka tidak akan menyelamatkan apapun”

Entah sejak kapan ia menjadi manusia yang pesimis. Mungkin sejak reporter cuaca di stasiun televisi memberitakan soal kenaikan temperatur bumi sebesar satu derajat celcius dan orang-orang tidak menganggap serius angka tersebut sebab mereka merasa sangat pintar dalam matematika dan bukannya mencari tahu tentang kondisi bumi yang makin sulit terbaca. Padahal kenaikan suhu satu derajat celcius bisa membakar Kota Mumbai dan Baghdad juga mengikis gunung es di Antartika sedikit-demi sedikit.

Bagi orang-orang ini asalkan rumah dan kantor-kantor mereka masih beralaskan keramik dan pendingin ruangan masih terpasang di sudut-sudut ruangan, bumi masih akan berputar.

Ketidakpedulian itu juga pernah datang ke kampung nelayan ini dalam wujud manusia yang memakai kemeja biru muda dan celana kain yang rapi. Mereka datang bersama seratus pohon mangrove dan janji manis tentang peningkatan perekonomian dan kesejahteraan bersama. Tapi yang terlihat di mata Arumi adalah satu amplop coklat untuk satu kepala keluarga. Ibu menganggap amplop itu sebagai rezeki, Arumi melihatnya sebagai sebuah awal malapetaka. Bahkan ketika mesin-mesin pengeruk pasir dan keramaian yang dibawanya entah dari mana, warga diam seolah telah menandatangani perjanjian tertulis bahwa semuanya itu hanyalah mainan orang dewasa.

Seratus pohon mangrove nyatanya tidak kuat menahan laju air yang kian hari kian menginvasi daratan. Di tahun-tahun pertama, Ibu bahkan sampai harus meninggikan lantai rumah setinggi lima puluh sentimeter dan bertambah menjadi lima puluh sentimeter lagi di tahun berikutnya. Menurut manusia berkemeja rapi itu, ini adalah banjir tahunan. Sangat aneh sebab istilah itu tidak pernah ada sejak Arumi lahir. Rumah-rumah Mandala tidak pernah bersentuhan dengan air selain air hujan.

Lebih aneh lagi ketika hujan turun sangat deras selama tiga hari berturut-turut dan meninggalkan genangan air yang tidak meresap ke dalam tanah. Dan ketika air sudah setinggi dada orang dewasa, warga dusun akhirnya harus dievakuasi menuju daratan. Kondisi di dalam tenda-tenda pengungsian tidak lebih baik. Hanya terdengar tangisan bayi-bayi yang gatal karena muncul ruam-ruam pada kulitnya dan kegelisahan orang-orang tua yang memikirkan keselamatan harta benda mereka. Sungguh ironis melihat nelayan yang takut dengan air. Seperti pawang yang takut pada harimau peliharaannya.

“Kau masih ingat, Rum?”

Arumi menatap Mabel dan mengangkat alis kanannya. “Apa?”

“Dulu setiap melewati makam kita harus menunduk dan mengucap salam. Tak ku sangka sekarang kita bisa melintas di atasnya hanya dengan delapan kali mendayung.”

“Tapi aku masih mengucap salam.”

“Aku juga. Takut kalau-kalau dayungku menggeser batu nisannya.”

Makam Mandala hanyalah salah satu dari sekian fasilitas publik yang kini seperti beroperasi di dalam air. Apa yang tertinggal di atas permukaan air hanyalah cerita orang-orang yang pernah mengunjunginya.

Sama halnya dengan rumah Arumi. Meskipun rumah itu hanya memiliki dua kamar dan Arumi seringkali kesulitan untuk tidak berbenturan dengan lemari di ruang tengah, nyatanya keterbatasan itu justru yang menciptakan kenyamanan. Lebih dari itu, semua kenangan masa kecil tersimpan rapi di sudut-sudut ruangan. Itulah mengapa Arumi sempat merasa terkhianati sebab Ibu tidak berbagi sentimen yang sama terhadap rumah ini.

“Sungguh tidak adakah satupun kenangan yang membuat Ibu sayang dengan rumah ini?” Ucapnya di suatu sore, ketika Ibu dengan cepat mengemasi barang untuk dibawa ke rumah baru mereka.

“Seandainya kenangan ini bisa menghidupi Ibu dan Kau sampai tua nanti, Ibu mau tinggal di sini, Nak”

Lambat laun, Arumi menyadari bahwa Ibu hanya mencoba realistis. Begitu pula dengan 75 kepala keluarga yang lain.

Apa yang terjadi di Mandala tidak jarang membuat Arumi bertanya-tanya. Tentang manusia dan kecenderungan mereka untuk tidak mau mendengarkan suara alam semesta. Padahal bumi tidak hanya berputar karena roda ekonomi semata. Bagaimana dengan ekosistem hutan dan primata-primata yang tinggal di dalamnya? Terumbu karang dan ikan nemo yang mewarnai lautan? Bukankah kesemuanya itu mengambil perannya masing-masing dalam menjaga bumi agar tidak berubah menjadi planet asing yang tidak dapat dihuni manusia?

Dan begitulah siang itu berlalu. Ketika cahaya matahari telah berubah menjadi jingga, Mabel mengajaknya pulang. Entah pulang ke mana sebab rumahnya selalu disini. Mabel hanya mendengus ketika ia menangkap sinyal bahwa sahabatnya itu masih enggan untuk beranjak.

“Tidak usah sok sedih begitu. Setidaknya Mandala masih ada penjaganya”

Mabel akhirnya mendayung perahu itu menuju arah pulang (anak itu ternyata menumpang perahu nelayan untuk sampai di Bukit Folta). Bersama prisma-prisma yang menjelmakan cahaya matahari, dan diantara dayung yang membelah air, mereka bercengkrama. Soal Manchester dan orang-orang di dalamnya yang mengagungkan tradisi minum teh. Juga lelucon soal katak yang direbus dalam panci dan tidak merasakan panasnya sampai mereka terpanggang habis di dalamnya sampai cerita tentang kukang raksasa yang pernah hidup di daratan Australia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *