Cerpen #323; “Were”

Langit hari ini sungguh mencurigakan. Betapa ia mendamba akan hujan turun untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun kemarau bertengger dengan teriknya yang seakan abadi. Awan hitam yang menggumpal di atas sana sedari tadi memberi harapan akan turunnya hujan yang dinanti itu. Tapi awan itu lenyap begitu saja, kabur menggulung-gulung perlahan-lahan lalu terik hadir sebagaimana hari kemarin.

Paceklik kian mencekik warga terutama mereka yang menggantungkan pengharapan hidupnya hanya dengan bertani. Maklum kampung ini dulunya adalah salah satu lumbung padi di negeri ini. Seiring berjalannya waktu, manusia begitu juga ambisinya yang terkadang jauh melampaui kebutuhannya juga tumbuh dan berkembang melewati angan-angan mereka yang entah suatu saat bisa melahap tuannya sendiri.

Dulunya hampir seluruh warga adalah petani, termasuk Puang Lolo muda, saudara-saudaranya, ibu bapaknya. Berpuluh puluh tahun sudah ia melewatkan masa-masa hijau nan asri itu. Kini di pelupuk matanya berjejer gedung-gedung pencakar langit, dinding-dinding kaca yang seolah menghujat kekolotan akut yang masih ia yakini. Mungkin kebanyakan orang-orang yang berstelan rapi itu menganggapnya ketinggalan jaman sesuai dengan usianya yang sudah tua dan renta. Tapi baginya yang dianggap kolot itu adalah Were. Sebuah kemampuan alamiah yang diberikan Ilahi untuk membaca pertanda alam melalui angin, bintang-bintang, awan, bulan, matahari, gerak daun, aroma tanah, tindak tanduk burung, hewan melata sampai semut sekalipun. Sewaktu muda, saat tanah ini masih sawah yang membentang luas, Puang Lolo dengan kemampuannya itu menjadi primadona kampung untuk menentukan kapan mulai musim tanam, kapan panen melimpah atau paceklik akan datang, kapang hama wereng, tikus dan sebangsanya mulai menyerang, dan kapan semuanya dipasrahkan kepada kehendak sang pencipta.

Musim tanam sudah seharusnya. Begitulah menurut pengalaman dan perhitungan Puang Lolo. Kemarau enyahlah untuk sementara. Banyak yang menaruh harapan, jangankan melimpah cukup dengan bisa kembali ke sawah lagi sudah sangat mereka syukuri. Namun yang didamba tak kunjung datang. Ia sudah tua tak seperti dulu lagi, apakah kemampuannya itu lenyap ataukah alam yang enggan berbagi lagi dengannya. Dengan lesu ia terpaku dalam angan-angannya tempo dulu, lalu terkejut lagi dengan apa yang tidak bisa ia bayangkan tentang masa depan tanah ini, entah ia masih hidup atau sudah mati nantinya. Di serambi gubuknya yang kerdil seakan anak kecil yang sedang malu-malu bermain di pinggir comberan dikelilingi cerobong-cerobong yang menghembuskan asap hitam yang mencemari langit, langit yang dulunya masih suka tersenyum bersih tempat anak-anak memandang cakrawala sembari asyik menarik ulur layangannya. Nyaris betul gubuk itu dikelilingi bangunan-bangun tinggi, hanya di selatannya masih tersisa bukit juga hampir semua area di atasnya rumah-rumah berkonsep minimalis modern kini perlahan menjamur menutupi wajahnya yang sendu. Barulah di kaki bukit itu beberapa petak sawah bertahan dengan angkuhnya. Sawah-sawah itu sebagian milik Puang Lolo, sebagian lagi beberapa milik warga kampung yang setia bertani juga masih ada yang percaya dengan Were itu, karena si empunya masih ada. Walaupun ia sendiri sudah tak yakin apakah itu benar-benar ada  atau kini tinggal ilusi yang hanya bertengger di kepalanya menunggunya pun untuk menyerah pada kemasyhuran alat dan zaman yang serba cepat, tinggal kau kendalikan ini itu dari tombol-tombol yang bisa digenggam kemana-mana.

*****

Kelihatannya kakek tua itu nampak gusar. Entah berapa kali ia membakar Ico’mattimpo itu. namun tidak benar-benar habis. Hanya setengah kemudian ia sulut lagi. Bolak-balik seperti orang kebingungan mencari sesuatu namun entah lupa apa yang sebenarnya ia cari. Gubuk reot itu tidak pernah sepenuhnya dapat menyimpan rahasia dengan apa yang terjadi di dalamnya, dari celah celah diding kayu yang bersusun itu dari luar samar-samar terlihat segala gerak gerik sang pemilik. Puang Lolo telah lama hidup sebatang kara. Istrinya telah meninggal beberapa tahun yang lalu. Ia tak punya anak.

Karena sudah lelah bolak-balik disitu-situ melulu, pada akhirnya tubuh tuanya tak bisa membohongi diri dan menantang lagi. Ia duduk bersandar di pinggiran ranjang kayunya yang juga sudah lapuk dengan meluruskan kakinya yang bisa dibilang tulang yang diselimuti kulit coklat kelam yang mengeriput. Masih dalam gusarnya ia membatin.

Tanah ini dialiri air yang mengalir menuruni bukit, lalu tanpa ada komando mereka mengikuti parit-parit kecil yang dibuat oleh petani ke setiap petak sawah. Setiap musim penghujan akan ada cukup air untuk semua sawah, dan jika kemarau datang tak pernah mereka selama ini berdiam diri. Pasti alam akan memberi tanda. Pasti burung akan berbisik melalui angin. Pasti bintang akan berkedip padanya. Dan pasti bulan akan menyenangkan di malam hari dan terik matahari tak pernah membakar sepanas ini. Dan tentunya padi-padi bersiap menguning lagi. 

Tak ada lagi makin berisi makin merunduk. Tanah bagai air susu yang dibalas air tuba. Dulu memberi penghidupan kini baginya tak lain hanyalah tempat tubuh peotnya akan kembali. Dia tak bisa membantah, dia tak bisa menolak, dia tak bisa menentang dari tahun ke tahun gedung dibangun tanah dikerok, sungai kecil itu tak lagi jernih namun mengalir air dengan segala macam warna, aroma yang menyengat. Ia hanya petani dengan Werenya yang diyakini adalah anugerah Ilahi, ia tak tahu menahu mengenai gedung-gedung itu. Hanya lewat ditelinganya. Hari ini pabrik ini, besok mesin itu, Lusa alat-alat entah dari mana. Dan Kini kampung itu menjadi gemerlap lampu kerlap-kerlip di setiap malam dan riuh sesak di siang harinya. 

Mereka tak pernah berterima kasih dimana mereka berdiri, dan tak pernah menunduk dimana mereka berteduh. Yang ada hanyalah…

*****

Dari suatu ruang pertemuan di sebuah Hotel bintang lima mereka mengadakan rapat penting untuk menentukan lokasi pembangunan sebuah pabrik bahan bakar kimia berskala besar bertaraf internasional. Meja besar berbentuk oval di kelilingi orang-orang yang akan menentukan hal krusial. Karena jika pabrik itu berdiri maka akan lebih banyak lagi yang berubah. Termasuk sawah-sawah itu. Dan petani-petani itu.

Nampak seorang diantara mereka berdiri di ujung meja sembari menerangkan keahliannya dengan sesekali melirik ke layar fokus yang menampilkan materi presentasinya. Semua yang mendengarkan, yang menyaksikan takjub. Dan dalam benak mereka meletup-letup bayangan pundi-pundi uang yang akan diraup nantinya.

Dianggap semua sudah sepaham dan setuju, maka lokasi dengan luas 135 hektar yang tak lain tak bukan adalah area persawahan, sebagian bukit dan tentunya tanah tempat gubuk Puang Lolo berdiri menjadi pilihan mereka. Ada sekitar tiga bulan tenggat waktu untuk menyampaikan semuanya kepada pemilik lahan. Dan rupanya mereka semua sudah paham bahwa hal ini tidak akan mudah, mereka akan berhadapan dengan warga-warga yang bebal, yang tak mau kompromi, tak mau bernegoisasi. Dan pasti disana masih ada Puang Lolo.

“Jangan khawatir!” ujar seorang yang berpakaian dinas pegawai negeri.

“Jejali mereka dengan apapun, dengan segala cara, kalau tak mau pakai alat, suruh orang-orangmu bertindak!” timpal seorang lagi yang kelihatannya yang paling penting diantara mereka. Mengenakan kemeja coklat muda menutupi perut buncitnya.

“Mereka itu batu, keras.”sambung seorang yang kelihatannya lebih muda bertubuh atletis.

“Beri sedikit peran, yang muda-muda janjikan pekerjaan, apa kek. Jadi satpam, Cleaning Service, administrasi, kasih kertas-kertas, yang penting balut badannya dengan stelan jadikan pegawai kantoran. Yang tua beri sedikit uang. Toh, mereka juga akan lupa cangkulnya, celuritnya, orang-orangan sawahnya. Bukankah mereka juga akan makan, bahkan jauh lebih baik dari pada sekarang. Apalagi ini waktu yang tepat untuk memulai, secara tidak langsung mereka itu akan menyerah, tidak ada yang bisa digarap, sudah lama sawah-sawah itu mengering. Aku yakin ini tidak akan sesulit yang kamu pikirkan Bro!” tutur seorang wanita berambut sebahu, dan tubuh jenjang nan rampingnya seolah memantapkan keyakinannya menepuk pundak kolega mudanya itu.

*****

Langit ini kian mencurigakan. Sebentar-sebentar gelap, sebentar-sebentar terik. Angin berhembus pelan lalu tiba-tiba bergemuruh sekencang-kencangnya. Terdengar bunyi kikuk tiang-tiang pancang dari besi peyanggah. Debu beterbangan, tenda-tenda pekerja bergoyang sejadi-jadinya. Lalu dengan tiba-tiba suasana menjadi tenang lagi. Setelah semuanya benar-benar tenang awan hitam menggumpal di langit di atas mereka. Dan tak pernah sehitam, pekat dan segelap ini. Dan tak dirindui lagi.

Pabrik itu telah berdiri. Memang ada yang menentang, tapi itu tak berlangsung lama. Seperti yang dikatakan wanita itu. Ini akan mudah Bro. Mereka butuh makan dan uang. Mereka pun suka pakaian bagus, rumah yang lebih nyaman dengan pendingin udara. Dan tentunya mereka tak perlu lagi berkeringat untuk mencangkul apalagi mencemaskan hujan yang tak mau turun-turun dari langit.

“Lihat sepertinya kali ini akan turun hujan!” seorang satpam muda mendongak ke langit dengan asap rokok menyembul dari mulutnya.

“Bukankah setiap hari begitu, kadang mau hujan, eh panas lagi.” Cetus satpam satunya lagi yang kelihatan jauh lebih tua.

“Sudahlah, jangan dihiraukan. Toh mau hujan atau tidak kan kita tidak bertani lagi, gajiku, gajimu dari duduk duduk menjaga, menutup, membuka, membungkuk kalau bos datang jauh lebih mencukupi dari pada setiap hari kita berpanas-panasan di sawah.” Sambungnya dan ikut pula membakar rokoknya.

“Betul juga, tapi sekarang jauh lebih panas pak! Pengap, dan bau aneh kini tercium dimana-mana. Belum lagi air sungai sekarang keruhnya tidak karuan. Cuaca makin tidak menentu!”  Peluh si satpam muda lagi.

“Biarlah, dari pada kita setiap hari cemas menunggu hujan yang tak datang-datang. Kini setiap bulan yang ditunggu pasti datang. Gaji!” Sambung si satpam tua lagi.

*****

Karena were itu Puang Lolo mendapatkan keistimewaan. Setiap bulan ia mendapatkan sekarung beras dari petani kampung. Itu dulu. Namun semakin hari Puang Lolo makin resah. Keberadaannya tidak diperhitungkan seperti dulu lagi. Dihormati. Sebagai salah satu pemangku adat dan pemegang penuh otoritas segala bentuk ritual tanam-menanam. Seiring berjalannya waktu. Ia mulai terabaikan. Perlahan perannya mulai dialihkan. Beralih ke pengetahuan sains, yaitu alat-alat canggih, dan ramuan-ramuan kimia. Dan kini bahkan sudah tidak dianggap ada lagi karena sudah tak ada sawah yang bisa digarap juga dengan musim kering yang sepertinya masih akan panjang. Pada akhirnya tak ada lagi yang akan bertani, jadi petani. Karena semua benar-benar sudah beralih.

Dari balik daun jendela kaca, rumah batu dengan satu kamar tidur itu memang dapat menyembunyikan gerak-geriknya dari penglihatan orang luar tidak seperti gubuk reotnya yang sudah alamarhum semenjak peletakan batu pertama pembangunan pabrik itu, namun tak dapat menyembunyikan kegusarannya yang ia rasa itu sebuah Were terakhirnya. Dalam pembaringannya ia menatap langit hitam. Dalam pembaringannya ia cemas. Dalam pembaringannya ia menutup mata untuk selamanya.

*****

Puang lolo. Sering ia disapa demikian. Namun itu bukan nama sebenarnya. Ia digelari nama itu hanya karena Puang Lolo adalah garis keturunan terkahir keluarga petani yang telah mendiami kampung itu. Bahkan menurut cerita salah satu tokoh masyarakat. Konon kakeknya puang Lolo adalah orang pertama yang menemukan tanah gersang kampung ini. kemudian karena Were tadi maka kakeknya mampu menyulapnya menjadi tanah yang gembur menjadi lahan yang subur nan melimpah. Turun ke bapaknya, lalu Were itu turun kepadanya. Dan Were itu berakhir di dia.

Dan adakah yang peduli dengan Were itu lagi. Adakah yang menanyakan Puang Lolo lagi. Semua itu menjadi dongeng pengantar tidur di waktu kelak. Itu pun kalau dongeng masih dianggap sebagai pelipur bagi anak-anak. Dan rasanya hal itu pun sangat kecil harapannya. Karena anak-anak pun tak anyalnya, begitu cepatnya mereka tumbuh. Dan meninggalkan masa-masa kecil mereka dengan kekosongan. Lagi-lagi alat-alat serba baru itu. serba membuatakan. Sekali lagi meringislah perasaan tua renta itu.

*****

….”memperkirakan dampak negatif pemanasan global akan melampaui dampak positifnya bila terjadi peningkatan suhu sampai 1,1 derajat celdius. Peningkatan suhu tersebut diprediksikan akan tercapai sebentar lagi. Profesor itu menyampaikan bahwa peningkatan suhu bumi akan menyebabkan hilangnya lapisan es di Artik pada musim panas, dan menipisnya lapisan tersebut pada musim dingin, jika dibandingkan dengan musim dingin-musim dingin sebelumnya.” Terangnya sembari kembali mencoba menerangkan kembali pemaparan seorang profesor yang ia saksikan dalam chanel National Geographic yang barusan ia tonton.

Di dalam sebuah kamar apartemen dua pemuda pegiat lingkungan hidup sedikit berbincang setelah seharian berkunjung ke pabrik bahan kimia yang baru berdiri itu. Mereka akan membuat penelitian dampak lingkungan akibat dari beberapa pabrik yang berdiri di kampung itu.

“Oh yah menurutmu tempat ini betul-betul memberi pengaruh pada perubahan iklim di negara kita?” tanya seorang dari mereka sambil menunggu airnya mendidih untuk menyeduh teh.

“Mau itu setengah persen atau bahkan nol koma nol nol nol nol sekian persen tetap tempat ini menyumbang sesuatu terhadap kerusakan tanah, pencemaran air juga udara.” Jawab pemuda yang satunya tadi.

“Menurutmu jika es terus mencair di kutub utara, apakah akan mencapai negara kita?” tanyanya.

“Cuaca ekstrim makin berkepanjangan, kemarau menjadi jadi. Persedian air bersih semakin menipis, polusi makin tak terkendali. Yah jika es yang mencair itu mungkin saja sampai ke kita, bisa saja menenggelamkan kita.” Jawabnya diselingi tegukan teh panas yang aromanya memenuhi seisi kamar.

Hening sejenak. Pemuda itu mengambil catatannya lalu kembali membuka satu persatu halaman buku yang agak tebal itu. Ia menoleh sejenak ke jendela kamar. Ia melihat awan hitam makin mencurigakan serasa mau mencengkeram gedung-gedung yang ada di bawahnya, dan tak lama fajar pun menghilang di ufuk barat.

“Toh pun kalau kita meneliti disini, apa yang bisa kita lakukan dengan hasil penelitan itu? Apakah kita bisa?” tanya pemuda itu dan menyeruput tehnya dan tandas tanpa sisa.

Ia ingin menimpali pertanyaan rekannya itu, namun ia hanya membalasnya dengan setengah mengangguk, seperti seorang yang juga ragu untuk menjawab atau segan dengan jawabannya sendiri, karena tiba-tiba terdengar gemuruh di langit disusul dentuman yang sangat keras, tak tahu dari mana asalnya. Mereka saling memandang, lalu mata tertuju ke pintu kamar. Segera berlari.

*****

Langit itu akhirnya menumpahkan kecurigaannya. Tiba-tiba langit malam menjelma menghitam kegelapan. Awan hitam menggumpal itu menumpahkan air yang begitu hebat, besar, berat, kuat dan deras. Ini hujan, bukan, ini bukan hujan, ini air yang tumpah dari langit, yah air yang banyak. Angin yang tadinya sepoi kini bertiup kencang. Guruh gemuruh sahut-sahutan. Menggema di gendang telinga. Ada kemurkaan di atas sana. Sontak ketakutan menyelimuti. Orang-orang yang berseliweran di luar sana bergegas mempercepat langkah, melajukan kendaraan mereka untuk segera sampai ke rumah masing-masing.

Hujan yang akhir-akhir ini mengancam lewat gumpalan-gumpalan awan hitam kini benar-benar tumpah tak terkira ke bumi. Tidak deras lagi, ini begitu hebat. Setelah kemarau yang panjang ini, hujan ini sepertinya tidak membawa pertanda suka untuk mereka, hujan ini rupanya datang dengan tujuan tertentu. Sudah lama tak ada yang merinduinya, kecuali airnya saja. Rindu yang dulu berwujud berkah Ilahi sebagai pembawa air untuk menumbuhkan padi di sawah mereka, air yang mengaliri sungai mereka, air yang nikmat untuk penghidupan mereka.

Langit malam itupun menerkam, meraung sejadi-jadinya. Ibu-ibu berteriak-teriak memanggili anak-anak mereka yang masih bermain hujan diluar sana. Betapa girangnya mereka diguyur hujan dengan lebatnya. Dua satpam penjaga gerbang itu sibuk membetulkan pagar besi yang tiba-tiba roboh tersapu angin kencang. Manajer pabrik tertatih-tatih dengan sepatu hak tingginya berlari menutupi jendela ruang kerjanya. Dua pegiat lingkungan hidup tadi kini sampai di lantai bawah hotel tempatnya menginap. Mereka bertemu dengan tamu hotel lainnya, bertanya lewat pandangan masing-masing. Dan gemuruh itu makin kesini makin terdengar jelas. Sapi, kerbau, kambing, gajah, kucing, anjing, harimau, tikus, kuda, babi, kawanan serangga, rumpun para unggas, dan koloni semut dari segala spesies mengarah ke mereka. Kalut semrawut dan panik yang entah dari mana datangnya mereka semua. Maklum sudah tak ada hutan di sekitar sini. Lalu semua bepencar kesana kemari, manusia, para binatang, mobil-mobil juga motor yang masih ditunggangi dijerat kepanikan tiada tara.

Dan ketakutan yang menyergap dari seluruh penjuru langit dan sudut-sudut bumi itu. Pun hujan yang membawa serta badai, kilatan petir dan deru guntur. Berjam-jam lamanya. Hingga kampung itu tertutup sama sekali oleh derasnya air yang jatuh dari langit.

Mula-mula air bah. Disusul tanah longsor yang tak hanya membawa gumpalan-gumpalan tanah. Turut pula bongkahan-bongkahan batu sebesar bola-bola galung. Menggelinding dan menerpa apa saja yang ada didepannya. Dan area pemakaman tempat Puang Lolo juga dikuburkan yang ada di barat bukit jauh dari pemukiman menjadi santapan pertama kemurkaan itu.  Lalu area perumahan modern itu, disusul pabrik bahan kimia yang baru berdiri itu, lalu beberapa pabrik di dekatnya, masuk ke area publik seperti pusat perbelanjaan, perkantoran, rumah ibadah dan kini menggapai hotel bintang lima. Dimana para tamunya berlari kembali ke atas, lantai paling atas untuk menghindari terjangan air bah. Akan tetapi semuanya hanyut terbawa. Satu-persatu tergulung diikuti teriakan, tangisan, peluh, ketir juga ikut serta tersapu habis oleh hujan yang datang sebagai malapetaka.

Sekejap kampung itu porak poranda. Yang tersisa hanyalah tangisan-tangisan. Ketakutan masih membaluti. Kekacauan terlihat dimana-mana. Namun satu yang mereka cari-cari diantara puing-puing yang tersisa itu. Puang Lolo. Were itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *