Cerpen #321; “MIMPI MEMELUK TAKDIRKU”

“SENAAA,,,,LARIII,,,SENAAAA,,,,TOLONGGG,,TOLONGGGGG!!” aku berteriak dengan suara yang sangat keras ketika melihat Sena masih berlari puluhan meter di belakangku. Air yang sudah menggenang setinggi pinggang terus naik dengan cepat. Puluhan meter dari arah timur, terlihat gelombang besar banjir bandang yang siap menelan tubuh Sena yang masih berjuang di lereng bukit. Aku yang melihat peristiwa ini sangat ketakutan setengah mati. 

“TOLONGGGGGG,,,,,SENA LARIIII,,,CEPATTT!!!” Lagi aku berteriak hingga tak lagi mampu mengeluarkan suara sedikitpun. Sena bukannya lari, ia malah berdiri dan melihat ke arah datangnya banjir lalu memandangku dengan tatapan yang tidak bisa kuartikan. Tangannya mengulur ke arahku. Ia membuka mulut dan berkata-kata, tapi aku tidak mendengar apa yang dikatakannya. Aku terlalu takut dengan keadaan yang beberapa detik ke depan akan sangat berbahaya. 

Satu detik, dua detik,,,,, hingga arus banjir yang sangat deras itu menelan tubuh Sena dengan sempurna. Aku masih melihat tangan Sena yang masih melambai padaku di tengah derasnya arus air. Aku lunglai dan terjatuh di tanah yang basah oleh air hujan. Tubuhku seperti tidak bertulang dan tidak mampu berkata apa-apa. 

Aku sadar ketinggian air terus bertambah dan telah mencapai tempatku berada saat ini. Namun, aku tidak punya kekuatan setitik pun untuk bangkit segera menghindar dari banjir bandang yang terus mengalir tiada henti ini. ketakutanku justru terus meningkat seiring dengan ketinggian air yang terus bertambah. Hingga ketinggian air telah mencapai leherku, aku tetap tidak bisa berbuat apa-apa. Aku begitu takut. Aku ingin berlari dari tempat ini. 

Dinginnya air seakan menerkam tubuhku yang semakin tak berdaya. Ditambah tiupan angin yang seakan-akan menghipnotis untuk tak berbuat apa-apa. Ketinggian air sudah mencapai hidungku. Nafas mulai sesak dan aku masih tak mampu berbuat apapun. Aku hanya bisa menatap dan merasakan situasi yang sangat mengerikan itu. 

Entah mengapa suara aliran air terdengar seperti teriakan meminta tolong. Kayu-kayu yang hanyut terlihat seperti tubuh-tubuh manusia yang terbawa oleh arus. Desau bising angin terdengar seperti jeritan kesakitan manusia. Aku tidak mampu lagi. Aku sudah pasrah ketika melihat sebuah sinar dari arah timur.

~~~

Aku terbangun dengan nafas yang terengah-engah. Keringat membanjiri dahi dan punggungku. Aku seperti orang yang sangat ketakutan. Lalu aku mengingat kembali mimpiku barusan. Apa arti mimpi itu? Kenapa mimpi itu terasa begitu nyata dan begitu ganjil? Lalu, siapa Sena? Pertanyaan-pertanyaan itu terus menghantuiku sepanjang hari ini. Pikiranku tidak bisa beranjak jauh dari mimpi itu. Ini pertama kalinya aku merasakan efek sebuah mimpi sampai sejauh ini.

Aku berusaha untuk tidak peduli dengan mimpi itu. Namun, mimpi itu seperti bayangan yang terus mengikuti langkah tanpa pernah sedikitpun meninggalkanku. Hari ini aku benar-benar sangat gelisah. Entah bagaimana bunga tidur bisa mempengaruhi kehidupanku saat ini.

Aku tidak ingin bercerita hal ini kepada orang lain. Bisa saja mereka akan menganggapku aneh ketika mendengar hari ku saat ini. hingga keesokan harinya, aku kembali terbangun dengan mimpi yang sama anehnya.

~~~

Aliran air yang sangat dahsyat mengelilingi tempatku berdiri. Entah bagaimana aku bisa berdiri di sebuah bukit kecil dengan lautan air yang bahkan tidak terlihat batasnya. Aku gemetar mendengar suara gemuruh banjir yang tepat beberapa meter di hadapanku saat ini. Aku mengedarkan pandangan, tapi semuanya gelap gulita. Sebatang kayu yang hanyut menimpa kakiku. Tidak hanya ketakutan, namun juga sakit akibat bekas timpaan gelondongan kayu yang hanyut dibawa oleh banjir bandang dari hulu.

Ketakutan yang berlebihan telah merenggut pikiran jernihku. Aku benar-benar tidak bisa berfikir apapun. Yang mengisi pikiran hanyalah ketakutan. Tinggi air sudah menyentuh lututku. Sedari tadi, aku hanya bisa berdiri tanpa bisa berbuat apa-apa. Jangankan bertindak, berfikir saja rasanya sudah tidak mampu lagi. 

Suasana yang mencekam seakan menusuk tulangku. Angin yang berhembus kencang seperti berbisik dan berkata bahwa ia akan meluluhlantakkan dunia. Suara gemuruh air terdengar seperti teriakan orang yang berteriak meminta tolong. Aku merinding melihat kenyataan ini. Apakah ini benar-benar nyata? Apakah ini terjadi di duniaku? Kapan dan bagaimana bisa?

~~~

Aku terhenyak mengingat mimpiku barusan. Aku kembali mengalami mimpi yang sangat aneh ini untuk kedua kalinya. Situasi dan keadaan yang sama. Aku tidak bisa membiarkan hal ini terus terjadi. Aku berpikir bagaimana aku bisa keluar dari lingkaran membingungkan sekaligus menakutkan ini.  Aku berniat untuk ke rumah sahabatku, Della. Aku hendak bercerita tentang mimpi yang ku alami selama dua hari berturut-turut.

Aku menumpangi bus yang penuh dengan sesak manusia. Selama perjalanan itu, pikiranku terus berkecamuk. Aku tidak tau apa penyebab diriku terlihat aneh selama dua hari belakangan ini. Yang pasti, sejak mimpi itu terasa nyata aku tidak bisa berfikir apapun selain bayangan mimpi itu.

Seorang anak muda terlihat menaiki bus. Penampilan ugal-ugalan dengan membawa sebuah tas yang entah apa isinya. Ia mencari tempat duduk sembari mengunyah makanan yang dibawanya. Karena bus ini sudah penuh dengan penumpang, maka si pemuda hanya bisa berdiri tepat di depanku duduk saat ini. Entah mengapa aku tertarik melihat gerak-gerik pemuda ini.  Ia terlihat tidak peduli dengan sekitarnya.

Si pemuda lalu membuang sampah bekas makanannya dengan sembarangan. Sampah plastik si pemuda terlihat jatuh perlahan ditarik gravitasi. Plastik itu seperti berusaha untuk melawan gravitasi bumi. Berusaha untuk tidak terjatuh meskipun kemudian harus jatuh dengan terpaksa.  Melihat peristiwa itu, entah mengapa aku teringat pada mimpi ku. Aku tidak tau apa hubungannya. Namun, keadaan ini seperti menceritakan sesuatu padaku.

~~~

“Riva, itu mimpi doank,kan? Zaman sekarang Lu masih pusing mikirin mimpi yang kayak begituan? Udah deh ga usah dipikirin!” Begitu kata Della ketika aku menceritakan padanya. Hmm,,,bener juga. Mungkin karna mimpi itu sedikit aneh dan berbeda dari yang lain, sehingga aku terlalu berlebihan menanggapi hal itu.

Kehidupan ku kembali normal seperti sediakala. Sudah satu pekan sejak aku mengalami mimpi yang aneh itu. Dan sudah satu pekan pula, aku tidak lagi merasakan hal aneh yang terkait dengan mimpi itu. Dengan begitu, aku tidak lagi menghiraukan mimpi itu.

Disuatu pagi, aku berangkat ke tempat kerjaku seperti biasanya. Aku duduk di halte bus sembari menunggu angkutan umum. Hilir mudik kendaraan dengan asap yang mengepul sudah menjadi pemandangan lumrah di kotaku. Jutaan manusia bergerak dengan arah yang tidak bisa dipastikan, sama seperti polusi kendaraan yang hilang entah ke mana. Aku berpikr sejenak seperti apa parahnya iklim bumi jika ini tersu berlangsung selama puluhan atau ratusan tahun kedepan. Ah, sudahlah, meskipun aku memikirkan hal ini, aku tetap tidak bisa berbuat apa-apa.

Aku menaiki bus yang akan mengantarkanku ke tempat kerja. Sama seperti sebelumnya, kendaraan umum akan selalu sesak pada jam-jam pergi dan pulang kerja. Aku tidak mendapat tempat duduk kali ini. Aku terpaksa berdiri bersama penumpang yang lain. Hingga bus berhenti di halte selanjutnya, aku baru bisa mendapat tempat untuk duduk.

Kakiku menyentuh sesuatu di bawah kursi.  Ternyata ada seseorang yang meninggalkan bukunya di sini. Di sampul buku itu, aku tidak menemui identitas pemiliknya. Lalu, aku mencoba membuka lembar buku tersebut dan berharap menemukan identitas pemiliknya. Aku tidak menemukan petunjuk apapun selain inisial nama di bawah setiap tulisan yang terdpat di buku ini. Di sana hanya tertera dua buah huruf, SS. Akan sangat sulit untuk mengembalikan buku ini kepada pemiliknya. Di lembar pertama, aku membaca rangkaian kata yang ditulinya.

Ketika DUNIA TIDAK PEDULI, di saat itulah mereka secara tidak sadar sedang mempersiapkan mautnya. Jika mungkin maut itu bukan milikknya, maka itu adalah milik orang-orang yang dicintainya. Jika mungkin maut itu bukan untuk sekarang, maka itu untuk masa depan orang-orang yang dicintainya. SS”

Aku terhenyak membaca kalimat itu. Singkat tapi sangat menusuk. Meskipun demikian, aku tidak mengerti apa yang dimaksud dalam rangkaian kalimat itu. Kata “DUNIA TIDAK PEDULI” ditulis dengan huruf kapital. Semuanya seperti teka-teki yang terasa mustahil untuk dipecahkan. Tapi sudahlah, aku akan membawa buku ini dulu. Setelah mendapat petunjuk yang lain, aku akan mengembalikan buku ini nanti.

“Nak, sekecil apapun itu, yang namanya sampah harus kita buang ke tempat sampah, ya! Kita harus peduli pada hal-hal kecil seperti ini,” seorang ibu tampak menasihati anaknya ketika membuang sampah sembarangan di depan kantorku bekerja. Aku tersenyum melihat hal itu. Tapi sedetik kemudian, aku sadar si ibu berkata tentang kepedulian.

Aku tersentak dan terdiam di tempat. Apa maksud ketidakpedulian ini? Di buku yang ada di tangan ku saat ini tertulis dengan jelas kata “DUNIA TIDAK PEDULI.” Lalu, si ibu juga dengan tegas berbicara perihal ketidakpedulian tepat di depanku berdiri saat ini. Ketidakpedulian apa sebenarnya yang dimaksud? Ah, biarlah itu mungkin hanya suatu kebetulan saja. Aku memasuki kantor dan mengabaikan apa yang terjadi barusan.

~~~

Saudara, banjir kembali melanda ibu kota. Banyak penduduk yang kehilangan tempat tinggal dan terpaksa harus mengungsi di tempat lain. Faktor iklim yang tidak dapat diprediksi menjadi salah satu penyebab selain tersumbatnya aliran sungai oleh sampah.” Begitu ucapan pembawa acara pada berita di pagi hari ini.

“Manusia emang kayak gitu. Nggak ada kapoknya merusak lingkungan. Lihat aja akibatnya tuh! Kan ujung-ujungnya manusia juga yang susah,” ujar mama yang ikut bersamaku menonton acara ini.

“Tapi nggak semua lah, Ma. Masih ada kok yang peduli sama lingkungan,” aku membalas ucapan mama.

“Emang nggak. Meskipun gitu yang ga peduli tetap aja banyak kan? Ya, meskipun mungkin mereka peduli pada lingkungan, tapi yang lain nggak, tetap aja mereka yang masih punya kepedulian akan terkena imbasnya juga.”

Perkataan Mama juga ada benarnya. Bagaimana pun, perbuatan kita terkalahkan oleh tindakan sebagian besar orang. Namun, kami membahas apa barusan? Kepedulian terhadap lingkungan? Mengapa kata itu selalu familiar saat ini. Apakah mungkin kepedulian yang dibahas dalam buku itu sama halnya dengan kepedulian yang ada dalam pembicaraan kami barusan?

Aku segera bangkit dan mencari buku itu. Lalu membuka lembaran kedua dan membaca halaman tersebut.

Manusia selalu begitu. Tidak akan pernah paham apa yang seharusnya mereka pedulikan. Terkesan hal kecil, tetapi sebenarnya berdampak  fatal ketika diabaikan. Tidak mungkin bagi seluruh manusia untuk sadar akan hal ini. Atas dasar ini juga mereka selalu mempertahankan perspektif mereka masing-masing. Percuma satu dua orang bertindak jika jutaan manusia lain justru sebaliknya. Ujung dari ketidakpedulian ini adalah akhir yang akan disesali. Lalu, setelah munculnya penyesalan apa yang akan terjadi? Aku tidak tau. Bahkan manusia sekalipun terkadang tidak bisa memastikan apa yang akan dilakukan ketika menyesali perbuatanny. SS”

Kembali tentang ketidakpedulian. Kembali kata ketidakpedulian dijadikan topik dalam hal ini. Ada apa sebenarnya ini. Apakah ini hanya suatu kebetulan atau memang ada keterkaitannya? Baiklah aku akan kembali menggangap hal ini sebagai kebetulan saja. Aku tidak peduli dengan isi buku ini. Lagi pula, ini adalah buku orang lain. Yang tertulis di dalam buku ini bukan pemikiranku, tetapi pemikiran orang lain. Maka dari itu, buku ini tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan nyataku.

~~~

Riva, menurutmu apa yang menyebabkan dunia hancur pada suatu hari nanti?” tanya Sena disuatu senja padaku. Aku memandang lekat garis senja dari balkon rumahku. Sore ini kami kembali duduk-duduk di balkon sembari menikmati indahnya senja.

“Mmmm,,, apa ya? Mungkin karna alien yang datang ke bumi terus mengacaubalaukan dunia,” jawabku sembarang.

“Gue serius, Va,” Sena menatapku  dengan wajah seriusnya. 

“Lah, lagian pertanyaan Lu bisa diralat dikit nggak. Yang namanya masa depan sulit ditebak. Lagian jawabannya buat apaan? Aneh banget Lu,” aku menjawab ketus melihat reaksi Sena yang berlebihan. Mendengar jawabanku, air muka Sena terlihat berbeda. Entah apa yang penting dari jawabanku nantinya. 

“Gue nanya menurut Lu  aja, Va. Nggak lebih. Nggak mungkin Lu ga punya alasan yang sedikit masuk akal tentang hal ini,” Sena kembali bersuara mendengar jawaban ketusku tadi. 

“Udah ah, Sen. Ga penting banget. Lagian gue juga ga peduli,” ujarku sembari kembali menatap senja yang mulai berganti pekat malam. Sena berbalik menghadap ke arahku. Tatapan matanya sangat tidak bisa aku artikan.

“Riva, Lu tau apa yang membuat dunia ini hancur? Kehancuran dunia ini  disebabkan karena ketidakpedulian seperti yang Lu lakuin sekarang. Mungkin bukan untuk saat ini. Entah puluhan atau ratusan tahun mendatang, kehancuran itu pasti ada jika dunia tidak peduli sama seperti Lu sekarang. Tolong, Va, Lu bisa aja ga penduli tapi itu sama artinya dengan ga peduli sama masa depan Lu dan keturunan Lu kelak. Mungkin senja berikutnya entah kapan itu, kita ga bisa nikmatinnya lagi,” ujar Sena menjelaskan padaku dengan panjang lebar.

Sena beranjak dan masuk ke rumah bersamaan dengan hilangnya garis semburat senja yang tersisa. Aku masih menatap punggungnya dari tempatku duduk. Aku benar-benar tidak bisa memahami apa yang dia katakan padaku. Kehancuran seperti apa yang dia maksud? Apakah mungkin dia membahas kiamat atau apa?Aku hendak bertanya apa maksud perkataan Sena tadi. Aku berlari memasuki rumah, dan tiba-tiba,,,,, 

~~~

Brukkk,,,,. Aku terjatuh dari tempat tidurku. Aku merasakan sakit di bagian lenganku. Namun, hanya butuh waktu sedetik untuk melupakan rasa sakit itu dan berganti memikirkan penyebab aku terjatuh dari tempat tidur.

Sena, satu nama yang kembali hadir dalam mimpi ku. Setelah sekian lama aku kembali bermimpi aneh dengan tokoh yang sama. Meskipun kali ini situsinya sedikit berbeda, tetapi aku merasakan sesuatu yang menusuk hatiku. Aku terbawa pada sebuah gravitasi yang membingungkan. Kepedulian. Satu kata yang berhasil membuatku berpikir keras untuk memecahkan teka-teki ini.

Aku teringat pada buku yang kutemukan di bus beberapa waktu lalu. Aku segera melanjutkan membaca buku tersebut berharap menemukan petunjuk dari semua pertanyaan yang bersarang di pikiranku.

Terkadang tidak butuh waktu lama bagi alam untuk membalas ketidakpedulian dunia. Bahkan hanya sekejap mata, semua hal yang ditakutkan bisa terjadi. Lalu, mengapa sampai saat ini alam belum menunjukkan perlawanannya? Sudah lama alam memberikan pertanda untuk peduli. Tetapi tampaknya, manusia hanya bisa bersimpati tanpa berempati. Maka, suatu saat nanti jika waktu itu telah tiba, semua yang tidak peduli akan peduli. Semua yang menyepelekan akan meratap sebagaimana orang yang menangisi kematian. Orang yang merusak, akan hanyut dan bergabung bersama dinginnya tanah. Semuanya telah terjadi. Yang tersisa hanyalah penyesalan. SS”

Seperti itulah kata-kata yang kubaca kali ini. Mimpiku dan isi buku ini sepertinya berhubungan. Sama-sama mengenai kehancuran dunia. Ketidakpedulian dunia terhadap alam masih saja menjadi subjek utama, baik itu dalam mimpiku maupun dalam tulisan ini. Dari dua hal tersebut, aku bisa mengambil sebuah kesimpulan bahwa kehancuran alam di masa depan disebabkan oleh ketidakpedulian manusia terhadap lingkungannya.

Baiklah, aku akan memulai dari diriku sendiri. Aku akan mulai lebih peduli terhadap hal-hal kecil yang terjadi di sekitarku. Ketika berangkat kerja, seperti biasa aku menumpangi sebuah bus. Berdesakan bersama penumpang lain sudah menjadi situasi yang lumrah bagiku.

Seorang pelajar siswi tampak berdiri beberapa meter di sampingku. Berdiri bersama teman-temannya sambil bercerita ria. Siswi itu tampak mengluarkan sebuah buku lalu menuliskan beberapa kata di sana. Lalu, entah mengapa ia menanggalkan kertas tersebut lalu membuangnya secara sembarangan.

Aku teringat akan tekadku, peduli pada lingkungan dan memulainya dari hal-hal yang kecil. Lalu aku berusaha mendekati kumpulan para gadis itu.

“Dik, sampah kertasnya jangan dibuang di sini ya! Buang di luar saja nanti di tempat sampah!” ujarku dengan nada yang berusaha ramah. Tetapi gerombolan siswi itu tampaknya tidak peduli akan hal itu. Tampak dari reaksi mereka yang tertawa mendengar perkataanku barusan.

“Hei, emangnya Lu yang punya ini bus?” jawab salah satu dari gadis itu dengan sinis dan tidak sopan.

“Bukan, Dik. Kita harus tetap menjaga kebersihan lingkungan di manapun kita berada dan kapanpun itu, termasuk saat ini,” aku berusaha tetap ramah meskipun mungkin roman wajahku sudah memerah menahan emosi melihat tingkah laku para siswi ini.

“Udah, deh. Nggak usah sok ngajarin! Peduli amat sama hal-hal sepele beginian.” Gerombolan siswi itu turun saat bus telah sampai pada halte selanjtnya. Aku tidak bisa berbuat apapun selain harus bersabar melihat tingkah mereka. Memang benar tidak semua manusia punya keinginan yang sama. Namun, setidaknya aku sudah berusaha untuk menegur perbuatan mereka. Tidak hanya di perjalanan saja, aku juga mengalami hal yang sama ketika berada di kantorku.

“Va, udah blum makannya? Wadahnya gue buang nih,” tanya teman di samping kubikel ku.

“Udah, nih ambil aja! Oh ya, buang di mana?” Aku mengulurkan styrofoam bekas makanku padanya.

“Ya, di tempat biasa. Capek kalau harus turun ke bawah, Va.” Aku mengerti apa yang dimaksud dengan tempat biasa. Sebuah pipa panjang yang sampai ke belakang gedung perkantoran. Di situlah kami biasanya membuang semua sampah kami. Aku tidak tau seperti apa sampah itu di bawah sana. Yang kami perlukan selama ini hanyalah tempat yang simpel untuk membuang sampah.

Hal ini tentu saja mempunyai konsekuensi yang sangat besar bagi alam. Tapi untuk kedua kalinya aku tidak bisa mengehentikan ketidakpedulian mereka. Aku seperti orang yang tidak bisa berbuat apa-apa terhadap gelombang yang datang menghanyutkanku. Tidak hanya di luar saja, bahkan orang-orang terdekatku sekalipun tidak bisa kuhentikan untuk berbuat seenaknya.

“Ra, ngapain buang sampah di got? Kan bauk?” Adikku tampak membuang sampah di got pagar depan bagian luar rumah.

“Terus di mana, Kak? Entar juga dibersihin sama pembersih got,” ujar adikku tanpa menghiraukan perkataanku sedikitpun. Aku benar-benar terkurung dalam ketidakmampuan untuk bertindak apapun. Aku terlihat seperti pecundang karena datang hanya untuk menyaksikan bukan untuk bertempur. Ketika melihat orang yang membuang sampah secara langsung ke sungai, aku hanya bisa menjadi seorang penonton. Ketika orang-orang tetap tidak peduli terhadap lingkungan, aku tetap masih seorang penonton sejati. Aku tidak bisa berbuat apa-apa selain hanya terdiam saja. Tekadku pada awal sepertinya tidak bisa kurealisasikan dengan benar.

~~~

Va, Lu ga akan bisa lari lagi dari keadaan ini. Dunia akan memperlihatkan seperti apa reaksinya setelah sekian lama terabaikan,”

Hanya itu yang dikatakan oleh Sena dalam mimpiku kali ini. Aku terbangun karena hiruk pikuk di luar sana. Keluargaku juga terdengar ribut di luar. Ada apa ini? Aku segera bangun dan keluar dari kamar. Ketika kakiku menginjak lantai, aku merasakan sesuatu yang dingin. Air sudah menggenang di lantai kamarku. Setauku atap kamar ini tidak bocor. Di luar hujan deras bersatu dengan riuh rendah suara yang sangat ribut. Di ruang keluarga, aku melihat seluruh keluarga sudah berkumpul di ruang tengah bersama dengan tetanggaku.

“Ada apa ini, Ma?” tanyaku pada mama yang sedang terisak dan terlihat panik.

“Hujan turun dengan deras, Va. Air di sungai meluap sampai ke sini,” ujar mama dengan mata berkaca-kaca. Tinggi air sudah hampir mencapai lutuku. Aku jadi takut dengan situasi ini. Semua keluarga dan beberapa tetangga mencoba untuk tetap tenang dan memindahkan beberapa barang penting ke dinding-dinding. Rumah ku berada di wilayah yang bisa dikatakan rendah. Dengan begitu air yang menguap akan mengalir dengan deras ke wilayah perumahanku. Ketinggian air terus meningkat. Saat ini air sudah mencapai ketinggai pinggang orang dewasa. Hanya beberapa menit saja air sudah meningkat dengan sangat drastis.

Disaat semua orang panik dan hanya bisa pasrah memeluk orang-orang tercinta mereka, aku teringat akan mimpiku beberapa waktu lalu. Persis seperti situasi ini. Hanya saja aku tidak bersama Sena seperti yang terjadi dalam mimpi itu. Apakah ini yang dimaksud dalam mimpiku itu? Apakah ini adalah jawaban dari ketidakpedulian dunia terhadap alamnya? Apakah mungkin waktu yang dikatakan dalam buku itu sudah saatnya? Aku tidak bisa lagi berbuat apa-apa selain berdiri kaku dengan air yang terus meningkat.

Tiba-tiba terdengar suara ledakan yang begitu dahsyat. Orang-orang berteriak histeris. Suasana semakin mencekam. Malam pekat seakan berusaha mengaburkan segalanya. Air meningkat dengan sangat drastis. Tidak hanya meningkat, tetapi air tersebut mengalir dengan sangat deras. Aku menahan napas melihat tembok rumahku berderak menahan arus air yang sangat deras. Hal yang kutakutkan pun terjadi. Tembok rumahku hancur dan hanyut bersamaan dengan tubuhku yang tidak berdaya mengikuti dorongan air. Aku melihat orang-orang yang kucintai berusaha saling berpegangan dalam situasi ini. Aku sempat melihat adikku yang berusaha mengulurkan tangannya  meminta pertolongan. Dalam derasnya air, aku tidak lagi melihat keberadaan orang tuaku. Semuanya hanyut dibawa oleh derasnya air yang mengganas. Aku tidak bisa menolong diriku, apalagi orang lain bahkan keluargaku sekalipun.

Aku tidak lagi bisa bernafas. Dada sesak karena hanya bisa menghirup air tanpa udara. Apakah waktuku untuk dunia ini sudah berakhir? Aku masih ingin berjuang, setidaknya menyelamatkan orang-orang tercintaku. Namun, apa yang bisa kulakukan pada situasi yang sudah terlanjur seperti ini?

Di tengah maut, aku terombang-ambing oleh arus air yang semakin menggila. Menghempaskan tubuhku dan menimpa berbagai benda yang ikut terhanyut bersamaku. Tubuhku mati rasa, tidak bisa merasakan apapun lagi. Di tengah situasi itu, sebuah tangan menarikku dan menetralkan tubuhku yang terhempas. Aku menoleh ke arah tangan itu berasal. Seorang pria tengah berenang di sampingku. Ia berenang seakan tidak merasakan arus air yang sangat deras ini. Tidak hanya heran, aku sangat terkejut melihat wajahnya. Bukankah dia adalah Sena yang selalu hadir dalam mimpiku?

“Va, ini gue Sena. Sena Satyadiguna. Elu masih ingatkan? Gue yang selalu hadir di setiap mimpi Lu,” aku berkerut heran mendengar perkataannya. Mengapa dia mengatakan “di setiap mimpi?” Apakah ini juga bukan mimpi? Bukankah Sena adalah mimpi yang selalu menghantui malamku. Apakah Sena menjelma dalam dunia nyataku saat ini?

“Va, gue pernah bilang kan, ketidakpedulian yang akan menghancurkan kita. Gue pernah hadir dalam mimpi Lu untuk memberikan pengertian tentang itu. Lu paham, tapi nggak punya reaksi selain diam dan menyerah. Lu punya simpati tapi sangat minim empati. Lu juga pernah baca di buku gue kan, percuma kalau satu orang peduli jika berjuta orang lainnya justru berbuat sebaliknya.” Sena berbicara panjang lebar meskipun tidak sepenuhnya bisa kupahami.

“Lu pasti nggak percaya kalau ini adalah bukan mimpi. Gue ngasih Lu satu tanda. Kalau ini masih ada ketika Lu bangun, berarti ini benar-benar bukan mimpi. Dan Lu harus tetap ingat semua pesan dari Gue,” Sena memasangakan sebuah gelang di tangan kananku. Lalu, dia menghilang seiring tubuhku yang kembali dihempas ke segala arah. Aku kembali pada situasi awalku. Hanyut mengikuti derasnya arus air. Hingga aku tidak bisa lagi bertahan dan menutup mata secara perlahan sebelum semuanya terasa gelap.

~~~

Ya, kejadian itu sudah dua puluh tahun berlalu. Dua puluh tahun yang lalu, aku terbangun di sebuah pantai dengan kondisi yang sangat memprihatinkan. Aku tidak tau bagaimana bisa sampai di sana. Yang kutau, aku terbawa oleh banjir yang sangat dahsyat pada malam puluhan tahun silam itu. Ingatan yang masih sangat segar meskipun terus terkikis oleh waktu.

Semua yang kumiliki hilang tanpa tersisa. Keluarga, harta, dan segalanya. Yang ku punya pada waktu itu hingga saat ini hanyalah sebuah gelang yang melingkar indah di lengan kananku. Di gelang itu terukir sebuah nama yang selalu mengingatkanku pada peristiwa dua puluh tahun silam. Nama itu juga yang telah membuatku bertahan sampai sejauh ini. Ukiran nama di gelang itu yang telah mengubahkan hidupku hingga berubah dengan sangat drastis. Nama yang selalu ada di mimpiku. Inisial yang selalu ada di buku yang kutemukan itu adalah Sena Satyadiguna.

Dua puluh tahun silam ketika aku terbangin, aku mulai menyusun kembali kehidupanku yang hilang direnggut. Aku berjuang sendiri dengan satu prinsip, kepedulian. Sekarang aku adalah seorang founder dari sebuah organisasi yang peduli terhadap iklim dan lingkungan internasional.

Aku tidak ingin peristiwa dua puluh tahun silam kembali terulang. Dunia saat ini tengah baik-baik saja. Musim-musim silih berganti dengan fase yang teratur. Tidak terdengar lagi adanya suatu bencana yang disebabkan oleh ulah manusia. Semua manusia peduli. Dunia tidak lagi seperti dulu. Ini adalah masa depan yang selalu dinantikan oleh siapapun yang pernah menghirup udara di dunia.

Satu hal yang membuatku sampai pada titik ini, Sena Satyadiguna dan mimpi malamku puluhan tahun yang lalu. Orang yang kukenal hanya dalam mimpi dan di sebuah buku yang tidak sengaja kutemukan.  Orang yang tidak pernah muncul sebelumnya dan tidak pernah hadir lagi hingga saat ini. Hidup yang sangat sulit diartikan dalam perspektif logika. Tapi itulah yang terjadi. Aku merasakan dan aku melihat. Mimpiku hadir pada waktu yang tepat. Meskipun aku kehilangan semuanya, setidaknya aku bisa mencapai titik keberhasilanku saat ini. Mimpi malamku telah mengubah dan mengembalikan kehidupanku. Aku tidak lagi bersama keluarga tercinta, tetapi kehidupan yang mencintai diriku sepenuhnya. Mimpilah yang telah memeluk semua takdir-takdirku.

4 thoughts on “Cerpen #321; “MIMPI MEMELUK TAKDIRKU”

  1. gue bisa ngerasain gimana keadaan masa depan jika seandainya mimpi yang dialami Riva itu beneran. penulisnya keren banget memframe jutaan makna dalam sebuah cerpen. good luck, Brother.

  2. kata-kata yang digunakan penulisnya luar biasa. mampu mendeskripsikan suasana dengan sangat apik dalam sebuah cerita pendek. alurnya juga sangat menarik. dimensi ceritanya bisa membuat pembaca hanyut dalam kisah cerita dan tidak bisa berhenti hingga cerita selesai. semangat,,,,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *