Cerpen #320; “Angan yang Indah di Ujung Duri yang Patah”

 “Iq! Ayok pakai sepatumu!” tegas seorang pria paruh baya di depan pintu rumahnya. Pria itu berdiri menunggu sembari merapikan pakaian yang dikenakannya.

“Iya, Pak. Bentar lagi,” sahut Faiq. Jari-jemari anak itu tampak gemetar menyilangkan tali sepatunya yang berantakan. Pria berpostur kurus itu, yang merupakan ayahanda Faiq, segera turun tangan untuk mengikat tali sepatu Faiq.

“Nah, cara mengikat tali sepatumu itu kayak gini,” ujar Bapak Faiq seraya mengajarkannya kepada sang anak. Faiq, dengan mata bulatnya, fokus memelototi kedua tangan sang ayah yang berurat itu.

“Yok, kita berangkat!” tegas Bapak, diikuti teriakan gembira yang terlontar dari Faiq.

Dengan semangat, anak berusia 11 tahun itu mengambil tas pancingnya dan bergegas berjalan mengikuti langkah sang ayah. Tak lupa, dia mencium tangan sang ibu yang menunggunya di pintu rumah bata sederhananya sambil memberikan bekal kepadanya. Ibunda Faiq tampak melambaikan tangannya saat dirinya mulai menjejakkan kakinya di tanah yang berumput.

Pagi itu, menyambut awal tahun 2121, Bapak berencana untuk mengajak Faiq memancing di salah satu sungai yang berada tak jauh dari kediaman mereka. Sungai itu terkenal karena airnya jernih dan suasananya yang cukup sejuk untuk dinikmati. Untuk mencapai sungai itu, mereka harus menempuhnya dengan berjalan kaki melalui hutan tebal.

Sang kepala keluarga, dengan menggendong tas besar di punggungnya, memimpin perjalanan kala itu melalui jalan setapak. Heningnya pagi itu membuat langkah mereka terdengar sangat hebat saat menghentakkan kakinya ke bumi. Sesekali, terdengar suara ranting patah saat sepatu boot Bapak menapak ke tanah.

Terik mentari saat itu sama sekali tidak menembus kulit mereka berkat dedaunan lebat yang memayunginya. Faiq dalam benaknya begitu mengagumi alam yang belum pernah terekam di ingatannya selama masa pertumbuhannya.

“Pak?” ujar Faiq tanpa memerhatikan Bapak.

“Iya, Iq?” sahut Bapak.

“Pohon-pohonnya bagus banget,” kata Faiq dengan tersenyum meringis. Sang bapak hanya terdiam dan terus melanjutkan langkahnya.

Tak lama kemudian, Bapak berkata kepada Faiq, “Coba kamu lihat ke sana, Iq.”

Faiq langsung mengalihkan perhatiannya ke arah yang ditunjuk oleh bapaknya, tepatnya di balik barisan pepohonan yang menjulang tinggi.

“Woah…,” ujar Faiq dengan terpukau saat menyaksikan pohon besar dengan buah merah berambut menggantung di antara ranting-ranting tuanya. Buah tersebut nampak begitu segar untuk disantap.

“Itu bisa dimakan, Pak?” tanya Faiq.

“Bisa, dong. Nanti pas pulang kita ambilin buahnya,” sahut Bapak. Faiq saat itu langsung berteriak kegirangan. Langkahnya terdengar semakin mantap untuk mengikuti jejak Bapak menuju sungai.

Tak terasa, kedua anggota keluarga itu menghabiskan perjalanannya dengan berdialog mengenai tempat yang mereka lalui. Faiq terus menanyakan hal-hal yang ada di sekitarnya. Wajar saja karena itu adalah pengalaman pertama kali dirinya melewati jalan itu. Anak berambut gondrong itu belum pernah menghabiskan waktu di alam hijau seperti yang dialaminya sekarang.

Setibanya mereka di sana, sang bapak mengambil sebatang kayu berukuran sedang untuk mereka duduki. Di sela-sela itu, Faiq bertanya kepada bapaknya.

“Bapak mau ngapain?” ujarnya dengan polos.

“Duduk bentar, Bapak capek,” jawab Bapak.

“Huu…, gitu aja capek, Pak.”

Bapak langsung menawari Faiq untuk meneguk air putih di botol minum yang ada di dalam tasnya. Namun, anak polos tersebut menolak. Dirinya justru aktif mengamati lingkungan sekitarnya dan berkeliling sambil meraba dedaunan hijau segar yang masih menempel di batang semak belukar. Faiq bertingkah seolah belum pernah melihat dunia luar sama sekali.

Tak lama kemudian, Bapak berdiri tegak sembari menepak-nepak celananya yang kotor. Bapak memanggil Faiq untuk segera melanjutkan perjalanan.

“Iq! Ayo, jalan lagi!” tegas Bapak. Dirinya bergegas melangkahkan kakinya satu persatu. Faiq langsung membuntutinya.

Di sela-sela perjalanan, terdengar suara air mengalir begitu deras dari kejauhan. Suara air tersebut berpadu dengan kicauan burung-burung liar di sekeliling hutan. Kedua suara itu terdengar nikmat bagi Faiq layaknya sebuah orkestra dari alam.

Tak terasa, 20 menit telah berlalu. Faiq yang sudah bosan akhirnya mengeluh kepada bapaknya.

“Pak…,” ujarnya merintih.

“Kenapa, Iq?” sahut Bapak tanpa menoleh.

“Kita kapan sampainya?” tanya Faiq.

“Bentar lagi, ya,” ujar Bapak. Tangan kanan Bapak lalu menggandeng pergelangan mungil Faiq sambil memberinya semangat. Langkahnya pun diperlambat agar Faiq tidak kelelahan.

Tak lama kemudian, keduanya disambut oleh sungai besar berair jernih yang permukaannya memantulkan cahaya matahari. Saking jernihnya, ikan-ikan yang berenang di aliran sungai tersebut nampak secara jelas.

Kedua mata Faiq sontak terbelalak menyaksikan pemandangan sungai yang begitu memukau. Bak sebuah lukisan, sungai itu dikelilingi oleh pohon bakau dengan akar-akar menancap di permukaan tanah. Sedangkan beberapa ranting pepohonan tua terlihat menjorok ke sungai seolah memayungi ikan-ikan yang berdansa di dalam aliran air jernih itu.

“Pak! Lihat ikannya gede-gede, bagus!” teriak Faiq kegirangan.

Bapak kemudian mengangguk dan segera mencari posisi yang strategis untuk dirinya memancing bersama Faiq. Anak itu tampak tak sabar untuk mengaitkan umpan yang dibawa pada mata pancing miliknya. Umpan yang mereka gunakan adalah cacing-cacing yang berasal dari tanah gembur di belakang rumahnya.

Dengan dibantu sang ayah, Faiq berhasil menambatkan umpannya dan langsung melempar mata pancingnya ke sungai. Mata pancing tersebut mendarat tepat di tengah aliran sungai dan mengambang dengan tenang.

Perlahan-lahan, Faiq menggulung tali pancingnya secara berirama. Dengan penuh harap, ia bersama ayahnya menikmati suasana kala itu yang sejuk sembari duduk jongkok di pinggir sungai.

Meskipun mata pancing Faiq sempat diikuti oleh segerombolan ikan, namun tak satupun dari ikan-ikan itu yang menyantap umpan miliknya. Faiq pun kembali melempar umpannya ke tengah sungai dan menggulung talinya, kali ini dengan penuh semangat.

Karena semangatnya, mata pancing milik Faiq terhempas dari air dan mendarat di sekumpulan ranting yang menyentuh permukaan air sungai. Dengan sekuat tenaga, Faiq berusaha menarik pancingnya. Namun, ia justru sial. Senar pancingnya terputus dan ia pun terjerembab ke belakang. Badannya pun kotor akibat tubuhnya bersentuhan dengan tanah. Faiq kemudian memanggil ayahnya untuk sebuah pertolongan.

“Pak!” pinta Faiq.

Bapak yang terkejut langsung meninggalkan pancingnya dan bergegas menyelamatkan Faiq yang masih terkapar di rerumputan. Dirinya memastikan kalau Faiq tidak terluka akibat insiden kecil itu.

“Pancingnya gimana, Pak? Itu nyangkut di pohon,” ujar Faiq dengan wajah polos.

“Udah, gak papa. Kamu pakai pancing Bapak dulu, ya?” sahut Bapak. Faiq kemudian beranjak dari tempatnya dan mengambil pancing milik sang ayah.

Bapak lalu mengambil mata pancing cadangan yang telah ia siapkan dan mengaitkannya ke tali pancing yang putus. Tak lupa dia juga memasang pemberat sekaligus pelampung sebelum mata pancing tersebut dikaitkan.

Melihat air sungai yang jernih, sungai tersebut sekilas tampak dangkal, sehingga tanpa sepengetahuan sang ayah, Faiq diam-diam menjejakkan kakinya menuju perairan. Dirinya nekat untuk menyelamatkan mata pancing yang tersangkut di ranting pohon.

Tanpa melepas sepatu, ia melangkah perlahan-lahan ketika berada di dalam air. Ketinggian air saat itu mencapai dada Faiq. Padahal, Faiq tidak memiliki keahlian berenang sama sekali. Ini adalah kali pertamanya dia bersentuhan dengan air yang cukup dalam selama hidupnya.

Berbekal tangan kosong, Faiq terus berjalan melalui rintangan rumput dan ranting-ranting patah yang ada di dasar sungai. Hingga beberapa langkah ke depan, lintasan yang dilaluinya berubah menjadi tanah liat yang keras dan licin.

Namun tak disangka, bagai musuh dalam selimut, tanah liat yang keras tersebut seketika berubah menjadi lumpur yang lembek dan semakin dalam ketika diinjak. Pada kondisi itu, ketinggian air sudah mencapai leher Faiq.

Apa yang dikhawatirkan sejak awal pun terjadi. Faiq tak mampu keluar dari dekapan lumpur itu sehingga dirinya benar-benar tenggelam. Faiq pun tak dapat berbuat apa-apa lantaran kakinya tersangkut di lumpur.

Pandangan Faiq pun sontak menjadi gelap gulita. Ia tak dapat merasakan apa-apa kecuali teriakan ayahnya yang begitu jelas terdengar di telinga.

“Faiq!”

“Faiq, sadarlah, Nak.”

Faiq kemudian membuka kedua kelopak matanya yang sayu. Pandangannya saat itu masih kabur dan terasa berat untuk dibuka. Ia juga mendengar suara sang ibu memanggil-manggil namanya dari kejauhan.

“Faiq?”

“Kamu gak papa, kan?”

Faiq pun kemudian bangkit dari tidurnya dan duduk berselonjor di ranjang. Ia kemudian mengucek kedua matanya dan menguap sesekali.

“Iq?” tanya Bapak yang berdiri di sampingnya. Faiq hanya bengong tanpa memerhatikan sang ayah.

“Kamu kenapa teriak-teriak? Mimpi buruk, ya?” tanya Bapak sekali lagi. Faiq pun mengangguk.

“Kamu mimpi apa?”

“Aku tenggelam, Pak,” sahut Faiq.

“Tenggelam di mana?”

“Di sungai,” jawab Faiq dengan singkat.

Sang ayah kemudian menepuk-nepuk bahu Faiq dan mengatakan jika itu cuma mimpi. Bapak pun segera beranjak dari ranjang Faiq dan mengajaknya untuk keluar ruangan.

“Yaudah gak papa, Iq. Ayo keluar, Mama udah buatin kamu sarapan di dapur,” tegasnya. Faiq langsung melangkah keluar dari kamarnya dengan sempoyongan. Ia belum sepenuhnya sadar akibat mimpi buruk yang dialaminya.

Di dapur, ibunda Faiq telah menunggu bersama ayahnya di tempat makan. Mereka duduk di kursi rotan yang sudah berumur dan mengeluarkan suara berdecit ketika diduduki. Di meja makan, mereka ditemani roti panggang yang dihidangkan bersama segelas air putih yang tidak begitu jernih.

“Ayo sini, Nak! Kita makan bareng-bareng,” sambut ibunya ketika Faiq tiba di ruang makan.

Faiq dengan perlahan menjejakkan kakinya di lantai semen rumahnya. Ia kemudian duduk bersama kedua orang tuanya dan menikmati hidangan sarapan pagi saat itu.

Di luar jendela, tampak pemandangan yang berbanding terbalik dengan apa yang Faiq saksikan di mimpinya. Hamparan tanah tandus menyapa dari ujung ke ujung tanpa satupun tanaman hidup di atasnya. Terdapat beberapa bangunan yang terbuat dari seng dan bata merah berdiri kokoh di tanah retak tersebut.

Faiq, dengan keadaan yang masih setengah sadar, mengunyah rotinya sambil melamun. Entah apa yang ada di pikiran anak itu, pandangannya tak mau lepas dari apa yang dapat ia saksikan melalui jendela kaca yang berdebu itu.

“Iq?” panggil Bapak.

“Hm? Iya, Pak?” sahut Faiq menoleh.

“Kamu mikirin apa, sih, sampe melamun gitu?” tanyanya.

Faiq terdiam tanpa sepatah kata terucap dari bibirnya. Ia kemudian kembali mengalihkan pandangannya, kali ini dengan tatapan kosong.

Ia dan Bapak masih menyantap sarapan paginya, sedangkan sang ibu sibuk membereskan perabotan dapur yang kotor dan berantakan. Entah mengapa pada pagi itu, suasana terasa lebih panas dan tak seperti biasanya. Matahari bersinar tajam dan terasa sangat menyengat di balik dinding semen rumahnya.

“Pak?” tegur Faiq. Ayahnya menyahut dan menatapnya dengan serius.

“Kenapa di rumah kita nggak ada pohon?” tanyanya dengan polos.

Bapak tak menjawab pertanyaan dan lanjut menyantap roti panggangnya. Rasa penasaran Faiq semakin bertambah lantaran Bapak melontarkan senyum lebar kepadanya. Faiq pun akhirnya bercerita mengenai kejadian di mimpinya semalam.

“Aku tadi mimpi lagi mancing sama Bapak di sungai. Pas di jalan, aku liat banyak pohon-pohon hijau, Pak, bagus,” kata Faiq.

Sembari mendengarkan ceritanya, Bapak pun menyegerakan diri untuk menghabisi sarapannya dan bergegas bangkit dari meja makan, meninggalkan Faiq seorang diri di sana.

Karena merasa diabaikan, Faiq pun menjadi lesu dan tak bersemangat. Gigi-giginya menggigit roti di genggaman tangan kanannya dengan perlahan dan hati-hati. Ia lalu menopang dagunya dengan tangan kirinya dan menampakkan ekspresi sedih di wajah kusutnya.

Tiada angin dan hujan, Bapak tiba-tiba berteriak memanggil Faiq untuk menemuinya di halaman belakang rumahnya yang tandus. Tanpa pikir panjang, Faiq segera memenuhi panggilan ayahnya dan meninggalkan roti yang belum habis di atas nampan kecil. Dirinya lalu berlari-lari kecil menuju Bapak.

“Sini, Iq!” teriak Bapak dari luar.

“Kenapa, Pak?” sahut Faiq saat tiba di tempat ayahnya berada.

Ketika itu, sang ayah sedang membawa seember kecil air bersama satu gayung dan meletakkannya di dekat Faiq. Bapak kemudian menunjukkan kepada Faiq sebatang pohon kaktus mungil yang hidup di dalam pot yang terbuat dari tanah liat.

Bapak kemudian duduk dengan satu kaki ditekuk ke depan dan berkata kepadanya, “Iq, Bapak mau ngasih tau satu pohon yang masih hidup di rumah kita.”

Dengan senang hati, sang ayah mengangkat pot berisi kaktus tersebut dan menaruhnya di hadapan Faiq. Bapak mengingatkan Faiq untuk berhati-hati dengan duri kaktus itu.

“Itu pohon ya, Pak?” tanya Faiq dengan polos.

“Iya, Iq. Ini pohon,” jelas Bapak secara singkat. Faiq hanya bengong di sana dengan tatapan kosong.

“Pak?” ucap Faiq dengan nada lirih.

“Tapi di mimpiku tadi, pohonnya itu besar-besar,” lanjut Faiq.

“Terus gimana lagi?” tanya Bapak.

“Warnanya hijau cerah, terus ada buah-buahannya. Sama kayak yang Faiq gambar di sekolah,” jelasnya. Sang ayah mengangguk saat mendengarkan penjelasan dari Faiq.

Lagi-lagi, Faiq bertanya dengan wajah polosnya, “Tapi yang ini, Pak…, kok jelek?”

Sang ayah tertawa kecil dan tersenyum mendengar pertanyaan yang diajukan anaknya. Dirinya kemudian bercerita mengenai masa kecilnya, ketika pohon-pohon masih ada dan tumbuh di halaman rumahnya.

“Dulu di rumah kita ini ada pohon, lho. Pohon itu gede dan warnanya hijau kayak di mimpi Iiq,” jelas ayahnya.

“Terus pohonnya sekarang kemana, Pak?”

“Pohonnya mati, gara-gara pas itu kita kekeringan, Iq. Sumur-sumur pada surut, kita mau minum aja susah. Dulu, Bapak harus jalan kaki sampai jauh banget cuma buat ngambil air keruh,” lanjut sang ayah.

Bapak pun menghentikan perkataannya dan berjalan masuk ke dalam rumah. Ia meminta Faiq untuk tetap tinggal sebentar sampai ayahnya kembali.

Sambil menunggu, Faiq pun bermain dengan kaktus kecil itu. Tangannya yang usil meraba-raba permukaan kaktus yang berduri dan sakit ketika menusuk jari-jemarinya. Dirinya mendapati beberapa duri kaktus tersebut ada yang sudah patah.

“Nah, coba kamu liat ini, Iq!” ujar Bapak saat kembali menemui Faiq.

Faiq langsung mengambil kertas tebal yang diberikan ayahnya. Kertas tersebut dilapisi plastik dan terlihat sudah usang. Di dalamnya, terdapat foto pohon besar yang nyaris mati.

“Ini foto pohonnya, Iq. Itulah pohon besar terakhir yang ada di rumah kita. Nggak lama dari itu, pohonnya mati dan ditebang,” ujar sang ayah dengan mata yang berkaca-kaca.

Faiq pun mengusap-usap foto tersebut yang berdebu dengan tangannya. Di bawah foto itu terdapat tanggal pengambilan foto yang menunjukkan tahun 2104. Artinya, foto tersebut sudah ada sejak 17 tahun yang lalu.

“Sampai sekarang, kita belum bisa menanam pohon yang besar kayak gitu lagi,” jelas Bapak.

Tanpa ditanya, sang ayah langsung menjelaskan alasan di balik perkataannya, “Harga bibitnya sekarang mahal-mahal, Iq. Uang kita nggak cukup buat membeli satu bibit pohon yang kayak gitu.”

Faiq kemudian bertanya mengenai usia kaktus kecil di hadapannya itu. Ayahnya langsung menjawab puluhan tahun.

“Kaktus itu dapatnya dari nenek kamu, Iq. Nenekmu lah yang merawat kaktus itu, tapi karena nenek udah meninggal, jadinya ayah yang lanjut merawatnya,” jawabnya.

“Terus, kenapa kaktusnya nggak besar-besar, Pak?” tanya Faiq dengan mengernyitkan dahi.

“Soalnya kaktus itu emang jenisnya nggak bisa besar, Iq,” jelas Bapak dengan singkat.

Sang ayah lanjut bercerita mengenai bagaimana keadaan bumi sewaktu neneknya masih muda. Pada zaman itu, masih ada beberapa pohon rindang yang hidup di rumah neneknya.

“Kata nenekmu waktu itu, dia sering menyirami pohon-pohon di halaman rumahnya. Pohon-pohon itu bisa berbuah, Iq, jadi kalau musim panen dia sama yang lain rame-rame makan buahnya,” lanjut sang ayah sambil terduduk manis.

Sembari menatap foto pohon terakhir itu, terbayang di pikiran Faiq bagaimana keadaan bumi 100 tahun yang lalu ketika pepohonan masih rindang seperti yang ia saksikan di mimpinya. Meski masih belia, Faiq bisa mengerti mengapa sang ayah menangis ketika menunjukkan foto itu. Karena sampai sekarang ini, dirinya belum bisa merasakan seperti apa hidup bersama pohon yang asli. Selama ini, dia hanya diajarkan di sekolah untuk menggambar pohon dan belum pernah diajak untuk menyaksikannya secara langsung. Terbesit di benak Faiq untuk bisa merasakan bagaimana indahnya berteduh di bawah pohon.

Di sela-sela itu, tangan sang ayah kemudian menepuk punggung Faiq sembari menyebut namanya.

“Iq?” ucapnya.

“Iya, Pak?”

“Kamu ambil ember ini terus siram kaktus itu dikit-dikit,” terus ayahnya.

Faiq langsung melakukan apa yang diperintah oleh Bapak. Dengan hati-hati, ia mengambil segayung air dengan tangan kanannya. Ia menyiram kaktus itu hingga tampak lebih segar dari sebelumnya.

“Bapak mau kamu merawat kaktus ini, Iq. Bisa, kan?” tanya Bapak dengan serius.

“Merawat gimana, Pak?”

“Pokoknya kamu jaga kaktusnya, jangan sampai mati,” lanjutnya.

“Tiap hari berarti disiram ya, Pak?”

“Nggak, seminggu sekali juga gak papa. Kaktusnya kuat, kok. Dia bisa tahan lama meski gak ada air,” jelas Bapak.

Faiq lalu bertanya alasan dirinya harus merawat kaktus kecil yang tidak menarik itu. Bapak kemudian menjelaskan dengan panjang lebar.

“Coba kamu pegang ujung duri kaktus itu,” perintah Bapak.

Faiq dengan hati-hati memegang ujung duri tersebut dengan jarinya. Ia sempat merintih kesakitan ketika duri-duri itu menancap di jarinya.

“Sakit, Pak,” ungkapnya.

“Meski sakit, tapi kamu harus tau, Iq, duri-duri itu juga pernah kena tangan nenek, tangan Bapak, tangan Ibu juga,” sahut Bapak.

“Kaktus ini udah tua, Bapak pengen kamu merawatnya sampai bisa jadi banyak. Itu pohon terakhir yang kita punya. Kalau dia mati, kita udah nggak punya pohon lagi, Iq.”

“Di ujung duri-duri yang patah itu, Bapak, Ibu, sama nenek berdoa biar dia tetap hidup, seenggaknya sampai Faiq gede.”

“Makanya, kamu harus sayang sama dia. Kalo Bapak sama Ibu udah tua, kamu bisa merawatnya, terus kamu buat dia jadi banyak. Itu cara yang bisa Faiq lakukan buat menyelamatkan bumi kita yang kering ini.”

Di sela-sela penjelasannya yang panjang lebar itu, sang ayah bertanya kepada Faiq, “Kamu tau kalo kita sering kesusahan air, kan?”

Faiq pun mengangguk. Bapak kemudian berkata, “Itu karena kita nggak punya pohon, Iq. Kalau ada pohon, air-air itu nyangkut di akar-akar pohon. Jadinya banyak simpanan air kita. Kita nggak perlu jauh-jauh buat nyari air.”

Di pundak Faiq kini bersaranglah harapan-harapan besar sang ayah untuk menyelamatkan bumi yang sudah tua. Faiq pun akhirnya mengetahui bahwa bumi juga ingin dirawat. Di benaknya, tersimpan keinginan untuk mengembalikan bumi agar lebih hijau seperti apa yang dirasakan dalam mimpinya. Meskipun, Faiq belum mengerti betapa berat harapan yang harus diembannya itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *