Cerpen #319; “PAHLAWAN KECIL”

Di Sekolah..

Bel istirahat. Bunyi yang paling ditunggu oleh semua murid. Beberapa murid terlihat bersemangat untuk menghabiskan waktu 20 menit ke depan: ada yang memencet tombol di bangku sehingga terlipat, ada yang melebarkan penampang mejanya untuk makan, ada juga yang mengeluarkan mesin virtual reality untuk bermain.

Ruang kelas yang semula berbentuk seperti kelas sudah berubah menjadi casual, seperti di kedai kopi.

“Eh, bagi kredit dong!” seorang anak menghampiri temannya.

“Duh, masa nanti pulangnya harus jalan..”

“Keren banget, cuma pakai sedikit kredit. Itu merk apa?”

Percakapan yang paling sering terdengar, bukan hanya di kelas ini, adalah tentang kredit karbon. Terutama terkait jumlahnya yang disebut terlalu sedikit, apalagi bila dibandingkan dengan milik orangtua mereka. Padahal, anak SMP juga bisa kepanasan seperti orang dewasa. Itu baru dari segi umur. Dari segi biaya berlangganan juga berpengaruh. Semakin tinggi kredit yang kita beli, semakin banyak pula kita bisa memakai peralatan elektronik.

Penggunaan seluruh peralatan yang membawa potensi jejak karbon memerlukan one time password yang dapat diakses melalui KarbonKu, aplikasi yang dikelola salah satu BUMN. Dari KarbonKu, jejak karbon semua orang dapat diatur. Kalau kreditnya habis, kita tidak bisa menggunakan alat elektronik. Padahal kan kehidupan berjalan dengan bantuan gawai! Terutama di musim yang tidak jelas begini. Kalau tidak membawa AC portable, pasti panas sekali. Tapi kalau bawa pun, bisa jadi hujan.

“Eh, lihat, lihat. Manusia tanpa AC datang!” seseorang menyikut temannya.

“Waduhhh…” Seorang murid yang di seragamnya tertulis nama ‘Dora’ sengaja membuat suaranya keras. “Ada yang bawa barang antik, nih!”

Beberapa murid menoleh. Nggak banyak yang tertarik, ini bukan kali pertama Dora mengomentari barang yang dibawa murid yang disebut ‘manusia tanpa AC’. Kali ini benda yang dikomentari adalah kotak makan dua susun. Benda yang mungkin lazim di abad 21, namun menjadi benda kuno saat ini.

Di saat semua kotak makan kini sudah dilengkapi dengan pengatur suhu, masih ada saja yang memakai alat jaman dulu begini!

“Remia nggak papa makan makanan tidak hangat?” Dora bertanya, yang mungkin terbaca sebagai suatu perhatian bila disampaikan lewat pesan teks, namun terdengar seperti cemooh bila diucapkan langsung seperti sekarang.

“Pergi, aku mau makan,” usir Remia, pemilik kotak makan itu.

Dora nggak mau menyerah. “Kalau mau, nanti hangatkan saja di kotak makanku. Tapi setelah aku selesai makan, ya,” katanya. “Kalau ada sisa makananku, boleh sekalian dimakan.”

Kali ini beberapa murid nggak bisa menahan diri untuk nggak tertawa.

Sebenarnya, masih ada saja murid lain yang ke sekolah membawa kotak makan seperti itu. Terutama di akhir bulan. Banyak murid yang sudah menghabiskan kreditnya sebelum akhir bulan, sehingga terpaksa tidak bisa menggunakan alat tambahan.

Seorang murid laki-laki yang juga membawa kotak makan biasa di hari itu nggak tinggal diam. “Nggak bisa gitu, dong. Kamu pasti sengaja, supaya tidak ketahuan menyisakan makanan, ya?”

“Huuu!”

“Buang-buang makanan!”

Para murid yang tadinya menertawakan kotak makan Remia kini meledek Dora. Ah, menyebalkan. Tapi Joseph benar juga, sih.

Terkadang, Dora menyisakan makanannya. Untuk membuang sisa makanan, murid harus pergi ke dekomposter di halaman sekolah, dan akan dihukum oleh guru. Malas sekali, lebih baik dibuang nanti saja sebelum pulang.

Sudahlah. Kali ini Dora menyerah.

╠══╦══╧═╦═╧═╦═╧═╦═╧══╦══╣

“Oper ke sini!”

“Ya, ya, ya, kiri kosong!”

Pass!”

Goaaaaal!!!!

Kehebohan suara selama pelajaran olahraga terdengar di kelas. Karena suhu yang terlalu panas untuk olahraga di luar, dan akan terlalu banyak energi digunakan untuk olahraga dalam ruangan, maka dalam satu dekade terakhir ini pelajaran olahraga sering sekali digantikan dengan virtual reality.

Sebenarnya tidak jauh berbeda.

Semua orang tetap bergerak, melompat. Hanya saja, di tempat.

“Mandi, yuk!” Dora mengajak sahabatnya ke kamar mandi begitu pelajaran olahraga berakhir.

Casey menyetujui. Sepertinya mereka nggak betah berkeringat.

Dibilang mandi sebenarnya juga bukan diguyur air, sih. Musim kemarau seperti ini air terbatas. Mereka hanya akan membersihkan diri dengan laser dalam bilik bersih.

“Eh….. ada Remia,” kata Dora begitu menjumpai Remia lagi, Remia lagi.

Mungkin dalam hatinya juga Remia mengeluh: Dora lagi, Dora lagi. “Aku sudah selesai.”

Nggak bosan juga Dora mengganggu Remia. “Numpang mandi, ya? Di rumahmu pakai air atau laser, sih? Aku seminggu sekali masih bisa berendam di bathtub loh!”

“Aku nggak nanya,” jawab Remia. “Dan kamu nggak perlu tau tentang rumahku.”

“Kenapa? Jangan-jangan nggak mandi?”

“Dor, udah, ayo mandi.” Casey menengahi perdebatan yang mungkin akan panjang kalau tidak dihentikan.

Karena rasanya gangguan nggak akan berlangsung lama, Remia memutuskan untuk menyisir rambutnya di kamar mandi saja. Toh mereka berdua ada di dalam bilik.

Belum juga keduanya melepas pakaian, lampu berkedip.

Semua anak perempuan di kamar mandi saling menoleh.

Dan benar saja. Sedetik kemudian, listrik padam!

“KYAAAAA!”

Hal seperti ini hampir nggak pernah terjadi. Bahkan selama dua tahun berada di sekolah menengah ini, mereka belum pernah mengalami hal serupa.

“Kita keluar dulu, yuk!” ajak Casey.

Ruang kelas sama gaduhnya dengan kamar mandi. Semua orang ribut. Kepanasan, kebingungan.

“Maaf..” Remia memberanikan diri menghampiri anak laki-laki yang tadi membelanya saat jam istirahat. “Aku boleh ikut pakai AC kamu?”

“Oh.” Anak itu, Joseph, terlihat kebingungan. “Tapi punyaku tidak terlalu dingin.”

“Nggak papa.”

“Oke.” Joseph sedikit meningkatkan jangkauan dari AC miliknya.

Rasanya seperti hidup kembali. Meski tidak bisa membawa kesejukan seperti AC besar, setidaknya suhu yang dikeluarkan oleh AC ini masih jauh lebih dingin dibandingkan suhu rata-rata yang mencapai 42 derajat celsius.

“Kenapa kamu nggak sekolah dari rumah aja? Banyak orang yang sekolah online supaya lebih murah.” Tiba-tiba hal itu ditanyakan oleh Joseph.

“Memang,” Remia mengiyakan. Selain tidak ada biaya transport, ia juga bisa mengindari ejekan dari teman-teman sekelasnya. Dan jangan lupakan berapa banyak kredit karbon yang akan dihemat bila tidak ke sekolah fisik.

Joseph menunggu kelanjutan jawabannya. “Tapi?”

“Nggak nyaman belajar di rumah,” jawabnya singkat.

Ah, hal yang mudah dipahami. Mungkin rumahnya berisik, atau terlalu kecil, atau tidak pakai AC. Yang jelas di sekolah lebih nyaman.

“Kalau kamu, kenapa tadi bawa kotak makan tanpa penghangat?” kali ini Remia yang bertanya.

“Selama weekend aku staycation. AC di kamarku lupa dimatikan, jadi kreditku tinggal sedikit deh.”

“Nggak boleh begitu!” nada suara Remia meningkat. Bukan cuma Joseph yang kaget, beberapa murid lain sampai menoleh. “Orang-orang seperti kamu yang harusnya bertanggung jawab atas suhu yang terus meningkat!”

Dilabrak seperti itu, Joseph jadi menyesal telah membantu Remia tadi siang. “Hei, namanya juga manusia. Wajar kalau lupa hal-hal kecil, kan?” Joseph nggak terima dituduh.

“Nggak ada yang namanya hal kecil! Kalau semua terus berpikir yang dilakukan itu kecil, mungkin 50 tahun lagi kita bisa masak telur di lantai!”

“AC bukan satu-satunya penyebab!”

“Tapi AC adalah salah satu penyebab!” balas Remia.

“Dora pingsan!”

Perhatian murid-murid di kelas yang tadinya ada di diri masing-masing atau perdebatan Remia dan Joseph beralih ke tengah kelas. Dora tampak sangat pucat dan lemas, dengan Casey di sampingnya yang nggak tau harus berbuat apa.

“Panggil Pak Sair!” seseorang dari mereka menyebut nama wali kelas.

“Dora!”

“Kasih minum!”

Pak Sair datang dengan segera bersama penjaga ruang kesehatan. Sebenarnya, tanpa memerlukan penjelasan petugas kesehatan pun sudah jelas penyebabnya. Hanya saja pernyataan dari tenaga kesehatan itu lebih menguatkan. “Kepanasan, kesulitan bernapas.”

“Kalau begitu minta orang rumahnya untuk jemput,” putus Pak Sair.

Dibantu dengan Casey, tenaga kesehatan itu membawa Dora menuju lantai satu.

“Yang lain,” kata Pak Sair, “silakan minta dijemput bila mau pulang sekarang, atau tinggal di kelas. Kami masih mengecek penyebab listrik padam.”

Sepertinya sebagian besar dari mereka memutuskan untuk pulang. Remia bergidik, seram. Hanya karena listrik padam, kegiatan belajar mengajar sampai terhenti.

“Remia,” panggil sang wali kelas, melihat Remia nggak berkemas-kemas.

“Ya, Pak?”

Supaya ikut didengar murid lain, Pak Sair mengencangkan suaranya, “Tindakanmu tadi benar sekali. Teman-temanmu sesekali harus ditegur untuk lebih bijak menjaga bumi.”

Pujian ini membuat Remia tersipu. “Terima kasih, Pak.”

Sebaliknya, membuat Joseph terburu-buru mengemasi barangnya.

“Memang like father like daughter, ya.”

Ucapan Pak Sair itu sempat tertangkap di telinga beberapa murid. “Papanya Remia kenapa?”

“Lho, ayahnya Remia kan salah satu director di UNEP.”

“Eh????”

“Pak!”

╠══╦══╧═╦═╧═╦═╧═╦═╧══╦══╣

Di Rumah Dora..

“Dora sudah tidak apa-apa. Setelah istirahat, dia akan kembali pulih.”

Lelaki separuh baya, yang sepertinya ayah Dora, mengangguk pada hologram sosok dokter yang ditayangkan dari ponselnya. “Kalau terjadi lagi bagaimana ya, dok?”

“Banyak olahraga saja, Pak. Seandainya merasa pusing saat kepanasan, usahakan untuk tarik napas panjang tiga hitungan, hembuskan juga tiga hitungan. Lalu gunakan mode angin saja. Kalau mode AC, tubuhnya kaget.”

“Baik, dokter. Terima kasih, ya.”

“Ada lagi yang mau ditanyakan, Pak?”

“Sudah, cukup.”

Dokter itu tersenyum. “Baik. Semoga sehat selalu, Bapak dan keluarga. Cepat sembuh untuk Dora.”

“Terima kasih, dokter.” Dora dan ayahnya berujar bersama.

Begitu dokter menghilang dari ruangan, Casey berpindah duduk ke samping ranjang Dora. “Kamu udah nggak papa?”

Masih agak lemas, Dora mengangguk.

“Papa akan protes sama sekolahmu. Bagaimana bisa mati lampu di sekolah!?” ayah Dora meninggalkan ruangan sambil mengomel. Sepertinya setelah ini, beliau akan menelepon sekolah Dora.

“Dor, ada yang mau aku kasih tau….”

“Apa?” tanya Dora.

“Soal Remia..”

Mendengar nama itu diucapkan, tak pelak Dora menoleh. Jarang-jarang mereka membicarakan Remia kalau tidak di sekolah. “Kenapa dia? Dia ngetawain aku?”

“Bukan!” jawab Casey. “Ternyata papanya Remia director loh di salah satu badan PBB… UN apa gitu.”

“HAH?!?!?!”

“Iya, tadi Pak Sair keceplosan.” Kemudian Casey menceritakan hal yang ia dengar dari luar ruang kelas, saat ia akan kembali untuk mengemasi barang-barangnya. Awalnya ia nggak percaya, sampai-sampai Casey mencari informasinya sendiri di Google. Ternyata, nama marga Remia memang sama dengan salah satu nama pejabat di badan itu.

Hal yang nggak bisa dipercaya bukan cuma oleh Dora dan Casey, tapi mungkin juga banyak sekali murid di kelas 8-D.

Bukankah selama ini, mereka mengenal Remia sebagai anak yang kurang mampu? Entah informasi darimana, sepengetahuan mereka, Remia masuk sekolah ini dengan beasiswa. Tapi tunggu dulu, memangnya siapa yang bilang mendapat beasiswa berarti tidak mampu? Ah, seperti orang jaman dulu saja.

Eh, tunggu.

Bukan cuma itu. Selama ini juga Remia nggak pernah bawa barang yang istimewa ke sekolah. Bahkan Remia nggak bawa AC.

“Kamu nggak bohong?”

Casey menggelengkan kepalanya. “Verified by Pak Sair.”

“Dora!”

Seseorang membuka pintu kamar Dora dengan gusar. Ayahnya Dora. Tangannya masih memegang ponsel. Apakah beliau baru saja menelepon sekolah dan mendapat suatu informasi? Atau itu panggilan dari dokter?

“Iya, pa?”

“Baru saja papa akan telepon ke sekolahmu, tapi ada hal yang tiba-tiba muncul di HP papa. Apa-apaan ini?!” Ayah Dora menunjukkan pesan peringatan di layar ponselnya.

Tertera bahwa rumah mereka akan diaudit oleh petugas setempat karena jejak karbon rumah tangga ini melebihi batas maksimal selama tiga bulan berturut-turut dan terdapat hutang karbon yang belum dibayar selama tiga bulan sebelumnya, yang juga berturut-turut.

“Kamu pakai paylater kredit karbon?!?!”

Dora mengaduh. Ketahuan juga akhirnya. “Habisnya..”

“Habisnya apa?!”

Casey nggak berani bersuara, bahkan bergerak.

“Habisnya Papa kasih aku kredit dikit banget. Nggak cukup, Pa. Aku kepanasan..”

“Nggak cukup bagaimana?! Itu semua sudah jumlah kredit yang wajar untuk anak empat belas tahun sesuai matriks PBB!”

“Mbak juga sering masak makanan yang nggak aku suka,” masih saja Dora membela diri.

Ayah Dora langsung menyimpulkan. “Jadi kamu juga buang makanan? Di tempat yang nggak seharusnya? Apa lagi? Apa perlu Papa cek seluruh histori karbon kamu enam bulan terakhir?!”

“Cuma itu, kok!” kata Dora. “Sama virtual exercise setiap hari..” ia menyebut tren olahraga masa kini. Berbeda dengan virtual sport yang masih membuat penggunanya bergerak, dengan virtual exercise kita hanya perlu duduk diam; hanya diam saja, dan tiba-tiba sudah berkeringat seperti baru lari keliling kompleks.

“Hah?!”

“Dan naik kendaraan ke kelas..”

“HAH!?”

“Kelas aku di lantai 4, Pa!”

“Tapi kamu dengar dokter tadi bilang apa? Kamu perlu olahraga! Sekarang Papa tau kenapa kamu bisa pingsan hanya karena mati lampu sebentar saja. Hidupmu tidak sehat!”

“Bukan aku. Buminya yang tidak sehat! Panas!”

“Mulai besok kendaraan portable kamu Papa sita. Kamu naik tangga ke lantai 4!” adalah ucapan terakhir ayah Dora sebelum meninggalkan Dora dan Casey di kamar.

Keduanya dengan emosi yang berbeda: Dora kesal, dan Casey bingung.

“Katamu ayahmu punya kredit karbon premium..” tuduh Casey, mengingatkan Dora akan hal yang seringkali Dora banggakan di kelas. Casey sendiri juga heran karena selama ini Dora bisa melakukan banyak sekali hal, seolah-olah kreditnya tidak terbatas. Sekarang, Casey tau bahwa semua itu menjadi hutang.

Mendengar sahabatnya sendiri berkata demikian, Dora tidak bisa membayangkan apa yang akan dikatakan teman-teman sekelasnya kalau mereka juga tau. “Aku mohon….. jangan bilang siapa-siapa, ya!”

“Dor,” kata Casey, bimbang.

“Pliiiiis!”

Casey mengalah. “Iya, iya.”

“Yeahh! Thank you, Casey! Kamu memang yang terbaik!”

“Tapi mulai besok, kita sama-sama naik tangga ke kelas, ya.”

Dora mengerang. Tapi tak bisa dipungkiri, mulai besok juga ia sudah tidak memiliki kendaraan portable yang selalu dibanggakannya.

╠══╦══╧═╦═╧═╦═╧═╦═╧══╦══╣

Di Sekolah..

Kondisi di kelas nggak jauh berbeda seperti hari-hari yang lain. Berdasarkan edaran, listrik di sekolah padam karena terdapat kesalahan jadwal perbaikan—seharusnya dilakukan di akhir pekan namun petugas salah mengisi tanggal.

Satu-satunya yang mungkin agak berbeda adalah beberapa orang yang sebelumnya nggak pernah terlihat bersama Remia, kini mengobrol dengannya.

“Eh???? Kok bisa sedikit sekali???” Meisa mengomentari jejak karbon di aplikasi Remia. Sepanjang tahun ini, pemakaian Remia hanya separuh dari dirinya!

Ia jadi penasaran, bagaimana kalau dibandingkan milik Dora, ya?

“Ayahmu kalau di rumah bagaimana?” Pertanyaan lain dari Maya.

“Aku nggak pernah ketemu,” jawab Remia jujur.

Beberapa orang yang mengelilingi mereka heran. Bukankah saat ini, banyak sekali orangtua yang bekerjanya dari rumah, ya? Bahkan orangtua Maya hanya ke kantor sebulan sekali saja.

“Kata papa, kalau dia nggak pulang, berarti bumi nggak baik-baik aja,” sahutnya.

“Dan papamu nggak pernah pulang,” seseorang menyimpulkan.

Yang lain terdiam.

“Lain kali aku mau dengar cerita dari kamu lagi ya, Remia!” kata seseorang, mengingat bel masuk sudah berbunyi.

Pak Sair melangkah masuk ke dalam kelas. Seperti biasa, senyumnya ramah. Beliau mengabsen satu per satu murid di kelasnya. Ia tersenyum lagi Ketika melihat Dora sudah hadir di kelas. “Senang melihatmu sudah sehat, Dora.”

Semua murid di kelasnya hadir hari ini, termasuk beberapa murid yang memilih belajar dari rumah juga sudah hadir di layar. Tidak ada yang absen. Sepertinya ini hari yang tepat untuk Pak Sair melaksanakan niatnya.

“Jadi sebelum kita memulai kelas hari ini,” kata Pak Sair. “Kita akan sedikit bernostalgia.”

Murid-murid tampak berpandangan.

“Kemarin ada salah satu orang tua murid yang menghubungi Bapak,” Pak Sair memulai kegiatannya, “yang memprotes atas insiden lampu mati.”

Dora dan Casey berpandangan. Ternyata, ayah Dora tetap menghubungi sekolah.

“Sebaliknya, ada satu orang tua murid yang berterima kasih karena lampunya mati.”

Orangtua siapa yang begitu anehnya mensyukuri lampu mati? Apakah mungkin orangtua Remia?

“Karena berbicara dengan dua orangtua itu, Bapak jadi teringat akan suatu hal. Sebenarnya, bukan ingatan Bapak. Kita akan menjelajah waktu sebentar, ya.”

Kemudian Pak Sair memunculkan hologram di depan kelas. Suara yang terdengar pun mendadak berganti menjadi cuitan burung. Agar tidak tanggung-tanggung, Pak Sair juga menyesuaikan suhu di ruang kelas ke latar dari pemandangan tersebut.

Tampak di depan kelas, suatu kompleks perumahan di pagi hari.

Pak Sair menyampaikan, “Ini adalah kota kita dulu, tahun 1920.”

Kota yang saat ini menjadi hunian mereka tampak sangat berbeda di tahun itu, hampir dua abad yang lalu. Rumah-rumah masih luas, masih dengan halaman. Saat ini, hampir tidak ada perbedaan antara Jakarta dan mayoritas kota di Indonesia. Semuanya dipenuhi bangunan tinggi.

“Titik ini adalah lokasi sekolah kita, sebelum dibangun.” Suatu tanah kosong tampak dipenuhi rerumputan. Agak mengherankan untuk murid-murid karena gambarnya tidak familiar, namun kesan jaman dulu sangat terasa dari bentuk bangunan dan kendaraan. Kendaraan masih berukuran besar dan jumlahnya bisa dihitung jari; hampir semua orang menggunakan sepeda, kuda, bahkan berjalankaki. “Dan suhu ruang kelas kita saat ini adalah suhu saat foto ini diambil. Tanpa pengatur suhu.”

Beberapa anak terkesiap, takjub.

Perjalanan diteruskan oleh Pak Sair ke berbagai titik, hingga kemudian mereka dikembalikan ke tanah kosong tadi.

“Lalu kita ke 100 tahun kemudian, di tahun 2020-2021.”

Kali ini, tanah kosong itu sudah menjadi suatu hunian dengan jalan selebar tiga mobil. Bentuk mobil sudah lebih modern, dan foto juga sudah tampak berwarna. Suhu ruangan sedikit lebih panas. Sedikit saja.

Pak Sair membawa mereka ke beberapa area wisata. Mereka takjub melihat berbagai hal yang sangat berbeda dengan sekarang. Di video itu, tampak asap mengepul dari cerobong asap di kawasan industri. Banyak juga terlihat restoran makan daging sepuasnya di penjuru jalan. Selain itu, gunungan sampah tampak tinggi sekali, dan ada pula yang terlihat di tepi sungai. Seandainya menggunakan teknologi terbaru, mungkin murid-murid bisa mencium bau gunungan sampah itu.

“Pak!” salah seorang murid mengangkat tangan, menyela. “Makan daging Rp 99.000 itu kalau pakai uang jajan kita cukup tidak?”

Berbekal informasi dari internet, Pak Sair mengkonversi nilai itu ke nilai saat ini, yang lagi-lagi membuat semua murid terkejut. Bisa makan daging semurah itu? Saat ini, harga daging sangatlah mahal. Hal itu menjadi salah satu upaya pemerintah untuk mengurangi konsumsi daging sapi dan domba, yang erat kaitannya dengan emisi.

“Pak, kenapa orang-orang buang sampah di pinggir sungai? Kan kotor?”

Kali ini Pak Sair menjelaskan tentang manajemen sampah yang belum sebaik saat ini. Beliau memberi contoh dengan memperlihatkan tempat sampah di salah satu kompleks perumahan.

Hanya terdapat satu bak sampah besar saja di kompleks tersebut, belum ada penampungan yang terpilah dengan memadai.

“Deforestasi, pupuk dengan nitrogen, bahan bakar kendaraan, sampah. Hal-hal kecil yang dilakukan satu orang, tapi dikali sejumlah pelaku di Indonesia, di dunia. Semua itu menumpuk. Di tahun foto ini diambil, ada suatu konferensi yang menjadi bagian penting dari sejarah kita, yaitu Conference of the Parties, atau CoP26 Glasgow. Dari hasil konferensi tersebut, disebut beberapa poin.” Karena menyadari bahwa pendengarnya adalah anak SMP, Pak Sair tidak membacakan seluruh poin dengan detail, melainkan hanya beberapa. “Dan hampir satu dasawarsa setelahnya, kredit karbon diresmikan.”

Banyak sekali murid yang terlihat memprotes.

“Jadi karena mereka buang sampah sembarangan, kita yang kena dong!”

“Kenapa sih pada nyalain AC seharian! Dulu kan nggak panas! Kalau sekarang baru panas!”

“Enak sekali dulu musim hujan dan kemaraunya jelas kapan!”

Sudah diperkirakan Pak Sair bahwa murid-murid akan menyalahkan orang-orang di abad sebelumnya untuk kondisi saat ini.

“Tapi justru karena merekalah para ilmuwan dan tenaga ahli bekerja keras untuk menciptakan alternatif,” hibur Pak Sair. Kali ini ia menampilkan beberapa perbandingan barang dan kondisi di jaman dulu dan sekarang.

AC yang dulunya besar dan memakan daya yang besar kini menjadi jauh lebih kecil dan rendah daya. Kendaraan yang dulu masih menggunakan bahan bakar minyak sekarang sudah beralih ke listrik. Pengolahan sampah yang kian jaman kian berubah. Listrik yang saat ini bisa diperoleh dari tenaga surya.

“Dan jangan lupa,” sambung Pak Sair. “Kalau saat ini kita tidak bijak, seratus tahun lagi juga anak cucu kalian menyalahkan kita.”

Kali ini bahkan dua-tiga orang murid perempuan menangis. Mungkin membayangkan mereka disalahkan cucunya karena membuat bumi makin panas.

“Pak!” Joseph mengangkat tangan.

“Ada apa, Joseph?”

“Saya jadi ingat. Kakek dulu cerita, waktu kecil sering mengungsi karena rumahnya banjir. Terus, foto dari kakek mirip sama gambar sungai tadi. Banyak sampahnya. Hii…”

Pak Sair membenarkan, membuat lebih banyak lagi anak yang menangis ketika Pak Sair menunjukkan suatu gambar terkait kondisi banjir bandang. Air berwarna cokelat itu membawa sampah dan lumpur ke rumah-rumah penduduk. Banyak sekali anak kecil yang menangis di atas perahu karet.

“Saat ini pengelolaan sampah kita jauh lebih baik. Tapi bukan tidak mungkin banjir bandang terjadi lagi. Kuncinya adalah diri kita sendiri.”

“Pak,” kali ini Remia yang mengangkat tangan.

“Ya, Remia?”

Remia bangkit dari duduknya. Semua mata tertuju padanya. Hal yang biasanya ia hindari, namun sepertinya ini hal yang sudah sejak dulu ingin ia sampaikan. “Setuju sama Pak Sair tadi. Hal kecil memang dilakukan satu orang, tapi dikali semua orang di Indonesia, bahkan dunia. Nggak ada yang namanya aksi kecil. Pilihannya cuma, beraksi atau tidak beraksi.”

Awalnya, nggak ada satupun orang yang bereaksi karena bingung. Ini Remia, orang yang sampai kemarin masih menjadi seseorang yang ‘tidak terlihat’. Manusia tanpa AC.

Sampai kemudian, Pak Sair bertepuk tangan. Diikuti oleh…. Dora. Tentu kemudian Casey ikut. Dan dilanjutkan dengan murid-murid lainnya.

“Apabila kalian tidak familiar, hal tadi diucapkan oleh kakek buyutnya Remia.” Pak Sair lalu menyebutkan suatu nama yang cukup populer sebagai salah satu tokoh pembangunan berkelanjutan di Indonesia. “Suatu hal mungkin kita anggap kecil. Namun hal kecil yang dilakukan satu orang itu jumlahnya dikalikan dengan penduduk Indonesia dan dunia. Lalu dikali lagi dengan jumlah hari dalam hidup. Karena itu, tidak ada hal yang kecil untuk dunia. Yang ada hanyalah beraksi atau tidak beraksi. To act or not to act,” kata Pak Sair, mengutip pidato terkenal yang disampaikan kakek buyut Remia hampir satu abad yang lalu.

“Aku tau! Tulisan itu ada di apartemenku juga!”

“Kalau begitu minggu depan kita olahraga sungguhan, ya!”

“Besok berangkat sama-sama, yuk!”

“Ih, serem. Nggak mau sisain makanan lagi deh!”

Pak Sair tersenyum. Tidak sia-sia semalaman ia begadang mencari bahan diskusi untuk hari ini. Lampu mati yang seharusnya menjadi insiden justru menjadi awal yang baru untuk menghidupkan semangat mereka.

Yang tersenyum nggak kalah lebar adalah Remia. Kalau semua orang bisa disadarkan, pekerjaan ayahnya akan lebih ringan. Itu berarti lebih banyak waktu di rumah!

Sepertinya, Remia sudah menemukan hal yang akan menjadi pengisi waktu luangnya.

Sepertinya juga, Remia sudah menemukan teman untuk menjadi pahlawan bagi orang di sekitarnya. Oh, tidak hanya satu, tapi banyak. Coba lihat, sekarang sebagian besar murid sedang merancang aksi kepahlawanan yang bisa mereka laksanakan sehari-hari.

EPILOG

Di Rumah Remia..

“Jadi kemarin mama memang telepon ke Pak Sair??” Remia tidak percaya. Biasanya, ibunya belum pernah menghubungi pihak sekolah. Toh, Remia tidak pernah membawa masalah di sekolah. Ada apa gerangan? “Kenapa berterima kasih lampunya mati? Ada teman aku yang pingsan, lho…”

Ibu Remia menghentikan kegiatannya di laptop. Ia menoleh pada anak bungsunya. “Berterima kasih?”

“Iya! Mama bilang makasih ke Pak Sair, kan?”

“Loh. Sebaliknya. Justru mama protes ke sekolah kamu,” jawab ibu Remia.

“Protes?”

“Iya. Kata kamu lampunya mati? Mama kira karena sekolah kamu menggunakan karbon terlalu banyak, makanya mama protes.” Ibu Remia menjelaskan. Ia malu sendiri. Kemarin, ia terlanjur menuduh sekolah. Ternyata listriknya padam karena kesalahpahaman.

Tunggu. Kalau yang memprotes adalah ibu Remia, berarti….

Di Rumah Dora..

“Harusnya kemarin Papa nggak usah marah-marah ke sekolah.. Itu semua karena salah paham aja kok, Pa..” Dora memberitahu ayahnya.

“Marah-marah?”

“Bukannya kemarin Papa bilang mau telepon ke sekolah? Papa marahin Pak Sair, kan?”

“Mana mungkin! Justru Papa berterima kasih! Kalau sekolah kamu nggak mati lampu, nggak mungkin Papa tau semua kelakuan kamu!” aku ayah Dora. Kemudian ia melanjutkan, “Kalau ada yang harus dimarahi, itu kamu.”

“Maaf, Pa!” buru-buru Dora menyesali perbuatannya sebelum disemprot habis-habisan. Segera ia menceritakan apa yang terjadi hari ini di kelas, tak lupa pula menceritakan pengalamannya kelelahan naik tangga sampai lantai 4. “Dora janji lebih pintar lagi pakai alat.”

Ayah Dora yang semula bernada tinggi melunak. Baru pertama kali ia mendengar anaknya meminta maaf.

Sepertinya masa depan punya harapan cerah di tangan para pahlawan kecil ini. Pahlawan kecil yang berani bertindak.

12 thoughts on “Cerpen #319; “PAHLAWAN KECIL”

  1. Kirain Joseph bakal jatuh cinta sama remia 😜
    seru nih kl ada lanjutannya nanti joseph sama remia, terus dora jd orang ketiga hehehe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *